Minggu, 20 April 2014   |   Isnain, 19 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 957
Hari ini : 5.554
Kemarin : 16.609
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.614.607
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Mandau


Mandau, yang disebut juga Parang Ilang merupakan senjata tajam jenis parang yang bertangkai pendek. Mandau menjadi identitas dan senjata utama masyarakat Dayak di samping senjata jenis parang yang lain.

1. Asal-usul

Secara umum Suku Dayak yang menghuni pulau Kalimantan mempunyai beberapa jenis senjata tajam berjenis parang yang dibagi menjadi dua jenis, yaitu senjata Dayak pedalaman dan Dayak pesisir (Anonim, 2007, dalam: http://old.blades.free.fr).

Jenis pertama adalah parang Dayak pedalaman, yaitu Parang Ilang atau mandau, Parang Pandat, dan Parang Latok. Cirinya, ujung bilah lebih lebar dibanding bagian dekat hulu. Bilah parang berbentuk lurus, condong ke depan, dan membentuk sudut antara 30-45 derajat pada titik pertemuan antara hulu dan bilah. Ciri yang demikian hanya terlihat pada Parang Pandat dan Parang Latok, tidak pada Mandau.

Jenis kedua adalah parang Dayak pesisir yang terbagi ke dalam empat tipe yang berbeda, yaitu Naibor, Langgai Tinggang, Jimpul, dan Pakayun. Parang jenis ini  berbeda dengan parang Dayak pedalaman. Ciri umum parang ini adalah, bentuk bilahnya melengkung ke depan. Pada bagian hulu terdapat sangkutan (krowit) yang membentuk huruf “L” dengan beragam variasi. Fungsi krowit adalah untuk menahan pegangan agar parang tidak terlepas ketika diayunkan.

Bilah mandau terbuat dari baja yang dipasang pada pegangan atau hulu dari tanduk atau pun kayu. Bilah mandau mempunyai panjang sekitar 22 inci. Mandau hanya mempunyai satu sisi bagian yang tajam, yaitu bagian depan yang berbentuk agak bengkok. Sedangkan bagian punggung tumpul dan sedikit cekung.

Mandau berkaitan erat dengan tradisi pengayauan. Pada zaman dahulu, semangat keberanian kaum laki-laki Dayak (Bali Akang) akan dibangkitkan untuk membantu mereka selama ekspedisi pengayauan. Para prajurit yang telah memenangkan peperangan dan memenggal kepala musuh tersebut akan ditunggu dengan sebuah perayaan yang besar di masing-masing tempat tinggal mereka. Setelah itu, secara hati-hati otak di kepala yang dipenggal tersebut dikeluarkan dari lubang hidung. Kemudian kepala (ulu) yang masih segar tersebut diletakkan dalam jaring anyaman rotan dan diasapi di atas perapian (Anonim, 2007, dalam: http://old.blades.free.fr).

Orang Dayak percaya bahwa roh seorang pria akan menghuni kepalanya setelah kematiannya. Masyarakat ini juga percaya bahwa tengkorak kering memberikan kekuatan sihir  paling kuat di dunia. Tengkorak kepala bisa menyelamatkan desa dari wabah penyakit, mengusir roh jahat, dan meningkatkan hasil panen. Tengkorak kepala ini biasanya diletakkan pada suatu tempat dengan dikelilingi daun kelapa. Di sebelah tengkorak kepala tersebut diletakkan makanan dan rokok yang sudah disulut sehingga roh penghuni kepala tersebut akan memaafkan, melupakan, dan merasa diterima di rumah barunya. Tengkorak kepala yang masih baru merupakan inisiasi dan akan meningkatkan martabat pemiliknya.

Beberapa suku menghargai tengkorak kepala yang mereka penggal dengan cara mewariskan kepada generasi berikutnya. Kekuatan tengkorak kepala tersebut diyakini akan meningkat dari waktu ke waktu. Namun, ada pula suku yang beranggapan bahwa kekuatan tengkorak kepala tersebut akan berkurang seiring bertambahnya waktu. Masyarakat Dayak generasi terdahulu meyakini bahwa sebuah desa tanpa ulu akan lemah secara ruhani serta mudah diserang musuh dan penyakit sampar (Anonim, 2007, dalam: http://old.blades.free.fr).

Saat ini tradisi mengayau sudah banyak ditinggalkan, terutama suku-suku Dayak yang berada di pesisir. Masyarakat Dayak pesisir tersebut lebih intens dalam melakukan kontak dengan kebudayaan yang lain. Sub Suku Dayak yang hingga saat ini masih melakukan tradisi mengayau tersebut adalah Suku Dayak Iban yang menghuni wilayah Kalimantan Barat. Akan tetapi, kepala manusia sudah diganti dengan kepala babi ketika mereka melaksanakan upacara mengayau (Yusuf Efendi, 2010, dalam http://melayuonline.com).

2. Bentuk dan Bagian-bagian Mandau

Mandau termasuk jenis senjata yang khas dan berbentuk variatif. Bentuk mandau mudah dikenali: bilahnya pipih dan panjang; pada sisi yang tajam berbentuk datar, sisi yang lainnya melebar ke ujung dan melekuk meruncing membentuk seperti paruh burung. Hulu mandau terbuat dari tanduk rusa atau kayu. Bagian ini bukan hanya berfungsi sebagai pegangan, ia dipola sedemikian rupa sehingga memunculkan kesan dinamis. Sarung mandau terbuat dari kayu. Di beberapa bagian luarnya dililit dengan rotan dirajut yang dinamakan simpai. Pada bagian agak ke pangkal sarung senjata ini diberi tali panjang pada kedua sisinya. Tali tersebut dinamakan  balawit. Tali inilah yang nantinya akan diikatkan pada pinggang.

Apa yang telah disebutkan di atas merupakan bentuk dasar mandau. Bentuk-bentuk dasar tersebut mempunyai variasi yang bermacam-macam, tergantung pembuatnya dan berasal dari daerah mana. Berikut gambaran bagian-bagian mandau (Ikhlas Budi Prayogo, et al. 1997/1998: 13-25).

a. Bilah

Mata mandau yang disebut pula bilah mandau acap kali tidak hanya memiliki satu lekukan pada bagian ujungnya. Kadang lekukan tersebut mencapai dua atau tiga. Mandau berlekuk satu atau mandau galung satu ini oleh masyarakat Bakumpai, Kalimantan Selatan disebut jaludung. Mandau yang mempunyai dua lekukan disebut galungan dua. Sifat mandau ini lebih khusus, karena pada zaman dahulu mandau jenis ini dimiliki oleh kaum ksatria, pemuka, dan pemberani.

Bilah galungan dua ini ada yang berhias ukiran ada yang tidak. Hiasan ukiran di bilah mandau itu adalah ukiran kembang kacang. Ukiran ini bermotif sulur kerawangan pada lekukan mandau. Bilah mandau yang berukir biasanya berasal dari masyarakat Dayak Kalimantan Timur. Ada pula mandau yang mempunyai tiga lekuk. Namun mandau jenis ini jarang dijumpai karena tidak proporsional dan mengurangi harmoni bentuk.    

b. Hulu

Hulu Mandau mempunyai dua nilai penting. Pertama, sebagai pegangan atau tangkai senjata. Kedua, bentuk hulu memberikan ciri paling menonjol yang memberi karakter pada sebuah mandau. Bentuk dasar hulu mandau sebenarnya sangat sederhana. Hanya menyerupai huruf “L” dengan sudut lancip. Fungsi dari bentuk tersebut adalah memberikan rasa aman bagi pengguna agar mandau tidak lepas ketika digunakan.

Bentuk hulu mandau tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Bentuk dasarnya kadang-kadang menyerupai binatang berkaki empat, burung elang, dan kadang menyerupai burung enggang. Sudut lekukan agak menonjol keluar. Bagian pangkal yang memanjang ke depan dibuat agak melengkung dan lancip di ujungnya. Bentuk tersebut diperindah dengan ukiran dari yang berpola sederhana sampai yang berpola rumit.


Hulu Mandau
Sumber: http://kutaihulu.blogspot.com dan http://old.blades.free.fr/index.htm

c. Kumpang

Kumpang merupakan istilah masyarakat Banjar untuk menyebut sarung senjata tajam. Istilah ini dikenal oleh masyarakat Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Bentuk dasar kumpang berupa dua bilah papan yang ditangkupkan dan membentuk batang berongga. Pada bagian kulit luar kumpang terdapat anyaman dari kulit rotan (simpai) yang mengikat tangkupan bilah kumpang. Simpai juga berfungsi untuk menunjukkan status seseorang. Simpai yang digunakan oleh orang kebanyakan berjumlah tiga simpai, yaitu bagian ujung, tengah, dan pangkal. Sedangkan untuk seorang ksatria atau seorang pemberani akan menggunakan empat simpai.

Kumpang mempunyai beberapa fungsi, antara lain melindungi mandau agar lebih aman, agar tajaman mandau tidak melukai pada waktu dibawa, dan sebagai tempat untuk mengendalikan dan peristirahatan mandau (Ikhlas Budi Prayogo, et al. 1997/1998: 36).

d. Aksesori

Selain bagian-bagian utama, sebuah mandau juga dihiasi berbagai aksesoris, misalnya rumpun rambut atau bulu, taring binatang buas, bulu burung, dan langgai (pisau raut bertangkai panjang). Aksesori yang dipasang pada mandau tersebut menjadi simbol-simbol tertentu. Serumpun rambut yang dipasang adalah  rambut hasil pengayauan. Taring binatang buas yang diikatkan pada kumpang menunjukkan pemilik mandau adalah seorang pemberani dan berfungsi sebagai azimat.

Bulu burung yang dipasang pada mandau adalah burung yang dianggap suci oleh orang Dayak, contohnya burung juai dan burung enggan. Langgai dimasukkan ke dalam rangka terbuat dari upih risi (jenis tanaman palem di hutan Kalimantan) yang diikatkan pada kumpang. Langgai menjadi alat serba guna yang mendukung berbagai aktivitas masyarakat Dayak di dalam hutan, misalnya meraut rotan atau sebagai senjata tusuk.  


Bilah mandau beserta rangka (kumpang)
Sumber: http://sites.google.com

3. Pembuatan Mandau

Berbagai catatan mengenai seni dan kerajinan tangan menempatkan kerajinan besi atau baja pada posisi yang tinggi bagi masyarakat Kayan (suku asli Kalimantan). Mereka membutuhkan pengetahuan khusus untuk membuat pedang atau mandau yang halus dan tajam. Asal-usul pengetahuan mereka tentang besi serta proses melebur dan menempa besi tetap menjadi misteri hingga sekarang. Kemungkinan mereka telah terbiasa dengan proses tersebut sebelum mereka masuk ke Pulau Kalimantan. Suku Kayan menjadi perajin besi yang paling ahli di wilayah tersebut yang hanya dapat ditandingi oleh Suku Kenyah (Charles Hose dan William McDougal, 1912). Pembuatan mandau tidak semata-mata mengandalkan keterampilan, namun juga kemampuan untuk menghadirkan kekuatan magis agar mandau memiliki tuah tertentu. Hal tersebut menjadikan pembuat mandau menempati posisi penting dan terhormat di masyarakat (Ikhlas Budi Prayogo, et al. 1997/1998: 28).

Cara membuat mandau adalah sebagai berikut:

a. Bahan

  • Besi atau baja. Bisa berupa besi pegas mobil, as mesin perahu tempel, gergaji mesin, dan sebagainya.

b. Peralatan

  • Perapian atau tungku pembakaran
  • Bak air untuk penyepuhan.
  • Landasan berupa besi berkepala datar yang ditancapkan pada potongan batang kayu.
  • Palu dalam berbagai ukuran.
  • Penjepit.
  • Betel.
  • Pompa udara bermesin.
  • Gurinda tangan dan gurinda mesin.
  • Kikir.
  • Gunting pemotong besi panas.
  • Ketam baja.
  • Slip mesin atau batu asahan.

c. Proses Pembuatan

Berikut beberapa langkah membuat mandau.

1. Membuat Bilah

  • Menyiapkan bahan untuk membuat mandau yang berupa bilah-bilah besi dengan ukuran yang kira-kira sesuai dengan ukuran mandau yang akan dibuat.
  • Membakar lempengan besi hingga merah menyala, kemudian menempa besi tersebut menurut bentuk yang diinginkan. Lalu memasukkan lempengan besi ke dalam air dingin, lalu membakar dan menempanya kembali. Proses ini dilakukan berulang-ulang.
  • Menggurinda mandau dengan gurinda mesin atau gurinda tangan sehingga memperoleh bentuk mandau yang sempurna.
  • Menyepuh mandau.
  • Mengikir bentuk mandau tersebut untuk mendapatkan ketajaman.
  • Mengetam dengan ketam baja untuk menghaluskan mandau dan untuk menghilangkan bekas pukulan dan sepuhan.
  • Menyelip dengan slip mesin untuk mengkilapkan permukaan mandau.
  • Mengetok dengan betel baja untuk menera hiasan pada mandau.

2. Membuat Hulu

Setelah pembuatan bilah selesai, langkah berikutnya adalah membuat hulu atau pegangan mandau. Bahan untuk membuat hulu mandau adalah kayu yang berserat, misalnya kayu jambu biji atau kayu mahar. Detail ukiran pada hulu biasanya langsung dikerjakan tanpa menggambar pola terlebih dahulu.

Bilah mandau dipasang pada hulu dengan cara menancapkan pangkalnya pada lubang di dataran hulu. Selanjutnya memberi getah malau pada lubang tersebut di sekeliling besi (Ikhlas Budi Prayogo, et al. 1997/1998: 35).  

3. Pembuatan Kumpang

Kumpang dibuat dari kayu pantung. Akan lebih bagus lagi jika dibuat dari kayu mahar. Setelah bahan pembuat kumpang yang berupa bilah-bilah kayu diperoleh, langkah selanjutnya adalah memahat bagian dalam kayu tersebut. Bila kedua bilah kayu tersebut ditangkupkan akan didapatkan rongga pipih panjang sesuai ukuran bilah mandau. Setelah kedua bilah kayu tersebut tertangkup baik dan pas, selanjutnya diikat dengan rajutan dari kulit rotan tiga atau empat bagian. Tahap paling akhir adalah mengukir kumpang dengan ragam hias bentuk binatang seperti buaya atau ular (Ikhas Budi Prayogo, et al. 1997/1998: 36).

4. Fungsi Mandau

Mandau berfungsi di antaranya sebagai berikut.

a. Sebagai Senjata dan Benda Pusaka

Fungsi mandau sebagai senjata sudah tidak diragukan lagi. Bentuk mandau pun mendukung dengan fungsi tersebut. Mandau dapat digunakan secara cepat dan efektif karena bentuk mandau yang tipis dan ramping. Menurut para ahli mandau dari masyarakat Dayak, ketika mandau digunakan oleh orang yang ahli, maka musuh orang tersebut akan sulit menghindar.

Biasanya mandau juga diwariskan secara turun-temurun dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya. Mandau dianggap sebagai benda pusaka yang akan melindungi para pemiliknya serta membawa keberuntungan bagi mereka. Hingga saat ini masih banyak keluarga yang menyimpan mandau sebagai benda pusaka.

b. Sebagai Perlengkapan Kesenian

Selain sebagai senjata, mandau juga berfungsi sebagai peralatan kesenian. Tarian Tayu Manuk yang berasal dari Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan menggunakan mandau sebagai peralatan tari yang mendukung keindahan gerakan tarian ini.

c. Sebagai Perlengkapan Pakaian

Pada umumnya mandau dipakai oleh kaum laki-laki sebagai pelengkap pakaian mereka. Gambaran tersebut muncul dalam patung Dayak. Patung yang diukir dengan motif mandau akan menggambarkan sosok laki-laki yang merupakan lambang alam atas. Sedangkan patung yang ditera dengan motif perisai menggambarkan sosok perempuan yang melambangkan alam bawah.

d. Sebagai Peralatan Upacara

Mandau juga digunakan sebagai peralatan dalam upacara-upacara adat untuk pemotongan pantan. Pemotongan pantan adalah pemotongan kayu yang melintang. Kegiatan tersebut serupa dengan pemotongan pita yang sering dilaksanakan dalam berbagai upacara peresmian sekarang ini. Pemotongan pantan merupakan simbol pemotongan aral, halangan, maupun bala untuk tamu yang datang ke upacara tersebut.

e. Sebagai Alat Kerja

Mandau yang digunakan sebagai peralatan kerja umumnya tidak diberi hiasan dengan hiasan yang berpola rumit. Tajaman mandau yang hanya pada salah satu sisinya memudahkan mandau digunakan sebagai alat kerja. Bentuk mandau tersebut jika diperhatikan dengan seksama hampir menyerupai bentuk belayung. Mandau sebagai alat kerja banyak digunakan oleh masyarakat Suku Bukit, Kalimantan Selatan.

5. Nilai-nilai

Beberapa nilai yang terdapat dalam mandau adalah:

a. Nilai Magis

Dalam masyarakat Dayak senjata selalu terkait dengan hal-hal yang bersifat magis dan mistik. Begitu pula dengan mandau. Mandau terkait dengan kepercayaan masyarakat tentang makhluk halus. Kepercayaan masyarakat tersebut mulai terlihat pada waktu pembuatan mandau, aksesori yang dipasang pada mandau, dan pandangan masyarakat tentang mandau.

Masyarakat Dayak percaya bahwa mandau mempunyai berbagai tingkat keampuhan dan kesaktian. Pada zaman dahulu mandau hanya dipakai dalam ritual tertentu seperti perang, sebagai perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan upacara.

b. Nilai Sosial

Mandau merupakan senjata yang terkait dengan kehidupan sosial masyarakat Dayak yang tinggal di hutan-hutan. Dalam hal ini mandau digunakan sebagai peralatan yang mendukung aktivitas sehari-hari, apakah itu berburu atau membuat barang-barang kerajinan dari kayu. Mandau juga menunjukkan simbol status seseorang. Apakah ia termasuk kalangan ksatria atau dari kalangan orang kebanyakan. Hal ini terlihat dari jumlah lilitan kulit rotan pada kumpang.

c. Nilai Seni

Mandau mengandung nilai seni yang tinggi. Pembuatan mandau membutuhkan keahlian khusus sebagai seorang pembuat barang kerajinan dari besi. Selain itu, ukiran dan motif yang terdapat pada bagian-bagian mandau juga memperlihatkan bahwa mandau merupakan karya seni yang bernilai tinggi. Bentuk motif dan ukiran yang terdapat pada mandau selalu terkait dengan kepercayaan Suku Dayak akan hal-hal magis. Bagian hulu misalnya dapat menyerupai bentuk kepala burung. Bulu burung dan taring binatang buas yang dipasang pada kumpang juga menambah keindahan mandau.

d. Nilai Budaya

Jika dicermati, pembuatan mandau mengandung nilai yang dapat dijadikan acuan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Nilai yang muncul dalam proses pembuatan mandau adalah nilai ketekunan, nilai seni, kesabaran, dan ketelitian. Nilai-nilai tersebut yang membuat mandau menjadi karya seni yang indah. Mandau merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat yang perlu diperhatikan.

6. Penutup

Hingga saat ini, mandau masih menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan. Beberapa suku dan sub suku di Kalimantan yang tidak atau sudah tidak lagi menggunakan mandau sebagai senjata pengayau menggunakan senjata ini dalam keperluan sehari-hari. Sebagian yang lain menggunakan mandau sebagai souvenir atau barang hiasan untuk dipasarkan bagi para wisatawan. Ada juga sebagian masyarakat yang masih menganggap senjata ini sebagai senjata pusaka yang diwariskan kepada anak cucu. Bagaimanapun, dengan berbagai cara masyarakat Dayak masih terus melestarikan keberadaan mandau sebagai identitas mereka.

(Mujibur Rohman/bdy/08/10-2010)

Sumber foto utama: http://old.blades.free.fr

Referensi

Anonim, 2007. “Dayak Parang”. [Online] Tersedia di: http://old.blades.free.fr [Diunduh pada 5 Oktober 2010].

Anonim, 2007. “Head Hunting”. [Online] Tersedia di: http://old.blades.free.fr [Diunduh pada 5 Oktober 2010].

Anonim, 2007. “Senjata Tradisional: Mandau”. [Online] Tersedia di:  http://lelosusilo.wordpress.com [Diunduh pada 5 Oktober 2010].

Charles Hose dan William McDougall, 1912. Pagan tribes of Borneo. [Online] Tersedia di: http://www.nalanda.nitc.ac.in [Diunduh pada 6 Oktober 2010].

Ikhlas Budi Prayogo, et al. 1997/1998. Mandau Koleksi Museum Lambung Mangkurat. Banjarbaru: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Selatan.

Yusuf Efendi, 2010. “Mengayau: Upacara Keberanian Laki-laki Dayak Iban, Kalimantan Barat”. [Online] Tersedia di: http://melayuonline.com [Diunduh pada 8 Oktober 2010].

Dibaca : 24.426 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password