Rabu, 24 Mei 2017   |   Khamis, 27 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 12.689
Hari ini : 99.817
Kemarin : 129.136
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.448.923
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Joged Dangkung

a:3:{s:3:

Nama joged dangkung konon berasal dari bunyi-bunyian yang keluar dari alat musik pengiring tarian yaitu: gendang yang berbunyi “dang” dan gong yang berbunyi “gung”. Lepas dari itu, katanya juga, kesenian yang memadukan unsur tari, musik, dan nyanyi yang tumbuh subur di perkampungan nelayan ini dikenal sejak abad ke-17, dengan nama Joged Tandak atau  Joged Lambak.

Seni tari dengan iringan musik dan nyanyian ini tersebar di daerah Tembeling, Moro, Mantang, Pulau Panjang, dan Batam. Lagu-lagu yang dimainkan adalah; Betabik, Dondang Sayang, Serampang Lau, tanjung Katung, Johor Siput Kelapa, Gunung Banang, Tandak Udang Gantung, Jambu Merah, Tanjung Balai dan Gule Batu.

Tariannya meliputi tarian pembukaan (betabik), tari gembira (rancak), tari lembut dan tari penutup. Jumlah pemainnya terdiri atas 4—8 penari, 3 orang pemusik dan seorang penyanyi. Dahulu, setiap penari sekaligus penyanyi, tetapi sekarang jarang sekali orang bisa menari dan sekaligus bisa menyanyi.

Kesenian ini biasanya dipergelarkan atau dipentaskan pada malam hari, sekitar pukul 20.000 WIB sampai dengan tengah malam. Sedangkan saat-saat pementasannya, biasanya ketika ada upacara di lingkaran hidup individu (perkawinan dan khitanan), sengaja mengadakan pertunjukan keliling (sekarang tidak pernah ada lagi), dan mengisi acara suatu peringatan agar menjadi lebih semarak. Misalnya, peringatan hari-hari besar agama (Islam), hari-hari besar nasional Indonesia (terutama hari kemerdekaan Indonesia), atau event-event khusus lainnya.

Peralatan musik yang mengiringinya antara lain gendang (tambur), biola dan gong. Sedangkan pakaian yang dikenakan oleh para penarinya adalah baju kebaya pendek dengan bawahan sarung atau kain batik. Urutan pementasannya adalah sebagai berikut: pertama, adalah semacam pemberitahuan kepada para “penunggu” setempat yang berupa makhluk halus agar pertunjukan berjalan sebagaimana mestinya. Babak ini sering disebut dengan buka tanah. Kedua, pelantunan lagu dan tarian bertabik (suatu tarian yang bermakna ucapan selamat datang). Ketiga, pelantunan lagu Dondang Sayang, kemudian disusul lagu-lagu sesuai dengan permintaan penandak berjudul Tanjung Katung. Dan keempat, pelantunan lagu yang berjudul Cik Cilik yang sekaligus penutup pertunjukan.

Sumber :

Galba, Sindu dan Siti Rohana. 2002. Peta Kesenian Rakyat Melayu Kebupaten kepulauan Riau. Tanjungpinang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dibaca : 15.351 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password