Sabtu, 20 Desember 2014   |   Ahad, 27 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.336
Hari ini : 7.971
Kemarin : 15.138
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.476.140
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Dang Gedunai, Asal Mula Naga Di Laut Lepas

a:3:{s:3:

Benarkah “naga” itu ada di dunia ini? Pertanyaan ini memang sulit untuk dijawab. Banyak yang mengatakan bahwa keberadaan naga itu hanya merupakan hasil imajinasi manusia. Adapula yang mengatakan, naga itu hanya ada dalam legenda, tidak pernah ada dalam kenyataan. Namun, tak jarang pula yang memercayai bahwa naga itu pernah ada di dunia ini. Bahkan, selama ribuan tahun, masyarakat Cina menganggap, mereka adalah keturunan naga. Konon, anggapan ini berasal dari dongeng dan totem (binatang yang disucikan dan disembah) zaman dahulu kala. Dalam legenda itu, diceritakan bahwa sebelum Huang Di berhasil menyatukan bagian tengah Tiongkok, totemnya adalah beruang. Setelah mengalahkan Chiyou dan menyatukan Tiongkok, Huang Di mengganti totem lama menjadi totem baru yaitu totem naga. Sejak naga menjadi totem nenek moyang mereka, bangsa Tionghoa (masyarakat Cina) pun berhubungan erat dengan naga, sehingga di kalangan masyarakat muncul banyak dongeng tentang kelahiran nenek moyang mereka. Dongeng tersebut di antaranya Yan Di, Huang Di dan Yao. Dari dongeng inilah, bangsa Tionghoa berkeyakinan bahwa nenek moyang mereka merupakan keturunan “naga”.

Naga memang makhluk yang masih misterius. Hingga kini, makhluk misterius ini hanya dapat dilihat melalui gambar, lukisan, foto-foto, maupun dalam bentuk visual. Penyimbolan terhadap naga ini hampir merata di seluruh dunia. Naga disimbolkan sebagai ular yang besar dengan wajah garang, memiliki sepasang sayap dan kaki dengan cakar-cakarnya yang tajam. Namun, di Asia dan Amerika Latin, naga disimbolkan tidak memiliki sayap. Selain simbol dalam bentuk konkret (fisik), naga juga disimbolkan dalam bentuk abstrak. Di kalangan bangsa Tionghoa, naga dipercaya sebagai suatu simbol keberuntungan dan kebajikan. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa naga adalah sumber kekuatan magis yang mampu mengontrol angin, hujan, dan gerak alam raya. Bahkan, mereka meyakini bahwa naga merupakan penghubung antara manusia dengan para dewa di surga dan neraka. Jadi, jangan heran jika naga adalah shio terkuat dan paling beruntung dalam zodiak atau astrologi Cina.

Simbol-simbol yang dilekatkan pada naga tersebut menunjukkan betapa besar kekuasaan naga itu. Sampai-sampai kaisar pertama yang menyatukan daratan Cina, Chin Sin Huang Ti atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Kaisar Kuning”, oleh rakyatnya diberi gelar sebagai “Sang Putra Naga”. Ia dianggap memiliki kekuatan abstrak seperti yang disimbolkan pada naga. Dengan kekuataan itu, ia mampu menaklukkan empat negara yang semuanya masuk dalam wilayah kekuasaannya. Sebagai simbol kekuasaan, singgasananya yang terbuat dari batu giok diberi profil seekor naga yang sedang mengejar bola mustika. Demikianlah, simbol-simbol tentang keberadaan dan kekuasaan naga dalam bangsa Tionghoa.

Pertanyaannya adalah dari mana asal-mula naga itu? Jika bangsa Tionghoa dapat mengetahui tentang keberadaan naga tersebut melalui legenda, masyarakat Indragiri Hulu, Propinsi Riau, Indonesia, juga demikian adanya. Bahkan masyarakat Indragiri juga mengetahui tentang asal-mula naga tersebut yang dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat yang dikenal dengan Dang Gedunai. Dalam cerita ini, dikisahkan tentang seorang anak laki-laki yang durhaka terhadap ibunya. Orang-orang di sekitarnya memanggilnya Dang Gedunai. Bagaimana Dang Gedunai bisa durhaka terhadap ibunya? Lalu, apa yang akan terjadi pada diri Dang Gedunai? Ikuti kisahnya dalam cerita Dang Gedunai: Asal-Mula Naga di Laut Lepas berikut ini.

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Riau tersebutlah seorang anak laki-laki yang bernama Dang Gedunai. Ia adalah anak yang keras kepala. Ia selalu mengikuti kemauannya sendiri dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain.

Pada suatu hari, Dang Gedunai ikut menangguk ikan bersama orang-orang di sungai. Saat orang-orang mendapat ikan, ia justru mendapatkan sebutir telur. “Dang Gedunai! Oo... Dang Gedunai, telur apakah yang kau dapatkan itu?” tanya orang-orang mengejeknya. “Telur badak”, jawab Dang Gedunai singkat.

“Badak tidak bertelur, Dang Gedunai. Badak itu beranak. Satu anaknya,” kata seorang. “Hei Dang Gedunai, lebih baik jangan kau bawa telur itu,” kata orang lain menasihatinya. “Tapi saya suka telur ini,” bantah Dang Gedunai sambil memeluk telur raksasa itu. “Lihatlah, ukurannya besar, bentuknya juga bulat lonjong, licin, dan bersih berkilat-kilat. Kalian tidak bisa melarang aku membawa telur ini. Kalau telur ini aku tinggalkan, pasti kalian yang akan mengambilnya,” ujar Dang Gedunai.

Setiba di rumah, Dang Gedunai disambut oleh emaknya. “Telur apakah itu, Dang Gedunai?” tanya Emak Dang Gedunai. “Telur badak, Mak,” jawab Dang Gedunai. “Badak tidak bertelur, anakku. Badak itu beranak satu,” jelas Emak Gedunai. Karena telur raksasa itu bentuknya unik, Emak Gedunai penasaran ingin mengetahuinya. Ia pun memerhatikan telur itu dengan seksama. Tiba-tiba Emak Gedunai tersentak kaget. “Astaga, ini telur naga! Kau jangan sekali-sekali bermain-main dengan telur ini, apalagi memakannya. Kau bisa celaka, Annakku! Kembalikan telur naga itu ke sungai,” perintah Emak Gedunai.

“Mana mungkin naga datang ke sungai itu? Ini bukan telur naga, Mak. Saya tidak mau mengembalikan telur ini ke sungai. Saya akan memakannya,” bantah Dang Gedunai. Ia pun menyimpan telur itu baik-baik. Setiap hari Emak Gedunai selalu memperingatkan anaknya agar tidak memakan telur itu, setiap hari pula Dang Gudanai bertekad akan menyantap telur itu suatu saat nanti.

Suatu pagi, Emak Gedunai mengajak Dang Gedunai pergi ke ladang, tetapi Dang Gedunai menolak dengan alasan sakit. Sebenarnya ia tidak sakit, ia hanya mencari kesempatan agar bisa memakan telur tanpa diketahui emaknya. Ketika emaknya berangkat ke ladang, Dang Gedunai segera merebus telur itu dan memakannya. Ia tampak lahap sekali, sehingga telur itu habis semua ditelannya. “Mmm...enak sekali rasanya,” kata Dang Gedunai dengan perasaan puas. “Besok aku akan ke sungai mencari telur lagi,” gumam Dang Gedunai.

Beberapa saat setelah memakan telur itu, tiba-tiba Dang Gedunai merasa sangat mengantuk. Maka, ia pun merebahkan tubuhnya di balai-balai. Dalam sekejap, ia sudah tertidur pulas. Dalam tidurnya, Dang Gedunai bermimpi didatangi seekor naga betina yang sangat besar sedang mencari telurnya yang hilang di sungai. “Hai, Anak Muda! Kamu telah mengambil telurku di sungai dan memakannya. Siapapun yang memakan telurku, maka ia akan menjelma naga sebagai pengganti anakku”. Setelah mendengar suara itu, Dang Gedunai terbangun ketakutan. Tubuhnya bermandikan keringat dan tenggorokannya kering. Dia merasa sangat haus.

Menjelang sore, Emak Dang Gedunai pulang dari ladang. Dia melihat anaknya sedang gelisah. Dang Gedunai hilir mudik ke sana ke mari mencari air. Tampaknya dia sangat kehausan. Lidahnya terjulur-julur. Semua air dalam dandang dan tempayan telah diminumnya, tetapi dia masih kehausan. Kerongkongannya bagaikan terbakar.

“Tolong ambilkan air, Mak! Saya haus sekali,” pinta Dang Gedunai pada emaknya. “Apa yang terjadi denganmu, Anakku!” tanya emaknya penasaran. “Sudahlah, Mak!” Cepatlah ambilkan air, kerongkonganku terasa panas sekali,” desak Dang Gedunai kepada emaknya. Sekarang emaknya sudah tahu kalau Dang Gedunai telah memakan telur naga itu. Segera diberinya segayung air kepada anaknya. Sekali teguk, air itupun langsung habis. Lalu, diberinya setempayan, habis pula ditenggak Dang Gedunai. Emaknya sudah kehabisan akal. Semua air telah habis di rumahnya.

Dang Gedunai masih saja kehausan. Dia pun berlari keluar dari rumahnya dan berteriak-teriak meminta air. “Ambilkan saya air! Saya haus sekali!” ratap Dang Gedunai pada orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Orang-orang membantu memberikan air yang mereka punya. Tapi rasa haus Dang Gedunai tak reda juga. Dang Gedunai kemudian pergi ke perigi (telaga) meminum habis airnya. Emaknya yang kebingungan lalu membawa Dang Gedunai ke danau. Kering pula air danau dihirupnya. Akhirnya emaknya membawa Dang Gedunai ke sungai.

Sesampai di sungai, Dang Gedunai berkata kepada emaknya, “Mak, saya akan menghiliri sungai ini hingga ke laut lepas. Saya akan menjelma menjadi naga, Dang Gedunai namanya.” Itulah kata-kata terakhir Dang Gedunai kepada emaknya. “Dang Gedunai, Anakku? Bukankah emak telah melarangmu, Nak? Kau langgar tegahanku, dan inilah akibatnya,” kata Emak Dang Gedunai meratap, menyesali perbuatan anaknya.

Dang Gedunai telah hilang di laut lepas. Emak Dang Gedunai tak mau beranjak dari tepi laut. Dia terus menangis dan meratapi anaknya itu siang dan malam hingga airmatanya kering. Dia terus menunggu dan berharap Dang Gedunai muncul kembali.

Beberapa waktu kemudian, tampak air laut bergelombang datang memecah pantai. Seekor naga muncul ke permukaan air, mengeluarkan suara yang mirip dengan suara Dang Gedunai, “Mak, saya sudah menjadi naga. Tempat tinggalku sekarang di laut. Kalau Mak rindu kepadaku, pandanglah laut lepas. Gelombang yang datang ke pantai itu adalah jejak langkahku. Jika laut tenang, berarti saya sedang tidur. Tetapi jika laut bergelombang besar, berarti saya sedang mencari makan.”

“Dang Gedunai, Anakku …. Mohon ampunlah pada Tuhan karena telah membantah kata-kata emakmu ini. Walaupun kau telah menjadi naga, emakmu tetap menyayangimu, Nak,” Emak Dang Gedunai berseru sambil berusaha menggapai naga itu. Namun, dalam sekejap naga itu lenyap, tinggal gelombang-gelombang kecil yang memecah pantai.

Sejak peritiwa itu, para nelayan tidak berani turun melaut jika gelombang bergulung-gulung besar, karena itu berarti Dang Gedunai sedang mencari makan. Karena tubuhnya yang besar, dia memerlukan banyak makanan dan akan melahap apa saja yang ada di laut. Jika air tenang, para nelayan dapat melaut dengan aman, dan menangkap sisa-sisa ikan yang tidak termakan oleh Dang Gedunai.

* * *

Dalam cerita di atas, terdapat nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai moral tersebut di antaranya sifat keras kepala dan sifat kasih sayang. Sifat keras kepala tercermin pada sifat Dang Gedunai yang tidak mau mendengar nasihat ibunya, agar tidak memakan telur naga yang didapatnya di sungai. Karena sifat keras kepalanya itu, Dang Gedunai mendapat ganjaran atas perbuatannya yaitu menjadi seekor naga.

Sifat keras kepala adalah sifat tidak mau menerima kebenaran. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat keras kepala adalah sangat dipantangkan. Meskipun demikian, orang tua-tua Melayu tidak serta-merta menegur dan menasihati anggota masyarakatnya dengan kata-kata yang kasar. Dalam memberikan nasihat, petuah atau “tunjuk ajar‘, orang tua-tua Melayu melakukannya dengan arif dan bijaksana, agar tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Biasanya, mereka menggunakan sindiran-sindiran dengan bahasa yang terpilih, halus, dan mengandung nilai-nilai luhur yang dapat menyadarkan orang dari kekeliruannya tanpa melukai perasaannya. Tennas Effendy dalam bukunya “Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau, menyebutkan sejumlah sindiran-sindiran mengenai sifat keras kepala dalam bentuk ungkapan-ungkapan seperti berikut:

kalau tak mau mendengar nasehat,
alamat celaka dunia akhirat

kalau tak mau mendengar petuah orang,
martabat habis, marwah pun hilang

tanda orang tidak semenggah,
diberi nasihat menyanggah

Selain itu, dalam ajaran Islam juga disebutkan bahwa sifat keras kepala merupakan sifat yang tercela. Sifat keras kepala dapat diartikan sebagai orang yang tidak mau mendengar nasihat orang lain, termasuk nasihat orang tua. Bagi orang yang tidak mau mendengar nasihat orang tua, ia adalah anak yang durhaka. Sebagaimana yang terjadi pada Dang Gedunai dalam cerita di atas. Karena keras kepala, ia tidak menghiraukan nasihat emaknya untuk tidak memakan telur naga itu, maka akibatnya, ia menjelma menjadi naga. Karena besarnya akibat yang ditimbulkan dari sifat keras kepala, yakni membuat seseorang menjadi durhaka, maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan dalam sebuah hadisnya yang berbunyi, “Bukankah aku telah memberitahu kamu tentang ahli-ahli neraka? Mereka itu ialah orang-orang yang keras kepala, sombong, suka mengumpul harta, tetapi tidak suka membelanjakannya untuk kebaikan” (H.R.Bukhari Muslim). Karena sifat keras kepala ini adalah sifat tercela dan dipantangkan oleh tua-tua Melayu, sifat ini tidak dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai moral lain yang terkandung di dalam cerita di atas adalah sifat kasih sayang. Sifat ini tercermin pada sifat Emak Dang Gedunai yang sangat sayang terhadap Dang Gedunai, meskipun anaknya itu telah menjadi seekor naga. Kasih sayang adalah sifat terpuji yang dijunjung tinggi dalam kehidupan orang Melayu. Bagi mereka, berkasih sayang tidak hanya terbatas dalam ruang lingkup keluarga dan kaum kerabat, tetapi juga dalam bersahabat dan bermasyarakat. Orang tua-tua Melayu memberi petunjuk bahwa hidup terpuji dan hidup mulia adalah hidup dengan berkasih sayang antar sesama, tanpa membedakan suku, bangsa, kedudukan, pangkat, kekayaan, dan sebagainya. Oleh karena itu, sejak dini mereka mulai menanamkan rasa kasih sayang di dalam lingkungan keluarga, handai taulan, saudara-mara, masyarakat dan bangsa. Mereka mengajarkan anak-anaknya tentang kelebihan hidup berkasih sayang dengan menunjukkan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Keutamaan sifat berkasih sayang ini banyak dipaparkan oleh Tennas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” baik dalam bentuk ungkapan, syair maupun untaian pantun Melayu.

Keutamaan sifat kasih sayang dalam bentuk ungkapan di antaranya:

apa tanda Melayu jati,
kasih sayang sampai mati

apa tanda Melayu bertuah,
berkasih sayang sesama manusia

apa tanda Melayu beradat,
berkasih sayang menjadi sifat

Dalam bentuk untaian syair dikatakan:

wahai ananda intan dikarang,
hiduplah engkau berkasih sayang
janganlah suka memusuhi orang
sifat yang buruk hendaklah buang

wahai ananda tambatan hati,
hiduplah engkau kasih mengasihi
silang sengketa engkau jauhi
supaya hidupmu diberkahi Ilahi

Dalam bentuk untaian pantun dikatakan:

kalau kuncup sudah mengembang
banyaklah kumbang datang menyeri
kalau hidup berkasih sayang
hidup tenang makmurlah negeri

banyaklah benih di sudut ladang
benih berkembang buahnya lebat
banyaklah kasih disebut orang
berkasih sayang membawa rahmat

(SM/sas/26/9-07)

Sumber:

  • Diringkas dari Al Mudra, Mahyudin & Tuti Sumarningsih. 2005. Dang Gedunai: Asal-Mula Naga di Laut Lepas. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
  • Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
  • Effendy, Tennas. 1994. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bappeda Tingkat I Riau.
  • Anonim. Akidah Akhlak: Mejauhi Sifat-sifat Tercela. Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (http://ii.islam.gov.my/hadith/hadith, diakses tanggal 15 September 2007)
  • Jones, David. 2002. An Instinct for Dragons. Penerbit: Routlege. (http://ms.wikipedia.org/wiki/Naga, diakses tanggal 15 September 2007)
  • China ABC. Asal-Usul Panggilan Naga. (http://indonesian.cri.cn, diakses tanggal 15 September 2007)
Dibaca : 25.938 kali.