Rabu, 26 April 2017   |   Khamis, 29 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 2.560
Hari ini : 12.478
Kemarin : 65.310
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.212.151
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Jala

a:3:{s:3:

Jala adalah alat untuk menangkap ikan yang digunakan oleh masyarakat tradisional Melayu yang tinggal di daerah pesisir pantai atau di pinggiran sungai. Alat tangkap ini ditemukan hampir di semua negara yang berkebudayaan Melayu, seperti Malaysia, Indonesia, Singapura dan Brunei.

Lazimnya, jala dibuat dari benang-benang kapas atau nilon yang berukuran besar agar tidak mudah robek jika ikan-ikan besar terperangkap di dalamnya. Jala dibuat dengan teknik anyaman, yaitu benang dianyam sedemikian rupa dengan menggunakan coban (alat penganyam jala). Kalau dibentangkan, jala berbentuk bulat dengan diameter antara 8 10 meter, dan jika diangkat, tinggi jala kira-kira 2,5 3 meter. Di pangkal jala diberi cincin besi atau rantai jala sebagai pemberat, sementara di ujungnya diberi tali sebagai tempat memegangnya. Selain itu, ada juga jala kecil yang biasanya memiliki mata jala yang lebih kecil pula, dengan menggunakan benang kapas yang telah dipintal. Jika dibentangkan, jenis jala ini berdiameter 7 8 meter, dan jika diangkat, tingginya kira-kira 130 cm.

Jala pada umumnya digunakan oleh para nelayan yang menggunakan perahu sampan. Para nelayan ini menyusuri tepian pantai ketika air surut, jumlah mereka biasanya dua orang untuk sebuah sampan. Satu orang sebagai pendayung sampan, dan satu lagi yang menebar jala. Si pendayung biasanya duduk di buritan sampan sekaligus sebagai penjaga kemudi, sementara penebar jala di bagian haluan sampan. Namun, ada pula nelayan yang melakukan tebar jala sendiri, dia sebagai pendayung sekaligus sebagai penebar jala. Keadaan ini dapat dilakukan hanya dengan cara mengkondisikan bagian buritan sampan agar bisa mengontrol keseimbangan perahu sampan. Salah satu cara yang digunakan adalah dayung diikatkan ke perahu sampan, lalu dijatuhkan ke air, sementara nelayan ini menggunakan pengayuh untuk menggerakkan perahu sampannya dari bagian depan sampan.

Dulu, di daerah Malaysia, kegiatan untuk menebar jala dilakukan dengan upacara adat yang dihadiri oleh raja atau sultan serta masyarakat setempat. Upacara ini dilaksanakan di atas perahu sampan para nelayan secara beramai-ramai. Raja atau sultan ikut bersama mereka menaiki perahu sampan tersebut. Ketika sampai di daerah tertentu, raja atau sultan memerintahkan pada para nelayan untuk menebarkan jala. Sebelumnya, perahu mulai digerakkan secara perlahan dan membentuk seperti bulatan. Setelah itu, jalapun ditebar. Berselang beberapa menit, perahu sampan dikayuh ke arah belakang secara perlahan, jala diangkat secara perlahan pula, kemudian diletakkan di atas sampan, dan ikan-ikan yang didapat dikeluarkan dari jala ini. Selanjutnya, penebaran jala dilakukan pada areal yang lain.

Nelayan jala memiliki banyak teknik untuk menebar dan menarik jala. Salah satu cara yang biasa dilakukan untuk menebarnya adalah, mula-mula penebar jala dalam posisi berdiri. Lalu, ia menyandang bagian tengah hingga ke pucuk jala dengan bahu dan bagian lengan atas tangan kanannya, sementara tangan kiri menyandang jala bagian bawahnya. Setelah itu, ia membuat ancang-ancang dengan mengayunkan badannya ke belakang, lalu ke depan dengan dorongan tangan, lengan dan bahu agar jala tersebut terbuka dengan sempurna, membentuk suatu bulatan yang utuh. Bagian tepi jala akan tenggelam hingga ke dasar sungai disebabkan beratnya rantai jala. Sedangkan cara menarik jala adalah, penebar jala akan melilit tali yang ada di pucuk jala secara perlahan, kemudian menariknya hingga rantai jala terangkat dari perahu sebatas lutut si penebar jala. Lalu jala diletakkan di perahu sampan dan hasil tangkapan dikeluarkan darinya.

Aktivitas menjala ini tidak hanya dilakukan oleh para nelayan yang tinggal di pinggiran sungai atau pesisir pantai, tetapi juga oleh para petani. Mereka pergi menjala ketika ada waktu luang, atau setelah panen, sebagai pekerjaan tambahan.

Sumber : www.malaysiana.pnm.my

Dibaca : 12.400 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password