Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 1.673
Hari ini : 10.255
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.020.771
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Ciri-ciri Bahasa Melayu Kuna

1. Pengantar

Bahasa Melayu Kuna sudah dipakai di Nusantara pada abad ke-tujuh Masehi, sewaktu kerajaan Sriwijaya masih berjaya. Waktu itu, bahasa Melayu Kuna selain memiliki status sebagai bahasa kerajaan, juga memiliki status sebagai bahasa keagamaan (Hindu atau Buddha). Penggunaan Melayu Kuna sendiri memang hanya berlangsung hingga abad ke-13 Masehi akhir, namun demikian dari prasasti-prasasti yang ditemukan para ahli bisa menyimpulkan bagaimana bentuk dari bahasa Melayu Kuna ini sebenarnya; yakni dengan mengemukakan sejumlah ciri yang membedakannya dari bahasa Melayu di periode sesudahnya.

Menyinggung tentang sedikitnya prasasti berbahasa Melayu Kuna yang ditemukan, Rohaedi (2007) mengatakan bahwa penutur bahasa Melayu Kuna kurang menyukai bahasa tulis dan budaya menulis. Lanjut Rohaedi, paling tidak sedikitnya jumlah itu apabila dibandingkan dengan data-data tertulis yang menggunakan bahasa Jawa Kuna, misalnya. Padahal bahasa Melayu Kuna memiliki sejarah dan masa tutur yang cukup panjang (abad ke-tujuh sampai abad ke-lima belas Masehi).

Akan tetapi, kurang banyaknya ditemukan data tertulis dari Melayu Kuna dapat disebabkan pula karena bahasa tulis masih dikuasai oleh para sarjana, agamawan, dan keluarga istana. Sementara itu, rakyat kebanyakan hampir-hampir tidak memiliki jalan ke arah itu. Kedudukan bahasa Sanskerta yang menjadi bahasa “tinggi” (Collins, 2005) merupakan sebuah bukti yang kuat bahwa bahasa ini masih dikuasai kalangan terbatas, sehingga tidak tertutup kemungkinan bahasa tulis hanya dikuasai oleh mereka.

Meskipun demikian, dari data yang sedikit itu para ahli dapat menyarikan beberapa hal mengenai bahasa Melayu Kuna ini. Terutama mengenai ciri utamanya yaitu pengaruh asing, ciri fonologis dan morfolgis, di samping menyertakan beberapa kosa kata contohnya. Semua itu akan dijelaskan di bawah ini, sebagai gambaran singkat mengenai keadaan kebahasaan dari bahasa Melayu Kuna.

2. Pengaruh Sanskerta

Fakta kebahasaan yang sulit ditolak kebenarannya adalah menonjolnya pengaruh dari bahasa Sanskerta terhadap bahasa Melayu Kuna. Pengaruh ini terjadi antara lain karena kebanyakan masyarakat penutur Melayu ketika itu menganut agama Hindu atau Buddha, yang menggunakan bahasa Sanskerta sebagai bahasa agama (Collins, 2005). Kedudukan bahasa Sanskerta yang diterima di tengah-tengah kaum bangsawan juga menjadi penyebab mengapa pengaruh itu begitu dalam terhadap bahasa Melayu Kuna. Selain kedua sebab di atas yang berada di luar bahasa Melayu, penyebab lainnya berasal dari bahasa Melayu Kuna sendiri. Bahasa Melayu Kuna adalah bahasa yang lentur, yang tidak tertutup terhadap pengaruh dari bahasa lain, apalagi terhadap bahasa yang “kaya” seperti bahasa Sanskerta.

Akibatnya, mengalirlah kosa kata bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Melayu Kuna, sehingga bahasa yang disebutkan terakhir menjadi kaya dengan kosa kata baru dan pada perkembangan berikutnya mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan menjadi wahana pesan yang dituliskan di atas prasasti-prasasti.

3. Aspek-aspek yang Dipengaruhi

Pengaruh yang disebutkan di atas terutama terlihat dalam beberapa aspek:

a. Aspek tulisan atau ortografi

Bahasa Melayu Kuna menggunakan aksara Pallawa dan Dewanagari, yang merupakan aksara Sanskerta.

b. Aspek fonologi

Terdapat beberapa fonem yang tersentuh pengaruh oleh fonologi bahasa Sanskerta, pada awalnya bahasa Melayu Kuna tidak memiliki fonem itu. Misalnya, bunyi-bunyi aspiratif seperti ch dan kh dalam kata sukhatchitta. Bunyi aspiratif lainnya adalah bh, ch, th, ph, dh, kh dan h.

c. Aspek kata-kata yang digunakan (Peminjaman)

Banyak ditemukan kata-kata pinjaman dalam bahasa Melayu Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta, bahkan ada yang masih dipakai sampai saat ini (dengan/tanpa perubahan bentuk dan atau pergeseran makna). Contohnya adalah syukasyitta ‘sukacita‘, athava ‘atau‘, karana ‘karena, dan tatakala ‘tatkala‘.

d. Susunan frasa

Frasa bahasa Melayu Kuna ditemukan meminjam bentuk susunan frasa yang digunakan bahasa Sanskerta.

Berikut rangkuman dari ciri-ciri bahasa Melayu Kuna:

a. Banyak ditemukan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta
b.Menggunakan ortografi Pallawa
c.Struktur kalimat masih asli bahasa Melayu/Indonesia (aspek ini tidak tersentuh pengaruh dari bahasa Sanskerta)
d.Bunyi b dalam bahasa Melayu/Indonesia diturunkan dari w dalam Melayu kuno. Contoh: /bulan/ diturunkan dari /wulan/.
e.Bunyi ə pepet tidak wujud. Contoh: /dengan/ diturunkan dari /d(a)ngan/.
f.Awalan ber- dalam bahasa Melayu/Indonesia diturunkan dari mar- dalam Melayu kuno; /ber-lepas/ diturunkan dari /mar-lapas/.
g.Awalan di- dalam bahasa Melayu/Indonesia diturunkan dari ni- dalam bahasa Melayu kuno; /di-perbuat/ diturunkan dari /ni-parwuat/.
h.Terdapat beberapa bunyi aspiratif seperti bh, ch, th, ph, dh, kh dan h. Misalnya dalam kata   sukhatchitta.
i.Huruf h intervokalik menjadi hilang dalam bahasa Melayu/Indonesia.  Misalnya, semua dari samuha, saya dari sahaya.
j.Penggunaan awalan di- dalam bahasa Melayu/Indonesia diturunkan dari awalan ni- dalam bahasa Melayu Kuno dan awalan diper- diturunkan dari nipar-.

Bahasa Melayu Kuno

Bahasa Melayu

ni-makan

di-makan

ni-minum-na

di-minum-nya

nipar-vuat

diper-buat


k.
Awalan ber- dalam bahasa Melayu/Indonesia hampir sama dengan awalan mar- dalam bahasa Melayu Kuno.

Bahasa Melayu Kuno

Bahasa Melayu

mar-vanum

ber-bangun

mar-vuat

ber-buat

l.
Akhiran -na yang digunakan dalam Bahasa Melayu Kuno menurunkan -nya
pada bahasa Melayu/Indonesia.

Bahasa Melayu Kuno

Bahasa Melayu

vini-na

bini-nya

vuah-na

buah-nya

4. Bahasa Melayu Kuna sebagai Lingua Franca

Bahasa Melayu Kuno mencapai kegemilangannya dari abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi pada zaman kerajaan Sriwijaya, sebagai lingua franca dan bahasa resmi. Para penutur bahasa Melayu Kuna ini mencakup wilayah Semenanjung Malaysia, Kepulauan Riau dan pulau Sumatera. Bahasa Melayu Kuna menjadi lingua franca dan sebagai bahasa resmi karena:

  1. Bersifat relatif sederhana dan mampu menyesuaikan diri dengan pengaruh luar.
  2. Tidak relatif terikat pada perbedaan tingkat tutur atau speech level seperti yang dimiliki bahasa Jawa.
  3. Mempunyai struktur yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan bahasa Jawa.

Namun, menjelang masuk abad ke-17 Masehi, bahasa Melayu Kuna mulai mengalami perubahan, terutama dalam literasi yang digunakan. Pada akhir abad 16 Masehi, literasi Melayu Jawi mulai berkembang dan bahasa Melayu sendiri sudah mulai menyebar ke berbagai kawasan di Nusantara (Collins,  2005), seiring dengan menguatnya pengaruh Islam dan bahasa Arab.

5. Contoh Perbandingan

Kaitan antara bahasa Melayu Kuno dan bahasa Melayu/Indonesia Modern, dapat dilihat dari kata-kata yang pernah digunakan dalam bahasa Melayu Kuna dan masih bertahan hingga sekarang, seperti curi, makan, tanam, air dan sebagainya, serta kata lain yang memiliki kemiripan bentuk dengan kata-kata bahasa Melayu Kuna, seperti dalam tabel berikut ini:

Bahasa Melayu Kuno

Bahasa Melayu/Indonesia

vulan

bulan

nasyik

asyik

(mang)alap

(meng)ambil

(ma)mava

(mem)bawa

(sa)ribu

(se)ribu

dangan

dengan

vanak(na)

banyak(nya)

sukhacitta

sukacita

ko

ke

Catatan: kata-kata Melayu Kuna ini terdapat dalam prasasti Kedukan Bukit yang bertahun 683 M. 

(SR/bhs/39/08-07)

Sumber :

  • http://www.ensiklopedia.net
  • http://ms.wikipedia.org
  • http://www.tutor.com.my
  • Collins, James T. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia Sejarah Singkat (penerjemah Evita Elmanar). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Setiawan, B (Pemimpin Umum) dkk. 1988. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka. Jilid 10 huruf M.
  • Harahap, Darwis. 1992. “Bahasa Melayu Kuno” (dalam Asal-usul bahasa Melayu).  http://www.penerbit.usm.my
Dibaca : 26.213 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password