Close
 
Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.462
Hari ini : 23.762
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

06 mei 2008 03:40

Revitalisasi Tradisi Berpantun

Revitalisasi Tradisi Berpantun

Oleh: Ahmadun Yosi Herfanda

Sejarah mencatat: selalu ada upaya untuk bertahan dari hempasan perubahan zaman yang kurang menguntungkan. Di tengah arus globalisasi peradaban dunia dewasa ini, misalnya, di mana-mana muncul upaya untuk mempertahankan tradisi dan kearifan lokal yang dianggap lebih pas bagi jati diri masyarakat suatu bangsa. Benar prediksi futurolog John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam Megatrend 2000, bahwa di era global, kecintaan pada budaya tradisi untuk menunjukkan jati diri sebagai suatu bangsa, kemungkinan malah semakin menguat di beberapa negara dan bangsa tertentu yang memiliki daya resistensi tinggi terhadap hempasan peradaban global. Dan, itu disebutnya sebagai menguatnya nasionalisme kebudayaan di tengah gaya hidup internasional[1].

Bagi masyarakat dan pemerintah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), penguatan identitas budaya itu antara lain dilakukan dengan merevitalisasi dan menyemarakkan kembali tradisi berpantun. Saat ini, kegairahan untuk berpantun terlihat pada hampir semua lapisan masyarakat daerah yang kini disebut-sebut sebagai Negeri Pantun itu. Seakan berpacu dengan Malaysia yang makin giat menggali dan mengembangkan pantun untuk membangun identitas Melayu, masyarakat  di Pulau Bintan itu kini pun beramai-ramai menghidup-hidupkan tradisi berpantun. Tiap ada perhelatan yang diadakan oleh masyarakat, lembaga swasta maupun pemerintah, selalu berhias pantun. Saat berlangsung Pilkada 2007 yang lalu juga bertabur pantun. Para kandidat walikota seakan berlomba siapa yang paling pandai berpantun untuk menarik hati calon pemilih. Anak-anak sekolah, mahasiswa, pegawai negeri, pedagang, dan nelayan, pun kini sibuk belajar berpantun untuk menjadi kebanggaan sebagai warga Tanjungpinang.

Gairah untuk berpantun sebenarnya kini memang tidak hanya terlihat di Tanjungpinang, tapi juga di daerah-daerah lain di Nusantara, terutama yang beribu budaya Melayu, seperti Pekanbaru, Bangka Belitung, Bengkalis, Pangkalpinang, Aceh, Padang, dan hampir seluruh kawasan Sumatera. Di kalangan masyarakat negeri jiran, Malaysia, Brunei Darussalam, dan di kalangan etnis Melayu di Singapura, tradisi berpantun juga makin menguat. Acara-acara sastra di Malaysia dan Brunei, misalnya, selalu bertabur pantun. Tradisi berpantun belakangan ini juga tampak menggeliat di kalangan masyarakat Betawi, dan komunitas-komunitas pecinta budaya Melayu yang tersebar di berbagai kawasan di Nusantara. Komunitas pecinta budaya Melayu di Yogyakarta, yang tergabung dalam Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) misalnya, sejak Januari 2007 memiliki laman (web site) MelayuOnline.com (www.melayuonline.com) yang tiap hari melansir syair dan pantun pilihan pada kolom Syair dan Pantun Hari Ini, dengan berbagai tema pantun yang segar dan mencerahkan. Komunitas yang sama, pada 20 Maret 2008, juga me-launching  laman Raja Ali Haji di www.rajaalihaji.com, yang tentu juga berhias gurindam dan pantun.

Para pecinta pantun di Malaysia juga memiliki laman Pantun di www.usm.my/pantun yang menyajikan hasil-hasil penelitian dan kajian tentang pantun serta tayangan pantun dari berbagai daerah dan negara. Ada juga laman PantunOnline di pantunonline.com -- dikelola oleh Kakiseni Borneo – yang menyediakan kolom berbalas pantun. Menurut seorang peneliti dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), Salmah Zainal Abidin, keindahan pantun terus menjadi bidang kajian yang penting di universitasnya (UKM). Pendokumentasian warisan bangsa Melayu ini terus dilakukan. Portal Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) kini bahkan telah menyimpan ribuan pantun Melayu yang amat berharga[2].

Buku-buku tebal, baik yang mengupas tentang pantun maupun yang berisi kumpulan pantun, juga makin banyak diterbitkan. Pada tahun 1983, misalnya, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia sudah menerbitkan buku tebal – 378 halaman – berjudul Kumpulan Pantun Melayu karya Zainal Abidin Bakar. Sedangkan buku yang secara akademis membahas pantun-pantun Melayu, berjudul Alam Pantun Melayu, karya Francois-Rene Daillie, diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia pada tahun 2002. IKSEP, di Malaysia, tahun 2005, menyusul menerbitkan buku Pantun karya Hj. Mokhtar Yasin. Buku terbaru tentang pantun yang terbit di Malaysia adalah Pantun Peranakan Baba: Mutiara Gemilang Negeri-Negeri Selat karya Prof. Dr. Ding Choo Ming, yang mengungkapkan bahwa peranakan China di Malaysia pun tertarik dan ikut mengembangkan tradisi berpantun.

Di Indonesia, buku-buku tentang pantun juga banyak bertebaran sejak lama. Beberapa di antaranya sudah sejak tahun 1950-an diterbitkan oleh Balai Pustaka. Antara lain, Pantun Melayu, yang terbit pertama kali pada tahun 1958, Indonesia Tera, Yogyakarta, juga ikut tertarik dengan menerbitkan buku Pantun untuk SD dan SMP karya Inoer Hidayati. Pada tahun 2004, Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang dan Yayasan Nusantara Jakarta, menerbitkan buku Pangkalpinang Berpantun, yang dieditori LK Ara. Pada tahun yang sama, Yayasan Nusantara juga menerbitkan buku Pantun Melayu Bangka Selatan suntingan LK Ara. Setahun kemudian terbit buku kumpulan pantun Melayu Bangka bertajuk Pucuk Pauh, dan Bangka Belitung Barcaya Dalam Pantun dan Puisi – keduanya juga dieditori oleh LK Ara dan diterbitkan oleh Yayasan Nusantara.

Dari para pecinta budaya Melayu di Tanjungpinang juga terbit beberapa buku tentang pantun. Antara lain, Mari Berpantun karya Tusiran Seseno[3], Kumpulan Pantun Pernikahan karya Tamrin Dahlan, Bingkai Pantun karya Encik Abdul Hajar, Tata Cara Peraduan Pantun karya Tusiran Suseno, dan Pantun Majlis karya Tusiran Suseno. Bersama Amiruddin dan Teja Al-habd, Tusiran juga menyusun buku setebal 910 halaman berjudul Butang Emas, Warisan Budaya Melayu Kepulauan Riau, yang di dalamnya juga dikupas tentang pantun dan contoh-contoh (kutipan) berbagai jenis pantun -- di dalam bab kesusasteraan. Dalam buku ini digambarkan bahwa pantun sejak dulu telah menjadi tradisi penting sastra lisan masyarakat Tanjungpinang, yang juga biasa dipakai sebagai media berkomunikasi dan menyampaikan ajaran kemuliaan serta adat istiadat masyarakat. Kutipan tiga pantun jenaka – tentang pasangan hidup  -- berikut ini barangkali menarik untuk disimak:

Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh di dekat limau lungga
Elok berbini orang sumbing
Biar marah ketawa juga

Elok jalannya kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat

Orang Jawa pergi ke Banda
Membeli ikan denga rebung
Orang tua berbini muda
Bagai rasa menang menyabung
[4]

Pada pantun jenaka – seperti terbaca pada kutipan di atas – kearifan (hidup) lokal disampaikan secara berkelakar. Sedangkan pada pantun-pantun yang bersifat didaktik, seperti pantun nasihat, pantun adat dan pantun agama, kearifan lokal disampaikan secara serius namun terasa segar karena keindahan sampiran dan kecerdasan dalam mengemas pesannya. Misalnya, dapat dirasakan pada kutipan beberapa pantun nasihat di bawah ini.

Berburu ke padang datar
Dapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagai bunga kembang tak jadi

Riang-riang terbang ke kolam
Retak bertanggur depan kota
Laksana siang menanti malam
Demikian umur sekalian kita

Anak gajah mandi di sumur
Ambil galah dalam perahu
Orang muda jangan terkebur
Cobaan Allah siapa yang tahu
[5]

Puisi Melayu Lama

Di dalam sejarah kesastraan, terutama berkaitan dengan tradisi perpuisian Indonesia, pantun dikenal sebagai salah satu jenis puisi lama dari kesusastraan Melayu lama, yang memiliki aturan bentuk (konvensi) yang sangat mengikat. Pantun yang lazim terdiri dari empat baris yang berupa dua baris sampiran (tumpuan bicara) dan dua baris isi (inti atau maksud pantun), dengan rima (persajakan) bersilang abab. Memang ada juga pantun yang rimanya tidak bersilang, misalnya aaaaabba, dengan tetap terdiri dari dua baris sampiran dan dua baris isi. Namun, pantun yang demikian, di kalangan masyarakat Melayu, dianggap sebagai pantun yang kurang berkualitas. Selain itu, di dalam tradisi sastra Melayu lama, rima aaaa biasanya dipakai pada karya sastra yang disebut syair. Berbeda dengan pantun, pada syair tidak terdapat sampiran, dan seluruh lariknya (empat larik) berupa isi.

Di dalam Leksikon Sastra Indonesia[6] juga dijelaskan bahwa pantun merupakan jenis puisi lama yang setiap baitnya terdiri dari empat larik berima bersilang abab, dan tiap larik biasanya terdiri dari empat kata. Dua larik (baris) pertama, yang lazim disebut sampiran (tumpuan bicara), menjadi petunjuk rimanya; dua larik berikutnya yang mengandung inti artinya disebut inti pantun (maksud bicara). Ada juga pantun yang terdiri dari enam atau delapan larik yang disebut talibun, yang separuh dari jumlah lariknya berupa sampiran. Selain itu, ada pula pantun dua baris yang disebut pantun kilat atau karmina – satu larik sampiran dan satu larik isi (inti pantun). Pantun dua larik itu banyak berkembang di masyarakat sebagai “pantun gaul” – sebagai media komunikasi dan media berkelakar anak-anak muda maupun dewasa.

Menilik ragam isinya, Hasanuddin WS[7] membedakan pantun menjadi pantun kanak-kanak, pantun orang muda (pantun berkasih-kasihan), pantun orang tua (pantun nasihat, adat dan agama), pantun jenaka, dan pantun teka-teki. Sedangkan menurut bentuknya, pantun dapat dibedakan menjadi pantun biasa, pantun berkait,  pantun dua seuntai (karmina), dan pantun enam seuntai (talibun)[8]. Namun, yang paling banyak ditemukan dalam khasanah sastra Melayu lama adalah  pantun biasa atau yang lazim disebut pantun saja, yang terdiri dari empat larik dan terbagi atas dua baris sampiran dan dua baris isi (inti) pantun[9]. Pantun-pantun didaktik, baik pantun nasihat, pantun adat maupun pantun agama, yang merupakan warisan sastra Melayu lama, umumnya juga ditulis dalam bentuk pantun biasa. Bentuk pantun biasa (empat baris) seperti itu pula yang sekarang dikembangkan di kalangan masyarakat Kota Tanjungpinang untuk menjadi identitas budaya kota tersebut.

Pantun (biasa) memiliki aturan bentuk (konvensi) yang cukup ketat dan dianut oleh masyarakat Melayu, termasuk Tanjungpinang, secara turun-temurun. Aturan tersebut meliputi, (a) terdiri atas empat baris, (b) tiap baris terdiri atas delapan sampai sepuluh suku kata, (c) dua baris pertama harus berupa sampiran dan dua baris berikutnya berupa isi pantun, (d) mementingkan rima akhir bersilang abab, yakni bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga, dan bunyi akhir baris kedua sama dengan bunyi akhir baris keempat. Sebagai contoh pantun biasa yang dilihat dari ragam isinya termasuk pantun nasihat adalah sbb.

Berakit-rakit ke hulu --------------- a
Berenang-renang ke tepian ------- b
Bersakit-sakit dahulu -------------- a
Bersenang-senang kemudian ----- b

Sedangkan contoh pantun biasa yang dari aspek isinya termasuk pantun berkasih-kasihan (pantun anak muda) adalah sbb.

Layang-layang terbang ke mega --- a
Jatuh ke laut melayang-layang ----- b
Siapa bilang abang tak cinta -------- a
Siang malam terbayang-bayang ---- b

Pantun berkait -- disebut juga sebagai pantun berantai atau seloka -- adalah pantun yang sambung-menyambung, yakni baris kedua dan keempat bait pertama muncul lagi sebagai baris pertama dan ketiga pada bait berikutnya. Bentuk tiap bait pantun berkait sama dengan pantun biasa, terdiri atas empat baris yang terbagi atas dua baris sampiran dan dua baris isi, dengan rima bersilang abab, dan tiap baris terdiri atas delapan sampai sepuluh kata. Bedanya, tiap bait pantun biasa berdiri sendiri -- tiap pantun  hanya terdiri atas satu bait.  Sedangkan pantun berkait terdiri atas beberapa bait yang sambung-menyambung, secara berantai atau berkait: baris kedua dan keempat pada bait pertama diulang kembali pada baris pertama dan ketiga bait berikutnya (bait kedua), begitu seterusnya pada bait ketiga dan keempat. Contoh seloka adalah abb.

Sarang garuda di pohon beringin
Buah kemuning di dalam puan
Sepucuk surat dilayangkan angin
Putih kuning sambutlah Tuan

Buah kemuning di dalam puan
Dibawa dari Inderagiri
Putih kuning sambutlah Tuan
Sambutlah dengan si tangan kiri

Dibawa dari Inderagiri
Kabu-kabu dalam perahu
Sambutlah dengan si tangan kiri
Seorang mahluk janganlah tahu

Pantun enam seuntai – disebut juga talibun – adalah pantun yang terdiri atas enam baris, dan terdiri atas tiga baris sampiran dan tiga baris isi (inti pantun), serta dengan rima bersilang abcabc.  Namun, bukan hanya pantun enam seuntai yang disebut talibun. Ada juga pantun delapan seuntai, pantun sepuluh seuntai, dan pantun duabelas seuntai, yang juga tetap disebut talibun. Jadi, talibun adalah pantun yang terdiri atas enam baris atau lebih, dan jumlah barisnya genap (dalam kelipatan dua). Seperti pantun biasa, separuh dari jumlah baris talibun berupa sampiran dan separuhnya berupa isi (inti pantun). Jika terdiri atas enam baris, maka tiga baris pertama berupa sampiran dan tiga baris berikutnya berupa inti pantun. Begitu seterusnya. Salah satu contoh talibun enam baris adalah sbb.

Kalau anak pergi ke pecan
Yu beli belanak pun beli
Ikan panjang beli dahulu.
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari
Induk semang cari dahulu 

Pantun dua seuntai – disebut juga pantun kilat atau karmina – adalah jenis pantun yang terdiri dari dua baris dengan rima (persajakan) aa, dan masing-masing merupakan sampiran (baris pertama) serta isi (baris kedua). Jika diamati, pantun dua seuntai sebenarnya terdiri dari empat baris, yang tiap barisnya terdiri atas empat atau lima suku kata. Tetapi, karena tiap barisnya dianggap terlalu pendek, maka dua baris sampiran (baris pertama dan kedua) diucapkan sekaligus seakan menjadi satu baris. Begitu juga dua baris isinya (baris ketiga dan keempat). Sehingga, seakan-akan semuanya hanya terdiri dari dua baris – satu baris sampiran dan satu baris isi. Demikian pula dalam penulisannya. Dan, karena pendeknya, orang menyebutnya sebagai pantun kilat atau karmina. Sebagai contoh karmina klasik yang sudah dikenal oleh masyarakat Melayu adalah sbb.

Pinggan tak retak, nasi tak dingin
Tuan tak hendak, kami lebih tak ingin

Sudah gaharu, cendana pula
Sudah tahu, bertanya pula

Dalam perkembangannya hingga saat ini, karmina paling banyak dijadikan sebagai media komunikasi pergaulan sehari-hari serta media untuk bercengkerama antar-sesama kawan, sehingga kerap juga disebut sebagai pantun gaul.  Jenis pantun kilat yang diciptakan secara spontan oleh masyarakat di ruang pergaulan inilah yang benar-benar berupa pantun dua baris, dan tiap barisnya benar-benar terdiri dari satu kalimat – satu kalimat (baris) sampiran dan satu kalimat (baris) isi. Beberapa contoh karmina kontemporer yang benar-benar terdiri dari dua kalimat (baris) adalah sbb.

Layang-layang hanyut ke hulu
Sebelum pulang makanlah dahulu

Buah manggis  sudah diiris-iris
Abang sedih jika adik menangis

Beli kecap di warung ibu
Minta maaf adik pulang dulu

Pada mulanya, di kalangan masyarakat Melayu, pantun merupakan karya sastra (jenis puisi) lama yang bersifat anonim dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga sangat dihafal oleh masyarakat. Namun, di luar pantun-pantun tradisional yang sudah sangat dihafal dan menjadi milik masyarakat, berkembang pula pantun-pantun baru, yang bersifat spontan, sesuai kebutuhan. Pantun semacam ini jumlahnya bisa ribuan, atau bahkan jutaan, jika semuanya dicatat. Sebab, siapapun dapat membuat pantun dan mengucapkannya pada acara-acara tertentu, seperti saat menjadi pembawa acara, saat memberi sambutan, saat berpidato, saat beradu pantun, ataupun saat bercengkerama dengan kawan.

Di antara pantun-pantun baru, yang bersifat spontan, dan tidak tercatat itu, yang paling banyak adalah pantunpergaulan, pantun gaul, atau dapat disebut pula sebagai pantun tegur sapa. Pantun gaul ini umumnya terdiri dari dua baris, dan merupakan pengembangan dari pantun kilat atau karmina. Pantun gaul inilah yang banyak berkembang di kalangan anak muda, termasuk di luar Sumatera dan Semenanjung Malaka. Misalnya, di kalangan masyarakat Betawi. Pantun jenis ini, menurut pengamatan Ketua Yayasan Panggung Melayu Asrizal Nur, sekarang bahkan kerap muncul di tengah ruang gaul anak-anak muda perkotaan, seperti Jakarta, yang serba metropolis, dengan idiom-idiom urban-industrial.

Pada pantun gaul kontemporer itulah sering terselip kata-kata nakal untuk menimbulkan suasana lucu dan segar, atau agar lawan bicara yang disasar tidak marah, tapi sebaliknya malah tertawa. Para pemantun yang “nakal” kadang-kadang juga main hantam kromo saja dalam memilih baris sampiran, asal enak diucapkan. Misalnya, “bokap wudelnya bodong, minta rokoknya dong!” Maksud yang sama mestinya dapat disampaikan dengan sampiran yang lebih santun, misalnya, “papaya dipotong-potong, minta rokoknya dong!” Atau, yang lebih cerdas lagi, dengan sampiran yang sudah bermakna isyarat, sbb.

Tinggal korek dalam kantong
Minta rokoknya dong!

Rumput laut dimakan sapi
Mulut kecut jika  tak diasapi

Di tengah maraknya pantun gaul yang cenderung main hantam kromo itu, tradisi berpantun di Tanjungpinang menarik diamati. Meskipun saat ini banyak berkembang karmina kontemporer yang cenderung nakal, masyarakat Kota Tanjungpinang tetap mempertahankan bentuk pantun empat baris (pantun biasa) dengan sampiran yang indah dan isi yang mencerahkan, serta bersajak (rima) silang abab. Pantun-pantun empat baris demikian pula yang tetap muncul di ruang-ruang pergaulan di Kota Tanjungpinang.

Menurut Tusiran Suseno, masyarakat Kota Tanjungpinang beranggapan bahwa pantun gaul yang cenderung nakal akan menurunkan (mendegradasi) derajat pantun sebagai warisan tradisi luhur yang dapat menjadi sarana efektif untuk pencerdasan masyarakat. Karena itu, menurut Walikota Suryatati A. Manan, untuk media komunikasi dan pergaulan pun Tanjungpinang tetap mempertahankan dan mengembangkan pantun-pantun empat baris yang indah, cerdas, taat aturan, didaktik, dan mencerahkan[10].

Negeri Pantun

Di dalam buku Kumpulan Pantun untuk SD dan SMP[11], Inoer Hidayati menganggap pantun sebagai puisi asli Indonesia. Anggapan itu didasari oleh bukti bahwa di Indonesia, pantun telah dikenal secara luas di berbagai daerah dengan sebutan yang berbeda-beda, misalnya umpasa  (Batak),  paparikan (Jawa Barat), parikan (Jawa Tengah dan Jawa Timur), serta londe (Toraja). Inoer juga mencatat bahwa pantun merupakan salah satu genre sastra yang masih hidup dan masih disukai oleh masyarakat Indonesia, serta merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya asli Indonesia.

Namun, beberapa penelitian menemukan bahwa karya sastra lama yang sangat mirip dengan pantun juga dikenal di beberapa negara Asia Tenggara. Di Sri Langka, misalnya, ada karya sastra lama mirip pantun yang disebut panthong[12]. Dalam penelitiannya, Jelani Harun menemukan manuskrip Ketab Panthong Suwatu yang ditulis dalam bentuk pantun (Melayu). Dia juga menemukan pantun-pantun Melayu di kalangan masyarakat Melayu Sri Lanka. Misalnya, yang ditulis oleh Indera Quraisy, yang sebagian kutipannya adalah sbb.

Terbang melayang si burung aruan,
Singgah di pulau si Rangga Pati;
Jika sempurna raja bangsawan,
Ambillah puteri baharulah sakti.

Surahi kumbang surahi,
Surahi jatuh dengan kandasan;
Jika tuan dendam berahi,
Nescaya mati dengan kurusan.

Bukti-bukti hasil penelitian menunjukkan bahwa seni pantun merupakan tradisi milik masyarakat (etnis) Melayu serumpun di Nusantara dan sekitarnya. Tradisi berpantun tidak hanya berkembang dalam bahasa Melayu, tapi juga bahasa-bahasa daerah, seperti Jawa, Sunda, Batak, Toraja, Bali dan Sumbawa. Namun, tradisi berpantun yang paling subur dan berakar kuat, memang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat berbahasa Melayu serumpun. Karena itu, pantun tumbuh subur di kawasan Riau (daratan dan kepulauan) serta semenanjung Malaka, yang penduduk mayoritasnya adalah etnis Melayu.

Di antara daerah-daerah berpenduduk mayoritas etnis Melayu, saat ini yang tampak paling bergairah merevitalisasi tradisi berpantun adalah Kota Tanjungpinang. Tradisi berpantun tidak hanya marak kembali secara alami, tapi ada upaya-upaya serius untuk menghidupkannya melalui pengajaran sastra di sekolah, sanggar-sanggar, pertunjukan, peraduan (lomba), dan festival. Menurut peneliti dan pengembang tradisi berpantun, Tusiran Suseno, di Tanjungpinang saat ini juga ada komunitas pantun. Anggotanya terdiri dari anak-anak muda sampai orang tua. Pada hari-hari tententu mereka berlatih bersama untuk lihai beradu pantun.

Untuk mendukung revitalisasi tradisi berpantun yang dilakukannya, Tusiran bahkan mendirikan Rumah Pantun Madah Kelana. Berlokasi di Jl Bayangkara, di rumah pantun ini tiap Senin dan Kamis sore, komunitas pantun berkumpul untuk berlatih bersama Tusiran. Tak cukup dengan itu, tiap Minggu, latihan juga diadakan di Gedung Kesenian Tanjungpinang, yang diasuh Teja Alhabd. Pesertanya, sejak remaja hingga orang tua. Mereka, pada malam hari, juga suka berkumpul di Kafe Pantun[13], di Bintan Center, untuk bermain pantun bersama.

Selain Rumah Pantun Madah Kelana, di Tanjungpinang kini juga bertebaran sanggar-sanggar pantun lain yang menjadi tempat berlatih pantun bagi masyarakat setempat. Antara lain, Sanggar Pantun Komunitas Seni Anak Negeri, di Jl. Rempang No. 31,  Kafe Pantun di Komplek Bintan Centre (yang juga sering berfungsi sebagai sanggar pantun), Deot Kreatif Anak Bangsa (DEKAB) di Jl. Kartika Gg. Mayangsari 3,  Kedai Kopi Seloka Pantun di Jl. Agus Salim, Sanggar Pantun Sebauk di Kampung Sebauk, dan Sanggar Pantun Kampung Bugis di Kelurahan Kampung Bugis.

Makin memantapkan gerakan revitalisasi tradisi berpantun menuju predikat Kota Tanjungpinang sebagai Negeri Pantun, berbagai pertunjukan, festival, dan peraduan pantun juga kerap digelar di kota Pulau Bintan tersebut, sejak tingkat regional hingga internasional. Antara lain, Peraduan Pantun Melayu Serumpun (Juli 2001),  Peraduan Pantun MelayuSerumpun  (September 2003), Peraduan Pantun Melayu Serumpun (Oktober 2004),  Peraduan Pantun Melayu SerumpunFestival Budaya Melayu Internasional (September 2006), Peraduan Pantun Antar-Suku Sekota Tanjungpinang (Juli 2002), Peraduan Pantun Antar-Kelurahan Sekota Tanjungpinang (2005), siaran langsung peraduan pantun selama setahun di RRI Programa-2, serta pelatihan pantun sekota Tanjungpinang tingkat SD, SLTP dan SLTA, selama tiga bulan.

Sebenarnya, sudah sejak lama pantun berkembang luas di kota Tanjungpinang. Perkembangan makin pesat sejak Suryatati A. Manan – yang juga dikenal sebagai penyair dan pecinta pantun -- menjabat sebagai Walikota Administratif Tanjungpinang (1996-2001), walikota Tanjungpinang (2001-2002, 2002-2007), dan sekarang terpilih kembali untuk masa jabatan 2008-2013. Menurut Tusiran Suseno, perkembangan pantun kini semakin menggairahkan. Apalagi, salah satu visi dan misi Suryatati adalah menjadikan Kota Tanjungpinang sebagai kota budaya. Pantun yang dipandang sebagai ruh dan kekuatan budaya orang Melayu mendapatkan prioritas perhatian dari Pemkot Tanjungpinang.

Hasilnya, tradisi berpantun kini sangat marak di Kota Tanjungpinang dan sekitarnya. “Pantun kini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Tanjungpinang. Sudah selayaknya kalau warga Kota Tanjungpinang ingin memberikan predikat pada kota kesayangan mereka sebagai Negeri Pantun,” kata Suryatati A Manan, walikota yang mendapat julukan sebagai ‘Ratu Negeri Pantun‘. “Pilkada Kota Tanjungpinang yang lalu pun bertabur pantun. Masing-masing kandidat beradu kemahiran berpantun. Spanduk-spanduk juga dihiasi pantun,” tambahnya[14].

Berikut ini adalah beberapa contoh pantun yang muncul dalam Pilkada Kota Tanjungpinang tahun 2007, yang dibacakan oleh kandidat saat berkampanye dan ditulis pada spanduk-spanduk Pilkada:

Indrasakti pulau sejarah
Pulau Penyengat indah dilihat
Jika kembali diberi amanah
Kesejahteraan rakyat jadi matlamat

Pulau Bayan Pulau Penyengat
Bulang Linggi berlayar ke samudra
Kalau tuan bijak dan cermat
Pilihan pasti di nomor tiga

Menuai padi di pagi hari
Padi diletak bersilih-silih
Gunakan hati tajamkan nurani
Supaya tidak salah memilih

Terang bulan terang di kali
Kami berani karena teruji.

Dawai kawat dalam laci
Terikat-ikat sarang tabuan
Tatik-Edward pasangan serasi
Kepentingan rakyat jadi tumpuan

Menyongsong kegairahan berpantun di kalangan masyarakat Melayu itu, sebuah festival pantun internasional digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada 25-29 April 2008. Dengan tajuk Festival Pantun Serumpun, acara diisi dengan peraduan pantun se-Asia Tenggara, pencatatan rekor berpantun terlama Museum Rekor Indonesia (MURI), eksebisi pentun para pejabat, cerdas cermat pantun, berpantun bersama Tusiran Seseno, kedai pantun untuk umum, orasi pantun, opera pantun, peluncuran buku Negeri Pantun, dan deklarasi Tanjungpinang sebagai Negeri Pantun.

Untuk dapat ikut beradu pantun gampang-gampang susah. Diperlukan latihan dan pembiasaan diri secara terus-menerus agar dapat lincah berbalas pantun. Kekayaan kosa kata, pengetahuan lingkungan, kecerdasan, dan kemampuan spontanitas, sangat diperlukan agar dapat berjaya dalam peraduan pantun (lomba berbalas pantun).

Acara peraduan pantun dapat dikemas dengan menghadirkan semacam moderator sebagai penengah. Dialah yang mengatur “jual-beli” pantun dua kelompok yang berbalas pantun. Acara dimulai dengan mempersilakan salah satu kelompok untuk “menjual” pantun (memulai mengucapkan pantun). Kelompok lawan akan “membeli” (membalas) pantun itu, dan saling berbalas pantun akan berlangsung untuk seterusnya sampai waktu yang ditentukan habis.

Di ruang pergaulan, seperti di kafe, kantin, pos ronda, dan tempat berkumpul warga lainnya, acara berpantun – yang tidak dilombakan -- dapat berlangsung tanpa moderator. Siapa saja boleh mulai melempar pantun, dan yang lain bisa berebut membalasnya, sehingga acara menjadi seru dan meriah. Sebab, kenakalan dan kejenakaan dapat muncul bebas untuk membuat suasana makin segar. Suasana semacam itulah yang sekarang banyak ditemukan di Kota Tanjungpinang.

Dengan tradisi berpantun yang makin begairah dan berakar seperti itu, pantun makin mantap menjadi identitas budaya Tanjungpinang. Dan, karena itulah, walikota Suryatati A. Manan, Asrizal Nur, Tusiran Suseno, Tejo Al-Habd, para sastrawan setempat lainnya, jajaran pejabat Pemkot, dan masyarakat Pulau Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), makin mantap untuk menyebut daerahnya sebagai Negeri Pantun. Dengan predikat tersebut, mereka bertekad untuk mentransformasikan nilai-nilai budaya pantun dalam kehidupan sehari-hari.

Tanjungpinang-Jakarta, Maret 2008

Daftar Pustaka

  • Harun, Jelani,  ”Manuskrip Panthong dari Sri Langka”, di www.usm.my/pantun/makalah/asp.
  • Hasanuddin WS, Prof., Dr., dkk.,  Leksikon Sastra Indonesia, Titian Ilmu, Bandung, cetakan pertama, 2004.
  • Herfanda, Ahmadun Yosi, “Era Baru Pantun, dari Kafe ke Pilkada”, Harian Republika, Minggu, 30 Maret 2008, halaman B3.
  • Hidayati, Inoer, Kumpulan Pantun untuk SD dan SMP, IndonesiaTera, Magelang, cetakan pertama, 2007.
  • Naisbitt, John, & Patricia Aburdene, Megatrend 2000, The New Direction for the 1990‘s, Megatrend, Ltd, New York 1990. Edisi ringkasannya dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penggebu Warta Ekonomi, Jakarta, cetakan keempat, Juli 1990.
  • Suseno, Tusiran, dkk., Butang Emas, Warisan Budaya Melayu Kepulauan Riau, Yayasan Pusaka Bunda, Tanjungpinang, cetakan pertama, 2006.
  • Zainal Abidil, Salmah, “Memperkasa Pantun Melayu”, Utusan Online, 28 Maret 2008.
  • Wawancara, observasi lapangan, dan berbagai sumber lain di internet.

______________________ 

Ahmadun Yosi Herfanda, lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958. Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-2 jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, mendirikan Creative Writing Institute (CWI).

Ahmadun juga sempat menjadi anggota Dewan Penasihat dan (kini) anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Tahun 2006 terpilih menjadi anggota DKJ, tapi kemudian mengundurkan diri. Tahun 2007 terpilih menjadi ketua umum Komunitas Cerpenis Indonesia (periode 2007-2010), dan tahun 2008 terpilih menjadi Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Dia juga tercatat sebagai sekretaris Yayasan Panggung Melayu. Sehari-hari kini ia menjadi redaktur sastra Harian Umum Republika Jakarta, dan tutor apresiasi serta pengajaran sastra Pusat Bahasa Depdiknas.

Selain puisi, Ahmadun juga banyak menulis cerpen dan esei. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri. Antara lain, Horison, Ulumul Qur‘an, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana (Brunei), antaologi puisi Secreets Need Words (Harry Aveling, ed, Ohio University, USA, 2001),  Waves of Wonder (Heather Leah Huddleston, ed, The International Library of Poetry, Maryland, USA, 2002), jurnal Indonesia and The Malay World  (London, Ingris, November 1998), The Poets‘ Chant  (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995).

Beberapa kali sajak-sajak Ahmadun dibahas dalam Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman (Deutsche Welle). Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989). Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura).

Sebagai sastrawan dan jurnalis, Ahmadun sering diundang untuk menjadi pembicara dan membaca puisi dalam berbagai seminar serta iven sastra nasional maupun internasional. Tahun 1998 ia diundang untuk membacakan sajak-sajaknya dalam Festival Kesenian Perak di Ipoh, Malaysia. Tahun 1997 ia menjadi pembicara dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) IX Padang. Tahun 1999 ia mengikuti PSN X di Johor Baharu, Malaysia, dan menjadi pembicara pada Pertemuan Sastrawan Muda Nusantara Pra-PSN di Malaka. Tahun 2002 ia menjadi pembicara dan membacakan sajak-sajaknya dalam festival kesenian Islam di Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir.

Kemudian, pada Agustus 2003 Ahmadun diundang untuk membacakan sajak-sajaknya dalam simposium penyair The International Society of Poets di New York, AS. September 2004 menjadi pembicara dalam PSN XIII di Surabaya. Mei 2007 menjadi pembicara dalam Pesta Penyair Indonesia 2007, Sempena The 1st Medan International PoetryGathering,  Taman Budaya Sumatera Utara, Medan.  Oktober  2005 dan Oktober 2007 menjadi pembicara dan ketua tim perumus Kongres Cerpen Indonesia (KCI) IV di Pekanbaru, dan KCI V di Banjarmasin. Januari 2008 menjadi pembicara dan ketua siding dalam Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kudus.

Buku-buku Ahmadun yang telah terbit adalah Sang Matahari (puisi, Nusa Indah, Ende, 1984), Sajak Penari (puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, Yogyakarta, 1991), Fragmen-Fragmen Kekalahan (puisi, Penerbit Angkasa, Bandung, 1996), Sembahyang Rumputan (puisi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1996),  Sebelum Tertawa Dilarang (cerpen, Balai Pustaka, Jakarta, 1997),  Ciuman Pertama Untuk Tuhan (puisi dwi-bahasa, Logung Pustaka, 2004), Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (cerpen, Being Publishing, 2004), Badai Laut Biru (cerpen, Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2004), dan The Worshipping Grass (puisi dwi bahasa, Bening Publishing, Jakarta, 2005).

Buku-buku terbaru Ahmadun yang sedang dalam proses terbit, antara lain Resonansi Indonesia (kumpulan puisi), Metafor Cinta, Dialektika Antara Sastra, Alquran dan Tasawuf (esei panjang), Kolusi (kumpulan cerpen) dan Koridor yang Terbelah (kumpulan esei). Sajak-sajak dan tentang dirinya dapat ditemukan di www.wikipedia.com, www.poetry.com, www.yahoo.com, www.google.com, dan www.cybersastra.net.  Kini tinggal di Vila Pamulang Mas Blok L-3 No. 9, Phone/Fax (62-21)-7444765, Pamulang, Ciputat 15415, Indonesia. Email: ahmadun21@yahoo.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it. Mobile: 081315382096.*

Sumber : www.negeripantun.com


[1] John Naisbitt & Patricia Aburdene, Megatrend 2000, The New Direction for the 1990‘s, Megatrend, Ltd, New York 1990. Edisi ringkasannya dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penggebu Warta Ekonomi, Jakarta, cetakan keempat, Juli 1990.

[2] Salmah Zainal Abidil, “Memperkasa Pantun Melayu”, Utusan Online, 28 Maret 2008.

[3] Diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Bunda bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tanjungpinang. Cetakan pertama, 2006.

[4] Tusiran Suseno dkk., Butang Emas, Yayasan Pusaka Bunda, Tanjungpinang, 2006, halaman 638.

[5] Tusiran Suseno dkk., opcit, halaman 639.

[6] Hasanuddin, WS, Prof. Dr., dkk., Titian Ilmu, Bandung, 2004, halaman 580-583.

[7] Hasanuddin, WS, Prof. Dr., dkk., opcit, halaman 580.

[8] Ibidem, halaman 581.

[9] Ahmadun Yosi Herfanda, “Era Baru Pantun, dari Kafe ke Pilkada”, Harian Republika, Minggu, 30 Maret 2008, halaman B3.

[10] Pernyataan ini disampaikan oleh Tusiran Suseno dan Suryatati A. Manan dalam Jumpa Pers di kampung nelayan Madung, Tanjungpinang, 16 Maret 2008.

[11] Diterbitkan oleh IndonesiaTera, Magelang, cetakan pertama 2007.

[12] Jelani Harun, ”Manuskrip Panthong dari Sri Langka”, di www.usm.my/pantun/makalah/asp.

[13] Nama kafe ini sebenarnya Nick Nack Café, tapi karena sangat sering dijadikan tempat berkumpul komunitas pantun di Tanjungpinang, orang menyebutnya sebagai Kafe Pantun.

[14] Ahmadun Yosi Herfanda, opcit.


Dibaca : 4.752 kali.

Tuliskan komentar Anda !