Selasa, 2 September 2014   |   Arbia', 7 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 2.310
Hari ini : 18.528
Kemarin : 22.071
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.078.543
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Asal Mula Sumber Garam Sepang

a:3:{s:3:

Di bumi ini, secara umum kita mengenal dua jenis air yaitu air tawar dan air asin. Air tawar adalah air yang tidak mengandung banyak garam di dalamnya, sehingga air ini bisa diminum oleh manusia. Ketika menyebutkan air tawar, orang biasanya merujuk ke air yang banyak terdapat di daerah daratan seperti danau, sungai, salju dan es. Sementara, air asin adalah air yang banyak mengandung garam. Air asin sering diartikan sebagai air yang berasal dari laut atau samudera, atau lebih dikenal dengan sebutan air laut. Namun, air asin tidak selamanya berada di laut atau samudera. Adakalnya air asin juga berada di danau seperti Danau Kaspia (di Rusia), Danau Laut Mati (di daerah perbatasan Israel, Palestina dan Yordania), Danau Laut Aral (di utara Uzbekistan), dan Great Salt (di Utah, Amerika Serikat). Menurut ahli, air danau tersebut asin karena dua hal yaitu di danau tersebut terjadi penguapan yang sangat tinggi; dan air yang masuk ke danau biasanya tidak lagi mengalir ke tempat lain.

Di daerah Kalimantan Tengah, juga terdapat sejenis air asin yang tidak berada di laut dan tidak pula di danau, melainkan berada di sumber air Sepang. Menurut masyarakat setempat, keberadaan sumber air asin itu tidak berkaitan dengan faktor-faktor alamiah seperti beberapa danau yang disebutkan di atas, akan tetapi dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Sepang, Kabupaten Gunung Emas, Propinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Cerita rakyat itu mengisahkan tentang terjadinya perubahan sumber air tawar menjadi sumber air asin di Sepang. Dalam cerita rakyat itu, dikisahkan tentang seorang gadis cantik jelita yang bernama Tumbai, yang telah menolak banyak pinangan yang datang kepadanya. Ia menolak pinangan tersebut, karena belum ada peminang yang mampu memenuhi syarat yang ia ajukan. Suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan dari daerah hilir Sungai Barito untuk meminang gadis cantik itu. Kedatangan pemuda itu disambut baik oleh Tumbai dan ibunya. Kemudian, pemuda itu mengutarakan maksud kedatangannya, yakni hendak meminang Tumbai. Tumbai pun mengajukan syarat yang sama seperti pemuda-pemuda lainnya. Apa syarat-syarat yang diberikan Tumbai kepada setiap pemuda yang meminangnya? Mampukah pemuda tampan dari hilir Sungai Barito itu memenuhi syarat-syarat yang diberikan Tumbai itu? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Asal-Mula Sumber Garam Sepang berikut ini.  

* * *

Alkisah pada zaman dahulu kala, di Desa Sepang (sekarang Kecamatan Sepang), Kalimantan Tengah, hiduplah seorang janda yang bernama Emas. Ia hidup bersama dengan putrinya yang bernama Tumbai. Tumbai adalah gadis yang cantik nan rupawan. Ia juga baik hati dan sangat ramah kepada setiap orang. Setiap pemuda yang melihatnya berkeinginan untuk menjadi pendamping hidupnya. Oleh karena itu, banyak pemuda yang datang untuk meminangnya. Namun, Tumbai selalu menolak setiap pinangan yang datang kepadanya. Ibunya sangat gelisah melihat sikap Tumbai. Meskipun ibunya sudah berusaha membujuk Tumbai agar menerima salah satu pinangan, Tumbai tetap saja menolak.

Tumbai sangat mengerti kerisauan ibunya. Akan tetapi, apa yang pernah ia ucapkan tidak mungkin ditariknya kembali. Tumbai sudah bertekad keras mengajukan syarat kepada setiap pemuda yang meminangnya. Syarat itu sangat berat dan terasa mustahil untuk diwujudkan, yaitu mengubah sumber air tawar Sepang menjadi asin seperti air laut. Ibunya tidak habis pikir, bagaimana mungkin hal itu diwujudkan? Oleh karena itu, ia meminta kepada Tumbai agar syarat itu dihilangkan. “Anakku, sebaiknya kamu pikirkan lagi syarat-syaratmu itu,” kata ibunya. “Mana ada yang bisa memenuhi permintaanmu itu?” tambah ibunya mendesak. “Tidak, Ibu. Saya sudah memikirkannya siang dan malam. Begitulah petunjuk yang saya peroleh melalui mimpi. Pasti ada yang dapat memenuhi permintaan saya. Siapapun pemuda itu, dialah yang akan menjadi suami saya,” tegas Tumbai kepada ibunya.

Melihat keteguhan hati anaknya, ibu Tumbai tidak pernah menyinggung hal itu lagi. Akan tetapi hatinya tetap menyimpan kecemasan yang luar biasa. Ia khawatir anaknya tidak memperoleh jodoh, karena tidak ada pemuda yang sanggup memenuhi persyaratannya. Meskipun demikian, ibunya tidak pernah putus asa. Setiap malam ia selalu berdoa kepada Tuhan agar keinginan anaknya itu segera terkabul. “Ya Tuhan! Kabulkanlah keinginan putriku, semoga ada pemuda yang mampu memenuhi persyaratannya!” doa ibu Tumbai.

Rupanya doa ibu Tumbai dikabulkan oleh Tuhan. Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan dari daerah hilir Sungai Barito menemui Tumbai dan ibunya. Kedatangannya disambut dengan baik oleh Tumbai dan ibunya. Pemuda tampan itu kemudian mengutarakan maksud kedatangannya yaitu untuk meminang Tumbai. “Maaf, Ibu. Saya datang ke sini bermaksud untuk meminang putri ibu,” kata pemuda itu. “Wahai Tuan yang budiman, anakku tidak meminta maskawin yang mahal, tetapi ia hanya mengajukan syarat yang harus dipenuhi sebagai maskawinnya. Apakah Tuan sudah pernah mendengarnya?” tanya ibu Tumbai. “Sudah, Ibu. Bukankah putri Ibu menginginkan sumber air Sepang yang tawar itu menjadi air asin seperti air laut?” tanya pemuda itu dengan ramah. “Betul Tuan! Memang itulah yang diinginkan oleh putri saya. Apakah Tuan bersedia memenuhi syarat itu?” tanya ibu Tumbai. Pertanyaan itu membuat pemuda itu merasa tertantang. Ia pun segera menyanggupi persyaratan Tumbai. “Baiklah! Saya akan mencobanya, Ibu. Mohon doa restu Ibu agar saya dapat memenuhi permintaan putri Ibu,” kata pemuda tampan itu dengan rendah hati.

Ibu Tumbai pun mengizinkan pemuda yang terlihat baik itu untuk mencoba memenuhi persyaratan yang diajukan anaknya. “Semoga dia dapat memenuhi permintaan anakku,” kata ibu Tumbai dalam hati saat mengantar pemuda tampan itu keluar dari rumahnya. Orang-orang yang ada di kampung itu menganggapnya sebagai orang gila. Menurut mereka, mustahil ia mampu mengubah sumber air tawar di sungai menjadi sumber air asin seperti air laut. Pemuda tampan itu tidak peduli terhadap omongan orang-orang tersebut. Dengan kesaktian yang dimilikinya, ia bertekad untuk memenuhi persyaratan gadis cantik itu.

Pemuda tampan itu pun berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Ia duduk bersila di atas lempengan batu di sekitar sumber air tawar Sepang itu. Setelah ia berhari-hari berdoa, atas kekuasaan Tuhan, sumber air tawar di Sepang tiba-tiba berubah menjadi sumber air asin, seperti air laut. Semua orang yang tadinya meragukan kemampuan pemuda itu datang untuk membuktikannya. Setelah mereka mencicipi air tawar di Sepang itu, ternyata memang rasanya telah berubah menjadi asin. Kini, mereka mengakui kehebatan pemuda tampan itu yang mampu mengubah sumber air tawar di Sepang menjadi sumber air asin, seperti air laut.

Dengan demikian, terpenuhilah syarat yang telah diajukan Tumbai. Pinangan pemuda tampan itu pun diterima. Sesuai janji Tumbai, pemuda itu dibebaskan dari pembayaran maskawin. Ibu Tumbai sangat senang sekali. Kerisauannya terhadap anaknya tidak mendapat jodoh, telah  hilang. Ia sangat bangga terhadap calon menantunya yang tampan itu. Kemudian, ibu Tumbai pun mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menggelar pesta pernikahan anaknya. Tidak ketinggalan pula, para tetangga Tumbai ikut sibuk membantunya.

Akhirnya, Tumbai dan suaminya hidup bahagia dan sejahtera. Mereka hidup dengan mengusahakan sumber air asin menjadi garam. Mereka menjadi kaya-raya. Penduduk di sekitarnya juga melakukan usaha yang sama, sehingga mereka pun turut menjadi kaya-raya. Seluruh penduduk Sepang menjadi makmur dan berkecukupan.

Hingga kini, masyarakat Kahayan Hulu menganggap cerita di atas benar-benar pernah terjadi, karena air di Sungai Kahayan itu sebagian memang ada yang terasa asin.

* * *

Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan. Salah satu nilai moral yang terkandung di dalamnya yaitu sifat baik hati. Sifat ini tercermin pada sifat Tumbai yang yang ramah terhadap pemuda yang datang meminangnya. Sifat baik hati ini memang sudah menjadi fitrah manusia yang dibawa sejak lahir. Yang termasuk dalam sifat baik hati di antaranya adalah sopan santun, pemaaf, pemurah, ramah, kasih-sayang, simpati dan tenggang rasa. Adapun kekuatan sifat baik hati (the power of Kindness) adalah semua orang akan merasa senang kepada siapa pun yang memiliki sifat-sifat tersebut, seperti yang dialami oleh Tumbai dalam cerita di atas. Selain kecantikannya, ia juga disenangi oleh banyak orang, karena sifatnya yang baik hati.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang beranggapan bahwa orang yang baik hati adalah orang yang bodoh. Padahal sebenarnya, baik hati adalah etika moralitas yang paling tinggi di antara karakter manusia. Orang yang baik hati tidak serta-merta mengalami kerugian dalam hidupnya, malah sebaliknya, ia akan memperoleh imbalan rezeki. Sifat baik hati adalah salah satu sifat yang paling berharga dalam hidup manusia. Hati yang baik bagaikan emas murni, bersih dan kemilau bak sari embun. Hati yang baik pasti luas dan lapang, mampu mewadahi seluruh makhluk alam semesta, dan menciptakan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia. Orang yang baik hati seringkali membahagiakan orang lain, yang sesungguhnya juga membawa rezeki bagi dirinya sendiri. “Membantu orang lain, sama dengan membantu diri sendiri.” Perkataan ini mutlak bukan hanya berupa imbalan sebab-akibat yang sederhana, melainkan adalah fitrah manusia.  Biarkanlah kebaikan menyatu bersama jiwa, ini merupakan berkah besar bagi manusia. Asalkan terdapat kebaikan di dalam jiwa, tentu keceriaan akan sering hadir dalam kehidupan; asalkan terdapat kebaikan di dalam jiwa, dendam kesumat tidak akan pernah hadir dalam kehidupan. Dengan adanya kebaikan di dalam kehidupan, barulah jiwa bisa  membubung dengan tiada henti. Sifat baik hati adalah emas yang memancarkan sinar kehidupan yang paling mulia di dalam karakter manusia.

Orang tua-tua Melayu mengatakan bahwa sifat baik hati mencerminkan kesetiakawanan sosial yang tinggi, menggambarkan rendah hati, ikhlas, tidak pendendam, bertenggang rasa, dan berbudi luhur. Tenas Effendy dalam bukunya Tunjuk Ajar Melayu, banyak menyebutkan ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan sifat baik hati, di antaranya:

apa tanda Melayu bertuah,
pertama pemaaf, kedua pemurah

apa tanda Melayu berakhlak,
memberi maaf pantang mengelak
hati murah budinya banyak

apa tanda Melayu terpuji,
dendam mendendam pantang sekali
tangan pemurah suka memberi

Berkaitan dengan hal ini, Tenas Effendy juga menyebutkan dalam untaian syair seperti berikut:

wahai ananda kekasih ibu,
mengaku salah janganlah malu
memaafkan orang jangan menunggu
hati pemurah menjauhkan seteru

wahai ananda intan dikarang,
ikhlaskan hati memaafkan orang
dendam kesumat hendaklah buang
hati pemurah hidupmu lapang

wahai ananda sibiran tulang,
janganlah ragu memaafkan orang
sengketa habis dendam dibuang
hati pemurah dikasihi orang


* * *

(SM/sas/20/8-07)

Sumber :

  • Isi cerita disadur dari Wulandari, Ari. 2006. Asal Mula Sumber Garam Sepang. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
  • Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
  • http://id.wikipedia.org
  • http://elcom.umy.ac.id
  • http://erabaru.or.id
Dibaca : 17.460 kali.