Close
 
Sabtu, 29 November 2014   |   Ahad, 6 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 2.134
Hari ini : 20.126
Kemarin : 19.832
Minggu kemarin : 145.718
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.394.293
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

06 juni 2011 04:44

Menakar Kajian Tradisi Religius di Tanah Melayu

Menakar Kajian Tradisi Religius di Tanah Melayu
Barzanji, satu tradisi religius Melayu

Oleh Hudjolly, M.Phil.

Sebaran rumpun Melayu di Asia Tenggara memunculkan keanekaragaman tradisi dan sistem religi di kawasan tersebut. Setiap kawasan mengembangkan sistem tersendiri yang menjadi semacam ciri tradisi, seperti di Sumatra, semenanjung Melaka, Kepulauan Jawa dan Bali hingga Nusa Tenggara, Borneo dan Brunei, jajaran pulau di Sulawesi dan Filipina, serta Papua. Sebaran rumpun Melayu bahkan melampaui titik-titik kawasan itu sehingga luas wilayah persebaran semakin mendatangkan kekayaan tradisi. Sistem religi dan tradisi di wilayah yang luas itu dikembangkan oleh masyarakat yang besar kendati ada pula oleh masyarakat yang lebih kecil. Masyarakat Melayu di Sumatra, misalnya, mempunyai banyak corak tradisi dan sistem religi, seperti pada masyarakat Minangkabau, Aceh, Batak, Langkat, dan seterusnya.

Pendahuluan

Selama ini, Melayu selalu diidentikkan dengan Islam, dan ini masih menjadi perdebatan yang panjang. Untuk tidak menambah rumit pergumulan tersebut, kita dapat menyelami sampai ke akar nalar-nalar yang membentuk religi dan tradisi. Definisi yang mengidentikkan Melayu dengan Islam merupakan bagian dari penterjemahan keanekaragaman sistem religi dan tradisi di Melayu. Sebuah model penterjemahan deduktif-reduktif yang cenderung mengarah ke mainstream mayoritas atau wacana dominan. Penterjemahan lain dapat dilakukan dengan model aksiomatif-deduktif dan sebagainya. Model semacam itu setara dengan menterjemahkan Arab identik dengan Islam, meskipun di jazirah Arab terdapat keanekaragaman suku dan agama. Penggunaan istilah “mayoritas”, di luar ranah demokrasi, tidak selalu menunjukkan akumulasi jumlah, mayoritas dapat menunjuk pada produksi wacana yang paling populer (mainstream).

Definisi Melayu sama dengan Islam adalah jenis produksi definisi paling populer, lebih sering dirujuk dan perlahan menjadi definisi standar. Penggunaan atau penolakan definisi seperti itu tetap saja tidak serta merta dapat mengabaikan keanekaragaman tradisi dan religi di tanah Melayu. Penggunaan definisi hanya menentukan pemetaan definitif kondisi keragaman di sana. Dalam peta keragaman barulah terlihat benang merah, keserupaan corak atau pertautan jejak tradisi yang sulit dikekang oleh batas-batas definisi.  

Secara general di setiap sebaran, tiap-tiap rumpun masyarakat akan mengalami pembentukan  kelas sosial berdasarkan kuantitas, kepemilikan atribut religius atau simbol tradisi, kepandaian, hereditas atau keturunan, serta kepemilikan sumber daya (alam dan manusia). Pembentukan kelas sosial merupakan hasil rekayasa secara sadar sebagai cara untuk menciptakan pola bertahan hidup (mekanisme survival kolektif). Aneka respon bertahan hidup  disusun dalam suatu sistematika unik tersendiri yang mengandung pola nalar tertentu yang mampu dipahami oleh komunitasnya, misalnya melalui pembentukan mitos atau sakralisasi tradisi melalui kosmogoni, dan sebagainya. Mitos atau kosmogoni dipahami oleh masyarakat di mana mitos itu berkembang sebagai suatu sistem pengetahuan (nalar).

Respon-respon tersebut, karena faktor perulangan oleh komunitasnya dan dilakukan dalam waktu lama, berkembang menjadi suatu sistem tradisi atau sistem religi yang mapan. Kontinuitas perulangan tradisi tidak berlangsung dengan sendirinya. Ini berlawanan dengan pandangan Levi Strauss yang mengajukan argumentasi bahwa manusia merupakan makhluk hidup yang terintegrasi di dalam alam dan akhirnya ditentukan oleh alam. Manusia menjadi subjek yang pasif, tidak berdaya dan ditentukan oleh seluruh struktur (Claude Levi Strauss, 1997:16-19). Kemampuan dan kepandaian aktor-aktor dalam proses perulangan menentukan bentuk-bentuk selanjutnya dari sistem religi dan sistem tradisi  hingga sistem tersebut menerima derajat “sakral” dan “suci”.

Kemampuan aktor bersumber pada dua hal: proses interaksi aktor dengan tradisi sebagai arena-arena tempat praksis sosial dan proses divine (bersifat ilahiah). Kemampuan seseorang untuk mendalami pengetahuan religi dan tradisi merupakan prestasi yang dapat membawa keabsahan seseorang dalam mengatur dan mengendalikan sistem religi atau sistem tradisi tersebut. Kemampuan ini bercorak pengalaman individual yang diakui oleh anggota komunitasnya, contohnya syaman, dukun, dan pemimpin religi. Pengalaman mistik, pengalaman berkomunikasi dengan kekuatan supranatural, roh, leluhur, spirit, pada sejumlah religi bersifat individual yang kemudian diakui oleh kelompok.

Selain kemampuan personal, terdapat suatu kepandaian lain yakni kemampuan mengelola sistem religi dan sistem tradisi yang digunakan untuk menentukan identitas “kelas” seseorang dalam anggota kelompoknya (instrumen penentuan kelas). Status “identitas kelas” tidak hanya dibutuhkan oleh aktor, tetapi diperlukan juga oleh anggota komunitas agar eksistensi perorangan berpeluang mendapatkan tempat (pengakuan) dalam komunitas. Demi eksistensi personal ini individu-individu berusaha mempertahankan diri dan bersedia menjalani seleksi sosial, menempuh kontestasi dalam kelompok masyarakat misalnya dengan cara berusaha memperolah kepandaian religius, kemahiran tradisi, penumpukan kapital sosial (atribut kehormatan, pengusaan sumberdaya produksi) dan hal-hal lain yang diakui kelompok. 

Dengan cara demikian aktor-aktor memelihara secara tidak lansung suatu tipe seleksi yang dapat menopang kelangsungan kelas, dan terus menjadi pengendali kelas di masyarakat. Kuasa kelas  akan dipelihara terus-menerus dengan beragam divine kreatif dan modifikasi imajinatif seperti menetapkan faktor keturunan sebagai syarat kepemimpian religi atau kepemimpinan tradisi. Penetapan suatu faktor sebagai syarat wajib untuk memperoleh predikat tertentu di dalam sistem religi dan tradisi tidak ubahnya sebagai bagian dari strategi mempertahankan kelas oleh pemilik kelas. Strategi itu mengalami perulangan yang terus-menerus dan karena faktor waktu, diwariskan turun-temurun, terbentuklah seleksi dan deseleksi kelas sosial yang biasanya dimonopoli oleh sistem tradisi religius.

Tradisi Religius

Religi memuat sistem pengetahuan (nalar) dengan objek tertentu yang bersifat metafisik. Demikian pula tradisi, di dalamnya mencakup sejumlah pengetahuan tentang aplikasi teknis dari kode metafisik yang dipercayai masyarakat tertentu. Dalam konteks isi pengetahuan, antara religi dan tradisi harus dipisahkan secara ketat sekalipun beda antara keduanya sangat tipis. Pengetahuan religi ialah sistem pengetahuan tentang mode hubungan manusia dengan pencipta atau kuasa adimanusia, tentang kode-kode yang wajib dijalankan, dijauhi, larangan, dan anjuran kepada manusia. Tradisi meliputi dimensi aplikatif dari pengetahuan hubungan manusia dengan pencipta, manusia dengan kuasa adimanusiawi dan aneka format hubungan sesama manusia.

Meminjam definisi Wallace, religi merupakan seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi mitos, yang mampu menggerakkan kekuatan-kekuatan supranatural dengan maksud untuk mencapai atau menghindarkan suatu perubahan keadaan manusia atau alam (Wallace, 1966:107). Definisi yang diajukan Wallace termasuk dalam kategori aplikasi teknis dari hubungan manusia dengan kekuatan supranatural. Religi dalam pemahaman semacam itu memerlukan dasar epistemologis berupa: sistem pengetahuan bahwa ada kuasa supranatural yang dapat pengaruh-mempengaruhi dengan kondisi manusia atau alam. Sistem pengetahuan ini diproduksi, dirantingkan kepada anggota komunitas melalui mitos (rasionalitas mitos) atau sistem lain yang dibakukan dengan nama berlainan di sejumlah daerah.

Selama berabad-abad, sistem pengetahuan (nalar) melatari berbagai interaksi manusia dengan kekuatan supranatural (misalnya leluhur, roh, spirit, dan lain-lain) atau interaksi manusia dengan sesama anggota masyarakat dan antar masyarakat yang mendiami satu wilayah. Pada zaman megalitik, di semua kawasan yang kelak akan didiami rumpun Melayu, aplikasi sistem pengetahuan (nalar) melahirkan corak kebudayaan yang mengacu dan berorientasi pada kekuatan-kekuatan supranatural seperti kepercayaan adanya kekuatan gaib pada benda, pada manusia tertentu, pada jenis binatang dan kepercayaan adanya kekuatan roh dan arwah leluhur (Haris Sukendar, 2003:27). Dengan kata lain, sistem pengetahuan (nalar) itulah yang membentuk ritus pemujaan, sistem tradsisi religius yang dalam tataran aplikasinya diwujudkan dalam aneka seni berlandaskan imajinasi yang berorientasi pada alam, misalnya seni pahat, patung, tradisi lisan. Riset arkeologis menyebutkan bahwa hasil pahatan pada zaman megalitik menampilkan gambaran imajinasi sang seniman yang telah terkontaminasi oleh tekanan-tekanan mental dan berorentasi religi (Haris Sukendar, 1999:181).

Pengetahuan religi dalam tataran aplikatif telah menyatu dengan kebudayaan menghadirkan identitas baru bernama tradisi religius yang mendorong para aktor religius atau aktor kebudayaan untuk mengekspresikan imajinasi kreatifnya ke berbagai visualisasi lambang-lambang seperti matahari, bulan, pohon, binatang dan benda-benda lain yang mewakili suatu hubungan manusia dengan kuasa adimanusia atau hubungan manusia dengan pencipta. Ekspresi imajinatif lainnya menggunakan visualisasi abstrak yang sama-sama menjelaskan kuasa adimanusia, Pencipta dalam narasi abstrak. Religi orang-orang Melayu sangat kaya akan visualisasi lambang dan visualisasi abstrak, setiap daerah memiliki kode visual yang berbeda satu sama lain. Produk kode visual dari berbagai tradisi religius  yang dianut orang-orang Melayu inilah yang dapat ditelusuri type kesamaannya, disusun dalam kategori-kategori, dipetakan kedekatan budayanya untuk menentukan identitas kolektif yang lebih besar: Sistem religi dan tradisi orang Melayu.

Kode visual tidak dapat ditarik sebagai satu gugus religi, termasuk gugus tradisi religius Islam yang menggunakan visualisasi abstrak. Di tanah Melayu, antara Islam sebagai religi dan Islam sebagai tradisi religius perlu dibedakan pula. Islam sebagai religi adalah apa yang dikemukakan dalam sistem pengetahuan yang divine (Alquran) dan kepandaian aktor yang bersifat divine pula (Sunnah). Islam sebagai tradisi religius memuat sistem nilai yang mengatur relasi manusia dan Penciptanya, hubungan sesama manusia, memuat sejumlah larangan dan anjuran. Yang diterjemahkan dan diaplikasikan oleh orang Melayu menjadi Islam Melayu, diterjemahkan oleh orang Arab menjadi Islam Arab, bersifat tipikal tanpa meninggalkan sisi divinitasnya.

Pembeda sistem pengetahuan (nalar) religi Islam dengan sistem pengetahuan (nalar) religi lain ada pada sumber pengetahuan yang divine (Quran-Sunnah) dan sistem aplikasinya (tafsir,ijma, qiyas).  Nalar yang beroperasi dalam religi Islam berlaku juga dengan nalar religi yang lain. Perbedaan mncolok terletak pada fakta bahwa sejumlah sistem religi mengalami reduksi kreatif dan modifikasi imajinatif sepanjang proses perulangan sistem tradisi dan religiusnya. Hal ini kerap terjadi pada sistem religi yang berkembang dalam komunitas terbatas dan sebarannya rendah, di mana sistem pengetahuan dan peluang modifikasi imajinatif hanya dikuasai atau ditentukan oleh kepandaian pemimpin religi/tradisi. 

Problematika Makna Religi

Pengabaian terhadap nalar-nalar yang bekerja di balik tradisi dan religi menyebabkan diskursus kontemporer (terutama di Indonesia) menderita problem pemaknaan “religi” dan “agama”. Apakah “religi” dan “agama” itu identik? “Agama” dalam bahasa Indonesia disamakan dengan transliterasi kata religion (religi). Kata religion (bahasa Inggris yang diIndonesiakan menjadi “religius”, bukan “agama”) ialah suatu istilah yang mencakup semua lingkup praktik keagamaan dan kepercayaan, resmi atau tidak resmi dengan susunan formal atau menurut adat setempat, golongan atau perorangan (Paul Stange, 1998:xiii). Dalam makna ini, “religi” tidak dapat dibingkai dalam konstitusi, diakui negara atau tidak, penganutnya banyak atau sedikit, tersistem atau tidak, bernabi atau tidak, bertuhan atau tidak. “Religi” merupakan sistem lentur yang diyakini oleh individu atau komunitas kecil. Sedangkan kata “agama” dalam wacana mayoritas dominan yang diformalisasi oleh konstitusi kerap dimaknai sebagai semua lingkup praktik peribadatan yang dilakukan secara formal berdasarkan sistem tertentu untuk memuja daya adimanusiawi (tuhan).

Predikat “agama” bergantung dari jumlah pengikut dan formalisasi sistemnya. Peribadatan yang tidak formal (dan dianut oleh pengikut yang terbatas) diwacanakan sebagai “kepercayaan”. Wacana makna yang mengacu pada jumlah mestinya tidak dilekatkan untuk standar pembentukan makna “agama”. Predikat “besar atau kecil” suatu agama barulah bergantung dari jumlah pemeluk, sedangkan lengkap atau tidak suatu agama, baik atau tidak baik suatu ajaran agama bergantung pada kompleksitas isi intrinsik ajaran itu sendiri serta bagaimana konsistensi aplikasi para pemeluknya. Semakin kompleks suatu ajaran agama akan semakin baik, dan semakin baik ajaran agama semakin banyak mendatangkan penganut, semakin banyak penganut mengundang kekritisan/pertanyaan terhadap kompleksitas ajarannya sendiri. Pada akhirnya, semakin banyak kekritisan/pertanyaan terjawab, semakin yakin para pemeluk terhadap agamanya itu (Hudjolly, 2010:54).

Pemaknaan reduktif antara “agama” dan “kepercayaan” yang dipengaruhi oleh dominasi formal konstitusi ikut mempengaruhi penafsiran sistem tradisi religius orang Melayu. Secara epistemik, makna “agama” hanyalah sub bagian dari makna religion. Problem “agama”, “kepercayaan”, dan “religi” ini ditegaskan sebab berimplikasi pada pelebelan kata “kepercayaan” terhadap religi-religi yang berkembang di pedalaman, suku atau masyarakat kecil. Sebutan “kepercayaan” pada sistem religi justru mengecilkan pemaknaan dan membingkai sistem religi itu menjadi suatu pemahaman yang meletakkan pemilik sistem religi itu ke wilayah marjinal. Celakanya, mayoritas referensi kebudayaan telah menggunakan lebel tersebut untuk menyebut semua sistem religi masyarakat terbatas, suku, komunitas pedalaman. Untuk mempertahankan keanekaragaman sistem religi di seantero tanah Melayu sekligus mempertajam kajian, maka kajian kebudayaan Melayu perlu melepaskan diri dari problem ini.

Agama dalam tataran aplikasinya berarti perilaku manusia secara sosial, bukan agama yang berisi kumpulan kredo tuhan yang melulu berbicara soal-soal kekuasaan tuhan untuk menimbulkan keyakinan, faith berdasar struktur pemahaman agama dimaksud. Agama disebut sebagai arena yang dualmatra. Salah satu matra agama menyandarkan diri pada teks transendent (divine). Satu matra lainnya lagi bersandar pada keadaan sosial para penganutnya, atau dari hasil praktek peribadatan atau penerapan teks transendent menurut pemahaman para pemeluknya (Hudjolly, 2010:55).

Aplikasi tradisi religius masyarakat dipandu oleh teks dan pemahaman manusia terhadap kondisi sekitarnya yang ter-referensi dari konstruksi-konstruksi sistem pengetahuan religinya yang telah diproduksi menjadi teks. Teks akan membentuk kebudayaan suatu komunitas dan sebaliknya, kebudayaan suatu komunitas membentuk teks kebudayaan. Kebudayaan yang telah dikerjakan selama bertahun-tahun, berabad-abad dan turun-temurun dengan sendirinya dianggap sebagai teks yang sudah diterima mapan, seolah-olah begitulah adanya. Teks semacam inilah yang disebut sebagai tradisi (Hudjolly, 2010:55).

Teks merupakan terminal perantara dari pihak yang memahami kepada hal yang dipahami atau dalam istilah Paul Ricoeur (1981:297) realitas teks dan realitas dunia tidak dipisahkan. Persepsi subyek terhadap obyek dan tangkapan yang diterima subyek dari obyek bertemu dalam “teks” religius, inilah yang disebut penafsiran. Proposisi dibentuk oleh satuan-satuan teks yang membentuk sistem dan melahirkan persepsi kompleks. Dengan demikian, penafsiran atas religi orang Melayu sangat bergantung pada tiga hal.  Pertama, kecenderungan penggunaan mainstream antara yang mayoritas atau minoritas, kedua pemilihan pemaknaan religi-agama-kepercayaan yang masing-masing memiliki problematika dan konsekuensi epistemologis tersendiri. Ketiga, satuan teks kebudayaan yang tafsirkan.   

Penutup

Membuat generalisasi atas keanekaragaman sistem tradisi dan sistem Religi orang Melayu bukanlah hal bijak, bahkan kesimpulan yang sulit ditoleransi sehingga kita perlu meninggalkan pengunaan term religi orang Melayu yang bersifat tunggal. Yang dapat dilakukan adalah menyelami nalar general yang bekerja dan beroperasi pada semua sistem tradisi ataupun sistem religi. Kemudian, kode visual yang dipakai oleh tradisi-religius sebagai aplikasi sistem (nalar) yang general, dapatlah dipetakan dalam kategori yang diberi nama-nama tertentu (taksonomi Religi Orang Melayu). Atau mendekati religi orang Melayu secara fenomenologis, sehingga hasil hampirannya akan bersifat spesifik bergantung sistem religi yang didekati.

Kajian tradisi religius orang Melayu dengan kacamata fenomenologi akan meletakkan agama, religi dan tradisi orang Melayu sebagaimana ia menampakkan diri di hadapan pemahaman kita. Kajian tradisi religius yang dibingkai dalam satu keyakinan (religi ataupun teori) tertentu beresiko mendatangkan distorsi epistemologis. Tradisi religius Melayu, sebagaimana tradisi religius di anak benua lain, bersifat unik dalam nalarnya tersendiri. Pendokumentasian tradisi dalam bentuk teks-teks narasi jangan sampai penyempitan makna dan tercerabutnya kekayaan tradisi itu ke dalam bentuk-bentuk sistematis yang sebelumnya telah dimapankan. Memang, penafsiran dalam membaca tradisi boleh saja dan sangat dianjurkan bersifat beragam karena akan memberikan perspektif tradisi secara luas.

Penyusunan taksonomi Melayu di lapangan kebudayaan merupakan project riset besar sekaligus mendatangkan kemudahan ensikplodis yang dikemudian hari memudahkan pemangku kebijakan mengambil putusan secara tepat dalam memelihara kelestarian tradisi, menghindarakan klaim-klaim politis dan pemaksaan definisi oleh negara.

Hudjolly M.Phil, Peminat Kajian Tradisi

Referensi:

Anthony FC, Wallace, 1996. Religion: an Anthropological View. New York: Random House.

Claude Levi Strauss, 1997. Mitos, Dukun dan Sihir. Terjemahan A. Cremers & De Santo J. Yogyakarta: Kanisius.

Dawson Christoper, 1948. Religion and Culture. London: Sheed & Ward.

Haris Sukendar, 2003. Megalitik Bumi Pasemah. Peranan serta Fungsinya. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi.

Hudjolly, 2010. Imagologi: Strategi Teks Membunuh Agama. Yogyakarta: RE-Kreasi.

Kosasih, 1983. “Lukisan Gua di Indonesia Sebagai Sumber Data Penelitian Arkeologi”, dalam Analisa Kebudayaan, h. 66-79.

Malinowski, 1954. Magic, Science and Religion, and Other Essays. New York: TP.

Paul Ricoeur, 1981. Hermenutics and The Human Sciences: Essays on Language, Action and Interpretation. Cambridge: Cambridge Univ Press.

Soejono, RP, 1977. Jaman Prasejarah di Indonesia, Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.


Dibaca : 2.785 kali.

Tuliskan komentar Anda !