Selasa, 21 Februari 2017   |   Arbia', 24 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 1.916
Hari ini : 34.429
Kemarin : 23.996
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.764.540
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Maleman Qunut dan Maleman Likuran (Lombok, Nusa Tenggara Barat)

a:3:{s:3:

1. Asal-Usul

Malam-malam pada bulan Ramadhan merupakan malam-malam yang penuh dengan berkah Allah SWT. Karena hal tersebut, maka banyak cara yang dilakukan oleh umat Islam agar mendapatkan berkah Ramadhan, diantaranya adalah apa yang dilakukan oleh penganut Islam di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sebagaimana banyak ditulis dalam buku-buku yang mengkaji Islam di Lombok, bahwa secara garis besar di Lombok terdapat dua kelompok besar Islam, yaitu Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima. Kedua kelompok tersebut mempunyai tatacara yang berbeda dalam mengekspresikan pemahaman mereka terhadap Islam.

Perbedaan di antara kedua kelompok tersebut dapat dilihat, misalnya, dalam melaksanakan Shalat tarawih. Di kalangan Waktu Lima Shalat tarawih dilakukan oleh semua orang laki-laki dan perempuan, tua dan muda, orang biasa maupun tokoh agama. Setiap orang Islam boleh ikut Shalat bersama yang diselenggarakan setiap habis Shalat Isya’. Karena tarawih adalah Shalat sunnah (dianjurkan), maka tidaklah berdosa apabila ditinggalkan, tetapi karena pahala yang dijanjikan oleh Allah begitu besar maka walaupun tidak dapat hadir ke Masjid untuk melaksanakan Shalat tarawih berjamaah,  sebagian orang Waktu Lima melakukannya sendirian di rumah.

Berbeda dengan kelompok Islam Waktu Lima, kelompok Islam Wetu Telu mempunyai expresi yang berbeda dalam menyikapi anjuran melaksanakan Shalat tarawih. Kelompok Islam Wetu Telu juga melaksanakan Shalat tarawih sejak permulaan hingga akhir bulan ramadhan, hanya saja terbatas kepada para Kiainya saja dan hanya diselenggarakan di Masjid Kuno. Masjid Kuno merupakan tempat peribadatan eksklusif bagi para Kiai saja. Orang awam, pemangku dan para wanita tidak diperbolehkan ikut Shalat. Bahkan, secara khusus, wanita dilarang memasuki masjid Kuno karena darah haid para wanita dikhawatirkan dapat mengotori tempat itu. Nampaknya karena alasan tersebut orang-orang selain dari kelompok Kiai tidak melaksanakan Shalat tarawih. Bahkan tidak ada yang diperbolehkan masuk Masjid Kuno kecuali penyilak (semacam pembawa acara) yang bertugas menyampaikan tujuan suatu upacara dan seorang pria yang bertugas mengantar makanan ritual ke dalam Masjid Kuno.

Pada malam bulan Ramadhan, selain pelaksanaan Shalat tarawih, kelompok Islam Wetu Telu mengadakan ritual-ritual yang lain diantaranya adalah upacara Maleman Qunut dan Maleman Likuran. Pelaksanaan kedua upacara tersebut antara Waktu Lima dan Wetu Telu juga berbeda. Upacara-upacara yang dilakukan oleh kelompok Wetu Telu selalu diakhiri dengan acara makan-makan, sedangkan kelompok Islam Waktu Lima lebih berorientasi pada ibadah sunnah misalnya i’tikaf pada 10 hari terakhir dan sebagainya. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh kelompok Islam Waktu Lima sama dengan kelompok-kelompok Islam lainnya. Berdasarkan hal tersebut, maka fokus penulisan tata ritual Maleman Qunut dan Maleman Likuran adalah ritual yang dilakukan oleh kelompok Islam Wetu Telu.    

2. Peralatan dan Tempat pelaksanaan

Kelompok Wetu Telu melaksanaan upacara Maleman Qunut dan Maleman Likuran secara eksklusif di Masjid Kuno, sama seperti pelaksanaan tarawihnya, sedangkan kelompok Islam Waktu Lima di seluruh masjid yang ada.


Mesjid Kuno tempat dilaksanakannya Malemam Qunut dan Maleman Likuran

Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan upacara Maleman Qunut dan Maleman Likuran diantaranya adalah:

  1. Ancak adalah piring anyaman bambu yang ditutupi daun pisang. Jumlah ancak disesuikan dengan hitungan malam pelaksanaannya, misalnya malam 21 berarti dua puluh satu ancak, demikian seterusnya sampai malam ke-29 dengan dua puluh sembilan ancak. 
  2. Daun pisang sebagai penutup ancak.
  3. Lelukon ( bahan lekesan atau sesajen) ditempatkan di atas daun penutup ancak dan diikat dengan tali bamboo.
  4. Sampak adalah piring yang terbuat dari tanah.
  5. Nasi dan lauk pauknya.
  6. Ketan.
  7. Santan kelapa.
  8. Gula merah.

3. Tata Laksana/Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara Maleman Qunut dan Maleman Likuran pada hakekatnya sama, yaitu makan bersama. Oleh karena itu agar tidak terjadi pengulangan penulisan, maka dalam tulisan ini hanya akan dijelaskan pelaksanaan upacara Meleman Likuran. Namun agar semua sapek ritual ini dapat dikaji secara lebih komprehensif, maka  pelaksanaan Shalat tarawih yang didalamnya terdapat upacara Maleman Qunut dan Maleman Likuran terlebih dahulu akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Setelah  waktu Mangrib berlalu, para Kiai kelompok Islam Wetu Telu berkumpul di Masjid Kuno.
  2. Setelah semua Kiai berkumpul di Masjid Kuno, termasuk Kiai-Kiai yang bertempat tinggal jauh dari masjid, barulah Shalat tarawih dimulai. Karena hal tersebut, seringkali pelaksanaan Shalat tarawih terlambat karena harus menunggu Kiai-Kiai dari daerah yang jaraknya sangat jauh. Namun demikian, penghulu seringkali memulai tarawih kalau Kiai yang hadir dianggap sudah cukup. Karena kalau harus lebih lama lagi menunggu sampai semua orang hadir, maka konsekuensinya pelaksanaan Shalat akan sangat terlambat.
  3. Pada malam ke-16 Ramadhan, mereka mengadakan Maleman Qunut. Artinya pada Shalat witir ditambah dengan doa qunut. Setelah itu ditutup dengan acara makan bersama.

Setelah memasuki malam keduapuluh satu, kelompok Wetu Telu mempunyai dua macam ritual yaitu Maleman Likuran dan Sedekah Maleman Likuran. Adapun pelaksanaan kedua ritual tersebut adalah sebagai berikut:

a. Maleman Likuran

Memasuki malam ke-21, orang-orang Islam Wetu Telu mengadakan Maleman Likuran. Upacara tersebut diadakan pada malam-malam ganjil diantaranya Maleman Selikur (malam ke-21), Maleman Telulikur (malam ke-23), Maleman Selae (malam ke-25), Maleman Pitulikur (malam ke-27), dan Maleman Siwak Likur (malam ke-29). Pada setiap malam ganjil tersebut, masing-masing pemuka adat secara bergantian membawa ancak ke Masjid Kuno.

  • Penghulu adalah orang pertama yang membawa ancak sebanyak 21 ancak. Jumlah ancak disesuaikan tanggal malam bulan Ramadhannya, misalnya jumlah ancak 21 menunjuk pada malam ke-21 bulan Ramadhan. Setelah itu, setiap pemangku membawa ancak sejumlah Maleman Likuran tersebut.
  • Seperti biasanya para Kiai tersebut melaksanakan Shalat Isyak dan tarawih
  • Setelah selesai petugas pembawa ancak membawa masuk ancak-ancak tersebut ke dalam Masjid Kuno.
  • Selanjutnya penyilak menyampaikan maksud dari keberadaan ancak-ancak tersebut.
  • Setelah itu, para Kiai memakan suguhan yang ada dalam ancak-ancak tersebut.
  • Makanan yang tersisa mereka bawa pulang sebagai berkat.
  • Setelah pulang, maka berakhir sudah acara Maleman Likuran.

b. Sedekah Maleman Likuran

Malam likuran pada bulan Ramadhan dengan bilangan genap (22, 24, 26, dan 28) juga dirayakan dengan makan bersama oleh para Kiai. Perayaan ini disebut Sedekah Maleman Likuran. Suguhan dalam upacara, sampak, ini disediakan secara bergantian oleh para tokoh adat. Sampak berisi segala macam makanan manis yang terbuat dari ketan, santan dan gula merah. Sedekah Maleman Likuran sama dengan pelaksanaan Maleman Likuran dan makan bersama menandai perayaan ritual Sedekah Maleman Likuran sudah berakhir.

4. Nilai-Nilai

Selama malam bulan Ramadhan, masyarakat Muslim Lombok kelompok Wetu Telu sedikitnya melaksanakan dua ritual, yaitu Maleman Qunut dan Maleman Likuran. Jika diamati, pelaksanaan ritual-ritual tersebut sangat kental nuansa lokalitasnya, misalnya keberadaan lelukon. Oleh karena itu, dapat dikatakan, perayaan ritual yang diselenggarakan selama bulan puasa, disamping untuk memakmurkan bulan Ramadhan juga untuk mengikuti kebiasaan dan untuk melestarikan tradisi para leluhur. Perayaan-perayaan tersebut merupakan bagian penting dari penganut Islam Wetu Telu di Lombok. Lebih jauh, pelaksanaan ritual tersebut menunjukkan adanya perbauran antara tradisi Islam dengan tradisi lokal masyarakat Lombok. Dengan kata lain, bentuk ritual Maleman Qunut dan Maleman Likuran merupakan hasil dari pemahaman terhadap nilai-nilai Islam dengan menggunakan paradigma lokal.    

Pelaksanaan Meleman Qunut merupakan ritual yang menandai keberhasilan melalui separuh bulan puasa. Mereka mensyukuri terpeliharanya kerukunan dan harmoni sosial. Lebih jauh, nampaknya ada keterkaitan antara Maleman Qunut yang diadakan kelompok Islam Wetu Telu dengan peringatan malam Nuzulul Qur’an yang diadakan kelompok Islam lainnya.

Sedangkan pelaksanaan Maleman Likuran adalah upaya untuk mendapatkan malam lailatul qodar (malam seribu bulan) seperti yang dipahami kelompok Islam Waktu Lima. Biasanya pada 10 malam terakhir, umat Islam dianjurkan untuk berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan ini nampaknya yang menjadi tujuan dari kelompok Islam Wetu Telu. Pelaksanaan ritual Maleman Qunut dan Maleman Likuran, dengan demikian, merupakan bentuk pemahaman lain terhadap malam-malam bulan Ramadhan. (AS/bdy/04/09-07)   

Sumber :

  • Erni Budiwanti, 2000, Islam Sasak, Wetu Telu versus Waktu Lima, LKIS, Yogyakarta.
  • Wetu Telu, Kearifan Tradisional di Lereng Utara Rinjani, dalam http://impalaunibraw.or.id/dat/detail.php?id=12_0_1_0_M, diakses tanggal 21 September 2007

Kredit foto : http://impalaunibraw.or.id/dat/detail.php?id=12_0_1_0_M

Dibaca : 13.562 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password