Close
 
Senin, 31 Agustus 2026   |   Tsulasa', 17 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 1.560
Hari ini : 21.071
Kemarin : 33.200
Minggu kemarin : 32.235.407
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

11 maret 2008 02:06

Kepak Sayap Si Burung Merak

Blues untuk Rendra
Kepak Sayap Si Burung Merak

Oleh: Prof. Dr. Irwan Abdullah

… perlawanan terhadap kesewenang-wenangan merupakan salah satu ‘jalan hidup sehat‘ saya. Tanpa itu saya mungkin sudah loyo, keropos, dan tak punya arti apa-apa (Rendra, 2005).

Sebuah Kesaksian

Waktu saya kecil, W.S. Rendra (Burung Merak) adalah semangat yang mengalir dalam pembuluh darah saya yang kemudian saya ekspresikan pada Majalah Dinding sekolah di Aceh dengan menuliskan biografi lengkap Rendra. Saya pun menempelkan sajak-sajaknya di dinding sekolah. Waktu kemudian saya pindah ke Yogyakarta di tahun 1981, Rendra adalah tetangga sekolah saya (SMA Muhi) di Patangpuluhan –yang Bengkel Teaternya telah membentuk ritme dinamis masa muda kami anak-anak sekolah dan Sajak-sajak Pamplet itu telah membakar semangat saya dan teman-teman SMA, hingga suatu hari di tahun 1982 kami memakai kaos bertuliskan DICARI! GOLONGAN PUTIH sebagai ekspresi penolakan terhadap pemerintah dan pemilu pada saat itu. Rendra pasti tidak tahu, bahwa sajak-sajak kritik/protes sosial telah meracuni kami yang sedang mencari jati diri. Di hari perpisahan sekolah kami beramai-ramai membaca sajak yang kami buat sendiri, sajak amatiran, yang mengecam pemerintah (entah untuk alasan apa, tidak tahu. Tapi pastilah ada yang menghasut kesadaran kami yang masih anak SMA saat itu).

Sekali lagi, lebih dari sepuluh tahun kemudian, si Burung Merak, terus mengepakkan sayap hingga ke Negeri Belanda (bahkan pernah tinggal beberapa saat di Leiden pada tahun 1999). Saya terkesima di situ di tengah kerumunan orang yang histeris. Di tengah dinginnya Eropa, Rendra telah membakar jiwa dan membangkitkan kesadaran kritis.

………
Kenapa harus diam tertekan dan termangu
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar
Duduk berdebat menyatakan setuju
Atau tidak setuju
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan
Ketegangan telah mengganti
Pergaulan pikiran yang merdeka

Matahari menyinari air mata yang berderai menjadi api
Rembulan memberi mimpi pada dendam
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
Yang teronggok bagai sampah
Kegamangan
Kecurigaan
Ketakutan
Kelesuan

Aku tulis pamplet ini
Karena kawan dan lawan adalah saudara
………

(Rendra, Aku Tulis Pamplet ini, Jakarta, 27 April 1978).

Perspektif yang diambil Rendra di dalam sajak maupun naskah drama memperlihatkan konsistensi, sebuah perjuangan kelas yang memang menjadi masalah sentral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keberpihakannya terhadap orang kecil yang ditinggalkan oleh serangkaian proses pembangunan di negeri ini telah menjadi tema sentral dari petualangan hidup. Dia pun rela dipenjara atas perjuangannya itu pada tahun 1978 (April-Oktober).

Yang pasti bahwa Rendra telah mempengaruhi semangat dan memberi inspirasi banyak orang, untuk melakukan suatu proses kreatif sebagai bagian dari perbaikan nasib bangsa dan menuju suatu masyarakat yang lebih bermartabat.

Rendra sebagai Change Maker

Saya, teman-teman saya, atau publik yang membaca sajak Rendra atau yang sempat mendengar Rendra membaca sajak, pasti dapat merasakan aura dari bait-bait sajak Rendra yang mampu menghadirkan realitas begitu dekat, yang membutuhkan keprihatinan kolektif. Lihatlah bait-bait Sajak Burung-burung Merak Kondor (1973) atau Orang-orang Miskin (1978) yang tidak hanya bercerita tentang nasib rakyat yang terpuruk oleh kemelaratan dan penindasan, tetapi menggugah kesadaran tentang betapa perlunya keterlibatan kita dalam keseharian negeri ini, negeri yang penuh dengan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan krisis dalam berbagai sektor yang diakibatkan oleh kegagalan kita membangun suatu fondasi kebudayaan yang kokoh.

Rendra memang telah menghasut kita untuk peduli dan kritis tentang nasib bangsa, sesuatu yang secara konsisten ia suarakan. Dalam Orang-orang Miskin (1978), ia mengatakan:

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

………
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah:
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim.

Keprihatinan Rendra merambah ke dalam spektrum yang begitu luas yang mencakup masalah emansipasi kemanusiaan, reformasi, dan demokrasi di negeri ini. Kecenderungan emansipasi tampak dari karya-karya yang mengambil tema kepedulian kondisi kemanusiaan yang tampak dari karya-karya seperti Mempertimbangkan Tradisi (1983); Memberi Makna pada Hidup yang Fana (1999); Deklarasi Agustus: Orasi Kebudayaan (1999); Rakyat Belum Merdeka: Orasi Budaya (2000); Megatruh: Orasi Kebudayaan (2001) (Lampung Post, November, 18 2007). Dalam Megatruh, misalnya, ia berkeluh kesah tentang kedaulatan manusia yang ditindas dan tidak pernah selesai. Sejak dahulu, Rendra menilai kekuasaan tidak pernah berpihak kepada kepentingan rakyat dalam memberikan kedaulatan yang sesuai dengan kemanusiaan.

Dalam konteks ini, Rendra kemudian berbicara banyak tentang “reformasi” yang bagi Rendra tidak lain merupakan kesejahteraan. Sejahtera artinya kepastian hidup seorang manusia, yakni sebuah kepastian bahwa ia mempunyai kebebasan berusaha untuk memperbaiki mutu hidupnya. Secara operasional kepastian hidup hanya bisa didapatkan apabila setiap orang dilindungi oleh  kepastian hukum yang bersifat horisontal dan vertikal (Gatra, 30 Mei 1998). Oleh karena itu, para politisi dan elit sudah saatnya menyadari bahwa keinginan-keinginan politis bisa dicapai dengan membangkitkan solidaritas dari kesadaran pribadi-pribadi yang berdaulat. Sejalan dengan ini, Rendra mengatakan bahwa kita memang sudah merdeka, namun banyak sekali kekurangan karena konstitusi dan hukum positif di negeri ini belum bisa melindungi Pancasila. Dalam pelanggaran HAM tampak bahwa penyelesaiannya masih mengambang dan tidak jelas, apalagi tuntas. Hal itu jelas-jelas melanggar rasa keadilan rakyat kecil (Maulana, 2007).

Sejalan dengan itu, pemerataan partisipasi di dalam tata negara, tata hukum, dan tata pembangunan menjadi persyaratan penting. Emansipasi individu sangat utama karena tidak mungkin ada emansipasi kebudayaan tanpa emansipasi individu. Pegangan filosofis Rendra tentang hal ini: manjing hing kahanan, nggayuh karsaning hyang widhi, yang memperlihatkan keselarasan manusia sebagai individu dengan sang Pencipta. Puncak kemampuan emansipasi individu adalah bahwa: ananingsun marganira, ananira marganingsun, keberadaan seseorang sangat ditentukan oleh keberadaan yang lain. Itulah yang ingin dibagi oleh Rendra: sebuah derita sosial politik dan ekonomi harus menjadi bagian dari derita bersama yang, dengan demikian, harus diperjuangkan bersama (Rendra, 2006).

Keprihatinan Rendra atas tragedi umat manusia, dengan segala persoalan kemiskinan, penindasan, tampak pula dalam pandangannya tentang pasar bebas yang perlu dikritisi. Ia selalu bersikap kritis terhadap pasar, meskipun kebudayaan pasar sangat penting dalam peradaban. Pasar adalah salah satu pusat pergaulan peradaban yang beraneka warna, pusat interaksi nilai-nilai, pusat informasi berbagai cara berproduksi dan juga pusat informasi dan interaksi ilmu pengetahuan. Namun demikian, Rendra menilai bahwa mekanisme pasar tidak punya pikiran dan hati nurani (Rendra, 2006). Kontrol atas pasar bebas, katanya, dalam penegakan emansipasi individu yang peduli akan kesetaraan hak hukum, hak sosial, hak politik antarsesama manusia, harus diikuti kesadaran bahwa kekuasaan modal, distribusi, dan energi harus dikontrol, tidak boleh dimonopoli oleh satu atau dua pihak dengan kebebasan yang romantis dan cengeng. Hal itu dianggap akan mengganggu kemaslahatan orang banyak (Rendra, 2006). Dalam konteks semacam ini, peran pemerintah sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam memproteksi kekuatan-kekuatan publik untuk pertahanan diri agar kedaulatan rakyat tidak dihancurkan oleh ekspansi pasar.

Kesaksian Sejarah Peradaban

Rendra telah mengarungi tiga masa pemerintahan yang penting, Orde Lama (Soekarno), Orde Baru (Soeharto), dan Orde Reformasi hingga sekarang ini dalam usianya 73 tahun. Dalam usianya itu, ia tidak pernah tua karena gairah pembangkangannya tidak pernah berhenti walaupun, mungkin karena usia, Rendra menjadi lebih santun dan religius. Dalam sebuah wawancara, Rendra mengatakan “…perlawanan terhadap kesewenang-wenangan merupakan salah satu ‘jalan hidup sehat‘ saya. Tanpa itu saya mungkin sudah loyo, keropos, dan tak punya arti apa-apa” (Suara Merdeka, 27 November 2005). Pada masa Soekarno dia menulis puisi Ballada Orang-orang Tercinta (1957) dan naskah drama Dataran Lembah Naga (1952) dan Orang di Tikungan Jalan (1954); pada masa Soeharto terbit Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Orang-orang Rangkas Bitung (1993), Disebabkan oleh Angin (1993), dan drama seperti Mastodon dan Burung Kondor (1972), Kisah Perjuangan Suku Naga (1975), Panembahan Reso (1986), dan Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia (1998); sedangkan pada Orde Reformasi Rendra menulis Orasi Kebudayaan seperti Rakyat Belum Merdeka (2000) dan Megatruh (2001).

Dari karya-karyanya itu, tampak perkembangan pemikiran Rendra. Pada dekade tahun 1967-1980, pemikiran Rendra (puisi, naskah drama, naskah teater, dan cerita pendek) didasarkan pada tradisi Marxisme (dialektika-materialisme-historis), penuh dengan analisis klas dan satir terhadap pembangunan. Pemikirannya mengkritisi isu-isu: kesadaran semu; teknologi yang mengasingkan; ketimpangan distribusi dalam surplus ekonomi negara; kapitalisme modern; kritik terhadap borjuis internasional; otoritarianisme. Dalam Sajak Burung-burung Kondor, misalnya, Rendra mengatakan:

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi Burung Kondor.

Sajak lain, seperti Orang-orang Rangkasbitung dapat ditafsirkan sebagai pemberontakan masyarakat di pedesaan Jawa terhadap sistem kolonial dan pertarungan/perjuangan klas, suatu fakta sosial kehidupan masyarakat yang tak pernah selesai.

Pada pertengahan tahun 1980, Rendra menawarkan “tradisi” sebagai kekayaan solutif dalam memecahkan persoalan bangsa. Buku kumpulan esainya Mempetimbangkan Tradisi (1983) berbicara tentang pentingnya folklor sebagai ajaran moral bangsa; tembang-tembang tradisional sebagai ekspresi keindahan. Tahun 1990 Rendra bergabung dengan Kantata Taqwa. Awal tahun 1991 ketika ia menunaikna ibadah haji, dan membentuk Yayasan Hira, bersama Setiawan Djodi, KH. Zainuddin MZ., dan Rhoma Irama, yang kemudian memunculkan persepsi tentang bangkitnya religiusitas Rendra. Belakangan ini pun (2001-2008) Rendra mulai banyak membicarakan dekadensi spiritualitas masyarakat, khususnya melihat masyarakat yang berkonflik karena agama seperti di Ambon dan Poso.

Rendra mengalami perkembangan pemikiran, penghalusan sikap, dan kematangan di dalam berkreasi. Selain ia telah melewati musim yang berganti tentang kehidupan umat manusia Indonesia, ia telah pula belajar bahwa perjuangan itu tidak boleh berhenti karena di luar sana orang miskin dan kemelaratan tidak pernah berkurang:

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian

(Rendra, Potret Pembangunan dalam Puisi, 1978)

Pemikiran Transformatif Rendra

Pikiran Rendra memperlihatkan kekuatan transformasional dalam berbagai bentuk yang telah mengilhami dan bahkan mendobrak sistem yang kaku untuk mencapai suatu tingkat peradaban. Menurut Azly Rahman (2005), ada tiga landasan penting pikiran transformatif yang mempengaruhi proses kreatif dan sikap kritis Rendra. Pertama, pemikiran Rendra dipengaruhi oleh sosiolog Andre Gunder Frank yang mengembangkan “dependency theory” sebagai basis ideologi. Perkembangan kapitalisme intenasional, menurut Frank, menyebabkan ketergantungan negara-negara berkembang terhadap negara maju. Rendra juga melakukan kritik terhadap perkembangan kepitalisme di negara dunia ketiga. Sejalan dengan itu, Rendra telah melakukan proses kreatif dengan menghasilkan puisi, naskah drama, dan cerita pendek yang menyerang sistem administrasi dalam birokrasi yang korup; sistem pembangunan ekonomi; dan disparitas sosial politik.

Kedua, Rendra juga dipengaruhi oleh tradisi Humanisme Jean Paul Sartre yang memandang bahwa karya sastra tidak boleh lepas dari epos mengenai manusia dan masyarakat. Sebagai sastrawan, budayawan, dan seniman (intelektual), menjadi “komunikator” dalam masyarakat yang mengalami “miskomunikasi” dengan pihak penguasa. Rendra menjalankan prinsip Sartre, yakni menjadi “komunikator” pada dua dunia yang berkontradiksi, yakni dunia universalis (realitas masyarakat yang terjadi) dengan dunia partikularis (ideologi kekuasaan). Hal ini tampaknya yang mendorong komitmen Rendra untuk konsisten dalam membela dan memperjuangkan nasib kaum tertindas.

Ketiga, perkembangan pemikiran Rendra juga dipengaruhi oleh pemikiran Mazhab Frankfurt, yang cenderung menggunakan pendekatan “ideologi kritis” dengan melakukan kritik terhadap perkembangan ideologi kapitalisme yang tidak menyadarkan masyarakat klas bawah sebagai struktur yang tertindas; mengkritisi logika positivisme yang memandang sebab akibat dunia pada determinisme ekonomi (basicstructure), dan mereduksi pendekatan sosial-kebudayaan (superstructure); mengkritisi kognisi dan moralitas masyarakat industrialis yang delusif, distorsif (false consciousness) dan mudah termanipulasi oleh ideologi kekuasaan negara, perkembangan modal, dan perkembangan teknologi.

Kecenderungan kritik sosial Rendra juga dapat dipahami dengan melihat Orasi Kebudayaan yang disampaikan Rendra di beberapa kesempatan. Rendra memandang penting adanya otonomisasi kebudayaan dengan tetap mempertahankan tradisi “ketimuran”. Seni bukan semata seni untuk keindahan, melainkan seni untuk perjuangan klas. Oleh karena itu, menurutnya, seni berangkat dari penglihatan terhadap kontradiksi dalam masyarakat. Rendra menganjurkan agar manusia ikut aktif dalam pembangunan dan bukan menjadi subjek yang pasif.

Penutup Menuju Kepastian Hidup

Hujan lebat turun di hulu subuh/ disertai angin gemuruh/ yang menerbangkan mimpi/ yang lalu tersangkut di ranting pohon// Aku terjaga dan termangu/ menatap rak buku-buku/ mendengar hujan menghajar dinding/ rumah kayuku/ Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi/ dan lalu terbanglah wajahmu,/ wahai, perempuan yang tergusur!// Tanpa pilihan/ ibumu mati karena kamu bayi/ dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu/ Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa./ Umur enam belas kamu dibawa ke kota/ oleh sopir taxi yang mengawinimu./ Karena suka berjudi/ ia menambah penghasilan sebagai germo./ Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya./ Bila kamu ragu dan murung,/ -lalu kurang setoran kamu berikan,/ ia memukul kamu babak belur./ Tapi kemudian ia mati ditembak Tentara/ ketika ikut demonstrasi politik/ sebagai demonstran bayaran.// Sebagai janda pelacur/ kamu tinggal di gubuk di tepi kali/ di batas kota./ Gubernur dan para anggota DPRD/ menggolongkan kamu sebagai tikus got/ yang mengganggu peradaban…

(Rendra, 2003)

Sajak di atas bukan sekadar memperlihatkan sebuah kompleksitas persoalan bangsa yang harus kita eja setiap waktu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Rendra sampai ke sana: kepada sebuah perenungan dalam tentang tragedi kemanusiaan. Apakah ini kelanjutan Blues untuk Bonnie (1971) sebagai bagian dari kesadaran baru tentang dehumanisasi dan diskriminasi di negara maju segera setelah Rendra kembali dari Amerika (1968), atau ini adalah sebuah spiritualitas yang mengalir secara konsisten dalam darah Rendra yang melihat persoalan inti dari kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara adalah hujan yang menghajar dinding rumah kayu, perempuan yang tergusur, ibu yang mati, tak tahu siapa ayahmu, miskin di desa, suka berjudi, menjadi pelacur, memukul kamu babak belur, mati ditembak tentara, jadi janda, tinggal di gubug di tepi kali, sebagai tikus got, dan lain sebagainya….

Rendra telah melakukan observasi dalam hidupnya tiga jaman, melihat sebuah kontinuitas sejarah, krisis kehidupan, kealpaan, ketidakpedulian, dan kemandegan peradaban. Pikiran Rendra telah menembus waktu dan jaman karena peringatan moral yang disampaikannya sejak tahun 1960-an, masih tetap relevan dan bahkan menunjukkan ketajaman prediksi. Dalam salah satu catatan yang ia buat pada tahun 1960-an, misalnya, Rendra telah mengatakan bahwa pembangunan itu harus dimulai dari desa. Sekarang kota-kota kita, katanya, dikelola dengan cara desa, termasuk Jakarta. Dalam catatan yang sama Rendra telah mengingatkan tentang kedaulatan air dan tanah yang sekarang menghantui kita (lihat Santosa, 2005: 109).

Rendra, si Burung Merak, adalah masa depan, bukan masa lalu karena pikirannya berjalan ke depan membawa kita kepada sebuah kepastian, sesuatu yang harus dicapai dengan peradaban. Dan semua itu tampaknya, harus diperjuangkan! Kalau tidak, mari kita menunggu banjir berikutnya dan membawa kita hanyut dalam kemelaratan dan titik nol kedaulatan kita sebagai bangsa.

Kepustakaan

Doni, Ahmad Fauji. 2007. “Laku Ahimsa si Burung Merak”, dalam Oase Budaya, Jurnal Nasional. Minggu, 04 November.

Fawaid, Ahmad. 2003. “Bingkai: Rendra dan Emansipasi Kemanusiaan” (Refleksi Ulang Tahun W.S. Rendra yang ke-72). Lampung Post, 18, November.

Frank, Paul. 2003. “State Terrorism and the Indonesian Press: The 1998 Reform Movement” dalam ejournalis.com.au. Issue 03/02. Central Queensland University.

Hadi, Kurniawan dan A. Junaidi. 2008. “W.S. Rendra, 70 and still Going Strong”, The Jakarta Post, March, 02.

Haryono, Edi (ed.). 2005. Membaca Kepenyairan Rendra. Yogyakarta: Kepel Press.

Jones, Sidney. 1991. “Indonesia‘s Salman Rushdie”. News from Asia Watch. April, 10.

Maulana, Soni Farid. 2007. “Kreativitas dan Kesadaran Rakyat Harus Dibangkitkan”, 16 Agustus, http://mymok.multiply.com.

-----------2007. “Rendra, Teratai Mekar di Alam”, http://mymok.multiply.com, 19 Agustus.

Moehammad, Gunawan. 2007. “Sepatu Tua” dalam Catatan Pinggir, Tempo, Edisi, 36/XXXVI/29/Oktober-November.

Piper, Suzan. 2007. “Rendra Speaks, Australia: An Alternative West in Asia?”, Inside Indonesia, November.

Rahman, Azly. 2005. “W.S. Rendra‘s Struggle of the Naga Tribe, Interlude with Marxism: Re-Reading W.S. Rendra‘s Perjuangan Suku Naga”, The Papers of Azly Rahman, www.malaysiakini.com, December, 02.

Rendra, W.S. 2006. “Pidato W.S. Rendra pada Bakrie Award”, Hotel Nikko, Jakarta: 14 Agustus.

----------2007. “Megat-Ruh” (Memutus Ruh), Indonesia Kita, 4 Maret, 2007.

Santosa, Dwi Klik. (ed.). 2005. Catatan-catatan Rendra Tahun 1960-an. Jakarta: Burung Merak Press.

Tiwikromo, Triyanto. 2005. “Gairah Perlawanan”,  Suara Merdeka. Minggu. 27 November.

__________________

Naskah ini disampaikan dalam Dialog Budaya dengan tema “Sumbangan Pemikiran WS. Rendra Bagi Kemanusiaan dan Kebudayaan Kontemporer”, dalam rangka Dies Natalis ke-62 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada tanggal 1 Maret 2008.

__________________

Irwan Abdullah, adalah Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Dosen Tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. (iabdullah@ugm.ac.id)


Dibaca : 4.876 kali.

Tuliskan komentar Anda !