Kamis, 23 Maret 2017   |   Jum'ah, 24 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 3.589
Hari ini : 35.740
Kemarin : 36.989
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.972.251
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Dari Istana ke Rakyat Jelata


Muhammad Yazid (80) memperagakan tarian Zapin tradisional

di Desa Meskom, Bengkalis, Riau, akhir Agustus lalu. Yazid termasuk
salah satu dari beberapa penari Zapin tua yang masih aktif menari.


Oleh : Ilham Khoiri

Lancang Kuning berhanyut malam
Haluan menuju ke laut dalam
Kalau nahkoda kuranglah paham
Alamat kapal akan tenggelam 

Lancang kuning berhanyut malam
Haluan menuju ke laut teduh
Kalau nahkoda kuranglah paham
Angin ribut menjadi teduh

Syair Lancang Kuning itu dilantunkan berulang-ulang. Iramanya yang mendayu-dayu sepadu dengan nada-nada gambus yang dipetik para pemanting yang duduk di atas kursi plastik di teras rumah. Ketapak suara marwas—semacam kendang kecil—yang dikeplak bocah-bocah menciptakan tempo yang rancak.

Di atas panggung kayu bersahaja di pinggir jalan, sejumlah laki-laki dan perempuan, tua dan muda, menari Zapin. Dengan badan agak membungkuk, kaki mereka membungkuk, kaki mereka membentuk langkah-langkah serentak yang seragam. Kadang mereka mundur, kali lain maju, memutar ke belakang, lalu berdiri tegak lagi.

Syair dinyanyikan berganti-ganti, dan kelompok-kelompok penari bergiliran tampil membawakan bermacam gerak tari. Saat para penari menunduk sambil menghaturkan salam takzim perpisahan, ratusan penonton bersorak riuh. Mereka berjubel memenuhi jalanan yang diterangi lampu genset.

Beberapa malam akhir Agustus lalu, Dusun Simpang Merpati, Desa Maskom, Bengkalis, Provinsi Riau, memang jadi ajang pesta rakyat. Kampung yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Bengkalis itu jadi markas program Zapin Berkampung, rangkaian festival Semarak Zapin Serantau. Para koreografer dan pemusik dari kota didatangkan untuk menyatu dalam geliat Zapin di situ, lantas berkolaborasi untuk menciptakan kreasi baru.

Akan tetapi, di luar festival pun sebenarnya Meskom tak pernah sepi dari kegiatan Zapin. Anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga orang tua bergairah untuk menghidupkan seni itu. Semuanya bisa berpartisipasi sendiri-sendiri, atau bergabung dalam sanggar-sanggar. Ada yang menari, main musik, mendendangkan syair, atau membuat alat musik gambus dan marwas.

Sejumlah pemuda kampung berlatih memetik gambus menjelang program Zapin Berkampung di desa Meskom, Bengkalis, Riau, akhir Agustus lalu. Zapin telah menjadi bagian dari budaya masyarakat kampung itu.

Zapin telah menyatu dalam kehidupan warga Meskom. Syair, ragam gerak, dan musik pengiring Zapin di pesisir pantai itu kental dengan kehidupan sehari-hari. Syair Lancang Kuning yang menceritakan nakhoda kapal tadi, misalnya populer di kalangan nelayan yang melaut setiap hari.

Lagu-lagu lain juga menggambarkan klangenan, seperti Kopi Tumpah, Pulut Hitam, Bunga Cempaka, Sayang Cik Isah, atau Sayang Serawak. Selain berbentuk syair, lagu Zapin bisa menjumput pantun, gurindam, atau talibun.

Meski televisi, film layar lebar, dangdut, organ tunggal, atau hiburan modern lain telah merambah wilayah di ujung Pulau Bengkalis itu, tetapi etos ber-Zapin tak pernah redup. Seni tradisi itu sudah jadi hiburan rakyat. Siapa pun bisa ambil bagian dalam pentas.

“Kami mencintai Zapin. Saat zaman Belanda, kami berlatih menari diam-diam karena penjajah melarang orang kumpul-kumpul,” kata Muhammad Yazid (80), penari Zapin yang belajar menari sejak umur delapan tahun.

Meskom hanyalah salah satu dari wilayah pertumbuhan Zapin di Bengkalis. Masih ada beberapa kampung lain yang punya tradisi serupa, seperti di Pulau Rupat, Teluk Latak, atau di Kota Bengkalis sendiri.

Dari Istana

Dari mana sebenarnya Zapin berasal? Banyak kalangan merujuk pada perantau Arab dari Hadramaut, Yaman. Saat berdagang sambil menyebarkan Islam di pesisir Nusantara pada abad ke-13 Masehi, mereka membawa serta Zapin Arab. Ketika agama itu makin diterima masyarakat pada abad ke-16 Masehi, Zapin pun tumbuh pesat.

Jangkauan Melayu menyebar ke pesisir pantai di seluruh Nusantara yang terjamah dakwah Islam. Zapin berkembang di Riau, Medan, Jambi, dan Palembang, juga di Jawa Timur, seperti di Surabaya, Pasuruan, Situbondo, Banyuwangi, dan Madura.

Seni ini disebut Bedanne di Lampung, Jepen di Kalimantan Timur, Jepin di Kalimantan Barat, Danna-danni di Nusa Tenggara, dan dinamakan Danna di Ambon. Tradisi Zapin juga ada di Johor, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Seni ini cepat berakulturasi dengan budaya lokal.

Menurut Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bengkalis Riza Pahlevi, Zapin Bengkalis berasal dari Kesultanan Siak, terutama saat kerajaan dikuasai sultan keturunan Arab, yaitu sejak Sultan Siak VIII (awal abad ke-19 Masehi). Kesultanan memiliki para penari tetap yang tampil untuk hiburan keluarga kerajaan.


Istana Kesultanan Siak masih berdiri gagah di pingir sungai
di Siak, Riau. Kerajaan yang dipimpin sultan-sultan keturunan Arab ini
diyakini sebagai salah satu sumber kemunculan Zapin di Riau.

Pengajar Kajian Melayu di Universitas Negeri Riau Yusmar Yusuf mengungkapkan, Zapin lama hidup di tengah istana sebagai persembahan untuk keluarga raja. Pakem tarian sangat ketat, santun, dibawakan dengan badan agak menunjuk. Gerakan tari lembut, langkah kaki dan gerak tangan rapat.

Di Siak, bahkan penari Zapin baru dianggap mahir jika permadani tempat pijakan tak bergeser selama pentas. Tarian ini hanya dibawakan oleh satu-dua-empat penari lelaki karena penampilan perempuan di panggung masih dianggap melanggar etika.

Syair-syair Zapin lama berisi puji-pujian terhadap kesultanan, sebagian menggunakan bahasa Arab. Tarian diawali dan diakhiri dengan salam takzim yang diperagakan penari dengan membungkuk seraya dua tangan menangkup sopan. Salam penghormatan itu mengdaikan, ada mahligai singgasana raja yang diberi sembah.

Saat pamor kerajaan meredup seiring dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Zapin sempat mati suri. Seni ini lantas dihidupkan kembali para seniman yang membaur dengan masyarakat. Di tengah kampung, pakem istana yang ketat menjadi lebih cair.

Jadi Jelata

Tahun 1960-an, Sapin berkembang di kalangan rakyat jelata sebagai pertunjukkan publik. Lagu-lagunya bertema kerakyatan dan berbahasa Melayu, dan sebagian tetap menyuarakan petuah agama. Tahun 1970-an, panggung mulai menerima penampilan perempuan.

Persentuhan dengan warna lokal melahirkan tampilan dan nama yang bermacam-macam. Zapin Yaumar, yang dibawakan penari hingga seperti kesurupan, mentradisi di Siak. Zapin Gelek Zagu muncul di Kepulauan Riau. Zapin Tepung di Bengkalis dan Tanjung Pinang. Di Pulau Rupat, pernah ada Zapin Api yang ditarikan sambil bermain bola api.

“Zapin semakin bersemangat egaliter, bukan milik kelompok elite atau gaya hidup kelompok elite atau gaya hidup mewah lagi. Pentas seni ini jad perencah bagi seluruh hajat yang bersifat jelata, seperti kenduri, pernikahan, atau sunatan,” kata Yusmar.

Sumber : Kompas, Minggu, 16 September 2007

Dibaca : 11.554 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password