Senin, 26 Juni 2017   |   Tsulasa', 1 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 908
Hari ini : 2.566
Kemarin : 42.229
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.686.321
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bajak

a:3:{s:3:

Bajak adalah salah satu alat yang berfungsi untuk menggemburkan tanah agar padi yang akan ditanam menjadi subur. Alat ini terdiri dari lima bagian penting: lempasang, pepisan, apit, singko dan mata bajak. Lempasang terdiri dari dua potongan kayu yang dibuat untuk memantapkan letak kerangka pada pundak hewan penarik bajak, masing-masing berukuran panjang kurang lebih 10 cm dengan diameter 7 cm; pepisan yaitu sepotong kayu yang berfungsi untuk menekan mata bajak agar lebih dalam masuknya ke tanah; apit atau kayu pengapit, adalah dua potongan kayu pengapit yang terletak di sisi kanan dan kiri hewan penarik bajak; dan singko, sepotong kayu yang berfungsi untuk menghubungkan dua potong kayu pengapit tersebut; sementara mata bajak, adakalanya terbuat dari besi baja dengan ukuran lurus ke belakang 12 cm, dan lebar pada bagian pangkal mata bajak sekitar 5 cm. Perpaduan dari lima bagian inilah yang disebut bajak. Beberapa unsur tersebut, kecuali mata bajak, terbuat dari bahan dasar kayu yang tidak mudah patah. Pada umumnya, panjang bajak 230 cm dan lebarnya 90 cm, yang lebih dikenal dengan bajak yang ideal.

Adapun cara menggunakan bajak: kerangka pengapit bajak dinaikkan atau disarungkan ke pundak binatang penarik bajak, seperti kerbau atau sapi. Kemudian, binatang tersebut dilecut dengan cemeti agar ia berjalan ke depan, selanjutnya memutar di areal yang dibajak. Bajak ini dikendalikan oleh pembajak dari belakang, sambil menekan sentung bajak agar mata bajak masuk ke tanah lebih dalam. Begitulah selanjutnya, hingga areal ini dibajak secara merata. Pembajakan dilakukan setelah tanah yang akan dibajak ini dialiri dengan air atau dicangkul terlebih dahulu. Bila pembajakan dilakukan di tanah kering, biasanya hasilnya belum maksimal. Oleh karena itu, tanah tersebut perlu diolah lagi dengan menggunakan pangkur, dengan cara mencencang dan membolak-balik tanah yang masih bergumpal hingga gembur.

Pada umumnya, pekerjaan ini dilakoni oleh laki-laki dewasa, karena cukup berat dan melelahkan. Pengolahan tanah dengan menggunakan alat bajak ini berguna untuk: menghilangkan akar-akar rumput liar, membalikkan lapisan tanah di bagian atas, agar humusnya lebih banyak ketika ditanam padi, memudahkan pekerjaan ketika menanam padi; dan menyingkirkan hama-hama tanaman yang mungkin bersembunyi di balik gumpalan tanah tersebut.

Sumber:

Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau, Atlas (Ensiklopedia) Kebudayaan Melayu Riau, 2005, Pekanbaru

Dibaca : 9.814 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password