Close
 
Rabu, 22 Oktober 2014   |   Khamis, 27 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.494
Hari ini : 10.423
Kemarin : 21.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.255.955
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

26 februari 2011 02:41

Peradaban Laut Bangsa Melayu

Peradaban Laut Bangsa Melayu

Oleh Hudjolly., M Phil.

Pendahuluan

Sebutan Bangsa Melayu tidak menunjuk pada suatu suku bangsa yang mendiami satu pulau, semenanjung Melaka atau daerah ujung utara Sumatra. Dalam perjalanan panjang terbentuknya masyarakat di Asia Tenggara, bangsa Melayu merupakan kaum yang menyebar beriap-riap ke seluruh pulau-pulau. Migrasi dan diaspora orang-orang Melayu itu membutuhkan suatu alat transportasi yang dapat digunakan melintasi lautan dalam perjalanan berminggu-minggu. Alat transportasi laut itu pun harus dapat membawa sejumlah manusia dalam rombongan yang cukup besar agar dapat membentuk suatu komunitas mandiri di tanah tujuan.

Alat transportasi laut itu mestilah memiliki kapasitas muatan yang cukup besar untuk membawa perbekalan selama perjalanan dan bekal untuk memulai sesuatu di tanah tujuan. Perjalanan tunggal atau perjalanan dalam kelompok-kelompok kecil dapat dilakukan hanya ke daerah yang masih satu pulau. Meskipun tidak menutup kemungkinan adanya perjalanan dalam kelompok kecil yang melintasi lautan. Komunitas dalam jumlah kecil membutuhkan waktu yang relatif lama bagi terbentuknya masyarakat yang memiliki peradaban unggul. Penyebaran orang-orang Melayu ke pulau-pulau yang jauh hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan transportasi laut yang memadai. Jika dikatakan rumpun Melayu berhasil menyebar ke sejumlah pulau, berarti menandakan penguasaan teknik pelayaran yang baik. 

Pengayaan Kebudayaan

Jenis-jenis perjalanan yang dilakukan masyarakat Melayu sejak zaman Melayu Tua dan Melayu Muda menuntut studi tersendiri yang mendalam. Studi semacam itu akan membuka khazanah permulaan kebudayaan Melayu, pengembangan alat-alat yang dapat menunjang kelangsungan hidup serta menggambarkan pola interaksi Melayu dengan kebudayaan lain. Definisi kebudayaan  tidak hanya terbatas pada sejenis kemampuan seni-art, kebudayaan berarti kemampuan mengembangkan metode untuk menopang kebutuhan masyarakatnya. Kebudayaan adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Ruth Benedict sebagaimana dikutip Sajidiman (dalam Sarjono Agus R, 1999) melihat bahwa kebudayaan merupakan pola pikir perbuatan yang terlihat dalam kehidupan sekelompok manusia yang membedakannya dengan kelompok lain. Kebudayaan juga melibatkan proses pembelajaran (learning behavior) dan penyesuaian diri manusia.

Apabila lalu lintas laut antar pulau dan antar kerajaan telah terbentuk, rute  perjalanan laut tersebut berubah menjadi jalur-jalur utama yang mengangkut sejumlah barang untuk diperdagangkan ke daerah tujuan. Perkembangan kebudayaan laut yang meliputi kemajuan penguasaan teknik pembuatan alat transportasi menyebabkan rumpun Melayu semakin mahir dalam mengembangkan berbagai macam jenis perahu besar yang memiliki kegunaan khusus. Jenis perahu pengangkut barang dagangan (rempah-rempah, kain, keramik) antara lain belungkang (Sumatra), cunia (Madura), tambangan (Banjar). Jenis perahu pencari ikan antara lain pencalang (Jawa Tengah), belang dan orembai (Maluku), sandeq dan tadi-tadi (Mandar), londei (Sulawesi Utara), perahu roh talor (Nusa Tenggara) (Andrian B Lapian,2008:40).

Kisah laksamana penakluk samudra, Hang Tuah atau cerita Sawerigading dalam epos Bugis kuno La Galigo menyebut sejumlah pelayaran yang menggunakan perahu besar dan mengunjungi sejumlah daerah yang jauh menunjukkan teknik pelayaran yang cukup mumpuni di masa itu. Pada akhirnya, rumpun Melayu yang tersebar di setiap pulau mengembangkan suatu kebudayaan laut yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Kebudayaan laut yang berkaitan dengan pelayaran tidak semata berfokus pada teknik pertukangan tetapi berkembang pula kebudayaan yang berhubungan dengan penguasaan tanda-tanda alam seperti penguasaan mata angin dan sifat-sifatnya untuk dijadikan penopang utama pelayaran. Penguasaan kebudayaan laut itu dapat dilihat dalam kitab Melayu Tuhfat al Nafis yang mengisahkan Raja Haji Fisabilillah memenangkan peperangan laut terhadap armada laut Eropa di abad 18.

Transportasi laut yang tidak mengenal batas wilayah memungkinkan masyarakat besar Melayu berinteraksi dengan “negeri atas angin” seperti raja-raja di Cina, Campa, dan Ayuthia. Interaksi melalui jalur laut itu dilakukan oleh Fa Hsien pada tahun 414 M menelan waktu 50 hari perjalanan dari Canton ke Melaka. Demikian pula pelayaran yang dilakukan oleh Chia Tan pada abad VIII M dengan rute yang sama hanya menelan waktu 19 hari perjalanan (OW Wolters, 1967:188-189). Hal tersebut merupakan kemajuan teknik pelayaran yang meskipun tidak ditunjukkan secara langsung oleh orang Melayu namun perjalanan serupa juga dapat dilakukan oleh rumpun Melayu sebagaimana pedagang-pedagang dari Kerajaan Sriwijaya yang berlayar hingga India dan Persia.    

Pemanfaatan dan Pengaruh Kebudayaan Laut

Mobilitas orang Melayu yang dilakukan melalui jalur laut didasarkan pada pemanfaatan musim dan angin pada bulan-bulan tertentu. Pemahaman secara detail sifat dan karakter angin yang dikuasai orang-orang rumpun Melayu di masa lalu dapat dirasakan hingga kini terutama dalam kosa kata nama-nama angin antara lain angin yang berpusar dinamakan angin angkisan, angin puting beliung atau angin puyuh, apabila angin bertiup tidak tentu arah dinamakan angin gila, angin yang bertiup keras disebut angin gunung-gunung, angin taufan atau angin ribut.

Pada beberapa tradisi ada istilah tertentu untuk menyebut nama-nama angin yang sangat beragam dan bersifat detail didasarkan sifat angin itu sendiri, misalnya, angin sendalu (angin berkekuatan sedang) angin salah (angin yang tidak semestinya bertiup), angin pengarak pagi (angin yang bertiup dini hari), angin buritan (angin yang datang dari arah buritan perahu), angin sorong (angin yang mendorong laju/searah dengan laju perahu), angin sakal (angin yang datang dari arah depan haluan kapal dan menghalangi laju kapal), angin paksa (angin yang memaksa pelaut untuk melempar sauh/jangkar) angin ekor duyung (angin yang datang dari berbagai jurusan), angin tambang ruang (angin yang bertiup keras dari arah lambung perahu), angin pasat (angin yang bertiup di sepanjang daerah katulistiwa), angin pasat tenggara dan sebagainya (Andrian B Lapian,2008:2).

Keadaan iklim dan karakter geografis kepulauan yang dihuni puak-puak Melayu juga memberikan keuntungan bagi sistem navigasi. Gugusan gunung dan pulau-pulau dijadikan baringan bagi pelaut ketika berlayar menyusuri lautan dangkal tak jauh dari pantai. Sedangkan pelayaran yang jauh dari pantai meminjam rasi bintang sebagai penunjuk arah.

Gugusan bintang di sepanjang peradaban rumpun Melayu memiliki nama-nama yang khas dengan mengkedepankan sifat kemaritiman seperti nama “mayang” dan “biduk”. Pengetahuan perbintangan masyarakat Biak misalnya, mengenal angin yang dipengaruhi oleh dua rasi bintang: Sawakai (rasi Orion) dan romangwandi (rasi Scorpio). Apabila gugusan ekor rasi bintang romangwandi (naga) masih nampak, menandakan angin ribut di laut sudah berlalu. Apabila rasi romangwandi masih berada di bawah garis cakrawala berarti musim angin barat yang menyebabkan gulungan ombak besar di laut akan mengganggu pelayaran (Andrian Lapian,2008:13-14).

Pemanfaatan angin yang bertiup pada waktu tertentu juga memungkinkan dilangsungkan perjalanan dari satu pulau ke pulau lain dengan mudah. Dalam laporan yang dibuat oleh Adrian B Lapian menyebut beberapa jenis angin yang dipakai sebagai navigasi laut masyarakat Melayu yang tersebar di pulau-pulau Nusantara. Pada bulan Desember sampai Februari merupakan angin barat, bulan September sampai Desember merupakan musim timur. Pada musim timur kapal-kapal dari Maluku dapat berlayar melintasi laut menuju Makassar, Jawa, Banten, Malaka, Indragiri, Singapura dan daerah-daerah di sebelah barat.

Pada bulan Juni sampai Agustus angin di Laut Cina Selatan bertiup ke arah utara menjadikan perjalanan menuju Campa, Ayuthia, Cina dapat dilakukan dari pulau-pulau orang Melayu. Perjalanan dari daerah Asia kembali ke pulau-pulau di sepanjang Melayu dapat dilakukan pada bulan September hingga Desember setiap tahun. Inilah anugerah keistemewaan alam berupa perputaran musim angin di sepanjang daerah Melayu terutama di Nusantara bagian barat (Sumatra, Aceh, Banten, Melaka, Indragiri) yang menjadikan daerah ini berkembang sebagai pusat pertemuan kapal-kapal dan transit perdagangan dunia.

Tidak mengherankan jika di daerah tersebut tumbuh subur dermaga-dermaga besar sebagai pusat perdagangan semenjak masa Sriwijaya, Melaka, Banten, sampai masa kejayaan Riau-Indragiri. Dermaga tersebut berfungsi sebagai sarana pertukaran barang dan jasa yang menyebabkan perjumpaan kebudayaan (difusi, asimilasi dan akulturasi) antara puak Melayu dengan bangsa Persia, Arab, India (kurmandel). Sesudah pelayaran bangsa-bangsa Eropa, pertukaran kebudayaan itu pun tetap berlanjut. Menurut catatan van Linschoten sebagaimana dikutip Lapian, menyebutkan bahwa pada akhir abad ke XVI sejumlah pelaut Portugis menawarkan keahlian mereka kepada penguasa-penguasa lokal di sekitar selat Melaka. Bangsa portugis ini mengajarkan kebudayaan pembuatan perahu-perahu besar bangsa Eropa, pembuatan benteng dan lainnya. Dari pertukaran ini, sejumlah istilah yang terdapat dalam kebudayaan pembuatan perahu terserap dari bahasa Eropa ke dalam bahasa setempat, misalnya istilah galai atau gale. Meskipun kapal buatan orang-orang Melaka lebih kecil namun tetap saja pengetahuan navigasi masyarakat Nusantara justru menyebabkan suatu pengaruh tersendiri terhadap sistem pengetahuan navigasi umum bangsa Eropa, terutama dalam hal pemanfaatan arah angin, jalur pelayaran, dan penyempurnaan peta.

Pengetahuan mualim di Nusantara yang dipakai oleh para pelaut Eropa ketika memasuki daerah gugusan pulau-pulau Melayu membawa percepatan gerakan kapal-kapal Eropa menjelajahi pulau-pulau di Nusantara. Sebagian kemampuan nautika bangsa Portugis disadap dari kemampuan pelaut Melayu. Penyusunan petunjuk-petunjuk untuk berlayar (roteiros) yang dikerjakan oleh Rodriguez—seorang perwira laut bangsa Portugis—banyak menggunakan toponim Melayu untuk menunjukkan tempat-tempat di jalur pelayaran Vietnam dan Campa.

“Peta Jawa yang hilang[1]” yang dibawa Albuquerque menunjukkan adanya pelayaran  orang kepulauan Nusantara menyeberangi Samudra Atlantik. Di dalam peta tersebut tergambar Pantai Brazil. Dengan mempertimbangkan hypotesa yang diajukan oleh Meilink Roelofsz (1962:354) bahwa  “Peta Jawa yang hilang” telah dibuat jauh sebelum masa datangnya Portugis, maka teori Roelofsz ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk menunjang pendapat yang menyatakan bahwa puak Melayu menyebar dari gugusan di Nusantara sampai ke Madagaskar (daerah di sekitar Tanjung Harapan/Afrika) berlangsung cukup lama, tidak sebatas pada masa Syekh Yusuf. Sebab persebaran puak Melayu ke Madagaskar yang terentang jarak samudra sangat jauh membutuhkan kemampuan navigasi dan nautika laut yang memadai, dan “peta Jawa yang hilang” itu menandakan kemampuan tersebut. Diperkirakan pengetahuan kartografis (pembuatan peta) bangsa Portugis tentang Asia Tenggara juga dipengaruhi oleh “Peta Jawa yang hilang”.

Kebudayaan pembuatan perahu berkembang pesat karena memadukan teknik-teknik yang datang dari kebudayaan laut bangsa Persia, Arab, dan Cina. Bangsa Asia ini telah menjalin pelayaran ke Melayu semenjak abad ke V. Perkembangan teknik juga mendapat pengaruh dari Portugis dan Eropa semenjak abad XV. Namun demikian, sejumlah kebudayaan lokal Melayu juga tetap dpertahankan antara lain ritual pemilihan kayu sebelum memulai pembuatan kapal-kapal besar, bentuk kapal, type perahu, serta jenis ukiran-ornamen yang dikembangkan untuk mempercantik perahu dibuat secara khas dan berbeda-beda di setiap pulau.

Tidak hanya kebudayaan pembuatan kapal yang berkembang, suatu hal yang mengejutkan adalah adanya perdagangan kapal antar pulau seperti Melaka yang sering memesan kapal dari daerah Rembang (Jawa) dan Pulau Kei. Kapal tidak hanya menjadi sarana transportasi tetapi menjadi komoditas perdagangan.

Perahu sebagai komoditas tidak hanya diperjualbelikan di Nusantara, puak Melayu Tua di Burma Selatan juga tumbuh menjadi pusat-pusat peradaban kapal di Asia Tenggara terutama di daerah Pegu. Setiap bulan Februari sekitar 15-16 kapal besar bertiang tiga atau empat, ditambah sekitar 20-30 kapal berlunas panjang dengan kemampuan muatan yang lebih sedikit dilayarkan dari Pegu ke Melaka. Kapal-kapal tersebut tiba di Melaka sekitar bulan Maret dan April (Meilink Roelofsz,1962:67-69).

Perubahan Sistem Kebudayaan  

Perkembangan jenis perdagangan litas pulau itu berimplikasi pada sistem perdagangan dan sistem kebudayaan secara umum. Jumlah komoditas dagangan semakin besar, dilakukan secara lebih luas dengan skala yang besar pula berarti menyebabkan percepatan asilimasi-difusi kebudayaan. Asimilasi-difusi kebudayaan sebagai akibat dari datangnya jenis-jenis bahan-bahan perdagangan baru tersebut membawa perubahan pada kebudayaan lama. Barang-barang hasil produksi kebudayan seperti kain kurmandel (dari india) dan barang keramik dari Cina mendorong perubahan pola berpakaian, konsumsi dan peralatan rumah tangga di sejumlah komunitas Melayu.

Perdagangan juga menyebabkan masyarakat Melayu mulai meninggalkan sistem perdagangan lama. Misalnya dalam penjualan cengkeh dan pala, masyarakat di Maluku menjual cengkeh beserta tangkai dan batang pohonnya. Ketika berdagang dengan bangsa Portugis mereka harus mulai memisahkan bunga cengkeh dan menyatukanya dalam satuan wadah tertentu (karung) (Loenard Andaya, 1999:30). Sistem penyatuan dalam wadah ini merupakan perkembangan kebudayaan kodifikasi di Maluku sebagaimana dikenal hingga masa kini. Sebelumnya masyarakat Maluku tidak menggunakan penjualan buah, rempah-rempah berdasarkan unit berat tertentu yang disatukan secara terpisah-pisah (per kilo).

Barang-barang komoditas yang didatangkan dari luar Melayu ke dalam masyarakat Melayu meniscayakan pedagang lokal dapat menjual barang tersebut dengan harga yang semakin tinggi pula. Konsumen barang import tersebut tidak berasal dari kelompok ekonomi rendah. Hanya masyarakat berkemampuan ekonomi cukup baik yang dapat membeli barang-barang import. Kepemilikan barang-barang import merupakan tanda kemewahan dan dijadikan identitas sosial elit masyarakat. Bagaimanapun juga konsumsi tidak semata-mata berkaitan dengan kebutuhan suatu barang, konsumsi adalah pembentukan identitas seseorang dalam suatu komunitas. Orang-orang yang berhasil memiliki barang import akan merasa memiliki keunggulan (ekonomi) dibandingkan orang lain dalam komunitasnya. Hal inilah yang menyebabkan konsumen utama dari barang import  itu adalah para pembesar di daerah atau raja-raja kecil dan para rangkayo (orang kaya).

Di sisi lain perdagangan yang dilakukan secara besar-besaran lintas pulau membutuhkan suatu kemampuan pembayaran yang prima. Hanya para saudagar besar yang memiliki uang dalam jumlah cukup banyak yang dapat menunjang kelancaran transaksi perdagangan lintas pulau. Tidak jarang para petinggi kerajaan, bahkan para raja juga juga turut serta menjadi bandar atau pemodal utama dari perdagangan tersebut.  Raja-raja di Pahang, Kampar, Indragiri ikut aktif sebagai pedagang bahkan mereka juga memiliki markas-markas perdagangan di Melaka. Apabila sultan atau raja ikut andil dalam perdagangan, mereka hanya memberikan sejumlah uang pada saudagar untuk berbelanja dan mengurus dagangannya. Setiap jung (kapal) yang berangkat dari Melaka membawa sebagian dagangan dari para raja (Meilink Roelofsz,1962:51). Raja-raja Melayu yang ikut berdagang antara lain Sultan Muzaffar Syah (1446-1459), Sultan Alauddin syah dan Sultan Masyur syah. Ketika Sultan Agung menggelar penaklukan dalam rangka membangun imperium Mataram, Sultan Agung ‘mengampuni’ Sultan Banten karena ia seorang raja  yang mendapatkan kekayaan dari berdagang (Andrian B Lapian, 2003:103).

Kondisi tersebut mendorong perkembangan pola struktur sosial yang baru, misalnya struktur sosial berdasar kepemilikan kekuasan dan kekayaan. Sistem kerjasama dan penentuan jabatan dalam kegiatan perdagangan juga berbasis pada  pola baru tersebut. Pembentukan tingkatan kelompok sosial (status) juga terjadi di atas kapal yang terdiri dari para pendayung, pekerja, pedagang dan nahkoda atau para mualim. Setiap pekerjaan menunjukkan kelas sosial, perubahan tugas dan pekerjaan berarti perubahan status sosial yang diikuti dengan perubahan atribut pakaian, kebiasaan dan sebagainya. 

Pembagian kapling di dalam kapal pun harus memperhatikan stratifikasi sosial pemilik barang karena melibatkan jumlah dagangan yang banyak dan tidak hanya dimiliki satu saudagar. Para raja dan bangsawan tentu saja lebih diutamakan daripada rangkayo yang stratifikasi sosial kekuasaannya lebih rendah.

Dalam berbagai hal terdapat perbedaan antara orang Melayu yang hidup dari sistem perdagangan dengan masyarakat Melayu yang mengandalkan hidup dari penjualan jasa (pembuatan kapal, kerajinan) atau dengan masyarakat petani. Kaum tani Melayu di daerah pedalaman dan kaum pedagang-pekerja di daerah pesisir memiliki habitus kebudayaan yang berbeda pula. Secara umum pembentukan karakter kebudayaan Melayu yang semakin kompleks tidak dapat dihindari.

Penutup

Setiap hasil interaksi kebudayaan akan menghasilkan kebudayaan yang baru pula. Demikian pula pembentukan kebudayaan Melayu yang terus-menerus menerima kunjungan dari berbagai bangsa. Semenjak zaman Sriwijaya telah terjalin interaksi dengan Burma, Ayuthia, Campa, Cina, Persia, Arab ditambah Portugis, Inggris dan Belanda, termasuk interaksi kebudayaan post kolonial. Rangkaian interaksi itu menjadikan budaya Melayu yang terlihat saat ini.  

Ada kebudayaan yang terserap dari kebudayaan asing, ada pula kebudayaan Melayu yang terserap oleh kebudayaan asing. Semakin tinggi produk-produk kebudayaan, identitas kebudayaan secara perlahan pun mengalami peluruhan dan proses yang tidak lagi dapat dikatakan asli atau original. Pada masyarakat yang cenderung tertutup pun, penyerapan kebudayaan tidak dapat dihindari. Semenjak dahulu orang Melayu menyadari hidup dalam Desa Buana yang saling berinteraksi, sehingga identitas diri itulah yang menjadi nilai penting. Identitas sebagai distinction dalam habitus yang sama.

Sangat penting kiranya generasi Melayu menyadari identitas kulturalnya untuk menentukan mana kebudayaan yang dapat dipertahankan dan mana yang dapat dikembangkan guna menciptakan produk kebudayaan tinggi. Sepanjang abad pertengahan, merkantilisme telah mempengaruhi peradaban Melayu, kini, globalitas perdagangan dan kebudayaan pun sedang mengintai seluruh sendi peradaban Melayu. Rumusan kebudayaan Melayu meski terus dipertegas dalam lingkup yang tidak terbatas pada pernik art ke-Melayu-an. Kebudayaan Melayu meliputi pula kebudayaan laut: kematangan pelayaran, penguasaan komoditas dan jalur perdagangan berikut sistem sosial yang tetap mengutamakan penghargaan jatidiri manusia dan bukan semata mengejar keuntungan. “Menjaga tuah menegakkan marwah”.

__________

Hudjolly., M Phil., Peminat Kajian Tradisi

Email: tembuslangit@yahoo.co.id

Kontak Personal: 081911523956

Sumber Foto: http://ilmuteknikperkapalan.blogspot.com

Referensi

Andrian B Lapian, 2008, Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke 16 dan ke 17. Jakarta: Komunitas Bambu.

______________2003, “Kenangan Berbeda Mengenai Masa Lampau yang Sama: VOC (Kompeni) di Kepulauan Nusantara” dalam R Hutagalung, Forum Dialog Indonesia –Belanda. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah.

Loenard Andaya, 1999, “The Lure of Spices”, dalam  Early Modern History, Indonesian Heritage, Series No 3. Singapore: Archipelago Press.

Meilink Roelofsz, 1962, Asian Trade and European Influence in Indonesia Archipelago Between 1500 and About 1630. Den Haag: Martinus Nijhoff.

Sajidiman, 1999 dalam Agus R Sarjono, Ed Pembebasan Budaya-Budaya Kita.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wolters OW, 1967, Early Indonesians Commerce: A Study of The Origin of Sriwijaya. New York: Ithaca.



 

[1] Sebuah dokumen berupa peta yang semula akan dibawa ke hadapan penguasa Portugis, namun kapal pembawa peta tersebut karam, sehingga bentuk fisik peta tersebut tidak pernah diketemukan. Namun, Albuquerque masih dapat melaporkan sebagian isi peta yang menunjukkan cakupan pelayaran yang dilakukan bangsa Melayu Nusantara (Meilink Roelofsz, 1962).


Dibaca : 2.704 kali.

Tuliskan komentar Anda !