Layang-layang Kawau rangkanya terbuat dari bilah bambu. Jumlahnya ada 6 buah, dengan rincian: kepak 2 buah, batang 2 buah dan ekor 2 buah.

Layang-layang Sahari Bulan/Sri Bulan rangkanya terbuat dari bilah bambu. Jumlahnya ada 5 buah, dengan rincian: kepak 2 buah, batang sebuah dan ekor 2 buah.
Layang-layang Gasing rangkanya terbuat dari bilah bambu. Jumlahnya ada 4, dengan rincian: kepak 2 buah, batang sebuah dan ekor sebuah.
Layang-layang Camar rangkanya terbuat dari bilah bambu. Jumlahnya ada 7 buah, dengan rincian: kepak 2 buah, batang sebuah dan ekor 4 buah.
Layang-layang Serawai rangkanya terbuat dari bilah bambu. Jumlahnya ada 4 buah, dengan rincian: kepak 2 buah, batang sebuah dan ekor sebuah.
2. Pemain
Layang-layang dapat dikatakan sebagai permainan lelaki karena umumnya yang melakukannya adalah para lelaki, baik tua, muda maupun anak-anak. Agar layang-layang dapat naik ke angkasa dan stabil diperlukan keahlian atau pengetahuan khusus, mengenai: arah angin, kapan harus megulur benang, dan kapan harus menariknya.
3. Tempat, Bahan dan Peralatan
Untuk menaikkan layang-layang diperlukan tanah yang lapang, sebab tanah yang demikian anginnya relatif kencang. Selain itu, ruang gerak pemain lebih leluasa, apalagi kalau pemainnya lebih dari seorang. Bahan-bahan dan peralatan yang digunakan dalam pembuatan layang-layang adalah: bambu pesing yang ruasnya panjang dan tebal; benang rami sebagai pengikat rangka; rotan sogo batu sebagai alat bunyi (dengung); kertas jeluang/kain parasut sebagai pelapis rangka layang-layang; kertas parada untuk motif hiasan; pensil/pena untuk melukis motif atau hiasan pada layang-layang; minyak kelapa untuk meminyaki bambu agar lentur; lem/getah para sebagai perekat kertas pada layang-layang; parang untuk memotong bambu; pisau untuk membelah dan meraut bambu serta rotan; gunting untuk memotong kertas/kain parasut dan benang rami.
4. Aturan dan Proses Permainan
Kemarau adalah musim yang pas untuk bermain layang-layang, biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari. Ada dua jenis permainan beserta aturannya yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat Bengkalis, yaitu permainan bergelas dan permainan yang mengutamakan bentuk serta keindahan. Permainan pertama (bergelas) hanya untuk layang-layang serawai. Dalam permainan ini para pemain berusaha untuk membelitkan benang layang-layangnya pada benang layang-layang lawan di atas ketinggian kurang lebih 150 meter dari permukaan tanah. Pemain yang layang-layangnya tetap di udara adalah yang menang, sedangkan yang putus adalah yang kalah. Permainan kedua adalah dengan mempertandingkan keindahan bentuk dan bunyi layang-layang tanpa melihat ukuran layang-layang. Dalam permainan ini para juri menilai keindahan bentuk dan bunyi layang-layang yang berada di ketinggian kurang lebih 150 meter dari permukaan tanah. Dalam sebuah pertandingan layang-layang bisa memakan waktu kurang lebih 2 jam.
5. Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan layang-layang ini tidak hanya kompetitif tetapi juga kreatif, sportif, dan estetik (seni). Nilai kompetitif tercermin dari semangat setiap pemain yang berusaha untuk menjadi pemenang. Dengan perkataan lain, setiap pemain menjadi pesaing pemain lainnya. Nilai sportif tercermin dari kesadaran bahwa dalam suatu permainan pasti akan ada yang menang dan ada yang kalah, kalah dan atau menang suatu hal yang lumrah dalam suatu permainan. Nilai kreatif tercermin dari pembuatan layang-layang yang sedemikan rupa, sehingga bisa tampil “beda”. Sedangkan, nilai estetik tercermin dari tampilnya layang-layang yang tidak hanya bisa mengudara, tetapi sedap dipandang mata. Jadi, ada unsur keindahannya.
Sumber :
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Riau, 1984, Permainan Rakyat Daerah Riau, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Kredit foto : www.perzim.gov.my