Close
 
Senin, 22 September 2014   |   Tsulasa', 27 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.599
Hari ini : 12.385
Kemarin : 18.381
Minggu kemarin : 144.183
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.145.910
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

19 agustus 2008 01:51

Pengembangan Potensi Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang

(Studi Kasus di Desa Cangkuang Kecamatan Leles Kabupaten Garut Jawa Barat)
Pengembangan Potensi Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang
Candi Cangkuang

Oleh: Dedep Nurhasan

Abstract

Garet Regency is a tourist destination area that has many tourism area spread over the district. One of tourism object in Garut Regency is the Cangkuang Natural and Cultural Tourism object located in Cangkuang Village, Leles district. it has an ancient temple, traditional settlement and scared grave.

The objective of this study is (1) to identify tourism potential of Cangkuang Natural and Cultural Tourism Object. (2) to identify people and tourists perception (3) to identify people participation in developing tourist object and (4) to identify development indication that can be used in the future. it is used survey method by use scoring system, giving score in each research variable.

Based on the result of the study on tourism potential of the Cangkuang Natural and Cultural Tourism Object and people participation, the location is directed as natural and cultural tourism s well as water tourism such has fishing, rowing and swimming. Whereas based on the tourist perception it need to be held restoration and adding facility and infrastructures that support it development efforts.

Pendahuluan

Industri pariwisata merupakan suatu industri yang kompleks sifatnya dan perlu dukungan sektor lain. Pemanfaatan sumberdaya alam, baik sumber daya alam maupun buatan yang terdapat pada suatu objek wisata dapat ditingkatkan nilainya jika paket-paket wisata dikemas dengan menajemen yang balk dan profesional, serta didukung sarana dan prasarana yang memadai. Kebijaksanaan pemerintah daerah sangat penting perannya dalam menunjang keberhasilan pembangunan pariwisata daerah nasional.

Kepariwisataan dalam pembangunan wilayah akan memberikan sumbangan yang besar apabila dikelola dengan balk dan profesional, karena selain memberikan sumbangan pendapatan bagi wilayah yang bersangkutan, juga dapat memacu pertumbuhan wilayah serta peningkatan terhadap bidang-bidang lainnya, seperti pertanian, petemakan, kerajinan rakyat yang diperlukan untuk menunjang kegiatan pariwisata.

Objek wisata Alam dan Budaya Cangkuang memiliki daya tarik sebuah danau, Candi kuno abad ke VII, kampung adat Beserta makam keramat. Sebagai tempat rekreasi atau wisata, tidak hanya mengandalkan kondisi daya tarik yang terdapat di objek tersebut, tetapi juga dilengkapi oleh sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan wisata. Didukung masyarakat sekitar, pengembangan potensi Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang dimaksudkan untuk menarik minat wisatawan untuk datang ke objek wisata tersebut.

Permasalahan

  • Bagaimana potensi kepariwisataan yang terdapat di Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang.
  • Sejauh mana persepsi dan partisipasi masyarakat sekitar Objek Wisata dan Budaya Cangkuang.
  • Bagaimana persepsi wisatawan (pengunjung) tentang fasilitas di objek wisata, kebersihan, keamanan dan pelayanan di objekwisata ini.
  • Bagaimana pengembangan yang dapat dilakukan pads Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang untuk masa yang akan datang.

Tujuan

Studi ini bertujuan untuk :

  • Mengetahui potensi kepariwisataan Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang.
  • Mengetahui persepsi dan partisipasi masyarakat sekitar objek wisata tefiadap keberadaan Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang.
  • Mengetahui persepsi wisatawan tentang fasilitas di objek wisata, kebersihan, keamanan dan pelayanan di objek wisata saat ini.
  • Mengetahui kemungkinan pengembangan yang dapat dilakukan pada Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang untuk masa yang akan datang dan manfaatnya terhadap peningkatan pendapatan masyarakat wilayah Kecamatan Leles Kabupaten Garut.

Tinjauan Pustaka

Kajian tentang pariwisata merupakan objek yang menarik dalam studi Geografi karena terdapat hubungan pemikiran tentang ruang, Iingkungan dan waktu dimana aneka bentuk pada kehidupan Berta penghidupan manusia tergantung pada darahnya masing­-masing (Syarifudin, 1991 dalam Purwanto, 1993).

Pembangunan kepariwisataan diarahkan sebagai upaya peningkatan pariwisata menjadi sektor andalan yang mampu menggalakkan kegiatan sektor lain yang terkait. Sehingga lapangan kerja, pendapatan masyarakat, pendapatan daerah, dan pendapatan negara, serta penerimaan devisa meningkat. Upaya pengembangan dan pendayagunaan berbagai potensi kepariwisataan. Perlu diikuti dengan memelihara kepribadian bangsa serta kelestarian fungsi mutu Iingkungan (Tadjuddin dan Sujali, 1989).

Agar dalam pengembangan pariwisata sebagai suatu industrl sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki baik ditinjau dad segi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hidup maka perencanaan merupakan aspek panting dalam pengembangan pariwisata. Perencanaan diperlukan karena mempunyai peran. Memaksimalkan manfaat dan meminimalkan dampak negatif yang dihasilkan suatu pembangunan pengembangan pariwisata. Tanpa adanya perencanaan dapat mengarah pada perkembangan yang tidak diinginkan seperti penggunaan tata ruang yang tidak sesuai, kerusakan lingkungan, perkembangan sektor-sektor kegiatan yang tidak seimbang, terciptanya masalah-masalah sosial, dan lain-lain (Iskandar, 1998).

Dalam memilih dan menentukan suatu potensi objek wisata yang pantas untuk dikembangkan perlu memperhatikan beberapa hal:

Seleksi terhadap potensi, hal ini dilakukan untuk memilih dan menentukan objek wisata yang memungkinkan untuk dikembangkan sesuai dengan ketersediaan dana.

  • Evaluasi letak potensi terhadap wilayah, pekerjaan ini untuk mendapatkan informasi tentang jarak antar potensi, sehingga perlu adanya peta potensi objek wisata. Dari peta ini dapat diperoleh informasi yang dapat digunakan untuk menentukan potensi yang cukup sesuai untuk dikembangkan (Sujali, 1989).
  • Dalam mendukung upaya pengembangan kepariwisataan salah satu usahanya adalah dengan cara mempermudah pencapaian ke objek wisata dan memperpendek jarak tempuh antarobjek.

Akomodasi dan fasilitas pendukung seperti fasilitas perhotelan rumah makan, pelayanan umum seperti bank, telepon, kantor pos, dan lain sebagainya di daerah objek yang dapat memberikan kemudahan-kemudahan bagi wisatawan, juga infrastuktur.(sarana dan prasarana penunjang) seperti jalan, tempat parkin, stasiun, terminal, dan lain-lain juga merupakan aspek pariwisata yang perlu diperhatikan.

Pembahasan

Desa Cangkuang terletak di kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Berada 3 Km dan kota Leles dan desa ini terdapat obyek Candi, Situ, Makam Kramat dan Kampung Adat Pulo. Kesemuanya terletak di sebelah timur kantor Desa Cangkuang.

Pengembangan pariwisata tidak lepas dari keterlibatan masyarakat sekitar. Keterlibatan masyarakat sekitar objek wisata merupakan salah satu faktor pendukung dalam upaya pengembangan. Aspek partisipasi masyarakat sekitar objek wisata terhadap pengembangan objek wisata ini meliputi: keikutsertaan masyarakat sekitar terhadap perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan pelestarian objek. Dalam menentukan partisipasi masyarakat dibagi ke dalam empat tingkatan yaitu: partisipasi sangat tinggi, tinggi, sedang, dan rendah.

Berdasarkan hasil yang diperoleh maka tingkat partisipasi masyarakat desa Cangkuang terhadap Pengembangan Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang yang paling tinggi adalah partisipasi dalam hal pemanfaatan sebesar 31,6 % kemudian partisipasi dalam hal perencanaan sebesar 28,4% kemudian partisipasi dalam hal pelestarian sebesar 25,6 % dan yang paling rendah partispasinya dalam hal pelaksanaan sebesar 14,2 %.

Dengan diketahuinya tingkat partisipasi masyarakat akan berpengaruh terhadap upaya pengembangan objek wisata itu sendiri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengembangan objek wisata yaitu: tingkat pendidikan, jarak antara objek wisata dengan tempattinggal, sarana infrastruktur.

Persepsi masyarakat sekitar objek wisata, tentang perkembangan jumlah pengunjung, mereka menyatakan semakin bertambah yakni 70,3%, 6,45% menyatakan menurun, 12,2% responden menyatakan tetap dan 10,9 menyatakan tidak tahu. Adanya penambahan tingkat kunjungan ke objek wisata ini menunjukkan adanya perkembangan dan obyek wisata dan ini akan berpengaruh terhadap tingkat pendapatan masyarakat sekitar obyek.

Persepsi masyarakat jika ada perencanaan pengembangan objek wisata, kebanyakan responden menjawab sangat setuju. Responden yang menyatakan tidak setuju 1,9%, responden yang menyatakan kurang setuju 11,6%, responden yang menyatakan setuju 34,2% dan responden yang menyatakan sangat setuju 52,3%. Dengan banyaknya masyarakat yang setuju terhadap pengembangan objek wisata ini maka merupakan suatu potensi yang dibutuhkan oleh pihak pengelola, karena dengan adanya persetujuan masyarakat sekitar objek wisata maka dalam pelaksanaannya tidak akan mengalami kendala.

Persepsi masyarakat tentang keamanan, kebanyakan responden menjawab sangat aman. Kondisi ini merupakan suatu peluang bagi pihak pengelola dalam upaya melakukan pengembangan objek wisata.

Persepsi masyarakat sekitar objek wisata tentang manfaat dengan adanya objek wisata ini kepada masyarakat sekitar ini maka pengembangan objek wisata ini perlu dikembangkan karena apabila objek wisata ini berkembang maka manfaat bagi masyarakat sekitar akan menjadi besar.

Persepsi masyarakat sekitar objek wisata tentang dengan adanya objek wisata ini membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar, merupakan suatu keuntungan bagi masyarakat itu sendiri maupun bagi pemerintah daerah. Terserapnya tenaga keija akan menurunkan tingkat pengangguran dan mendatangkan pendapatan. Rencana pengembangan diharapkan akan menyerap tenaga yang lebih banyak, sebab apabila suatu objek wisata sudah berkembang, tidak mustahil akan membutuhkan tenaga kerja baik itu dibidang industri,jasa maupun akomodasi.

Persepsi masyarakat tentang adanya objek wisata menyebabkan pendapatan masyarakat bertambah, responden kebanyakan menjawab bertambah. Bertambahnya pendapatan akan meningkatkan kesejahteraan baik dad segi sosial, ekonominya serta mendorong terhadap pembangunan daerah.

Persepsi masyarakat sekitar objek wisata tentang hubungan atau kerjasama antara masyarakat sekitar dengan pihak pengelola, kebanyakan responden menjawab saling kerjasama. Adanya saling kerjasama antara pihak pengelola dengan masyarakat sekitar objek wisata, akan mendukung upaya pengembangan. Adanya kerjasama secara tidak langsung maupun langsung masyarakat ikut serta dalam upaya pengembangan. Masyarakat akan merasa memiliki dan turut menjaga kelestarian objek wisata.

Arahan Pengembangan

Untuk menentukan arahan pengembangan pariwisata di suatu wilayah/objek wisata terlebih dahulu harus diketahui karakteristik kepariwisataan di wilayah tersbut. Karakteristik kepariwisataan dapat diidentifikasi melalui analisis SWOT. Analisis SWOT (Strenght, Weaknesses, Oppportunities, Threats) merupakan cara untuk menemukan dan mengenali karakter wilayah secara rinci dari berbagai faktor tinjauan untuk menjadikan pijakan bagi rencana-rencana pengembangan program yang sesuai dengan kondisi wilayah.

a. Kekuatan (Strenghts)

Kekuatan adalah hal-hal yang dimiliki oleh Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang dan sekitamya (Kabupaten Garut) yang merupakan kelebihan komponen produk wisata dan aspek-aspek yang menjadikan daerah ini layak untuk mengembangkan objek wisatanya dengan memanfaatkan Kekuatan tersebut. Dalam hal ini Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang dan sekitarnya (Kabupaten Garut) memiliki potensi atau kekuatan antara lain:

  • Berpotensi tinggi untuk dikembangkan sesuai dengan hasil analisis skoring yang menggunakan variabel ukuran baku untuk pengembangan wisata alam.
  • Terletak pada topograf dataran yang relatif landai, dengan areal kepariwisataan terutama berkaitan dengan wisata air, seperti pemancingan dan dayung. Daerah ini beriklim tropis yang menurut Oldeman termasuk ke dalam tipe iklim C2 yaitu mempunyai 6 bulan basah berturut-turut dan mempunyai 3 bulan kering berturut-turut dengan rata-rata curah hujan pertahun adalah 2048.5 mm. Suhu udara rata-rata harian 27°C, sehingga kegiatan wisata dapat dilakukan sepanjang tahun.
  • Situ atau danau Cangkuang yang mempunyai debit air yang relatif konstan yang 8.012 liter /detik yang berasal dari sumber mata air Cicapar dan menjadi tampungan air dar beberapa sungai. Dengan melihat keadaan debit air yang konstan ini merupakan suatu potensi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagal wisata air seperti wisata pemancingan dan dayung, debit air yang konstan dan bersih yang bersumber dari mata air Cipanear ini juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk kebutuhan pariwisata dan irigasi.
  • Secara geografis Desa Cangkuang yang berada di Kecamatan Leles terletak tidak jauh dari pusat kota Garut yaitu 16 km serta jarak dari jalan propinsi yang menghubungkan ibu kota propinsi dan kabupaten Garut yang berjarak 3 km merupakan faktor yang dapat mendukung pengembangan objek tersebut.
  • Sistem transportasi yang baik berarti aksesibilitas di daerah dikatakan baik, yakni tersedianya sarana angkutan umum baik dari ibu kota propinsi, ibu kota kabupaten maupun ibu kota kecamatan akan mendorong dalam upaya pengembangan kepariwisataan.
  • Kondisi jalan yang menghubungkan objek wisata ke Ibu kota Kabupaten dan sekitamya hampir seluruhnya beraspal, serta terbukanya jalur alternatif yang menghubungkan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung yang melewati lokasi objek wisata Cangkuang.
  • Semua kecamatan di Kabupaten Garut sudah dapat dijangkau oleh jasa pos dan telepon dengan kapasitas yang memadai.
  • Hampir seluruh kecamatan sudah dialiri aliran listrik untuk memenuhi penerangan dan kebutuhan lain yang dapat mendorong pengembangan pariwisata.
  • Ketersediaan fasilitas akomodasi yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan, seperti hotel, penginapan, dan rumah makan.
  • Sikap masyarakat yang mendukung terhadap upaya pengembangan objek wisata ke arah yang lebih baik, dengan adanya partisipasi masyarakat terhadap objek wisata, seperti ikut memelihara kelestarian objek wisata, menjaga keamanan di sekitar objek wisata. Tersedianya tenaga kerja lokal yang dapat digunakan atau dikerjakan oleh pihak pengelola apabila objek tersebut membutuhkan tenaga kerja.

b. Kelemahan (Weakness)

  • Status pemilikan tanah di sekitar objek wisata bervariasi sehingga apabila diadakan perluasan objek wisata maka memerlukan upaya pembebasan tanah dan tentunya diperhitungkan biaya ganti rugi.
  • Masih terdapatnya sarana dan prasarana yang sangat dibutuhkan untuk menunjang pengembangan pariwisata yang belum memadai.
  • Kurangnya fasilitas yang terdapat di objek wisata, seperti fasilitas kebersihan, penerangan (lampu), tempat duduk (bersantai). Sehingga perlu diadakan penambahan fasilitas.

c. Peluang (Opportunities)

  • Kondisi air yang terdapat di situ Cangkuang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih. Di samping ketersediaan air sangat mendukung dalam pengembangan pariwisata air seperti wisata pemancingan dan wisata dayung, sehingga akan menambah daya tarik yang tersendia bagi wisatawan. Dukungan Pemerintah Daerah Tingkat II Garut terhadap pengembangan Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang dengan dijadikannya sebagai objek wisata primadona setelah objek Wisata Cipanas.
  • Keterkaitan dengan objek wisata yang ada di sekitar lokasi penelitian relatif dekat (kurang dad 75 km). Dengan dekatnya jarak antar objek wisata ini merupakan suatu potensi dalam upaya pengembangan.
  • Tersedianya tenaga kerja lokal dan tingkat sosial ekonomi masyarakat sekitar objek wisata yang cukup tingi, kondisi keamanan di lokasi objek wisata yang memberikan rasa aman bagi wisatawan akan mendukung terhadap upaya pengembangan objek wisata.
  • Kemajuan teknologi transportasi mendukung dan mendorong mobilitas manusia untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Sistem jaringan transportasi yang sudah terencana yang menghubungkan objek wisata dengan daerah sekitamya.
  • Lokasi yang strategis karena dekat dengan jalan propinsi dan pusat pertumbuhan Garut Utara yang merupakan pusat pertumbuhan, perdagangan, jasa, dan industri yang akan mendorong terhadap pengembangan daerah.
  • Persepsi dan partisipasi masyarakat yang mendukung terhadap pengembangan objek wisata.

d. Tantangan (Threats)

  • Perlu adanya upaya meningkatkan produksi komoditi tanaman pangan agar selain dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan sekitamya juga dapat menyokong kebutuhan wisatawan.
  • Terbatasnya APBD untuk pengembangan parwisata di Kabupaten Garut sehingga pedu penggalian dana dan kerjasama antara pemerintah daerah setempat dengan investor pihak swasta.
  • Objek wisata di sekitar lokasi penelitian masih belum berkembang secara optimal, penataan yang masih apa adanya atau alami dan tradisional serta kurang kesadaran wisata masyarakat sekitar. Terbatasnya akomodasi, juga fasilitas infrastruktur yang lebih baik dan belum ada biro perjalanan serta terbatasnya dana dan kemampuan manajerial untuk kegiatan promosi.

Sifat analisis SWOT ini sangat situasional. Artinya hasil analisis yang dilakukan pada saat atau tahun sekarang belum tentu akan sama dengan analisa pada tahun yang akan datang. Keempat komponen SWOT perlu mendapatkan perhatian. Kekuatan harus dapat dipertahankan sebaik­-baiknya. Kelemahan haus dihilangkan dan ditanggulangi. Kesempatan atau peluang hendaknya dimanfaatkan. Ancaman atau tantangan harus segera diantisipasi. Dengan demikian dapat diambil langkah-langkah perbaikan sebagai upaya pengembangan kearah yang lebih baik yang dapat mendukung terhadap pengembangan Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang sehingga dapat memberikan nilai tambah yang lebih bermanfaat dan banyak mengundang wisatawan yang berminat untuk datang berkunjung.

Dengan kajian potensi diatas, berdasarkan kekuatan dan peluang yang dimiliki alternatif pengembangan yang kemungkinan besar dapat mendukung terhadap pengembangan obyek wisata ini adalah:

  • Pengembangan wisata air (tirta) seperti wisata pemancingan dan wisata dayung yang dapat mendatangkan daya tank tersendiri bagi wisatawan.
  • Pembangunan fasilitas untuk pengembangan wisata air (tirta) seperti kolam untuk pemancingan, speedboat, scooter air dan sebgainya yang merupakan jenis wisata yang berkaitan dengan rekreasi dan olah raga air.
  • Pembagunan fasilitas untuk keperluan wisatawan seperti perluasan areal parkir, sarana bermain untuk anak-anak, sarana kebersihan, penataan tempat duduk (bersantai).

Kesimpulan

Dalam melakukan pengembangan kepariwisataan selain diperlukan daya tarik juga harus didukung oleh sarana dan prasarana yang terdapat di daerah tersebut serta sikap masyarakat sekitar dan wisatawan dalam mensikapi pengembangan wisata tersebut. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

  • Objek Wisata Alam dan Budaya Cangkuang berpotensi tinggi untuk dikembangkan.
  • Partisipasi masyarakat sekitar objek wisata mendukung terhadap upaya pengembangan objek wisata, terutama masyarakat di dusun dua dan dusun satu yang mempunyai tingkat partisipasi sangat tinggi dan tinggi.
  • persepsi wisatawan tentang sarana dan prasarana, kebersihan, kenyamanan, keamanan di lokasi objek wisata adalah cukup baik.
  • Pengembangan yang dapat dilakukan di obyek wisata tersebut adalah pengembangan wisata tirta (wisata air) seperti wisata pemancingan dan wisata dayung yang dapat mendatangkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Daftar  Pustaka

A. Yoeti, Oka. 1996. Pengantar Pariwisata, edisi revisi. PenerbitAngkasa, Bandung.

Fandeli, Chafid. 1992. Dasar-dasar Manajemen ParrvvisataAJam, LibertyYogyakarta.

Pandit, S. Nyoman. 1994. Ilmu Pariwisata sebuah Pengantar perdana. Pradnya Paramita. Yogyakarta.

Sujali, 1989. Geografi Parrwisata Dan Kepariwisataan. Fakultas Geografi UGM. Yogyakarta.

__________

Sumber: Jurnal Nasional Pariwlsata, Volume 2, Nomor 2, Desember 2002
Sumber Foto: kharistya


Dibaca : 5.816 kali.

Tuliskan komentar Anda !