Close
 
Sabtu, 19 April 2014   |   Ahad, 18 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 708
Hari ini : 3.474
Kemarin : 13.608
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.610.550
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

06 desember 2008 06:39

Mewariskan Cerita Rakyat Nusantara di Tengah Pluralisme Budaya

Mewariskan Cerita Rakyat Nusantara di Tengah Pluralisme Budaya
Oleh Mahyudin Al Mudra, SH., MM.

Para pendahulu setiap masyarakat di manapun selalu menanamkan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsi yang kemudian diyakini sebagai blue-print yang menjadi penuntun dalam perjalanan hidupnya. Nilai dan konsepsi itu menjadi pedoman dalam tingkah laku. Tingkah laku setiap individu dan kelompok dan ekspresi-ekspresi simbolik mereka telah banyak diteliti oleh para ahli ilmu-ilmu sosial untuk melihat lebih jauh proses dan tujuan pewarisan nilai dan konsepsi tersebut dilakukan. Clifford Geertz mengatakan bahwa sistem pewarisan konsepsi dalam bentuk simbolik merupakan cara bagaimana manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan (Geertz, 1973: 89).

Salah satu sarana pewarisan nilai dan konsepsi adalah cerita rakyat, yaitu kisah atau dongeng yang lahir dari imajinasi manusia, khayalan manusia tentang kehidupan mereka sehari-hari. Oleh Claude Levi-Strauss, cerita rakyat disebut mitos, yang tidak harus dipertentangkan dengan sejarah atau kenyataan. Levi-Strauss memaknai mitos itu sebagai ekspresi atau perwujudan dari keinginan-keinginan masyarakat yang tidak disadari, yang sedikit banyak tidak konsisten, tidak sesuai, tidak klop, dengan kenyataan sehari-hari (Ahimsa-Putra, 2004: 77).

Dalam cerita rakyat inilah khayalan manusia memperoleh kebebasan yang mutlak, karena di situ ditemukan hal-hal yang tidak masuk akal, yang tidak mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contohnya, cerita tentang bidadari turun dari langit yang selendangnya dicuri oleh seorang perjaka; seekor kancil yang mampu menipu harimau; seorang anak durhaka kepada ibunya yang dikutuk menjadi batu; dan lain sebagainya. Untuk memahami kebudayaan masyarakat pemilik/pendukung cerita, fenomena tersebut tidak kemudian dinilai apakah cerita yang disampaikan nyata atau tidak, tetapi harus dilihat bagaimana mitos itu bekerja dalam masyarakat.

Masyarakat pemilik/pendukung mitos tidak mempermasalahkan apakah suatu cerita itu nyata atau tidak. Ia semata-mata dijadikan sarana komunikasi, pengembangan pengetahuan, dan pembentukan perilaku. Yang lebih penting ialah bagaimana mengartikulasikan hal-hal abstrak ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Sarana yang mudah untuk menggambarkan sesuatu yang abstrak adalah benda-benda atau makhluk-makhluk di sekitar mereka sebagai metafor, supaya sebuah pesan dapat dipahami dan diterima. Penggambaran tentang perilaku dan sifat-sifat, seperti kejujuran, kesetiakawanan, cerdas, cantik, anggun, disamakan dengan fenomena alam sehari-hari di sekitar mereka. Wajah seorang putri yang cantik, misalnya, diibaratkan rembulan, rambutnya yang panjang dan bergelombang seperti mayang terurai, matanya yang bercahaya seperti bintang timur (Taslim, 2007: 96). Penggambaran yang demikian membangun imajinasi anak-anak dan mempengaruhi cara pandang mereka terhadap kehidupan.         

Pewarisan nilai dan konsepsi melalui cerita yang sudah sedemikian mapan telah menjadi budaya turun-temurun di masyarakat nusantara. Cerita tidak saja merefleksikan nilai-nilai sosial budaya masyarakat dahulu, tetapi juga mengantarkan nilai-nilai itu kepada masyarakat sekarang. Hal itu disebabkan cerita pada satu generasi diwariskan dari cerita masyarakat sebelumnya (Nurgiantoro, 2005: 117). Dengan memahami dan menceritakan kembali cerita-cerita lama kepada anak-anak, maka proses pewarisan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya akan tetap hidup, serta menumbuhkan kecintaan pada budaya sendiri kepada setiap generasi.   

Penjelasan dan berbagai kutipan di atas menggambarkan peran penting cerita rakyat sebagai sarana komunikasi antargenerasi dan pengembangan pengetahuan di dalam masyarakat yang bersifat homogen. Lalu, bagaimana peran cerita rakyat itu di tengah masyarakat modern, di mana suatu sistem penyampaian pesan atau pewarisan simbol tidak lagi efektif? Dan strategi apa yang harus digunakan supaya warisan budaya ini tetap mendapatkan tempat? Dalam makalah ini, saya mencoba menjelaskan bagaimana cerita rakyak masih berperan menjaga integritas sosial di lingkungan masyarakat yang multikultur. Dalam konteks kekinian, penghayatan nilai-nilai dalam cerita rakyat tidak hanya terbatas pada masyarakat pemilik/pendukung suatu cerita, tetapi juga oleh masyarakat lain secara lebih luas. Namun di sisi lain, era deteritorialisasi budaya yang ditandai dengan kuatnya arus teknologi informasi memaksa ‘penyesuaian-penyesuaian‘ nilai dan norma dalam masyarakat yang menggiring mereka ke suatu perubahan yang bergeser dari tatanan lama. Ini adalah tantangan.

Cerita Rakyat Nusantara di Mata Pemiliknya: Sebuah Uraian Singkat

Sejak tahun 1980-an, Proyek Penerbitan Sastra Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI berupaya mengenalkan berbagai cerita rakyat dari suatu daerah ke daerah-daerah lain di Indonesia. Proyek tersebut berhasil mengumpulkan, menerbitkan, dan menyebarluaskan ratusan cerita rakyat, sebuah upaya yang patut diapresiasi karena telah memperkaya khazanah sastra Indonesia (Suwondo, 2003: 51). Namun, banyak kalangan yang menyayangkan upaya positif itu berhenti penyebarluasannya di perpustakaan sekolah dan daerah, tidak tersosialisasikan dengan baik kepada masyarakat luas.

Seharusnya, sebelum dilakukan pencetakan dan penyebaran dongeng ke berbagai daerah, departemen yang bersangkutan terlebih dahulu melakukan penelitian tentang karakter masyarakat untuk menentukan model pembelajaran yang sesuai. Secara garis besar, terdapat tiga bentuk masyarakat yang menyikapi dongeng secara berbeda-beda. Yang pertama adalah masyarakat tradisional; kedua masyarakat transisional; dan ketiga masyarakat modern. Masyarakat tradisional masih menggunakan teknologi sederhana, pola pikir mereka belum dipengaruhi dan dibentuk oleh teknologi canggih, sistem birokrasi yang njelimet, serta sistem pendidikan formal di sekolah-sekolah. Bentuk masyarakat seperti ini dapat dijumpai di daerah-daerah pedalaman di Indonesia. Mereka menggunakan dongeng sebagai salah satu sarana penting untuk menegaskan eksistensi dan identitas diri dan kelompok sosialnya. Dongeng tidak saja digunakan untuk memahami dunia dan mengekspresikan gagasan, ide-ide, dan nilai-nilai, melainkan juga sebagai sarana penting memahamkan dunia kepada orang lain, menyimpan, dan mewariskan gagasan dan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi (Nurgiantoro, 2005: 164).  

Sementara itu, masyarakat transisional adalah masyarakat yang mengalami pergeseran ciri-ciri lokalnya seiring dengan melebarnya batas-batas interaksi dan batas pengetahuan mereka. Intensitas hubungan sosial yang semakin meningkat memacu perubahan bentuk-bentuk kewajiban sosial antaranggota masyarakat akibat meluasnya batas-batas solidaritas sosial. Meskipun kepemimpinan lokal masih dianggap penting, hubungan dengan dunia luar telah menyebabkan melemahnya keyakinan tentang sesuatu yang bersifat magis dan supernatural. Di sini komunikasi berperan besar dalam mempercepat proses transisi dari masyarakat tradisional menjadi modern. Komunikasi merupakan kata kunci akibat batas-batas ruang yang bersifat relatif yang terbentuk sejalan dengan perbaikan sistem transportasi dan teknologi informasi (Abdullah, 2006: 173).

Masyarakat transisional sesungguhnya mengalami shock kultural setelah mengenal hal-hal baru dari luar komunitasnya, sebagaimana tampak pada perubahan nama anak-anak yang tidak lagi mencerminkan unsur lokalitasnya, cara berpakaian, dan juga penggunaan istilah-istilah atau bahasa-bahasa dari luar. Ada upaya untuk mengintegrasikan diri dengan masyarakat luar yang dinilai lebih maju, sehingga ikatan-ikatan tradisional mengalami perubahan dan kehilangan kontrol. Otoritas tradisi, baik itu keluarga atau lembaga adat, mulai melemah karena mulai digantikan oleh kebebasan untuk memilih dan menentukan keputusan secara individual. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat membutuhkan instrumen baru yang mampu bernegosiasi dengan kaum muda untuk tetap menerima warisan-warisan lokal yang masih relevan. Salah satu instrumen tersebut adalah sekolah. Oleh karena itu, saat ini dongeng lebih banyak beredar di sekolah atau ruang-ruang formal tertentu daripada di masyarakat.           

Sementara itu, masyarakat modern adalah masyarakat yang menempatkan mesin dan teknologi pada posisi yang sangat penting dalam kehidupannya sehingga mempengaruhi ritme kehidupan dan norma-norma. Hubungan antarorang telah digantikan dengan kehadiran media dan barang-barang elektronik. Dalam sebuah keluarga modern, bisa jadi anak bukan merupakan pewaris tradisi keluarganya, tetapi dia mewakili tradisi yang jauh lebih besar yang datang dari negara maju, seperti Amerika atau Jepang. Hal itu terjadi karena pusat pembentukan karakter dan orientasi anak tidak lagi pada orang tua, tetapi pada pusat-pusat kekuasaan baru yang mengendalikan sistem sosial dan moral, seperti televisi, internet, dan handphone (Abdullah, 2006: 59).

Di kawasan perkotaan, masyarakat modern bercorak multietnis. Mereka mengalami problematika dalam interaksi sosial karena bermukim di suatu tempat di mana penduduknya berasal dari daerah-daerah yang berbeda. Tiap-tiap orang memiliki masa lalu yang berbeda-beda dan ikatan-ikatan tradisional cenderung tidak berlaku karena pengalaman tradisional antaretnis tidak dapat dikomunikasikan. Dengan demikian, masyarakat modern membutuhkan simbol universal dari tata nilai yang pernah diimajinasikan bersama. Di sinilah cerita rakyat mendapatkan ruangnya kembali dan berperan mendorong pembauran, mengingat karya sastra ini mempunyai potensi yang sangat besar sebagai medium imajinasi untuk pemahaman lintas budaya (Budianta, 2003: 137).       

Sosialisasi cerita rakyat kepada ketiga bentuk masyarakat di atas tentu menggunakan cara dan perangkat yang berbeda-beda. Dengan mengenali masing-masing karakter masyarakat secara baik, kita dapat mempersiapkan strategi yang tepat agar proses pewarisan nilai-nilai dari nenek moyang tetap berlangsung. Khusus untuk masyarakat modern yang dinamis memerlukan metode penyampaian, penyajian isi, dan sarana yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Hidup dalam lingkungan yang multikultur, mereka cenderung memilih sumber-sumber global sebagai penuntun tindakan sosial. Maka tidak ada cara lain kecuali membangun strategi menjadikan cerita rakyat sebagai bagian dari sumber-sumber global itu. Mengenai strategi tersebut dibahas pada bagian lain dari tulisan ini. 

Cerita Rakyat dalam Masyarakat Multikultur

Ketika sebuah cerita belum ditulis, dialihbahasakan, dan disebarluaskan ke berbagai daerah, maka fungsi cerita itu sebagai shared identity terbatas bagi komunitas pemiliknya. Di dalam cerita terdapat unsur-unsur yang menyatukan karena terlahir dalam suatu pengalaman, perilaku, kecenderungan, ide, dan tujuan bersama (Stern, 1977: 9). Oleh karena itu, cerita rakyat merupakan kreasi sebuah kolektivitas dengan corak budaya tertentu. Cerita rakyat tidak mengenal nama pengarang. Dia merupakan produk budaya milik umum. Tidak seorangpun berhak menyatakan dia adalah pengarang atau pemilik sebuah cerita rakyat, kecuali sebuah kolektivitas. Isi ceritanya pun mencerminkan logika kolektivitas (Ahimsa-Putra, 2008: x).

Akan tetapi ketika cerita rakyat telah dipublikasikan secara nasional melalui bahasa Indonesia, maka ia tidak lagi dimiliki oleh komunitas tertentu tetapi telah menjadi khazanah kekayaan budaya bangsa. Ia menjadi sumber informasi bagi siapa saja untuk mengenali kembali khazanah pengetahuan nenek moyang, kearifan nenek moyang, ajaran-ajaran nenek moyang, dan imajinasi nenek moyang tentang kehidupan di masa lampau, yang boleh jadi masih relevan dengan kehidupan di masa sekarang (ibid).

Di dalam cerita rakyat dari berbagai daerah terdapat kesamaan pada kesatuan-kesatuan cerita (tale types) atau unsur-unsur kesatuan cerita (tale motifs) (Danandjaya, 1986: 327). Misalnya saja kisah bertema perkawinan dengan bidadari seperti Jaka Tarub yang terdapat di Jawa, dapat ditemukan pula di Aceh, Riau, Kalimantan Selatan, Maluku, bahkan di Papua. Demikian juga cerita yang bertema anak durhaka seperti Malin Kundang dari Sumatra Barat, ternyata dapat dijumpai di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi, dan daerah-daerah lain di Nusantara (Al Mudra, 2008: xii).

Kesamaan-kesamaan tersebut menunjukkan bahwa pada komunitas yang berbeda-beda sesungguhnya memiliki kesadaran bersama yang terpendam. Menggali pesan-pesan yang diyakini ada di balik berbagai cerita rakyak itu menjadi pekerjaan bersama yang mendesak, mengingat pesan-pesan itu berperan penting dalam proses pembangunan kesadaran tiap individu bahwa keberadaannya adalah bagian dari komunitas dan masyarakatnya, baik pada tingkat lokal maupun nasional. Kesatuan-kesatuan unsur cerita perlu selalu diingatkan dan dibangun untuk merekatkan kesatuan dalam wilayah yang penduduknya punya beragam latar belakang sosial dan budaya.

Sebagaimana diuraikan oleh Benedict Anderson, pembentukan suatu entitas kelompok multikultur memerlukan upaya terus menerus untuk ‘membayangkan‘, serta mengukuhkan eksistensinya, termasuk kesamaan ciri-ciri budayanya, tradisinya, dan mitos-mitosnya. Cerita rakyat, yang disebut oleh Levi-Strauss sebagai mitos, punya potensi yang besar sebagai medium imajinasi untuk pemahaman lintas budaya. Ketika cerita rakyat telah dimiliki bersama oleh suatu bangsa, maka cerita rakyat tidak saja berpotensi menghilangkan stereotip antaretnis, melainkan juga menekankan solidaritas dan simpati (Budianta, 2003: 132-137). Di sini kata-kata William James menarik untuk disimak: real culture lives by sympathies (Abdullah, 2006: 152). Dalam suatu lingkungan sosial yang terdiri dari ragam etnis dan latar belakang budaya, seperti di kota-kota besar, status antara satu etnik dengan yang lain relatif seimbang. Setiap etnis memiliki kesempatan mempertukarkan nilai untuk mencapai kesepakatan dengan etnis lain, dan rasa simpati mendasari pertukaran nilai itu dalam rangka membangun komunitas baru yang kokoh dan terbuka.     

Peran penting cerita rakyat terletak pada kemampuannya mengkomunikasikan tradisi, pengetahuan, dan adat-adat istiadat etnis tertentu, atau menguraikan pengalaman-pengalaman manusia baik dalam dimensi perseorangan maupun dimensi sosial, kepada etnik lain. Semakin banyak membaca cerita rakyat, maka seseorang akan semakin kaya pengetahuan akan kebudayaan yang melampaui batas ruang dan waktu. Dewasa ini berbagai cerita rakyat sudah banyak dibukukan dan disebarluaskan, sehingga membantu setiap pembaca untuk memahami logika di balik berbagai cerita rakyat dari luar daerahnya. Pemahaman atas logika cerita rakyat akan dapat menyadarkan setiap orang bahwa cerita rakyat yang sepintas lalu terdengar aneh dan tidak masuk akal, ternyata tidak aneh dan sangat masuk akal. Kesadaran semacam ini akan dapat membangkitkan penghargaan terhadap budaya lain, serta menumbuhkan kesadaran multikultural pada dirinya (Ahimsa-Putra, 2008: x).   

Di tengah meningkatnya ketegangan antarkelompok di beberapa wilayah di Indonesia, cerita rakyat menyediakan sumber pembelajaran menerima perbedaan-perbedaan, atau bahkan menilai perbedaan-perbedaan itu semata-mata sebagai variasi kebudayaan yang memperkaya lingkungan sosial. Dengan kata lain, cerita rakyat sesungguhnya menyediakan basis akomodasi sosial yang memungkinkan pembauran terjadi. Revitalisasi dan sosialisasi cerita rakyat nusantara, dengan demikian, harus mendapatkan perhatian besar dari semua pihak agar ia menjadi kapital kebudayaan (cultural capital) yang mampu mengarahkan masyarakat menjaga kohesi sosial secara mandiri. Harus disadari bersama bahwa, kepatuhan individu dalam tatanan dunia baru tidak terletak pada pemimpin lokal atau institusi-institusi tradisional lainnya. Akan tetapi terletak pada kekuatan rasionalitasnya dalam memilih dan menafsirkan realita berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalu yang membentuk pribadinya.

Revitalisasi Cerita Rakyat Nusantara

Tidak mudah memang melakukan revitalisasi cerita rakyat dalam sebuah percaturan dunia global di mana proses sosial terus mengalir meninggalkan warisan-warisan budaya lokal. Namun demikian, negosiasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi harus terus dilakukan. Negosiasi antara yang lokal dan yang global mengambil bentuk penyesuaian-penyesuaian lokalitas dalam interaksinya dengan globalitas. Salah satu langkah positif yang telah ditempuh pemerintah dan berbagai instansi non-pemerintah, termasuk Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), menyangkut penyesuaian itu adalah mengangkat kembali cerita rakyat dari level lokal menjadi nasional, kemudian global, melalui publikasi dan alih bahasa isi cerita ke dalam bahasa-bahasa Internasional. Dengan mengglobalnya cerita rakyat nusantara, maka segenap lapisan masyarakat dari berbagai kawasan di Indonesia dan dunia dapat mengenalinya dan menjadikannya sebagai salah satu unsur pembentuk identitas global.  

Dalam proses peng-global-an itu, cerita rakyat nusantara bersaing memperebutkan perhatian para pembaca dengan cerita-cerita lain dari berbagai belahan dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Persaingan berlangsung di media-media seperti internet, televisi, koran, majalah, dan buku. Fakta banyaknya anak-anak Indonesia yang lebih menggemari komik atau film kartun Jepang, misalnya, menandakan bahwa cerita dari negara lain lebih ekspansif. Keprihatinan kita terhadap nasib cerita rakyat nusantara menjadi wajar seandainya pihak-pihak yang berkompeten belum optimal menggarap khazanah budaya ini secara serius dan berkelanjutan.         

Terdapat dua aspek penting yang harus diperhatikan terkait dengan strategi revitalisasi cerita rakyat dalam kancah global. Pertama, penggalian dan penyajian cerita rakyat. Dan kedua penggunaan teknologi informasi sebagai sarana publikasi. Apa yang telah dilakukan oleh BKPBM dalam merevitalisasi cerita rakyat nusantara saya angkat sebagai contoh di sini. Berkaitan dengan aspek penggalian dan penyajian cerita rakyat, BKPBM telah menggali ribuan cerita rakyat dari berbagai daerah di nusantara, bahkan dari komunitas yang masih menganut ajaran animisme-dinamisme, kemudian memilah dan menentukan cerita-cerita yang punya nilai edukasi bagi anak-anak. Dongeng-dongeng yang terpilih ditulis ulang dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis secara baik, sesuai dengan kemampuan daya pikir anak-anak untuk mengajak keterlibatan emosi mereka dalam alur cerita.   

Kenyataan bahwa suatu cerita adalah alat komunikasi yang mewakili kelompok tertentu di hadapan kelompok lain dalam proses saling memahami, mengharuskan pencantuman unsur-unsur lain selain narasi. Gambar atau ilustrasi yang representatif merupakan unsur penting guna menghadirkan kesadaran kepada pembaca tentang perbedaan-perbedaan kultur sebagaimana terungkap pada simbol-simbol pada tiap-tiap masyarakat. Ketika seorang anak dari Jawa membaca cerita dari Bugis, Banjar, Aceh, Minang, Papua, dan melihat simbol-simbol yang melekat pada tiap-tiap masyarakat tersebut, akan terbangun kesadarannya atas perbedaan-perbedaan kultur pada setiap komunitas. Dari sinilah kesadaran multikulturalisme anak-anak mulai diasah dan ditumbuhkan. Buku 366 Cerita Rakyat Nusantara, salah satu hasil karya BKPBM, dipublikasikan dalam rangka mengasah kesadaran tersebut.

Dalam konteks global, cerita rakyat nusantara yang kita orientasikan sebagai salah satu sumber global penuntun tindakan sosial masyarakat luas, mau tidak mau harus dipublikasikan melalui teknologi informasi modern. Teknologi internet digunakan oleh BKPBM untuk menduniakan cerita rakyat melalui bahasa Indonesia, Inggris dan Prancis, seperti dapat dilihat di www.melayuonline.com dan www.ceritarakyatnusantara.com. Dalam jejaring dunia maya, nilai dan simbol-simbol kebudayaan dengan mudah dapat saling dipertukarkan yang menyebabkan terjadinya penyerapan dan pengayaan ekspresi baru oleh individu atau kelompok masyarakat di seluruh dunia.

Strategi yang diterapkan oleh BKPBM di atas bertujuan untuk menjadikan cerita rakyat sebagai produk budaya yang dinamis. Nilai dan pesan dalam cerita rakyat semaksimal mungkin diungkap dan ditanamkan bukan hanya kepada masyarakat pemilik cerita, tetapi kepada masyarakat Indonesia dan dunia, melalui buku dan teknologi informasi modern.  BKPBM tidak menyajikan cerita rakyat dalam bentuk ‘apa adanya‘, tetapi memformat ulang dan memfungsikannya sesuai dengan tuntutan zaman.

Penutup

Cerita rakyat yang tersebar di berbagai pelosok nusantara merupakan kekayaan budaya yang masih kurang diperhatikan. Hal ini tampak pada banyaknya cerita-cerita rakyat dari daerah tertentu yang cukup populer tetapi belum dikenal oleh masyarakat di daerah lain, kecuali beberapa saja seperti Malin Kundang, Bawang Merah - Bawang Putih, Sangkuriang, dan lain-lain. Permasalahan ini tidak berkaitan dengan pemilik cerita rakyat, tetapi berkaitan dengan kurangnya upaya penggalian dan publikasi secara nasional dan global oleh pihak-pihak yang berkompeten. Sebagai faktor penting dalam pembentukan identitas dan kebudayaan nasional, cerita rakyat sangat perlu digali, dikembangkan, dan disosialisasikan. Terlebih lagi dalam masyarakat multikultur yang membutuhkan simbol universal yang dapat memelihara sistem sosial yang terintegrasi.

Karena itu, BKPBM bercita-cita menghidupkan kembali cerita rakyat nusantara dalam skala nasional dan global. Beberapa langkah strategis dan taktis telah dijalankan agar peran dan fungsi cerita rakyat tidak saja berpengaruh pada masyarakat tradisional, tetapi juga masyarakat modern. Demi mencapai tujuan-tujuan tersebut secara optimal, BKPBM sebagai lembaga swasta non-profit, berusaha menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain yang peduli terhadap revitalisasi, preservasi, dan publikasi karya sastra yang agung ini.

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press.

_____________________. 2008. “Tamasya Cerita Rakyat Tamasya Budaya”, dalam 366 Cerita Rakyat Nusantara. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa & Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.

Al Mudra, Mahyudin. 2008. “Pengantar Penerbit”, dalam 366 Cerita Rakyat Nusantara. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa & Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.

Budianta, Melani. 2003. “Sastra dan Interaksi Lintas Budaya”, dalam Abdul Rozak Zaidan dan Dendy Sugono (ed.), Adakah Bangsa dalam Sastra?. Jakarta: Progress & Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Danandjaya, James. “Mencari Ketunggalan Budaya Indonesia Melalui Cerita Rakyat Melayu Riau”, dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya. Pekanbaru: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau

Geertz, Clifford. 1973. Interpretation of Cultures. New York: Basic Books

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Stern, Stephen. 1977. “Ethnic Folklore and The Folklore of Ethnicity”, Western Folklore, Vol 36, No 1, hal 7 – 32.

Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra, Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.

Taslim, Noriah. 2007. “Pantun Sebagai Puisi Bunyi: Dinamika Kelisanan dan Penciptaan Pantun”, dalam Supyan Hussin dan Ding Choo Ming (ed.), Prosiding Seminar Pantun Melayu: Semalam, Hari Ini dan Esok. Selangor: Institut Alam dan Tamadun Melayu



Makalah ini disampaikan pada seminar internasional “Tradisi Lisan sebagai Kekuatan Kultural Membangun Peradaban”, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat, di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada 1 – 3 Desember 2008.

Mahyudin Al Mudra, adalah Pendiri dan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Yogyakarta.

 

 
Dibaca : 5.030 kali.

Tuliskan komentar Anda !