Minggu, 30 Agustus 2026 |Isnain, 16 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
7.400
Kemarin
:
33.200
Minggu kemarin
:
32.235.407
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Artikel
13 november 2007 06:06
Islam Dan Kesultanan Melayu
Oleh : Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary
Tulisan ini mengungkapkan bahwa pada awal masuknya Islam di Nusantara, Sultan-sultan Melayu mengaitkan asal-usulnya dengan Iskandar Zulkarnaen (Alexander the Great). Hal ini diketahui dari prasastimakam-makam kuno yang bertulis huruf Arab dan yang diketemukan di beberapa tempat di Nusantara. Pada makam-makam tersebut nama-nama Sultan Melayu banyak yang bergelar Iskandar Syah.
1. Pendahuluan
Bukti tertulis tentang bahasa dan budaya Melayu yang mencerminkan penggunaan bahasa Melayu secara formal untuk maklumat negara adalah prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Raja-raja Sriwijaya di sekitar Palembang dan Jambi pada abad ke-7 M. Prasasti tertua adalah prasasti Kedukan Bukit yang berupa maklumat berbahasa Melayu tentang keinginan Raja Melayu Sriwijaya untuk memperkokoh kekuasaannya di bumi Sumatera (Casparis, 1950). Bukti-bukti arkeologi lain tentang hubungan Islam dan Melayu juga diperoleh dari makam-makam kuno bertulis huruf Arab dan huruf daerah tentang ketokohan raja-raja atau Sultan Melayu di berbagai wilayah Nusantara. Bukti arkeologi ini dapat dibandingkan dengan data-data yang dikaji dari naskah atau hikayat-hikayat Raja Melayu seperti Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai, Bustanussalatin, Hkayat Banjar, Sejarah Bima, dan sebagainya.
Dari sumber-sumber tersebut diperoleh data tentang Raja-raja Melayu yang menempatkan dirinya sebagai keturunan Iskandar Agung (Iskandar Zulkarnaen) yang dianggap sebagai cikal bakal raja-raja Islam di dunia. Usaha kedua yang dapat dicatat dari naskah tadi adalah para raja pribumi yang masuk Islam ditahbiskan oleh seorang syekh dari Mekah. Dua fenomena yang merupakan usaha legitimasi raja-raja Melayu Islam ini memberikan indikasi kepada kita bahwa Islam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu. Gelar-gelar sultan Islam juga memberikan indikasi gelar-gelar yang lazim dipakai oleh raja-raja Islam di luar Nusantara.
2. Iskandar Zulkarnaen Sebagai Cikal Bakal Raja Melayu : Usaha Legitimasi
Kisah Iskandar Agung atau Iskandar Zulkarnaen (bertanduk dua) terdapat dalam Al Quran. Kisah tersebut menggambarkan seorang raja agung dari masa lampau yang memiliki wilayah kekuasaan dari Timur hingga Barat sepanjang daratan Asia dan Eropa. Kisah Iskandar Zulkarnaen terdapat dalam Al Quran surat 18 yang dikaitkan dengan kehadiran Nabi Khaidir sebagai tokoh pendamping Iskandar Agung. Surat ke-18 dalam Al Quran mengisahkan tiga hal: 1) kisah tentang tujuh tokoh yang tertidur di gua selama 309 tahun dan terbangun sesudah generasinya berganti; 2) perjalanan Nabi Musa yang kemudian bertemu dengan Nabi Khaidir; dan 3) episode Iskandar Zulkarnaen (Chamamah-Suratno, 1978: 91).
Bab pertama Sejarah Melayu memasukkan episode Iskandar Zulkarnaen dan Nabi Khaidir yang mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya. Pengembaraan tersebut berakhir di Bukit Siguntang, Melayu. Mereka kemudian menetap di Melayu dan menurunkan raja-raja Melayu (Chamamah-Suratno, 1978 : 92). Dari episode ini dapat dikemukakan bahwa pengambilan episode Iskandar Zulkarnaen dan Nabi Khaidir sebagai bagian awal asal-usul Raja-raja Melayu merupakan usaha legitimasi raja-raja Melayu pribumi yang menerima Islam.
Nama Iskandar yang tidak lain sebagai manifestasi Iskandar Agung (Zulkarnaen) sangat sering dipakai oleh raja-raja Melayu di Nusantara. Nama ini tidak hanya melekat pada raja-raja Aceh, Iskandar Muda (1607–1636) (Lombard, 1971: 281–289) dan Iskandar Thani (1636), tetapi juga melekat pada raja-raja Ternate. Pada makam-makam kuno di kota Ternate terdapat kompleks makam raja-raja Ternate, di antaranya raja-raja Ternate dari abad XVII–XIX M. Makam-makam tersebut memuat nama-nama Sultan Ternate, yang umumnya memakai gelar resmi yang selalu dipakai oleh para raja, yaitu Iskandar Qulainshah. Nama-nama sultan yang tertera antara lain Sultan Sirajul Mulk Iskandar yang wafat 6 Syawal 1213 H (1798 M) (Ambary, 1980: 6–7), Maulana Sultan Al Mukhtar bin Inayatillah al Manan Amiruddin Iskandar yang wafat pada tahun 1242 H, Maulana Sultan Tajul Mulk Amiruddin Iskandar yang wafat pada 1276 H, dan lainnya. Dengan demikian, raja-raja Ternate yang dari segi etnis tidak dikelompokkan sebagai raja-raja Melayu, sebenarnya memakai tradisi Melayu dengan mengaitkan nama diri pada Iskandar Zulkarnaen.
Gelar-gelar keislaman raja-raja Melayu terlihat pada makam-makam kuno dan naskah Melayu. Raja-raja Melayu Islam juga memakai gelar yang melukiskan dirinya sebagai penguasa alam tertinggi dan paling berkuasa sebagaimana raja-raja Melayu zaman pra-Islam. Gelar raja pra-Islam, seperti “raja adiraja” dan gelar lainnya menunjukkan keperkasaan raja sebagai penguasa alam. Gelar raja-raja Melayu sesudah Islam juga memuat hal serupa yang ditransformasikan lewat bahasa Arab, misalnya gelar raja Islam pertama, yaitu Sultan Malik as Shaleh. Gelar ini terdapat pada makamnya maupun pada naskah Hikayat Raja-raja Pasai. Berikut ini kutipan tulisan dari makam Sultan Malik as Shaleh:
Dari sebutan yang tertulis pada makam tersebut, gelar-gelar beliau seperti Al Karim (yang mulia), Al Fatih (yang memperoleh kemenangan, si penakluk), Al Abid (yang pengabdi) merupakan gelar-gelar yang lazim dipakai oleh raja-raja Sriwijaya dalam bahasa Sanskerta. Demikian juga dengan gelar-gelar raja kedua Pasai, Sultan Malik Al Dhahir yang terdapat pada makamnya. Berikut ini kutipan tulisan dari makam Sultan Al Dhahir:
(Ambary, 1980: 315).
Gelar yang tertera pada makam tersebut antara lain adalah Shamshu dunnya wa‘addin (mataharinya dunia dan agama), As Shalid (yang dimuliakan kebangsawanannya), dan sebagainya. Gelar-gelar yang terdapat pada naskah Hikayat Raja-raja Pasai juga menunjukkan kemuliaan dan keperkasaannya sebagai raja penguasa seperti Zilullah fil alam (Naungan Allah di dunia).
Gelar raja-raja Melayu Islam Kerajaan Banjar dan raja-raja Jawa menunjukkan gelar campuran antara gelar dalam bahasa Sanskerta, bahasa lokal, dan bahasa Arab. Sebagai contoh adalah gelar raja Banjar Islam yang pertama (Raden Samudra), yaitu Suryanshah atau Suryanullah yang merupakan campuran gelar Sanskerta-Arab. Gelar ini berarti ‘raja matahari‘. Gelar raja-raja Jawa yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi juga merupakan campuran gelar Jawa–Arab, misalnya Raden Patah, Raja Demak pertama yang bergelar Senapati Jimpun Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama. Gelar ini merupakan ciri gelar raja yang bercorak Islam.
3. Penahbisan Raja Oleh Penghulu Atau Ulama Islam
Penahbisan raja-raja Islam di Sumatera, Jawa, dan Banjarmasin oleh para ulama Islam terkenal dimaksudkan untuk memberikan makna dikukuhkannya mereka sebagai raja Islam. Naskah-naskah lama banyak memberikan contoh seperti itu. Dalam Hikayat Raja-raja Pasai tercatat bahwa karena Raja Pasai yang pertama kelak juga raja Islam yang pertama, maka dalam mimpinya ia bertemu dengan Nabi Muhammad yang mengutus seorang ulama bernama Syekh Ismail untuk menahbiskannya menjadi sultan atau raja Islam. Raja yang bernama Marah Silu tersebut kemudian diberi gelar Sultan Malik as Shaleh.
Raja Banjar yang pertama masuk Islam adalah Raden Samudra. Pada waktu naik tahta ia ditahbiskan oleh seorang ulama dari Demak bernama Khatib Dayan. Raden Samudra diberi gelar Pangeran Suryanullah (Ras, 1968). Raja Jawa yang pertama masuk Islam (Raden Patah) ditahbiskan oleh Sunan Ampel yang kemudian memberi gelar Senopati Ngabdurahman Sayyidin Panatagama (Olthaf, 1941). Dengan demikian peran ulama merupakan transformasi peran para pendeta Hindu–Budha dalam menahbiskan raja-raja Hindu-Budha pada masa sebelum Islam.
4. Penutup
Dari pengamatan atas data arkeologi dan sumber naskah tentang Islam dan sejarah Melayu dapat disimpulkan beberapa hal berikut,
Pertama, raja-raja Melayu berkeinginan untuk mengaitkan asal-usul mereka dengan Iskandar Zulkarnaen yang dianggap sebagai cikal bakal raja. Hal ini dimaksudkan sebagai legitimasi atas keislamannya. Hal itu dapat diketahui dari episode kisah Iskandar Zulkarnaen dan Nabi Khaidir yang dimasukkan dalam bagian pertama Sejarah Melayu. Legitimasi juga tercatat pada naskah lainnya, berupa penahbisan oleh para ulama, baik ulama dari Mekah maupun ulama lokal yang terkenal, misalnya para wali.
Kedua, ternyata nama-nama dan gelar raja yang bersifat Melayu Islam juga berkembang di daerah-daerah Melayu perantauan seperti di Banjar dan Ternate.
Ketiga, Islam kemudian menjadi bagian penting dalam tata kehdupan masyarakat Melayu, karena faktor budaya Melayu yang sangat menerima Islam sebagai bagian kehidupan masyarakat, baik di kalangan istana maupun non-istana.
Daftar Pustaka
Ambary, H. M. 1980. “Some Notes on the Discovery of the Archaeological Evidence at Ternate”. AIA, 10.
–––––––––. 1984. L‘Art Funeraire Musulman en Indonesia des, Origines aux XIX eme Siecle. Disertasi, Paris.
Chamamah-Suratno, S. 1978 “Khid proche, Die est Loin”. Archipel, 15.
Casparis, J. G. de. 1950. Prasasti Indonesia I dan II. Dinas Purbakala.
Iskandar, T. 1966. Bustanus Salatin, Nuruddin ar Raniri. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Lombard, D. 1971. “Le Sultanat d‘Aceh au temp d‘Iskandar Muda 1607–1636”. PEFEO, Tome LVIII, Paris.
Qithof, W. L. 1941. Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit saking Nabi Adam Dumugi ing Taoen 1647. ‘s-Gravenhage.
Ras, J. J. 1968. Hikayat Banjar. Bibliotheca Indonesianica, KITLV. The Hague: Martinus Nijhoff.
__________
Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, adalah Guru Besar pada Fakultas Adab, IAIN Syarif Hidaayatullah, Jakarta, Indonesia dan mantan Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Doktor lulusan Ecole des Hautes Etuder en Sciences Sociales ini meninggal dunia pada hari Kamis tanggal 18 Mei 2006.
__________
Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau, Indonesia, pada tanggal 17 – 21 Juli 1985. (Dengan penambahan link dari MelayuOnline.com)
Mengingat pentingnya makalah ini, Redaksi MelayuOnline.com memuat ulang dengan penyuntingan seperlunya.
Kumpulan makalah (prosiding) seminar ini telah dibukukan dengan judul “Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan”, dengan editor Prof. Dr. Heddy Shri Ahmisa-Putra, setelah dilakukan penyuntingan ulang pada klasifikasi dan urutan pada daftar isi, bahasa, maupun perubahan judul. Editor juga memberikan Wacana Pembuka dan Wacana Penutup serta Kata Pengantar pada setiap bagian. Diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Edisi Eksklusif (Hard Cover), 965 halaman.
Mulai hari ini dan seterusnya, seluruh makalah pada buku tersebut akan dimuat berdasarkan urutan bagian secara bergantian. Buku tersebut terdiri atas 36 (tiga puluh enam) makalah pilihan yang terbagi dalam 8 (delapan) bagian yakni, 1)Sejarah dan Keragaman Kesulatanan Melayu; 2) Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia; 3) Sastra Melayu dan Sastrawan Melayu; 4) Naskah Melayu dan Penelitiannya; 5) Seni Pertunjukan Melayu; 6) Kepribadian, Adat Istiadat dan Organisasi Sosial Melayu; 7) Teknologi Melayu; dan 8) Melayu dan Non-Melayu.