Senin, 31 Agustus 2026 |Tsulasa', 17 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 159
Hari ini
:
9.294
Kemarin
:
33.200
Minggu kemarin
:
32.235.407
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Artikel
19 desember 2007 02:05
Melaka, Kota Bersejarah yang Kaya Khazanah Budaya Melayu
Perjalanan Kru MelayuOnline.com ke Malaysia (3)
Dalam suasana hujan rintik-rintik, kru MelayuOnline.com melanjutkan perjalanan ke Melaka. Saat itu jam menunjukkan pukul 13.00 waktu Malaysia. Dari Negeri Sembilan, perjalanan menuju Melaka memakan waktu kira-kira dua jam. Hasrat untuk segera melihat kota Melaka menggoda sebagian kru MelayuOnline.com, karena menurut Pimpinan Umum, kota ini kaya akan warisan budaya dan sejarah Melayu.
Sekitar pukul 15.00 petang, mobil yang ditumpangi kru MelayuOnline.com memasuki wilayah Melaka. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Cina tampak berjejer di sepanjang jalan kota. Melihat bangunan-bangunan tua di kota ini serasa seperti berada di sebuah kota seratus tahun yang lalu. Bangunan-bangunan tua masih terpelihara dengan baik, meskipun di sana-sini terdapat bangunan modern, seperti mall, perkantoran dan hotel. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Melaka menunjukkan bahwa dahulu kota ini merupakan pusat kegiatan ekonomi dan budaya yang penting. Pada masa kejayaan kesultanan Melaka, pelabuhan Melaka terkenal mulai dari Timur Jauh hingga Timur Tengah.
Tempat pertama yang dikunjungi kru MelayuOnline.com adalah Musium Melaka. Musium ini tergolong besar dan menyimpan benda-benda sejarah dan budaya Melayu cukup lengkap. Arsitekturnya unik, hasil kombinasi antara arsitektur Melayu, Portugis, Arab dan Cina. Lantai dasar musium ini merupakan musium budaya. Di dalamnya tersimpan benda-benda atau peralatan kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu pada zaman dahulu, seperti senjata, perlengkapan perkawinan, perlengkapan upacara, alat-alat musik, alat-alat rumah tangga, pakaian sehari-hari, peralatan mata pencaharian, peralatan transportasi, miniatur rumah Melayu dan lain sebagainya.
Dari alat-alat musik yang tersimpan di musium ini tampak pengaruh seni musik Arab dan Portugis pada kesenian Melayu. Beberapa alat-alat musik Melayu memiliki persamaan bentuk dengan alat-alat musik dari kedua bangsa tersebut. Proses difusi kebudayaan asing melalui seni musik agaknya mudah diterima oleh masyarakat Melayu, karena seni merupakan ekspresi dari ide-ide estetika dan rasa keindahan manusia. Masyarakat yang memiliki perbedaan latar belakang sejarah dapat melebur menjadi satu untuk sama-sama menikmati keindahan seni yang bersifat universal.
Lantai dua bagian depan musium ini merupakan musium sejarah Melaka. Pada ruang utama terdapat foto Sultan-Sultan Melaka dari masa ke masa, dan beberapa benda peninggalan kesultanan, seperti mahkota. Ruangan yang lain dibagi sesuai periode kedatangan penjajah: periode Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. Di dalam setiap ruangan terdapat gambar-gambar sejarah kedatangan para penjajah ke tanah Melaka. Gambar-gambar perlawanan masyarakat Melaka di darat dan laut menghadapi penjajah yang datang secara periodik terpampang di setiap ruangan. Gambar-gambar itu mengisahkan kemapanan politik, ekonomi dan militer kesultanan Melaka pada zaman dahulu. Setiap musuh yang datang dihadapi dengan gagah berani. Tentu saja, bukti sejarah ini mematahkan mitos Melayu pemalas yang menurut Naguib Al Attas sengaja dihembuskan oleh pemerintah kolonial untuk melucuti kepribadian dan jati diri orang-orang Melayu.
Setelah kira-kira dua jam mencermati dan memotret peninggalan-peninggalan sejarah dan budaya Melayu di Musium Melaka, kru MelayuOnline.com melanjutkan perjalanan ke benteng Portugis yang mengelilingi bukit St. Paul atau bukit Monti Ali Maria. Lokasi benteng itu tidak jauh dari Musium Melaka. Sayang, setibanya kru MelayuOnline.com di lokasi, benteng Portugis sudah ditutup, karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.30 waktu setempat. Lokasi benteng ditutup pada jam 17.00, sehingga di luar jam itu siapapun tidak diberi kebenaran (ijin) memasuki lokasi benteng. Kru MelayuOnline.com hanya bisa melihat benteng tersebut dari luar pagar.
Secara historis, benteng itu dibangun oleh Portugis setelah mereka berhasil menguasai tanah Melaka pada tahun 1511. Pembangunan benteng melibatkan penduduk setempat secara paksa. Gambar-gambar di Musium Melaka menunjukkan bagaimana tentara Portugis dengan senjata lengkap mengawasi orang-orang Melayu setempat yang bekerja mengangkat dan menyusun batu-batuan di sekeliling bukit St. Paul. Benteng tersebut digunakan untuk melindungi kepentingan-kepentingan Portugis dari ancaman orang-orang Bumi Putera maupun pasukan asing.
Pada tahun 1641, penjajah Inggris berhasil mengalahkan Portugis dan merebut benteng tersebut. Ketika itu, bukit St. Paul dirubah namanya menjadi Bukit Bendera karena bendera Inggris dikibarkan di puncaknya.
Ada pertanyaan yang menggelitik di benak kru MelayuOnline. Mengapa penjajah merasa perlu membangun benteng setelah menaklukkan bumi Melaka? Logika kolonialis tentu berbeda dengan logika masyarakat Bumi Putera. Keamanan dalam perspektif kolonialisme adalah keamanan geografis atau keamanan fisik. Tindakan eksploitatif para penjajah terhadap penduduk setempat dan kekayaan buminya, menyebabkan merekaselalu merasa terancam. Secara psikologis, hidup para penjajah tidak tenang, sehingga membangun benteng-benteng raksasa untuk melindungi diri dan kepentingannya materialistisnya.
Tentu saja kondisi tersebut berbeda dengan kehidupan para Sultan Melayu yang secara fisik dan psikologis sangat dekat dengan rakyatnya. Tidak ada pihak yang dieksploitasi atau mengeksploitsai, sehingga kehidupan berjalan damai dan normal. Rasa aman antara Sultan dan rakyatnya dibangun di atas persamaan dan penghargaan terhadap sejarah dan budaya.
Beberapa saat setelah mencermati dan memotret bekas keangkuhan benteng Portugis itu, Kru MelayuOnline.com bertolak menuju makam Hang Tuah. Para kru sampai di tempat tujuan pada pukul 19.20 waktu Malaysia. Dalam suasana gelap gulita, Kru MelayuOnline.com memasuki area pemakaman Hang Tuah. Makam Hang Tuah tergolong unik, karena panjangnya kira-kira 15 m, dan lebarnya 1, 5 m. Tentu ukuran ini jauh lebih panjang dan lebar dibandingkan kuburan lainnya. Setelah beberapa menit membaca doa untuk arwah Hang Tuah, kru MelayuOnline.com, dengan bantuan cahaya ponsel, membaca papan-papan keterangan di sekeliling makam Hang Tuah yang mengisahkan riwayat hidup sang tokoh.
Sikap kesatria dan keberanian Hang Tuah dalam menumpas kejahatan, perjuangan menegakkan kebenaran, dan kesetiannya kepada Sultan digambarkan cukup rinci. Kehidupan sehari hari Hang Tuah bersama istri dan anak-anaknya juga dikisahkan dalam papan-papan itu. Semua keterangan agaknya ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada para peziarah supaya menumbuhkan sikap berani membela kebenaran. Dapat dikatakan bahwa gambaran tentang Hang Tuah terlalu berlebih-lebihan. Namun pelukisan semacam itu menjadi positif manakala bertujuan mendidik pribadi masyarakat Melayu menjadi lebih baik, mandiri dan bermartabat.
Tanpa mengenal lelah, kru MelayuOnline.com melanjutkan perjalanan ke Perigi, yaitu sebuah sumur tua yang konon milik Hang Tuah. Kru MelayuOnline.com sampai di lokasi itu kira-kira pukul 21.00 waktu Malaysia. Masyarakat sekitar percaya bahwa siapapun membasuh mukanya dengan air sumur itu akan awet muda. Terlihat Pimpinan Umum MelayuOnline.com juga mencuci muka di perigi tersebut. Kami mengira beliau juga ingin awet muda, tapi ternyata sedang mengambil air sembahyang (berwudhu) karena belum salat Isya.
Di sekitar Perigi terdapat pula papan-papan keterangan riwayat hidup Hang Tuah. Riwayat hidup waktu kecil saat berlatih pencak silat dan belajar mengaji, hingga ia dewasa dan dipercaya oleh Sultan sebagai Laksamana.
Tradisi pencak silat di sekitar Perigi masih dipelihara oleh masyarakat Melayu setempat. Di depan sebuah rumah Melayu yang berarsitektur seni bina tradisional Melayu yang indah, puluhan anak muda berlatih pencak silat dengan diiringi musik tradisional Melayu, seperti kendang dan kompang.
Setelah beberapa saat melihat-lihat dan memotret rumah tradisional Melayu itu, kru MelayuOnline.com menyempatkan untuk singgah di masjid bersejarah di Melaka Tengah untuk melaksanakan sholatIsya’. Masjid Kampung Duyong ini dibangun pada abad 18 Masehi dengan bahan utama kayu-kayu pilihan dari hutan setempat. Arsitektur Melayu nan indah pada masjid ini masih terpelihara meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi dengan menggunakan bahan-bahan modern. Suasana yang senyap (karena memang tengah malam pukul 00.40 waktu setempat) membuat sholat kami menjadi demikian kusyuk dan syahdu. Terbayang kejayaan Kesultanan Malaka beberapa abad yang lalu. Di dalam hati, kami berjanji pada diri sendiri untuk berbuat lebih banyak lagi untuk menjulang kejayaan tamadun Melayu ke depan.
Malam itu, kru MelayuOnline.com melanjutkan perjalanan ke Johor, perbatasan Malaysia dengan Singapura. Bersambung
Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu