Selasa, 16 September 2014   |   Arbia', 21 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 3.269
Hari ini : 21.546
Kemarin : 36.447
Minggu kemarin : 230.267
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.126.830
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tenun Songket Pandai Sikek (Sumatera Barat - Indonesia)

a:3:{s:3:
Pandai Sikek adalah sebuah daerah yang berada di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Di daerah ini ada sebuah kerajinan tenun yang disebut “Tenun Songket Pandai Sikek”. Produk kerajinan tenun songket Pandai Sikek tidak hanya terbatas pada berbagai macam pakaian seperti baju kurung dan destar, tetapi juga berbagai kelengkapan upacara adat dan perkawinan, seperti: kodek songket, saruang balapak, saruang batabua, selendang songket atau selendang batabua tingkuluak tanduak (tutup kepala wanita), dan sesamping (perlengkapan penghulu). Songket bagi masyarakat Minangkabau merupakan jenis pakaian yang tinggi nilainya (sangat dihargai). Oleh karena itu, pemakaiannya terbatas pada peristiwa-peristiwa atau kegiatan-kegiatan tertentu, seperti: perkawinan, batagak gala (penobatan penghulu), dan penyambutan tamu-tamu penting.

Berdasarkan tujuannya, pembuatan tenun songket dapat dibedakan menjadi dua, yaitu untuk keperluan sendiri dan untuk diperdagangkan. Jika pembuatannya hanya untuk keperluan sendiri dan atau sanak-saudara (kerabat), maka biasanya dilakukan setelah pulang dari sawah atau setelah pekerjaan rumah tangga selesai. Akan tetapi, jika untuk diperdagangkan, maka pembuatannya dilakukan dari pagi hingga sore hari oleh tenaga kerja yang umumnya adalah kaum perempuan. Diantara para pekerja itu ada yang sebelumnya magang (belajar) kemudian, setelah menguasai, menjadi tenaga kerja di tempat yang bersangkutan. Tetapi pada umumnya adalah orang-orang yang telah menguasai teknik pembuatan songket. Penguasaan atau kepandaian itu umumnya diperoleh dari orang tuanya. Sebagai catatan, pekerja dan pengusaha tenun songket Pandai Sikek adalah kaum perempuan karena kaum lelaki menganggap bahwa kegiatan itu lebih cocok dilakukan oleh kaum perempuan. Jadi, jika ada lelaki yang terlibat, maka hanya sekedar membantu saja. Hal-hal yang bersifat pokok tetap dilakukan oleh kaum perempuan.

1. Peralatan dan Bahan

Peralatan tenun songket Pandai Sikek dapat dikategorikan menjadi dua, yakni peralatan pokok dan tambahan. Keduanya terbuat dari kayu dan bambu. Peralatan pokok adalah seperangkat alat tenun itu sendiri yang oleh mereka disebut sebagai “panta”. Seperangkat alat yang berukuran 2 x 1,5 meter ini terdiri atas gulungan (suatu alat yang digunakan untuk menggulung benang dasar tenunan), sisia (suatu alat yang digunakan untuk merentang dan memperoleh benang tenunan), pancukia  (suatu alat yang digunakan untuk membuat motif songket, dan turak  (suatu alat yang digunakan untuk memasukkan benang lain ke benang dasar). Panta yang ditempatkan pada suatu tempat yang disebut pamedangan (tempat khusus untuk menenun songket) itu, di depannya diberi dua buah tiang yang berfungsi sebagai penyangga kayu paso. Gunanya adalah untuk menggulung kain yang sudah ditenun. Sedangkan, yang dimaksud dengan peralatan tambahan adalah alat bantu yang digunakan sebelum dan sesudah proses pembuatan songket. Alat tersebut adalah penggulung benang yang disebut ani dan alat penggulung kain hasil tenunan.

Bahan dasar kain tenun songket adalah benang tenun yang disebut benang lusi atau lungsin. Benang tersebut satuan ukurannya disebut palu. Sedangkan, hiasannya (songketnya) menggunakan benang makao atau benang India. Benang yang  satuan ukurannya disebut pak ini didatangkan dari Singapura melalui Tanjungpinang.

Sebagai catatan, di masa lalu jika pengrajin menginginkan suatu warna tertentu, maka benang yang akan diwarnai itu dicelupkan ke air panas (mendidih) yang telah diberi warna tertentu, kemudian dijemur. Di masa kini hanya sebagian yang masih melakukannya. Sebagian lainnya langsung membeli benang-warna yang telah diproduksi oleh suatu pabrik.

2. Teknik Tenun

Pembuatan tenun songket dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penenunan kain dasar dengan konstruksi tenunan rata atau polos. Caranya benang-benang yang akan dijadikan kain dasar (ditenun) dihubungkan ke paso. Posisi benang yang membujur ini oleh masyarakat Pandai Sikek disebut “benang tagak”. Setelah itu, benang-benang tersebut direnggangkan dengan alat yang disebut palapah.

Pada waktu memasukkan benang-benang yang arahnya melintang, benang tagak direnggangkan dengan alat yang disebut palapah. Pemasukkan benang-benang yang arahnya melintang ini menjadi relatif mudah karena masih dibantu dengan pancukia dengan hitungan tertentu menurut motif yang akan dibuat. Setelah itu, pengrajin menggerakkan karok dengan menginjak salah satu tijak-panta untuk memisahkan benang sedemikian rupa, sehingga ketika benang pakan yang digulung pada kasali yang terdapat dalam skoci atau turak dapat dimasukkan dengan mudah, baik dari arah kiri ke kanan (melewati seluruh bidang karok) maupun dari kanan ke kiri (secara bergantian). Benang yang posisinya melintang itu ketika dirapatkan dengan karok yang bersuri akan membentuk kain dasar.

Tahap kedua adalah pembuatan ragam hias dengan benang mas. Caranya agak rumit karena untuk memasukkannya ke dalam kain dasar mesti melalui perhitungan yang teliti. Dalam hal ini bagian-bagian yang menggunakan benang lusi ditentukan dengan alat yang disebut pancukie yang terbuat dari bambu. Konon, pekerjaan ini memakan waktu yang cukup lama karena benang lusi/lungsin itu harus dihitung satu persatu dari pinggir kanan kain hingga pinggir kiri menurut hitungan tertentu sesuai dengan contoh motif yang akan dibuat. Setelah jalur benang mas itu dibuat dengan pancukie, maka ruang untuk meletakkan turak itu diperbesar dengan alat yang disebut palapah. Selanjutnya, benang mas tersebut dirapatkan satu demi satu, sehingga membentuk ragam hias yang diinginkan.

Sebenarnya lama dan tidaknya pembuatan suatu tenun songket, selain bergantung jenis pakaian yang dibuat dan ukurannya, juga kehalusan dan kerumitan motif songketnya. Semakin halus dan rumit motif songketnya, akan semakin lama pengerjaannya. Pembuatan sarung dan atau kain misalnya, bisa memerlukan waktu kurang lebih satu bulan. Bahkan, seringkali lebih dari satu bulan karena setiap harinya seorang pengrajin rata-rata hanya dapat menyelesaikan kain sepanjang 5--10 sentimeter.

Sebagai catatan, kain songket tidak boleh dilipat harus digulung dengan kayu bulat yang berdiammeter 5 cm. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga agar bentuk motifnya tetap bagus dan benang mas-nya tidak putus, sehingga songketnya tetap dalam keadaan baik dan rapi.

3. Motif Ragam Hias Tenun Songket Pandai Sikek

Pada dasarnya motif-motif yang terdapat dalam tenun songket Pandai Sikek adalah cukie dan sungayang. Cukie adalah sebuah pola yang mengisi bagian-bagian dari kain. Misalnya, cukie untuk badan kain, cukie untuk kepala kain, cukie untuk tapi atau pola pinggir kain, dan cukie untuk biteh yang membatasi antarbeberapa motif (cukie). Nama-nama cukie tersebut pada umumnya dicontoh dari kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik dan hanya digunakan pada saat ada upacara adat, diantaranya adalah: cukie barantai, cukie bakaluak, cukie bungo tanjung, cukie kaluak paku, cukie barayam pucuak rabuang, cukie barayam tali-tali burung, cukie kaluak, lintadu bapatah, cukie bugis barantai, cukie bungo batang padi, ula gerang, cukie basisiak batali burung, cukie kaluak bungo sikakau, cukie bareh randang, arai pinang baakar cino, pucuak rabuang bajari, cukie pucuak rabuang bungo sikakakau, cukie bugis batali, cukie bungo sitaba, cukie batang padi, lintadu bararak, cukie kaluak babungo, cukie tapak manggis batali, cukie barayam talang-talang, cukie ulek sipadiah, tupuak manggis barantai, itik pulang patang, bijo antimun dan bungo tanjuang, tali burung, talue burung, cukie kaluak ampek puluah, cukie barakar, ayam tadie ilalang, cukie baayam baakar, cukie basisiak batang pinang, bareh randang dan biku-biku.

Sedangkan sungayang adalah corak keseluruhan kain tenun atau songket. Nama-nama motif sungayang diantaranya adalah: Saik Kalamai, Buah Palo, Balah Kacang, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Simasam, dan Silala Rabah. Untuk lebih jelasnya contoh-contohnya di bawah ini.



Saik kalamai Buah palo
Barantai putiah
Barantai merah Tampuak manggihSalapah



Kunang-kunang

Api-api



Cukie baserak Sirangkak
Simasam

Silala rabah

4. Nilai Budaya

Tenun Songket Pandai Sikek jika dicermati, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: kesakralan, keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.

Nilai kesakralan tercermin dari pada pemakaiannya yang pada umumnya hanya digunakan pada peristiwa-peristiwa atau kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan upacara, seperti perkawinan dan batagak gala (penobatan penghulu). Nilai keindahan tercermin dari motif ragam hiasnya yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran karena tanpa itu tidak mungkin untuk menghasilkan sebuah tenun songket yang bagus. (AG/bdy/50/7-07)

Sumber:

  • http://www.tenun-pusako.com.
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Khasanah Budaya Nusantara VII. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.




Dibaca : 36.272 kali.