Close
 
Senin, 22 September 2014   |   Tsulasa', 27 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.885
Hari ini : 17.801
Kemarin : 16.234
Minggu kemarin : 143.603
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.143.522
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

08 sepember 2008 03:41

Naskah dan Rekonstruksi Sejarah Lokal Islam

Contoh Kasus dari Minangkabau
Naskah dan Rekonstruksi Sejarah Lokal Islam

Oleh: Oman Fathurahman

Abstract

Manuscripts are not supposed to be something unknown to the public and possessed by limited circle of people. Manuscripts are cultural heritage of a nation the content of which reflects the ideas, knowledge, tradition, and the patterns of behavior of the past society. As such they can be of use to different segments of society. This paper discusses the benefits of manuscripts to the efforts of reconstructing Islamic intellectual history in Indonesia by studying the case of local manuscripts in the Minang region. These manuscripts are not only the products of a writing tradition that had developed strongly in the Minangkabau society, but also a reflection of the living tradition of the society.


A. Pengantar

Entah sudah berapa makalah yang ditulis oleh berbagai sarjana berkaitan dengan naskah (manuscript) yang dihubungkan dengan berbagai aspek keilmuan lain, bahkan juga dengan aspek-aspek kehidupan sehari-hari. Dari berbagai "propaganda" yang pernah ditulis tersebut, naskah seharusnya sudah bukan lagi menjadi benda asing yang hanya milik kalangan terbatas saja, karena naskah sesungguhnya merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang kandungan isinya mencerminkan berbagai pemikiran, pengetahuan, adat istiadat, serta perilaku masyarakat masa lalu, dan bisa dimanfaatkan oleh berbagai kalangan.

Jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk peninggalan budaya material non-tulisan di Indonesia, seperti candi, istana, masjid, dan lain-lain, jumlah peninggalan budaya dalam bentuk naskah jelas jauh lebih besar (Ikram 1997: 24). Naskah juga menyimpan makna dan dimensi yang sangat luas karena merupakan produk dari sebuah tradisi panjang yang melibatkan berbagai sikap budaya masyarakat dalam periode tertentu (Baried 1994: 2).

Tidak mengherankan kemudian apabila bidang kajian naskah sangat erat kaitannya dengan bidang kajian sejarah. Banyak sejarawan misalnya yang "karier" keilmuannya dimulai dengan menjadi seorang filolog. Demikian halnya filolog. Tidak sedikit filolog yang kemudian memiliki pengetahuan luas berkaitan dengan masa lalu melalui naskah. Lebih dari itu, dalam perkembangannya kini, sebuah kajian keilmuan memang hampir tidak mungkin berdiri sendiri-sendiri. Pendekatan interdisipliner menjadi sebuah keniscayaan. Perlu ada saling pendekatan di antara berbagai disiplin keilmuan demi menghasilkan sebuah pengetahuan yang utuh tentang sebuah peristiwa.

Tulisan ini akan mendiskusikan manfaat naskah bagi upaya rekonstruksi sejarah sosial intelektual Islam Indonesia, dengan mengambil studi kasus naskah-naskah lokal di ranah Minang. Selain sebagai produk sebuah tradisi tulis yang berkembang kuat di kalangan masyarakat Minangkabau, naskah-naskah di wilayah ini juga tidak jarang merupakan refleksi dari tradisi lisan yang hidup di kalangan masyarakatnya. Dengan demikian, saling-silang hubungan antara tradisi tulis dan tradisi lisan yang terjadi di masyarakat Minangkabau ini telah menciptakan sebuah "sejarah" tersendiri yang memiliki kekhasan dan sarat dengan nuansa lokal.


B. Studi Naskah: Antara Teks dan Konteks

Salah satu pendekatan keilmuan yang paling banyak bersentuhan dengan studi pernaskahan adalah filologi. Dalam hal ini, filologi memberikan penekanannya pada tekstologi, terutama menyangkut asal usul dan keaslian teks. Tidak heran kemudian jika kajian filologi sangat mementingkan serta menonjolkan kritik teks di dalamnya.

Akan tetapi, substansi dari sebuah penelitian filologis sendiri tentu saja tidak hanya sekadar kritik teks, yang mencakup perbandingan berbagai bacaan dari naskah-naskah yang berbeda-beda, dan membuat silsilah naskah (stemma) untuk mencari versi naskah yang paling dekat dengan aslinya.

Lebih dari itu, sebuah penelitian filologis idealnya juga sampai pada upaya mengetahui makna dan konteks dari teks-teks yang dikajinya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa seorang filolog belum bisa dianggap telah menyelesaikan tugasnya jika ia belum berhasil mengeluarkan makna dan konteks dari teks-teks yang dikajinya tersebut (Robson 1994: 13). Karena alasan inilah, penting kiranya diperhatikan bahwa sebuah penelitian naskah harus juga fokus pada upaya untuk menempatkan naskah tersebut dalam konteksnya masing-masing, dan mengasumsikan keseluruhan naskah tersebut sebagai satu kesatuan yang tidak berdiri sendiri dan tidak terpisah satu sama lain, baik dalam hal waktu, tempat, maupun hal-hal lainnya.

Dalam kerangka inilah, studi pernaskahan banyak bertemu dengan studi sejarah, karena untuk melakukan kontekstualisasi atas sebuah naskah, pendekatan sejarah menjadi sangat penting. Sebut saja, misalnya, pendekatan sejarah sosial dan intelektual, yang memberikan perhatian atas berbagai peristiwa yang dialami oleh sebuah komunitas tertentu, baik menyangkut aspek kehidupan sehari-hari maupun tradisi dan wacana intelektual yang berkembang pada masa tertentu. Sejarah sosial dan intelektual dalam pengertian ini dimaksudkan sebagai kajian atau analisis terhadap faktor-faktor sosial dan intelektual yang mempengaruhi terjadinya peristiwa sejarah itu sendiri (Azra 2002: 4).

Dalam konteks pernaskahan, pendekatan sejarah sosial dan intelektual ini dapat menjadi semacam alat bantu untuk mengetahui makna terdalam dari sebuah teks yang dikaji, sehingga teks-teks tersebut dapat dipahami dalam konteksnya yang tepat. Apalagi, sejumlah naskah sering memang bersifat kesejarahan yang— seperti diisyaratkan oleh Hoesein Djajadinigrat—akan sangat penting peranannya karena memberikan gambaran tentang konsep kehidupan dan dunia perasaan sekelompok masyarakat pada kurun waktu tertentu (Djajadinigrat 1983: 318).

Harus diakui, sejauh ini penekanan pada teks masih menjadi tren yang paling berkembang dalam studi filologi. Tentu saja ini tidak keliru karena salah satu kekuatan filologi adalah kemampuan untuk menyediakan teks yang siap baca, bersih dari ketidakajekan. Akan tetapi, jika teks dan konteks sudah mendapatkan perhatian yang seimbang dalam studi pernaskahan, niscaya hal tersebut akan memberikan sumbangsih berharga karena, dengan demikian, studi pernaskahan tidak berhenti pada rekonstruksi teks dan penyediaan teks-teks yang siap baca bagi para sarjana dalam disiplin keilmuan lain, seperti sejarah misalnya, namun, lebih dari itu, juga melakukan sendiri rekonstruksi sejarah sosial dan intelektual yang berkaitan dengan teks-teks tersebut. Alhasil, filolog tidak seyogianya merasa cukup dengan menjadi "koki" yang bertugas menyediakan hidangan siap saji belaka, melainkan lebih dari itu turut menikmati sendiri masakan yang dibuatnya.


C. Naskah dan Penulisan Sejarah Islam Lokal

Dalam salah satu bagian pengantar buku Sejarah Lokal di Indonesia, Taufik Abdullah mengisyaratkan bahwa penulisan sejarah lokal memungkinkan kita untuk berhubungan secara sangat "intim" dengan peristiwa yang sangat lokal dan mungkin selama ini dianggap tidak besar, tetapi sesungguhnya memiliki peran penting dan berharga dalam membentuk peristiwa yang lebih besar (Abdullah [ed.] 1990: 19).

Dalam konteks yang lebih umum, apa yang dikemukakan Taufik Abdullah di atas sesungguhnya dapat dianggap sebagai satu penegasan atas pentingnya melakukan studi sejarah yang bersifat lokal. Dalam hal ini, studi atas fenomena Islam lokal merupakan salah satu di antara hal penting yang seyogianya banyak dilakukan karena mempunyai nilai intelektual strategis bagi rekonstruksi sejarah intelektual Islam Indonesia secara keseluruhan.

Lebih dari itu, fenomena Islam Indonesia, yang terbentuk melalui berbagai tradisi dan wacana yang berkembang di setiap wilayah dan etnisnya, telah memperlihatkan corak yang khas dan cenderung berbeda dengan fenomena Islam di dunia Islam lain. Pertemuan Islam dengan budaya-budaya lokal yang ada di Indonesia, misalnya, merupakan kekayaan intelektual tersendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh "Islam yang lain". Tidak berlebihan kiranya jika Islam Indonesia merupakan contoh ideal bagi persemaian apa yang disebut sebagai Islam lokal (local Islam), yakni suatu wacana yang menggambarkan adanya pertemuan budaya, sosial, politik dan intelektual antara budaya lokal dan Islam dalam suatu wilayah tertentu.

Usaha utama studi Islam lokal adalah melakukan penelitian tentang aspek dan makna lokalitas dari meneliti, mengamati, serta melakukan rekayasa wacana lokal Islam dalam suatu mileu sosial dan politik tertentu. Penting dicatat bahwa makna dan fungsi Islam dalam suatu wilayah pasti tidak dapat disamakan dengan keadaan di wilayah lain.

Dalam kerangka penulisan sejarah Islam lokal inilah naskah dapat menjadi sumber utama, dan bahkan merupakan representasi dari berbagai sumber lokal yang otoritatif dan otentik dalam memberikan berbagai informasi sejarah pada masa tertentu.

Memang, harus diakui, kalangan sejarawan tentu punya sedikit masalah dengan kenyataan bahwa naskah yang menjadi sumber penelitian tidak jarang mengandung cerita yang mengandung unsur mitos dan legenda. Akan tetapi, sampai batas-batas tertentu, cerita mitos dan legenda tersebut juga memiliki fungsi tersendiri sebagai sumber informasi, karena hal tersebut niscaya dikemukakan sebagai tradisi yang hidup di kalangan masyarakat; dan disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Melihat keterkaitan antara Islam dengan dunia pernaskahan Indonesia, tidak dapat dihindari bahwa naskah jelas merupakan salah satu elemen terpenting dalam upaya merekonstruksi berbagai pemikiran intelektual Islam, khususnya Islam lokal, karena naskah mencerminkan adanya pertemuan budaya, sosial, politik dan intelektual antara budaya lokal dan Islam dalam suatu wilayah tertentu. Dengan demikian, penelitian demikian akan lebih memperkaya wacana lokal Islam (Islamic local discourse) di Indonesia, khususnya, dan di Asia Tenggara pada umumnya.

Dalam konteks Islam lokal ini, peran naskah-naskah tersebut juga sangat signifikan, terutama jika mempertimbangkan bahwa kajian atas wacana Islam lokal sejauh ini belum dilakukan secara maksimal.


D. Khazanah Naskah dan Rekonstruksi Sejarah Intelektual Islam  Minangkabau: Contoh Kasus Tarekat Syattariyah

Minangkabau merupakan salah satu wilayah yang hampir tidak pernah berhenti "memproduksi" naskah-naskah tulisan tangan hingga saat ini. Sebagian besar naskah yang ditulis belakangan merupakan salinan atas teks-teks lama yang sedemikian populer di kalangan masyarakatnya, khususnya teks-teks tasawuf yang sangat populer di kalangan kaum tarekat.

Hampir sama dengan yang terjadi di wilayah lain, naskah-naskah tasawuf merupakan kategori yang paling banyak dijumpai dalam khazanah naskah keagamaan di Minangkabau. Hal ini tidak mengherankan, karena memang sejalan dengan corak Islam sufistis yang berkembang sejak periode awal masuknya Islam di wilayah ini.

Menarik dikemukakan bahwa dalam konteks Minangkabau, perkembangan dan persebaran Islam yang bercorak sufistis ini terjadi secara sistematis melalui surau-surau. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika sejauh menyangkut telaah atas berbagai hal yang berkaitan dengan Islam periode awal di Minangkabau ini, peran surau menjadi sangat penting (Azra 1988 dan 2003), termasuk ketika masuk pada pembahasan tentang tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaannya. Dalam hal ini, surau di Minangkabau dapat dianggap sebagai semacam "skriptorium" naskah, yakni tempat di mana aktivitas penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaan berlangsung.[1]

Di antara naskah-naskah keagamaan yang masih banyak "diproduksi" di surau-surau di Minangkabau adalah naskah-naskah yang berkaitan dengan salah satu jenis tarekat yang memang berkembang pesat di wilayah ini, yakni tarekat Syattariyyah. Naskah-naskah Syattariyyah—baik yang ditulis dalam bahasa Arab, Melayu atau Minangkabau—ini menyimpan banyak informasi dan pengetahuan berharga yang dapat dimanfaatkan untuk merekonstruksi corak ajaran, dinamika, dan perkembangan tarekat Syattariyyah itu sendiri.

Setidaknya ada dua kategori naskah Syattariyyah yang dijumpai di surau-surau Minangkabau: pertama, yang bersifat ajaran, dan, kedua, yang bersifat kesejarahan. Berikut adalah beberapa contoh naskah yang berkaitan dengan tarekat Syattariyyah, dan diperoleh langsung dari surau-surau di Minangkabau.

  1. Pengajian Tarekat.
  2. Kitab al-Taqwim wa al-Siyam.
  3. Risalah Mizan al-Qalb.
  4. Kitab Menerangkan Agama Islam di Minangkabau Semenjak Dahulu dari Syaikh Burhanuddin Sampai ke Zaman Kita Sekarang.
  5. Muballigul Islam.
  6. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Abdurrauf (Syaikh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh.
  7. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau.
  8. Sejarah Ringkas Syaikh Muhammad Nasir (Syaikh Surau Baru).
  9. Sejarah Ringkas Syaikh Paseban al-Syattari.

Sejauh yang saya amati, naskah-naskah Syattariyyah di Minangkabau tersebut—yang pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah satu sama lainnya—, selain ditujukan untuk memberikan pengajaran kepada para anggota tarekat, juga ditulis oleh pengarangnya masing-masing dalam, atau untuk menjelaskan, konteks tertentu, seperti penolakan terhadap gerakan pembaruan keagamaan Islam yang akhirnya melahirkan perdebatan antara Kaum Tua (tradisionalis) dan Kaum Muda (modernis).

Selain itu, yang penting dicatat adalah bahwa naskah-naskah Syattariyyah di Minangkabau yang ditulis dan disalin oleh para ulama lokal ini jelas terhubungkan dengan para tokoh terkemuka lain di luar Minangkabau, mulai dari Syaikh Ahmad al-Qusyasyi, Syaikh Ibrahim al-Kurani, sampai kepada Syaikh Abdurrauf al-Sinkili. Terutama melalui nama yang disebut terakhir inilah, saling silang hubungan keilmuan ulama Minangkabau terjalin, khususnya melalui salah seorang murid utama al-Sinkili, yakni Syaikh Burhanuddin Ulakan.

Melalui telaah atas ajaran tarekat Syattariyyah di Minangkabau, seperti tampak dalam naskah-naskahnya, dapat diketahui bahwa rumusan ajaran tarekat Syattariyyah di Minangkabau masih melanjutkan apa yang sudah dirumuskan sebelumnya, baik oleh tokoh Syattariyyah di Haramayn, yang dalam hal ini diwakili oleh al-Qusyasyi, maupun oleh ulama Syattariyyah di Aceh, dalam hal ini diwakili oleh Abdurrauf al-Sinkili. Ajaran yang dimaksud terutama berkaitan dengan tatacara zikir, adab dan sopan santun zikir, serta formulasi zikir.

Akan tetapi, khusus menyangkut rumusan hakikat dan tujuan akhir zikir tarekat Syattariyyah, kecenderungannya tampak berbeda. Dalam hal ini, rumusan hakikat dan tujuan akhir zikir dalam naskah-naskah Syattariyyah di Minangkabau tersebut cenderung lebih lunak daripada ajaran al-Qusyasyi maupun al-Sinkili sebelumnya. Jika naskah-naskah Syattariyyah karangan al-Qusyasyi dan al-Sinkili masih mewacanakan konsep fana, yakni peniadaan diri, atau hilangnya batas-batas individual seseorang, dan menjadi satu dengan Allah, bahkan fana ‘an al-fana atau fana ‘an fanaih, yakni fana dari fana itu sendiri, sebagai hakikat dan tujuan akhir zikir, maka naskah-naskah Syattariyyah di Minangkabau menegaskan bahwa hakikat dan tujuan zikir adalah "sekadar" untuk membersihkan jiwa agar memperoleh kedekatan dengan Tuhan, serta untuk membuka rasa agar memperoleh keyakinan dan kesaksian akan hakikat dan wujud-Nya.

Kecenderungan melunak ini bahkan lebih jelas lagi dalam hal rumusan ajaran tasawuf filosofisnya. Seperti tampak dalam naskah-naskah karangannya, al-Kurani dan juga al-Sinkili, misalnya, masih mengajarkan doktrin wahdat al-wujud kendati rumusannya sudah lebih disesuaikan dengan dalil-dalil ortodoksi Islam, sehingga doktrin wahdat al-wujud – yang sempat mendapat penentangan keras dari para ulama ortodoks – ini lebih dapat diterima oleh banyak kalangan. Dalam naskah-naskah Syattariyyah di Minangkabau, ajaran wahdat al-wujud tersebut ternyata bukan saja diperlunak, tetapi juga, lebih dari itu, dilucuti dari keseluruhan ajaran tarekat Syattariyyah, karena dianggap bertentangan dengan ajaran ahl al-sunnah wa al-jama‘ah, dan menyimpang dari praktik syariat.

Pada gilirannya, sepanjang menyangkut tarekat Syattariyyah di Minangkabau, dan berdasarkan pada naskah-naskahnya yang dijumpai, ajaran tarekat Syattariyyah tanpa doktrin wahdat al-wujud ini menjadi salah satu sifat dan kecenderungannya yang khas. Hal ini relatif berbeda dengan kesimpulan sejumlah sarjana sebelumnya, seperti B. J. 0. Schrieke, Karel A. Steenbrink, Martin van Bruinessen, dan beberapa sarjana lainnya, bahwa tarekat Syattariyyah di Minangkabau merupakan kelompok tarekat yang paling giat mengembangkan ajaran wahdat al-wujud, dan berhadap-hadapan dengan tarekat Naqsybandiyyah yang disebut sebagai pengembang doktrin wahdat al-syuhud (kesatuan kesaksian).

Melalui berbagai informasi yang dihimpun dari naskah-naskah Syattariyyah di Minangkabau ini, juga diketahui betapa tarekat Syattariyyah telah tersebar ke berbagai pelosok di Minangkabau, mulai dari daerah Padang Pariaman dan Tanah Datar, menyusul kemudian daerah Agam, Solok, Sawah Lunto Sijunjung, Pasaman, dan Pesisir Selatan. Dengan demikian, tarekat Syattariyyah di Minangkabau telah melalui jalur persebarannya mulai dari daerah pantai pesisir sampai ke darek atad luhak nan tigo, yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota. Perkembangan jalur penyebaran tarekat Syattariyyah ini umumnya diikuti pula oleh persebaran naskah-naskah yang selalu menjadi pegangan para anggotanya, sehingga naskah-naskah Syattariyyah semakin bertambah jumlahnya dari waktu ke waktu.

Demikianlah, melalui telaah atas naskah-naskahnya diketahui bahwa setelah bersentuhan dengan berbagai tradisi dan budaya lokal, ekspresi ajaran tarekat Syattariyyah menjadi sarat pula dengan nuansa lokal. Ajaran tentang hubungan antara tubuh lahir dan tubuh batin, misalnya, dirumuskan dalam apa yang disebut sebagai "pengajian tubuh". Demikian halnya dengan teknik penyampaian ajaran-ajaran tarekat Syattariyyah: selain melalui bentuk-bentuk yang konvensional seperti pengajian, ajaran-ajaran tersebut juga disampaikan dalam bentuk-bentuknya yang khas dan bersifat lokal, seperti kesenian salawat dulang, misalnya. Masih yang bersifat lokal, di kalangan penganut tarekat Syattariyyah di Minangkabau ini juga berkembang apa yang disebut sebagai "Basapa", yakni ritual tarekat Syattariyyah setiap bulan Safar di Tanjung Medan Ulakan, yang banyak dipengaruhi budaya lokal.


E. Penutup

Apa yang telah saya kemukakan dalam tulisan ini sesungguhnya adalah salah satu upaya untuk menegaskan bahwa naskah, khususnya yang bersifat lokal, sangat bermanfaat untuk melakukan rekonstruksi sejarah, baik sejarah sosial, sejarah intelektual, maupun kategori sejarah lainnya.

Dalam konteks Islam lokal, khazanah naskah keagamaan yang sedemikian kaya ini niscaya akan sangat berguna untuk membuat topografi Islam lokal di Indonesia yang sejauh ini masih belum banyak dilakukan, yakni dengan melakukan riset dan studi yang terus menerus tentang aspek-aspek Islam lokal di berbagai wilayah Indonesia dengan berbasiskan pada naskah-naskahnya. Hal ini jelas sangat penting dilakukan untuk memberikan gambaran utuh tentang wujud Islam Indonesia. Selain itu, tentunya untuk melihat "pengalaman religius" yang sangat kaya dari Islam lokal itu sendiri.

_______________________________

Artikel ini telah disajikan dalam Seminar Internasional Naskah, Tradisi Lisan, dan Sejarah, yang diselenggarakan atas kerja sama Akademi Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) pada tanggal 28 Juli 2005 di FIB-Ul Depok, dan telah dimuat dalam Wacana, Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, Vol. 7 No. 2, Oktober 2005.


Daftar Pustaka

  • Abdullah, Taufik (ed.), (1990). Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Azra, Azyumardi, (2002). Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka utama.
  • Baried, Siti Baroroh dkk., (1994). Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, cetakan II.
  • Djajadiningrat, Hoesein, (1983). Tinjauan Kritis tentang Sajarah Bunten. Jakarta: Penerbit Djambatan.
  • Fathurahman, Oman, (2003). "Tarekat Syattariyyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-naskah di Sumatra Barat". Disertasi pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Depok, tidak diterbitkan.
  • Ikram, Achadiati, (1997). Filologia Nusantara, Titik Pudjiastuti dkk. (ed.). Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Mu‘jizah dan Maria Indra Rukmi, (1998). Penelusuran Penyalinan Naskah-naskah Riau Abad XIX: Sebuah Kajian Kodikologi. Jakarta: Program Penggalakan Kajian Sumber-sumber Tertulis Nusantara, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  • Robson, S.O., (1994). Prinsip-prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Universitas Leiden. Diterjemahkan oleh Kentjanawati Gunawan dari aslinya, Principles of Indonesian Philology, Leiden: Foris Publication, 1988.
  • Rukmi, Maria Indra, (1997). Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX. Jakarta: Fakultas Sastra Universtias Indonesia.
  • Vansina, J., (1965). Oral Tradition: A Study in Historical Methodology. Chicago: AlDine.

Kredit foto : naskahkuno.wordpress.com



[1] Bandingkan dengan tradisi penulisan dan penyalinan naskah di wilayah lain, seperti Batavia (Rukmi 1977) atau Riau (Mu‘jizah dan Rukmi  1998).


Dibaca : 4.568 kali.

Tuliskan komentar Anda !