Jumat, 28 Agustus 2026 |Sabtu, 14 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
9.256
Kemarin
:
132.140
Minggu kemarin
:
178.006
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Artikel
03 juli 2008 09:15
Mooi Indie: Konstruksi Pencitraan Pariwisata Hindia Belanda
(Meneroka Sejarah Industri Pelancongan di Indonesia)
Oleh: Mahyudin Al Mudra, SH., MM.
Pengantar
Sebagai produk zaman modern, pariwisata dibawa ke Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia zaman kolonial) pada masa penjajahan Belanda. Awal mula industri pariwisata di Hindia Belanda ditandai dengan terbentuknya asosiasi yang mengatur lalu-lintas pariwisata bernama Vereeniging Toeristenverkeer in Nederlandsch Indie. Asosiasi ini dibentuk pada tahun 1908 oleh perwakilan berbagai bank, perusahaan asuransi, jawatan perkeratapian, serta maskapai pelayaran. Melalui asosiasi yang disubsidi oleh pemerintah ini, lahirlah kantor Official Tourist Bureau yang bertugas membangun kerjasama dengan biro-biro perjalanan terbesar zaman itu, serta membuka kantor perwakilan di seluruh Jawa dan luar negeri (Picard, 2006: 30).
Pelembagaan industri wisata yang ditandai dengan berdirinya Official Tourist Bureau tentu hanya satu dari sekian banyak hal lain yang turut mendukung pembangunan dan perkembangan dunia wisata masa itu. Pembangunan infrastruktur pariwisata lainnya, yang meliputi sarana transportasi baik di darat maupun laut, pembangunan gedung-gedung perhotelan, pengelolaan obyek-obyek wisata, hingga upaya mempromosikan obyek wisata menjadi bagian penting dalam laju perkembangan industri pariwisata pada masa ini. Sebagai sebuah embrio, berbagai infrastruktur primer ini telah memberikan pijakan yang cukup kuat bagi keberlangsungan industri pariwisata kemudian, bahkan hingga saat ini.
Kantor Official Tourist Bureau. Sumber: Hack & Wachlin, 2006: 82
Hindia Belanda awal abad ke-20 merupakan sebuah kawasan yang mengalami perkembangan pesat di segala bidang, terutama pembangunan sarana-sarana fisik di Pulau Jawa. Di bidang transportasi darat, misalnya, pembangunan rel kereta api dan Jalan Pos Besar yang menghubungkan Pulau Jawa dari ujung barat hingga ujung timur telah memangkas kesulitan mobilitas darat baik untuk keperluan perdagangan, industri perkebunan, pemerintahan, pos, maupun pariwisata. Berbagai fasilitas penginapan juga berkembang seiring dengan pertumbuhan kota-kota di kawasan Hindia Belanda.
Tentu saja harus segara disebutkan di sini, bahwa pembangunan industri pariwisata juga berkelindan dengan kepentingan kolonialisme Belanda, yaitu untuk menciptakan nuansa eksotis dari negeri jajahan. Proyek pariwisata di negeri terjajah ini tak bisa dilepaskan dari propaganda pemerintah Belanda untuk memperbaiki citra buruk kolonialisme yang tergambar jelas dalam rangkaian perang-perang penaklukan di Hindia Belanda, seperti Perang Jawa/Diponegoro (1825—1830), Perang Aceh (1873—1904), dan terakhir Perang Bali/Puputan (sekitar tahun 1906 dan 1908). Rekaman tragis berbagai macam peperangan itu menerbitkan beragam kritik dan menjadi sumber rasa malu bagi pemerintahan Belanda, di samping kekejaman masa tanam paksa (1830—1870). Industri pariwisata secara sadar digunakan oleh Belanda untuk memoles citra kekejaman pemerintah kolonial menjadi citra yang memuliakan masyarakat bumiputra. Periode politik etis yang diberlakukan sejak tahun 1901 serta konstruksi citra Mooi Indie (yang menjadi trade mark pariwisata di Hindia Belanda) kemudian menjadi proyek besar bagi pembalikan citra negeri jajahan Hindia Belanda yang rusuh, miskin, dan jauh dari peradaban modern.
Apabila dilacak lebih jauh, citra Mooi Indie sebetulnya merupakan kecenderungan umum masyarakat Eropa dalam memandang dunia yang lain (dunia Timur). Onghokham (1994) secara jelas mengatakan bahwa Mooi Indie merupakan bagian dari orientalisme, yaitu corak pandangan dan kreasi intelektual barat dalam “menciptakan” dunia Timur.
Menurut Onghokham, kreasi Mooi Indie bertolak belakang dengan realitas desa-desa di Jawa yang tidak tenang dan damai, melainkan rusuh dan penuh gejolak. Gerakan Samin dan Perang Jawa, misalnya, merupakan sebagian bukti dari ketidakteraturan tatanan kolonial. Dengan penggambaran Hindia yang molek, pemerintah Belanda hendak membekukan tatanan yang demikian: bangsa terperintah hidup dalam suasana tenang dan damai.
Tulisan ini berupaya mengkaji faktor-faktor yang mendukung lahirnya industri pariwisata pada masa kolonial Belanda. Dua faktor utama yang menurut hemat saya cukup memberikan andil besar adalah pembangunan sarana perhubungan yang memungkinkan terjadinya aktivitas melancong atau bertamasya (away from home) serta pengkonstruksian citra Hindia Belanda yang molek (Mooi Indie) yang cukup efektif untuk membuka mata dunia tentang eksotisme panorama alam, peninggalan sejarah, serta kehidupan sosial-budaya masyarakat Hindia Belanda.
Sarana Perhubungan yang Mencengangkan
Adalah Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1808—1811, yang mengimajinasikan terjalinnya rangkaian kota-kota di pesisir utara Jawa ke dalam satu jaringan jalan utama. Pembangunan jalan yang di kemudian hari dikenal dengan nama Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) itu dimaksudkan untuk menahan laju invasi Inggris dari arah laut utara (Bre Redana, 2008). Pembangunannya yang begitu cepat, dengan menerapkan sistem kerja paksa pada masyarakat pribumi telah memicu banyak kontroversi, apakah pembangunan sarana perhubungan ini layak dianggap sebagai satu bentuk “jasa” kolonialisme, atau sebaliknya?
Lepas dari persoalan kontroversi tersebut, pada kenyataannya sejak Jalan Raya Pos selesai dibangun, laju transportasi darat di pesisir utara Jawa meningkat tajam. Keberhasilan pembangunan jalan ini bahkan dianggap sebagai salah satu mukjizat abad ke-19, karena melalui ruas-ruas jalan yang keras ini berlalu-lalang berbagai macam kendaraan. Lalu lintas jalan makin padat dan teratur. Untuk menggambarkan keteraturan penggunaan jalan itu, buku-buku ajar sekolah dasar di Hindia Belanda menuliskan: “Sepanjang jalan itu, setiap 16 1/3 menit, ada sebuah pancang untuk menunjukkan jarak. Pada setiap pancang kelima, ada bangsal untuk mengganti kuda kereta surat pemerintah.” (Mrazek, 2006: 8).
“Mukjizat” lainnya lahir dari sebuah imajinasi tentang jalan besi: rel kereta. Pada tahun 1842, Kopiist, sebuah majalah yang terbit di Hindia Belanda telah mengkampanyekan pentingnya membangun jalur-jalur kereta di Pulau Jawa. Dalam terbitannya itu, majalah Kopiist menyajikan sebuah artikel tentang “jalur-jalur kereta uap dan gerbong-gerbongnya” (Ibid, hlm. 9). Secara meyakinkan Kopiist mengajukan fakta, bahwa:
“Kalau kami tidak keliru, Asia, sampai sekarang, tidak mempunyai jalan kereta api satu pun... Orang tahu betul fakta bahwa penduduk Jawa, sejauh menyangkut jumlah dan potensinya, tidak merata sebarannya. Di negeri seperti ini, digunakannya satu mesin uap saja, tentulah, akan membebaskan sejumlah besar tangan yang demikian mendesak dibutuhkan untuk pertanian kita di lokasi-lokasi lain,” (Ibid).
Melalui artikel itu, majalah Kopiist secara tepat telah menunjukkan bahwa transportasi darat dengan menggunakan mesin uap (kereta api) sudah saatnya dibangun di tanah Jawa. Alasannya sederhana, jumlah penduduk Jawa yang cukup besar dengan persebaran yang tidak merata, serta kebutuhan mendesak terhadap tenaga pertanian di berbagai daerah merupakan satu alasan yang cukup kuat untuk membangun jalur rel kereta. Dalam artikel yang sama, Kopiist juga menyebutkan bahwa medan untuk membangun jalur kereta tidaklah begitu sulit.
Seolah mengikuti alur logika serupa, Raja Nederland, Willem I, pada tahun yang sama (1842) telah mengeluarkan dekrit kereta api untuk yang pertama kalinya di Hindia Belanda. Dekrit tersebut menyebutkan:
“Guna memajukan transportasi produk dan benda lain dari Semarang ke Kedoe, Wilayah Vorsten Landen di Jawa, dan sebaliknya, akan dibangun sebuah jalur rel kereta api dari besi,” (Ibid, hlm. 20).
Pada perkembangannya, jasa kereta api tidak hanya memudahkan perhubungan untuk kepentingan produksi dan distribusi komoditas kolonial, melainkan juga jasa transportasi publik. Pada tahun 1904, sebuah komisi penyelidikan khusus pemerintah melaporkan bahwa jumlah penumpang kereta api di kelas satu (Eropa) naik sebesar 4.000 orang selama 3 tahun terakhir; di kelas dua (orang Eropa berpendapatan rendah dan kelas atas pribumi) jumlah penumpang naik 33.000; sementara di kelas tiga (pribumi biasa) kenaikannya mencapai 550.000. Angka terakhir ini begitu mencengangkan, sehingga komisi yang sama mengutus empat kondektur pribumi untuk “meneliti” alasan-alasan kaum pribumi biasa menumpang kereta api (Ibid, hlm. 17).
Hasil penelitian tersebut menyimpulkan, terdapat alasan yang sifatnya ekonomis, seperti pasar dan mencari kerja (69,5%), alasan berpergian yang sifatnya pribadi (30,5%), alasan kunjungan keluarga (20,8%), panggilan ke kantor pemerintah atau pengadilan (3,6%), kunjungan ke makam dan tempat suci lainnya (3%), serta sekedar bersenang-senang (3,1%). Secara umum, menurut penelitian tersebut, “semua pribumi sangat ingin menggunakan kereta dan trem untuk tujuan mereka sendiri”, dan tentu saja, sebagian di antaranya memiliki tujuan untuk berwisata (Ibid, hlm. 17—18).
Stasiun kereta api Tanjung Priuk. Sumber: Hack & Wachlin, 2006: 105
Sarana perhubungan lainnya yang juga tumbuh secara pesat adalah sarana perhubungan laut. Perhubungan laut begitu penting bagi pemerintahan kolonial tidak saja untuk pertahanan terhadap serangan/invasi lawan, melainkan juga untuk keperluan-keperluan ekonomi, seperti pengangkutan hasil-hasil perkebunan, peternakan, serta kepentingan pariwisata.
Perusahaan pelayaran kerajaan Belanda, KPM (Koninklijke Paketvaart Maatchappij), yang didirikan pada tahun 1888 berkembang begitu pesat dan mampu melayani kebutuhan pelayaran antarpulau di Hindia Belanda secara teratur (Lombard, 2000: 51). Hingga tahun 1927, KPM telah memiliki 136 kapal laut dan mengarungi seluruh kepulauan di Nusantara dan mancanegara. Di samping mengangkut para penumpang, KPM juga secara tetap mendistribusikan berbagai kebutuhan pokok ke daerah-daerah terpencil, di samping mengangkut berbagai komoditas ekspor dan impor (Shahab, 2005).
Jalinan sarana perhubungan antara darat dan laut ini telah membuka kemungkinan bagi aktivitas rekreatif, yaitu mengunjungi berbagai obyek wisata di Hindia Belanda, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Setelah sarana-sarana perhubungan itu siap menyokong arus pariwisata, maka tinggal satu jengkal lagi yang tersisa: menyiarkan kemolekan negeri bernama Hindia Belanda.
Konstruksi Pencitraan Hindia yang Molek
Pentingnya memeriksa kembali konstruksi pencitraan Hindia Belanda sebagai negeri yang indah, tenang, dan damai merupakan cara paling efektif untuk mengetahui bagaimana cara masyarakat Barat (non-pemerintah) dan pemerintah membangun akar-akar turisme di Hindia Belanda. Melalui berbagai macam buku, kartu pos, maupun pameran kolonial, Hindia Belanda mulai dikenal oleh masyarakat dunia.
Pengalaman Miguel Covarrubias yang sempat mengunjungi Pulau Bali dan akhirnya mengarang buku yang sangat terkenal, Island of Bali (terbit tahun 1937), dapat memberikan gambaran yang cukup memadai tentang pengaruh citra yang dibentuk melalui media cetak. Covarrubias, pelukis ternama dari Meksiko, mengunjungi Bali pada tahun 1930 setelah menyaksikan buku kumpulan foto tentang Bali yang dibuat oleh Gregor Krause (terbit pertama kali tahun 1922). Buku ini begitu menarik dan mampu menyajikan eksotisme masyarakat Bali, terutama karena menampilkan keindahan bentuk tubuh perempuan Bali (Picard, 2006: 39).
Seolah menegaskan kembali apa yang ditampilkan oleh Krause dalam bukunya, Covarrubias menulis:
“... kini semua orang tahu bahwa gadis-gadis Bali bertubuh indah dan bahwa penduduk pulau ini hidup seperti dalam komedi musikal, penuh dengan upacara-upacara aneh nan indah... ‘Sorga terakhir‘ yang baru ditemukan itu telah menjadi pengganti baru dari konsepsi romantis abad ke-19 tentang Utopia primitif itu...” (Ibid, hlm. 42).
Jauh hari sebelum kedatangan turis-turis pertama ke Bali, pulau yang kemudian dijuluki sebagai pulau dewata ini semula lebih dikenal sebagai daerah “barbar”, pemasok utama perdagangan budak, pembunuh para janda (yang dimasukkan ke dalam tungku api), dan penjarah kapal karam. Citra buruk tentang Bali kian mengkristal setelah terjadi perang puputan sekitar tahun 1906 dan 1908. Puputan merupakan istilah untuk menyebut heroisme orang Bali yang memilih mati berkalang tanah, daripada hidup dalam cengkeraman penjajah.
Puputan Badung dan Klungkung merupakan dua peristiwa yang sangat menggemparkan. Sumber tragedi sejarah itu dimulai sekitar awal abad ke-20, ketika sebuah kapal milik pedagang Cina terdampar di perairan Sanur. Sebagaimana aturan tradisional Bali, yaitu kapal yang karam menjadi milik penguasa setempat (hak tawan karang), maka kapal tersebut kemudian dirampas oleh Raja Badung. Kejadian itu dilaporkan oleh pemilik kapal kepada Pemerintah Belanda, dan kemudian menuntut ganti rugi yang tinggi pada Raja Badung (Ibid, hlm. 24).
Tuntutan tersebut dianggap tidak pantas, sehingga ditolak mentah-mentah. Penolakan itu dibalas dengan pendaratan pasukan Belanda pada tahun 1906. Serangan demi serangan yang dilancarkan oleh tentara Belanda memaksa Raja Badung mengambil keputusan: menyerah atau tetap melawan. Penyerangan tentara Belanda itu kemudian disambut dengan pemandangan yang aneh, yaitu arak-arakan besar yang dipimpin oleh raja dan pengikutnya. Sebuah adegan tragis pun terjadi. Melalui komando sang raja, secara serempak arak-arak besar tersebut menusukkan keris pada dada, membunuh diri, atau saling membunuh di antara mereka (Ibid).
Kegemparan yang ditimbulkan oleh penaklukan berdarah di Bali tersebut telah menjadi sumber rasa malu pemerintah kolonial. Agar kekejaman itu segera dilupakan orang, pemerintah kolonial berupaya menampilkan gambaran positif mengenai kebijakan-kebijakannya di Bali pasca-perang, yaitu pencitraan tentang pelestarian budaya Bali berikut promosinya melalui wisata (Ibid, hlm. 26).
Covarrubias dan Bali merupakan sebuah contoh yang gamblang bagaimana citra tentang Mooi Indie itu dibangun. Memboncengi keberhasilan revolusi cetak (printing revolution), imej tentang negeri Hindia Belanda yang misterius tapi memesona lambat laun terbangun dan tersebar melalui buku-buku, brosur wisata, maupun kartu pos.
Sebuah brosur wisata yang diterbitkan oleh KPM pada tahun 1914, mempromosikan tentang kemolekan Pulau Bali dengan tampilan yang cukup memikat: gambar tentang pemandangan hutan, pohon-pohon palem, dan bentangan sawah yang menghijau. Brosur itu berpesan:
“You leave this island with a sigh of regret and as long as you live you can never forget this Garden of Eden,” (dalam Vickers, 1989: 91).
Buku panduan wisata yang lebih tua bahkan terbit pada tahun 1786. Buku panduan ini ditulis oleh seorang bernama Hofhout dan diperuntukkan bagi para pegawai VOC yang baru tiba di Batavia. Buku ini memuat topografi kota Batavia dan sekitarnya, menampilkan obyek wisata pemandian air panas di Cipanas yang terletak sekitar 80 km arah selatan Batavia, serta informasi tentang keganasan penyakit tropis. Selain itu, buku ini juga berisi daftar kata bahasa Melayu yang berguna untuk percakapan-percakapan sederhana (Lombard, 2000: 50).
Selain brosur, perkembangan media komunikasi surat-menyurat juga ikut mengukuhkan citra Mooi Indie itu. Lewat kartu pos —yakni selembar kartu bergambar yang berisi ruang untuk menuliskan pesan pendek, alamat, serta prangko— beragam citra kemolekan Hindia Belanda disebarkan kepada sanak saudara maupun kenalan di seluruh dunia.
Dalam catatan sejarah, kartu pos mulai dikenal di Belanda kira-kira tahun 1871. Di negeri jajahannya, Hindia Belanda, kartu pos baru dikenal beberapa tahun kemudian. Promosi penggunaan kartu pos secara massal dapat dilihat dalam Java Bode, sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Kota Batavia. Pada edisi 16 Desember 1892, Java Bode mengumumkan sebuah promosi dari perusahaan penerbitan Visser & Co. yang memproduksi kartu pos baru. Dalam promosi itu disertakan keterangan tentang fungsi kartu pos: “kartu pos dapat digunakan untuk mengirimkan pesan sebagaimana populer dilakukan di negeri-negeri Eropa,” (Haks & Wachlin, 2004: 16).
Pada abad ke-20, perkembangan penerbitan kartu pos sangat terbantu oleh perkembangan dunia fotografi karena sebagian besar gambar yang dicetak ke dalam kartu pos bersumber dari foto. Kala itu, foto-foto tentang masyarakat asli (natives), kehidupan keseharian maupun ritual masyarakat yang dianggap eksotik, serta keindahan panorama alam menjadi sesuatu yang sangat populer. Hal ini karena sebagian besar masyarakat Eropa (sebagai pangsa pasar foto maupun kartu pos) telah jenuh dengan kehidupan modern yang koyak-moyak akibat Perang Dunia I, sehingga mereka mengimajinasikan negeri-negeri yang eksotik, indah, dan masih perawan (Ibid, hlm. 16).
Dalam buku Indonesia 500 Early Postcards, Haks dan Wachlin menampilkan beragam gambaran tentang Hindia Belanda. Buku ini secara khusus memilah 500 kartu pos ke dalam pembagian tema berdasarkan geo-budaya, antara lain kartu pos-kartu pos yang menggambarkan alam, manusia, dan kebudayaan di wilayah Sumatra, Batavia (Jakarta), Jawa, Bali dan Sumbawa, Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), serta New Guinea (Papua) dan Maluku.
Kartu pos-kartu pos yang telah berusia lebih dari satu abad tersebut saat ini memberikan kesan yang begitu mendalam tentang Hindia Belanda masa lalu, salah satunya kesan tentang kemolekan Hindia Belanda. Kartu pos berjudul “Groet uit Sumatra” (Greetings from Sumatra), misalnya, menggambarkan pedalaman Pulau Sumatra dengan tampilan rumah panggung beratap rumbia, perempuan yang sedang menampah beras, harimau, gerobak kerbau, dan gambar seorang lelaki dengan ikat kepala yang khas. Kehidupan masyarakat Batak, Melayu, dan Minangkabau juga tergambar dalam berbagai kartu pos yang menyangkut tema tentang Sumatra.
Kartu pos berjudul Groet uit Sumatra (Greetings from Sumatra). Sumber: Hack & Wachlin, 2006: 31
Kesan tentang perempuan Hindia Belanda yang sensual nampak dalam gambar perempuan Jawa yang berdada montok, rambut disanggul, dan memakai kemben. Begitu pula sensualitas perempuan Bali yang pernah dijuluki sebagai “Pulau Dada Telanjang” nampak begitu nyata melalui empat orang perempuan Bali dengan kain yang melilit sebatas perut, bertelanjang dada, dan sedang menyunggi tampah.
Perempuan Jawa dan Bali. Sumber: Hack & Wachlin, 2006: 194 & 220
Dalam ranah kesenian, gambaran tentang tari-tarian seperti Tari Perang di Nias, Tari Topeng di Jawa, maupun tari Bali menjadi gambar yang cukup menarik perhatian. Perkembangan kawasan-kawasan di Hindia Belanda juga tampil dalam berbagai kartu pos. Pusat-pusat fasilitas umum, seperti kantor pos, pasar, rel dan stasiun kereta api, jaringan telepon, pusat-pusat kebudayaan (teater), serta hotel memberi gambaran luas tentang “kemajuan” yang telah dicapai oleh Hindia Belanda kala itu.
Visualisasi yang cukup detail mengenai kondisi Hindia Belanda melalui berbagai kartu pos telah memberikan gambaran yang cukup memadai untuk membayangkan eksotisnya sebuah negeri jauh bernama Hindia Belanda. Dengan demikian, Hindia Belanda merupakan imajinasi paling ideal bagi masyarakat Eropa: panorama alam yang indah, desa-desa yang tenang, ragam kesenian yang semarak, serta perempuan-perempuan sensual yang bersanding dengan kemajuan-kemajuan fisik yang dibangun dengan cara Eropa.
Memang harus segera disebutkan, bahwa citra eksotis Hindia Belanda tidak hanya dikonstruksi melalui media cetak, melainkan juga melalui berbagai macam Pameran Kolonial, salah satunya Pameran Kolonial Internasional di Paris, Prancis pada tahun 1931. Di dalam Pameran Kolonial Internasional itu, para penguasa negeri jajahan —seperti Inggris, Prancis, Belanda, dan lain-lain— berlomba-lomba menunjukkan keunikan negeri-negeri jajahannya, misalnya dengan cara menampilkan replika atau tiruan pondok beratap rumput dari Oceania atau tiruan candi dari Kamboja (Gouda, 2007: 345).
Melebihi anjungan pameran negara-negara lainnya, anjungan Belanda menampilkan bangunan dengan ornamen atap ala Minangkabau, digabungkan dengan gerbang depan yang melambangkan pura Hindu, dan pada pintu masuknya dihiasi dengan patung kerbau liar dan ular naga Bali yang terkesan mistis. Di dalam anjungan itu, masakan khas seperti nasi dan segala macam lauk-pauknya yang pedas, lengkap dengan seorang pelayan (djongos) menyajikan hidangan dengan tata cara tradisional Jawa. Tak hanya itu, para penari Bali juga didatangkan untuk mengundang decak kagum masyarakat Eropa. Secara khusus, anjungan ini seolah menjadi cara Kolonial Belanda untuk menunjukkan kemampuannya dalam membangun kesatuan politik dari berbagai etnis, etnis, dan agama yang tumbuh subur di kepulauan Hindia Belanda (Ibid, hlm. 347 & 352).
Sambutan meriah terhadap penampilan anjungan Belanda ini datang dari berbagai kalangan. Begitu memikatnya anjungan Belanda dalam pameran tersebut telah memantik sebuah liputan yang cukup hiperbolis dalam koran L‘Echo de Paris:
“Jika Anda berbelok ke arah berlawanan dari Angkor Wat, sebuah bangunan luar biasa menjulang ke atas di depan Anda, dan Anda akan merasa terangkat melayang-layang, seperti dibawa oleh keajaiban.
...
Di sini, kita berada di Insulinde, di sebelah kita di Indo-China. Insulinde adalah salah satu tempat paling misterius di dunia: arsitektur, seni patung, musik—semuanya perawan dan asli bagi mata Dunia Barat,” (Ibid, hlm. 366).
Insulinde adalah kata lain dari Hindia Belanda, sebuah negeri jauh nan eksotik yang telah ditaklukkan oleh peradaban modern (Belanda). Sebagai penjajah yang “manusiawi”, Belanda tidak hanya ingin dikenal sebagai penguasa rempah-rempah dan komoditi perkebunan lainnya, melainkan juga pelestari dan pengembang kebudayaan Timur yang masyhur.
Di sinilah letak politik pencitraan tentang Hindia Belanda yang molek menemukan tujuan politiknya, bahwa kolonialisasi di Hindia Belanda tidak (hanya) berlangsung dalam suasana perang, melainkan “relatif” damai, bahkan cenderung mendorong dan membangkitkan kebudayaan pribumi. Anggapan-anggapan tentang eksotisme alam, masyarakat, dan kebudayaan Hindia Belanda yang terekam dalam banyak literatur cetak menemukan perwujudannya yang “riil” dalam Pameran Kolonial Internasional tersebut.
Tak dapat dipungkiri, konstruksi pencitraan yang dilancarkan baik melalui media cetak maupun pameran kolonial ini telah memberikan dampak yang nyata bagi kunjungan-kunjungan awal pariwisata ke kawasan Hindia Belanda. Selain kunjungan-kunjungan wisatawan dari luar itu, patut juga diketengahkan aktivitas tamasya masyarakat Eropa yang tinggal di Hindia Belanda.
Geliat Pariwisata Awal
Pertumbuhan kota-kota di Hindia Belanda akibat penjajahan tak pelak turut berimbas pada ciri khas kehidupan ala Eropa di negeri jajahan ini. Seperti telah disebutkan, sarana perhubungan darat modern yang sebelumnya tidak dikenal, pada awal abad ke-20 telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Hindia Belanda. Demikian juga pemanfaatan waktu luang (leisure time), liburan, serta kegiatan tamasya telah menjadi bagian yang tak dapat dielakkan lagi.
Klub-klub sosial yang berorientasi pada hiburan, seperti Societeit Harmonie, yang didirikan pertama kali di Batavia tahun 1814 merupakan salah satu tempat favorit untuk menikmati hiburan. Di dalam Societeit Harmonie, para anggotanya yang merupakan kalangan kelas atas di Hindia Belanda dapat bermain kartu, bermain bowling, ataupun sekedar berdansa(Mrazek, 2006: 68).
Gedung Societeit Harmonie. Sumber: Hack & Wachlin, 2006: 93
Aktivitas berkeliling kota dengan mengendarai motor juga telah menjadi salah satu alternatif untuk bertamasya. Sebuah kelompok pengendara motor di Batavia bernama Motor-Wielrijders Bond (persatuan pengendara sepeda motor), bahkan menerbitkan media berkala dengan nama Magneet. Media inimerupakan sarana resmi untuk memberitakan kisah-kisah perjalanan yang mereka lakukan. Dalam salah satu edisi, mereka menceritakan tentang “Perjalanan pertama klub kami”:
“Hari minggu pagi yang indah, 28 Desember [1913]... Tepat menjelang setengah tujuh, motor kami bergerak... kelompok yang gembira itu melesat, melewati pemukiman Perancis, lewat Tanah Abang melalui Koningsplein menuju Matraman ke Meester... Lewat Goenoeng Sari, kelompok bahagia ini menarik, memikat banyak mata, kemudian ke kota lama, dan, keluar dari situ, masih dalam kecepatan sedang, menuju Versteeg, di mana disediakan bir dingin...” (Ibid, hlm. 29).
Tulisan bergaya feature ini begitu mengesankan. Bukan hanya karena gaya tuturnya yang memikat dan khas reportase perjalanan, melainkan juga karena mampu menyuguhkan gambaran “riil” tentang pemanfaatan waktu luang. Membaca reportase ini, kita dapat membayangkan sekumpulan pemilik motor yang notabene masyarakat Eropa berangkat pagi-pagi dari rumah mereka untuk memanfaatkan hari libur (Minggu) dengan kegiatan touring: menikmati mulus dan lengangnya jalan-jalan di Batavia, kemudian istirahat sembari minum bir dingin. Pada terbitan-terbitan lainnya, Magneet juga menceritakan kunjungan klub motor ini ke Buitenzorg (Bogor), makan-makan di Restaurant Rikkers, serta menyewa Klubhotel di dekat Cipanas (Ibid, hlm. 30).
Rekaman perjalanan wisata lainnya ke kawasan Hindia Belanda, terutama ke Pulau Bali, dilakukan oleh kalangan kelas atas baik dari Amerika, Eropa, maupun Australia dengan waktu perjalanan sekitar 6 minggu. Pada tahun 1916, perjalanan dari Australia ke Pulau Bali melalui Pantai Barat Amerika, via Jepang, Hongkong, dan Singapuramemerlukan biaya sebesar ₤62 mata uang Australia. Apabila melalui Pantai Timur Amerika via Eropa (Genoa atau Marseilles) wisatawan harus membayar sekitar ₤103. Pada tahun 1930, pelayaran pertama yang mengantarkan Covarrubias melancong ke Bali telah mengganti rute perjalanan dari New York via Terusan Suez, mengarungi Samudra Pasifik, Laut Cina, kemudian ke Surabaya dan berakhir di Buleleng (Bali) (Vickers, 1989: 96).
Pelayaran kapal yang membutuhkan waktu cukup lama telah memberikan tempo yang cukup untuk membaca banyak hal tentang Bali ataupun menggosipkannya. Sehingga, kedatangan mereka ke pulau ini bukan dengan pikiran kosong, melainkan penuh dengan ekspektasi. Para wisatawan ini menyewa mobil untuk mengantarkan mereka ke KPM‘s Bali Hotel, hotel pertama yang dibangun pada tahun 1925. Wisatawan yang menginap di hotel ini dihibur oleh para penari Bali serta disuguhi masakan dari nasi dan beragam makanan lainnya. Para turis ini, betul-betul memanfaatkan kunjungannya untuk membuktikan imajinasi mereka tentang eksotisme Bali yang telah mereka gosipkan dan peroleh dari buku-buku maupun brosur wisata (Ibid, hlm. 97).
Data kunjungan turis ke Bali pada tahun 1930 menyebutkan, terdapat sebanyak 100 turis berkunjung ke Bali tiap bulannya. Jumlah ini meningkat menjadi 250 orang per bulan pada tahun 1940 (Ibid). Sementara data dari Official Tourist Bureau mencatat, sebanyak 213 wisatawan datang ke Bali pada tahun 1924. Angka itu terus meningkat hingga mencapai 1.428 pengunjung pada tahun 1929. Setelah itu, selama beberapa tahun tidak terjadi peningkatan kunjungan akibat kemelut ekonomi dunia. Baru pada tahun 1934 angka kunjungan itu naik lagi hingga mencapai 3.000 pengunjung (Picard, 2006: 33).
Penutup
Perkembangan dunia wisata pada masa kolonial sebagaimana diuraikan di atas memberikan pemahaman berharga bagi pengelolaan pariwisata masa kini. Jalinan utuh antara kemajuan sarana-sarana perhubungan, akomodasi wisatawan, serta promosi dan konstruksi imej eksotisme (Mooi Indie) merupakan faktor-faktor penentu bagi berkembangnya pariwisata di Hindia Belanda. Kita dapat belajar banyak mengenai penyediaan sarana perhubungan, pembangunan fasilitas dan akomodasi bagi wisatawan, serta promosi obyek wisata yang menonjolkan kemolekan obyek-obyek wisata di Indonesia.
Dalam batas-batas tertentu, kita dapat meniru hasil kreasi kolonial ini. Selain memajukan sarana-sarana perhubungan dan akomodasi yang memadai untuk wisatawan, perspektif Mooi Indie masih sangat diperlukan untuk mempromosikan obyek-obyek wisata di seluruh Indonesia. Pandangan-pandangan miring tentang Indonesia yang rusuh dan penuh teror dapat dibalikkan dengan realitas pariwisata yang indah, nyaman, dan berkesan. Sebagaimana dilakukan oleh pemerintah kolonial, pencitraan melalui pariwisata menjadi alat yang cukup memadai untuk membalikkan realitas buruk kolonialisme.
Perspektif Mooi Indie juga cukup tepat dengan perkembangan dunia wisata yang mengarah pada pariwisata budaya, dimana keindahan alam dipadukan dengan khazanah tradisi, kesenian, dan upacara-upacara adat untuk menyuguhkan pengalaman berwisata yang memiliki wawasan kebudayaan. Dengan perspektif Mooi Indie, khazanah kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia dapat dikemas menjadi obyek wisata yang eksotik.
Daftar Pustaka
Burns, Georgette Leah. 2004. “Anthropology and Tourism: Past Contributions and Future Theoretical Challenges”, dalam Anthropological Forum Vol. 14, No. 1, March 2004.