Close
 
Kamis, 17 April 2014   |   Jum'ah, 16 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 1.005
Hari ini : 1.944
Kemarin : 28.564
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.601.090
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

05 mei 2008 09:15

Keberadaan Aksara Arab dalam Sastra Melayu

Keberadaan Aksara Arab dalam Sastra Melayu

Oleh: Dra. Fauziah, M. A.        

Pendahuluan

Secara umum, dapat dikatakan bahwa zaman peralihan yang dimaksudkan di sini adalah zaman peralihan di mana kebudayaan Hindu masih tetap meninggalkan pengaruhnya dan berangsur-ansur melemah. Sementara itu, pengaruh Islam mulai terlihat dalam kesusastraan Melayu.

Pengaruh Hindu di alam Melayu telah ada sejak abad I sesudah Masehi, tidak hilang begitu saja dengan kedatangan Islam pada kurun abad ke-13 M. Pengaruh Hindu yang telah berkembang tersebut, sulit kiranya untuk dihilangkan perannya dari peradaban dan kesusastraan Melayu. Abad XV dianggap sebagai abad penutup pengaruh Hindu di kepulauan Melayu.

Para ahli sejarah sependapat bahwa hubungan orang-orang India dengan alam Melayu telah terjalin sejak lebih kurang 1.000 tahun yang lalu melalui hubungan dagang. Brian Harrison (Dorodji, 1983 : 72) mengatakan,

“Orang-orang Hindu telah datang ke Tanah Melayu pada permulaan abad Masehi. Penyebar agama Hindu telah sampai ke Burma Selatan, yang biasa disebut Swarna Bhumi (Swarna Dwipa). Sebagai sebutan bagi Kepulauan Nusantara. Mereka datang ke Tanah Melayu karena (arkeologi), karena pada abad 3/4 Masehi, di negeri Kedah, Kalimantan Timur (Mulawarman), dan di Indo Cina terdapat inskripsi (batu bersurat) yang bertulis Pallawa (Vanki). Isinya menerangkan kebesaran dan kekuasaan raja-raja keturunan Hindu. Kalau demikian halnya, tentulah orang-orang Hindu telah datang ke Tanah Melayu sebelum abad 3/4 Masehi, oleh R. O. Winstedt diperkirakan pada permulaan abad Masehi”.

Kedatangan orang-orang Hindu itu sangat berpengaruh bagi masyarakat Melayu, baik dari segi kepercayaan, kebudayaan, dan adat resam sampai kedatangan agama Islam ke Tanah Melayu pada abad XIII. Sebelum kedatangan Islam, Hindu merupakan agama yang utama bagi bangsa Melayu. Tetapi setelah kedatangan Islam, pengaruh Hindu semakin merosot. Agama Hindu dan Islam saling mempengaruhi, di suatu tempat telah memeluk agama Islam, sedangkan di tempat yang lain masih beragama Hindu. Lenyapnya pengaruh Hindu juga dikarenakan kebangkitan Malaka dan Aceh sebagai pusat kegiatan dan penyebaran Islam.

Tulisan para pengembara seperti Marcopolo maupun Ibnu Batuta dapat diperoleh keterangan bahwa akhir abad XIII adalah permulaan Islam bertapak di alam Melayu dan akhir abad XIV dan XV merupakan penutup zaman Hindu di kepulauan Melayu. Zaman yang terdapat peralihan dan pengaruh besar ini dinamakan Zaman Peralihan Hindu ke Islam.

Pada akhir abad XIII, Islam awalnya bertapak di kota-kota dan pelabuhan-pelabuhan besar; merupakan agama yang berkembang menggantikan kepercayaan Hindu. Islam juga sebagai peradaban (di samping sebagai agama) yang memberi unsur dan pengaruh ataupun pandangan baru terhadap segi kehidupan masyarakat Melayu pada masa itu.

Sumber lain mengungkapkan, bahwa India merupakan perantara penyebaran agama Islam ke alam Melayu. Hal ini dibuktikan adanya kisah-kisah batu bersurat seperti yang terdapat di Minye Tudjo, yang memperlihatkan adanya percampuran bahasa Melayu (Sumatra Kuno), Sansekerta, dan bahasa Arab. Bunyi tulisan tersebut diterjemahkan oleh W. F. Stutterheim, yang diperbaiki oleh G. E. Marrison dan dikutip oleh R. O. Winstedt (1972: 185), sebagi berikut :

  1. Hijrah nabi Mungstapa yang Prasaddha
  2. Tujuh ratus asta puloh savarssa
  3. Hajji catur dan dasa varsa sukra
  4. Raja Iman (vara) di rahmat Allah
  5. Gutar Bahasa Pihak Kedak Pasema
  6. Illah ya rabbi Tuhan samuha
  7. Taroh dalam svargga Tuhan tatuha

Munstapa stangs for the Arabic mustafa; prasadda must be prasidda ‘deceased‘; vara in lines 4 might be read varda. The lines may be read varda. The lines may be translated: Mustafa dalam bahasa Arab mustafa; prasaddha ‘wafat‘; vara pada baris ke 4 bisa dibaca varda. Baris di atas diterjemahkan:

  1. After the flight of the honoured prophet, sho who died.
  2. In the year seven hundred and eight-one.
  3. In the month Dzulhijjah, on the fourteenth, a Friday.
  4. The faithful queen consort was received into the mercy of god.
  5. Of the Bahasa clan, Owing Kedah and Pasar.
  6. With all their fields and wood, sea and lands.
  7. O God, lord and master of all.
  8. Keep our exaited mistress in heaven.
  1. Setelah hijrah Nabi, kekasih yang telah wafat.
  2. Tujuh ratus delapan puluh satu tahun.
  3. Bulan Dzulhijjah 14 hari, hari Jumat.
  4. Raja Iman rahmat Allah bagi Baginda (warda).
  5. Dari keluarga Bara basa mempunyai hak atas Kedah dan Pasai.
  6. Bersama di laut dan darat semesta.
  7. Ya Illahi, ya Tuhanku semesta.
  8. Masukkanlah baginda ke dalam surga Tuhan”.

Kalau kita perhatikan kutipan di atas merupakan bentuk syair yang terukir di batu nisan. Kata-katanya telah bercampur dengan kata-kata Arab di samping kata-kata dalam bahasa Sansekerta. Tulisan tersebut merupakan doa untuk raja Pasai yang telah meninggal pada tahun 1380 M.

Dalam kisah-kisah pengislaman Marah Silu (Malikul Saleh), orang-orang Selatan India turut berlayar ke alam Melayu. Bahkan, asalnya nisan Malikul Saleh adalah dari Kembayat (Cambay). Maka, nyatalah bahwa orang-orang di India Selatan (Pantai Coromondel) menerima ajaran Islam terlebih dahulu dari kita. Maka tidak heran, bila ada sastra Islam yang tidak kita terima secara langsung dari Timur Tengah dan masuk ke alam Melayu melalui India.

Agama Islam bertapak di alam Melayu pada abad ke 13, tetapi tidaklah berarti bahwa agama atau kebudayaan Hindu hilang sama sekali di kalangan masyarakat Melayu. Agama Islam disebarkan tidak melalui pedang ataupun peperangan secara kekerasan, tetapi melalui peranan bahasa dan sastra yang sangat penting pada masa itu.

Dalam bidang kesusastraan, tentulah cerita-cerita yang telah populer pada zaman Hindu dijadikan media-media penyebaran agama Islam. Oleh karena itu,  cerita-cerita tersebut tidak begitu saja dimusnahkan, tetapi diubah sesuai dengan keadaan atau suasana dalam Islam. Sebagaimana halnya sastra Hindu dan Jawa yang masuk ke alam Melayu mengalami penyesuaian. Corak baru itu adalah corak campur aduk antara Hindu dan Islam.

Kedatangan Islam membawa tulisan Jawi (Arab–Melayu) yang dijadikan tulisan orang-orang Melayu pada masa itu. Semenjak itu pula terbukalah lembaran baru dalam sejarah kesusasteraan Melayu, yang sebelumnya hanya mengenal bentuk sastra lisan. Tulisan tersebut tidak serta-merta dikuasai oleh masyarakat pada masa itu.  Alim ulama maupun kaum cerdik pandai memegang peranan dan akhirnya mereka dikenal sebagai pujangga istana.

Zaman peralihan yang dimaksud tidak hanya terbatas di bidang agama, tetapi juga di bidang lainnya yang tercakup dalam tamaddun Melayu. Moh. Yusof Md. Nor (1987: 29) mengemukakan pengertian zaman peralihan:

“Zaman Peralihan bermakna zaman peralihan peradaban Hindu ke Islam. Yaitu zaman kebudayaan Hindu yang masih meninggalkan pengaruhnya dan semakin berangsur lemah, manakala pengaruh kebudayaan Islam semakin berkembang”.

Lebih lanjut Jihati Abadi, dkk (1986: 34-35) menjelaskan tentang zaman peralihan ini sebagai berikut:

“Zaman yang bermula dengan kedatangan agama Islam di alam Melayu sehingga tertutupnya zaman Hindu di kawasan yang sama, dikenali dengan zaman peralihan Hindu–Islam. Dengan tersebarnya ajaran Islam yang sedikit demi sedikit mengikis pengaruh Hindu dalam kebudayaan masyarakat Melayu, maka sudah pasti kesusasteraan Melayu juga mengalami perubahan yang sama; pengaruh Islam mengambil alih pengaruh Hindu. Dan, hasil dari pada perubahan demikian adalah terdapatnya kesusasteraan Melayu yang bercampur aduk, Hindu dan Islam, dalam zaman peralihan Hindu–Islam itu. Unsur-unsur Hindu diubah mengikuti kehendak Islam”.

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa zaman peralihan Hindu ke Islam dalam kesusasteraan Melayu mengacu pada zaman di mana kebudayaan Hindu masih tetap meninggalkan kesan-kesan pengaruhnya, yang makin lama semakin berangsur merosot, sementara pengaruh kebudayaan Islam semakin bertambah kuat. Kedua kebudayaan itu secara serentak masih memberikan pengaruh ke dalam Kesusasteraan Melayu lama.

Tidak ada bukti bila zaman peralihan ini berlaku, sehingga tidak dapat dipastikan secara tegas permulaan dan akhirnya. Tetapi, yang jelas zaman peralihan Hindu ke Islam itu bermula sejak Islam mulai bertapak, pengaruh Islam masih sangat lemah, manakala pengaruh Hindu masih ada Bentuk Sastra Melayu pada Zaman Peralihan Hindu ke Islam

Terkadang timbul kesulitan bagi kita untuk mengenal lebih dekat tentang karya sastra Melayu yang tergolong dalam zaman peralihan Hindu ke Islam. Di sini dibutuhkan kejelian kita untuk dapat mengenalnya. Liaw Yock Fang (1982: 102)  memberikan beberapa alasan yang berkenaan dengan sukarnya menentukan karya sastra Melayu Lama yang tergolong dalam zaman peralihan Hindu ke Islam,

“Pertama, karena sastra Melayu Lama pada umumnya tiada bertarikh dan tiada nama pengarangnya. Kedua, sastra Melayu tertulis dengan huruf Arab. Ini berarti sesudah Islam masuk dan orang Melayu meminjam huruf Arab, sastra Melayu tertulis baru lahir. Ketiga, hasil sastra Melayu yang dianggap paling tua pada zaman Hindu, yaitu Hikayat Sri Rama yang berasal dari tahun 1633 (tahun hikayat ini sampai di perpustakaan Bodlein, Oxford). Keempat, tidak ada hikayat Melayu yang lepas dari pengaruh Arab”.

Keempat alasan di atas terlihat lebih menekankan pada karya sastra Melayu lama yang berbentuk hikayat. Dalam bentuk puisi, seperti halnya mantera, terlihat juga adanya peralihan Hindu ke Islam ini. Misalnya, terdapat nama-nama dewa Hindu, tetapi akhirnya akan disudahi dengan unsur Islam, seperti adanya kalimat “Berkat doa Lailahaillallah Muhammad Rasulullah, Aku panggil dengan kata Muhammad”, dan sebagainya.

Mantera

Sebagai salah satu bentuk puisi (non narrative), mantera dianggap sebagai genre puisi paling awal dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat Melayu. Dalam Masyarakat Melayu terdapat bukti-bukti bahwa mantera merupakan warisan kehidupan nenek moyang pada zaman prasejarah yang terus dikekalkan, ditambahkan, dan dikembangkan hingga saat ini.

Dalam Kamus Etimologi Bahasa Indonesia (1987: 177), dijumpai kata mantera yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata mantra yang berarti “alat berpikir, hasil dari kegiatan berpikir”. Ada yang menyebut dengan istilah lain, misalnya jambi, serapah, tawar, sembur, cuca, puja, seru, dan tangkal. Adapun secara peristilahan, mantera adalah kata-kata atau ayat yang apabila diucapkan dapat menimbulkan kuasa ghaib (untuk dapat menyembuhkan penyakit, untuk menolak gangguan dari roh-roh halus, puja laut, dan lain-lain).

Pada mulanya, mantera yang kita temui saat ini adalah milik seorang pawang atau seorang bomoh. Seperti telah kita ketahui, mantera, jampi, ataupun serapah merupakan kebudayaan asli masyarakat Melayu. Pada saat kedatangan agama Hindu, mantera mendapat pengaruh kepercayaan dan agama Hindu, seperti terdapatnya nama-nama dewa Hindu, Agni, Bayu, Indra, Brahma, dan lain sebagainya.

Setelah kedatangan agama Islam, mantera diubah sesuai dengan agama Islam. Seperti terdapatnya nama-nama nabi, malaikat, dan ayat-ayat suci al-Qur‘an. Dengan demikian, mantera dan sejenisnya dapat diterima di kalangan masyarakat Melayu.

Dalam rangka menganalisis dan menginterpretasikan sebuah mantera, Harun Mat Piah (1989: 482-483) mengemukakan ada beberapa ciri dasar sebuah mantera,  yaitu:

  1. Bahwa keseluruhan mantera Melayu adalah dalam bentuk puisi; atau sekurang- kurangnya mengandung unsur-unsur puisi; dan puisi ini agak unik bentuk dan isinya daripada yang lain.
  2. Isi dan konsep yang dikandung dan dipancarkan oleh sebuah mantera menunjukkan hubungan yang amat erat dengan sistem kepercayaan masyarakat, khususnya dalam zaman dan konteks di mana mantera itu diciptakan dan diamalkan secara total oleh masyarakat yang berkenaan.
  3. Sebuah mantera yang diciptakan kemudian diabadikan dalam suatu perlakuan yang tertentu dan untuk fungsi yang tertentu.
  4. Pengabdian sebuah mantera dalam perlakuan yang tertentu hanya dilakukan oleh seseorang (pawang atau bomoh) yang telah memperoleh tausyiah untuk menjalankan perlakuan tersebut.
  5. Kepercayaan, konsep, teks atau tubuh puisi, amalan dan perlakuannya dipraktikkan oleh orang yang mengamalkannya, baik untuk tujuan perseorangan maupun untuk masyarakat; ada untuk tujuan yang baik atau mungkin juga tujuan yang jahat.

Bagaimana agar mantera itu menjadi milik kita saat ini? Dalam pengertian bahwa mantera itu tidak hanya milik pawang atau bomoh. Harun Mat Piah (1989: 487) mengemukakan ada tiga (3) cara untuk memperoleh mantera, yaitu:

  1. Dengan menuntut ilmu melalui guru-guru dan bomoh-bomoh yang handal.
  2. Melalui keturunan atau pusaka, yaitu apabila bapak, ibu, datuk, atau nenek menurunkan ilmunya kepada keturunan di bawahnya. Penurunan dan penerimaan pusaka ini tidak semestinya seperti nomor satu di atas.
  3. Melalui penjelmaan atau resapan; yaitu apabila seorang yang bukan bomoh, tidak berasal dari keturunan bomoh, menerima penjelmaan atau serapan dari suatu sumber, roh, wali, syekh atau bomoh yang lebih handal, yang telah mati atau hanya wujud dalam kepercayaan saja.

Sebagai contoh, berikut ini akan kita lihat adanya percampuran antara pengaruh Hindu dan Islam dalam mantera:

Assalamualaikum,
Hai berna kuning
Aku tahu akan asalmu  
Tumbuh di bukit Gunung Siguntang

Mahameru Berdaun perak, berbatang suasa, berbuah emas
Aku nak mintak jadi anak panah Sri Rama
Anak panaj Arjuna, Wong Inu Kertapati
Aku nak mintakmu jadi anak tebuan tunggal ekor

Mula menghambat segala jin setan dan iblis
Mambang peri Sang raya dan kampung Sang Raya
Bayang-bayang dewa di tali angin
Mu kerja seperti anak panah

Dewa Sang Raya yang tunggal
Menghambat segala iblis setan
Disumpah malaikat menjadi raja
Memerintah alam empat yang empunya

Pada hari ini ketika ini
Insya Allah dengan kuasa Allah
Muhammad Rasulullah

(Puisi Melayu Tradisional, 1989: 483)

Mantera di atas dibacakan ataupun digunakan dalam upacara “berbagih”, suatu cara pengobatan penyakit-penyakit ganjil, yang masih terdapat di Kelantan dan Terengganu. Objek-objek yang digunakan ialah beras kunyit (beras putih yang dikuningkan warnanya dengan air kunyit), digunakan untuk ditaburkan ke tubuh si sakit dan di sekitar ruang dalam rumah, dengan tujuan menghalau semangat-semangat yang berbahaya. Beras dan padi dipercaya mempunyai semangat, dan semangat ini harus dipuja untuk memberikan kekuatan yang diminta.

Kepada semangat padi yang “berusul-berasal” ini, si bomoh meminta menjadikannya anak panah wira yang merupakan “national hero” yang terdiri dari Sri Rama, Arjuna, dan “Wong” Inu Kertapati. Sri Rama di sini adalah watak wira dalam cerita-cerita Sri Rama Melayu. Demikian juga watak Arjuna dalam mantera di atas adalah seorang dewa di khayangan yang selalu diinkarnasikan kepada watak Raden Inu Kertapati, wira cerita Panji Melayu dan Jawa. Watak sang Raya juga tidak semestinya Dewata Mulia Raya atau Sang Hyang Tunggal yang selalu dihubungkan dengan Visnu dan Siva dalam sistem ketuhanan Hindu.

Kalau diperhatikan, watak-watak yang terdapat dalam mantera di atas adalah nama lain yang dikenal dalam sistem kepercayaan Islam; iblis, syaitan, malaikat, Nabi Muhammad SAW, dan sebagainya. Keadaan yang sama dapat kita lihat dalam Mantera Pengasih berikut ini:

Hei om pali
Hantu tanah
Jembalang bumi
Kau pergi mengambil semangat roh si anu
Gila kepada aku

Menyala seperti api
Seperti nasi mendidih
Jika engkau tidak membawanya gila kepada aku
Seperti api yang menyala, nasi yang mendidih

Kusumpah engkau
Durhaka engkau kepada Allah
Bukan dengan kuasa aku
Dengan kuasa Allah

(Puisi Melayu Tradisional, 1989: 485)

Dalam contoh mantera yang terakhir, pengaruh Hindu terlihat dengan pemakaian kata om dan pali yang merupakan seruan, dibawa melalui bahasa Thai. Nama-nama lainnya, seperti hantu tanah dan jembalang bumi adalah warisan nimisme, sementara roh dan Allah adalah pengaruh Islam.

Dapat kita simpulkan, mantera-mantera pada zaman peralihan ini cukup terbatas jumlahnya. Perlu ditambahkan bahwa mantera-mantera yang terkumpul dalam buku-buku yang berkaitan dengan warisan puisi Melayu terlihat pengaruh Islam yang dominan. Karena zaman peralihan yang dimaksudkan dalam sejarah kesusasteraan Melayu dapat diartikan pengikisan terhadap pengaruh Hindu dalam tamaddun Melayu.

Hikayat

Dalam kesusasteraan Melayu, kata “hikayat” diberi makna sesuai dengan aslinya. Secara etimologis, kata hikayat berasal dari arti haka yang artinya “bercerita” dan hikayatun artinya “cerita”.

Wilkinson (Sulastin Sutrisno, 1983: 69) memberi arti pokok kata hikayat yaitu narrative, story, tale. Lebih lanjut, Wilkinson menyebutkan beberapa arti yang dipertentangkan ataupun disamakan dengan arti lainnya.

“In modern Malay a prose romance, in contrary to a narrative poem (syair) or family chronicle (sejarah, silsilah) or religious book (kitabs) or tale chanted by a professional storyteller (cerita pelipur lara, Kedah cerita salampit, Minangkabau kabar, dongeng). But among foreign Moslims it is usually this last. Etym. It is a memoir, in contrary tonarrative (riwayat) or chronicle (tawarikh)”.

“Dalam bahasa Melayu modern sebuah prosa roman berlawanan dengan cerita puisi (syair) atau kronik keluarga (sejarah, silsilah) atau buku tentang agama (kitab-kitab) atau yang disampaikan oleh penutur cerita yang profesional (cerita pelipur lara, Kedah cerita selampit, Minangkabau kabar, dongeng). Tetapi, di antara orang-orang asing Muslim biasanya yang terakhir ini (dongeng) yang digunakan. Secara etimologis, riwayat hidup berlawanan dengan cerita (riwayat) atau kronik (tawarikh)”.

Berdasarkan kutipan di atas, kiranya kurang tepat bila berbagai cerita dapat disebut sebagai hikayat. Secara etimologis, kata hikayat itu disamakan dengan memoir, berlawanan dengan riwayat (a narrative).

Dalam hikayat Hang Tuah (1960), kata hikayat bersinonim dengan kata riwayat, seperti kutipan berikut ini:


“Maka semalaman itu Tun Tuah berhikayat berbagai ceritera yang memberi hati yang sabar” (I: 271)


“Maka Tun Tuah duduk dekat Bendahara, kita hendak dengar riwayat perintah segala raja-raja Melayu dahulu kala. Maka Tun Tuah pun beriwayat di hadapan segala pegawai” (I: 272)


“Maka raja pun terlalu suka cita melihat kelakuan Tun Tuah beriwayat itu, dengan merdu suaranya dan manis mukanya, fasih lidahnya” (I: 273)

Adakalanya, kata hikayat digunakan bersamaan dengan kata cerita. Hal ini seperti terdapat pada kutipan kalimat pembukaan hikayat Andekan Penurat oleh S. O. Robson (1969: 21).

”Inilah suatu hikayat cerita Jawa yang dipindahkan kepada bahasa Melayu, yang terlalu indah karangannya, digunakan oleh dalang yang arif lagi bijaksana yang amat masyhur di tanah Jawa”.

Penggunaan rangkap kata hikayat dan kata cerita pada kutipan di atas dapat diartikan bahwa hikayat itu merupakan bentuk tulisnya dalam bahasa Melayu.

Pada mulanya, sebuah karya sastra Melayu lisan seperti Awang Sulung Merah Muda, Malim Deman, Anggun Cik Tunggal, dan sebagainya itu, belum dapat dikatakan sebuah hikayat. Karena sastra tulis itu selalu diasumsikan dengan sastra istana atau keraton. Artinya, sebuah karya sastra lisan akan disebut hikayat apabila telah menjadi sastra tulis istana. Oleh karena itu, cerita-cerita yang ditulis, dibukukan, dan diterbitkan sesuai dengan sastra tulis dapat diberi judul hikayat. Untuk ini Amin Sweeney (1973: 1) menegaskan:

“Many literate Malays, when asked about the tales of Sang Kancil, will refer the inquirer to the published texts of Hikayat Sang Kancil. For decades, courses on Malay literature in schools and universities have commenced with a number of lectures on ‘Malay folkliterature‘ using such published texts as Hikayat Awang Sulung Merah Muda, Hikayat Malim Demam”.

“Banyak orang-orang Melayu yang telah dapat membaca, apabila ditanya tentang cerita Sang Kancil, akan menghubungkan si penanya kepada buku-buku teks yang telah diterbitkan yaitu Hikayat Sang Kancil. Selama beberapa dekade, pengajaran tentang kesusasteraan Melayu di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi telah dimulai dengan sejumlah kuliah tentang ‘Kesusastraan Rakyat Melayu‘ yang mempergunakan teks-teks seperti Hikayat Awang Sulung Merah Muda, Hikayat Malim Deman”.

Dari kutipan di atas jelas terlihat bahwa cerita lisan sudah berupa teks bernama hikayat. Hal ini berarti bahwa judul sebuah hikayat tidak diberikan pada waktu cerita lisan tersebut masih dinyanyikan atau diceritakan menurut tradisi lisan.

Dengan alasan-alasan di atas kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa nama hikayat tidak digunakan untuk sastra lisan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Amin Sweeney (1973: 3) yang menyatakan:

“Hikayat dan syair itu dibacakan keras-keras kepada pendengar, jadi sebuah teks”.

Mengenai bentuk hikayat, S. O. Robson (1969: 7) menjelaskan bahwa sastra Melayu klasik ditulis dalam bentuk prosa dan puisi. Salah satu bentuk prosa yang penting adalah hikayat dan bentuk puisi yang penting adalah syair, seperti Hikayat Andekan Pemurat dan S Air Ken Tambuhan.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa hikayat adalah bagian prosa lama.  Sebagai sebuah karya sastra dalam bentuk tertulis, Sulastin Sutrisno (1983 : 75-76) memberikan tujuh (7) ciri hikayat, yaitu:

  1. Hikayat termasuk sastra tulis dengan huruf Jawi.
  2. Sebagai sastra tulis, hikayat sudah berkembang secara luas bersamaan dengan sastra Melayu yaitu sekitar 1.500 M.
  3. Hikayat adalah sastra Melayu Klasik.
  4. Sebagai sastra Melayu Klasik, hikayat bersifat anonim.
  5. Hikayat ditulis dalam bentuk prosa.
  6. Hikayat adalah fiksi, dalam arti dibaca oleh pembaca Melayu dan modern sebagai dunia kata-kata, tanpa hubungan langsung dari dunia luar, dengan kenyataan.
  7. Mengutip pendapat Culler “to read a text as literature is to read it as fiction” (1975: 128), maka hikayat adalah fiksi tanpa memperhatikan kadar fantasi di dalamnya.

Akibat berulang kali disalin dengan berbagai macam tujuan dan karena tradisi teks yang kurang diikat (berlawanan misalnya dengan kakawin Jawa Kuna dengan metrumnya), maka teks mengalami bermacam-macam perubahan, terutama diadakan oleh para penyalin, yang merasa bebas untuk membuat teks sesempurna mungkin menurut kehendaknya.

Dari ciri-ciri di atas, tidak jarang kita temui istilah versi dalam filologi. Misalnya, Hikayat Hang Tuah versi Kassim Ahmad dan Hikayat Raja Muda versi Asmah Haji Omar.

Dalam khazanah Kesusasteraan Melayu, kita mengenal berbagai bentuk hikayat, apakah hikayat itu tergolong dalam cerita pelipur lara, cerita panji, serita berbingkai, dan sebagainya. Berkenaan dengan judul penelitian di atas, kita dapat mengenal hikayat yang dapat digolongkan dalam zaman peralihan. Mohd. Yusof. Or  (1987: 29) mengemukakan ada 10 hikayat yang digolongkan sebagai karya pada zaman peralihan, yaitu:

  1. Hikayat Serangga Bayu
  2. Hikayat Indraputera
  3. Hikayat Marakarma
  4. Hikayat Isma yatim
  5. Hikayat Indra Bangsawan
  6. Hikayat Syah Kobad
  7. Hikayat Parang Punting
  8. Hikayat Berma Syahdan
  9. Hikayat Maharaja Puspa Wiraja
  10. Hikayat Jaya Lengkara

Liaw Yock Fang (1982: 103) mengemukakan ada 14 hikayat yang dapat dimasukkan dalam karya pada zaman peralihan Hindu ke Islam, yakni:

  1. Hikayat Puspa Wiraja
  2. Hikayat Parang Punting
  3. Hikayat Langlang Buana
  4. Hikayat Si Miskin
  5. Hikayat Indra Bangsawan
  6. Hikayat Berma Syahdan
  7. Hikayat Indraputera
  8. Hikayat Syah Kobad
  9. Hikayat Jaya Lengakara
  10. Hikayat Ahmad Muhammad
  11. Hikayat Syahi Mardan
  12. Hikayat Koraisy Mengindra
  13. Hikayat Nakhoda Muda

Daftar Pustaka

  • Abadi, Jihati, dkk. 1986. Sari Sejarah Kesusastraan Melayu Indonesia (Tradisi–Modern). Kuala Lumpur: Adabi Edar.
  • Darodji. 1983. Kesusastraan Melayu Lama. Selangor: Subang Jaya.
  • Hornby, A. S. 1985. The Advanced Leaner Dictionary of Corret. Oxford.
  • Koentjaraningrat. 1986. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
  • Liaw Yock Fang. 1982. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Singapura: Pustaka Nasional.
  • Nan Sati, Abas Datuk Pamuntjak. 1960. Hang Tuah. Jakarta: Djambatan dan Gunung Agung
  • Nor, Mohd. Yusof Md. 1987. Intisari Sejarah Kesusastraan Melayu Lama. Selangor: Fajar Bakti
  • Ngajenan, Mohammad. 1987. Kamus Etimologi Bahasa Indonesia. Semarang: Dahara Prize
  • Piah, Harun Mat. 1989. Puisi Melayu Tradisional, Suatu Pembicaraan Genre dan Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
  • Robson, S. O. 1969. Hikayat Andakan Penurat. The Hague.
  • Sutrisno, Sulastin. 1983. Hikayat Hang Tuah, Analisa Struktur dan Fungsi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Sweeney, Amin. 1973. Professional Malay Srory–Telling, Some Question of Style and Presentation. JMBRAS.
  • Usman. Zuber. 1963. Kesusastraan Lama Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.
  • Winstedt, R. O. 1972. A History o Classical Malay Literature. Oxford.

____________________

Sumber : www.library.usu.ac.id
Kredit foto : Buku "Mengenal Tulisan Arab Melayu" terbitan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu


Dibaca : 7.188 kali.

Tuliskan komentar Anda !