Close
 
Selasa, 26 Mei 2026   |   Arbia', 9 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 836
Hari ini : 16.739
Kemarin : 23.907
Minggu kemarin : 221.971
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

13 agustus 2007 07:37

Dari Radja Toek sampai Goesti Dertik

Herman Neubronner van der Tuuk sebagai Linguis Lapangan di Indonesia pada Abad Kesembilan Belas
Dari Radja Toek sampai Goesti Dertik

Oleh : Dr. Kees Groeneboer

Dalam romannya Het land van herkomst (1935) penulis Belanda yang terkenal E. du Perron menulis:

‘Saya dengan penuh suka cita mendengar cerita tentang seorang profesor ternama, satu-satunya orang yang dapat menyusun kamus bahasa Kawi-Bali. Dia pergi ke Bali dan selanjutnya seakan-akan lenyap ditelan bumi untuk selamanya. Seorang anggota Dewan Hindia-Belanda (Raad van Nederlandch-Indië) yang mengunjungi pulau itu bermaksud mencari jejak sang profesor dan tibalah dia - dengan mengenakan topi tingginya yang terkenal itu - di pintu pagar rumahnya. Dia melihat seorang Eropa setengah telanjang dan hanya mengenakan sarung, duduk bak orang Bali, tetapi di sampingnya ada sepotong keju Edam. Oleh sebab itu, dia menduga bahwa dia mungkin berhadapan dengan sang profesor sendiri dan bertanya apakah dia orang yang tepat. Jawabannya adalah: - Saya tidak ada di rumah. - Saya, kata tamu itu, adalah si anu dari Dewan Hindia-Belanda, dan saya harus mengunjungi Anda untuk menyampaikan bahwa buku Anda ... - Sambil berbicara, dia ingin melewati pagar, tetapi sang profesor mengulangi bahwa dia tidak berada di rumah dan kali ini dengan gerakan seolah-olah hendak melemparkan keju Edamnya ke arah topi sang tamu.‘ (Du Perron 1935:305)

Fragmen ini mencirikan mite sekitar sosok ahli bahasa Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894).[1]  Sudah sejak masa hidupnya dia menjadi sos ok legendaris - ilmuwan besar, tetapi juga pribadi yang mengesankan, berbuat sekehendak hatinya, kurang sopan-santun dan eksentrik -, seseorang yang dalam publikasi dan suratnya, dengan cara yang jelas, ironis, langsung, dan terkadang kasar menentang segala sesuatu yang dianggapnya memuakkan pada masanya. Misalnya dia tidak pernah merahasiakan bahwa dia tidak suka kepada agama Kristen, bahwa dia tidak suka kepada zending, dan tidak suka kepada masyarakat dan pemerintahan Belanda dan Hindia-Belanda. Dia juga tidak merahasiakan rasa jengkelnya terhadap kemajuan agama Islam, terhadap apa yang disebutnya ‘keserakahan‘ pedagang Cina, ‘kebodohan‘ penduduk pribumi, dan sebagainya.

Dalam artikel ini diberikan sketsa kehidupan dan karya Van der Tuuk saat dia bekerja untuk Nederlandsch Bijbelgenootschap (Persekutuan Alkitab Belanda), (1847-1873). Artikel ini dimulai dengan persiapan keberangkatannya ke Hindia-Belanda (1847-1849), kepergian dan masa keberadaannya di daerah Batak (1849-1857), periode saat dia di Belanda menyelesaikan karyanya mengenai bahasa Batak (1857-1868), tahun-tahun ketika dia bekerja untuk Persekutuan Alkitab di Bali (1870-1873).[2] Tahun-tahun waktu dia selanjutnya meneruskan pekerjaannya di Bali untuk pemerintah Hindia-Belanda (1873-1894), tidak akan dibahas secara mendalam dan akan dibicarakan pada kesempatan lain (Groeneboer, dalam persiapan).Herman Neubronner van der Tuuk

 

Herman Neubronner van der Tuuk dilahirkan pada 23 Februari 1824 di Malaka, yang pada waktu itu masih menjadi daerah koloni Belanda. Dia merupakan anak sulung dari Sefridus van der Tuuk (1776-1853) yang berasal dari Friesland di Belanda utara, dan Louise Neubronner (1795?-1845) yang lahir di Malaka. Herman mendapatkan nama keduanya dari nama keluarga ibunya; nama depannya diperoleh dari kakek dari pihak ayah.

Setelah Malaka pada bulan April 1825 ditukar oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan koloni Inggris Bengkulu sebagai dampak dari Perjanjian 1824, keluarga Van der Tuuk menuju Surabaya. Pada tahun 1826 ayah Herman diangkat menjadi anggota Raad van Justitie (Kejaksaan Agung) dan pada 1836 menjadi Presiden lembaga itu. Di Surabaya pada tahun 1827 lahir adik Herman, Johanna Catharina Henriëtte, diikuti oleh Gerhard Jan pada tahun 1830, dan akhirnya pada tahun 1832 Louise Antoinette (Krings-Uniken van der Tuuk 1926; Rouffaer 1909).

Herman tumbuh di Surabaya, di tengah-tengah masyarakat berbahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan Madura. Meskipun Herman pasti duduk di Europese Lagere School (Sekolah Dasar Eropa), mungkin saat remajanya dia telah belajar bahasa Melayu, bahasa Jawa, serta sedikit bahasa Madura. Barangkali dia bahkan telah belajar bahasa Portugis dari ibunya sebab banyak orang (Indo-)Eropa yang dilahirkan dan dibesarkan di Malaka saling berbicara dalam semacam bahasa Portugis Kreol.

Mengenai masa kecil Herman tidak banyak diketahui. Dia dikirim ke Belanda sekitar tahun 1836 untuk pendidikan lanjutan, pada usia kira-kira dua belas tahun. Awalnya dia tinggal bersama pamannya pendeta G. van der Tuuk (1772-1845) di Berlikum. Pada tahun 1837 Herman dikirim ke gymnasium di Veendam, dan dia indekos di sana.

Pada saat berusia enam belas tahun Herman menempuh ujian masuk Universitas Groningen, tanggal 6 Juli 1840 dia terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Sastra dan Hukum. Pada mulanya dia tinggal di rumah salah seorang teman ayahnya, guru besar hukum H. Nienhuis (1790-1862), tetapi kemudian dia tinggal sendiri. Setelah tiga tahun belajar, pada tanggal 30 Juni 1843 dia menempuh ujian sarjana muda. Kemudian selama beberapa tahun dia masih terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di Groningen, tetapi dia tidak menyelesaikan studinya. Sudah sejak awal studinya, dia berteman dengan mahasiswa Teologi dan Bahasa-Bahasa Klasik, Jacob Roos (lahir 1821) yang berusia tiga tahun lebih tua dan dengan Willem Doorenbos (1820-1906) mahasiswa Teologi dan Sastra Semit, yang umurnya empat tahun lebih tua; suatu persahabatan yang abadi. Menurut Doorenbos (1894) sesudah tahun 1843 Van der Tuuk hampir-hampir tidak mengikuti kuliah hukum lagi, tetapi dia sibuk dengan studi ilmu bahasa, bahasa Arab, Persia, Portugis, dan Inggris. Dia memuja Shakespeare, yang saat itu belum sangat terkenal, dan menyibukkan diri dengan bahasa Anglo-Saksis. Dari Doorenbos dia mulai belajar dasar-dasar bahasa Arab. Dia juga mengikuti kuliah bahasa Arab dan Persia dari guru besar bahasa-bahasa Semit, Th.W.J. Juynboll (1802-1861).

Jelaslah bahwa Herman begitu terinspirasi oleh Juynboll sehingga ketika Juynboll pada tahun 1845 diangkat menjadi guru besar di Leiden, dia mengikutinya. Pada awal tahun 1846 Van der Tuuk tinggal di Leiden. Saat itu dia belum sepenuhnya menyerah dengan studi hukumnya, dan dia masih mengikuti kuliah dan berencana untuk menempuh ujian pada musim panas 1846. Pada bulan Oktober dia menulis bahwa dia berada di ‘bulan kesembilan‘, tetapi ujian tersebut akhirnya tidak pernah ditempuhnya. Mungkin saja dia tidak berhasil mendapatkan surat keterangan yang dibutuhkan dari Groningen. Di Leiden dia secara intensif belajar bahasa Arab dan Persia dari Juynboll, tetapi juga bahasa Sanskerta dari guru besar bahasa Ibrani A. Rutgers (1805-1884). Keduanya barangkali bertindak sebagai dosen privat karena Van der Tuuk tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa di Universtitas Leiden. Pada tahun 1846 Van der Tuuk telah mengadakan studi yang mendalam mengenai bahasa Melayu, tetapi mungkin juga sudah sejak masa studinya di Groningen. Pengetahuannya sudah sedemikian rupa sehingga dia pada musim gugur 1846 dapat mempublikasikan suatu telaah mengenai naskah Melayu yang ditulis oleh J.J. de Hollander, dosen bahasa Melayu di Breda. Dengan publikasi itu Van der Tuuk, yang saat itu berusia dua puluh dua tahun, memperlihatkan bahwa dia sepenuhnya mengenal semua terbitan berbahasa Melayu. Mengenai siapa yang menolongnya dalam mendalami bahasa Melayu di Groningen dan Leiden, tidak diketahui. Jelas, bahwa dia belum terlalu percaya diri karena telaah tersebut dipublikasikan anonim, ditandai dengan S.B., yang menurutnya berarti Surabaya.

Tidak diketahui berapa lama Van der Tuuk tinggal di Leiden, dan mengapa dia selanjutnya pindah ke Delft. Pada bulan November 1847 dia tinggal di Delft dan dari kota itu dia berkorespondensi dengan Persekutuan Alkitab Belanda mengenai pengangkatannya menjadi utusan bahasa (taalafgevaardigde) untuk daerah Batak. Barangkali dia tetap tinggal di Delft sampai saat keberangkatannya ke Hindia-Belanda pada bulan Juni 1849.Persekutuan Alkitab Belanda dan Hindia-Belanda

Persekutuan Alkitab Belanda (Nederlandsch Bijbelgenootschap, NBG) yang didirikan pada tahun 1814 sudah sejak awal menangani penyebaran Alkitab di semua koloni Belanda. Untuk Hindia-Belanda, pada tahun dua puluhan persekutuan itu sudah menghasilkan suatu cetak ulang terjemahan Alkitab berbahasa Melayu, dengan aksara Arab dan Latin, yang berasal dari abad kedelapan belas (Leijdecker 1820, 1822, 1823). Perhatian NBG juga dicurahkan kepada bahasa Jawa. Untuk terjemahan Alkitab dalam bahasa Jawa, pada tahun 1823 diangkat J.F.C. Gericke (1799-1857). Dengan berbagai keterlambatan, terjemahan Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Jawa akhirnya terbit pada tahun 1847, Perjanjian Lama tujuh tahun kemudian (Gericke 1847, 1854, 1855).

Pada saat terjemahan Alkitab berbahasa Jawa hampir selesai, NBG berencana untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Pada tahun 1845 diputuskan untuk membuat terjemahan dalam bahasa Dayak, bahasa Makasar dan bahasa Bugis dan bahasa Batak. Oleh karena itu, pada tahun 1848 NBG mengirim B.F. Matthes (1818-1908) ke Makasar, diikuti dengan Van der Tuuk ke daerah Batak pada tahun 1849, sementara di tahun 1850 diangkat A. Hardeland (1814-1891) untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Dayak.

Pilihan untuk mengirim ‘utusan bahasa‘ ke daerah Batak di Sumatra, untuk menyusun kamus dan tata bahasa dan untuk menerjemahkan Alkitab, dimotivasi oleh:

‘Kami hanya perlu mengingat bahwa tidak ada satu suku pun di kepulauan Nusantara yang lebih membutuhkan Cahaya Ilahi Yang Maha Pemurah, daripada suku-suku bangsa di mana pemakan manusia masih diadakan dan diatur dalam hukumnya. Dengan rahmat dari agama yang murni, kita harus melakukan sesuatu atas keadaan yang mengenaskan itu, dari bangsa yang masih percaya kepada takhayul dan tidak berbudi pekerti, dan tidak bermoral itu.‘ (Handelingen-NBG 13-7-1845:77-8)

Pengiriman seorang utusan ke daerah itu cukup aman karena sebagian dari daerah tersebut sementara itu telah berada di bawah kekuasaan pemerintah Belanda dan di berbagai kota telah ditempatkan militer dan pegawai Eropa.

Pada tanggal 8 Desember 1847, atas anjuran dari dosennya di Leiden Juynboll dan Rutgers, dan dari guru besar bahasa Jawa di Delft T. Roorda (1801-1874) – yang mengingatkan bahwa Herman bukanlah ‘ahli teologi‘ - Van der Tuuk, yang saat itu berusia dua puluh tiga tahun, diangkat menjadi utusan bahasa untuk daerah Batak dengan gaji ƒ 4.000 setahun. Mengapa dia mendambakan pekerjaan itu tidak begitu jelas. Apakah ayahnya, setelah kegagalan studi hukumnya, tidak mau lagi membiayai pendidikannya? Kelak, mengenai hal itu, Van der Tuuk menulis bahwa dia melakukannya karena ‘pertimbangan keluarga‘ (Surat kepada P.J. Veth, 14-4-1867). Tugas untuk mempelajari bahasa Batak dan menyusun sebuah kamus dan tata bahasa memang sesuai dengan minatnya akan ilmu bahasa, walaupun sejak awal dia sudah agak ragu-ragu mengenai tugas untuk menerjemahkan Alkitab.

Persiapan di Belanda, 1847 - 1849

Tidak lama setelah pengangkatannya Van der Tuuk mulai meneliti semua bahan yang ada mengenai daerah Batak, dan menyusun daftar kosakata bahasa Batak dengan mempelajari dua naskah tulisan tangan berbahasa Batak yang ada di Belanda.

Pada mulanya Van der Tuuk berencana untuk berangkat ke Batavia pada bulan Mei 1848, tetapi dia menunda kepergiannya tersebut untuk dapat menyalin beberapa naskah Batak di London. Pada bulan Mei - September 1848 dia mengunjungi koleksi East India House, King‘s College, dan British Museum. Sepintas dia juga menggambarkan beberapa naskah bahasa Melayu dan Jawa tentang takhayul. Mengenai pekerjaannya di London dia menulis tiga laporan, tetapi hanya yang ketiga jadi dipublikasikan (Van der Tuuk 1848a, 1848b, 1849a). Awal tahun 1849 dia mempublikasikan sebuah telaah mengenai terbitan naskah berbahasa Melayu yang ditulis oleh pendeta J.C. Fraissinet (1820-1868). Sekali lagi dia memperlihatkan pengetahuan yang besar mengenai bahasa Melayu (Van der Tuuk 1849b). Akhirnya, pada awal bulan Juni 1849 dia berangkat dengan kapal Prinses Sophia ke Hindia-Belanda dari pulau Texel. Sambil menunggu keberangkatan, di kapal dia menulis surat yang agak melankolis kepada temannya Roos, dengan isi yang agak ateis - apakah dia sudah mulai menyesali pekerjaannya untuk Persekutuan Alkitab?

‘Apakah hidup ini? Tanpa persetujuan kita, kita memperolehnya dan oleh karena itu kita pun harus berterima kasih dan kita tidak boleh membuangnya tanpa izin Tuhan. Memang sebuah kontrak yang aneh, hubungan antara manusia dan Tuhan. Dia membiarkanmu merasa bosan di dunia tanpa menanyakan apakah kamu suka atau tidak, dan apabila kado itu sudah kamu peroleh, kamu mendapat pilihan ini: neraka atau surga. Kontrak itu pastilah suatu tipuan sebab salah satu pihak tidak memberikan persetujuannya […]. Kita diajarkan dan kabanyakan orang mempercayainya bahwa kehidupan adalah sebuah kado; tetapi orang harus sadar bahwa itu adalah kado yang bersyarat dan tanpa persetujuan dari yang memperolehnya. Menarik sekali bagaimana umat Islam merasakannya dalam gambaran yang mungkin kamu kenal: “Kehidupan adalah seutas tali yang mengikat manusia dengan Tuhan; siapa yang ingin hidup baik, harus berada pada arah tali yang dipegang oleh Penariknya”. Tetapi sudahlah! Sekarang kita sudah berada di sini, dan karena itu biar kita menjadikan hidup ini semudah mungkin, tidak mengikuti syarat-syarat yang tidak masuk akal dan yang hanya berlaku bagi yang mempercayainya.‘ (Surat kepada J. Roos, 1-6-1849).Menuju Daerah Batak, 1849 – 1851.

Setelah perjalanan selama tiga bulan Van der Tuuk, yang berusia dua puluh lima tahun, tiba di Batavia pada tanggal 2 September 1849. Segera dia mengunjungi perpustakaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen dan menunjukkan rasa terkejutnya melihat keadaan koleksi itu. Banyak buku rusak dan banyak naskah hilang. Setelah satu minggu dia melanjutkan perjalanannya ke Surabaya untuk mengunjungi keluarganya. Ayahnya mendesak Herman untuk menikah, tetapi dia tidak menyukai rencana itu selama dia belum mengetahui tempat dia akan menetap. Dia disarankan untuk tidak tinggal di Tapanuli dan dianjurkan untuk pergi ke Panyabungan atau Kota Nopan, pusat pemerintahan daerah Mandailing dan Angkola. Namun, dia berkeberatan melakukan perjalananan darat ke sana dengan membawa semua bagasinya; di Surabaya dia membeli berbagai mebel dan perabot rumah tangga. Pada akhir Oktober 1849 dia kembali ke Batavia. Di sana dia ingin menunggu berlalunya muson barat, yang tidak memungkinkan untuk bepergian ke Tapanuli. Pada awalnya dia menginap di rumah adiknya Johanna, dan selanjutnya tinggal sendiri di sebuah kamar. Dia menyibukkan dirinya dengan bahasa Melayu dan menulis sebuah telaah mengenai apa yang disebutnya bahasa ‘Melayu-Sentralisasi‘, bahasa ‘Melayu-Tinggi‘ yang dipergunakan oleh orang Melayu terpelajar di sekitar Selat Malaka. Menurut Van der Tuuk Alkitab seharusnya diterjemahkan dalam bahasa itu. Pada bulan Mei 1850 sekali lagi keberangkatannya ditunda karena dia tiba-tiba terserang penyakit kulit yang parah. Pengobatan terhadap penyakit itu dengan mandi uap dan belerang hampir - hampir membuatnya gila. Dia perlu dirawat di Rumah Sakit Militer untuk jangka waktu lama. NBG mendapat berita mengenai keadaan dirinya dari seorang temannya E. Netscher (1825-1880), yang bekerja pada Algemene Secretarie di Batavia. Dalam keadaan cukup payah, pada bulan Agustus 1850 Van der Tuuk mengirim dua surat kepada NBG. Dia meminta maaf mengenai caranya menulis:

‘Maafkan saya untuk tulisan itu. Mungkin pena ini telah menyedot kepahitan bersama tintanya. Maafkan saya menulis kepada Anda seperti seolah-olah saya menulis kepada seorang teman akrab, itu berarti tanpa menghilangkan subjektivitas saya [...].Bahasa saya pastilah sangat keras, kasar dan tidak menyenangkan sebab memang itulah bahasa saya; apabila Anda ingin mengubahnya, Anda membuat suatu susunan menjadi gelap dengan cara menghancurkan salah satu penyusunnya. Namun saya tidak dapat berpisah, sebelum saya menjelaskan kepada Anda bahwa saya sadar mengenai bahasa saya.‘ (Surat kepada NBG, 20-8-1850)

Dia menerangkan bahwa dia tidak cocok untuk menerjemahkan Alkitab dan meminta NBG untuk memecatnya dari jabatannya:

‘Pecatlah saya demi kepentingan Anda. [...] Berikan saya pekerjaan yang memberi kekuatan kepada saya untuk hidup di tengah-tengah rakyat [...]. Jadi, jangan berikan saya tugas kerohanian, seperti menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Batak. Berikan kepada saya pekerjaan yang bersifat duniawi, [...]. Apakah saya berdusta ketika saya mulai bekerja untuk Anda, meskipun saya bukan teolog, juga tidak akan pernah menjadi teolog?‘ (Surat kepada NBG, Agustus 1850)

NBG mengabaikan permintaan itu dan atas usul Sekretaris NBG F.J. Domela Nieuwenhuis (1808-1869) kedua surat itu tidak dibacakan dalam rapat NBG. Baru pada pertengahan Oktober 1850 Van der Tuuk keluar dari rumah sakit dan selanjutnya selama beberapa bulan berada di Buitenzorg (Bogor) untuk penyembuhan. Di sana dia mendalami bahasa Sunda. Bulan Desember dia kembali ke Batavia dan pada tanggal 14 Januari 1851, hampir satu setengah tahun setelah kedatangannya di Hindia-Belanda, Van der Tuuk akhirnya berangkat dengan kapal ke Padang untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Tapanuli.Sibolga dan Barus, 1851 - 1857

Pada pertengahan tahun 1851 Van der Tuuk menetap di Sibolga di Keresidenan Tapanuli, tetapi dia menganggap tempat itu sangat tidak cocok untuk studi bahasanya karena pengaruh besar bahasa Melayu. Oleh karena itu dia membangun rumah kecil di Barus, yang terletak lebih kurang lima puluh kilometer di sebelah utara Sibolga. Di Barus sebagian besar penduduknya sudah memeluk agama Islam dan karena itu menyebut dirinya sebagai orang Melayu, tetapi kebanyakan dari mereka berasal dari Batak dan saling berbicara dalam bahasa Batak. Lagi pula setiap harinya datang orang Batak dari daerah pedalaman ke kota pesisir itu. Untuk dapat melakukan penelitian bahasa di lingkungan Batak yang asli, dia berencana untuk melakukan perjalanan ke daerah pedalaman daerah Batak, tetapi setiap kali menundanya karena serangan malaria. Pada akhir tahun 1851 atau awal 1852 dia pindah ke Barus dan tinggal di sana sampai keberangkatannya pada bulan April 1857.

Pada bulan Maret - April 1852 dia melakukan perjalanan ke Mandailing, daerah yang sudah berada di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia-Belanda. Dia menempuh jarak yang panjang ke Padang Sidempuan, Sipirok, dan Panyabungan, sebagian besarnya dengan berjalan kaki. Di mana pun dia berada, dia membuat catatan, atau menulis lagu-lagu, anekdot-anekdot, cerita-cerita, menyalin pustaha (buku dari kulit kayu) dan mengunjungi kuburan-kuburan dan hal-hal ‘kuno‘ lainnya.

Pada bulan Februari 1853 dia menuju Silindung, yang terletak di daerah Batak yang belum berada di bawah kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda. Perjalanan itu membawanya ke tepi Danau Toba yang suci yang belum pernah dilihat oleh orang Eropa. Namun, perjalanan itu hampir mencelakakannya. Perjalanan pulang pada bulan April, yang menurut ceritanya, dia dua kali hampir dimakan oleh penduduk, lebih merupakan suatu pelarian. Barangkali hal itu mengguncangnya, sebab Van der Tuuk kemudian tidak lagi berani pergi ke daerah pedalaman Batak. Dia melaporkan kepada NBG:

‘Orang belum dapat memikirkan untuk tinggal di daerah Batak yang belum dikuasai oleh Pemerintah Hindia-Belanda: di mana pun saya mengajukannya, selalu ditolak karena orang Batak di sana melihat saya tidak lain sebagai seekor serigala berbulu domba, yang bersama dengan kawan-kawan saya (Kompeni) akan menghabisi mereka‘ (Surat kepada NBG, 23-7-1853).

Dari Barus Van der Tuuk berkorespondensi secara teratur dengan NBG. Dalam masa lima tahun dia menulis tiga puluh lima surat dan mendapat tiga belas balasan. Surat-suratnya ditulis dalam tulisan yang sangat sulit dibaca, yang membuat Sekretaris NBG perlu untuk menyalinannya sebelum dikirimkan kepada para pimpinan NBG. Itu juga disebabkan oleh kebiasaan Van der Tuuk yang sejak 1855 tiba-tiba menanggalkan semua huruf e yang tidak mendapat tekanan pada semua kata, barangkali karena euforianya mengenai efisiensi dalam bahasa Batak dan bahasa-bahasa Nusantara lainnya yang tidak membedakan antara cara mengucapkan dan menulis. Contohnya gmakklk alih-alih gemakkelijk. Sambil menyalin sekretaris NBG juga dapat mengoreksi dan menyensor surat-surat Van der Tuuk. Bagian yang kritis mengenai orang-orang yang berhubungan dengan NBG seringkali dihilangkan. Ketika Van der Tuuk pada tahun 1871 misalnya menulis bahwa moralitas orang Hindu-Bali sangat rendah. ‘Onani dan homoseksualitas mungkin di sini lebih umum daripada di Eropa; saya kata kan mungkin sebab orang membicarakan hal semacam itu tanpa ditutup-tutupi‘, Sekretaris NBG mengganti dua kata ‘jorok‘ tersebut dengan ‘dosa-dosa tertentu yang memuakkan mungkin di sini lebih umum daripada di Eropa‘ (Surat kepada NBG, 15-5-1871).

Kecuali informasi mengenai kehidupan dan pekerjaannya, surat-surat Van der Tuuk juga memberi banyak informasi mengenai situasi di daerah Batak. Dia juga menulis mengenai Islam yang makin besar di daerah Batak. Dia berpendapat bahwa pemerintah ikut memperlancar ja lan Islam, dengan menempatkan guru-guru beragama Islam di sekolah-sekolah Batak yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dan bahkan mengajarkan tulisan Arab, sementara bahasa Batak sendiri tidak diperhatikan. Namun juga misalnya, dengan larangan untuk memelihara babi, yang diserukan atas dasar pertimbangan kesehatan, tetapi karena itu rakyat menyangka bahwa pemerintah Hindia -Belanda menghargai agama Islam. Berdasarkan informasi yang terperinci dari Van der Tuuk, pada tanggal 23 Agustus 1856 NBG mengirim laporan panjang lebar mengenai hal tersebut kepada Menteri Koloni di Den Haag.

Van der Tuuk dalam surat-suratnya juga memberikan berbagai saran yang ditujukan kepada Persekutuan Zending Belanda (Nederlandsch Zendeling-genootschap) di Rotterdam. Menurutnya, zending dapat membuat orang Batak beradab dan dapat menghentikan langkah Islam. Lagi pula pendidikan zending dapat mempersiapkan penduduk untuk membaca Alkitab. Dia menunjuk pada sikap pemerintah yang menurut pandangannya anti-Kristen, dan pada rintangan-rintangan yang senantiasa dihadapi oleh para zendeling di Hindia-Belanda.

Dia juga menceritakan kejengkelannya mengenai apa yang disebutnya ‘keserakahan‘ pedagang Cina, takhayul orang Batak, pemerasan dan penindasan oleh kepala suku terhadap rakyat Batak, dan kerja paksa yang ditetapkan oleh pemerintah kepada rakyat. Dalam kritiknya terhadap masyarakat dan pemerintah Hindia-Belanda, Van der Tuuk senantiasa membela kepentingan rakyat Batak. Dalam sarannya kepada NBG, dan juga pada Persekutuan Zending, dia memperlihatkan loyalitasnya terhadap NBG, meskipun dia juga mengeluh mengenai tugas yang dibebankan kepadanya untuk menerjemahkan Alkitab. Sejak pertengahan 1853 dia selalu menekankan betapa pentingnya untuk pertama-tama mengumpulkan bahan untuk menyusun kamus dan tata bahasa, dan dia mengusulkan untuk menunda penerjemahan Alkitab sampai kepulangannya di Belanda. Meminta saran pada orang Batak dalam menerjemahkan pun tidaklah memberi manfaat apa pun:

‘Saya sendiri tahu bagaimana sulitnya untuk menerjemahkan Alkitab karena berkonsultasi dengan orang Batak seperti bertanya kepada kucing atau anjing. Dalam membaca terjemahan saya, saya mengalami bahwa komentar mereka pada apa yang sudah saya terjemahkan sama sekali tidak berhubungan dengan yang dibacakan, dan hanya dibuat untuk memberi gagasan bahwa mereka mendengarkan saya [...]. Anda mengerti bahwa saya enggan untuk berkonsultasi dengan mereka, dan pada penerjemahan lebih dapat bermanfaat dari studi yang mendalam tentang naskah-naskah Batak, daripada nasihat mereka, yang masih asing dengan isi dari Alkitab. Jadi, usul saya untuk menerjemahkan dan menerbitkan Alkitab di Belanda masuk akal‘. (Surat kepada NBG, 20-2-1856)

Dengan bantuan sebuah tata bahasa, kamus dan sejumlah naskah Batak, di Belanda dia dapat menyusun sebuah terjemahan Alkitab yang baik; untuk itu dia tidak perlu lagi berada di daerah Batak. Lagi pula, pekerjaan penerjemahan yang ditugaskan itu merintangi studi bahasanya.

‘Dalam mempelajari sebuah bahasa baru, jiwa harus sepenuhnya bebas, dan akan merupakan rintangan terhadap kegemaran studi seseorang apabila dia diberikan tugas untuk menerjermahkan sesuatu yang sama sekali asing untuk bangsa yang bahasanya pun masih harus dikenalnya. Orang yang benar-benar ingin meneliti bahasa harus sadar bahwa pertama-tama dia harus mencari emas sebelum dia dapat mengedarkannya; jadi orang harus melakukan banyak hal sebelum dia benar-benar boleh memulai menerjemahkan. Penerjemahan keseluruhan Alkitab, kecuali bila dikerjakan dengan terburu-buru, menyita banyak waktu […]. Persekutuan Alkitab bertindak sangat tidak bijaksana dengan memberi tugas untuk menerjemahkan seluruh Alkitab kepada orang yang masih harus mempelajari suatu bahasa.‘ (Surat kepada NBG, 25-5-1856).

Dalam suratnya dia juga mengeluhkan masalah-masalah praktis seperti kesulitan untuk mengambil uang di daerah terpencil seperti di Barus, kurangnya penulis Batak yang andal, kurangnya pembantu yang baik sehingga dia tidak diurus dengan benar dan rumahnya selalu saja menjadi ‘kandang binatang‘, dan biaya hidup di Sumatra yang lebih mahal daripada di Jawa. Juga tentang cuaca yang tidak sehat dan tentang serangga yang membuatnya berulang kali harus menyalin naskah. Namun, dia juga mengeluh tentang kurangnya percakapan intelektual dan tentang harus tinggal sendiri di dalam kesepian.

‘Apabila saya, yang dianggap sebagai seorang zendeling oleh masyarakat Eropa, menikah dengan gadis pribumi, seluruh dunia Hindia-Belanda akan menceritakan bahwa saya memiliki satu harem, sebab meskipun di sini setiap lelaki ‘dibantu‘ oleh seorang wanita pribumi, tentu saja seorang lelaki yang berasal dari lingkungan rohaniwan tidak boleh menggunakan kebebasan itu […]. Setiap orang Batak merasa aneh bahwa saya tidak seperti yang lainnya memiliki seorang gadis, dan mereka setiap hari menyuguhkan suatu cara untuk mengikat tali persaudaraan dengan mereka. Mereka tidak dapat mengerti mengapa saya tidak memenuhi keinginan mereka, dan menjadi jengkel, kalau saya - dipojokkan oleh mereka -, terpaksa mengatakan bahwa saya menganggap setiap gadis pribumi seperti wanita tunasusila dan karena itu tidak setia. Mengenai hal memiliki gadis pribumi, pada mulanya saya mempunyai pemikiran yang sama seperti orang di Eropa, tetapi sekarang saya melihat bahwa di sini hal tersebut adalah kemaksiatan yang sangat diperlukan, yang dipermudah oleh Pemerintah karena hanya petinggi sajalah yang mampu untuk menikah. Bahkan, kaum militer yang pangkatnya di bawah kapten pun tidak boleh menikah apabila tidak menyetor sejumlah uang. Bagaimanapun menyedihkannya kehidupan bersama seorang wanita pribumi seperti itu, di daerah pesisir seperti di sini itu selalu saja merupakan kebutuhan, selama setiap orang datang ke sini untuk dengan cepat melarikan diri lagi, dan selama Pemerintah tidak mengizinkan kolonisasi. Apalagi, terbukti bahwa di sini cuaca membuat tuntutan hewani manusia lebih kentara dibandingkan di negara-negara yang lebih dingin, dan mereka yang menginginkan suatu pengecualian dari peraturan yang umum, dengan cepat terseret ke dalam keputusasaan yang tak tertahankan. Namun, kehidupan seorang Eropa dengan seorang gadis pribumi menjadi suatu musibah apabila menghasilkan anak-anak yang selanjutnya harus merasa malu akan ibu mereka.‘ (Surat kepada NBG, 10-7-1856).

Untuk orang Batak rumah Si Pan Dor Toek atau Si Radja Toek, seperti orang menyebutnya, selalu terbuka dan sepanjang hari dia berbicara dengan mereka dan membuat catatan, yang pada malam harinya diolahnya. Dia juga membuat terjemahan yang pada keesokan harinya dibicarakan dengan mereka dan selanjutnya diperbaiki. Meskipun dia sering merasa terganggu dengan apa yang disebutnya dengan ‘kemalasan, kejorokan, dan keserakahan orang Batak‘, Van der Tuuk melakukan apa saja untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Karena pergaulan yang akrab dengan mereka, dia mengenal berbagai perkara pemerasan dan penindasan yang tidak diketahui oleh Pemerintah. Berulang kali dia membela kepentingan orang Batak. Selanjutnya Pemerintah pun memanfaatkan pengetahuannya dan memintanya untuk menerjemahkan pengumuman-pengumuman dalam berbagai dialek bahasa Batak.

Sementara itu, dia bekerja giat melaksanakan tugasnya untuk menyusun sebuah kamus, tata bahasa, dan menerjemahkan Alkitab. Lagi pula dia membuat suatu terjemahan buku bacaan Alkitab (Zahn 1842). Sebagai percobaan, bagian pertama dari Kitab Kejadian dicetak lithografi di Amsterdam dan disebarluaskan di daerah Batak (Van der Tuuk 1853). Belum pernah ada sesuatu yang dicetak dalam bahasa Batak dan penduduk menunjukkan penghargaan mereka untuk buku yang bagus tersebut, tetapi juga heran mengenai isinya yang asing dan karena rasa curiga itu mereka tidak mau menerimanya. Dia mengeluh mengenai kesulitan yang ditemuinya pada saat menerjemahkan karena isi Alkitab yang non-Batak.

‘Apabila orang menemui banyak kesulitan dalam menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu, kesulitan menerjemahkan ke dalam bahasa Batak lebih besar lagi karena tidak ada kata yang dapat ditemukan dalam bahasa ini, misalnya, untuk menjelaskan kata yang menggambarkan surga, neraka, dan keabadian. Saya merasa bahwa suatu terjemahan Alkitab yang sesungguhnya baru membuahkan hasil setelah ada pengaruh dari para zendeling [...]. Kejelasan terjemahan saya, tidak dapat saya jamin.‘ (Surat kepada NBG, 27-3-1854)

Dia tidak melihat manfaat terjemahan Alkitab selama keinginan membaca orang Batak masih belum dirangsang lewat pendidikan, dan selama bahasa Batak masih belum dibakukan melalui penyebaran buku bacaan berbahasa Batak dan penggunaan bahasa Batak sebagai bahasa pendidikan. Dia menganjurkan untuk menggunakan bahasa Batak sebagai bahasa pemerintahan, untuk membuat kontak dengan penduduk menjadi lebih langsung, dan untuk menghambat penyebaran bahasa Melayu yang diasosiasikan dengan agama Islam. Namun, masalahnya adalah bahwa pegawai pemerintah dan militer yang berasal dari Eropa tidak memiliki sedikit pengetahuan pun mengenai bahasa-bahasa Nusantara dan karena itu di mana-mana mereka memperkenalkan bahasa ‘Melayu-Pasar‘. Dalam hal itu, Van der Tuuk memperlihatkan diri sebagai pembela bahasa daerah dan sebagai penentang bahasa Melayu, yang menurut pendapatnya memberi dampak yang tidak menguntungkan pada hampir seluruh bahasa Nusantara. Oleh karena itu, bahasa-bahasa Nusantara dalam waktu singkat mengalami perubahan besar. Dia takut bahwa setelah lima puluh tahun terjemahan Alkitab yang dikerjakannya akan tidak lagi dimengerti, dan ramalan itu memang akan terjadi.

Dalam melaksanakan pekerjaannya dia senantiasa mempergunakan narasumber orang Batak yang sekaligus dia sewa sebagai penulis untuk menyalin naskah cerita. Dengan bantuan mereka, dia membuat kumpulan besar tentang kesusastraan Batak-Toba, Batak-Dairi, dan Batak-Mandailing. Dia membacakan kepada mereka hasil terjemahannya untuk diperiksa.

Pada bulan September 1854 dia terserang disentri yang parah dan dengan segera dibawa dengan kapal ke Rumah Sakit Militer di Sibolga. Untuk waktu yang lama sesudahnya dia merasa lemah. Lagi pula sejak awal tahun 1855 dia mengeluhkan penyakit levernya yang tidak sembuh-sembuh. Surat-suratnya semakin suram dan ternyata dia sering menderita depresi. Dia semakin menentang tugas penerjemahan Alkitab, dan menganggap tugas sebagai ahli bahasa dan sebagai penerjemah hampir-hampir tak dapat dikombinasikan. Sebenarnya orang tidak dapat menguraikan suatu bahasa dan pada saat yang sama menerjemahkan Alkitab dalam bahasa itu. Lagi pula dia menganggap pekerjaan penerjemahannya tidak berguna karena selama orang Batak melalui zending tidak dipersiapkan untuk agama Kristen, mereka tidak akan membaca Alkitab.

‘Mungkin saja bahwa apa yang saya tulis tidak disukai oleh pimpinan NBG, tetapi itu karena cinta saya yang besar terhadap bahasa yang harus saya perkenalkan. Namun, mereka tidak boleh melupakan bahwa dalam pekerjaan saya untuk Persekutuan Alkitab, saya tidak mengaku sebagai orang yang bersemangat untuk menyebarkan agama Kristen, dan bahwa saya ingin mencurahkan seluruhnya untuk studi bahasa, walaupun penerjemahan Alkitab kurang baik dampaknya untuk ketekunan saya. Studi saya terhadap bahasa Batak tidak terputus-putus, dan surat-surat yang saya tulis untuk Pemerintah dan ditujukan kepada Raja-raja Batak dipahami dengan sangat baik. Jadi, pastilah letaknya pada Alkitab dan bukan pada diri saya bahwa orang Batak membaca hasil terjemahan saya dengan perasaan enggan.‘ (Surat kepada NBG, 20-7-1856)

Meskipun demikian dia tetap meneruskan pekerjaan penerjemahannya dan secara teratur mengirimkan bagian Perjanjian Baru ke Belanda. Dia juga mengirimkan bagian dari kamusnya dan tata bahasa. Sebuah uraian mengenai tata bahasa dipublikasikan pada tahun 1855 (Van der Tuuk 1855). Pada tahun 1856 dia mempublikasikan suatu kritik terhadap terjemahan Alkitab berbahasa Melayu karya Leijdecker dan dengan hal itu dia memberikan sumbangan yang penting terhadap keputusan yang diambil oleh NBG pada tahun 1860, yaitu untuk membuat terjemahan Alkitab berbahasa Melayu yang baru (Van der Tuuk 1856).

Oleh karena keluhannya mengenai kelesuan dan kemurungan semakin bertambah, pada bulan April 1856 NBG menawarkan kepadanya untuk mengambil cuti dan pergi ke Belanda atau bepergian ke Jawa untuk mengembalikan tenaga lagi. Namun, pada akhir tahun yang sama NBG memperkirakan bahwa masa tinggal Van der Tuuk di Sumatra lebih baik diakhiri, dan bahwa sebaiknya dia di Belanda mengolah bahan yang telah dikumpulkan dan menerbitkannya. Pada bulan Desember 1856 Van der Tuuk memang memutuskan untuk kembali ke Belanda. Dia membuat salinan dari pekerjaannya dan mengirimkannya secara terpisah ke Belanda untuk membatasi risiko hilang. Setelah menjual rumah dan perabotnya pada bulan April 1857 dia akhirnya meninggalkan Barus. Menjelang keberangkatannya dia menulis dengan agak kecewa kepada NBG.

‘Adalah suatu musibah bekerja untuk orang-orang yang tidak mampu menilai orang yang belum beradab, dan berpikir bahwa penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Batak dengan bantuan orang liar merupakan suatu pekerjaan yang menyenangkan […]. Apabila saya seorang penipu, saya akan memberikan sebuah gambar yang hebat, yang antara lain akan menceritakan kepada Anda bahwa kebutuhan akan Kristus bagi orang Batak terasa hidup, dan sebagainya. Biar saja para zendeling mengatakan begitu. Saya tidak ingin menjadi orang munafik yang membuat senang orang-orang yang mudah percaya.‘ (Surat kepada NBG, 5-4-1857)

Dia menempuh perjalanan panjang dari Barus ke Padang berjalan kaki supaya dalam perjalanan masih dapat memperoleh data-data bahasa Batak-Mandailing. Dari Padang dia naik kapal ke Batavia dan dari sana dia berangkat ke Eropa. Pada tanggal 1 Oktober 1857 Van der Tuuk yang sementara itu sudah berusia tiga puluh tiga tahun, tiba di Belanda, dan kali ini dia menetap di Amsterdam. Di sana dia mengolah bahan yang sangat banyak yang telah berhasil dikumpulkannya selama enam tahun di daerah Batak, dan mempublikasikan karyanya tentang bahasa Batak.

Amsterdam, 1857 - 1868

Pemilihan Amsterdam sebagai tempat tinggal sangatlah wajar. Pusat NBG ada di kota itu. Komunikasi dengan NBG saat itu berlangsung secara lisan dan korespondensi hanya sedikit. Oleh karena itulah, terutama antara tahun 1857 - 1863, hanya sedikit yang diketahui mengenai hidup Van der Tuuk. Periode 1864 – 1868 terdapat lebih banyak informasi. Informasi itu diperoleh dari surat-surat yang ditulis oleh Van der Tuuk kepada rekan dan temannya W.H. Engelmann (1836-1868) yang pada tahun 1864 dikirim ke daerah Sunda sebagai utusan bahasa NBG. Informasi itu juga diperoleh dari surat-surat kepada P.J. Veth yang pada tahun 1864 diangkat menjadi guru besar Antropologi Hindia -Belanda pada Sekolah Tinggi Amtenar Hindia-Belanda di Leiden, dan pindah dari Amsterdam ke Leiden.

Baik dengan Engelmann maupun Veth, Van der Tuuk mempunyai hubungan yang baik. Dalam suratnya kepada Engelmann dia melaporkan panjang lebar mengenai hal-hal yang terjadi di bidang Orientalistik di Belanda dan yang sedang dikerjakannya sendiri. Meskipun kepada Veth surat-suratnya bernada lebih resmi - Veth berusia sepuluh tahun lebih tua dari Van der Tuuk, sedangkan Engelmann dua belas tahun lebih muda -, terlihat dari pengungkapan yang bebas dan kecaman terhadap berbagai orang, pastilah dia di Amsterdam sudah mempunyai hubungan yang akrab dengan Veth. Kepada Veth - yang merupakan orang terkemuka di lingkungan NBG - dia dapat memberikan pandangan yang sangat kritis mengenai NBG, seperti juga terhadap teman sejawat Veth di Amsterdam dan Leiden. Veth mengusahakan agar tulisan-tulisan Van der Tuuk dimuat di majalah De Gids dan mengerjakan sendiri koreksinya. Pada gilirannya, Van der Tuuk memberikan berbagai sumbangan ilmu bahasa bagi publikasi Veth mengenai kata pinjaman dari bahasa-bahasa Timur dalam bahasa Bela nda. Veth sedikit banyak mengambil alih secara harfiah, tanpa menunjuk ke Van der Tuuk secara eksplisit (Veth 1867a, 1867b, 1869). Tidak diketahui mengapa korespondensi dengan Veth tiba -tiba terhenti pada bulan Desember 1867. Mungkin muncul suatu kerenggangan sebagai dampak dari ulasan yang kritis dari Veth yang dimuat di majalah Tijdschrift voor Nederlandsch - Indië mengenai sejumlah publikasi dari Van der Tuuk. Veth menyesalkan bahwa pekerjaan Van der Tuuk ‘di sana-sini dihiasi dengan hal-hal yang kasar, yang seolah-olah sangat dinikmatinya‘ (Veth 1868:352).

Di Amsterdam Van der Tuuk mengerjakan dengan giat tugasnya. Pada tahun 1859 terjemahannya Injil Johanes, Kitab Kejadian dan Eksodus, dan Injil Lukas diterbitkan (Van der Tuuk 1859a, 1859b, 1859c, 1859d). Pada bulan Agustus 1859 sebagian dari kamus bahasa Bataknya dicetak; tetapi juga karena masalah kesehatanlah pada musim dingin akhir tahun itu kamus itu baru benar-benar selesai pada tahun 1861 (Van der Tuuk 1861c). Untuk membuat para zendeling dan pegawai pemerintah dapat mempelajari bahasa Batak, dia menyusun tiga buku bacaan dengan teks kesusastraan Batak yang asli (Van der Tuuk 1860, 1861a, 1861b). Meskipun NBG membiayai penerbitan buku-buku itu, atas saran Van der Tuuk sendiri nama NBG tidak dicantumkan, menimbang isi teks yang ‘musyrik‘ dan ‘tidak bermoral‘ terkadang tidak sesuai dengan semangat persekutuan itu. Pada tahun 1862, atas permintaan Kementerian Koloni, diterbitkan jilid keempat, yang disertai terjemahan berbahasa Belanda dari tiga buku bacaan Batak dan dilengkapi dengan penjelasan bahasa untuk membacanya (Van der Tuuk 1862).

Dalam publikasi terakhir Van der Tuuk memuat sepintas sistem aturan perubahan bunyi, yang menjadi sangat terkenal, dan yang kelak akan diolah oleh J.L.A. Brandes (1857-1905) (Brandes 1884). Dengan demikian, dia menempatkan diri dalam suatu bidang yang jauh lebih luas dari studi bahasa Batak, yaitu bidang ilmu perbandingan bahasa. Yang menarik perhatian lagi adalah pada bagian belakang buku itu dia juga mencantumkan daftar kata-kata bahasa Melayu dalam bahasa Siam dan kata-kata bahasa Siam dalam bahasa Melayu, yaitu sekaligus dia memperlihatkan pengetahuannya mengenai bahasa Siam (Van der Tuuk 1862:208-16).

Pada akhir tahun 1861 Van der Tuuk memberikan pelajaran bahasa Batak di Amsterdam kepada zendeling dari Rheinische Missionsgesellschaft L.I. Nommensen (1834-1918), yang pada tahun 1862 berangkat ke daerah Batak. Pada tahun 1865 dia memberi pelajaran bahasa Batak kepada zendeling A.W. Schreiber (1839-1903) dan masih kepada dua zendeling lainnya dari persekutuan itu. Pada tahun 1866 Schreiber mempublikasikan sebuah tata bahasa Batak ringkas dalam bahasa Jerman berdasarkan diktat yang diberikan Van der Tuuk kepadanya (Van der Tuuk 1866a).

Untuk jasanya di bidang bahasa dan sastra Hindia-Belanda pada tanggal 17 Juni 1861 Van der Tuuk, tiga puluh tujuh tahun, menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Utrecht. Dia dicalonkan oleh H.C. Millies, yang pada tahun 1856 diangkat menjadi guru besar bahasa-bahasa Semit. Sebelumnya Van der Tuuk sudah dicalonkan oleh dosen bahasanya di Leiden, Juynboll, dan Rutgers untuk mendapatkan gelar doktor kehormatan, tetapi karena Roorda berkeberatan maka promosi di Leiden itu tidak dilanjutkan.

Apa keberatan Roorda terhadap Van der Tuuk tidaklah diketahui. Yang jelas adalah bahwa Van der Tuuk dan Roorda pada saat itu sudah menjadi musuh bebuyutan. Pada tahun 1862 Van der Tuuk menyerang Roorda untuk pertama kalinya dan menyebut perbandingan bahasa yang dibuatnya ‘tidak bersistem‘ dan ‘sama sekali tidak berguna‘ (Van der Tuuk 1862:111-2). Pada tahun 1864 dengan biaya sendiri dia menerbitkan brosur yang berisi serangan yang panjang lebar terhadap karya Roorda tentang bahasa Jawa, dan setelah ada sanggahan, dia masih menerbitkan serangan yang kedua (Van der Tuuk 1864a, 1864d). Dia juga membabi buta menyerang pegawai bahasa Hindia-Belanda (Indisch taalambtenaar) D. Koorders (1830-1869) dan penerjemah-zendeling G.J. Grashuis (1835-1920). Keduanya adalah bekas murid Roorda yang membela guru mereka (Van der Tuuk 1865a, 1865d, 1865g). Dalam polemik itu Van der Tuuk memperlihatkan pengetahuan bahasa yang luar biasa yang sebagian besar didapatnya sendiri dari Hindia-Belanda. Jelas, dalam hal itu Roorda kalah. Dia belum pernah ke Hindia -Belanda, tidak pernah belajar bahasa Jawa secara langsung, dan tidak memiliki pengetahuan yang besar mengenai bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Sebagai bukan ilmuwan lapangan dia kalah melawan peneliti lapangan seperti Van der Tuuk. Lagi pula pendekatan linguistik historis – bandingan yang dipergunakan oleh Van der Tuuk bertabrakan dengan cara kerja Roorda yang ahistoris-deskriptif. Pedasnya polemik yang dilontarkan mencolok dan pastilah tidak menyenangkan bagi NBG, di mana Roorda sudah puluhan tahun menjadi penasihat. Namun, NBG sendiri tidak ikut campur. Van der Tuuk mengatakan bahwa dia ingin membungkam Roorda untuk selamanya karena Roorda di belakang punggungnya telah memfitnahnya pada saat dia tinggal di Batak, sesuatu yang tidak dapat diterimanya. Barangkali Van der Tuuk, yang dalam dunia ilmiah Belanda waktu itu belum begitu terkenal, mencari pengakuan dengan cara menjatuhkan Roorda, seorang ilmuwan terkemuka (Uhlenbeck 1964:52-3). Bagaimanapun juga, dalam karya – karya selanjutnya Van der Tuuk masih saja menyerang Roorda, bahkan setelah kematiannya pada tahun 1874 (lihat misalnya Van der Tuuk 1865e, 1866i, 1881).

Penerbitan buku-buku bacaan Batak juga menimbulkan ketegangan dengan Millies. Pada tahun 1862 Millies menganjurkan Pemerintah Hindia-Belanda untuk tidak menggunakan buku-buku bacaan tersebut di sekolah-sekolah Batak karena isinya yang ‘berwarna musyrik‘ dan karena berbagai cerita yang ‘asusila‘. Van der Tuuk tidak dapat menerima pemikiran yang ‘picik‘ ini dan memutuskan hubungan dengan Milies yang sampai saat itu sangat baik.

Setelah penerbitan buku bacaan yang terakhir, pada tanggal 12 Maret 1862 NBG memutuskan untuk mengakhiri pekerjaan Van der Tuuk mengenai bahasa Batak dan memberangkatkannya sekali lagi ke Hindia-Belanda. Setelah dia selesaikan tata bahasa Batak dan terjemahan Kitab Perjanjian Baru, dia bisa berangkat. Sebagai akibatnya, memang sisa Alkitab tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Batak lagi, tetapi - seperti yang dilaporkan dalam rapat tahunan NBG tahun 1862 .

‘Berlawanan dengan itu, ta lenta luar biasa yang dimiliki Van der Tuuk, pengetahuannya yang luas mengenai bahasa-bahasa Nusantara lainnya, pengetahuan mengenai adat-istiadat di Nusantara, kepribadiannya yang berkualitas, menjadikannya sangat cocok untuk tinggal di Hindia-Belanda, - itulah segalanya, menurut pandangan Pimpinan NBG, yang dapat lebih baik dipergunakan lagi untuk penyebaran Alkitab di Hindia -Belanda.‘

Lagi pula, sudah ada cukup terjemahan untuk zending yang baru dimulai di daerah Batak. Oleh karena sudah sejak tahun 1846 ada desakan untuk mengusahakan terjemahan Alkitab dalam bahasa Bali (Van Hoëvell 1846), ditunjuklah untuk Van der Tuuk Pulau Bali sebagai daerah kerja.

‘Kebudayaan, yang ditemukan di sana, masih saja tetap Hindu, yang di Jawa dan di mana-mana di daerah kekuasaan kita telah diubah sama sekali dan digantikan oleh Islam. Untuk menekuni studi tentang Bali, dibutuhkan pengetahuan baik mengenai kesusastraan Hindu maupun pengetahuan akan sejarah kuno Nusantara. Dan dalam hal itu keahlian dan pengalaman Van der Tuuk lebih dari orang lain memungkinkan mendapat hasil yang cepat, suatu terjemahan Alkitab dalam bahasa suatu bangsa yang memiliki kebudayaan yang begitu tua.‘ (Handelingen-NBG 14-8-1862:44-5)

Apakah keputusan itu disukai oleh Van der Tuuk, tidak jelas diketahui. Namun, dia tidak segara menyelesaikan pekerjaannya mengenai bahasa Batak, dan desakan dari pihak NBG untuk sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaan itu, hanya sedikit memberikan efek. Dalam rapat tahunan NBG tahun 1863, 1864, dan 1865 hanya dilaporkan bahwa Van der Tuuk masih sibuk dengan tata bahasa Batak, tetapi NBG mengharapkan bahwa Van der Tuuk akan menyelesaikannya tahun berikutnya dan dapat melaporkan keberangkatannya ke Bali (Handelingen-NBG 13-8-1863:39, 11-8-1864:29, 10-8-1865:54). Bagian pertama tata bahasa Batak terbit pada tahun 1864, bagian kedua baru tahun 1867 (Van der Tuuk 1864c, 1867b). Sementara itu, sudah sejak 1862 terjemahan Injil Matheus, Markus, dan Kitab Para Rasul hampir selesai dan baru pada paruh kedua tahun 1867 diterbitkan (Van der Tuuk 1867c, 1867d, 1867e).

Di sela-sela kegiatannya dengan bahasa Batak, pada masa di Amsterdam Van der Tuuk juga menyibukkan diri dengan berbagai bahasa lain dan mempunyai berbagai rencana. Pada tahun 1864 dia bermaksud menyusun sebuah kamus Melayu-Belanda dan menyebarkan prospektus (Van der Tuuk 1864b). Namun, ketika di Belanda tidak ada banyak minat untuk kamus itu, dia berpikir untuk membuat kamus Melayu-Inggris. Akhirnya, dia hanya mempublikasikan sebuah kritik dalam bahasa Inggris atas kamus - kamus bahasa Melayu yang ada (Van der Tuuk 1865b). Dia membuat rencana untuk menyusun kamus dan tata bahasa Malagasi, tetapi hanya sebuah studi pendahuluan saja diterbitkan (Van der Tuuk 1865c). Pada tahun 1865 dia mengeluarkan rencana untuk menerbitkan katalog besar dari semua naskah Melayu yang ada di perpustakaan Eropa, tetapi akhirnya hanya koleksi naskah dari Royal Asiatic Society di London saja diinventarisasikan (Van der Tuuk 1866b, 1866f). Dia memang menyusun tiga buku bacaan berbahasa Melayu untuk sekolah-sekolah di Hindia-Belanda (Van der Tuuk 1866e, 1868c, 1868d) dan menerbitkan dalam periode itu juga berbagai karya lain mengenai bahasa dan sastra Melayu (Van der Tuuk 1865f, 1866c, 1866d, 1866h), sesuatu yang akan dikerjakan sepanjang hidupnya. Arti Van der Tuuk bagi studi bahasa Melayu - untuk bahasa itu dia tidak diangkat oleh NBG – tidak dapat diingkari (Grijns 1996). Untuk mempersiapkan tinggalnya di Bali sejak 1863 dia menyibukkan diri dengan mempelajari apa saja yang telah diketahuinya mengenai bahasa Bali dan Kawi (Jawa Kuno), dan dia juga mendalami bahasa Sanskerta.

Dari banyak perbandingan bahasa dalam publikasinya terbukti bahwa Van der Tuuk juga memiliki pengetahuan berbagai bahasa lagi, seperti bahasa Nias, Aceh, Rejang, Mentawai dan Melayu-Minangkabau, bahasa-bahasa Filipina seperti bahasa Tagalog dan Visaya, bahasa Hindustan, bahasa Favorlang dan bahasa-bahasa lain dari Taiwan, juga bahasa Cina, Vietnam, dan bahasa Siam. Melalui pekerjaan rekannya Hardeland dan Matthes dia memperoleh pengetahuan tentang bahasa Dayak, Bugis dan Makasar. Bersama Engelmann dia mendalami bahasa Sunda. Pengetahuan bahasanya yang luar biasa besarnya menjadikan Van der Tuuk mampu secara cerdas melontarkan kritik kepada sesama ahli bahasa dan dia senang melakukan hal itu, sering dengan tajam. Tidak hanya Roorda, Koorders, dan Grashuis mendapat kritik tajam, tetapi juga misalnya J.J. de Hollander (1817-1886) yang mengajar bahasa Melayu di Breda, H.C. Klinkert (1829-1913) yang sejak 1863 mengerjakan terjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu untuk NBG, J. Pijnappel (1822-1901) yang mengajar bahasa Melayu di Delft dan kemudian di Leiden, H. von Wall (1807-1873) yang sejak 1855 sebagai pegawai bahasa Hindia-Belanda menyusun kamus bahasa Melayu, dan banyak ilmuwan lain dari Belanda, Hindia-Belanda, dan di luar itu. Mereka terutama menolak kritik-kritik itu karena nadanya. Grashuis pada tahun 1878 dalam kata pengantar kamus Melayu yang diterbitkannya menyatakan bahwa dia tidak akan terganggu dengan kritik terhadap pekerjaannya: ‘Seandainya orang, yang saya akan katakan dengan senang hati bahwa dia mempunyai pengetahuan dan pengertian akan bahasa Melayu yang melebihi orang lain, akan mendamprat dan memaki-maki saya seperti kebiasaannya, saya tidak akan peduli dan saya akan diam‘ (Grashuis 1878:iii).

Dalam periode ini Van der Tuuk juga berulang kali melakukan perjalanan. Pada bulan Januari 1863 dia mengunjungi Paris untuk memperoleh pengetahuan mengenai Orientalistik di Prancis. Tidak lama setelah itu dia untuk pertama kalinya mengeluhkan penyakit pada pita suaranya, yang membuatnya tidak dapat berbicara berbulan-bulan lamanya. Pada bulan Juli 1864 Van der Tuuk mengantar temannya Engelmann, yang sudah sejak bulan Desember 1863 mempersiapkan tugas mengenai bahasa Sunda bersamanya, menuju Marseille. Dari sana Engelmann naik kapal ke Hindia-Belanda. Dalam perjalanan ke Prancis lagi-lagi dia mendapat gangguan dengan pita suaranya. Pada bulan Juni - Juli 1865 dia menghabiskan waktu tiga minggu di London untuk menguraikan naskah-naskah bahasa Melayu dari Royal Asiatic Society. Dalam bulan Agustus 1865 dia pergi ke Jerman untuk mengunjungi tempat peristirahatan, yang akan menolongnya dengan masalah pita suaranya, tetapi ternyata hanya sedikit menolong.

Pada tahun 1864 terjadi perselisihan yang tajam antara Van der Tuuk dan NBG. Van der Tuuk menerbitkan brosur polemiknya pada firma R.C. Meijer milik temannya R.C. d‘Ablaing van Giessenburg (1826-1904), seorang ateis terkenal. Ketika Van der Tuuk ingin menerbitkan tata bahasa Bataknya pada Meijer, NBG bertindak dan melarang untuk menerbitkan sesuatu lagi pada firma ‘non-Kristen‘ itu. Perselisihan yang kedua menyusul pada tahun 1867, ketika Van der Tuuk bertengkar dengan NBG mengenai caranya mengecam berbagai orang. Dalam dua artikelnya di De Hollandsche Spectator dia mengejek hasil pekerjaan zending mantan pegawai I. Esser (1818-1885) yang saleh (Van der Tuuk 1866g, 1867a). Kepada Van der Tuuk ditegaskan bahwa dia harus menahan untuk melontarkan serangan semacam itu karena hal itu akan mendiskreditkan NBG, dan untuk tidak lagi menerbitkan sesuatu pada majalah yang ‘ateis-sinis‘ seperti De Hollandsche Spectator itu. Latar belakang dari masalah itu adalah bahwa pada akhir tahun 1865 Esser menulis surat kepada NBG mengenai ‘sudut pandang religius yang tidak waras‘ dari Van der Tuuk. Namun, NBG saat itu tidak melihat alasan untuk menelitinya. Sejak saat itu Van der Tuuk begitu marah kepada Esser dan kemarahan itu akan diperlihatkannya setiap saat. Akan tetapi, secara umum kerja sama dengan NBG berlangsung tanpa banyak masalah. Dengan J.P. Land (1834-1897), yang pada periode 1859-1864 adalah Sekretaris NBG, hubungannya agak dingin dan formal. Namun, dengan penggantinya J. van Leeuwen (1821-1892) yang mulai bekerja 1865, Van der Tuuk dapat bekerja sama dengan baik dan bahkan mereka menjalin persahabatan.

Karena kritiknya yang tanpa pandang bulu terhadap segala hal dan terhadap setiap orang, Van der Tuuk kehilangan kesempatan untuk diangkat menjadi guru besar di Belanda. Di Leiden dia tidak akan dicalonkan selama Roorda masih menjadi guru besar. Pada tahun 1865 dia memang mendapat nominasi untuk menjadi guru besar bahasa Melayu dan Jawa pada Sekolah Tinggi Amtenar Hindia-Belanda yang akan didirikan di Utrecht, tetapi sekolah tersebut tidak jadi terbentuk. Pada masa itu dia menimbang-nimbang untuk mengakhiri tugasnya pada NBG karena persekutuan itu berada dalam kesulitan finansial. Dia berpikir barangkali dapat bekerja di Inggris, atau sebagai pegawai bahasa di Hindia-Belanda atau sebagai guru pada Sekolah Guru Pribumi di daerah Batak. Dia juga menganjurkan Engelmann untuk melamar pada Sekolah Guru Pribumi yang dibuka pada tahun 1866 di Bandung. Bahwa Van der Tuuk mencari pekerjaan lain, juga disebabkan keengganannya untuk lagi-lagi memulai penerjemahan Alkitab dalam bahasa Bali.

‘Semua yang telah dikerjakan untuk bahasa-bahasa Nusantara sama sekali tidak berharga, dan tidak akan ada perubahan, selama orang tidak mempelajarinya atas kepentingan bahasa-bahasa itu sendiri. Orang tidak akan mencapai banyak di segala bidang selama melakukan pekerjaan itu tanpa cinta. Siapa yang mempelajari suatu bahasa untuk dapat menerjemahkan Alkitab adalah seorang bangsat, dan karena itu saya menganggap diri saya lebih rendah dari yang lain. Adalah suatu takdir yang kejam bahwa saya harus bekerja untuk Persekutuan Alkitab.‘ (Surat kepada P.J. Veth, 14-4-1867)

NBG sesungguhnya adalah majikan yang sangat sabar. Sudah sejak tahun 1862 Van der Tuuk didesak untuk menyelesaikan pekerjaan mengenai bahasa Batak dan berangkat ke Bali. Namun, dia senantiasa menundanya untuk dapat menyelesaikan berbagai publikasi. Dengan publikasi bagian kedua dari tata bahasa Batak dan terjemahan tiga buku dari Alkitab (Van der Tuuk 1867b, 1867c, 1867d dan 1867e) akhirnya pada akhir tahun 1867 dia secara definitif menyelesaikan pekerjaannya di bidang bahasa Batak setelah persis dua puluh tahun. Bahkan, pada saat itu pun dia tidak langsung berangkat ke Bali. Atas permohonan pemerintah Hindia -Belanda , dia menerbitkan dua studi mengenai bahasa Melayu-Batavia dan menjelang keberangkatannya, dia masih menerbitkan suatu uraian mengenai koleksi naskah berbahasa Lampung, atas permohonan mantan Gubernur Jenderal L.A.J.W. Sloet van de Beele (1806-1890) (Van der Tuuk 1867f, 1868a, dan 1868b). Baru pada bulan April 1868 dia secara resmi berpamitan pada NBG. Kepadanya ditetapkan mendapat gaji ƒ 6.000 setahun. Setelah berjalan-jalan ke Roma dan Florance, akhirnya dia berangkat ke Hindia -Belanda pada bulan Mei dari Marseille.

Lampung, 1868 - 1869

Pada saat kedatangannya di Batavia pada tanggal 23 Juli 1868 Van der Tuuk mendapat berita bahwa untuk sementara waktu dia tidak dapat pergi ke Bali karena terjadi pemberontakan di distrik Buleleng. Dia lalu pergi ke Bogor, Bandung, dan Garut. Di Bandung dia menemui Engelmann, yang ternyata menderita tuberkulosa, dan dari Garut dia mengunjungi penasihat pemerintah K.F. Holle (1829-1896) di perkebunan tehnya Waspada. Pada waktu dia kembali ke Batavia, atas dukungan temannya pegawai bahasa A.B. Cohen Stuart (1825-1876), dia mendapat tawaran untuk selama lima bulan melakukan studi di daerah Lampung atas biaya pemerintah. Pada tanggal 25 Agustus 1868 dia pergi ke Teluk Betung, dan menginap di rumah Residen D.W. Schiff (1821-1880). Pada akhir bulan November dengan berjalan kaki dia pergi ke daerah pedalaman dan selama beberapa saat tinggal di Lehan (Tarabanggi), kurang lebih seratus kilometer di sebelah utara Teluk Betung. Dia menulis kepada NBG:

‘Saya duduk di sini, di sebuah ruang terbuka di seberang Sungai Seputih dan dikelilingi hutan belantara. Tempat tinggal saya adalah sebuah rumah tanpa pintu depan dan belakang. Di bagian tengah rumah yang memisahkan dua ruangan yang suram, yang saya tinggali bersama dua pembantu saya, menyala sebuah pipa yang terbuat dari daun pisang dan damar. Lampu itu menjaga agar harimau tidak menghampiri kami. Dengan penerangan lampu minyak tanah saya menulis surat ini, dan saya merokok seperti kapal uap untuk mengusir serangga yang pada musim hujan mengerubungi orang. [...]. Saya berada sepenuhnya di antara orang Lampung dan belajar banyak sekali. Keberadaan saya di sini penting untuk Persekutuan Alkitab karena saya sudah belajar hidup terisolasi. Saya berencana, nanti di Bali juga akan mengasingkan diri dari masyarakat Indo-Eropa yang gemar bermain kartu, yang menyita begitu banyak waktu dan tidak memberikan kepuasan apa pun. Waktu saya di sini mungkin akan sedikit diperpanjang; dan bila tidak, maka saya dengan senang hati akan meninggalkan tanah ini yang berhutan belantara, dengan buaya, rawa-rawa, dan harimau. Saya tidak ingin tinggal lama di sini sebab di tempat ini hampir-hampir tidak ada kesusastraan sehingga saya harus menangkap semuanya dari mulut penduduk pribumi.‘ (Surat kepada NBG, 17-12-1868).

Di Lehan dia menerima berita kematian Engelmann, yang meninggal pada tanggal 1 Desember 1868. Berita itu sangat membuatnya terpukul. Pada akhir 1868 dia meminta kepada Pemerintah untuk dapat tinggal lebih lama di daerah Lampung sehingga dia dapat mengetahui lebih banyak lagi mengenai berbagai dialek. Dia mendapat perpanjangan enam bulan, tetapi waktu enam bulan itu kelak akan diperpanjang sekali lagi. Dia memberi tahu kepada NBG bahwa situasi di Bali belum memungkinkannya pergi ke sana. Di samping bahwa gejolak belum mereda, di sana juga muncul epidemi kolera. Pada bulan April 1869 dia pergi lebih jauh ke arah barat daerah Lampung dan terus berjalan sampai Muara Dua. Pada bulan Mei dia berangkat dari sana dan pada bulan Juni 1869 dia kembali lagi di Teluk Betung. Kecuali beberapa bagian perjalanan dengan kapal, jarak yang panjang lainnya ditempuhnya dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan dia menyusun kamus bahasa Lampung. Namun, kamus yang terdiri dari enam ratus halaman itu tidak jadi dipublikasikan, barangkali karena pada saat itu belum ada cetakan huruf bahasa Lampung yang cocok. Pada saat perjalanannya, atas permintaan Bataviaasch Genootschap, dia mengirimkan beberapa laporan yang panjang lebar mengenai penelitiannya terhadap bahasa Lampung, yang dipublikasikan di Batavia (Van der Tuuk 1869, 1870).


Dibaca : 2.458 kali.

Tuliskan komentar Anda !