Rabu, 22 Februari 2017   |   Khamis, 25 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 3.972
Hari ini : 16.445
Kemarin : 51.860
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.769.846
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Dewi Luing Indung Bunga

a:3:{s:3:

Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia, yang terdiri dari hamparan hutan belantara. Hamparan hutan tersebut mengandung berbagai macam kekayaan alam, baik flora maupun fauna. Di sana, hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan secara bebas. Hamparan hutan tersebut merupakan bagian penting bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya, karena mereka sangat tergantung pada hutan tersebut. Oleh karena itu, mereka harus menjaga dan memeliharanya dengan baik agar ketergantungan terhadap hutan tersebut tetap terus berlangsung. Caranya adalah dengan tidak menebang hutan secara semena-mena. Setelah penebangan hutan dilakukan, hendaknya hutan tersebut segera ditanami kembali, agar bekas penebangan itu tidak menyisakan lahan kering yang akan mengakibatkan terjadinya bencana.

Konon, di daerah sekitar Hulu Sungai Selatan (sekarang menjadi nama kabupaten), tepatnya di Kampung Datar, Kecamatan Telaga Langsat, Kalimantan Selatan, pernah berdiri beberapa perkampungan. Penduduk kampung tersebut suka bertindak semena-mena. Mereka sering menebang hutan yang ada di sekitarnya tanpa menanaminya kembali. Akibatnya, beberapa tahun kemudian alam di sekitarnya menjadi rusak dan akhirnya mereka ditimpa bencana kekeringan. Hutan yang awalnya terhampar subur di sepanjang tepi sungai, berubah menjadi meranggas. Hewan-hewan penghuni hutan itu mati kehausan. Di mana-mana terjadi kelaparan, karena pertanian mereka gagal panen. Penyakit pun semakin merajalela. Bahkan banyak penduduk yang meninggal. Kehidupan di negeri di tepian Hulu Sungai Selatan itu sangat memilukan. Dapatkah bencana tersebut berakhir? Bagaimana cara mereka mengatasi bencana tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam Dewi Luing Indung Bunga berikut ini.    

* * *

Alkisah pada zaman dahulu di daerah Kalimantan Selatan pernah berdiri beberapa perkampungan yang saling berdekatan. Para penduduknya sering menebang hutan tanpa menanaminya kembali hingga alam menjadi rusak. Mereka juga sering bertengkar, saling menyakiti, suka merampas hak milik orang lain, dan gemar berfoya-foya.

Beberapa tahun kemudian daerah itu ditimpa bencana kekeringan. Sudah enam bulan hujan tidak turun. Di mana-mana debu beterbangan dan tanah mulai pecah-pecah. Hutan yang dulu subur menghijau, kini pepohonan berubah menjadi meranggas. Hewan penghuni hutan banyak yang mati kehausan. Demikian pula ternak penduduk. Mata air yang ada di kaki bukit mulai mengering dan hanya mengeluarkan tetesan air. Padahal mata air itu merupakan satu-satunya sumber air yang mengairi tanah pertanian mereka. Akibatnya, mereka gagal panen.

Penduduk yang tinggal di tepi sungai pun mulai gelisah. Air bersih semakin sulit didapatkan. Persediaan makanan pun semakin menipis. Di mana-mana terjadi kelaparan. Penyakit juga merajalela. Pemandangan yang terlihat di dusun-dusun sangat menyedihkan. Anak-anak menangis kelaparan, sementara orang tua duduk tak mampu bekerja karena lapar. Setiap hari terdengar berita kematian. Kehidupan penduduk di tepian sungai tersebut sangat memilukan.

Salah satu kampung yang paling parah tertimpa musi­bah adalah Kampung Datar. Kampung Datar terletak tepat di antara pegunungan yang tanahnya mendatar. Kampung ini dipimpin oleh Datu Beritu Taun yang arif, bijaksana, dan bertanggungjawab. Karena sifat baiknya, Datu Beritu Taun diangkat menjadi pimpinan dari datu-datu yang ada di kawasan tersebut.

Datu Beritu Taun mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Anak laki-lakinya bernama Antun Kumara Sukma, sedangkan anak perempuanya bernama Dewi Luing Indung Bunga. Antun adalah pemuda yang gagah berani, berbudi baik, dan santun. Dewi Luing Indung Bunga berparas cantik dan halus budi pekertinya. Keduanya adalah anak yang patut dibanggakan. Datu Beritu Taun dan isterinya, Diang Serunai, sangat mencintai kedua anak mereka.

Suatu hari, Datu Beritu Taun mengumpulkan seluruh datu untuk bermusyawarah. “Saudara-saudaraku, kita berkumpul untuk mencari jalan keluar dari masalah kita bersama,“ Datu Beritu Taun membuka percakapan. “Maaf Datu Beritu! Sepertinya masalah yang kita hadapi ini dapat diatasi jika kita membuka perkampungan baru,” usul salah seorang datu. “Maaf Datu! Kalau menurut saya, bagaimana kalau kita menggali sumber-sumber air saja?” usul seorang datu lainnya. Datu Beritu dan beberapa datu lainnya yang hadir di majelis itu sepakat dengan pendapat yang kedua. Akhirnya mereka memutuskan akan menggali sumber-sumber air.

Keesokan harinya, Datu Beritu Taun mengumpulkan seluruh penduduk dari berbagai dusun untuk menggali sumber air yang kering dan mencari sumber air baru. Penduduk terbagi ke dalam beberapa kelompok. Ada yang sibuk menggali sumber air yang sudah ada sebelumnya. Adapula yang sibuk membuat sumber air yang baru. Berhari-hari mereka bekerja keras, namun mata air itu tetap kering. Akhirnya penduduk putus asa dan berhenti menggali.

Para tetua kampung kemudian mengajak para penduduk untuk berdoa meminta hujan. Masyarakat telah bertaubat dan menyerahkan nasib mereka sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap hari dan setiap malam mereka terus berdoa, namun hujan belum juga turun. Mereka pun mulai berputus asa. Di saat penduduk berputus asa, Datu Beritu Taun terus berdoa. Setiap malam ia selalu duduk di kamarnya dan berdoa memohon kesejahteraan bagi rakyatnya. Hingga larut malam datu terus berdoa tanpa kenal lelah.

Suatu malam, karena kelelahan, Datu Beritu tertidur ketika tengah berdoa. Dalam tidurnya ia bermimpi bahwa negerinya akan makmur kembali jika ada salah satu gadis suci yang rela berkorban untuk negerinya. Selesai bermimpi, datu langsung terjaga dan berdoa kembali, “Ya, Tuhan. Terima kasih atas petunjuk-Mu.”

Keesokan harinya, Datu Beritu mengumpulkan warganya untuk memberitahukan perihal mimpinya. Setelah mendengar penuturan Datu Beritu Taun, satu persatu warga kembali ke rumahnya. Para orang tua bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai mimpi Datu Beritu Taun. Namun, tak seorang gadis pun bersedia mengorbankan dirinya untuk negeri. Demikian pula sebaliknya, para orangtua pun tidak rela anak gadisnya mengorbankan diri.

Sudah berminggu-minggu pengumuman itu dikumandangkan, namun tak seorang gadis pun bersedia untuk dikorbankan. Datu Beritu menjadi resah, tetapi tidak putus asa. Setiap hari ia terus berdoa siang dan malam. Bahkan sampai lupa memperhatikan kesehatan dirinya. Ia tidak mau makan. Akhirnya, badan datu menjadi kurus dan lemah. “Maaf, sekarang Abah makan dulu, nanti Abah sakit,” bujuk Dewi Luing sambil menyuguhkan makanan kepada Abahnya. Namun, datu tidak menghiraukan tawaran Dewi Luing. Ia tetap terus berdoa dan berharap semoga ada gadis yang rela berkorban demi negerinya.  

Dewi Luing Indung Bunga dan Antun Kumara Sukma merasa sedih melihat abahnya. Mereka dapat merasakan beban dan tanggung jawab abahnya sebagai pemimpin. Dewi Luing mulai memikirkan nasib abahnya. “Kaka, Dewi merasa sedih dan prihatin melihat keadaan Abah. Apa yang harus kita lakukan untuk meringankan beban Abah?” tanya Dewi Luing kepada kakanya. “Adingku, kita hanya dapat turut berdoa, semoga ada gadis yang akan merelakan dirinya untuk negeri ini, sehingga bencana ini segera berakhir,” jawab Antun yang juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Pada suatu malam, Dewi Luing tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya menerawang memikirkan nasib abahnya dan penderitaan penduduk. Hatinya yang halus tidak tega melihat hal itu berlarut-larut. “Ya Tuhan, jika memang harus ada gadis yang merelakan dirinya demi kesejahteraan penduduk, hamba rela,” bisik hati kecil Dewi. Demi keselamatan penduduk di negerinya, ia bertekad untuk mengorbankan dirinya.

Keesokan paginya, Dewi Luing Indung Bunga berniat menyampaikan maksudnya kepada keluarganya. Ketika Abah, Uma, dan Kakanya telah berkumpul, ia pun mengutarakan keinginannya. “Abah, Ibu, dan Kaka. Setelah semalaman berpikir, Dewi berketetapan hati akan mengorbankan diri demi kesejahteraan kita bersama,” ucap Dewi mantap.

Mendengar penuturan Dewi, ketiganya sangat terkejut dan bersedih hati. “Benarkah yang kamu katakan itu, anakku?” tanya Abahnya memastikan. “Benar Abah. Dewi sudah bertekad bulat untuk berkorban demi negeri ini,” jawab Dewi menegaskan kepada abahnya. Meskipun sedih akan kehilangan salah satu anggota keluarganya, namun Abah, Uma dan Kakanya tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Dewi Luing tidak dapat diubah lagi.

Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah seluruh penduduk dari beberapa negeri untuk mengikuti upacara pengorbanan Dewi Luing Indung Bunga. Dengan mantap Dewi Luing berjalan ke tengah arena dan mengucapkan salam perpisahan, “Wahai seluruh penduduk negeri, Dewi ikhlas dengan kematian ini, demi kesejahteraan negeri ini. Semoga kalian hidup damai dan makmur. Jika Dewi mempunyai kesalahan, Dewi mohon dimaafkan.” Setelah itu, Dewi kemudian duduk dan berdoa dengan khusyuk diiringi doa para datu.

Selesai berdoa, tiba-tiba Dewi terjatuh dan meninggal dunia. Bersamaan dengan itu hujan turun dengan deras. Kemarau panjang pun berakhir. Kehidupan bersemi kembali. Kini, Kampung Datar menjadi kawasan subur dan makmur. Kam­pung Datar ini terletak di Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

* * *

Nilai moral yang terkandung dalam cerita di atas adalah rasa tanggung jawab dan kerelaan berkorban demi orang banyak. Nilai rasa tanggung jawab tercermin pada sifat Datu Beritu Taun yang rela terus berdoa siang dan malam untuk kesejahteraan rakyatnya, meskipun ia harus menahan lapar yang mengakibatkan ia menjadi kurus. Kemudian, nilai kerelaan berkorban dapat tercermin pada sifat Dewi Luing Indung Bunga yang rela mengorbankan nyawanya demi kemakmuran penduduk di Kampung Datar, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Adapun hikmah yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa hutan sangatlah penting bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, kita patut untuk selalu menjaganya agar keseimbangan alam juga selalu terjaga. Jika keseimbangan ini berjalan dengan baik, maka kehidupan manusia juga akan terhindar dari bencana. Jika terjadi bencana alam berarti terjadi ketidakseimbangan atau lebih tepatnya kerusakan eksosistem. Kerusakan ekosistem tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah penebangan hutan secara liar. Apa yang telah dialami oleh Datu Beritu Taun dan rakyatnya pada zaman dahulu, kini juga telah dirasakan oleh masyarakat Kalimantan. Namun, bukan bencana kekeringan yang menimpa mereka, akan tetapi hampir setiap tahun banjir menenggelamkan pemukiman mereka. Hal ini juga disebabkan oleh adanya penebangan hutan secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tanpa menanaminya kembali.

Oleh karena itu, perlulah kita sadari bahwa memanfaatkan potensi alam dan melestarikannya adalah sebuah keniscayaan bagi manusia, agar kelangsungan hidupnya terus berjalan dan keseimbangan alam pun tetap terjaga. Ini menunjukkan adanya hubungan timbal-balik antara keduanya. Di satu sisi manusia memiliki hak dan kewajiban terhadap alam yaitu memanfaatkan alam sebaik mungkin, sedangan di sisi lain alam membutuhkan keseimbangan ekosistem sehingga dapat melayani keperluan manusia. Hal ini digambarkan dalam sebuah slogan “living in harmony with nature artinya hidup harmoni bersama alam. (SM/sas/16/8-07)

Abah     : Ayah
Kaka     : Kakak
Uma     : Ibu
Ading    : Adik

Sumber :
Diringkas dari Pahmi Rohliansyah. Dewi Luing Indung Bunga. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2006.

Dibaca : 18.042 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password