Close
 
Selasa, 24 Januari 2017   |   Arbia', 25 Rab. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 2.108
Hari ini : 13.774
Kemarin : 27.736
Minggu kemarin : 235.063
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 101.690.765
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

28 juni 2011 03:58

Repetisi Kebudayaan Melayu

Repetisi Kebudayaan Melayu

Oleh Hudjolly, M.Phil.

Peradaban suatu bangsa berbanding lurus dengan segala produk kebudayaannya. Nun jauh ribuan tahun silam, peradaban Yunani mencapai puncak zaman keemasan dan menghasilkan kebudayaan yang diwariskan hingga masa kini. Sejak zaman keemasan tersebut, selama 2000 tahun kebudayaan Yunani di berbagai bidang diulang terus-menerus. Pada akhirnya, corak-corak kesenian Yunani kehilangan gairah, yang menonjol hanyalah pengulangan. Siklus perulangan yang sama juga terjadi pada peradaban Cina, peradaban Hindus, peradaban Laut Tengah dan seterusnya. Peradaban Melayu pun mengalami kisah serupa. Ia mengalami perulangan kemudian peluruhan kebudayaan yang semakin terasa di masa sekarang ini. Sesudah mencapai suatu kejayaan, sejarah peradaban manusia selalu berisi perulangan-perulangan hingga titik nadir terendah kebudayaan: budaya sintetis.

Pendahuluan

Sebelum mencapai masa kejayaan, hasrat manusia terhadap kebudayaan bersifat sangat kreatif sehingga mampu menggapai puncak-puncak kebudayaan. Pada fase ini, kebudayaan mengalami petualangan, uji coba, jatuh bangun, dalam upaya mencetak prestasi kebudayaan. Kehidupan kebudayaan menjadi sangat bernas, berdialektik, sekaligus menghasilkan insan-insan yang pandai menciptakan peluang sekaligus memanfaatkannya. Kreativitas dan kemampuan itu berhasil menciptakan cara dan metode berkebudayaan yang membawa peradaban sampai ke puncak tertinggi. Sesudah tercipta jalan atau metode menuju sukses peradaban, jalan kebudayaan yang dipergunakan mulai diulang dengan harapan dapat mengulang sukses. Inilah masa surutnya hasrat penciptaan, kebudayaan mengalami fase mempertahankan metode berkebudayaan. Usaha-usaha itulah yang disebut sebagai ”pelestarian”, cara berkebudayaan yang berorientasi mempertahankan kelangsungan produk kebudayaan.

Peradaban kebudayaan Melayu saat ini sedang menjalani fase perulangan, usaha-usaha pelestarian berorientasi pada mempertahankan pernik-pernik produk kebudayaan Melayu. Format kemasan yang sangat lazim dan populer dalam usaha “pelestarian” kebudayaan antara lain festival, parade budaya dan berbagai bentuk perulangan (repetisi) kebudayaan yang sejenis.  Festival atau parade kebudayaan berisi duplikasi kebudayaan yang disajikan sebagai komoditas konsumsi.

Memang, festival merupakan salah satu bentuk cipta kreatif berkebudayaan, tetapi format festival itu sendiri berisi produk-produk kebudayaan yang sedang diulang. Festival berisi repetisi kebudayaan, misalnya lenggak-lenggok peserta karnaval berbusana pengantin Melayu, busana adat Melayu, duplikat tari-tarian sakral Melayu, duplikat benda-benda kebudayaan Melayu dan sebagainya. Tidak jarang, raja/ratu yang ditampilkan dalam festival adalah sosok raja/ratu yang telah berubah menjadi simbol pelestarian kebudayaan. Performa raja-ratu tidak lagi sublim, menyihir rakyatnya. Festival atau karnaval yang pertamakali diadakan adalah prestasi kebudayaan, sedangkan isi festival tidak lain duplikat-duplikat kebudayan (repetisi), dan perulangan festival adalah usaha mengulang sukses festival sebelumnya alias repetisi pula.

Proses Repetisi Kebudayaan

Repitisi kebudayaan terjadi manakala anggota komunitas pemilik peradaban berusaha mempertahankan stabilitas kebudayaan, menjaga agar cara-cara berkebudayaan tersebut tetap bertahan dan berlangsung terus menerus tanpa pembaharuan. Sebagaimana terjadi pada peradaban Yunani, produk kebudayaan diulang-ulang dalam argumentasi tanpa bobot, sejarah, pemerintahan, upacara sakral, semua dilakukan karena kebiasaan, sastra tanpa kedalaman (Whitehead, 1963:257).

Hampir dapat dipastikan, di sebagian peradaban Melayutelah, ada usaha-usaha penciptaan kreatif kebudayaan untuk menghasilkan puncak-puncak prestasi Melayu sedang berdetak. MelayuOnline.com adalah contoh penciptaan kreatif dalam peradaban Melayu, pegiat komunitas sastra lisan, pusat-pusat studi kebudayaan Melayu di Singapura, Malaysia dan negara-negara Melayu lain adalah bentuk-bentuk teraktual kreasi cipta kebudayaan.

Sebagai rumpun yang sangat besar, selalu ada sekelompok masyarakat Melayu yang sibuk mencari cara agar puak-puak tradisi Melayu yang tersisa dapat mencetak kembali kreasi penciptaan kebudayaan. Sebuah contoh berdetak dari masyarakat Bajo dan tradisi lautnya yang saat ini sedang terjepit antara proses kreatif dan proses pelestarian. Pelestarian tradisi laut orang Bajo dilakukan dengan cara memberi bantuan kelengkapan alat melaut atau diversifikasi pemanfaatan hasil laut seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat. Bahkan sebuah daerah di pinggir laut sengaja didirikan sebagai tempat bermukim orang Bajo, suatu upaya “mendaratkan” orang Bajo. Tetapi proses kreatif lain sedang terus diusahakan agar tercipta cara mempertahankan tradisi laut orang Bajo di tengah kecamuk perubahan iklim laut dan dorongan “mendaratkan” orang Bajo (Jurnas, 15/05/2011).

Di bagian lain peradaban Melayu, ada pula aktor yang menjalankan proses perulangan kebudayaan terus-menerus tanpa batas. Pelestarian yang bersifat membuta membuat artikulasi peradaban tidak menghasilkan penciptaan kreatif kebudayaan. Yang berhasil dicetak adalah usaha membakukan bentuk kebudayaan, menjaga cara, dan metode berkebudayaan. Dalam himpitan zaman, bentuk pelestarian kebudayaan digubah menjadi komoditas konsumsi budaya yang kemudian disajikan dalam format etalase tiruan di atas panggung, lantai festival, di ruang lobi hotel mewah dan sebagainya. Kita dapat menemukan contoh semacam ini di banyak tempat, misalnya beberapa jenis pahatan Melayu yang semula dibuat dalam konteks menghormati arwah nenek moyang, demi  tuntutan konsumsi telah direpetisi dan diduplikasi menjadi bentuk pahatan orang Melayu untuk konsumsi perdagangan. Semua seni seolah dimuarakan ke arah seni pakai.

Tari-tarian Melayu yang berpuluh ragam jenis itu dicabut dari habitat aslinya lalu disajikan untuk konsumsi tamu-tamu wisatawan. Ketika proses itu berulang terus-menerus, usaha untuk mempelajari tari dan kebudayaan Melayu menjadi usaha pelestarian kebudayan yang bermotif konsumtif. Padahal, peradaban Melayu belum saatnya mengalami kemunduran tetapi akibat dari perulangan dan motif-motif konsumtif itu, peradaban Melayu mengalami kejemuan, berhenti, dan tidak lagi kreatif. Berhenti karena kebudayaan kehilangan roh hakiki berkebudayaan, manusia Melayu berkebudayaan bukan untuk konsumsi tetapi untuk eksistensi. Baik bangsa Melayu, Yunani, atau Cina sudah mencapai kesempurnaan tertentu dalam peradaban, namun kesempurnaan peradaban tak kuasa menanggung kejemuan yang ditimbulkan oleh pengulangan tanpa batas (Whitehead, 1963:258).

Dalam kejemuan semacam itu, aspek-aspek kebudayaan yang telah mengantar menuju puncak peradaban justru tidak berhasil diulang. Aspek sublim dalam tarian, pahatan, upacara kuno, upacara adat tidak terdapat dalam duplikasi pementasan acara sejenis di atas imbar panggung, di altar pertunjukan atau di lantai  festival. Aspek kreatif yang mengantar proses penciptaan kebudayaan tetap tidak dapat ditemui dengan cara semacam itu yang ada adalah aspek repitisi dan “pelestarian”. Aspek divine dalam kebudayaan yang ditujukan secara ikhlas sebagai bentuk ketaatan manusia, atau sebagai upaya menjaga relasi harmoni antara manusia dan adimanusia, juga tidak dapat dihadirkan pada repitisi kebudayaan yang bermotif konsumsi. Aspek divine berkebudayaan tidak dapat dijumpai pada repitisi kebudayaan di atas mimbar pertunjukan.

Untuk menopang sebuah peradaban dengan intensitas yang sama bergairah dengan awal kemunculan peradaban, diperlukan lebih dari sekadar kemauan belajar, melainkan membutuhkan petualangan, yakni usaha untuk mencari kesempurnaan baru menjadi bentuk yang hakiki (Whitehead, 1963:258). Usaha semacam itulah yang sulit dihadirkan dalam setiap produk perulangan kebudayaan. Hakiki kebudayaan tidak lagi dianggap penting, yang dianggap penting adalah produksi repitisi untuk menghasilkan pundi-pundi uang dan devisa. Proses kreatif yang ikut mewarnai repitisi kebudayaan juga bermotif untuk menghasilkan uang semata. 

Pada tahap demikian, secara tidak sadar kebudayaan Melayu sedang digubah menjadi  bagian-bagian dari mesin produksi, aset yang dapat dipergunakan untuk menciptakan produk-produk konsumsi. Mesin produksi kebudayaan telah hadir di tengah-tengah peradaban Melayu dan telah menjadi satu bagian dengan kebudayaan Melayu itu sendiri. Lihatlah sebagian masyarakat Melayu yang menerimanya dengan tangan terbuka dan menyambut peluruhan kebudayaan Melayu dengan sorak kebanggaan. Bangga karena kebudayaan Melayu telah menjadi bahan tontonan. Kebudayaan yang dulu menjadi tuntunan itu telah diletakkan sebagai produk konsumsi. Kelompok ini menamakan diri sebagai masyarakat modern yang terbuka terhadap perubahan zaman. Maka, kebudayaan yang dulu menjadi tuntunan, dengan alasan tuntutan zaman, telah dijadikan tontonan.

Contoh dari argumen ini dapat dilihat sendiri di sekeliling kita. Apa sajakah kebudayaan Melayu yang telah digubah menjadi komoditas tontonan. Masyarakat yang menolak hal di atas dituding sebagai orang puritan yang tidak mau merespon tuntutan zaman. Mereka menjadi kelompok yang berusaha melestarikan tradisi secara baku. Secara tidak sadar, strategi pembakuan kebudayaan ditetapkan sehingga metode berkebudayaan mengalami stagnasi karena yang ada hanyalah pelestarian dan usaha mengagungkan bentuk-bentuk kebudayaan saja. Proses kreatif tidak dapat tumbuh subur di tengah situasi semacam ini.

Respon terhadap tuntutan zaman mendorong proses repetisi yang kreatif. Tetapi, kreativitas yang terbentuk melepaskan diri dari rasionalitas kebudayaan yang otentik dan bermuara pada harapan (sacred expectation). Proses kreatif diciptakan dalam kerangka rasionalitas non tradisi, bahkan tidak jarang melepaskan diri dari kebiasaan (Hudjolly, 2011, dalam www.MelayuOnline.com). Proses kreatif kebudayaan mengalami perubahan orientasi. Dalih yang biasa dipakai dalam logika kreatif semacam ini adalah “keberubahan segala sesuatu” diperlukan dalam rangka menjawab tuntutan zaman. Secara umum, sifat kebudayaan tidak tabu terhadap keberubahan. Dalih keberubahan berlawanan dengan prinsip yang dipegang teguh oleh kalangan pelestari tradisi bahwa keberubahan mendatangkan perubahan kebudayaan. Sayangnya, perubahan dalam konteks semacam itu sama dengan lenyapnya kebudayaan otentik. Tapi, apakah sifat keberubahan itu memang bersifat destruktif bagi kebudayaan?

Prinsip pentingnya “keberubahan” disampaikan oleh Fritjof Capra yang sedikit banyak mirip dengan pemikiran Jean-Paul Sartre yang mengatakan bahwa tidak ada identitas selain keberubahan (Sartre dalam Frantz Fanon, 2000:xxxi). Tanpa keberubahan, kebudayaan mengalami tahap stabilisasi. Apabila kebudayaan bersifat stabil atau distabilkan oleh masyarakatnya, maka kebudayaan itu justru tidak berkembang. Namun demikian, keberubahan menghadapi dua pilihan: change and continuity berarti berubah untuk meneruskan keberlanjutan peradaban, atau change and different yang berarti mengakhiri kebudayaan lama dengan kebudayaan baru.

Kebudayaan Melayu Sintetis

Peradaban Melayu dewasa ini dihadapkan pada dua pilihan tersebut. Change and different yang tetap menyisakan pertautan sejarah bahwa peradaban Melayu kini telah menginspirasi kebudayaan Melayu baru. Roh dan semangat peradaban Melayu baru berisi hasil perjumpaan antara budaya konsumsi, budaya repetisi, budaya kreatif, dan otentisitas budaya. Peradaban Melayu yang dihasilkan bersifat sintetis atau dinamakan Melayu Sintetis.

Pilihan keberubahan berikutnya adalah change and continuity. Kebudayaan Melayu lama di tangan orang-orang masa kini menghasilkan perspektif kekinian kebudayaan Melayu lama. Sudut pandang terhadap kebudayaan Melayu yang berubah dan perbedaan ini serta merta mendatangkan proses kreatif bukan pelestarian yang repetitif. Aspek continuity merupakan kesadaran identitas bahwa peradaban Melayu adalah identitas diri yang apabila diubah oleh identitas baru akan menghasilkan obituary kebudayaan Melayu. 

Oleh karena itu, banyaknya festival yang diselenggarakan dalam rangka melestarikan kebudayaan Melayu mesti disikapi secara lebih teliti. Apakah gejala gebyar festival kebudayaan merupakan repetisi kebudayaan yang bersifat change and differrent? Ataukah gebyar festival yang marak di berbagai daerah adalah bentuk-bentuk dari change and continuity. Jawaban dari pertanyaan ini tidak sederhana dan hanya bisa dijawab oleh mereka yang terlibat aktif dalam proses kebudayaan itu, baik sebagai pelaku atau pemerhati. 

Hukum Kemerosotan Peradaban      

Di dalam peradaban Melayu yang besar terdapat agregasi kebudayaan dalam bentuk aksi individu dan relasi sosial, sistem simbol dan nalar tradisi, kosmologi dan religi. Betapapun besar peradaban, himpunan kebudayaan Melayu tetap memiliki keterbatasan yang sedang mengalami kemerosotan dengan kecepatan tertentu. Meskipun kemerosotan berlangsung perlahan tetapi kemorosotan pastilah memiliki titik awal dan titik akhir. Titik awal ditandai oleh kejenuhan, keletihan kelembaman (inertia) kebudayaan, titik akhir ditandai oleh bentuk kebudayaan yang semakin sederhana, simple dan menyempit. Ini berarti, peradaban Melayu tengah berjalan semakin sederhana, menyempit dalam kluster-kluster pertunjukan hiburan, dan maksimal simbol-simbol budaya semata.   

Titik awal kemerosotan peradaban ditandai oleh keletihan yang ditunjukkan oleh kenyataan di lapangan kebudayaan yang selalu melanggengkan repitisi. Kenyataan ini sudah mudah ditemui di berbagai puak rumpun Melayu. Repitisi-duplikasi terjadi secara besar-besaran serta menguasai arus utama ekspresi kebudayaan, inilah dominasi repitisi kebudayaan. Pada kebudayaan Melayu, dominasi repitisi terlihat lewat duplikasi festival-festival, format kemasan kebudayaan Melayu yang telah dijadikan komoditas konsumsi dan diletakkan sebagai bagian dari industri pariwisata skala global oleh masyarakat Melayu itu sendiri.

Kelembaman (inertia) di bidang kebudayaan selalu membebani kemampuan rasio. Kemampuan rasio yang memantik kreasi penciptaan jika dilekati oleh kelembaban mendatangkan keletihan. Keletihan ialah operasi menyingkirkan impuls ke arah pembaruan. Keletihan menyingkirkan peluang-peluang yang semestinya dapat dimanfaatkan ke arah pembaruan, keletihan mendatangkan sikap pengabaian yang sia-sia (Whitehead, 2001:69-70). Ketika peluang tidak dapat dimanfaatan untuk menghasilkan pembaruan maka repetisilah yang dipakai untuk mengisi peradaban.

Repetisi yang mendominasi kebudayaan Melayu semakin lama semakin mendatangkan kejenuhan. Masyarakat menjadi bosan akibat repetisi dominan dan tiada kebaruan. Segala produk kebudayaan di mata kebosanan dianggap hal yang sederhana, dan memang secara faktual tidak ada kebaruan yang memperluas kebudayaan. Bahkan, akibat dominasi repetisi, kluster-kluster kebudayaan secara nyata semakin mempersempit ruang kebudayaan. Kebudayaan bersifat parsial, berdiri sendiri-sendiri dilepaskan dari makna terdalamnya yakni hakikat eksistensi kemanusiaan dilarikan menuju ekspresi atas nama produksi kebudayaan. Pada fase ini kebudayaan memasuki titik akhir yang ditunjukkan oleh gejala kesederhanaan bentuk kebudayaan.

Kebudayaan disederhanakan menjadi bentuk yang konsumtif, ketika orang-orang yang mendambakan konsumsi tersebut tidak tertarik, segala produk kebudayaan terlihat menjemukan. Masyarakat Melayu mulai merasa jemu terhadap ekspresi kebudayaan Melayu Sintetis yang ditampilkan di muka publik hanya itu-itu saja, tanpa kebaruan. Bukankah kebudayaan Melayu sintetis tidak mengandung sakralitas? Yang ada hanyalah kreasi duplikatif, sepi dari harapan harmonisasi internal bentuk kebudayaan yang semestinya mengenyangkan aspek non fisik manusia.      

Demikianlah hukum kemerosotan peradaban bekerja pada semua bangsa, tidak terkecuali Melayu. Puak Melayu yang tersebar di Asia Tenggara tidak dapat menghindar dari hukum konsumsi global. Peradaban Melayu telah lama memasuki fase “titik awal”, realitas kebudayaan Melayu dewasa ini menunjukkan keletihan peradaban telah terjadi di mana-mana. Bidang arsitektur Melayu lebih memilih change and different sehingga sulit sekali melihat kebudayaan arsitektural Melayu di zaman modern. Bidang bahasa pun demikan, kategori teritori menjadi sekat utama menjadi kluster-kluster peradaban Melayu bernama Melayu Indonesia, Melayu Singapura, Melayu Malaysia, Melayu Brunei, dan seterusnya.

Di satu sisi, kluster kebudayaan itu terpasung dalam politik regional yang menopang identitas teritori. Para pemilik teritori mengembangkan kebanggaan parsial sebagai kluster terunggul dalam peradaban Melayu. Secara general, usaha menciptakan kebanggaan parsial akan mendatangkan semangat kreatif kebaruan. Secara politis, usaha menciptakan kebanggaan akan mendatangkan kompetisi tidak sehat: klaim kepemilikan otentik prestasi kebudayaan lebih dikedepankan, padahal kebudayaan tidak dapat disekat dalam ruang-ruang kepemilikan. 

Penutup

Keberbedaan kebudayaan dalam kluster-kluster dijadikan nilai strategis untuk menunjukkan keunggulan kluster masing-masing. Keunggulan kluster dipropagandakan sebagai nilai jual dan daya tarik devisa. Di tengah teknologi zaman ini, repetisi kebudayaan lintas kluster sangat mudah dikerjakan. Repetisi lintas kluster tetap saja membuat peradaban Melayu tidak berkembang dalam kreasi baru prestasi peradaban Melayu, hanya mengubah tempat sehingga mendatangkan kesan kebaruan. Cara ini hanya akan memperkeruh dikotomi teritori antar kluster kebudayaan Melayu.

Masyarakat besar Melayu harus mulai memikirkan proyek peradaban bersama yang besar: change and continuity dengan cara antara lain menghilangkan kompetisi lintas kluster yang berorientasi kepada nilai jual konsumtif kebudayaan, menghilangkan repetisi lintas kluster digantikan dengan komunikasi kebudayaan lintas kluster, membangun pusat inkubasi peradaban  Melayu. Komunikasi dilangsungkan dalam kerangka kerja kebudayaan, mencari hakikat terdalam eksistensi kebudayaan setiap kluster, setiap puak, untuk dicarikan kode genealogi kebudayaan yang sama. Menggubah orientasi kebaruan kebudayaan ke luar logika repetisi konsumsi akan mengurangi ketegangan persaingan propaganda industri kebudayaan antar kluster teritori. Peradaban Melayu perlu merelakan sementara pemasukan devisa dari produk repetisi kebudayaan yang dijual setiap kluster. Devisa kunjungan dapat dipacu dari eksotisme alam yang memang secara alamiah bersifat khas.

Genealogi kebudayaan Melayu akan mengembalikan identitas peradaban Melayu yang lebih besar, lintas kluster, beratus puak Melayu kepada orang-orang Melayu apapun benderanya. Genealogi mengantisipasi pendakuan dan meletakkan kebudayaan kepada bentuk yang otentik. Festival-festival cukuplah digunakan sebagai etalase kebudayaan Melayu, festival bukan ajang pendakuan dan pelestarian. Pelestarian sama dengan menetapkan kebudayaan sebagai makna yang stabil. Sebaliknya, genealogi kebudayaan secara otomatis akan mendatangkan continuity yang menjaga kelangsungan perantingan kebudayaan lintas generasi secara cerdas-kreatif. Pusat inkubasi peradaban Melayu dapat dipelopori oleh universitas (terutama di Indonesia, Malaysia, Singapura) dengan target peserta dari seluruh puak Melayu lintas kluster yang berminat terhadap studi Melayu. Pusat inkubasi peradaban Melayu lintas teritori akan menjadi embrio kreatif cipta kebudayaan Melayu. Akhirnya, sekali layar peradaban Melayu terkembang, surut kita berpantang.

Hudjolly, M.Phil., Pemerhati Kajian Tradisi

Referensi:

Alfred North Whitehead, 1963. Adventures of Ideas. New York &London, The Free Press&Collier Macmillan.

________, 1971. Function of Reason. Alih Bahasa oleh Alois A Nugroho, 2001. Fungsi Rasio. Yogyakarta, Kanisius.

Hudjolly, 2011. ”Seni  Melayu dan Surealisme” dalam http://melayuonline.com/ind/article/read/981/seni-melayu-dan-surealisme

Jean-Paul Sartre dalam Frantz Fanon, 2000. The Wretched Earth. Jakarta: Teplok Press.

Foto: http://sumutpos.co


Dibaca : 4.960 kali.

Tuliskan komentar Anda !