Rabu, 27 Agustus 2014   |   Khamis, 1 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.369
Hari ini : 7.944
Kemarin : 22.799
Minggu kemarin : 137.461
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.061.935
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Sepak Raga

Sepak raga merupakan hasil kombinasi permainan sepak bola dengan bola volley yang menggunakan lapangan berukuran seperti lapangan ganda bulutangkis. Ada beberapa sebutan berkaitan dengan nama permainan ini, di Malaysia, Singapura dan beberapa daerah di Kepulauan Riau, Indonesia dikenal dengan Sepak Raga; di daerah Kopah, Riau, Indonesia dikenal dengan Rago Tinggi; di Thailand dikenal dengan Sepak Takraw; di Brunei dikenal dengan Sepak Raga Jala Burma; di Laos disebut Kator; di Filipina dikenal dengan Sipa; sementara di Burma disebut Chinlone. Teknik permainannya hampir sama, kecuali di daerah Kopah, Riau, Indonesia, di mana sepak raga dimainkan oleh 14-30 pemain dari berbagai usia di dalam sebuah garis lingkaran. Di bagian atas, tepat di tengah-tengah garis lingkaran digantungkan sebuah payung dengan posisi terbalik yang berfungsi sebagai tujuan untuk memasukkan bola.

Permainan sepak raga sebenarnya sudah berkembang di kalangan elit kerajaan sejak masa kesultanan Malaka pada abad ke-15 M. Pada masa itu, sepak raga hanya dimainkan oleh keluarga kerajaan, belum boleh dimainkan oleh rakyat biasa, karena kesakralannya. Tetapi, ketika dipertontonkan pada rakyat, permainan ini menarik perhatian mereka. Mereka mengetahui dan mulai mempelajarinya, kemudian memainkan sepak raga tersebut dengan versi mereka sendiri, yaitu dimainkan oleh 5-10 orang dengan memakai pakaian yang dilengkapi tutup kepala (tengkolok) serta tidak beralas kaki, bertempat di tanah lapang yang dibuat garis lingkaran, tetapi tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai ukuran diameter garis lingkaran tersebut. Saat itu, tujuan permainan hanya untuk mengasah kemampuan dan kelihaian para pemain dalam mempertahankan bola agar tidak jatuh ke tanah, sehingga menjadi tontonan dan hiburan yang menarik. Menang atau kalah pada saat itu belum mereka pikirkan. Namun, beberapa tahun kemudian, rupa-rupanya permainan ini menjadi salah satu cabang olah raga yang diperlombakan. Kalah atau menang menjadi salah satu bagian terpenting. Kekalahan dalam permainan ini memiliki dua makna, kalah karena menjatuhkan bola ke tanah dan kalah dalam perlombaan itu sendiri. Kekalahan karena menjatuhkan bola ke tanah merupakan salah satu bagian dari permainan ini dan  pihak yang menjatuhkannya dinyatakan sebagai yang kalah, karena pihak yang menang mendapatkan poin angka. Sedangkan kalah dalam bermain itu sendiri dipandang lebih umum, dengan salah satu indikasinya, pihak yang kalah tidak dapat mengumpulkan angka sebanyak mungkin.

Setelah masa kesultanan Malaka berakhir, permainan sepak raga tidak lagi diminati oleh masyarakat Melayu dan hampir saja dilupakan. Namun, setelah Perang Dunia Kedua, permainan ini mulai digemari lagi dengan beberapa perubahan seperti jumlah pemain, bentuk bola, aturan-aturan permainan dan lain-lain, yang akan dijelaskan pada bagian berikut.

1. Pemain

Permainan sepak raga bersifat kompetisi yang dimainkan secara kolektif oleh dua regu. Setiap regu terdiri dari tiga orang pemain: tekong (server), apit kanan (right inside) dan apit kiri (left inside). Tekong adalah pemain yang berada di tengah-tengah lapangan, berfungsi sebagai tukang servis bola, menerima dan menahan serangan dari regu lawan di bagian belakang lapangan; apit kanan dan apit kiri adalah pemain yang posisinya di sebelah kanan dan kiri bagian depan tekong, berada di dekat net, bertugas sebagai pelempar bola ke tekong, penerima dan pemblok bola dari pihak lawan.

2. Tempat dan peralatan permainan

Sepak raga bisa dimainkan di lapangan terbuka ataupun tertutup. Luas lapangannya 13.4 m x 6.1 m untuk dua regu. Di tempat tekong berjaga dibuat garis lingkaran dengan diameter 0.3 m, garis lingkaran juga dibuat di tempat apit kanan dan apit kiri dengan diameter 0.5 m. Jarak dari garis lingkaran tekong ke arah belakang gelanggang 2.45 m dan ke garis tengah gelanggang 4.25 m, sementara ke arah samping kiri atau kanan 3.05 m. berikut denah lapangan sepak raga tersebut.


Sumber: www.gajahmas.com

Sedangkan peralatan yang dibutuhkan adalah:

  1. Dua buah tiang net/jaring berukuran tinggi 1.55 m.
  2. Net/jaring yang berfungsi untuk memisahkan kedua regu yang bertanding. Net ini terbuat dari tali biasa atau benang nylon yang halus dengan cara dijalin, berukuran lebar 0.7 m dan panjang 6.10 m. Bagian atas dan bawah jaring dilapisi dengan kain tebal, biasanya berwarna putih, berukuran 0.05 m yang dijahit dengan benang nylon. Kain tebal ini berfungsi sebagai peregang net/jaring agar net tersebut bisa diregangkan dengan baik.
  3. Peralatan lain yang dibutuhkan adalah bola, terbuat dari bahan sintetik atau rotan (rattan) yang berdiameter 0.42 m-0.43 m, dengan berat bola antara 185 gram-195 gram. Warna bola, jika terbuat dari rotan, biasanya kuning kecoklatan, jika dari sintetik, biasanya hijau dan kuning.

3. Aturan permainan

Aturan main yang harus dijalankan oleh setiap pemain sepak raga adalah:

  1. Setiap regu terdiri dari 3 orang pemain: tekong, apit kanan dan apit kiri.
  2. Tugas pemain adalah melempar, menendang dan menanduk bola. Pemain yang betugas untuk melempar bola ketika bola diservis adalah apit kanan atau apit kiri, sementara yang menendang bola hanya tekong. Setelah bola diservis, apit kanan dan apit kiri boleh menendang seperti tekong, menanduk atau memblok bola dari pihak lawan sesuai dengan aturan permainan.
  3. Setiap pemain boleh menyentuh bola dengan kepala, dada dan kaki sebanyak tiga kali berturut-turut, tidak boleh menyentuhnya dengan tangan.
  4. Posisi pemain tidak bertukar seperti dalam permainan bola volley.
  5. Regu yang berhasil memasukkan bola ke daerah lawan, dan lawan tidak bisa memblok atau mengembalikannya, mendapat nilai 1 poin.
  6. Skor permainan dibagi menjadi tiga babak, setiap babak terdiri dari 15 poin.
  7. Regu yang memenangkan dua babak permainan dinyatakan sebagai pemenang.

4. Proses permainan

Permainan ini diawali dengan pengundian yang menggunakan dua sisi mata uang koin untuk menentukan regu yang menang, sekaligus melakukan servis awal. Masing-masing regu memilih salah satu sisi mata uang koin tersebut, kemudian dilambungkan ke atas hingga terjatuh ke tanah. Sisi mata uang yang berada di bagian atas dinyatakan sebagai pemenang dan regu yang memilihnya berhak melakukan servis awal. Selanjutnya, kedua regu memasuki lapangan permainan yang telah ditentukan untuk mengambil posisi masing-masing. Servis awal dilakukan dengan cara: apit kanan atau apit kiri melemparkan bola ke arah tekong untuk ditendang ke pihak lawan. Bola diterima oleh salah satu pemain dari pihak lawan, dilambung sebanyak tiga kali berturut-turut, kemudian diover ke temannya untuk ditendang ke arah regu yang memulai permainan, dan begitulah selanjutnya hingga bola terjatuh ke lantai.

Jika bola terjatuh ke lantai, maka terjadi perpindahan bola atau penambahan poin dalam permainan tersebut. Perpindahan bola terjadi karena kecerobohan pemain atau karena pihak lawan dapat mematahkan serangan, sementara pertambahan nilai diperoleh jika pihak lawan ceroboh atau tidak bisa menahan serangan dari regu yang memulai permainan. Perpindahan bola atau penambahan poin juga bisa terjadi apabila bola tersentuh tangan, terbentur lebih dari tiga kali atau terbentur di jaring hingga jatuh ke lapangan sendiri. Permainan ini dinyatakan berakhir apabila salah satu regu memenangkan dua babak permainan dengan mengumpulkan 15 poin di masing-masing babak tersebut.

5. Nilai budaya

Permainan sepak raga pertama-tama dimainkan oleh para elit kerajaan sekedar untuk hiburan. Saat itu, permainan ini tidak boleh dimainkan oleh rakyat biasa untuk menjaga martabat para pemainnya, sebab, jika elit kerajaan bermain sepak raga dengan rakyat biasa berarti telah menjatuhkan martabat elit kerajaan tersebut. Tetapi bila dimainkan oleh sesama keluarga istana, hal tersebut tidak merendahkan martabat elit kerajaan ini. Namun, dengan perubahan zaman, olah raga yang dianggap sakral ini tidak hanya dimainkan oleh kalangan elit kerajaan, tetapi juga oleh masyarakat biasa. Nilai-nilai sakral berubah menjadi hal yang biasa, dari olah raga bermartabat, sekedar hiburan, aturan longgar dan berskala lokal, menjadi olah raga yang merakyat, kompetitif, lebih ketat dan disiplin dan berskala internasional. Dengan demikian, sepak raga sudah menjadi milik dunia, tetapi berawal dari elit kerajaan istana.

Sumber:

  • Depdikbud, Permainan Rakyat Riau, ., Pekanbaru, 1984.
  • Fakhri dan Bustami M. Lipsi, Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi, Unri Press, Pekanbaru, 2002.
  • www.karyanet.com.my
  • http://www.petra.ac.id
  • http://malaysiana.pnm.my
  • http://id.wikipedia.org
  • http://ms.wikipedia.org
  • http://www.gajahmas.com
  • http://linastakraw.tripod.com
Dibaca : 42.684 kali.