Senin, 29 Mei 2017   |   Tsulasa', 3 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 13.028
Hari ini : 100.042
Kemarin : 92.690
Minggu kemarin : 704.729
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.490.068
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Masalah Rekonstruksi Bahasa Induk (Melayu Purba)

1. Pengantar

Sebelum bahasa dituliskan, sebelum sejarah dicatat, saat itu pasti telah ada bahasa meski hanya berbentuk lisan. Sebab, bahasa yang terdapat dalam tradisi tulis tidaklah lahir dari tiada. Tetapi telah mantap terlebih dahulu dalam bahasa lisan sebelum menjelma menjadi sebuah bahasa yang dituliskan, ketika alat tulis ditemukan. 

Kridalaksana bahkan berasumsi bahwa bukan tidak mungkin bahasa yang telah ada itu memiliki kompleksitas yang tidak jauh berbeda dengan bahasa yang ada sekarang. Meski Kridalaksana tidak menjelaskan alasannya, hal ini tetap menguatkan betapa sejarah bahasa telah berjalan begitu panjang.

2. Bahasa Purba, Apa Itu?

Rohaedi menyebutkan bahwa Bahasa Purba lebih tepat dianggap sebagai bahasa duga atau bahasa yang pada bahasa lampau diduga bentuknya memang demikian.

“Bahasa purba hampir tidak pernah digunakan. Bahasa purba lebih sesuai disebut sebagai bahasa duga, yaitu bahasa yang wujudnya pada masa lampau diduga memang demikian.” (Rohaedi, 2007:100)

Blust mengemukakan bahwa dalam tradisi Linguistik Historis Komparatif (ilmu yang mempelajari sejarah masa lampau bahasa-bahasa), Bahasa Purba (a proto-language) memiliki definisi sebagai berikut:

“a proto-language is a hypothetical ancestor of a group of attested languages which is inferred, or “reconstructed”, on the basis of systematic similarities among its attested descendants or “daughter languages””.

“Bahasa purba adalah sebuah bahasa hipotesis induk dari sejumlah bahasa yang terbukti berkerabat, yang disimpulkan atau direkonstruksi berdasarkan perbedaan-perbedaan sistematis dari bahasa-bahasa yang berkerabat itu.”

Di sini, Blust berpendapat bahwa Bahasa Purba dapat direkonstruksi atau dihasilkan dengan melihat perbedaan-perbedaan sistematis dari bahasa-bahasa yang ada sekarang, yang diasumsikan berkerabat. Artinya bahasa ini merupakan bahasa asumsi yang dihasilkan atas dasar asumsi (kekerabatan) pula.

3. Ciri-ciri Bahasa Purba

Berangkat dari apa yang dikatakan kedua ahli di atas dan lainnya, dapat disimpulkan bahwa setidaknya Bahasa Purba memiliki lima ciri berikut:

a. Merupakan bahasa duga

Karena pada hakikatnya wujud asli dari bahasa induk tidak bisa diteliti, sebab hanya berupa data lisan yang tidak mungkin diperoleh lagi. Para peneliti tidak kehabisan akal, dengan meneliti bahasa-bahasa yang berkerabat pada saat ini mereka bisa menyimpulkan sebuah bahasa duga, yang dianggap merupakan bahasa induk dari bahasa-bahasa yang ada dalam kerabat itu.

b. Bukan merupakan bahasa tulis

Bahsa Purba memang disyaratkan bukan merupakan bahasa tulis, dan syarat itu tentu sangat wajar. Bahasa yang sudah memiliki tradisi tulis tidak dapat lagi dikatakan sebagai bahasa purba, karena sudah memiliki sejarah, sehingga dengan demikian sudah dapat dianalisis berdasarkan temuan itu, bukan berdasarkan perbedaan-perbedaan sistematis bahasa-bahasa sekarang. 

c. (Tidak mustahil) amat kompleks

Kompleksitas bagi Bahasa Purba bukan merupakan sesuatu yang mustahil, karena bahasa yang ada sekarang masuk ke dalam tradisi tulis dapat diperkirakan sudah melewati tahapan yang cukup kompleks sebagai bahasa lisan.

d. Hampir tidak pernah digunakan karena merupakan bahasa duga dari bahasa yang ada sekarang

Ciri hampir tidak pernah digunakan bagi Bahasa Purba tidaklah mengada-ada, karena bahasa purba hanya dapat diperoleh melalui penelitian terhadap bahasa tulis yang sudah menjadi bahasa Kuno atau;   

e. Merupakan rekonstruksi dari ahli bahasa (ahli Linguistik Historis Komparatif)

Rekonstruksi dilakukan berdasarkan bahasa-bahasa yang ada sekarang, setelah adanya suatu kesimpulan bahwa bahasa-bahasa yang dijadikan dasar untuk membuat rekonstruksi itu berkerabat.

Perlu diingat pula bahwa tujuan dari rekonstruksi bahasa purba ini adalah pertama untuk membuktikan kekerabatan dari bahasa-bahasa yang ada pada saat sekarang, dan kedua untuk dapat melakukan rekonstruksi terbalik atau rekonstruksi dari atas ke bawah (top-down) terhadap bahasa-bahasa berkerabat itu.

4. Bahasa Tulis

Lebih lanjut Kridalaksana menjelaskan bahwa melakukan rekonstruksi berdasarkan bahasa-bahasa berkerabat yang telah terpisah-pisah, hanya salah satu cara untuk menemukan Bahasa Purba. Cara lain untuk melakukan rekonstruksi tersebut adalah berdasarkan bahan-bahan tertulis. Bahasa tulis, bagi Kridalaksana, sangat penting dalam rekonstruksi Bahasa Melayu Purba. 

5. Rekonstruksi Bahasa Melayu Induk: Sebuah Masalah

Bahasa Melayu berasal dari bahasa Melayu Polinesia dan sekarang disebut rumpun bahasa Austronesia. Bahasa-bahasa Melayu Polinesia dibagi menjadi Melayu Polinesia Timur dan Melayu Polinesia Barat, yang kemudian disebut sebagai bahasa Nusantara. Rohaedi menyatakan bahwa Brandes telah membuktikan, di masa lampau bahasa-bahasa Polinesia Barat berasal dari satu induk. Bersama dengan bahasa Melayu Polinesia Timur, bahasa Melayu Polinesia Barat masuk rumpun bahasa Melayu Polinesia (sekarang lebih populer dengan sebutan bahasa Austronesia).

Rekonstruksi terhadap rumpun bahasa Austronesia, yang menurunkan bahasa Melayu, telah pernah dilakukan, dan dianggap berhasil oleh ahli-ahli linguistik komparatif (meski dengan berulangkali mendapat penyempurnaan-penyempurnaan). Sementara itu rekonstruksi terhadap bahasa Melayu Induk baru dilakukan beberapa tahun terakhir ini. Pertama adalah apa yang dilakukan oleh Adelaar (1985) yang mencoba menyusun rekonstruksi terhadap bahasa Melayu Induk berdasarkan enam isolek, antara lain; Isolek Melayu Baku, Isolek Minangkabau, Isolek Banjar Hulu, Isolek Serawai, Isolek Iban dan Isolek Jakarta. Memasukkan Isolek Iban dan Isolek Minangkabau menyebabkan Adelaar menyebut bahasa proto yang ia rekonstruksi sebagai Malayik Proto (Proto-Malayic), bukan Melayu Proto (Proto-Malay), karena kedua isolek tersebut (Iban dan Minangkabau) tidak lagi termasuk ke dalam rumpun Melayu, tetapi sudah masuk ke dalam rumpun Malayik. Yakni satu tingkat di atas rumpun Melayu.

__________

Bahasa-bahasa Malayik versi Dyen, yang nantinya membentuk Malayik Proto (Proto-Malayic)

(1) Malay
  Minangkabau
  Kerinci
  Middle Malay
(2) Selako
  Iban
(3) Sundanese
  Maloh
  Rejang
(4) Achinese
  Cham
  Jarai
Dikutip dari Nothofer (1988)

__________

Dalam penelitiannya di atas, Adelaar menyatakan telah melakukan rekonstruksi fonem, struktur kata, leksikon dan afiks. Selain itu, Adelaar juga melakukan hipotesis terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari Melayu Polinesia Purba (MPP) ke Melayik Purba (MP).

6. Dua Langkah Blust:

Apa yang dilakukan oleh Adelaar ini memang mengikuti apa yang disarankan oleh Blust. Dalam salah satu tulisannya, Blust sempat menyebut bahwa ada dua langkah yang dapat dilakukan dalam rangka melakukan rekonstruksi terhadap bahasa Melayu Proto (Melayu Purba): (1) menentukan bahasa-bahasa yang memiliki hubungan, (2) membuat perbandingan yang sistematis antara bahasa-bahasa tersebut. Masih menurut Blust, penentuan mana-mana bahasa-bahasa yang diambil juga masih menimbulkan masalah; yakni penguraian proses fonologis, morfologis memerlukan uraian-uraian yang tidak ringkas.

7. Collins

Sedangkan rekonstruksi yang kedua diupayakan oleh Collins (1986). Kridalaksana menerangkan, Collins tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa upayanya itu untuk merekonstruksi Bahasa Melayu Purba. Yang dilakukan Collins hanyalah menjelaskan bahwa fonem tertentu dalam beberapa dialek Melayu merupakan turunan dari fonem Austronesia Purba (rekonstruksi dari atas ke bawah/top-down). Collins meneliti fonem-fonem dalam dialek regional Bahasa Melayu.

8. Kritik Kridalaksana

Kritik tajam datang dari Kridalaksana terhadap apa yang dilakukan oleh terutama Adelaar dan Collins. Penelitian kedua ahli ini dinilai telah melupakan satu hal penting, yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja dalam rangka melakukan rekonstruksi Bahasa Purba. Bahwa meskipun hanya bersifat sebagai bahasa duga, Bahasa Purba harus juga memperhatikan bahasa Melayu Kuna yang pernah ada, dan terbukti dipakai pada prasasti-prasasti dan peninggalan kuna lainnya. Bagi Kridalaksana, rekonstruksi terhadap Bahasa Purba tidak bisa dengan hanya mengandalkan dialek-dialek “semasa”, seperti yang dilakukan oleh kedua ahli itu, tetapi juga harus memanfaatkan bahasa Kuna yang pernah dipakai. Namun demikian, jasa kedua ahli tersebut tetap tidak sia-sia karena hasil penelitian mereka berdua dapat dimanfaatkan untuk membuat perbandingan antara dialek-dialek regional Melayu.

9. Adelaar: Beberapa Contoh

Agar pemahaman kita lebih komprehensif mengenai rekonstruksi Bahasa Melayik Purba yang pernah dilakukan Adelaar, berikut beberapa contoh yang dapat disebutkan:

Fonologi: vokal

*a > MB, BH, IBN a MIN a/o/e, SWI a/-o, JKT a/-è
*@ kedua dari akhir > MB. SWI, IBN, JKT @. MIN, BH a
*@ silabe akhir > MB, BH, SWI, IBN a, MIN a/o/e, JKT @
*i > BH, IBN i, MB i/e, MIN i/iẽ/e, SWI i/ie, JKT i/é/è
*u > BH, IBN u MB u/o, MIN u/uẽ/uy/o, SWI u/ uẽ/o

Dibaca
:

Baris pertama: fonem *a dalam Melayik Purba menurunkan fonem a dalam Melayu Baku, Banjar Hulu dan Iban; menurunkan fonem a/o/e dalam Minangkabau; menurunkan a/-o dalam Serawai dan menurunkan a/-è dalam Jakarta, dan seterusnya.

(Adelaar, 1994: 53)

Leksikon: waktu, mata angin

*pagi  direkonstruksi dari semua isolek kecuali BH, yang memakai ba/isuk/an

*timur  direkonstruksi dari MB, BH, SWI dan IBN dan timue dalam MIN. SWI  kemungkinan meminjam istilah ini; mungkin juga isolek-isolek lain meminjam dari MB. Sementara itu MPP memiliki bentuk *hatimuR. Kata ini lebih merupakan turunan dari MPP, dan masih dicerminkan setidak-tidaknya dalam MB. 

(Adelaar, 1994: 173&176)

Bilangan:

MB MIN BH SWI IBN JKT MP
suatu, (@)sa, s@- cie?, sa- asa, sa- so, sa sa?, s@- (s)atu, s@- *@sa?, *sA-
dua duo dua duo dua duè *dua(?)
 

*=lambang asteris (MP), MB=Melayu Baku, BH=Banjar Hulu, IBN=Iban, MIN= Minangkabau, SWI= Serawai dan JKT=Jakarta.

(Adelaar, 1994: 177)

10. Kesimpulan

Bentuk bahasa Melayu sebelum abad ke-16 belum tersentuh. Sementara ini, para peneliti cenderung mengabaikan bentuk-bentuk bahasa tulis yang secara nyata dipergunakan pada masa lampau. Meskipun pernah dilakukan, hal itu terbatas pada bentuk bahasa yang dipergunakan dalam naskah-naskah kuno. Bertumpu pada temuan-temuan naskah Melayu yang umumnya berasal dari abad ke-16 dan sesudahnya.  

Dalam studi Austronesia pernah diusahakan rekonstruksi bahasa purba atas dasar dialek pada masa sekarang, yakni oleh Adelaar (1985) dan Collins (1986).

(SR/bhs/45/09-07)

Sumber :

  • Adelaar, K. A. “More on Proto-Malayic” dalam Rekonstruksi dan Cabang-cabang Melayu Induk (Penyusun Mohd Thani Ahmad & Zaini Mohamed Zain). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
  • Adelaar, K. Alexander. 1994. Bahasa Melayik Purba Rekonstruksi Fonologi dan Sebagian dari Leksikon dan Morfologi. Jakarta: RUL
  • Blust, Robert. 1988. “Malay Historical Linguistics: A Progress Report” dalam Rekonstruksi dan Cabang-cabang Melayu Induk (Penyusun Mohd Thani Ahmad & Zaini Mohamed Zain). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
  • Kridalaksana, Harimurti. 1988. “Masalah Metodologi dalam Rekonstruksi Bahasa Melayu Purba” dalam Rekonstruksi dan Cabang-cabang Melayu Induk (Penyusun Mohd Thani Ahmad & Zaini Mohamed Zain). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
  • Nothofer, Bernd. 1988. “A Discussion of Two Austronesian Subgroups: Proto-Malay and Proto-Malayic” dalam Rekonstruksi dan Cabang-cabang Melayu Induk (Penyusun Mohd Thani Ahmad & Zaini Mohamed Zain). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
  • Roahedi, Ajat. 2007. “Bahasa Melayu: Jejak Sejarah” (dalam Masyarakat Melayu, Budaya Melayu dan Perubahannya editor Heddy Shri Ahimsa-Putra). Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa.

Lampiran:

Kelompok Bahasa-bahasa Jawa-Sumatra (Javo-Sumatra-Hesion) versi Dyen:

1. Malayic Hesion

a. Malayic Subfamily

- Malay
- Minangkabau
- Kerinci

b. Madurese
c. Achinese
d. Lampungic Subfamily
e. Lampung
f. Kroe

2. Sundanese
3. Javanese

Dikutip dari Nothofer (1988)

Dibaca : 20.429 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password