Sabtu, 29 April 2017   |   Ahad, 2 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 2.262
Hari ini : 10.659
Kemarin : 36.506
Minggu kemarin : 413.594
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.231.615
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tari Saman

a:3:{s:3:

Saman atau tari tangan seribu (a thousand hand dance) adalah tarian tradisional Melayu yang berasal dari daerah Aceh Tenggara, tepatnya di dataran tinggi Gayo. Nama “Saman” diambil dari orang yang menciptakan dan mengembangkan tarian ini, Syeikh Saman, yaitu salah seorang ulama yang menyebarkan agama Islam di Aceh. Bahasa syair atau lagu yang digunakan adalah bahasa Arab dan Aceh yang memuat pesan-pesan dakwah, sindiran, pantun nasehat dan pantun percintaan. Tarian ini dikenal dengan beberapa jenis nama, antara lain Saman Gayo di Aceh Tenggara dan Tengah, Saman Lokop di Aceh Timur dan Saman Aceh Barat di Aceh Barat. Namun belum ditemukan penjelasan yang lebih rinci mengenai persamaan dan perbedaan tarian saman dari masing-masing daerah tersebut.

Pada zaman dahulu, tarian ini dipertunjukkan dalam upacara adat tertentu, di antaranya dalam upacara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu, khususnya dalam konteks kekinian, tarian ini dipertunjukkan pula pada acara-acara yang bersifat kenegaraan, seperti kunjungan tamu-tamu negara, atau pada saat pembukaan sebuah festival dan acara lainnya.

Tarian saman diduga berasal dari tarian Melayu Kuno. Munculnya dugaan tersebut karena tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian Melayu Kuno: tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, Syeikh Saman mempelajari tarian Melayu Kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya. Dalam konteks kekinian, tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.

Pada masa penjajahan Belanda, pertunjukan tari saman dilarang karena dianggap mengandung unsur magis yang bisa menyesatkan. Namun, larangan ini tidak dihiraukan oleh masyarakat Aceh, sehingga tarian ini terus berkembang pesat sampai sekarang dengan berbagai dinamikanya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Selain itu, tarian saman tidak hanya dipertunjukkan di daerah Aceh, melainkan juga di daerah lain di Indonesia, bahkan di luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia.

Tarian saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring dan gerak lengek. Keunikan lainnya terlihat dari posisi duduk para penari dan goyangan badan yang dihentakkan ke kiri atau ke kanan, ketika syair-syair dilagukan. Selain itu, tarian ini tidak menggunakan peralatan musik, sebab dengan gerakan-gerakan tersebut serta syair yang dinyanyikan telah menciptakan suasana yang riang gembira.

Pada umumnya, tarian saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini dimainkan pula oleh kaum perempuan atau campuran antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, pendapat lain mengatakan bahwa tarian ini ditarikan kurang lebih 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi.  Untuk mengatur berbagai gerakannya ditunjuklah seorang pemimpin yang disebut Syeikh. Selain mengatur gerakan para penari, Syeikh juga bertugas untuk menyanyikan syair-syair lagu saman ini.

Para penari saman memakai kostum seragam khas Aceh, dengan bulang teleng di kepala, penutup leher serta gelang di kedua pergelangan tangan. Dalam pelaksanaannya, para penari duduk berbaris memanjang ke samping dengan lutut ditekuk. Syeikh duduk di tengah-tengah para penari lainnya. Syeikh menyanyikan syair atau lagu diikuti dengan berbagai gerakan oleh penari yang lain. Gerakan dan lagu yang dinyanyikan memiliki hubungan yang dinamis, singkron dan memperlihatkan kekompakan. Tarian ini diawali dengan suatu gerakan lambat, dengan tepuk tangan, tepuk dada dan paha,  serta mengangkat tangan ke atas secara bergantian. Semakin lama, gerakan tarian ini semakin cepat hingga tarian ini berakhir. (JN/bdy/93/7-07).

Sumber :

  • http://www.aceh-timur.go.id
  • http://www.id.wikipedia.org
  • http://www.acehmu.com/index_5.html
  • http://www.nad.go.id
  • http://www.acehinstitute.org
  • http://www.pintusingapura.org/common.php?id=53
  • …., Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid VI, PT Cipta Adi Pustaka, Jakarta, 1994
Dibaca : 31.671 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password