Kamis, 17 Agustus 2017   |   Jum'ah, 24 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 2.677
Hari ini : 17.791
Kemarin : 34.114
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.005.485
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bahasa Melayu di Malaysia

1. Pengantar

Masih ingat sebuah semboyan yang masyhur di Malaysia beberapa waktu lalu Tak Melayu Hilang di Bumi? Konon, kata itu diucapkan oleh Hang Tuah sebagai punggawa kerajaan Melayu Riau-Johor. Apatah jadinya bila semboyan itu diganti menjadi Tak Malaysia Hilang di Bumi?

Malaysia saat ini memang sangat identik dengan Melayu. Salah satu suku terbesar yang menjadi warga Negara Negara itu adalah suku Melayu. Bahasa resmi negara itu juga bahasa Melayu. Lengkaplah sudah pembentukan citra Malaysia yang identik dengan Melayu. Namun rupanya kedua kata (Malaysia dan Melayu) itu tidak bisa berdiri saling menggantikan. Kalau tak percaya, mungkin sebaiknya Anda membaca kilasan singkat perjalanan bahasa Melayu di Malaysia berikut ini.

2. Deskripsi Singkat

Saat ini bahasa Melayu di Malaysia digunakan oleh lebih dari 10 juta penutur. Etnik Melayu memang menjadi mayoritas di sana (54%). Meskipun demikian, bahasa Melayu baru diresmikan kedudukannya sebagai bahasa resmi negara pada tahun 1968 M, hampir satu dekade semenjak negara itu merdeka pada tahun 1957 M.

Kekhasan bahasa Melayu Malaysia dapat kita lihat terutama pada tata ucap, morfologi dan juga kosa katanya. Tataran sintaksis memang belum terlalu mencirikan kekhasan tertentu. Tataran ini memang mengalami perubahan yang agak lambat dari tataran-tataran lainnya.

Penghilangan r di akhir kata sering dilakukan dalam bahasa ini, misalnya kotor diucapkan menjadi /koto:/, pelemahan bunyi juga terjadi pada suku kata terbuka yang terletak di akhir; /apa/ menjadi /apə/. Selain itu, morfem ber- dalam bahasa Melayu Malaysia dapat merupakan morfem pada kata kerja pasif; berjawab ‘terjawab‘. Kosa kata bahasa Melayu Malaysia juga khas; periuk api misalnya dipakai untuk ‘ranjau‘, kerajaan dipakai untuk ‘pemerintah‘. Selain itu faktor kaidah peminjaman yang agak berbeda menyebabkan bahasa Malaysia mengucapkan bus ‘bus‘, yang dipinjam dari bahasa Inggris, sebagai bas.

Untuk dialek, paling tidak di Malaysia terdapat sebelas dialek besar yang dapat digolongkan sebagai dialek Melayu: dialek Utara yang dituturkan di Pulau Pinang, Kedah, Perlis dan Utara Perak, dialek Perak sendiri yang dituturkan di Perak (di luar Utara Perak), dialek Kelantan di Kelantan, dialek Terengganu di Terengganu, dialek KL yang dituturkan di Kuala Lumpur, Selangor dan kota-kota pelabuhan, dialek Negeri yang dituturkan di Negeri Sembilan, dialek Johor di Johor, dialek Melaka di Melaka, dialek Sarawak di Sarawak dan dialek Sabah di Sabah, ditambah dengan dialek Cina peranakan yang banyak tersebar di kalangan masyarakat keturunan Cina.

Meskipun etnis Melayu merupakan etnis terbesar di Malaysia, terdapat pula beberapa etnis lain, yang tidak menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa ibu: etnis Cina (25%) dan etnis India (7.5%) misalnya, selain memiliki bahasa ibu sendiri (Cina: Mandarin, India: Malayalam, Tamil dsb) mereka juga fasih berbahasa Inggris.

3. Bahasa Melayu di Malaysia: Sejarah

Bagi bangsa Malaysia, bahasa Melayu merupakan bahasa kebangsaan atau bahasa nasional, bukan lagi bahasa etnik tertentu. Keberadaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional ini sudah berlangsung pada saat diumumkannya kemerdekaan Malaysia dalam bentuk Federasi Malaya pada tanggal 31 Agustus 1957 M. Sebab, bahasa Melayu merupakan satu-satunya bahasa nasional yang tertuang dalam undang-undang kenegaraannya. Status ini kemudian diperkuat dengan diterimanya bahasa Melayu sebagai bahasa resmi negara itu pada tahun 1968 M. Meskipun sebetulnya, pada tahun itu bahasa Inggris masih digunakan secara meluas, terutama oleh masyarakat Cina dan India.

Sebenarnya, pada tahun 1957 pemerintah (waktu itu bernama Persekutuan Tanah Malaya) sudah mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa di samping bahasa Melayu yang ditetapkan sebagai bahasa kebangsaan, bahasa Inggris boleh digunakan selama 10 tahun ke depan, yakni sampai tahun 1967 M. Namun, hal itu tidaklah mampu meredam gejolak politik beberapa tahun kemudian, yakni terjadinya tragedi pemilihan berdarah pada 13 Mei tahun 1969 M.

Akibatnya, pada awal tahun 1970-an awal, untuk mengatasi kecemburuan etnis-etnis lain di negaranya, Tun Abdul Razak pada masanya menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia mengganti nama bahasa Melayu menjadi bahasa Malaysia. Perkara 152 Perlembagaan Persekutuan (Undang-undang Federasi Malaya) memang menyebut bahasa Melayu adalah bahasa kebangsaan dan bahasa resmi Malaysia, namun perlu diingat bahwa pada waktu perundang-undangan dibuat, istilah "Malaysia" belumlah ada.

Sebetulnya, pembentukan Malaysia sendiri sudah direncanakan oleh Perdana Menteri Tanah Malaya, Tunku Abdul Rahman, pada tahun 1961. Hanya saja, usulan itu baru bisa terwujud dan menjadi kenyataan pada tanggal 16 September 1963 M. Tepat pada tahun tersebut, nama Persekutuan Tanah Malaya berganti menjadi Malaysia, yakni dengan bergabungnya Singapura dan Borneo Utara (Kalimantan bagian utara yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, kini disebut sebagai Malaysia Timur).

Kemudian Sistem ejaan baru bahasa Malaysia yang sampai saat ini masih dipertahankan, diperkenalkan dan digunakan pertama kali secara resmi sejak 16 Agustus 1972 M.

Akhirnya, pada tahun 1990 M, Bahasa Malaysia untuk pertama kalinya digunakan di dalam pengadilan resmi. Sebelumnya, pengadilan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi pengadilan. Pengalihan itu memang agak mengalami kesulitan pada awalnya, namun demi ‘mendaulatkan‘ Bahasa Malaysia sebagai bahasa resmi dan bahasa pengantar utama, pemakaian itu harus disemarakkan.

Belakangan, khususnya pada tahun 1999 pertengahan, nama Bahasa Melayu kembali diangkat ke permukaan dan dipakai. Konon, hanya istilah “Bahasa Melayu” yang sah digunakan dan diakui oleh Negara, sebagaimana dibunyikan dalam undang-undang. Hal ini tidak terlepas dari peranan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), melalui salah seorang editornya, yang mendapat dukungan politis sangat kuat dari pemerintah resmi Malaysia.

4. Kedudukan dan Fungsi

a. Kedudukan

Bahasa Melayu di Malaysia memiliki status sebagai bahasa nasional. Inilah salah satu kedudukan penting bagi bahasa Melayu Malaysia. Dikukuhkannya bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan (nasional) dan bahasa resmi tertuang pada Perkara 152 Perlembagaan Persekutuan (Undang-undang 152 Dewan Persekutuan). Perlembagaan merupakan undang-undang tertinggi di Malaysia.

Perkara 152 itu menyebut: (1) Perlembagaan Persekutuan yang menegaskan bahwa: “Bahasa Kebangsaan ialah bahasa Melayu dan hendaklah digunakan dalam tulisan yang diperuntukkan melalui undang-undang oleh Parlimen: Dengan syarat bahawa (a) tiada seorang pun boleh dilarang atau dihalang daripada menggunakan (selain bagi maksud rasmi), atau daripada mengajarkan atau belajar, apa-apa bahasa-bahasa asing; (b) tiada apa-apa jua dalam Fasal ini boleh menjejaskan hak Kerajaan Persekutuan atau hak mana-mana Kerajaan Negeri untuk memelihara dan meneruskan penggunaan dan pengajian bahasa mana-mana kaum lain dalam Persekutuan”.

Memang, Perlembagaan Persekutuan sudah mengakui kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan (nasional) dan bahasa resmi, namun penggunaannya dalam acara-acara resmi belum terlalu ditekankan. Maka, pada tahun 1963 dikeluarkanlah apa yang disebut dengan Akta Bahasa Kebangsaan, yang bermaksud mengukuhkan kembali kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi. Apabila Perkara Persekutuan tidak melarang penggunaan bahasa lain sebagai bahasa resmi selain bahasa Melayu, maka Akta Bahasa ini mengharuskan digunakannya bahasa Melayu dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat resmi atau formal.

“Rasmi ertinya apa-apa maksud Kerajaan, sama ada Kerajaan Persekutuan atau Kerajaan Negeri, dan termasuklah apa-apa maksud sesuatu pihak berkuasa awam.” Akta Bahasa Kebangsaan 1963/67

Sebelum diakui sebagai bahasa resmi, ternyata bahasa Melayu sudah dianjurkan digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan. Terbitnya Penyata Razak 1956, yang baru pada tahap mengusulkan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama dalam proses belajar-mengajar di lembaga pendidikan, akhirnya diperkuat dalam Akta Pelajaran 1961 (kini Akta Pendidikan 1996).

Jadi, kedudukan dan status Bahasa Kebangsaan itu termuat dalam:

  • Perkara 152 Perlembagaan Persekutuan
  • Akta Bahasa Kebangsaan 1963/67
  • Akta Pendidikan (asalnya Akta Pelajaran 1961)

b. Fungsi

Seperti disinggung di atas bahwa di Malaysia, bahasa Melayu mengalami perubahan nama beberapa kali. Pada awal 1970-an, Bahasa Melayu dinamakan Bahasa Malaysia atas sebab politik. Namun belakangan, nama "Bahasa Melayu" kembali digunakan. Akan tetapi perubahan nama itu ternyata masih menyimpan berbagai persoalan, sehingga berawal dari tahun 2007 M, bahasa kebangsaan Malaysia dinamai kembali dengan Bahasa Malaysia, sebagai simbol bahwa bahasa ini adalah milik semua warga, tanpa memihak pada etnis tertentu.

Setelah sempat berganti nama beberapa kali, sebagai bahasa yang diangkat menjadi bahasa negara bahasa Melayu di negara itu akhirnya berhasil memiliki lima fungsi utama,: bahasa kebangsaan, bahasa resmi, bahasa persatuan, bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa pendidikan atau bahasa pengantar.

Fungsi sebagai bahasa Kebangsaan berarti bahwa bahasa mampu menjadi pemicu rasa kebersamaan dan rasa kebangsaan dari setiap suku bangsa yang ada; Bahasa Resmi berarti, digunakan dalam acara-acara yang sifatnya resmi seperti surat-menyurat resmi, administrasi pemerintahan, sidang dan perjanjian negara; Bahasa Perpaduan dapat berupa perpaduan antaretnik, antarkaum atau keturunan, dan dapat pula sebagai perpaduan politik; Bahasa Ilmu artinya dipakai dalam bidang ilmu, sains, teknologi, komputer, saintifik, ilmiah, dan berarti pula berusaha mewujudkan bahasa Malaysia setaraf dengan bahasa Inggris; dan menjadi bahasa antarabangsa. Sementara itu Bahasa Pendidikan sama artinya dengan menggunakan bahasa itu sebagai bahasa pengantar di SD, sekolah menengah dan universitas. Bahasa Malaysia.

5. Kesimpulan

Apa yang saya singgung dalam pengantar di atas bahwa Malaysia tak bisa disamakan dengan Melayu sudah merupakan fakta sejarah. Melayu memang dulunya merupakan salah satu etnik dan bahasa di Malaysia. Dalam kasus bahasa Melayu di Malaysia, politik berperanan penting tentunya dalam mengangkat marwah bahasa Melayu. Negara secara resmi menyebut bahwa bahasa kebangsaan Negara itu adalah bahasa Melayu, bukan bahasa Malaysia. Meskipun demikian, kompromi-kompromi politik di kemudian hari menyebabkan nama bahasa Melayu diganti menjadi bahasa Malaysia. Fenomena ini mau tidak mau harus diakui sebagai bagian dari fenomena bahasa Melayu di negara itu.  

(SR/bhs/42/08-07)

Sumber:

  • www.kompas.com
  • www.geocities.com
  • www.emedia.com
  • www.bharian.com.my
  • www.heritage.gov.my
  • ms.wikipedia.org
Dibaca : 30.362 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password