Close
 
Senin, 28 Juli 2014   |   Tsulasa', 30 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 1.633
Hari ini : 13.255
Kemarin : 17.575
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.955.865
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

06 juli 2009 03:45

Kepercayaan Marapu:
Telaah atas Konsep Tuhan, Nenek Moyang, dan Roh Halus pada Masyarakat Sumba

Kepercayaan Marapu: <br>Telaah atas Konsep Tuhan, Nenek Moyang, dan Roh Halus pada Masyarakat Sumba
Orang Sumba dalam sebuah tarian adat.

Oleh: Lukman Solihin*

A. Pendahuluan

Marapu merupakan kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat Pulau Sumba di Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kepercayaan asli masyarakat Sumba ini tetap dianut oleh sebagian masyarakat Sumba hingga kini, di samping agama resmi yang mulai diinternalisasi dan dianut oleh masyarakat Sumba pada paruh terakhir abad ke-19. Pekabaran injil di Pulau Sumba tercatat pertama kali dilakukan oleh seorang zendeling bernama JJ. van Alphen sekitar tahun 1881. Kendati tidak begitu memuaskan, namun misi yang dilakukan oleh Alphen merupakaan permulaan misi gereja di Pulau Sumba (Th. Van den End, 2001:262).

Pulau Sumba adalah salah satu dari gugusan pulau-pulau yang dahulu disebut sebagai “Sunda Kecil”, yang terdiri dari Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor. Gugusan pulau-pulau ini kemudian diganti sebutannya menjadi “Nusa Tenggara” oleh Prof. Muhammad Yamin dengan mengacu pada posisinya yang berada di sudut Tenggara kepulauan Indonesia (Oe. H. Kapita, 1976:11). Pulau Sumba memiliki luas sekitar 11.587,5 kilometer persegi. Di sebelah Utara, pulau ini berbatasan dengan Selat Sumba yang memisahkannya dengan Pulau Flores, di sisi Timur berbatasan dengan Laut Sawu yang memisahkan dengan Pulau sawu, Pulau Rote, dan Pulau Timor, sementara di sisi Selatan dan Barat berbatasan dengan Samudera Hindia (M. Junus Melalatoa, 1995:789).

Di kalangan pelaut Eropa, Pulau Sumba dikenal dengan dua sebutan, yakni Chendan Island (Pulau Cendana) dan Sandelwood Island (dalam bahasa Belanda disebut Sandelhout Eiland). Menurut Kapita (1976:12), setelah pelayaran Fernando de Magelhaens sekitar tahun 1519-1521, Pulau Sumba mulai dikenal oleh para pelayar dunia melalui peta yang dibuat oleh Pigafetta, salah seorang rekan pelayaran Magelhaens. Dalam peta tersebut, Sumba diberi nama Chendan Island, karena ketika itu Pulau Sumba dikenal sebagai penghasil kayu cendana. Dalam perkembangannya, hasil kayu cendana kian merosot, bahkan hilang sama sekali karena ekplorasi hutan yang tidak terkendali. Sementara para pelayar Inggris menyebut Sumba dengan nama Sandelwood Island, karena mereka sering membeli kuda-kuda Sumba yang disebut kuda sandel (sandel horse).

Adapun masyarakat setempat menyebut Pulau Sumba dengan sebutan Tana Humba (tana = tanah atau pulau, humba = sumba). Masyarakat Sumba menyebut diri mereka dengan sebutan Tau Humba yang berarti orang sumba (Melalatoa, 1995:789). Namun dalam pemahaman Kapita, humba tidak hanya memiliki arti sumba (sebagai sebutan untuk Pulau Sumba), melainkan juga memiliki makna asli. Sehingga, sebutan Tana Humba memiliki arti tanah asli, sementara Tau Humba adalah sebutan untuk orang asli Sumba. Penafsiran ini didasarkan atas lawan kata Humba (asli), yaitu Jawa (asing). Contohnya, dalam masyarakat Sumba dikenal sebutan Uma Humba (rumah asli masyarakat Sumba) dan Uma Jawa (rumah dengan bentuk lain/asing) (Kapita, 1976:12).

Perkiraan lain mengenai asal kata Humba dikatakan oleh Frederiek Djara Wellem. Menurutnya, nama Humba berasal dari nama nenek moyang (perempuan) yang pertama kali mendiami pulau ini. Nenek moyang tersebut memiliki suami, yaitu Umbu Walu Mandoku. Umbu Walu Mandoku menamai pulau tersebut dengan nama istrinya, karena merasa gembira telah mencapai pulau yang diimpikan dalam pelayaran yang sangat panjang. Dalam cerita rakyat Sumba disebutkan, nenek moyang mereka berasal dari Malaka, yang kemudian berlayar melewati Singapura, Riau, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Rote, Sawu, hingga mendarat di Tanjung Sasar (Sumba) (Wellem, 2001:15-16). Dalam versi yang agak berbeda disebutkan, nenek moyang orang Sumba berlayar dari Malaka (Malaka), melewati Tana Bara (Singapura), Hapa Riu – Ndua Riu (Riau), Hapa Jawa – Ndua Jawa (Jawa), Ruhuku – Mbali (Bali), Ndima (Bima), Ndau (Dao), Haba (Seba/Sawu), Rai Njua (Raejua), kemudian mendarat di Tana Humba (Pulau Sumba) (Sri Murni, 2007:3; Kapita, 1976:13-14).

Setelah kedatangan nenek moyang tersebut, kehidupan di Pulau Sumba mulai ditata. Penduduk pertama kemudian membagi kelompok yang disebut dengan kabihu atau kabisu. Kabihu atau kabisu adalah klan, yaitu kelompok yang berkembang berdasarkan garis kekerabatan. Setelah berpisah, masing-masing kabihu kemudian membangun permukiman yang disebut paraingu dan mengatur kehidupan sosial-budaya, seperti beripar-berbiras, upacara perkawinan, kelahiran, hingga kematian (Sri Murni, 2007:3). Dalam perkembangannya, paraingu biasanya dibangun di atas bukit dan dikelilingi pagar batu dan tumbuhan berduri. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi permukiman dari serangan musuh (Kapita, 1976: 14).


Permukiman masyarakat Sumba.
Sumber: http://www.pbase.com/travelgame/nusatenggara

Para leluhur yang datang pertama ke Pulau Sumba sangat dihormati oleh para keturunannya hingga kini. Penghormatan terhadap arwah leluhur inilah yang kemudian melahirkan agama lokal yang disebut kepercayaan Marapu. Kepercayaan Marapu mengkultuskan arwah nenek moyang (leluhur) sebagai perantara untuk memuja Yang Maha Pencipta atau ilah tertinggi (Kapita, 1976: 14; Wellem, 2004: 41-42; dan Murni, 2007:5).

Selain merujuk kepada sebuah sistem religi tertentu yang dianut oleh masyarakat Sumba, istilah marapu juga menunjuk kepada makna lain yang lebih sempit sifatnya, yaitu arwah nenek moyang. Istilah Marapu sebagai kepercayaan dan marapu sebagai nenek moyang memang terkadang agak sulit dibedakan, mengingat agama lokal ini lahir dari pengkultusan terhadap nenek moyang itu sendiri. Namun, harus dipahami bahwa arwah nenek moyang (marapu) tersebut merupakan satu elemen saja (meskipun merupakan elemen yang sangat penting) dalam konsep dan pelaksanaan ritus-ritus agama lokal Marapu, di samping elemen-elemen lain. Dalam tulisan ini, marapu sebagai arwah nenek moyang akan mengambil peran besar dalam deskripsi mengenai agama lokal masyarakat Sumba tersebut. Marapu sebagai kepercayaan lokal akan ditulis dengan huruf “M” (besar) dan marapu yang mengacu kepada nenek moyang akan ditulis dengan huruf “m” (kecil).

Tulisan ini mencoba untuk menelaah (1) konsep-konsep yang terdapat di dalam kepercayaan Marapu, serta (2) manifestasinya dalam pola permukiman dan bentuk rumah, tempat-tempat pemujaan, serta ritus pengurbanan dan upacara kematian. Dalam kajian ini, penulis menggunakan kerangka pemahaman yang diajukan oleh Clifford Geertz, yang mencoba memahami agama (dalam hal ini agama lokal Marapu) sebagai sistem simbol. Agama sebagai sistem simbol, menurut pendapat Geertz, mempengaruhi motivasi hidup, menjadi konsep untuk memaknai tatanan umum eksistensi manusia, serta membungkus konsep-konsep itu ke dalam berbagai pancaran faktual sehingga nampak realistis (Geertz, 1992:5).

Geertz memahami agama sebagai “model dari kenyataan” (model of reality), yang sekaligus juga menjadi “model untuk kenyataan” (model for reality) (Geertz, 1992:5). Agama merangkum pengetahuan mengenai realitas kehidupan yang terpatri di dalam konsep dan ajaran-ajarannya. Konsep atau ajaran-ajaran tersebut merupakan pantulan dari kehidupan yang ideal atau kehidupan yang diangankan (model of reality). Di samping sebagai pantulan dari realitas, konsep atau ajaran-ajaran dalam agama juga menjadi panduan atau “peta kognitif” bagi penganutnya untuk menjalani kehidupan yang sesuai ajaran agama tersebut. Pada model yang terkhir ini, agama menjadi model for reality.

Konsep-konsep dalam agama Marapu merupakan pantulan dari angan-angan untuk membentuk relasi yang ideal antara manusia dan dunia roh. Konsep-konsep tersebut kemudian menjadi petunjuk (“peta kognitif”) bagi manusia untuk menjalani kehidupan sesuai dengan konsep-konsep tersebut. Relasi antara model of dan model for ini dapat dilihat pada manifestasi, yakni bentuk-bentuk riil yang menunjukkan relasi antara konsep-konsep agama dan kenyataan kehidupan sehari-hari. Manifestasi-manifestasi tersebut muncul dalam berbagai bentuk, yang meminjam pengelompokan tiga wujud kebudayaan Koentjaraningrat, dapat dilihat pada konsep (gagasan), perilaku, dan artefak (budaya materi) (Koentjaraningrat, 1994:11).

Melalui kajian ini penulis berharap dapat memahami secara lebih utuh konsep dan manifestasi agama Marapu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba. Sumber utama kajian ini adalah buku-buku maupun artikel yang mendeskripsikan sejarah dan kehidupan sosial budaya masyarakat Sumba.

B. Konsep-konsep dalam Kepercayaan Marapu

Dari segi etimologis, istilah marapu merupakan gabungan dua kata yang apabila dipecah dapat menimbulkan makna yang berbeda-beda. Menurut L. Ovlee (dalam Wellem, 2004: 41), kata marapu dianggap berasal dari dua kata, yakni ma dan rappu. Ma bermakna “yang”, dan rappu bermakna “dihormati”, “disembah”, dan “didewakan”. Sehingga, marappu merujuk pada arti sesuatu yang dihormati, disembah, atau didewakan. A. A. Yewangoe (1980:52) berpendapat bahwa marappu merupakan gabungan dari kata ma (yang) dan rappu (tersembunyi), sehingga kata marappu bermakna “yang tersembunyi”. Selain itu, Yewangoe juga memperkirakan bahwa marappu berasal dari mera (sama/serupa) dan appu (nenek moyang). Dalam istilah sehari-hari, masyarakat Sumba memang biasa menyebut nenek moyang mereka dengan sebutan marapu. Dalam gabungan kata yang terakhir ini nampak bahwa Marapu merupakan manifestasi dari penghormatan masyarakat Sumba terhadap leluhur mereka.

Kepercayaan Marapu dapat digolongkan sebagai salah satu dari agama-agama arkais. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ciri khas agama ini, seperti pengultusan terhadap arwah leluhur, kepercayaan terhadap roh halus dan kekuatan-kekuatan gaib, serta fetisisme, yaitu pemujaan terhadap benda-benda keramat. Dalam kacamata Yewangoe (1980:52), kepercayaan Marapu dapat dikelompokkan kepada agama-agama alam, sebab di dalam agama ini kuasa dan kekuatan alam sangat dihormati dan mengambil peran penting dalam konsep kepercayaannya.

Meminjam pengelompokan Mariasusai Dhavamony (1995) tentang bentuk-bentuk “agama primitif”, maka agama Marapu dapat dikelompokkan sebagai agama yang berbasis pada animisme dan pemujaan terhadap leluhur. Animisme adalah kepercayaan terhadap roh, di mana setiap makhluk hidup dan benda mati dianggap mempunyai roh. Sistem kepercayaan ini diperkirakan muncul sebagai usaha untuk menjelaskan pengalaman manusia ketika bermimpi, tidak sadarkan diri atau kerasukan (trance), hingga menjelaskan konsep kehidupan dan kematian. Jika seseorang meninggal, maka rohnya akan pergi dari tubuhnya. Hal ini memantik pemikiran bahwa jiwa atau roh dapat terpisah dari tubuh. Kepercayaan terhadap roh ini kemudian melahirkan pemujaan terhadap arwah para leluhur yang dipercaya memiliki kekuatan untuk melindungi atau merusak kehidupan manusia (Dhavamony, 1995:66-67, dan 79-80).

Setelah kematian, roh dianggap abadi, dan “hidup” dalam keseharian manusia. Meskipun tidak terlihat, roh dapat dirasakan pengaruh dan kekuatannya, misalnya melalui bencana alam maupun gagal panen yang dianggap ditimbulkan karena kelalaian memuja roh nenek moyang tersebut. Selain itu, kepercayaan terhadap roh juga menimbulkan pemujaan terhadap benda-benda fetis, yaitu benda-benda keramat (jimat) yang dianggap didiami roh atau dianggap mengandung daya magis (Dhavamony, 1995:68).

Kendati dapat dikelompokkan sebagai “agama primitif”, bukan berarti kepercayaan Marapu tidak mengenal konsep ilah tertinggi. Pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan benda-benda keramat merupakan media untuk memuja ilah tertinggi tersebut.

B. 1. Konsep mengenai Ilah Tertinggi

Masyarakat Sumba mengenal ilah tertinggi sebagai Pande Peku Tamu – Pande Yura Ngara (ia yang tidak diketahui namanya). Meskipun dijuluki sebagai “yang tidak diketahui namanya”, namun pada kenyataannya masyarakat Sumba menamai ilah tertinggi tersebut dengan sebutan Anatala. Menurut penyelidikan Kapita (dalam Wellem, 2004:42), nama Anatala kemungkinan dipengaruhi oleh konsep Islam yang menyebut Tuhan dengan sebutan Allah Ta‘ala. Konsep ini mungkin dibawa oleh orang Ende (Flores) dan Bima (Sumbawa) yang telah masuk Islam yang melakukan hubungan politik maupun perdagangan dengan orang Sumba jauh sebelum orang Eropa datang menguasai Pulau Sumba sekitar abad ke-19.

Nama ilah tertinggi tersebut dianggap keramat dan mempunyai kekuatan magis, sehingga dilarang disebut sembarangan karena dapat menimbulkan malapetaka. Nama Anatala hanya boleh disebutkan secara lirih (bahkan tidak terdengar) oleh para rato/ratu, yaitu pemimpin ritus keagamaan orang Sumba dalam upacara Perjamuan Dewa (Pamangu Ndewa). Upacara ini hanya dilaksanakan delapan tahun sekali. Oleh sebab itu, dalam bahasa sehari-hari, masyarakat Sumba mengganti nama Anatala dengan menyebut sifat-sifat ketuhanannya, misalnya dengan perkataan Mawulu Tau – Majii Tau (ia yang menciptakan manusia), Ina Mbulu – Ama Ndaba (ia adalah ibu dan bapa dari segala sesuatu), Ina Nuku – Ama Hara (sumber dari segala aturan), dan sebutan-sebutan penghormatan lainnya (Wellem, 2004:42-43).

Ilah tertinggi tersebut menempati dunia langit bersama para marapu, yaitu nenek moyang pertama umat manusia. Dalam kosmologi masyarakat Sumba, alam semesta terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan atas (langit), lapisan tengah (bumi), dan lapisan bawah (di bawah bumi). Sebagai penguasa tertinggi, Anatala yang disebut juga Hupu Ima – Hupu Ana (ibu dan bapa segala sesuatu) tinggal di langit (Wellem, 2004:44; Kapita, 1976:229).

Dalam konsepsi masyarakat Sumba, langit terdiri dari delapan petala (lapis) yang berbentuk kerucut: bagian paling atas memiliki dataran paling sempit, sementara bagian paling bawah memiliki dataran paling luas. Pada lapis pertama yang disebut Awangu Walu Ndani (lapis langit kedelapan) itu Hupu Ima – Hupu Ana tinggal bersama para marapu. Namun, karena dirasa sempit dan terlalu gelap gulita, Hupu Ima – Hupu Ana pindah ke lapis kedua, ketiga, keempat, kelima, hingga ke lapis keenam. Pada lapis keenam, marapu Tara Hau – Lulu Weu menempa emas untuk dijadikan bulan dan matahari, sehingga tempat tersebut menjadi terang benderang (Kapita, 1976:229-231).

Tak berapa lama, para marapu turun ke lapis ketujuh dan kemudian ke lapis kedelapan (lapis terakhir). Di lapis paling bawah ini, mereka melihat ada dataran yang sangat luas di bawahnya, namun masih berupa air, sehingga tidak mungkin untuk dijadikan tempat tinggal. Akhirnya, atas restu Hupu Ima – Hupu Ana, para Marapu diijinkan untuk tinggal di dataran baru tersebut, dengan cara menaburkan batu dan tanah pemberian Hupu Ima – Hupu Ana. Batu dan tanah yang ditaburkan itu menjelma menjadi pulau-pulau besar dan kecil, sehingga memungkinkan untuk ditinggali. Lalu dengan menggunakan Panongu Bahi – Panongu Atu (tangga besi dan teras kayu), mereka turun ke tanah yang disebut Malaka – Tana Bara (Kapita, 1976:231-232). Para Marapu inilah yang dianggap sebagai nenek moyang masyarakat Sumba.


Lapisan-lapisan langit dalam kosmologi masyarakat Sumba.
Sumber: Oe. H. Kapita (1976), Sumba di Dalam Jangkauan Jaman, hlm. 229.

Dari konsepsi masyarakat Sumba ini dapat digambarkan bahwa eksistensi Tuhan sangat dibedakan dengan manusia, baik karena sifatnya yang adikodrati maupun tempatnya yang jauh di atas sana. Semula, ketika para Marapu belum turun ke bumi, hubungan antara manusia dan ilah tertinggi dapat terjalin secara langsung. Namun, sebagaimana disimpulkan Wellem (2004:45), ketika mereka memutuskan untuk tinggal di bumi, maka relasi antara Tuhan dan manusia kemudian terputus. Jalinan komunikasi dengan Tuhan hanya dapat terjadi dengan perantara arwah nenek moyang, yaitu para marapu. Melalui marapu, manusia dapat memohonkan pertolongan untuk disampaikan kepada Hupu Ima – Hupu Ana, dan melalui marapu pula Hupu Ima – Hupu Ana mengirimkan pesan atau jawaban atas permohonan tersebut.

B.2. Konsep mengenai Marapu

Sebagaimana dibahas pada bagian sebelumnya, marapu adalah kelompok manusia pertama yang turun dari langit untuk menetap di bumi. Sebagai generasi pertama yang turun dari langit, marapu dianggap sebagai makhluk yang mewarisi sifat-sifat adikodrati. Meskipun demikian, di sisi yang lain marapu juga merupakan sosok manusia yang memiliki sifat-sifat sebagaimana manusia pada umumnya. Di sini terdapat dualisme, di mana marapu dipersepsi sebagai “dewa” yang sekaligus memiliki sifat-sifat sebagai “manusia”. Sebagai dewa, marapu merupakan pembantu langsung Hupu Ima – Hupu Ana yang memiliki berbagai kelebihan dan kesaktian, sedangkan sebagai manusia marapu memutuskan untuk tinggal di bumi sebagai manusia biasa. Untuk menghormati arwah para Marapu ini, masyarakat Sumba lalu memujanya sebagai dewa penolong.

Konsepsi yang hampir sama terdapat pada masyarakat Bugis yang melihat sosok bissu (pendeta masyarakat Bugis) sebagai manusia yang memiliki posisi ambivalen. Di satu sisi, para bissu dianggap mewarisi darah para dewa sehingga memiliki kelebihan-kelebihan magis, sedangkan di sisi lain ia juga mewarisi sifat-sifat sebagai manusia yang bisa sakit atau mati. Namun, berkat sifatnya yang ambivalen itulah kemudian bissu dianggap memiliki kemampuan untuk memberkati dan menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia roh (Sharyn Graham, 2002).

Sebagaimana di dunia manusia, di dunia roh arwah nenek moyang dipersepsi memiliki tingkatan-tingkatan. Pada tingkat tertinggi terdapat “maha leluhur” yang disebut marapu ratu, yaitu nenek moyang tertinggi, dan dibawahnya terdapat leluhur biasa atau marapu. Marapu ratu adalah arwah nenek moyang yang pertama turun dari langit. Marapu ratu inilah yang kemudian menurunkan para leluhur biasa. Para leluhur biasa ini terbagi lagi ke dalam leluhur besar (marapu bokulu) dan leluhur biasa (marapu pakahopi). Setiap klan atau kabihu memiliki marapu ratu dan marapu biasa sendiri, sesuai dengan legenda setiap kabihu. Para marapu kabihu ini adalah mereka yang dianggap sebagai pendiri, pemimpin, dan pahlawan di dalam kabihu tersebut (Wellem, 2004:45-46).

Untuk menghormati para marapu, masyarakat Sumba membuat simbol berupa benda-benda, seperti tombak, benda-benda dari emas, gong, gading, manik-manik, dan benda-benda khusus lainnya. Benda-benda ini dianggap sebagai obyek fetis, dikeramatkan, dan tidak sembarang orang dapat menyentuhnya. Hanya para rato yang boleh memegangnya dalam suatu upacara keagamaan. Benda-benda keramat tersebut disimpan di dalam kotak atau sebuah peti dan diletakkan di atas loteng rumah. Masyarakat Sumba percaya bahwa melalui benda-benda tersebut marapu hadir memberikan pertolongan (Kapita, 1976:15; Melalatoa, 1995:794; dan Wellem, 2004:46). Simbol-simbol sakral ini, meminjam perkataan Geertz, telah membentuk suasana yang menarik si penyembah kepada seperangkat aturan yang harus atau tidak boleh dilakukan (Geertz, 1992:11). Benda-benda itu dikultuskan karena merupakan simbol kehadiran marapu.

Keberadaan marapu dapat dikatakan telah menggantikan peran Tuhan (Hupu Ima – Hupu Ana) dalam kehidupan masyarakat Sumba. Pemahaman bahwa Tuhan terletak jauh di atas sana membuat posisi marapu menjadi penting. Marapu penting karena dapat menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhan. Selain itu, ia telah mewakili Tuhan dalam tugas-tugas menolong atau menghukum manusia. Jika marapu dipuja, maka ia akan memberikan pertolongan, perlindungan, dan keselamatan. Begitu juga sebaliknya, jika ia tidak disembah akan menimbulkan malapetaka.

B. 3. Konsep mengenai Roh Halus

Di samping percaya terhadap roh para leluhur, masyarakat Sumba juga meyakini adanya roh-roh halus yang dapat menolong atau mencelakakan kehidupan manusia. Roh-roh halus ini mendiami tempat-tempat tertentu. Seperti diutarakan oleh Dhavamony (1995:67), kepercayaan terhadap roh merupakan kebutuhan untuk menangkal kejahatan, musibah, atau untuk menjamin keselamatan. Di dalam pemujaan terhadap roh terdapat komunikasi antara manusia kepada roh, yaitu permohonan manusia untuk diberikan keselamatan.

Sebagaimana arwah nenek moyang (marapu), di sini roh juga bersifat ambivalen. Di satu sisi ia menjelma sebagai kekuatan baik—misalnya dengan memberikan keselamatan dan kesejahteraan, namun di sisi lain ia dapat pula menjelma sebagai kekuatan jahat—mendatangkan musibah atau mengancam keselamatan. Oleh karena itu, roh-roh halus juga harus dipuja supaya keberadaannya tidak mengganggu atau menimbulkan masalah.

Roh-roh halus yang memiliki kekuatan magis ini bermacam-macam. Misalnya, masyarakat Sumba mengenal roh halus yang mendiami tanah atau wilayah tertentu. Roh ini menguasai wilayah itu dan dapat memberikan kesuburan pada tanah atau memberikan hasil buruan yang melimpah. Pendek kata, roh tanah (maramba tana) dapat memberikan kemakmuran jika warga yang menggunakan tanah tersebut menghormatinya. Ada pula roh yang menemani seseorang ketika dalam perjalanan. Roh yang disebut Yora Pangga – Yora ini akan menemani seseorang dalam berburu, berdagang, atau menangkap ikan, sehingga orang tersebut dapat berhasil melakukan pekerjaannya (Wellem, 2004:46).

Selain roh-roh yang memiliki karakter baik, ada pula roh jahat yang dapat menggiring manusia kepada perbuatan jahat dan mencelakakan orang lain. Misalnya roh suanggi, yaitu roh penyihir yang bisa membuat seseorang sakit. Apabila terdapat anggota kabihu yang dianggap memiliki atau menggunakan roh suanggi, maka ia akan diusir, dianiaya, atau bahkan dibunuh oleh warga kabihu lainnya. Roh jahat lainnya adalah “roh penipu” yang dapat membuat seseorang suka menipu, “roh jahat” yang dapat menggiring seseorang berbuat kejahatan, serta “roh perut” yang dapat membuat orang makan dengan rakus (Wellem, 2004:46-48).

C. Manifestasi Kepercayaan Marapu

Kepercayaan dalam agama Marapu yang diteruskan secara turun temurun telah melahirkan berbagai manifestasi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Sumba. Dalam pembahasan di bawah ini akan terlihat bahwa konsep-konsep di dalam agama Marapu telah menjelma menjadi “peta kognitif” (model for reality) bagi masyarakat Sumba. Berbagai manifestasi sosial budaya tersebut antara lain dapat dilihat pada [1] formasi permukiman penduduk (paraingu) dan bentuk rumah khas Sumba; [2] tempat-tempat pemujaan; serta [3] ritus-ritus pengorbanan dan upacara kematian.

C.1. Permukiman dan Bentuk Rumah

Masyarakat Sumba membangun permukiman (paraingu) yang terdiri dari bangunan-bangunan rumah beberapa klan (kabihu). Seperti telah disebutkan sebelumnya, permukiman ini biasanya dibangun di atas bukit dengan pagar batu dan tumbuhan berduri (biasanya tanaman sejenis kaktus berduri). Pagar tersebut dimaksudkan untuk melindungi permukiman dari serangan musuh. Letaknya yang berada pada ketinggian menggambarkan konsepsi masyarakat Sumba yang percaya bahwa tempat ketinggian merupakan kediaman arwah para nenek moyang.

Kepercayaan terhadap Marapu telah mempengaruhi formasi permukiman yang dibangun di dalam paraingu. Setiap paraingu biasanya dilengkapi dengan rumah pemujaan, tugu pemujaan (katoda), dan makam. Rumah-rumah tradisional Sumba biasanya dibangun berderet-deret dengan bagian tengah sebagai makam. Di samping makam, terdapat tugu pemujaan (katoda) dan rumah besar (uma bokulu) yang berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap marapu dan roh-roh halus. Tugu-tugu pemujaan juga dibangun di pintu gerbang paraingu yang berfungsi sebagai pelindung dari serangan musuh (Kapita, 1976:351-353).

Selain mempengaruhi formasi permukiman warga, kepercayaan terhadap Marapu juga telah membingkai pemaknaan terhadap rumah-rumah tradisional Sumba. Seperti disampaikan oleh Melalatoa (1995:793), secara sosial masyarakat Sumba mengenal pembagian tiga lapisan sosial, yaitu bangsawan (maramba), orang merdeka atau orang biasa (kabihu), serta hamba sahaya (ata). Namun, dalam perkembangannya lapisan-lapisan sosial ini mulai bergeser, meskipun lapisan pertama dan kedua tetap bertahan hingga sekarang (Atmosudiro, 1982:58). Lapisan bangsawan merupakan lapisan sosial tertinggi yang memegang peranan penting dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dari lapisan inilah dipilih seorang penguasa atau raja. Bentuk-bentuk rumah yang dibangun oleh kaum bangsawan ini juga berbeda dengan orang biasa. Seperti diutarakan oleh Murni (2007:6), rumah-rumah kaum bangsawan biasanya dicirikan oleh bentuk atapnya yang menyerupai menara (uma mbatangu), sedangkan rumah orang biasa bentuk atapnya menyerupai limas (uma kamudungu).

Bentuk atap uma mbatangu yang menyerupai menara dibuat berdasarkan kosmologi masyarakat Sumba yang menganggap letak marapu berada pada lapisan paling atas (loteng rumah). Di tempat tersebut simbol-simbol marapu (berupa benda-benda keramat) diletakkan. Meskipun terdapat perbedaan pada bentuknya, namun rumah orang biasa (uma kamudungu) juga memiliki konsep lapisan yang sama, yaitu lapisan pertama (loteng rumah) untuk meletakkan benda-benda keramat, lapisan kedua untuk tempat tinggal manusia, dan lapisan ketiga (bagian bawah) untuk tempat hewan (Murni, 2007:6; Melalatoa, 1995:794).


Rumah tradisional Sumba.
Sumber: http://www.pbase.com/asianodyssey/eastsumba

Secara umum, menurut Kapita (1976:344-345), bagian-bagian rumah khas Sumba memiliki nama sesuai dengan fungsinya, yakni:

  1. Uma dana, yaitu bagian loteng rumah untuk tempat menyimpan benda-benda keramat.
  2. Bei uma, adalah induk rumah atau tempat tinggal penghuninya. Selain sebagai tempat tinggal, bagian ini juga biasa digunakan untuk menerima tamu dan menyelenggarakan musyawarah.
  3. Kali kambunga, ialah kolong rumah yang digunakan sebagai kandang babi dan kandang kuda.

C.2. Tempat-tempat Pemujaan

Pemujaan terhadap marapu telah membentuk sistem kepercayaan masyarakat Sumba yang bersifat animistis. Rumah pemujaan, tugu, dan benda-benda khusus dibuat dengan maksud sebagai media pemujaan terhadap arwah leluhur dan para roh halus tersebut. Keberadaan fisik sarana-sarana pemujaan ini penting untuk meyakinkan para pemeluk kepercayaan Marapu bahwa arwah leluhur dan roh halus betul-betul berada di dekat mereka, mengawasi segala perilaku, dan menerima persembahan serta doa-doa keselamatan yang dipanjatkan kepadanya. Benda-benda inilah yang dalam pengertian antropologi agama disebut benda-benda fetis (Evans Pritchard, 1984:26).

Dalam sistem kepercayaan masyarakat Sumba, pemujaan terhadap arwah leluhur dan roh halus dilakukan di dua tempat, yaitu pemujaan di dalam rumah dan pemujaan di luar rumah. Pemujaan di dalam rumah terbagi lagi ke dalam dua tempat, yaitu di “rumah yang tidak didiami orang” (uma ndapataungu), dan di “rumah besar” (uma bokulu). Pemujaan yang dilakukan di “rumah yang tidak didiami orang” merupakan pemujaan terhadap marapu ratu yang diadakan pada waktu-waktu tertentu, misalnya ketika panen. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, marapu ratu adalah nenek moyang utama dari sebuah kabihu, oleh sebab itu pemujaan terhadapnya juga dilakukan secara khusus dan ditempat yang paling khusus pula. Rumah pemujaan ini dibangun dengan bentuk lebih kecil daripada rumah pada umumnya, menggunakan atap dari ijuk, terletak agak jauh dari permukiman, dan tidak dijadikan sebagai tempat tinggal manusia. Rumah ini hanya boleh didiami oleh marapu ratu sendiri, sehingga sering juga disebut “rumah marapu ratu” (uma ratu) (Wellem, 2004:48).

Berbeda dengan pemujaan di “rumah yang tidak didiami orang”, pemujaan yang dilakukan di dalam “rumah besar” adalah pemujaan terhadap marapu biasa. Pemujaan ini dilakukan di sebuah rumah yang merupakan tempat tinggal pertama klan tersebut. Rumah ini memiliki tiga tingkat sesuai dengan kosmologi masyarakat Sumba, yaitu bagian atas sebagai tempat marapu tinggal, bagian tengah untuk manusia, dan bagian bawah untuk hewan peliharaan (Wellem, 2004:49). 

Selain pemujaan di dalam rumah, pemujaan terhadap arwah leluhur dan roh halus juga dilakukan di luar rumah, yaitu pada beberapa lokasi yang dibuat secara khusus. Orang Sumba percaya bahwa tempat-tempat tertentu dikuasai oleh arwah nenek moyang dan roh halus yang memiliki kekuatan gaib. Oleh sebab itu, untuk memohon keselamatan atas semua warga kabihu, pada tempat-tempat tersebut dibuat tugu pemujaan yang disebut katoda. Katoda adalah sebuah tugu pemujaan yang terbuat dari dua batang kayu yang ditancapkan, kemudian di tengahnya diletakkan sebuah papan batu sebagai tempat persembahan. Dua batang kayu tersebut melambangkan laki-laki dan perempuan.

Menurut Yewangoe (1980:57-58) dan Wellem (2004:51-53), ada beberapa katoda yang biasa dibuat oleh masyarakat Sumba, antara lain:

  1. Tugu Kampung (katoda paraingu). Tugu pemujaan ini dibuat di depan rumah besar. Pemujaan dan sesaji yang dipersembahkan biasanya dimaksudkan untuk mendoakan keselamatan seluruh warga paraingu (kampung).
  2. Tugu Halaman (katoda kawindu). Tugu ini didirikan di depan rumah masing-masing warga untuk memohon kesembuhan dan berkah ketika akan menanam padi.
  3. Tugu Pintu (katoda pindu). Tugu ini didirikan di depan gerbang paraingu, bertujuan mengusir wabah penyakit dan musuh yang berniat menyerang paraingu.
  4. Tugu Padang (katoda padangu). Tugu ini berada di padang penggembalaan hewan, dimaksudkan untuk memohon kesuburan dan mengusir penyakit hewan.
  5. Tugu Kebun (katoda woka, latangu). Didirikan di kebun-kebun dan sawah untuk memohon kesuburan tanah dan dihindarkan dari hama tanaman.
  6. Tugu Turun ke Laut (katoda purungu mihi). Didirikan di tepi pantai untuk memohon hasil laut yang melimpah dan dijauhkan dari malapetaka ketika turun melaut.
  7. Tugu Muara (katoda mananga). Tugu ini dipancang di muara sungai, supaya air tetap melimpah dan dapat memenuhi kebutuhan paraingu.
  8. Tugu untuk Berperang (andungu). Dipancang di depan rumah besar dan digunakan untuk memohon kemenangan ketika akan berperang. Setelah meraih kemenangan, kepala pimpinan musuh biasanya digantung di tugu ini dengan diiringi tari-tarian kemenangan.
  9. Tugu Batas Tanah (katoda padira tana). Tugu yang didirikan di batas-batas ladang, sebagai permohonan untuk mengusir roh jahat yang dapat merusak ladang.

Di samping katoda, pemujaan terhadap marapu di luar rumah juga dilakukan di pinggir hutan, di bawah pohon beringin atau pohon asam. Pemujaan di tempat yang disebut pahomban ini dilakukan untuk memuja marapu biasa, serta roh-roh halus lainnya. Pemujaan dilakukan dengan memberikan sesajian dalam upacara yang disebut Perjamuan Dewa (Pamangu Ndewa) (Wellem, 2004: 53).

C.3. Kurban dan Upacara Kematian

Upacara Pengurbanan

Sebagai agama yang bersumber dari pemujaan terhadap leluhur, maka kepercayaan Marapu dicirikan oleh berbagai ritus pengurbanan dan upacara kematian untuk menghormati para leluhur. Menurut pemahaman Yewangoe, upacara pengurbanan bagi masyarakat sumba memiliki dua maksud. Pertama, untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan  arwah para leluhur. Dalam hal ini upacara pengurbanan bertujuan untuk membangun komunikasi dengan arwah nenek moyang, sehingga terjadi keseimbangan antara dunia manusia dan dunia roh. Kedua, upacara pengurbanan bisa juga bertujuan untuk memperbaiki hubungan yang telah “rusak” karena terdapat anggota kabihu yang melanggar adat istiadat.

Dalam upacara pengurbanan, masyarakat sumba biasanya menyiapkan hewan-hewan untuk dikurbankan, seperti ayam, babi, kerbau, dan kuda. Selain hewan-hewan peliharan, terdapat juga sesajian berupa sirih pinang serta hasil-hasil panen. Sirih pinang adalah lambang pergaulan masyarakat Sumba, sehingga dalam upacara pengurbanan sirih pinang dimaksudkan sebagai upaya memohon izin kepada arwah para leluhur. Adapun hasil panen biasanya pantang dikonsumsi sebelum diadakan upacara pengurbanan untuk leluhur. Hal ini bertujuan untuk memohon izin mengkonsumsi hasil panen sebagai berkah yang diberikan oleh para leluhur. Setiap upacara persembahan biasanya dipimpin oleh seorang rato (imam) yang dikenal memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan marapu melalui kurban-kurban yang disajikan (Yewangoe, 1980:59-61).


Sebuah ritus pengurbanan babi.
Sumber: http://www.pbase.com/travelgame/nusatenggara

Pengurbanan hewan-hewan peliharaan menyebabkan usaha peternakan yang dilakukan oleh masyarakat Sumba setidaknya mempunyai tiga tujuan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, perdagangan, serta untuk memenuhi persediaan upacara pengurbanan (Atmosudiro, 1982:58). Oleh karena pentingnya hewan-hewan ternak tersebut, maka penyembelihan hewan-hewan ternak tidak dilakukan sembarangan (dalam istilah Sumba disebut “teba mayela”, artinya menyembelih dengan sia-sia) (Yewangoe, 1980:59).

Upacara Kematian

Peristiwa kematian bagi masyarakat Sumba dianggap sebagai permulaan kehidupan baru di alam baka yang disebut alam para marapu (parai marapu). Orang yang meninggal harus dihormati dan diupacarai dengan berbagai pengurbanan agar arwahnya bisa sampai ke parai marapu (Atmosudiro, 1982:58). Sebagaimana mitos mengenai turunnya nenek moyang dahulu dari langit ke bumi (Malaka – Tana Bara) lalu berlayar hingga sampai ke Pulau Sumba, maka demikian pula arwah orang yang meninggal dipercaya akan menempuh rute yang sama untuk mencapai parai marapu. Oleh sebab itu, kerabat yang masih hidup perlu untuk memberikan bekal kubur dan menyelenggarakan upacara kematian bagi sanak saudara yang meninggal. Besar kecilnya upacara kematian dan bekal kubur juga bergantung pada status sosial. Jika ia merupakan bangsawan, maka bekal kubur dan upacara yang dilaksanakan semakin besar. Namun bila berasal dari masyarakat biasa, bekal kubur dan upacara kematiannya diselenggarakan dengan cara yang lebih sederhana (Melalatoa, 1995:794).

Apabila seorang bangsawan meninggal, maka jenazahnya tidak akan langsung dikuburkan, melainkan disemayakan di dalam keranda selama beberapa hari sambil menunggu anggota-anggota keluarga yang menetap di tempat yang jauh. Dalam masa menunggu anggota keluarga tersebut, jenazah ditemani oleh para kerabat dekat dan dilakukan persembahan kurban dengan cara memotong ayam, babi, atau kerbau. Semakin banyak jumlah hewan yang dipotong sebagai kurban, maka semakin besar pula berkat yang kelak akan diberikan oleh arwah yang meninggal kepada anggota keluarga yang masih hidup. Setelah diadakan berbagai upacara pengurbanan, maka jenazah selanjutnya disemayamkan di rumah adat uma hutar (rumah sutera). Jenazah baru akan dikubur setelah persiapan upacara kematian dan bekal kubur yang dibutuhkan dirasa mencukupi (Atmosudiro, 1982:58; Melalatoa, 1995:794).

Dalam penelitian lapangan yang dilakukan oleh Melalatoa pada 1978, nampak bahwa upacara adat kematian untuk seorang bangsawan membutuhkan persiapan dan dana yang sangat besar. Upacara adat tersebut dihadiri oleh sekitar 20.000 orang, dengan jumlah hewan yang disembelih mencapai 650 ekor, terdiri dari kerbau, kuda, sapi, dan babi. Untuk melapisi jenazah, digunakan 111 lembar kain tenun Sumba yang harganya mahal. Selain itu, jenazah dihias dengan berbagai perhiasan yang terbuat dari emas murni. Berbagai bekal kubur tersebut merupakan bekal perjalanan arwah orang yang meninggal menuju parai marapu (Melalatoa, 1995:794).

Setelah jenazah diletakkan di dalam sebuah lubang beserta bekal kuburnya, maka lubang tersebut lalu ditutup dengan tanah, kemudian di atasnya diletakkan batu berbentuk bulat atau persegi panjang. Di atas lempengan batu tersebut, dibangun sebuah meja batu berkaki yang sering disebut “kubur meja”. Tradisi kubur batu seperti ini merupakan salah satu peninggalan dari jaman megalitik (Atmosudiro, 1982:61).


Kubur batu masyarakat Sumba.
Sumber: http://www.pbase.com/asianodyssey/eastsumba

Hasil penelitian Atmosudiro (1982:61) menyebutkan, terdapat beberapa tipe kubur batu (reti) yang biasa dibuat oleh masyarakat Sumba Timur, antara lain:

  1. Reti berkaki, pada umumnya terdiri dari sebongkah batu yang ditopang oleh dua atau empat batu lain yang berfungsi sebagai kaki.
  2. Reti berdinding, yang memiliki bentuk sama seperti reti berkaki, hanya saja antara kaki (tiang) reti tersebut ditutup dengan lempengan-lempengan batu sehingga menyerupai dinding. 
  3. Reti bertingkat (berundak), bentuknya seperti reti bertiang, namun pada bagian batu yang ditopang ditambah batu lain yang lebih kecil, sehingga bentuknya nampak berundak.
  4. Reti tanpa kaki, yaitu sebongkah batu yang diletakkan di atas kubur tanpa diberi tiang.

Setiap kubur batu juga menyimbolkan status sosial seseorang. Semakin besar dan rumit pengerjaan sebuah kubur batu, maka dapat dipastikan jenazah tersebut berasal dari lapisan sosial yang tinggi (bangsawan). Hal ini karena proses pengerjaan dan pemindahan batu-batu tersebut memerlukan tenaga dan biaya yang besar. Selain itu, kubur-kubur batu kaum bangsawan biasanya juga dihiasi dengan ukiran-ukiran dan berbagai ornamen seperti patung atau pahatan batu.


Patung batu untuk menghormati leluhur.
Sumber: http://www.pbase.com/asianodyssey/eastsumba

D. Kesimpulan

Dalam pembahasan di atas telah dikemukakan bahwa Marapu merupakan kepercayaan lokal yang bersumber dari pengultusan terhadap arwah nenek moyang. Meskipun dipuja dan disembah sebagai dewa penolong, marapu tidak dipersepsi sebagai Tuhan. Tuhan adalah entitas tertinggi yang terletak jauh di atas langit dan tidak dapat dijangkau oleh manusia. Oleh karena itu, perlu perantara untuk menghubungkan antara manusia dan Tuhan, di mana peran tersebut dilakukan oleh marapu.

Selain menyembah arwah leluhur, ciri khas lain dari kepercayaan Marapu adalah memuja para roh halus yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Baik pemujaan terhadap marapu maupun roh halus sebetulnya bermuara pada satu tujuan, yaitu memohon keselamatan atas kehidupan manusia. Kelalaian memuja marapu dan roh halus adalah kelalaian adat yang risikonya dapat membahayakan kehidupan. Dalam kacamata Yewangoe (1980:56-57), hal ini menunjukkan bahwa para penganut Marapu hidup dalam ketergantungan animistis. Segala perbuatan sehari-hari, peristiwa-peristiwa penting (seperti daur hidup: kelahiran, perkawinan, dan kematian), dan penjagaan terhadap sumber daya alam selalu digantungkan kepada kuasa-kuasa gaib.

Kepercayaan terhadap marapu ini kemudian menjadi “peta kognitif” masyarakat Sumba dalam menjalani berbagai aspek kehidupan sosial budayanya. Hal ini dapat disaksikan dari pola permukiman yang dibangun dilengkapi dengan berbagai tempat pemujaan berupa rumah besar (uma bokulu), tugu pemujaan (katoda), serta makam yang berupa kubur batu. Bentuk rumah tradisional Sumba juga dibuat berdasarkan kosmologi tentang pembagian ruang, yaitu bagian atas untuk tempat tinggal marapu, bagian tengah tempat tinggal manusia, dan bagian bawah untuk kandang hewan.

Manifestasi lainnya terlihat dari ritus pengurbanan dan upacara kematian. Ritus pengurbanan adalah upaya masyarakat Sumba membangun komunikasi dengan marapu. Sedangkan upacara kematian merupakan bentuk nyata dari penghormatan terhadap arwah (jiwa) orang yang meninggal. Arwah orang yang meninggal ini dipercaya akan kembali ke dunia asali mereka, yaitu dunia marapu (parai marapu), dengan rute yang sama seperti ketika marapu turun dari langit dan berlayar menuju Pulau Sumba.

Daftar Pustaka

Atmosudiro, Sumijati, 1982. “Kubur di Sumba Timur dan Status Sosial.” Artikel dalam majalah Basis, Februari 1982, hlm. 57-63.

Dhavamony, Mariasusai, 1995. Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius.

End, Th. Van den, 2001. Ragi Carita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an sampai Sekarang. Jakarta: BPK. Gunung Mulia      

Graham, Sharyn, 2002. “Sex, Gender, and Priests in South Sulawesi, Indonesia,” dalam IIAS Newsletter|#29|November 2002. Diunduh tanggal 28 Maret 2009 dari: http://www.iias.nl/

Geertz, Clifford, 1992. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Kapita, Oe. H., 1976. Sumba di Dalam jangkauan Jaman. Waingapu: Panitia Penerbit Naskah-naskah Kebudayaan Daerah Sumba, dewan Penata Layanan Gereja Kristen Sumba, Waingapu.

Koentjaraningrat, 1994. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Murni, Sri, 2007. “Malaysia-Indonesia dalam Folklor Sumba.” Makalah pada “Persidangan 50 Tahun Merdeka : Hubungan malaysia Indonesia, 17-21 Juli 2007 di Universiti Malaysia. Makalah diunduh tanggal 26 Juni 2009 dari: http://ccm.um.edu.my/

Melalatoa, M. Junus, 1995. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia, Jilid L—Z. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Hlm. 789-795.

Pritchard, E.E. Evans, 1984. Teori-teori tentang Agama Primitif, cet. pertama. Jakarta: Pusat Latihan, Penelitian, dan Pengembangan Masyarakat (PLP2M).

Wellem, Frederiek Djara, 2001. Injil dan Marapu: Suatu Studi Historis-Teologis Perjumpaan Injil dengan Masyarakat Sumba pada Periode 1876-1900. Jakarta: BKP Gunung Mulia.

Yewangoe, A.A., 1980. “Korban dalam Agama Marapu.” Artikel dalam Peninjau (1980), hlm. 52-67.

Kredit Foto: http://www.pbase.com/travelgame/nusatenggara


Dibaca : 7.332 kali.

Tuliskan komentar Anda !