Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Artikel
04 juni 2009 04:07
Mengembalikan Kejayaan Tamadun Melayu
Ketapang-MelayuOnline.com, Orang-orang Melayu menyebar ke segenap penjuru dunia. Mereka memasuki jantung-jantung peradaban lain dengan melintasi batas-batas geografis, politik, agama, dan budaya. Fenomena ini menyebabkan kawasan Melayu semakin luas sehingga kurang tepat jika orang Melayu hanya diidentifikasikan kepada mereka yang bermukim di Semenanjung, Sumatra, dan Kalimantan Barat. Budaya dan kebudayaan yang dihasilkan menjadi heterogen, dan orientasi politiknya juga berbeda-beda.
Semakin meluasnya kawasan Melayu dan semakin beragamnya budaya dan kebudayaan yang dihasilkan ternyata tidak menjadikan Melayu semakin besar, tetapi semakin sempit dan terkotak-kotak oleh belenggu agama dan kepentingan politik. Perjuangan yang dilakukan oleh setiap kelompok Melayu bersifat lokal dan parsial. Akibatnya, Melayu semakin tertinggal oleh peradaban dunia lainnya. Untuk mengembalikan kejayaan Melayu, maka setiap puak-puak Melayu se dunia harus bersama-sama melakukan perjuangan secara politik, budaya, ekonomi. Gerakan bersama dapat dilakukan jika antarpuak-puak Melayu terjalin jembatan penghubung yang mampu menghilangkan sekat-sekat politik, agama, dan budaya.
Hal itulah yang nampaknya menjadi landasan diadakannya seminar ”Membangun Jembatan Dunia Melayu” di Hotel Aston Ketapang oleh Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) dengan menghadirkan empat pembicara, yairu:H. Huzrin Hood, SH, (Tokoh Melayu Kepulauan Riau),Prof. Dr. Awang Hasmadi(Brunei Darussalam), Drs. Jumadi M.Si (Universitas Tanjung Pura), dan Mahyudin Al Mudra, SH. MM., (Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu dan Pimpinan Umum MelayuOnline.com), Jum‘at (29 Mei 2009). Hadir sebagai peserta adalah raja-raja kawasan Melayu, budayawan, tokoh Melayu, akademisi yang berasal dari Singapura, Melaka, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, Yogyakarta, dan kabupaten-kabupaten se Kalimantan Barat.
Membicarakan upaya untuk membangun jembatan dunia Melayu, keempat pembicara dalam seminar tersebut mengajukan perspektif yang berbeda-beda, tetapi saling menopang. Peradaban Melayu, menurut Huzrin Hood, terbentuk karena Melayu berposisi sebagai jembatan penghubung. Posisi Malayu yang biasanya berada di daerah pesisir dan pinggir sungai memungkinkannya berinterakasi dengan berbagai macam peradaban dunia. Melayu menyerap kebudayaan luar yang singgah di kawasan Melayu, dan menjadikannya sebagai modal untuk mengembangkan peradabannya. ”Melayu adalah jembatan yang menghubungkan peradaban-peradaban dunia. Tanah Melayu menjadi tanah penghubung peradaban dunia. Karena peran penting inilah, Melayu pada zaman dahulu meraih kegemilangan. Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengembalikan Melayu sebagai jembatan dunia?, ungkap Huzrin.
Awang Hasmadimelihat bahwa pada awalnya Melayu adalah satu kesatuan yang utuh. Tetapi kolonialisme telah menjadikan Melayu terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang kecil. Kondisi ini menyebabkan peradaban Melayu semakin tenggelam. Oleh karena itu, menurut Awang, yang harus dilakukan adalah mengembalikan spirit persatuan antara puak-puak Melayu, khususnya yang berada dikawasan semenanjung, Kalimantan Barat, Malaysia, dan Brunei.
Menurut Jumadi, hal yang perlu dilakukan untuk membangun jembatan Melayu adalah menumbuhkan kesadaran historis puak-puak Melayu. Menurutnya, puak-puak Melayu sudah saatnya membangun jembatan dengan masa lalunya. Melayu tidak hanya diperkaya oleh Islam, tetapi juga oleh kebudayaan pra Hindu-Buddha, Hindu-Buddha, dan Islam. ”Yang harus dilakukan adalah membangun jembatan dengan Melayu awala. Melayu menjadi kerdil karena puak-puak Melayu telah memutus hubungan dengan sejarah masa lalunya,” ungkap Jumadi.
Mahyudin Al Mudra yang menjadi pembicara pamungkas dalam seminar tersebut mengatakan bahwa puak-puak Melayu saat ini telah tersebar ke segenap penjuru dunia, bertemu dengan kebudayaan yang beraneka ragam, dan mendiami wilayah politik yang berbeda-beda. Fenomena ini harus disikapi secara serius agar mereka tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang Melayu. ”Dari mana orang-orang Melayu yang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia dapat memperoleh informasi dan pengetahuan tentang Melayu? Dalam kontek globalisasi, maka penggunaan internet untuk melaungkan Melayu dan kemelayuan merupakan keniscayaan. Internet akan mampu mengunjungi puak-puak Melayu di mana saja mereka bermaustautin tanpa dibatasi oleh sekat-sekat politik, budaya, geografis, dan agama,” ungkap Bang MAM, panggilan akrab Mahyudin Al-Mudra.
Peluncuran Melayuonline.com, lanjut Bang MAM, merupakan upaya Balai kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta untuk menjadi jembatan seluruh puak-puak Melayu sedunia. Menurutnya, dengan menyajikan segala hal ikhwal tentang Melayu dan kemelayuan, baik yang terjadi pada masa lalu, maupun yan terjadi saat ini, MelayuOnline.com telah menjadi sumber informasi utama tentang Melayu. ”MelayuOnline.com menjadi jembatan antarpuak Melayu di seluruh dunia, dan sekaligus jembatan antara Melayu dengan masyarakat dunia. Puak-puak Melayu khususnya, dan masyarakat dunia pada umumnya dapat mengetahui dunia Melayu secara mendalam cukup dengan mengakses http://www.melayuonline.com,” Ungkap Tokoh Pemersatu Melayu Serantau pilihan LAMS.
Seminar diakhiri dengan prakata penutup dari Tan Sri Dato‘ (DR) Ismail Hussein. Menurut Tan Sri, pemanfaatan media online seperti yang dilakukan oleh BKPBM dengan Melayuonline-nya merupakan cara yang sangat cerdas untuk menduniakan Melayu dan kemelayuan. Selain itu, Melayuonline.com juga dapat menjadi jembatan penghubung antarpuak-puak Melayu se dunia. Dalam kesempatan tersebut, Mahyudin Al Mudra menyerahkan cendera hati kepada para pembicara.