Rabu, 22 Februari 2017   |   Khamis, 25 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 3.960
Hari ini : 16.614
Kemarin : 51.860
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.769.908
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bahasa Melayu Masa Peralihan dalam Pengaruh Bahasa Arab

1. Pengantar

Ajaib memang, bukti awal masuknya Islam ke bumi Melayu adalah sebuah nisan. Tentu saja bukan nisan biasa, tetapi nisan yang berasal dari masa kurang lebih delapan abad silam. Abad ke-13 Masehi. Nisan itu sendiri ditemukan di Minye Tujoh (Sumatera Utara, Indonesia). Sebuah nisan, yang kemudian disebut sebagai prasasti Minye Tujoh, sesuai dengan tempatnya ditemukan.

Isi prasasti Minye tujoh:

R.O Winstedt (1972: 185) dalam Fauziyah (2005)

  1. Hijrah nabi Mungstapa yang Prasaddha
  2. Tujuh ratus asta puloh savarssa
  3. Hajji catur dan dasa varsa sukra
  4. Raja Iman (vara) di rahmat Allah
  5. Gutar Bahasa Pihak Kedak Pasema
  6. Illah ya rabbi Tuhan samuha
  7. Taroh dalam svargga Tuhan tatuha
  8. Munstapa, (Arab; Mustafa), Hijrah, nabi, prasadda

Arti:

  1. Setelah hijrah Nabi, kekasih yang telah wafat.
  2. Tujuh ratus delapan puluh satu tahun.
  3. Bulan Dzullhijjah 14 hari, hari jumat.
  4. Raja Iman rahmat Allah bagi Baginda (warda).
  5. Dari keluarga Bara basa mempunyai hak atas Kedah dan Pasai.
  6. Menaruk di laut dan darat semesta.
  7. Ya Illahi, ya Tuhanku semesta.
  8. Masukkanlah baginda ke dalam surga Tuhan.

Fauziah melanjutkan:

“Kalau kita perhatikan kutipan di atas adalah merupakan bentuk syair yang terukir di batu nisan. Kata-katanya telah bercampur dengan kata-kata Arab di samping kata-kata dalam bahasa Sansekerta. Tulisan tersebut merupakan doa untuk raja Pasai yang telah meninggal pada tahun 1380 Masehi.

Orang-orang di India Selatan (pantai Coromondel) telah masuk Islam terlebih dahulu. Alasannya, nisan Malikul Saleh berasal dari Kembayat (Cayat). Ada sastra Islam yang tidak kita terima secara langsung dari Timur Tengah dan masuk ke alam Melayu melalui resensi India.”

2. Kapan dan Bagaimana Pengaruh Bahasa Arab terhadap BM?

Masa sejak awal abad ke-13 Masehi sampai penghujung abad ke-15 Masehi dalam khazanah kesusastraan Melayu disebut masa peralihan, yaitu masa peralihan dari peradaban Hindu ke peradaban Islam. Dengan masuknya peradaban Islam, orang Melayu mulai mengenal tradisi tulis. Sebelumnya, mereka hanya memiliki tradisi lisan dalam berkesusastraan.

Pada dekade akhir abad ke-13 Masehi, pengaruh bahasa Sansekerta berangsur surut di bumi Melayu. Pengaruh tersebut mengalami masa surut semenjak meredupnya pengaruh Sriwijaya di pulau Sumatera. Lambat-laun pengaruh Sansekerta kian lemah sampai akhirnya kalah oleh pengaruh bahasa Arab, yang mulai merebak pada awal-awal abad ke-14 Masehi.

Masuknya agama Islam ke bumi Melayu pada abad 13 Masehi membuka jalan bagi masuknya pengaruh bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Menurut Collins, Pengaruh bahasa Arab ini mulai terasa dengan diserapnya unsur-unsur leksikal dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu, meski pada masa itu belum seberapa banyak. Berdasarkan penanggalan-penanggalan yang ditemukan pada beberapa prasasti, bukti tertua dari pengaruh bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu masih berasal dari abad ke-13 Masehi ini.  

Abad ke-14 Masehi merupakan pergulatan bagi dua peradaban besar yang hadir di bumi Melayu. Pengaruh Islam mulai menyusup dan membawa serta bahasa Arab, waktu itu pengaruh Hindu masih bisa bertahan selama hampir satu setengah abad kemudian. Sayangnya, tidak banyak bukti sejarah baik prasasti maupun manuskrip yang menyatakan tentang keadaan kebahasaan Sansekerta pada masa pergulatan ini. Keadaan ini menurut Muhadjir disebabkan oleh satu dari dua hal, pertama memang tidak gemarnya para penutur bahasa Melayu ketika itu mendokumentasikan karya atau apa saja melalui tulisan; kedua, bukti-bukti itu dihilangkan oleh orang-orang sesudahnya. Tapi yang jelas, pengaruh Sanskerta kian hari kian melemah.

Meskipun demikian, hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Fauziah yang menyebut masa ini sebagai masa peralihan. Sebab, pada abad ke-15 Masehi, kerajaan Melayu di Malaka telah masuk Islam. Dalam perkembangannya, Kerajaan Melayu ini pun berperan sebagai pusat penyebaran Islam. Selain kerajaan Malaka, Kerajaan Pasai di Aceh juga masuk Islam, sehingga kedua kerajaan ini bahu-membahu menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara. 

Demikianlah, sejarah telah membawa literasi Arab ke bumi Melayu yang melahirkan tulisan Jawi (Arab-Melayu atau Arab Pegon). Banyak bukti bahwa tulisan Jawi ini telah dipakai sejak lama di bumi Melayu. Sebuah prasasti tertua yang menggunakan tulisan Jawi ini bahkan berasal dari tahun 1303 Masehi, berpuluh-puluh tahun sebelum tahun yang tercantum pada nisan Minye Tujoh. Prasasti Melayu awal abad 13 Masehi itu disebut Prasasti Trengganu.

Kata-kata Arab di prasasti Trengganu cukup banyak. Bahkan prasasti yang ditemukan di Ulu Terengganu (sekarang masuk ke dalam Negeri Terengganu Darul Iman, Malaysia) ini berisi tentang ditegakkannya hukum Islam di negeri itu pada masa prasasti tersebut dibuat.

Namun demikian, pengaruh bahasa Sansekerta masih cukup kuat pada bahasa Melayu kala itu. Terbukti dengan ditemukannya kata-kata asal dari Sansekerta lebih banyak dari kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Seorang Paterson, menurut Collins, menghitung, jumlah kosakata Sansekerta dua kali lebih banyak dari kosakata Arab. Satu kata yang cukup khas Sansekerta adalah kata Dewata Mulia Raya untuk menyebut Tuhan, yang dalam Melayu Modern sering digantikan dengan kata Allah, pinjaman dari bahasa Arab.

 prasasti terengganu Gambar 1.
Prasasti Terengganu
Tampak dari Sisi A

 prasasti terengganu Gambar 2.
Prasasti Terengganu
Tampak dari Sisi B

 prasasti terengganu Gambar 3.
Prasasti Terengganu
Tampak dari Sisi C
 prasasti terengganu Gambar 4.
Prasasti Terengganu
Tampak dari Sisi D

Beberapa butir isi prasasti yang terpengaruh oleh bahasa Arab:

Sisi A:

  1. Rasul Allah dengan yang orang …. bagi mereka ……..
  2. ada pada Dewata Mulia Raya beri hamba meneguhkan agama Islam
  3. dengan benar bicara darma meraksa bagi sekalian hamba Dewata Mulia Raya
  4. di benuaku ini penentu agama Rasul Allah salla‘llahu ‘alaihi wa sallama Raja
  5. mandalika yang benar bicara sebelah Dewata Mulia Raya di dalam
  6. bhumi. Penentua itu fardlu pada sekalian Raja manda-
  7. -lika Islam menurut setitah Dewata Mulia Raya dengan benar
  8. bicara berbajiki benua penentua itu maka titah Seri Paduka
  9. Tuhan mendudukkan tamra ini di benua Terengganu adipertama ada
  10. Jum‘at di bulan Rejab di tahun sarathan di sasanakala
  11. Baginda Rasul Allah telah lalu tujuh ratus dua…

Sisi B: sisi ini tidak mengandung kosakata yang berasal dari bahasa Arab.

Sisi C: sisi ini tidak mengandung kosakata yang berasal dari bahasa Arab.

Sisi D: sisi ini tidak mengandung kosakata yang berasal dari bahasa Arab.

3. Manuskrip

Manuskrip Melayu tertua, yang ditulis tahun 1521 dan 1522 Masehi dengan menggunakan tulisan Jawi, berada di Ternate. Manuskrip ini merupakan surat yang ditulis oleh raja Ternate kepada raja Portugis. Dalam surat itu, ia memberitahukan berbagai informasi penting kepada Portugis, di antaranya gejolak politik yang terjadi di kerajaan tetangga; kerajaan Tidore. Raja yang menulis surat ini bernama Sultan Abu Hayat, dan surat itu sendiri ditulis dalam tulisan Jawi serta menggunakan bahasa Melayu. Kata Blagden yang dikutip oleh Collins, isi dari surat itu masih bisa dimengerti meskipun gaya bahasa yang digunakannya agak berbeda dari bahasa Melayu pada umumnya.

Dalam proses pengolahan

Gambar 5
Surat Raja Ternate yang Ditulis dalam bahasa Melayu dan huruf Jawi

Ditulisnya surat ini dalam bahasa Melayu tentu saja memiliki tujuan-tujuan tertentu, terutama diplomatik. Hal itu mengingat raja Ternate sendiri bukan orang Melayu, tetapi orang Ambon yang menggunakan bahasa Melayu. Namun, justeru di sinilah letak keanehannya seperti yang dikatakan Collins. Tapi setidaknya hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan dan betapa luasnya pengaruh bahasa Melayu ketika itu, sehingga bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa diplomatik dalam skala internasional dan dituliskan dalam tulisan Jawi, bukan tulisan latin meskipun ditujukan kepada raja Portugis. Betapa pengaruh Arab melalui tulisan Jawi ini begitu meresap dan mengakar ke dalam bahasa Melayu hingga aksara tersebut juga digunakan oleh “orang Ambon” yang berbahasa Melayu.  

Kedua bukti di atas hanyalah permulaan dari rentetan sejarah pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Melayu yang begitu panjang. Di penghujung abad ke-16 pula diperkirakan Sulalatussalatin (The Malay Annals), sejarah raja-raja, ditulis di Aceh. Judulnya sangat jelas dari bahasa Arab. Berbagai karya dalam bahasa Melayu maupun terjemahan diciptakan dalam abad ini. Aqaid yang berisi tentang tulisan-tulisan teologis ditulis tahun 1590 Masehi, juga ada naskah tatabahasa Arab yang berasal dari tahun 1582. Manuskrip koleksi Erpenius menggunakan tulisan Jawi, yang dikumpulkan di Aceh pada permulaan abad ke-17. Koleksi tersebut diperkirakan  berasal dari akhir abad ke-16 atau sezaman dengan karya-karya Hamzah Fansuri, yang biasanya dipercaya diciptakan sebelum tahun 1590 Masehi di Baros, barat laut Sumatra. Salinan naskah Hamzah Fansuri berisi tentang catatan sejarah, konflik pribadi dengan Nuruddin al-Raniri, seorang ulama yang jua memiliki berbagai karya penting bagi penyebaran Islam dan bahasa Melayu.

Tepat setahun menjelang masuknya abad ke-17 Masehi, seorang Raja Brunei yang ibukota negerinya diporak-porandakan oleh pasukan Spanyol akhirnya menulis surat berbahasa Melayu kepada Raja Spanyol pada 1599 Masehi. Surat ini merupakan bukti terakhir dari keadaan bahasa Melayu menjelang masuknya masa keemasan bahasa Melayu pada abad ke-17 Masehi, di samping catatan yang ditulis oleh seorang saudagar Belanda, De Houtman, yang sempat ditahan di Aceh pada tahun yang sama.

Akhir abad ke-16 merupakan titik pisah antara Melayu Kuna dengan Melayu Klasik, atau akhir masa Melayu Peralihan, ditinjau dari kacamata sejarah kesusastraan. Namun, kapan batas perpisahan yang tepat antara bahasa Melayu Kuna dan bahasa Melayu Klasik tidak dapat ditentukan secara tepat, karena perpisahan tersebut tidak serta-merta terjadi dan cenderung berlangsung lamban sebagaimana perubahan bahasa pada umumnya.

4. Kesimpulan

Pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Melayu berlangsung secara bertahap, awalnya pengaruh itu lemah tapi seiring dengan menguatnya agama Islam lambat laun menjadi semakin kuat, hingga menggeser dominasi bahasa Sansekerta dan akhirnya memarjinalisasi pengaruh dari bahasa yang dibawa oleh peradaban Hindu itu.

Kuatnya pengaruh bahasa Arab ini berlanjut sampai pada masa Melayu Klasik, hal yang membuat Liaw Yock Fang, yang dikutip oleh Fauziah, berpendapat bahwa tidak ada hikayat Melayu yang tidak terpengaruh oleh bahasa Arab.

(SR/bhs/46/09-07)

Sumber:

  • Roahedi, Ajat. 2007. “Bahasa Melayu: Jejak Sejarah” (dalam Masyarakat Melayu, Budaya Melayu dan Perubahannya editor Heddy Shri Ahimsa-Putra). Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa.
  • Fauziah. 2005. Keberadaan Aksara Arab dalam Kesusastraan Melayu.  Medan: Universitas Sumatera Utara.
  • Fauziah. 2006. Unsur-unsur Bunyi Kata-kata Serapan dari Bahasa Arab dalam Bahasa Melayu Deli.  Medan: Universitas Sumatera Utara.
  • Anonim. 2007. “Prasasti Terengganu”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Terengganu, 26 September 2007). Muhadjir. 2000. Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Collins, James T. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia Sejarah Singkat (penerjemah Evita Elmanar). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Fauziah. 2006. Perubahan Makna Leksikal Kata Kerja Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Lampiran:

Klasifikasi Kata Serapan dari Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Penelitian Fauziah (2006) mengenai Perubahan Makna Leksikal Kata Kerja Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab menyebutkan bahwa terdapat 94 kata leksikal yang telah dipinjam dari bahasa Arab oleh bahasa Indonesia.  Berikut klasifikasi dari kata serapan yang berasal dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia:

Kata serapan ini terdiri dari empat bagian. Bagian satu bentuk dan arti masih sama, bagian dua bentuk berubah tetapi artinya tidak, bentuk ketiga baik bentuk maupun arti sudah sama-sama berubah, dan yang terakhir hanya maknanya saja yang berubah tetapi bentuknya masih tetap. Untuk jelasnya mari kita lihat contoh-contoh berikut ini:

* 1 Lafal dan arti masih sesuai dengan aslinya
* 2 Lafalnya berubah, artinya tetap
* 3 Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula
* 4 Lafalnya benar, artinya berubah

1. Bentuk dan arti masih sesuai dengan aslinya:

  1. abad, abadi, abah, abdi, adat, adil, amal, aljabar, almanak, awal, akhir
  2. bakhil, baligh, batil, barakah,
  3. daftar, hikayat, ilmu, insan, hikmah, halal, haram, hakim
  4. khas, khianat, khidmat, khitan, kiamat
  5. musyawarah, markas, mistar, mahkamah, musibah, mungkar, maut,
  6. kitab, kuliah, kursi, kertas, nisbah, nafas,
  7. syariat, ulama, wajib, ziarah.

2. Bentuk berubah, artinya tetap”

  1. berkah, barakat, atau berkat dari kata barakah
  2. buya dari kata abuya
  3. derajat dari kata darajah
  4. kabar dari kata khabar
  5. lafal dari kata lafazh
  6. lalim dari kata zhalim
  7. makalah dari kata maqalat
  8. masalah dari kata mas‘alat
  9. mungkin dari kata mumkin
  10. resmi dari kata rasmiyy
  11. soal dari kata sua:l
  12. rezeki dari kata rizq
  13. sekarat dari kata sakarat
  14. Nama-nama hari dalam sepekan : Ahad (belakangan jadi Minggu artinya ‘satu‘), Senin (Isnaini ‘dua‘), Selasa (Salasa), Rabu (Arba‘a), Kamis (Khomsa), Jum‘at dan Sabtu

3. Bentuk dan arti berubah:

  1. keparat dalam bahasa Indonesia merupakan kata makian yang kira-kira bersepadan dengan kata sialan, berasal dari kata kafarat yang dalam bahasa Arab berarti tebusan.
  2. logat dalam bahasa Indonesia bermana dialek, berasal dari kata lughah yang bermakna bahasa.
  3. naskah dari kata nuskhatun yang bermakna secarik kertas.
  4. perlu, berasal dari kata fardhu yang bermakna harus.
  5. petuah dalam bahasa Indonesia bermakna nasihat, berasal dari kata fatwa yang bermakna pendapat hukum.
  6. laskar dalam bahasa Indonesia bermakna prajurit atau serdadu, berasal dari kata ‘askar yang berarti sama

4. Bentuk tetap, tapi arti berubah:

  1. ahli dalam bahasa Indonesia berarti pakar, berasal dari bahasa Arab yang bermakna keluarga; ahlul bait “keluarga Rasulullah”.
  2. kalimat dalam bahasa Indonesia bermakna rangkaian kata-kata, berasal dari bahasa Arab yang bermakna kata.
  3. siasat dalam bahasa Indonesia berarti strategi, berasal dari bahasa Arab yang bermakna “politik” atau “cara memimpin”.
  4. makan dalam bahasa Indonesia berarti memasukkan sesuatu ke dalam mulut, sedangkan artinya dalam bahasa Arab adalah “tempat”.

Diadaptasikan dengan beberapa perobahan dari : 

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kata_serapan_dari_bahasa_Arab_dalam_bahasa Indonesia, 19 September ‘07

Dibaca : 20.785 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password