Senin, 22 September 2014   |   Tsulasa', 27 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.612
Hari ini : 12.398
Kemarin : 18.381
Minggu kemarin : 144.183
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.145.910
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Guli

Guli atau kelereng termasuk permainan rakyat yang digemari oleh anak-anak untuk mengisi waktu senggang pada pagi atau sore hari, biasanya di tempat-tempat teduh. Guli biasanya dimainkan ketika musim panas/kemarau, karena membutuhkan lubang yang digali di tanah kering. Bila tanah agak becek, maka permainan guli ini tidak mengasyikkan, karena buah guli akan lengket.

Pada zaman dulu, guli dibuat dari potongan-potongan kayu yang dibulatkan dengan ukuran sebesar telur ayam, atau dari kulit kima, yakni sejenis karang besar yang terdapat di dasar laut atau di tebing-tebing karang. Dengan perubahan zaman, terutama setelah Perang Dunia Pertama, guli kemudian dibuat dari bahan kapur yang diaduk dengan semen, ukurannya sebesar ibu jari kaki. Akhir-akhir ini, guli dibuat dari bahan kaca dengan ukuran yang beragam, dari ukuran jari kelingking hingga ibu jari kaki.

1. Pemain

Permainan guli dikelompokkan menjadi dua: main beraje dan main berundung. Main beraje dilakukan secara perorangan atau satu lawan satu, dimainkan oleh anak laki-laki atau anak perempuan dengan jumlah pemain antara 2-5 orang yang berumur antara 6-12 tahun. Sedangkan main berundung adalah permainan yang terdiri dari dua regu, masing-masing regu terdiri dari 2-4 orang, dimainkan oleh anak laki-laki, anak perempuan atau campuran keduanya.

2. Tempat dan peralatan permainan

Guli dimainkan di arena yang berukuran 5 x 2 m. Di arena tersebut dibuat tiga buah lubang: lubang I disebut lubang raja atau lubang induk yang berdiameter 15 cm; lubang II disebut lubang tengah dan lubang III disebut lubang bawah, masing-masing berdiameter 10 cm. Jarak antara satu lubang ke lubang lain antara 2,88 m-4,80 m. Selain itu, ada pula istilah garis kandang yang terletak antara lubang raja dan lubang tengah. Pusat lingkarannya terletak pada lubang raja, dari lubang tersebut garis lingkaran ditarik hingga ke lubang tengah. Untuk lebih jelas, di bawah ini digambarkan denah permainan guli dengan beberapa keperluan terkait.


Denah arena permainan guli

Peralatan yang diperlukan dalam permainan ini adalah beberapa buah guli sesuai dengan jumlah pemain.

3. Proses permainan

Oleh karena permainan ini terdiri dari dua jenis, maka proses permainannya juga terdiri dari dua cara pula, yaitu:

  • Proses main beraje.

Dalam permainan ini, ada istilah pemain I, II dan III. Urutan ini diperoleh dari pengundian yang dilakukan dengan cara menggelindingkan guli dari lubang raja ke lubang bawah. Guli pemain yang paling dekat dengan lubang bawah menjadi pemain pertama yang akan melakukan setikan (jentikan), disusul oleh guli pemain kedua, ketiga dan seterusnya. Selanjutnya, pemain tersebut menyetikkan gulinya dari lubang raja ke lubang tengah. Jika masuk, maka ia ambek raje dengan cara menggelindingkan gulinya ke lubang raje. Jika tidak masuk, maka giliran pemain kedua yang akan menggelindingkan gulinya dengan dua pilihan: memasukkan gulinya ke lubang tengah atau memangkah guli pemain pertama agar jauh dari lubang tengah, dan kemudian memasukkan gulinya ke lubang tengah tersebut. Apabila pemain kedua ini tidak dapat memasukkan gulinya ke lubang tengah, maka giliran pemain ketiga yang akan memasukkan gulinya seperti yang dilakukan oleh pemain sebelumnya. Jika pemain kedua, ketiga dan seterusnya abus dan tidak dapat memasukkan gulinya ke lubang tengah, maka pemain pertama yang mendapat giliran melanjutkan permainan. Pemain pertama ini boleh memangkah guli lawannya dengan cara kusen atau sekuru agar guli-guli lawannya jauh dari lubang yang dituju, sehingga dapat dengan mudah melanjutkan permainannya.

Bila pemain pertama dapat memasukkan gulinya ke lubang tengah dan lubang bawah, maka ia berusaha lagi memasukkan gulinya ke lubang tengah sebagai bentuk nurun. Jika gagal, maka permainan dilanjutkan oleh pemain kedua, dan seterusnya. Namun, bila berhasil, maka ia dinyatakan sebagai pemenang dan memiliki hak untuk menghalau guli-guli lawannya yang ingin masuk ke garis kandang atau kandang raja. Sementara pemain kedua, ketiga dan seterusnya dinyatakan sebagai pemain yang kalah atau lenget. Sebagai sanksinya, pemain-pemain yang kalah menyerahkan mata kaki bagian luar atau dalam untuk dipangkah dengan guli sang pemenang. Setelah itu, permainan dilanjutkan dengan mamasuki babak kedua dengan proses permainan yang sama.

  • Proses main berundung

Proses main berundung tidak berbeda jauh dengan main beraje, hanya dalam main berundung para pemainnya dibentuk per regu, misalnya regu A dan regu B, dan perlu adanya kerjasama yang baik antara anggota kelompok tersebut. Selain itu, dalam main berundung terdapat pembagian kerja antara satu anggota dengan yang lain. Misalnya, jika salah satu dari regu A gagal melanjutkan permainan, maka anggota lainnya akan meneruskan permainan tersebut. Tetapi, jika semuanya gagal, maka permainan dibawakan oleh regu B dengan cara berbagi tugas. Pemain pertama menghalau guli-guli yang dekat dengan lubang tengah, pemain kedua mengambil lubang tengah, kemudian lubang bawah, dan begitulah seterusnya. Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa perbedaan yang mencolok antara main beraje dengan main berundung ini terletak pada kerjasama antara masing-masing anggota dalam kelompok tersebut.

Regu yang terlebih dahulu menguasai lubang tengah dan menjadi raja dinyatakan sebagai pemenang, sebaliknya regu yang tidak bisa menguasai lubang tengah dinyatakan sebagai pihak yang kalah. Sebagai sanksinya, mereka menyerahkan mata kaki untuk dipangkah oleh regu yang menang. Inilah akhir dari permainan guli jenis main berundung ini.  

4. Nilai budaya

Dalam permainan ini tidak ditemukan perbedaam status sosial, setiap orang boleh memainkannya, dari anak para nelayan, petani, hingga anak pegawai negeri, dan lain-lain. Selain itu, tingkat kekompakan juga menjadi salah satu syarat untuk meraih kemenangan, terutama dalam main berundung. Untuk itu, para pemain harus memiliki rasa solidaritas yang tinggi dengan menafikan sikap individualis dari masing-masing pemain tersebut. Dengan demikian, permainan guli ini dapat dijadikan sebagai perekat nilai-nilai persatuan dalam suatu masyarakat.

5. Beberapa istilah dalam permainan guli di daerah Riau, Indonesia.

  • Nurun: mengatakan ke lubang bawah atau turun.
  • Tiwas: posisi guli tidak boleh dipindahkan, sekalipun pada tempat yang sangat sulit.
  • Tek kedue: pemangkahan guli lawan, tetapi guli yang lain kena sasaran pangakahannya, maka hal seperti itu dianggap sah.
  • Tek kedue tak kene masuk lubang: jika pemangkahan terhadap guli lawan tidak mengena, lalu guli tersebut masuk ke salah satu lubang, maka hal itu dianggap sah.
  • Alet: memainkan guli lawan dengan pelan.
  • Kincet: pemain yang memainkan guli yang paling akhir.
  • Ambik raje: mengambil lubang raje.
  • Tibah: tak kena.
  • Jonggou: terlalu mendekatkan badan atau tangan ke guli lawan tidak menurut jarak pukul semestinya.
  • Lenget: terlalu banyak menderita kekalahan.
  • Abus: tidak mengenai sasaran.
  • Antok, ngantok: memukul guli dengan cara melepas kedua tangan, tidak dengan cara menyetikkannya dengan dua tangan tersebut.
  • Cungkel: mengeluarkan guli dari lubangnya dengan setikan guli juga.
  • Buku apan: buku tinju tangan kiri atau tangan kanan.
  • Nahan, nunggu: menahan guli untuk disetik.
  • Tibut: tak mengenai menyentik guli lawan yang menahan.
  • Jongkah: langkah kaki
  • Nyap: guli hilang entah kemana.
  • Balui: pertandingan dianggap seri, tidak ada kalah menang.
  • Raje: game atau permainan berakhir.
  • Halau, buang: mengusir guli lawan dari dalam kandang raja.
  • Sekern: mengambil plipis guli lawan.
  • Secan terarah atau kusen.
  • Pucuk: atas

Sumber:

  1. Depdikbud, Permainan Rakyat Riau, ., Pekanbaru, 1984.
  2. http://malaysiana.pnm.my
  3. http://zamhi34.blogspot.com
  4. www.ashtech.com.my
  5. www.geocities.com

Dibaca : 14.769 kali.