Close
 
Sabtu, 8 Agustus 2026   |   Ahad, 23 Shafar 1448 H
Pengunjung Online : 1.525
Hari ini : 23.777
Kemarin : 37.661
Minggu kemarin : 258.729
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

21 desember 2007 11:12

Menangkap Atmosfir Melayu di Singapura

Perjalanan Kru MelayuOnline.com ke Malaysia (4, Habis)
Menangkap Atmosfir Melayu di Singapura

Pukul 02.30 dini hari waktu Singapura, kru MelayuOnline.com memasuki perbatasan Singapura-Malaysia. Barang-barang bawaan, termasuk kardus berisi buku yang cukup berat, diturunkan dari mobil. Diperkirakan, barang-barang yang telah tersusun rapi dalam kemasan akan dibongkar oleh petugas imigrasi Singapura guna pemeriksaan. Dengan nada bercanda, salah satu kru mengatakan, “nampaknya pemeriksaan barang-barang kita akan memakan waktu lama, mengingat salah satu nama kru MelayuOnline.com mirip dengan nama teroris ternama di Indonesia”. Kontan saja kalimat itu membuat gelak tawa.

Pagi itu suasana sangat sepi. Yang nampak hanya empat orang petugas imigrasi dan dua orang petugas keamanan membawa senapan. Setelah kru MelayuOnline.com mendapatkan stempel ijin masuk ke Singapura, proses pemeriksaan barang-barang tidak sesulit yang diperkirakan. Dua petugas imigrasi yang keturunan India tampaknya asyik bercengkrama. Mereka tidak meminta para kru membuka barang-barang bawaan, bertanya apa isinya pun tidak. Agaknya dengan melihat tampang para kru MelayuOnline.com, mereka percaya bahwa kami adalah orang baik-baik. Tapi, salah satu dari kru mengaku telah membaca doa-doa (“sumum bu‘mum”) untuk menghilangkan hasrat dan semangat bertanya para petugas itu.

Selama perjalanan menuju ke hotel di jantung kota Singapura, hampir tidak didapati papan-papan iklan maupun petunjuk jalan yang berbahasa Melayu, semuanya berbahasa Inggris dan Cina. “Mungkin karena kita baru di pinggiran kota. Di pusat kota mungkin akan ada banyak papan iklan atau petunjuk jalan berbahasa Melayu,” kata salah satu kru. Apa yang diperkirakan agaknya kurang tepat. Setelah memasuki pusat kota Singapura, tulisan-tulisan berbahasa Melayu belum juga tampak terpampang di mana-mana, baik di pertokoan, hotel-hotel, atau papan-papan iklan. Mungkin banyak hal yang belum terlihat, karena kru MelayuOnline.com berada di negara itu hanya satu hari. Tetapi sependek penglihatan kami, setidaknya patut dipertanyakan, ada apa dengan Bahasa Melayu di Singapura? Bukankah jumlah orang Melayu di negara ini cukup signifikan, 15%.

singapuraPada pukul 10.00 waktu Singapura, kru MelayuOnline.com berkunjung ke Malay Heritage Center (Taman Warisan Melayu) yang terletak di Kampong Gelam. Malay Heritage Center diresmikan pada tanggal 27 November 2004 oleh PM. Lie Hsien Loong dengan tujuan memelihara warisan budaya dan sejarah Melayu di Singapura.

Secara historis, Kampong Gelam dirancang oleh Sir Stamford Raffles sebagai pusat aktivitas orang-orang Melayu, dan imigran Arab dan India di Singapura. Pada abad 19, Kampong Gelam menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pembelajaran ilmu agama Islam masyarakat Melayu. Seiring dengan perkembangan negara Singapura sebagai negara modern, Kampong Gelam menjelma menjadi perkampungan modern, namun tradisi Melayunya tetap dijaga oleh masyarakat Melayu setempat. Rumah-rumah makan Minang tampak berjejer di sekitar Malay Heritage Center. Beberapa bangunan di kawasan ini masih mempertahankan arsitektur Melayu, dan masyarakatnya berbicara Bahasa Melayu dalam komunikasi sehari hari.

singapuraBangunan Malay Heritage Center, dahulu merupakan Istana Kampong Gelam yang dihadiahkan pemerintah kolonial Inggris kepada Sultan Hussein dan keturunannya pada tahun 1897. Di dalamnya terdapat sembilan ruangan (di lantai satu dan dua) yang digunakan untuk menyimpan benda-benda warisan sejarah dan budaya Melayu Singapura. Di samping memelihara benda-benda peninggalan Melayu, Malay Heritage Center juga aktif mengadakan kegiatan kemelayuan, baik yang bersifat keilmuan seperti seminar, maupun seni pertunjukan seperti tari, teater/sandiwara, dan musik Melayu.

Beberapa warisan Melayu seperti naskah-naskah kuno, benda-benda peninggalan kerajaan, Al-Qur‘an tulisan tangan, senjata, peralatan kehidupan sehari hari, gambar-gambar kehidupan masa lampau masyarakat Melayu, tersimpan rapi dalam Malay Heritage Center. Di sini kru MelayuOnline.com sempat mengambil beberapa gambar untuk menambah koleksi foto-foto warisan Melayu Singapura.

singapura
singapura
singapurasingapura

singapuraBeruntung, kedatangan kru MelayuOnline.com diketahui pengurus Malay Heritage Center, Khalid Shukur Bakri, yang dengan hangat dan ramah menyambut para kru. Beberapa saat setelah melihat koleksi Malay Heritage Center, Khalid mengajak Kru MelayuOnline.com ke ruang rapat untuk saling berkenalan dan menjajaki kerjasama antara Malay Heritage Center dan MelayuOnline.com. Apresiasi Malay Heritage Center terhadap MelayuOnline.com cukup tinggi. Hal itu disampaikan langsung oleh Khalid setelah memahami salah satu misi MelayuOnline.com, yaitu mencerahkan dan menyatukan puak-puak Melayu di seluruh dunia.

Dalam pembicaraan yang berlangsung kira-kira satu jam itu, Khalid menyatakan siap bekerjasama dengan MelayuOnline.com dalam sharing data. Pada kesempatan tersebut Khalid menghadiahkan beberapa buku koleksi Malay Heritage Center tentang Melayu Singapura kepada MelayuOnline.com. Khalid juga mengatakan akan menyiapkan data-data lain tentang sejarah dan budaya Melayu di Singapura, dan segera mengirimkannya kepada redaksi MelayuOnline.com. Kerjasama semacam ini diharapkan oleh kedua belah pihak sebagai langkah awal dalam membangun kegemilangan tamadun Melayu di masa depan secara bersama-sama.

singapuraSambutan hangat dan apresiasi pihak Malay Heritage Center, lagi-lagi membuka pintu MelayuOnline.com untuk dapat berkembang menjadi lebih baik. Kepada kru MelayuOnline.com, Khalid menawarkan untuk menemui tokoh-tokoh Melayu Singapura, sehingga terjadi komunikasi langsung antara kru MelayuOnline.com dengan para tokoh Melayu di negara itu. Namun karena waktu yang tidak mumungkinkan, maka rencana tersebut diagendakan pada kunjungan berikutnya. Selama kunjungan di dua negara, Malaysia dan Singapura, kru MelayuOnline.com mendapat apresiasi dan dukungan dari berbagai kalangan. Kegiatan kebudayaan yang dibangun MelayuOnline.com menjadi salah satu jalan untuk menyatukan kembali puak-puak Melayu di seluruh dunia. Mungkin bagi sebagian kalangan, ini adalah mimpi, namun jika melihat kenyataan bahwa persatuan atas dasar budaya melintasi batas-batas politik, geografi, bahasa dan ras bahkan agama, maka persatuan itu tidak mustahil dapat terwujud.

singapura

Hari semakin sore. Kru MelayuOnline.com kemudian mohon diri kepada seluruh staf Malay Heritage Center untuk berkunjung ke Masjid Sultan yang terletak di Bussaroh Street, kira-kira 500 m di sebelah selatan Malay Heritage Center. Masjid ini dibangun pada tahun 1928. Arsitekturnya Indah, seperti arsitektur masjid-masjid di Timur Tengah.

singapura

Di atas atap masjid terdapat tiga kubah, kubah paling besar terletak di antara dua kubah yang lebih kecil. Semua kubah berwarna kuning keemasan. Masjid ini dapat menampung sekitar 5.000 jama‘ah. Arsitektur bagian dalamnya tidak jauh berbeda dengan masjid-masjid besar di Mesir atau Arab Saudi. Tulisan kaligrafi dengan warna-warna mencolok mendominasi dinding-dinding masjid. Secara keseluruhan, bangunan Masjid Sultan begitu mengesankan. Bagi orang Melayu, rasanya tidaklah lengkap jika berkunjung ke Singapura tanpa singgah di masjid yang molek ini.

singapura

Sayangnya, kru MelayuOnline.com tidak bisa berlama-lama di masjid ini. Setelah melaksanakan sholat ‘Ashar, para kru bertolak ke pasar Bugis. Dalam suasana hujan rintik-rintik, empat kru MelayuOnline.com menelusuri tiap gang di pasar itu, mencari cindera hati untuk kawan-kawan redaktur yang selalu semangat berkreasi untuk mengembangkan dan memajukan MelayuOnline.com. Malam itu, Senin (10/12/2007), kru MelayuOnline.com meninggalkan Singapura menuju ke Indonesia.

singapura

Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
Dibaca : 6.445 kali.

Tuliskan komentar Anda !