Close
 
Kamis, 30 Oktober 2014   |   Jum'ah, 6 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 203
Hari ini : 7.941
Kemarin : 22.978
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.289.902
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

07 juli 2007 08:42

Banjir dan Tradisi Melayu Betawi

Oleh : Ridwan Saidi

Asal orang Melayu Betawi. Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan masyarakat Melayu Betawi tersusun dan membangun pemukiman di pesisir river basin di 13 kali di kawasan yang oleh peta Ciela (abad ke-15) disebut Nusa Kelapa, yakni dari kali yang paling barat yaitu Cisadane sampai kali paling timur, Citarum.

Prof. James T. Collins, pakar linguistik Melayu Polinesia dari AS, dengan mengutip hasil penelitian Prof. Bern Nothofer yang juga pakar linguistik Melayu dari Universitas Frankfurt, menyimpulkan bahwa bahasa Melayu yang kini dipakai masyarakat Jakarta, Bangka, Palembang, Pontianak, dan Serawak serta bahasa yang masih kerabat Melayu seperti Iban, Kantuk, Kendayan, bukan berasal dari semenanjung Malaysia.

Dialek tersebut merupakan varian bahasa melayu Purba (Polinesia) yang berasal dari Kalimantan (Barat). Karena persebaran bahasa merupakan indikasi persebaran migrasi, diduga kuat migrasi bangsa melayu dari kalimantan itu terjadi sedikitnya pada Abad X.

Tidak begitu mudah menyimpulkan masyarakat Melayu Betawi berasal dari Kalimantan (Barat) semata-mata berpegang pada teori linguistik seperti yang dengan sangat mengagumkan diutarakan Collins dan Nothofer. Meskipun penamaan wilayah ini sebagai Nusa Kelapa mengindikasi kuat kekerabatan Melayu Polinesia (Barat) dari pada semenanjung, namun perlu pula dipertimbangkan cerita-cerita rakyat Melayu yang juga hidup di kalangan Melayu Betawi, misalnya cerita Bukit Siguntang.

Syahdan, Bukit Siguntang di Palembang merupakan asal leluhur Melayu. Nun di atas bukit disemayamkan Puteri Bunga Melur. Yang menarik dari rumah pemakaman Puteri Bunga Melur adalah pola arsitekturnya yang juga dapat ditemukan pada makam orang Betawi Melayu di Kranggan Bekasi.

Di samping itu, sebuah orkes Melayu yang amat terkenal di Jakarta dan Nusantara pada sekitar tahun 1950-1960 bernama OM Bukit Siguntang yang diimpin oleh seorang anak Melayu Betawi kelahiran Pecenongan, Abdul Khalik memberi indikasi orientasi Melayu Sumatera. Maka cerita tentang Bukit Siguntang menyiratkan jejak-jejak imperium Sriwijaya abad ke-7.

Dari dua arah pendekatan ini, kita mendapat petunjuk tentang asal orang Melayu Betawi yang boleh jadi datang dari Kalimantan (Barat), tetapi juga tidak tertutup kemungkinannya berasal dari Sumatera. Kemungkinan yang terakhir memunyai tingkat probabilitas yang tinggi apabila merujuk pada naskah kuno Wangsakerta (1667) yang menuturkan riwayat Aki Tirem pendiri kerajaan Salakanagara pada abad ke-2 M yang dikatakan berpoyangkan orang dari tanah Sumatera. Yang pasti, orang Melayu Betawi bukan berasal dar budak yang didatangkan VOC pada abad ke-17, sebagaimana secara fanatik sangat diyakini oleh seorang penulis amatiran buku gedung-gedung tua di Batavia, Adolf Heukeun.

Rumah Melayu Betawi

Pada mulanya rumah orang Melayu Betawi adalah rumah panggung yang bercirikan arsitektur Melayu, di mana pada atapnya terdapat lembayung. Ciri ini masih tampak pada rumah di Desa Cikedokan, Bekasi yang diduga didirikan oleh Pangeran Sake pada akhir abad ke-17. Posisi bala suji (tangga rumah) rumah Melayu Betawi berada di tengah (centris), berbeda halnya dengan Melayu Palembang yang menempatkan bala suji di tepi rumah.

Rumah-rumah ini berdiri di tepi sungai, karena pada mulanya sumber kehidupan terdapat di tepi sungai. Ketika persebaran penduduk merasuk ke pedalaman, pola rumah tepi sungai masih dipertahankan, yaitu berbentuk panggung dan sumur, serta kulem (kamar mandi) berada di depan rumah.

Pola rumah berarsitektur seperti ini masih terdapat di wilayah budaya Melayu Betawi seperti Cimanggis, Tigaraksa, Jatiwangi (Cibitung), Rawa Kalong, Cibinong. Bentuk rumah panggung itu untuk mengantisipasi banjir, dan lebih dari sekadar mengantisipasi hewan buas.

Rumah kebaya, rumah yang menjejak ke bumi, selanjutnya lebih disukai karena proses pembuatannya yang lebih sederhana, namun lantai dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah, sehingga bala suji sebagai unsur pendukung tetap dipertahankan.

Pada daerah gunung seperti Gunung Puteri yang masyarakatnya menggunakan bilingual Melayu Betawi dan Sunda, pola rumah panggung digunakan untuk bangunan suci. Penggunaan pola panggung di sini lebih bersifat sakral dari pada fungsional. Bangunan suci, baik pada tradisi pra Islam maupun Islam, cenderung berbentuk panggung mengikuti pola Bale Kambang, tempat peristirahatan raja dan keluarganya. Karena tempat ibadah Islam pada mulanya adalah Langgar Tinggi, seperti yang masih terdapat di Pekojan. Langgar Tinggi Pekojan sangat terkenal di samping Langgar Tinggi Pecenongan.

Kedua langgar tinggi itu merupakan pusat-pusat pergumulan intelektual Melayu Betawi. Dari langgar tinggi Pekojan lahir Sayyid Usman bin Yahya, penulis 50 judul buku agama Islam dalam bahasa Melayu Betawi, dan sastrawan Melayu Betawi Muhammad Bakir lahir dari Langar Tinggi Pecenongan. Keduanya meniti karir pada bagian akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Pola rumah panggung pada orang Melayu Betawi dengan demikian memunyai fungsi mengantisipasi banjir, mengandung makna sakral, dan sarana diskursus intelektual.

Bentuk rumah panggung bagi maasyarakat yang berdiam di Daerah Aliran Sungai (DAS) sangatlah berguna untuk menyelamatkan kehidupannya ketika datang musim hujan. Ke-13 aliran sungai tidak cukup menjadi saluran bagi datangnya bah, begitu juga ratusan "setu" dan rawa yang tersebar di seluruh kawasan Nusa Kelapa tidak berdaya menampung curah hujan yang begitu tinggi di daerah itu.

Tradisi pantangan dan kuwalat

Tradisi Melayu Betawi sangat kuat mencegah pencemaran sungai. Sungai harus dijaga kesakralannya karena di dalam sungai itu bertahta sepasang siluman buaya putih. Mereka yang dimangsa buaya biasanya dianggap kuwalat karena melanggar pantangan untuk tidak mencemarkan sungai.

Sepasang buaya putih sang penunggu sungai marah dan si pelaku diterkam buaya. Untuk men­jaga jangan sampai buaya putih bangkit amarahnya, di samping berpantang membuang sampah ke sungai, juga ada waktu-watu tertentu orang Melayu Betawi "nyugu" ke sungai dengan membawa sajenan kembang tujuh rupa, telur ayam mentah, bekakak ayam, dan nasi kuning.

Sungai tidak boleh dicemarkan. Hanya saja karena terdapat pantangan membuang hajat di kebun, sementara teknologi pembuatan septic tank belum dikenal, maka mau tak mau sungai menjadi tempat pembuangan hajat. Justifikasinya, adalah tinja untuk pakan ikan. Di rawa tempat pembudidayaan ikan mas sering dibuat dangau untuk melepas hajat dengan tujuan memberi pakan kepada ikan itu.

Siluman buaya putih tampaknya maklum belaka, apabila ada orang Melayu Betawi membuang hajat di sungai, tetapi sampah tetap tidak bisa ditolerir. Tradisi menghormati sepasang buaya putih masih tercermin dalam adat perkawinan Melayu Betawi yang mengharuskan dalam pinangan pihak mempelai laki-laki membawa sepasang roti buaya. Roti dikenal setelah kedatangan bangsa Eropa, sebelumnya sepasang buaya putih sebagai antaran pengantin yang terbuat dari singkong.

Sampah harus ditabun, maka nabun atau membakar sampah merupakan kebiasaan orang Melayu Betawi membersihkan sampah tidak terbatas pada pekarangan rumah sendiri saja, melainkan juga sampah yang berserakan di jalan di depan rumah, dan sekelilingnya, menjadi tanggung jawab penghuni rumah terdekat.

Menebang pohon pun tidak boleh sembarangan, karena pada pohon-pohon kayu yang besar terdapat penunggu yang akan marah apabila pohon kayu itu ditebang secara sembarangan. Pantangan itu merupakan kendali sosial untuk menyelamatkan lingkungan dari bahaya banjir.

Rancag Keramat Karem dan Kapitein Beng Gan

Masnah, 75 tahun, adalah penyanyi gambang yang masih menguasai dengan baik ratusan pantun yang menceritakan tentang terbenamnya Kampung Kramat, Tangerang, akibat banjir. Banjir besar itu sebagai kejadian yang menyusul setelah meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Sungai-sungai yang mengalir di tubuh Tangerang tak kuasa menampung derasnya air hujan. Sebenarnya banjir juga melanda Jakarta. Banyak kampung-kampung yang terendam, mulai dari Marunda sampai Senen. Inilah banjir terbesar yang dialami oleh penduduk Jakarta dan sekitarnya.

Kisah banjir di Kampung Kramat tahun 1883 seperti disinggung di muka dituangkan dalam pantun yang dinyanyikan dalam bentuk gambang rancag. Kini hanya tinggal Masnah seorang yang mampu menyanyikan rancag Kramat Karem dalam irama phobin. Entah siapa yang menulis pantun itu, mungkin ia seorang seniman rakyat yang menjadi korban banjir.

Sebenarnya, tanpa ada gunung yang meletus, Jakarta menjadi rentan terhadap banjir, terutama setelah populasi penduduk bertambah besar. Adalah seorang Kapitein Cina bernama Phoa Beng Gan yang benar-benar gelisah akan adanya banjir yang sewaktu-waktu melanda Jakarta. Dia adalah seorang ahli saluran air dari Tiongkok yang mulai menjabat Kapitein orang Cina. Di Batavia sejak tangal 4 Maret 1645 menggantikan Kapiten Lim Lak.

Gubernur Van Diemen (1636-1645) sebagaimana GG sebelunnya tidak mengambil perduli terhadap persoalan banjir yang melanda Jakarta. banjir makanan inlanders.

Beng Gan sangat prihatin melihat air yang menggenangi rumah penduduk. Saban sore ia ajak sekretaris dan petani bangsa Cina berkeliling tempat dan membuat peta banjir. Beng Gan lantas mengundang penduduk Cina untuk mengambil kata mufakat membangun saluran. Yang kaya menyumbang uang, sedangkan yang miskin menyumbang tenaga.

Saluran air dibuat bergotong royong. Menurut Beng Gan, biang kerok banjir adalah tidak adanya saluran air ke laut. Tetapi, saluran yang baru dibuatnya ini ternyata berguna cuma di musim hujan. Penduduk bergembira jika musim hujan tiba, sebaliknya, jika musim panas datang, maka saluran buatan Beng Gan ini kering kerontang.

Beng Gan berpikir keras bagaimana memanfaatkan air kali Ciliwung yang mengalir melintas kampung Pejambon. Arusnya besar, tetapi sayang mengalir langsung ke laut dengan rute berbelok di daerah yang kemudian disebut Pasar Baru, Gunung Sari, sampai di Ancol, lalu bermuara ke laut.

Dari tempat yang kelak bernama Harmoni, atau kampung Jaga Monyet, terus ke arah utara digali saluran air yang kemudian menjadi kali sodetan yang diberi nama Molenvliet atau Kali Penggilingan Obat Pasang. Begitu proyek selesai, penduduk bukan main girangnya. Atas jasanya itu, Phoa Beng Gan yang oleh lidah Belanda disebut Bingam diberi persenan tanah di bilangan Tanah Abang. Beng Gan kemudian melebarkan kali Tanah Abang, dan sekitar ini ia mendirikan tempat pembakaran kapur yang menjadi miliknya. Beng Gan adalah contoh orang berpangkat yang perduli dengan kesulitan yang dihadapi rakyat banyak.

Banjir dan Budaya Masa Kini

Adat Melayu Betawi mungkin tidak banyak lagi yang relevan untuk mengantisipasi banjir, mengingat perkembangan populasi dan modernisasi masyarakat. Usaha mengantisipasi banjir dengan pendekatan budaya kian sulit dilakukan, dengan sulitnya mendapatkan seorang pejabat yang berjiwa seperti Beng Gan pada masa kini.

Banjir menjadi "takdir" yang tak terelakkan, pembesar provinsi pun lantas memanipulasi sejarah dengan mengatakan bahwa banjir sudah ada sejak zaman Nabi Nuh tanpa mengkaji kebudayaan masyarakat pada masa lalu dalam usahanya mengatasi banjir.

Kini hukum menggeser adat. Mengamankan lingkungan tak dapat lagi dilakukan dengan cara adat melainkan hukum. Namun, tentunya hukum dengan konsekuen harus dijalankan.

Larangan membuang sampah di kali harus diikuti dengan sanksi bagi barang siapa yang melanggarnya. Begitu pun dengan larangan membuang limbah pabrik di kali. Mendirikan rumah di bantaran kali harus tegas dilarang, dan yang melanggar ditindak, serta dalam saat yang bersamaan juga harus ditindak pengusaha real estate yang mendirikan apartemen di atas kali.

Menebang pohon tidak boleh dilakukan sembarangan kendati di pekarangan sendiri. Di zaman Belanda, orang harus melaporkan kepada pejabat setempat apabila ia mau menebang pohon di pekarangan atau kebunnya. Jika pejabat itu melarang, maka penebangan pohon tak boleh dilakukan.

Harus dengan tegas ditindak barang siapa yang menutup "setu", atau daerah resapan air lainnya, termasuk hutan lindung kota. Jika hukum tidak diberlakukan dengan tegas, tanpa pandang bulu, maka lagi-lagi kita akan berbicara tentang "takdir", apabila banjir tiba tanpa adanya "ikhtiar".***

(Penulis adalah tokoh Betawi, budayawan dan juga Ketua "Steering Committee" Kongres Kebudayaan Oktober 2003)

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com


Dibaca : 4.109 kali.

Tuliskan komentar Anda !