Selasa, 12 Desember 2017   |   Arbia', 23 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 4.802
Hari ini : 36.195
Kemarin : 43.322
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.946.334
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Periuk tembaga

a:3:{s:3:

Periuk tembaga adalah peralatan dapur yang sampai saat ini masih dapat ditemukan di seluruh daerah yang berkebudayaan Melayu, termasuk Malaysia, baik di kota maupun desa. Para penduduk masih menggunakannya karena, selain bentuknya indah, periuk yang bahannya dibuat dari tembaga dipercaya lebih tahan lama ketimbang bahan yang terbuat dari logam lain. Jenis-jenis periuk tembaga diantaranya adalah: periuk air, periuk kukus tembaga dan periuk yang biasa digunakan untuk menanak nasi. Bentuknya cukup bervariasi, ada yang bulat dari bagian permukaan hingga ke bagian dasarnya, ada pula yang bulat pada bagian permukaan, di bagian tengahnya membentuk segitiga, dan di bagian dasarnya sama dengan ukuran bagian permukaan. Selain itu, ada pula periuk yang memiliki dua tangkai di bagian permukaannya, dengan tutup yang bertangkai pada bagian tengah atas. Ukuran periuk ini berdiameter antara 15-40 cm, dari bagian permukaan hingga pada bagian dasarnya, dengan ketebalan tembaga 1-2 mm, dan kedalamannya antara 5-10 cm.

Teknik pembuatan periuk tembaga sebagai berikut:

  1. Membentuk model utama. Cara membentuk model tembaga pertama-tama menggunakan kayu cengal yang dibuat sedemikian rupa sesuai dengan selera pembuatnya. Kemudian kayu tersebut akan diukir menggunakan bindu atau jentera pelarik dan kemudian diampelas agar licin.
  2. Mencairkan Lilin. Tahap selanjutnya adalah mencairkan lilin ke dalam kawah atau periuk besar hingga mencapai suhu antara 300C-400C.
  3. Melekatkan lilin pada model. Model utama yang terbuat dari kayu cengal akan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam air sebelum dicelupkan ke dalam lilin. Lilin melekat pada model perlu diputar-putar agar merata ke seluruh bagian model. Proses ini akan diulang antara 2 sampai 3 kali agar memperoleh ketebalan yang diinginkan.
  4. Menghaluskan lilin. Lilin yang telah melekat pada model akan diukir dan dihaluskan menggunakan bindu dan jentera pelantik agar ketebalannya merata.
  5. Memisahkan lilin dari model utama. setelah lilin mengeras akan dipisahkan dari model utama dengan menggunakan pisau. Lilin tersebut kemudian akan direndam ke dalam air selama beberapa jam.
  6. Melekatkan tanah liat. Model baru yang terbuat dari lilin tersebut selanjutnya akan dilapisi dengan tanah liat agar cairan tembaga yang nantinya akan dialirkan tidak merembes atau keluar dari model.
  7. Melakatkan lapisan kedua. Setelah lapisan pertama mengeras, maka lapisan kedua yang berupa campuran tanah liat dan pasir kasar akan dilekatkan.
  8. Melekatkan lapisan ketiga. Lapisan ketiga yang berupa campuran tanah liat dan sekam padi.
  9. Membuat saluran untuk menuang tembaga. Pada saat lapisan ketiga hampir mengeras, bagian bawah model akan dilubangi dan ditutup dengan jerami. Lubang tersebut berguna untuk memasukkan cairan tembaga.
  10. Menghilangkan lilin. Lilin akan dihilangkan dengan cara dibakar sebelum cairan tembaga dimasukkan.
  11. Melebur tembaga. Tembaga akan dilebur di dalam kui (cruible) hingga mencapai suhu 1000o C-1100o C.
  12. Penuangan tembaga. Tembaga yang telah cair akan dituangkan ke dalam model melalui saluran yang telah dibuat sebelumnya.
  13. membuang model. Model yang dibuat dari campuran tanah, pasir dan sekam padi akan dihancurkan setelah cairan tembaga mengeras.
  14. Penyempurnaan hasil. Proses akhir pembuatan periuk tembaga adalah dengan menghaluskannya menggunakan jentera pelatin dan ampelas agar hasilnya indah dan halus.

Sumber : http://malaysiana.pnm.my

Dibaca : 11.962 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password