Close
 
Minggu, 28 Mei 2017   |   Isnain, 2 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 5.723
Hari ini : 46.239
Kemarin : 72.249
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.481.704
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

02 maret 2011 05:09

Menyoal (Kembali) "Dwitunggal", Islam dan Melayu

Menyoal (Kembali) "Dwitunggal", Islam dan Melayu

Oleh Iswara N. Raditya

Sudah menjadi hal yang jamak bahwa Melayu sangat lekat dengan agama Islam. Mayoritas orang Melayu sendiri meyakini bahwa Melayu dan Islam adalah “dwitunggal” yang tidak dapat atau tidak boleh dipisahkan. Islam adalah agama wajib bagi orang Melayu, dan sebaliknya, setiap orang yang mengaku Melayu harus beragama Islam.

Pendahuluan

Agama Islam memang masih menjadi tolok ukur yang umum digunakan ketika mengkaji persoalan Melayu dan kemelayuan. Masuknya ajaran Islam membawa pengaruh yang besar terhadap budaya Melayu sehingga memberikan ciri khusus yang kuat. Pandangan hidup orang Melayu menjadi identik dengan pandangan hidup berdasarkan Islam, yaitu pandangan duniawi dan ukhrowi seperti yang diajarkan oleh Islam (Suwardi, 1991). Hal itu menyebabkan munculnya pemahaman bahwa salah satu syarat untuk menjadi orang Melayu adalah dengan memeluk Islam. Jika seorang non-Islam melepaskan agamanya kemudian menganut Islam, maka ia diakui sebagai orang Melayu.

Apabila benar demikian, bagaimana dengan orang-orang Batak Karo di Tapanuli, orang-orang Nias, orang-orang Dayak di Borneo, orang-orang Toraja di Sulawesi, dan mereka yang masih menganut aliran kepercayaan leluhur sebelum Islam masuk ke bumi Melayu? Bagiamana pula dengan beraneka suku bangsa di nusantara, termasuk puak-puak Melayu pemeluk Hindu/Buddha yang berdiam di kawasan Indocina atau Asia Tenggara? Yang jelas, ditinjau dari segi historis maupun rumpun bangsa, mereka juga pantas disebut sebagai orang Melayu, meskipun bukan muslim.

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengusik keislaman orang Melayu, juga tidak menjamah ranah ajaran Islam itu sendiri secara khusus. Tujuan penulisan ini adalah sebagai salah satu upaya penelusuran riwayat “kembar siam” Melayu-Islam, terutama melalui kajian historis. Dengan mengetahui sejarah peradaban dan kebudayaan Melayu, khususnya pada masa sebelum dan awal masuknya Islam serta pada era kolonial, diharapkan muncul alternatif pemikiran dalam rangka memaknai jatidiri bangsa Melayu dengan lebih bijak.

Melayu Beragam, Melayu Berjaya

Bangsa Melayu pernah menjadi bangsa yang besar di masa silam seperti yang tergurat dalam bukti-bukti sejarah. Oleh karena itu, kajian tentang Melayu menjadi sangat luas sehingga teknis historiografinya pun harus melalui tahap pemilahan serta dibagi menjadi ruang-ruang kecil yang kemudian disusun kembali menjadi satu rangkaian yang utuh. Ruang-ruang kecil naratif inilah yang justru menjadikan Melayu menjadi besar dan tidak hanya sebagai sebuah jurai keturunan raja-raja Malaka (Muhammad Haji Salleh [ed.], 1997:xxvi).

Selama ini, pemaknaan Melayu seringkali dilihat dari paradigma yang sempit sehingga membentuk pemikiran parsial. Istilah Melayu pada akhirnya kerap ditinjau lewat sudut pandang tertentu yang didefinisikan secara bersekat-sekat, termasuk sekat linguistik, politik, geografi, etnik, bahkan agama. Salah kaprah dalam memaknai Melayu inilah yang kemudian justru membuat kebesaran rumpun Melayu menjadi semakin luruh. Hal ini disebabkan adanya eksklusifitas yang berdampak pada kecongkakan etnis/suku bangsa Melayu tertentu. Melayu tidak lagi dipandang secara utuh, melainkan diartikan atas nama kepentingan pihak-pihak tertentu yang merasa “berkuasa” atas kebesaran Melayu di masa lalu.

Bangsa Melayu tidaklah sesempit yang dibayangkan. Orang Melayu tidak hanya tertumpu ke dalam sebuah negara-bangsa atau nation-state (Ahmad Jelani Halimi, 2008:xi). Sebagai bangsa yang besar, rumpun Melayu merupakan sebuah jejaring sosial lintas etnis yang kaya akan keberagaman. Melayu adalah bangsa yang menjunjung tinggi pluralisme, bukan bangsa eksklusif yang enggan bergaul dengan bangsa-bangsa lainnya. Melayu adalah bangsa yang terbuka dan memegang teguh jalinan silaturahmi serta toleransi dengan “menyatukan dirinya dalam perbauran ikatan perkawinan antara suku bangsa serta memakai adat resam dan bahasa Melayu secara sadar dan berkelanjutan” (Tengku H.M. Lah Husny, 1975:7).

Akibat Hegemoni Kolonialisme

Disadari atau tidak, salah kaprah dalam memaknai Melayu selama ini tidak lain adalah efek negatif dari kolonialisme. Selama ratusan tahun, kolonialisme mencengkeram setiap sendi kehidupan orang Melayu. Tidak hanya materi dan mental saja yang dirasuki, alam pemikiran pun ikut dipengaruhi. Alhasil, seluruh dunia lantas memandang Melayu lewat kacamata Eropa. Bahkan, orang-orang Melayu sendiri kemudian ikut terseret dan terjebak ke dalam pusaran arus besar yang bernama erosentrisme.

Mimpi buruk itu dimulai pada awal abad ke-16 ketika utusan Kerajaan Portugis yang dipimpin Diogo Lopes de Sequeira berhasil menjalin persahabatan dengan Kerajaan Malaka dan menetap di sana sebagai wakil Raja Portugis (M.C. Ricklefs, 1995:33). Tidak hanya Portugis saja, bangsa-bangsa Eropa lainnya segera menyusul, seperti Spanyol, Inggris, Prancis, dan Belanda.

Tujuan bangsa kolonial mengidentikkan Melayu dengan Islam adalah agar perbedaan antara orang Eropa dan non-Eropa tergaris dengan jelas. Dengan kata lain, paradigma Melayu adalah Islam merupakan hasil produk kolonial untuk memberi penegas bahwa semua orang pribumi (baca: orang Melayu) adalah muslim dan berbeda dengan orang Eropa (Mahyudin Al Mudra, 2010). Hal ini murni persoalan politik dan sama sekali tidak akan merambah pada tingkatan ajaran agama secara khusus. Dengan memberi label Islam pada kalangan pribumi atau orang Melayu, bangsa kolonial akan semakin mudah mengatur pemerintahannya di nusantara.

Bangsa-bangsa Eropa juga memberlakukan polarisasi terhadap bumi Melayu. Perjanjian antara Inggris dan Belanda pada tanggal 17 Maret 1824, yang dikenal dengan Traktat London (Treaty of London), telah membagi wilayah Melayu menjadi dua, yaitu sebelah utara menjadi milik Inggris, dan sebelah selatan menjadi milik Belanda. Pada akhirnya, pembagian administratif kolonial semacam itu melahirkan negara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Bahasa Melayu di masing-masing negara itu pun berkembang di bawah pengaruh bahasa negara kolonial yang mendudukinya. Bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda, sedangkan bahasa Melayu Malaysia, Singapura, dan Brunei terpengaruh oleh bahasa Inggris (Al Mudra, 2008:11-12).

Salah Kaprah yang Dijadikan Kepasrahan

Islam memang sudah menjadi salah satu bagian penting dalam mengidentifikasi Melayu, namun alangkah lebih baik jika hal itu tidak lantas mengaburkan unsur-unsur lain yang tak kalah vital dalam membentuk jatidiri bangsa Melayu. Bangsa Melayu diperkirakan telah ada di Nusantara sejak 3000 tahun Sebelum Masehi atau yang dikenal dengan bangsa “Proto Melayu” (Harun Mat Piah, 1993). Dengan demikian, usia Melayu sebagai peradaban jauh lebih tua sebelum Islam memasuki nusantara, bahkan sebelum Islam ada dan diyakini sebagai agama di bumi ini.

Sebelum Islam datang, di bumi Melayu sudah berdiri banyak kerajaan yang memiliki peradaban dan budaya yang kelak menjadi cikal-bakal tradisi Melayu hingga saat ini. Kerajaan-kerajaan Melayu itu hampir semuanya menganut ajaran kepercayaan lokal atau ada pula yang bercorak Hindu/Buddha. Pengaruh Hindu/Buddha merupakan hasil interaksi orang-orang Melayu pada masa itu dengan para saudagar atau kaum pengelana dari luar nusantara, termasuk dari Tiongkok dan India.

Patut dicatat bahwa hingga abad ke-11, Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang (Sumatra Selatan) masih menjadi pusat pengajaran agama Buddha bertaraf internasional. Banyak biksu atau calon biksu dari segala penjuru datang ke Sriwijaya untuk memperdalam ajaran Siddhartha Gautama. Selain itu, Raja-raja Sriwijaya dikenal sebagai pelindung agama Buddha dan penganut yang taat (Marwati Djoenoed Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1993:75).

Orang Melayu adalah kaum pelaut yang sering berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, orang Melayu dikenal pandai bergaul dan mudah menerima hal-hal baru yang dinilai baik. Itulah kiranya yang terjadi sehingga raja-raja Melayu, beserta segenap rakyatnya, menerima kehadiran Islam dengan tangan terbuka dan kemudian berbondong-bondong memeluk serta mendalami ajaran Islam dengan sepenuh hati.

Misi penyebaran Islam di tanah Melayu berasal dari pelbagai pusat pertumbuhan Islam di dunia. Asal-usul Islam di Aceh, misalnya, disebut-sebut terkait dengan Dinasti Fathimiah di Mesir yang berhasil menaklukan sejumlah kerajaan Hindu/Buddha di tanah rencong (Slamet Muljana, 2005:133).

Orang-orang Bugis dari Sulawesi Selatan juga berperan penting dalam penyiaran Islam ke negeri-negeri Melayu. Opu Tendriburang Dilaga, bangsawan dari Kesultanan Luwu Bugis, melakukan perjalanan ke negeri-negeri Melayu. Opu Tendriburang Dilaga adalah putera dari Opu La Maddusilat, Raja Bugis pertama yang memeluk Islam (Raja Ali Haji, 2002:18). Opu Tendriburang Dilaga mempunyai lima orang putera yang turut serta dibawa ke tanah Melayu, yaitu Opu Daeng Menambun, Opu Daeng Perani, Opu Daeng Celak, Opu Daeng Marewah, dan Opu Daeng Kemasi (Gusti Mhd Mulia [ed.], 2007:18). Kedatangan mereka ke tanah Melayu menjadi salah satu babak migrasi orang-orang Bugis yang terjadi pada awal abad ke-17 (Andi Ima Kesuma, 2004:96). Opu Tendriburang Dilaga dan kelima anaknya memainkan peranan penting di kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu dan Kalimantan, terutama dalam hal penyebaran Islam (Erwin Rizal, tt:40).

Sebenarnya masih ada beberapa pihak yang membawa ajaran Islam ke tanah Melayu karena bangsa Melayu adalah bangsa pedagang yang selalu berinteraksi dengan orang-orang dari bangsa lain, termasuk orang-orang negeri-negeri Islam di Timur Tengah, Persia, India, Tiongkok, Turki, dan lainnya. Elastisitas Melayu membuat ajaran Islam dengan mudah diterima dan diajarkan, terutama di kalangan raja-raja Melayu dan segenap rakyatnya. Hampir semua kerajaan Melayu, yang sebelumnya bercorak Hindu/Buddha atau menganut keyakinan leluhur, menjadi kerajaan Islam setelah sang raja memeluk agama baru itu dan menyandang gelar dengan nama-nama yang berbau Arab (baca: Islam). Seiring dengan itu, nama “kerajaan” pun diganti dengan “kesultanan”, demikian pula gelar “raja” yang berubah menjadi “sultan”.

Setelah menjadi pemerintahan yang bercorak Islam, kerajaan-kerajaan Melayu beramai-ramai memasukkan unsur hukum-hukum Islam dalam peraturan ketatanegaraannya. Maka kemudian lahirlah konsep Adat Melayu Bersendikan Hukum Syara’, Hukum Syara’ Bersendikan Kitabullah, yang berarti bahwa adat Melayu bersendikan hukum agama dan hukum agama bersendikan Alqur’an. Dengan demikian, hukum adat Melayu juga bersumber kepada hukum-hukum Islam.

Ketika dunia Melayu memasuki fase kolonialisme Barat, pihak penjajah tidak mengusik keislaman yang telah kadung diresapi orang-orang Melayu itu. Justru sebaliknya, kondisi ini dimanfaatkan kaum kolonial untuk mempertajam perbedaan antara golongan pribumi yang dianggap “primitif” dengan kalangan Eropa yang dikesankan sebagai kaum elit. Pemerintah kolonial, baik Belanda maupun Inggris, tidak melakukan penginjilan Kristen di tengah penduduk muslim yang sudah mapan karena sadar bahwa hal itu dapat merongrong “keamanan dan ketertiban” yang sangat penting bagi kepentingan material bangsa Eropa (Robert W. Hefner, 2007).

Upaya menciptakan kantong-kantong Kristen di daerah pedalaman dirasa oleh pemerintah kolonial lebih aman, di samping untuk membangun keberpihakan penduduk lokal kepada pihak kolonial. Proses kristenisasi berjalan selama bertahun-tahun sehingga beberapa suku bangsa Melayu yang menetap di daerah pedalaman, seperti Batak Karo di Sumatra Utara dan Toraja di Sulawesi, sebagian besar menganut Kristen. Perbedaan agama inilah yang kemudian dijadikan sebagai salah satu batas identitas antara Melayu dan bukan Melayu sampai dewasa ini (Al Mudra, 2008:11). Hegemoni kolonial telah membuat garis penjelas bahwa orang Melayu pastilah beragama Islam dan mereka inilah yang digolongkan sebagai pribumi yang sebenar-benarnya, sedangkan kalangan non-muslim, terutama yang beragama Kristen bahkan untuk golongan yang sebenarnya termasuk pribumi sekalipun, dikategorikan bukan sebagai bangsa Melayu.

Di sisi lain, orang-orang Melayu sendiri pun seolah-olah menjalani pembedaan ala kolonial itu dengan nyaman. Entah mereka tidak menyadarinya atau takut kepada pihak penjajah, namun yang pasti, Islam justru menjadi senjata, alat pemersatu, sekaligus penegas identitas mereka sebagai suku bangsa. Orang-orang Melayu tetap menjunjung tinggi ajaran Islam dengan sepenuh hati sehingga terbentuklah pencitraan bahwa yang diakui sebagai orang Melayu haruslah juga seorang muslim. Paradigma seperti ini terus berlanjut bahkan sampai hingga detik ini tanpa mereka siuman bahwa hal itu adalah hasil produk hegemoni kolonial.

Penutup: Redefinisi Melayu, Perjuangan MelayuOnline.com

Sejauh ini, upaya-upaya untuk meredifinisi makna Melayu tetap terus dilakukan kendati masih saja ada yang tidak sepakat manakala Melayu dimaknai dengan sudut pandang yang egaliter, terutama pada persoalan Islam-Melayu. Ironisnya, ketidaksepakatan tersebut justru muncul dari orang Melayu sendiri. Mereka masih kukuh dengan pemahaman eksklusif bahwa setiap orang yang mengaku orang Melayu haruslah beragama Islam.

Terdapat empat syarat yang “harus” dipenuhi sebelum seseorang diakui sebagai orang Melayu, yaitu (1) tinggal di kawasan Semenanjung Melayu, (2) berbicara bahasa Melayu, (3) mengamalkan adat-istiadat Melayu, dan (4) memeluk agama Islam. Meskipun tidak sepenuhnya salah, namun jelas ada yang patut dikoreksi dalam pemahaman di atas. Catatan sejarah yang membuktikan bahwa bangsa Melayu adalah diasporian, yakni kaum pelaut dan pedagang, seolah dilupakan. Orang-orang Melayu membawa kebudayaan Melayu ke negeri-negeri tujuan yang kemudian ditinggalinya. Di tempat yang baru itu, terjadi interaksi dengan penduduk lokal dan kemudian melahirkan kebudayaan baru yang di dalamnya masih terkandung nilai-nilai budaya Melayu.

Ras Austronesia yang menjadi ras bangsa Melayu memiliki jejaring serumpun yang luas. Hampir seluruh wilayah nusantara dapat dikategorikan sebagai rumpun Melayu, kecuali Papua dan Nusa Tenggara Timur yang berbeda rumpun bangsanya (Melanesia). Pengaruh Melayu juga kental di lintas kawasan bahkan benua, seperti yang ditemukan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, Vietnam, Srilanka, Asia Selatan, bahkan Pulau Cocos dan Pulau Krismas di Oceania (Abdul Rashid Melebek & Amat Juhari Moain, 2006). Orang-orang Melayu di tempat-tempat itu tidak harus tinggal di kawasan Semenanjung Melayu, tidak harus berbicara Melayu, tidak harus mengamalkan adat-istiadat Melayu, dan terutama tidak harus beragama Islam, karena bagaimanapun juga, dipandang dari konteks rumpun bangsa dan budayanya, mereka tetap saja orang Melayu.

Secara ontologis, kemelayuan dan keislaman merupa­kan dua dimensi yang berbeda. Etnis Melayu merupakan kumpulan individu-individu yang hidup di suatu tempat dan membentuk struktur sosial. Sementara Islam adalah agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Melayu untuk menjalin hubung­an dengan Tuhan. Yang pertama menciptakan hubungan horison­tal, sedangkan yang kedua hubungan vertikal. Maka jika definisi Melayu dibatasi pada identitas etnik, ras dan agama, akan mencip­takan posi­si yang tumpang-tindih antara agama sebagai sistem kepercayaan dan etnisitas sebagai struktur sosial (Muhammad Ansor, 2005).

Sangat disayangkan apabila orang-orang Melayu menegasikan sejarah leluhur mereka sendiri. Sebagian besar kerajaan-kerajaan Melayu di Kalimantan, misalnya, bermula dari kerajaan milik orang-orang suku Dayak atau kerajaan bercorak Hindu/Buddha. Hal yang sama juga berlaku untuk kerajaan-kerajaan di Sumatra, salah satu contoh adalah Kerajaan Skala Brak di Lampung yang pada mulanya merupakan kerajaan Suku Tumi yang menganut ajaran Hindu Bairawa (Teguh Prasetyo, Lampung Post, 4 Desember 2005).

Oleh karena itulah, diperlukan perjuangan keras untuk mewujudkan redefinisi Melayu demi terciptanya kesatuan bangsa Melayu serumpun yang bebas dari segala bentuk kekangan parsial. Sudah saatnya bangsa Melayu sedunia dipersatukan demi tujuan jangka panjang untuk membumikan Melayu agar lebih dikenal dunia, seperti pada masa-masa jaya di waktu lampau. Caranya adalah dengan bersama-sama membenahi pandangan orang tentang Melayu dengan membangun pandangan yang berbeda dalam tataran horisontal melalui perspektif dari orang Melayu sendiri, tidak lagi menganut paradigma kolonial.

Salah kaprah yang selama ini menjangkiti perspektif kemelayuan harus diluruskan dengan mengembalikan pencitraan ala Barat kepada perspektif Melayu pra-kolonial. Pandangan meremehkan orang Melayu sebagai bangsa yang inferior wajib dihapuskan karena tidak ada yang bisa meluruskan jatidiri kemelayuan kecuali bangsa-bangsa Melayu itu sendiri. Bangsa Melayu serumpun hendaknya bersatu melawan erosentrisme yang telah menyebabkan munculnya sekat-sekat yang justru melemahkan (Al Mudra, 2009).

Perlawanan itu bisa dilakukan dengan cara memetakan, mencari kelebihan dan kekurangan dengan tujuan memberi keleluasaan pada bangsa-bangsa Melayu untuk berkembang secara utuh. Dengan demikian, orang-orang Melayu diharapkan akan terus belajar dalam melihat dan mengidentifikasi dirinya sendiri untuk kemudian bersiap memberikan warna dan sumbangsih yang berarti bagi dunia.

Salah satu gerak nyata dalam upaya mengembalikan kejayaan Melayu di era modern seperti sekarang ini adalah dengan digagasnya www.MelayuOnline.com. Portal yang merupakan pangkalan data terbesar dan terlengkap tentang Melayu dan kemelayuan ini berusaha membongkar sekat-sekat parsial dalam usaha melestarikan tradisi dengan cara yang tidak tradisional.

Kehadiran www.MelayuOnline.com diharapkan mampu menjadi media bagi puak-puak Melayu sedunia untuk tidak lagi menempatkan Melayu dalam posisi sempit, melainkan secara bijak dan diperuntukkan bagi semua pihak. Bukanlah Melayu yang harus “diislamkan”, namun justru Islam-lah yang “dimelayukan” karena Islam merupakan salah satu elemen pendukung kemelayuan di samping elemen-elemen lain yang selama ini cenderung diabaikan, bahkan ditiadakan.

Iswara N. Raditya, Peneliti Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Redaktur/Editor www.MelayuOnline.com.

Sumber Foto: http://www.flickr.com

Referensi

Abdul Rashid Melebek & Amat Juhari Moain. 2006. Sejarah Bahasa Melayu. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors.

Ahmad Jelani Halimi. 2008. Sejarah dan Tamadun Bangsa Melayu. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors.

Andi Ima Kesuma, 2004. Migrasi dan Orang Bugis. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Erwin Rizal, tt. “Kesultanan Mempawah dan Kubu,” dalam Istana-istana di Kalimantan Barat. Pontianak: Inventarisasi Istana di Kalimantan Barat.

Gusti Mhd Mulia (ed.). 2007. Sekilas Menapak Langkah Kerajaan Tanjungpura. Pontianak: Tanpa Penerbit.

Harun Mat Piah. 1993. “Tamadun Melayu Sebagai Asas Kebudayaan Kebangsaan: Suatu Tinjauan dan Justifikasi”, dalam Tamadun Melayu, Jilid II. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Heddy Shri Ahimsa-Putra. 2007. “Wacana Pembuka: Mencari Jati Diri Melayu”, dalam Koentjaraningrat, dkk., Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa.

M.C. Ricklefs. 1995. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Mahyudin Al Mudra. “MelayuOnline.com Mempersatukan Diasporian Melayu Sedunia”, disampaikan dalam Workshop Internasional Diaspora Melayu, di Balai Kajian dan Pengembangan Kebudayaan Melayu (BKPBM) Yogyakarta, pada tanggal 18-19 Januari 2010.

Mahyudin Al Mudra. “Praksis Perlawanan Terhadap Erosentrisme”, disampaikan dalam Seminar Kajian Melayu, Problem Erosentrisme dalam Kajian Melayu: Mencari Perspektif Alternatif, di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta, pada tanggal 24 Juni 2009.

Mahyudin Al Mudra. 2008. Redefinisi Melayu: Upaya Menjembatani Perbedaan Konsep Kemelayuan Bangsa Serumpun. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa.

Marwati Djoenoed Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Muhammad Ansor. 2005. “Pembacaan Kontemporer Atas Islam, Melayu dan Etnisitas”, dalam Baharuddin Husin dan Dasril Affandi (eds.), Lima Kebanggaan Anak Melayu Riau, Jakarta: Persatuan Masyarakat Riau-Jakarta.

Muhammad Haji Salleh (ed.).1997. Sulalat Al-salatin Ya’ni Perteturun Segala Raja-Raja (Sejarah Melayu)/Karangan Tun Seri Lanang. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka.

Raja Ali Haji. 2002. Tuhfat Al-Nafis: Sejarah Riau-Lingga dan Daerah Takluknya 1699-1864. Tanjungpinang:  Yayasan Khazanah Melayu.

Robert W. Hefner. 2007. Politik Multikulturalisme: Menggugat Realitas Kebangsaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS.

Suwardi. 1991. Budaya Melayu dalam Perjalanannya Menuju Masa Depan. Pekanbaru: Yayasan Penerbit MSI.

Teguh Prasetyo. “Masa Lalu di Lampung Barat”, dalam Lampung Post, 4 Desember 2005.

Tengku H.M. Lah Husny. 1975. Lintasan Sejarah Peradaban dan Budaya Penduduk Melayu Pesisir Deli Sumatra Timur, 1612-1950. Medan: BP Husny.


Dibaca : 3.615 kali.

Tuliskan komentar Anda !