Jumat, 20 Oktober 2017   |   Sabtu, 29 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 3.810
Hari ini : 28.852
Kemarin : 37.822
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.500.241
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Kolek (Kepulauan Riau)

1. Asal Usul

Kepulauan Riau adalah suatu propinsi yang mempunyai sekitar 1026 buah pulau (kompas, Selasa, 20 Agustus 2002, 8, kol 1). Dengan kondisi geografis yang terdiri atas ribuan pulau tersebut, tentu saja membuat sebagian besar masyarakatnya menumbuh-kembangkan suatu kebudayaan yang berkaitan dengan laut. Salah satu dari sekian banyak budaya yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat yang hidup di sekitar pesisir di Kepulaun Riau adalah membuat kolek. Kolek atau biasa juga disebut dengan sampan, adalah sebuah perahu yang pada umumnya digunakan sebagai alat transportasi untuk menyeberangi laut dari satu pulau ke pulau yang lain dan juga untuk mencari ikan. Dalam membuat kolek, sebelum digunakan untuk keperluan sehari-hari, para nelayan biasanya akan menguji-cobanya terlebih dahulu. Konon, pada saat uji coba tersebut, yang kadang diturunkan 2--3 buah kolek baru sekaligus, menimbulkan suatu inisiatif para pembuatnya untuk melombakan koleknya sebagai hiburan setelah bekerja berhari-hari membuat kolek. Lama-kelamaan, karena banyak orang yang tertarik untuk menonton, dari kegiatan yang hanya bersifat “main-main” tersebut akhirnya berkembang menjadi suatu permainan yang disebut dengan lomba kolek.

Pada perkembangan selanjutnya, perlombaan kolek tidak hanya dijadikan sebagai permainan kaum nelayan untuk mengisi waktu luang dan mencoba kolek baru saja, melainkan juga diselenggarakan oleh kerajaan pada masa kekuasaan Sultan Riau pada abad XVII. Tujuan dari diadakannya perlombaan, disamping sebagai hiburan kaum bangsawan, juga menyeleksi para tekong kolek (juru mudi kolek) untuk dijadikan sebagai pengawal kerajaan yang baru. Para tekong yang berhasil memenangkan perlombaan, biasanya akan langsung diangkat menjadi pengawal kerajaan. Bagi yang masih bujang akan dinikahkan dengan dayang-dayang istana. Setelah kesultanan Riau runtuh pun, perlombaan kolek terus berkembang ke berbagai daerah di Kepulauan Riau[1], walaupun penyelenggaraannya dibatasi dan hanya dilakukan oleh pemerintah Belanda.

Pada masa kemerdekaan, kolek tetap diadakan secara rutin, yaitu satu tahun sekali dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus). Agar perlombaan dapat diikuti peserta dari daerah lain, maka waktu penyelenggaraan ditetapkan secara musyawarah oleh panitia lomba di beberapa daerah. Saat ini waktu dan tempat penyelenggaraan telah ditetapkan secara permanen, yaitu: 17 Agustus di Belakang Padang; 18 Agustus di Moro; 19 Agustus di Tanjungbalai Karimun; dan  20 Agustus di Tanjungbatu.

Dewasa ini lomba kolek bukan hanya dilakukan untuk mencoba kolek baru atau mengisi waktu luang saja, melainkan sudah berkembang menjadi suatu permainan khusus, yaitu sebagai ajang adu prestasi dan gengsi para pemilik dan pemainnya. Hal ini dapat dilihat dari tidak digunakannya lagi kolek-kolek “biasa”, melainkan dipesan secara khusus dari para ahli pembuat perahu. Tujuan dari pemesanan kolek tersebut, selain agar kolek dapat berlayar dengan lebih baik, juga diukir dalam berbagai macam bentuk dan diberi nama seperti: Elang Laut, Camar, Hiu, Halilintar, Parang Kuting, Keris, Sempene, Mega Sakti, Anak Kala, Kuda Terbang dan lain sebagainya, agar “tampil beda” dari yang lain. Kolek-kolek yang semacam ini biasanya ukurannya lebih besar dari kolek biasa (dapat memuat 7-9 orang pemain) dan hanya diturunkan ke laut satu tahun sekali, pada saat ada perlombaan kolek. Pemilik dan Peserta permainannya pun sudah tidak didominasi lagi oleh para nelayan, melainkan juga oleh para penggemar kolek yang bukan nelayan, baik secara perorangan maupun kelompok (desa, kecamatan, dan lain sebagainya) .

2. Pemain

Lomba kolek hanya dilakukan oleh para laki-laki yang berusia antara 15--40 tahun secara beregu. Jumlah anggotanya bergantung dari ukuran kolek. Dalam hal ini kolek kecil  (3 orang, kolek sedang (4 orang), kolek menengah (5 orang); kolek besar (7 orang), dan kolek lambung (9 orang). Untuk kolek kecil hingga menengah umumnya didominasi oleh para nelayan dan penggemar kolek yang mempunyai dana “pas-pasan”, sehingga “hanya mampu” membuat kolek yang dapat memuat 3--5 orang. Sedangkan, untuk kolek besar dan lambung biasanya dimiliki oleh nelayan dan penggemar kolek yang dapat dikategorikan sebagai “orang kaya”.

Dalam perlombaan pada umumnya anggota sebuah regu mengenakan kostum yang seragam dengan warna-warna yang mencolok. Bahkan, kadang-kadang, ada juga regu yang mengenakan kostum kesebalasan sepak bola atau bola voli yang ada di kampungnya masing-masing. Selain pemain, lomba kolek juga menggunakan wasit dan juri untuk mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan pemenang.

3. Tempat Permainan

Lomba kolek biasanya dilakukan di sekitar 10-30 meter dari pantai yang berhadapan langsung dengan laut lepas. Tempat yang demikian dimaksudkan agar ada angin kuat, sehingga dapat mempercepat laju kolek. Sedangkan, waktu penyelenggaraannya adalah pada pagi hingga siang hari (sekitar pukul 09.30-13.00).

Arena lomba kolek berbentuk oval (seperti arena perlombaan lari di stadiun), dengan panjang lintasan sekitar 6 mil. Sementara untuk garis start dan finish yang menjadi satu, lebarnya sekitar 10 meter. Pada setiap sisi garis start dan finish tersebut nantinya akan dipancang bendera warna cerah sebagai batasnya. Sementara, untuk arah beloknya, karena jalur lintasannya tidak di buat, maka dipasanglah bendera-bendera berwarna merah. Bendera-bendera merah tersebut diletakkan pada belokan pertama (pancang kelet), kedua (pancang lewat), dan belokan terakhir menuju ke garis finish yang disebut dengan pancang putar.


4. Peralatan Permainan

Peralatan dalam perlombaan kolek, tentu saja, adalah sebuah kolek yang dibuat dari kayu-kayu yang agak ringan, namun mempunyai daya apung yang baik seperti: kayu medang, pulai, dan rengas rampak. Kolek-kolek tersebut dibuat dalam beberapa macam ukuran, diantaranya adalah: (1) kolek kecil (panjang 3 meter dan lebar 70 cm); (2) kolek sedang (panjang 3,5 meter dan lebar 80 cm);  (3) kolek menengah (panjang 5 meter dan lebar 90 cm); (4) kolek besar (panjang 6 meter dan lebar 1,2 meter); dan (5) kolek lambung (panjang 7,5 meter dan lebar 1,5 meter). Kolek dilengkapi dengan tali-temali yang mengikat kain layar pada tiang layar dan sebuah dayung untuk setiap pemain.

5. Aturan Permainan

Aturan dalam perlombaan kolek tergolong mudah, yaitu regu kolek yang dapat memutari arena dan mencapai garis finish terlebih dahulu dari regu lain, dinyatakan sebagai pemenangnya. Selain adu cepat menuju garis finish, para peserta juga diharuskan untuk melewati bendera-bendera yang dipancang di sekitar belokan-belokan jalur lintasan lomba.

6. Proses Permainan

Perlombaan, baik untuk kolek kecil hingga kolek lambung, diawali dengan menurunkan sekitar 4--5 buah kolek sekaligus di pasir pantai dalam keadaan layar dan tali-temali masih tergulung. Pada saat itu anggota setiap regu akan berdiri di sisi kiri dan kanan kolek. Mereka dalam posisi siap (berjaga-jaga) untuk memasang layar.

Setelah wasit membunyikan peluit, maka setiap regu akan bergegas memasang  layar serta tali-temalinya. Begitu selesai mereka langsung melaju melalui jalur lintasan yang telah dibuat.

Setiap kolek yang sudah berlayar diwajibkan melewati pancang kelet menuju ke pancang lewat. Kemudian, mereka harus melewati pancang putar sebelum memasuki garis start dan finish. Dalam menjalankan kolek biasanya para awaknya menggunakan istilah-istilah tertentu agar dapat cepat dipahami oleh satu dan lainnya. Istilah-istilah tersebut diantaranya adalah: (1) baut yang berarti mau “berbelok ke arah setiap tikungan”; (2) berturut yang berarti “jalan lurus mengikuti arah angin”; (3) bersambang yang berarti “layar menyebak ke kiri dan ke kanan”; (4) bersewa yang berarti “layar dan jib sekali ke kiri dan sekali ke kanan”; (5) gopel/guel yang berarti “berkayuh dengan dayung”.

Peserta dianggap gagal (didiskualifikasi) apabila tidak melewati tiang-tiang pancang berbendera yang ditetapkan sebagai garis batas putaran. Regu yang menang adalah yang dapat mencapai garis finish terlebih dahulu dari regu lain.

7. Nilai Budaya

Nilai budaya yang terkandung dalam lomba kolek adalah: kerja keras, ketangkasan, keuletan, kecermatan, kerja sama dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar koleknya dapat mendahului kolek regu lain. Nilai ketangkasan dan keuletan tercermin dari teknik-teknik yang dilakukan oleh anggota sebuah regu dalam menjalankan kolek agar dapat melaju dengan cepat dan tidak tenggelam. Nilai kecermatan tercermin dari usaha para regu kolek untuk sedapat mungkin melewati pancang-pancang yang ditetapkan oleh panitia lomba sebagai arah belok kolek. Nilai kerja sama tercermin dari anggota regu yang berusaha bersama-sama mengendalikan kolek agar dapat melaju cepat dan memenangkan perlombaan. Nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (AG/bdy/40/7-07)

Sumber:

Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Riau. 1984. Permainan Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.



 

[1] Daerah persebaran lomba kolek diantaranya adalah: Moro, Karimun, Penyengat, Batam, Lobam, Kundur, Ngenang, Buluh, Kasu dan Pulau Terung.

 

Dibaca : 14.771 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password