Minggu, 26 Februari 2017   |   Isnain, 29 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 2.461
Hari ini : 4.502
Kemarin : 67.112
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.800.589
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tari Dabus

a:3:{s:3:

Dabus adalah kesenian yang mempertunjukkan kemampuan manusia luar biasa, seperti kebal terhadap senjata tajam, api, atau minum air keras dan lain-lain. Menurut catatan sejarah, dabus ini sebenarnya ada hubungan dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin ar-Raniry ke Aceh pada tahun 1637 M. Dabus ini pada awalnya bukanlah sebuah tarian, melainkan salah satu jenis seni bela diri. Oleh karena itu, tarian ini dikenal juga dengan tarian kepahlawanan, karena memperlihatkan “keluarbiasaan” dalam pertunjukannya. Tarian ini hingga sekarang masih berkembang di daerah yang berkebudayaan Melayu.

Dalam sejarah kesenian Melayu, dabus tidak sekedar hiburan semata, tetapi juga sebagai kontribusi untuk mempertahankan kedaulatan serta mengangkat martabat suatu bangsa, seperti yang pernah terjadi di Perak, Malaysia  pada masa penjajahan Belanda (1680-1690). Pada waktu itu, ada pahlawan Melayu, bergelar Panglima Kulop Mentok yang sangat membenci penjajah Belanda. Ia menyerang tentara-tentara Belanda dengan menggunakan ilmu dabus, sehingga banyak tentara Belanda yang tewas. Karena kalah, tentara Belanda yang masih hidup akhirnya melarikan diri dan meninggalkan daerah yang direbut oleh Panglima Kulop Mentok tersebut. Namun, dalam konteks kekinian, dabus ini hanya bertujuan untuk hiburan. Tarian dengan semangat kepahlawanan ini dijadikan sebagai simbol-simbol keberanian yang banyak digemari oleh masyarakat ramai.

Konon, tarian dabus diperkenalkan oleh pengikut Sayidina Ali (kaum Syiah) yang  dipersembahkan untuk memperlihatkan kehebatan dan kekebalan orang Syiah dalam suasana perang agar pihak lawan tidak berani mengganggu mereka. Kesenian ini pernah berkembang di Aceh dengan sebutan daboh melalui pedagang Arab yang datang ke daerah ini, kemudian menyebar ke seluruh nusantara, di antaranya Banten dengan sebutan debus, Bugis dan Perak (Malaysia) dengan sebutan dabus. Perbedaan ini hanya pada sebutan (dialek) bahasa, tidak pada substansinya, yaitu tarian yang memperagakan bahwa para penari itu kebal dengan senjata tajam atau api, dan lain-lain.

Dari Aceh, sekitar tahun 1600 M, dua orang pedagang dari Batu Bahara, bergelar Nakhoda Lembang dan Nakhoda Topah merantau ke Perak dan tinggal di daerah Telaga Nenas, Sitiawan. Selama berada di daerah ini, mereka selalu berlatih dengan memainkan dabus pada malam hari, sehingga menarik perhatian penduduk setempat, lalu dabus dipelajari dan dikembangkan di sana. Setelah itu, mereka pindah ke daerah Pasir Panjang Laut, Bagan Datoh dan Kuala Selangor. Di setiap daerah tersebut mereka sempat mengajari penduduk setempat, sehingga tarian dabus ini berkembang dengan pesat sampai sekarang. Tarian ini sebenarnya gabungan dari tiga jenis seni: nyanyian, tarian dan pertunjukan keberanian yang dilakukan para penari dengan menusukkan anak dabus atau senjata tajam di tubuh mereka.

Salah satu ciri khas tarian dabus adalah, setiap penari harus menggunakan sejenis senjata tajam yang disebut anak dabus, keris, kapak dan pisau belati. Selain itu, ada pula peralatan lain seperti batu giling, tali, api dan lain-lain. Bila para penari ini tidak menggunakannya, maka tarian tersebut tidak bisa dikatakan tarian dabus, karena ciri khas tarian ini adalah penggunaan jenis senjata tajam tersebut.

Di samping itu, ada beberapa bahan yang disediakan sebelum pertunjukan dimulai, antara lain: bertih, beras kunyit dan beras biasa. Selain itu, disediakan pula air pemulih yang digunakan oleh khalifah untuk memulai pertunjukan dan memulihkan pemain dari berbagai gangguan.

Jumlah pemain tarian dabus lebih kurang 22 orang, terdiri dari penari dan pemain alat musik. Salah satu di antara mereka ditunjuk sebagai pemimpin yang disebut khalifah. Khalifah ini bertanggung jawab atas keselamatan para pemain lainnya dari berbagai gangguan yang dapat mengganggu kelancaran pertunjukan, seperti gangguan makhluk halus dan orang-orang yang sengaja menguji kekebalan para pemain. Sebelum tarian dimulai, khalifah akan mengasapi dan memercikkan air ke setiap pemain, baik penari, pemain alat musik, atau anak dabus, keris, kapak, pisau belati dan areal pementasan. Selain itu, khalifah juga bertanggung jawab untuk memulihkan penari yang tidak sadarkan diri, atau yang terluka akibat tusukan anak dabus dan senjata lainnya.

Dalam permainan dabus, terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi, yaitu (1) areal pentas pertunjukan harus bersih, para pemain juga harus bersih dan suci, (2) para pemain tidak boleh berbicara kotor dan tidak memendam rasa permusuhan antara mereka, dan (3) anak dabus harus dipelihara supaya tidak dilangkahi oleh para pemain dan tidak boleh pula jatuh atau tertancap ke tanah.

Tarian ini dimulai ketika alat-alat musik dimainkan dan lagu-lagu mulai dinyanyikan. Peralatan musik dalam tarian ini antara lain adalah gong, rebana dan gendang, sementara lagunya disarikan dari kitab berzanji dan marhaban. Lagu yang dinyanyikan dalam pertunjukan dabus ini terdiri dari satu kali korus dan satu kali jawab. Korus biasanya yang dikutip dari kitab berzanji, sedangkan jawabnya digunakan bahasa setempat. Di antara contoh nyanyian dabus ini dapat dilihat sebagai berikut:

Mu ra di seng Allah mu ra di seng (korus)
Kama la izin Allah mura … di (jawab)
Mura di yah Allah mura di yah (korus)
Kama la izin Allah mura .… .di (jawab)

Selain itu, ada pula zikir dabus yang biasa disampaikan dalam suatu pertunjukan, yaitu:

Besi tua besi muda
Besi datang daripada Allah
Hendak makan sifat Muhammad
Takut ditimpa si kalammullah
Hullillah haillallah
Nabi Muhammad pesuruh Allah
Ingat semuanya kepada Allah
Bukannya salah permainan ini
Turun temurun semulajadi
Luar dan dalam semuanya diisi

Dalam pelaksanaannya, lirik lagu di atas dinyanyikan oleh para pemain musik. Ketika itu, para penari memasuki areal pertunjukan dan memberi hormat pada audiens untuk mengawali tarian. Pada umumnya, para penari memasuki areal pertunjukan secara berpasangan: laki-laki dengan laki-laki; perempuan dengan perempuan; atau laki-laki dengan perempuan. Para penari ini akan menarikan tiga jenis gerak tari: susun sirih, ayam tajak dan helang sewah. Biasanya, tarian tersebut diawali dari tari susun sirih, yaitu dengan melangkah ke depan sebanyak tiga kali, kemudian duduk dan menghaturkan sembah. Setelah itu, dilanjutkan dengan tarian jenis lainnya. Setiap penari akan memegang sepasang anak dabus sambil menari dengan mengikuti irama lagu. Pada waktu tertentu para penari ini akan menusuk tubuh temannya dengan anak dabus, sehingga bagi penonton, suasana ini sangat menegangkan.

Penari dabus, baik penari laki-laki atau perempuan, biasanya menggunakan pakaian Melayu yang dilengkapi dengan kain samping. Mereka dibagi menjadi dua kelompok penari, penari anak-anak dan orang dewasa. Bagi penari anak-anak, pakaian mereka berwarna hijau pucuk pisang, sementara pakaian orang dewasa berwarna hitam, menandakan kepahlawanan. (JN/bdy/88/7-07)

Sumber :

  • www.ppdkerian.edu.my
  • www.heritage.gov.my
  • www.karyanet.com.my
  • www.wikimu.com
  • www.malaysiana.pnm.my
Dibaca : 19.612 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password