Selasa, 17 Oktober 2017   |   Arbia', 26 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 2.965
Hari ini : 25.744
Kemarin : 21.597
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.480.086
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kelingking Sakti

a:3:{s:3:

Setiap orang memiliki perangai yang berbeda-beda. Ada yang baik, ada pula yang buruk. Di daerah Kepulauan Riau, Indonesia, hiduplah sebuah keluarga yang miskin. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ayah, ibu dan tiga orang anak. Ketiga anak tersebut memiliki perangai yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perangai anak yang tua (sulung) dan yang tengah, sangat berbeda dengan anak yang bungsu. Si Bungsu sangat rajin bekerja, sehingga ia menjadi anak kesayangan ayah mereka. Melihat hal itu, anak yang sulung dan yang tengah merasa iri hati dan benci terhadap si Bungsu. Oleh karena itu, mereka berniat untuk mencelakakannya. Apa yang akan dilakukan anak yang sulung dan yang tengah terhadap si Bungsu? Berhasilkah mereka mencelakakan si Bungsu? Bagaimana nasib si Bungsu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Kelingking Sakti berikut ini.

* * *

kelingking saktiAlkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di Kepulauan Riau, hiduplah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menjaring ikan di sungai dan menanam ubi di ladang. Mereka mempunyai tiga orang anak, semuanya laki-laki. Anak pertama bernama Salimbo, yang kedua bernama Ngah, dan yang ketiga bernama Kelingking.

Sejak bayi, si Bungsu sudah menampakkan keanehan. Tubuhnya kecil dan kerdil, sehingga ia diberi nama Kelingking. Keanehan lain yang ada pada diri Kelingking adalah ia menyusu dengan sangat kuat. Setiap kali menyusui Kelingking, ibunya merasa kesakitan. Karena tidak kuat menahan rasa sakit, akhirnya ibunya meninggal dunia saat Kelingking masih berumur lima bulan. Sejak saat itu, kedua abangnya itu membeci Kelingking. Mereka menganggap Kelingkinglah yang menyebabkan ibu mereka meninggal dunia.

Sepeninggal ibu mereka, Kelingking dan kedua saudaranya kemudian hidup dalam asuhan ayahnya. Setiap hari mereka membantu ayahnya mencari ikan di sungai dan menanam ubi di ladang. Terkadang pula mereka mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Di antara ketiga bersaudara, Kelingkinglah yang paling rajin bekerja, sehingga ia menjadi anak kesayangan ayahnya. Melihat hal itu, bertambah bencilah kedua saudaranya kepada Kelingking. Karena merasa iri terhadap Kelingking, kedua saudaranya berniat jahat kepadanya.

Pada suatu hari, Salimbo dan Ngah hendak melaksanakan niatnya. Mereka kemudian mengajak Kelingking mencari kayu di hutan tanpa sepengetahuan ayahnya. Mereka memang sengaja ingin mencelakakan Kelingking dengan membawanya ke dalam hutan di mana terdapat banyak binatang buas. Tanpa rasa curiga sedikit pun, dengan senang hati Kelingking menerima ajakan kedua saudaranya itu.

Sesampai di hutan, mereka masing-masing sibuk mencari kayu. Karena tubuhnya kecil, Kelingking hanya mengumpulkan ranting-ranting kecil. Menjelang siang hari, mereka sudah merasa kelelahan. Pada saat mereka beristirahat di bawah sebatang pohon, tiba-tiba seekor kancil melintas tak jauh dari tempat mereka duduk. “Kelingking! Kejar kancil itu!” perintah Salimbo kepada Kelingking. “Jangan sampai lolos, Adikku!” tambah Ngah menyemangati. Kelingking pun mengejar kancil itu hingga jauh masuk ke dalam hutan. Pada saat itulah, mereka berdua menggunakan kesempatan meninggalkan Kelingking di dalam hutan sendirian.

Dengan tergopoh-gopoh, Salimbo dan Ngah pulang menemui ayahnya. “Ayah, maafkan kami. Kami tidak dapat menjaga Kelingking. Dia diterkam harimau di tengah hutan,” kata Salimbo berbohong sambil berpura-pura menangis. “Benar, Ayah. Kami sudah berusaha sekuat tenaga menolongnya. Tapi, kami tidak dapat menyelamatkannya. Harimau itu terlalu ganas,” sambung Ngah ikut berbohong. “Benarkah yang kalian katakan itu?” tanya sang Ayah seakan tak percaya dengan berita itu. “Benar, Ayah!” jawab Salimbo dan Ngah serentak. Mendengar jawaban yang meyakinkan itu, sang Ayah pun percaya begitu saja. Ia sangat bersedih kehilangan Kelingking yang sangat disayanginya itu.

Sementara itu, Kelingking terus mengejar kancil itu hingga tertangkap. Ia senang sekali. “Jika kancil ini aku bawa pulang, ayah dan kedua abangku pasti sangat senang,” gumam Kelingking sambil mengikat kaki kancil itu dengan akar kayu. Baru saja selesai bergumam, tiba-tiba Kelingking dikejutkan oleh bunyi suara yang sedang berbicara kepadanya. “Hai, Orang Muda! Tolong lepaskan aku. Aku adalah raja kancil di hutan ini. Jika kamu mau melepaskanku, kamu akan kuajari cara menangkap kancil,” bujuk sang Kancil. Kelingking seakan tak percaya, jika kancil yang ditangkapnya itu bisa berbicara seperti manusia. “Baiklah, Kancil! Aku akan melepaskanmu, tapi aku diajari cara menangkap kancil seperti yang kau janjikan,” kata Kelingking sambil melepaskan ikatan pada kaki-kaki kancil itu.

Kancil itu kemudian mengajari Kelingking cara menangkap dan menjebak kancil. Setelah menurunkan semua ilmunya kepada Kelingking, Kancil pun berpesan, “Orang Muda! Dengan ilmu yang aku ajarkan, kamu dapat menangkap kancil sebanyak-banyaknya. Tapi, kamu hanya boleh menangkap kancil yang nakal-nakal saja.” Usai berpesan, kancil itu kemudian kembali ke tempat asalnya.

Sementara itu, Kelingking mencoba kemampuan ilmunya menangkap kancil yang baru saja diterimanya itu. Dalam sekejap, Kelingking mampu menangkap dua ekor kancil. Kemudian diikatnya kedua kancil itu erat-erat, lalu ia bawa pulang ke rumah. Akhirnya, ia pun selamat sampai di rumah, tanpa ada gangguan binatang buas.

Sesampai di depan pintu rumahnya, Kelingking berseru memanggil ayah dan kedua abangnya. “Ayah...! Abang... ! Aku pulang....! Mendengar suara teriakan dari luar rumah, ayahnya segera membukakan pintu. Ayahnya sangat senang sekali, karena anak kesayangannya ternyata masih hidup. “Ya, syukurlah anakku! Kamu selamat dari terkaman harimau,” kata ayahnya sambil memeluk Kelingking.

Sementara itu, kedua abangnya yang telah meninggalkannya di tengah hutan, terheran-heran melihat Kelingking. “Bagaimana mungkin Kelingking bisa selamat dari binatang buas yang ada di dalam hutan itu?” tanya Salimbo dalam hati. Demikian pula Ngah, dalam hatinya bertanya-tanya, “Bagaimana Kelingking bisa menangkap kancil dua ekor sekalian, padahal yang dikejarnya tadi hanya satu?” Kelingking kemudian memberikan kedua ekor kancil tersebut kepada kedua abangnya untuk dimasak dan kemudian disantap bersama-sama.

Pada suatu hari. Salimbo dan Ngah kembali berniat jahat kepada Kelingking. Mereka mengajak Kelingking ke laut yang banyak dihuni ikan jerung[1]. Dengan sebuah perahu kecil, berangkatlah mereka ke laut mencari ikan. Setibanya di tempat yang dikira-kira banyak ikan jerung, Salimbo dan Ngah pura-pura menebar jala untuk menangkap ikan. Mereka kemudian mengatakan jala itu tersangkut di batu karang, dan menyuruh Kelingking terjun ke laut untuk melepaskan jala mereka. Mereka berharap Kelingking dimakan ikan jerung yang ganas itu.

Benar kata Salimbo dan Ngah. Begitu Kelingking terjun ke laut, ikan-ikan jerung yang ganas tersebut langsung menyerangnya. Pada saat Kelingking timbul-tenggelam bergulat dengan ikan jerung tersebut, Salimbo dan Ngah bergegas mengayuh perahunya pulang. Sesampainya di rumah, mereka kemudian menyampaikan berita kematian Kelingking kepada ayah mereka. Mendengar berita itu, ayah mereka sangat sedih. Pada malam hari, tengah sang Ayah meratapi nasib malang Kelingking, tiba-tiba Kelingking muncul di depan pintu, “Ayah, Aku pulang!" Mendengar suara Kelingking, ayahnya segera beranjak dari tempatnya lalu memeluk Kelingking dengan erat. “Kelingking, Anakku! Ayah mengira kamu sudah meninggal dilahap oleh ikan-ikan jerung itu!” kata sang Ayah kepada anaknya. “Dengan ajaib, Kelingking berhasil mengalahkan ikan-ikan jerung yang ganas itu. Lihat, Ayah! Kelingking membawa ikan jerung besar untuk makan malam kita,” jelas Kelingking kepada ayahnya sambil menunjukkan dua ekor ikan jerung yang dijinjingnya. Kemudian kedua ikan jerung tersebut diserahkannya kepada abangnya untuk dimasak dan dimakan bersama.

Waktu terus berlalu. Kini Kelingking sudah dewasa. Ia berniat pergi merantau untuk mengubah nasib dirinya dan keluarganya yang selama ini hidup dalam kemiskinan. “Kini saatnya aku mengubah nasib keluargaku. Aku harus pergi merantau. Lagipula ayah tidak tinggal sendirian di rumah. Ada Abang Salimbo dan Abang Ngah yang menemaninya. Pasti ayah akan mengizinkanku,” kata Kelingking dalam hati memantapkan niatnya.

Pada suatu malam, Kelingking mengutarakan niatnya itu kepada ayahnya. “Ayah, sekarang Kelingking sudah dewasa. Izinkanlah Kelingking pergi merantau. Kelingking ingin memperbaiki kehidupan keluarga kita,” ia meminta kepada ayahnya. Meskipun berat hati, sang Ayah pun mengizinkan anak kesayangannya itu pergi merantau. “Ayah mengerti perasaanmu, Anakku! Ayah merestui dan mendoakan semoga kamu dapat mencapai cita-citamu,” jawab ayahnya mengizinkan. “Terima kasih, Ayah! Jika sudah berhasil di perantauan, Kelingking segera kembali menjemput Ayah, Abang Salimbo dan Abang Ngah,” kata Kelingking dengan perasaan gembira.

Keesokan harinya, dengan berbekal tujuh buah ketupat, berangkatlah Kelingking merantau. Sudah berbulan-bulan Kelingking mengembara. Namun, ketupatnya masih utuh, tak ada satu pun yang dimakannya. Selama dalam pengembaraan, ia hanya makan buah dan daun-daunan yang ditemuinya di hutan.

Suatu siang, sampailah Kelingking di hutan lebat. Kemudian Kelingking duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Karena kelelahan, ia pun tertidur. Dalam tidurnya, terdengar sebuah suara yang berseru kepadanya, “Hai, Orang Muda! Jika kamu ingin menjadi menantu raja, ikatlah ketupatmu dengan akar tuba dan masukkanlah ke dalam sungai yang mengalir di hutan ini. Apabila air sungai itu sudah berbuih, berarti ikan besar di dalamnya sudah mati. Selamilah sungai itu dan ambil ikannya.”Belum sempat berkata apa-apa, Kelingking pun terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Kelingking pun segera bangkit mencari akar tuba. Setelah mendapat beberapa akar tuba, ia pun menyusuri hutan itu untuk mencari sungai yang dimaksud dalam mimpinya.

“Ah, inilah sungai dalam mimpiku,” gumam Kelingking. Ia pun segera mengikat ketujuh ketupatnya dengan akar tuba dan memasukkannya ke dalam sungai. Tak berapa lama kemudian, air sungai pun berbuih dan diselaminya sungai itu. Setelah beberapa lama menyelam, Kelingking mendapatkan seekor ikan besar. Ikan itu kemudian dibakar dan dimakannya hingga hanya kepalanya yang tersisa. Setelah melaksanakan semua perintah dalam mimpinya, Kelingking mulai bingung. “Aku harus berbuat apa lagi? Semua perintah sudah aku laksanakan, tapi tidak ada tanda-tanda akan kedatangan seorang putri. Di sini tidak ada seorang pun selain aku,” gumam Kelingking dengan perasaan kesal. Merasa apa yang dilakukannya sia-sia, ia pun menendang kepala ikan itu hingga terbang melambung tinggi ke angkasa. Ia sudah tidak mempedulikan lagi di mana kepala ikan itu jatuh. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya tanpa tentu arah.

Suatu hari, sampailah Kelingking di sebuah kampung. Seluruh penduduk kampung itu membicarakan tentang kepala seekor ikan yang jatuh secara tiba-tiba di depan istana. Ternyata kepala ikan yang dimaksud itu adalah kepala ikan yang ditendang oleh Kelingking beberapa hari yang lalu. Kepala ikan itu seakan-akan menempel di tanah, sehingga tak seorang pun yang dapat memindahkannya. Padahal kepala ikan yang besar itu mengganggu keindahan istana. Putri raja yang merasa terganggu pandangannya meminta kepada ayahnya agar kepala ikan itu disingkirkan dari depan istana. “Ayah, kepala ikan yang di depan istana itu sangat mengganggu pemandangan. Dapatkah kepala ikan itu disingkirkan dari tempat itu?” pinta sang Putri kepada ayahnya.

Raja kemudian mengerahkan seluruh panglima dan pengawal istana untuk memindahkan kepala ikan itu. Satu per satu panglima dan pengawal mencoba mengangkat kepala ikan itu secara bergantian. Namun, tidak seorang pun di antara mereka yang mampu menggerakkannya. Kemudian mereka beramai-ramai mengangkatnya, tapi usaha mereka tetap sia-sia. Jangankan kepala ikan itu bergeser, bergerak sedikit pun tidak.

Melihat keadaan itu, Raja pun mengadakan sayembara, “Wahai seluruh penduduk negeri, barangsiapa yang dapat memindahkan kepala ikan dari depan istana, jika laki-laki akan kunikahkan dengan putriku, dan jika perempuan akan kuangkat sebagai anak,” seru Raja kepada rakyatnya.

Sesaat sebelum sayembara itu dimulai, seluruh penduduk telah berkumpul di depan istana. Tidak ketinggalan pula Kelingking ikut dalam sayembara itu. Saat ia melihat kepala ikan itu, Kelingking tersentak kaget, “Sepertinya aku mengenal kepala ikan itu?” gumam Kelingking. Ternyata, ia baru tersadar jika kepala ikan itulah yang pernah ia tendang beberapa hari yang lalu.

kelingking saktiTak lama kemudian, sayembara pun dimulai. Para peserta sayembara maju satu per satu untuk memindahkan kepala ikan itu. Namun, tidak seorang pun yang mampu menggerakkannya. Tibalah giliran Kelingking. Melihat badannya yang kecil, orang-orang mencemooh dan menertawakkannya. Tetapi Kelingking tidak peduli. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, dikelilinginya kepala ikan itu tujuh kali. Kemudian dicungkilnya kepala ikan itu dengan jari kelingkingnya. Sungguh ajaib. Seakan tidak mengeluarkan tenaga, dengan mudahnya Kelingking mengangkat kepala ikan itu dan menguburnya di belakang istana. Maka, Kelingkinglah yang dinyatakan sebagai pemenang dalam sayembara itu. Ia berhak untuk menikah dengan putri raja sebagaimana janji raja.

“Orang Muda! Meskipun tubuhmu kecil, tapi kamu mampu memindahkan kepala ikan itu. Sesuai dengan janjiku, pekan ini juga kamu akan kunikahkan dengan putriku,” kata sang Raja dengan kagum. Sepekan kemudian, pesta pernikahan Kelingking dengan putri raja dilaksanakan dengan ramainya. Dalam pesta tersebut, ditampilkan berbagai macam nyanyian dan tari-tarian istana. Seluruh keluarga istana dan penduduk negeri turut berbahagia atas pernikahan tersebut.

Beberapa hari setelah menikah, Kelingking menjemput ayah dan kedua abangnya untuk tinggal bersamanya di istana. Kelingking pun hidup berbahagia bersama sang Putri dan keluarganya.

* * *

Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan. Adapun nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita di atas di antaranya sifat tidak pendendam, selalu menepati janji dan suka berdusta atau berbohong kepada orang tua. Sifat tidak pendendam tercermin pada sifat Kelingking. Meskipun kedua abangnya beberapa kali berusaha untuk mencelakakan dirinya, Kelingking tidak pernah merasa dendam terhadap kedua abangnya. Sifat selalu menepati janji tercermin pada sifat Kelingking dan sang Raja. Kelingking telah menepati janjinya dengan menjemput ayah dan kedua abangnya setelah ia berhasil yaitu menjadi menantu raja. Demikian pula sang Raja, ia telah menepati janjinya untuk menikahkan putrinya kepada siapa saja yang memenangi sayembara itu. Sementara sifat suka berdusta atau berbohong kepada kedua orang tercermin pada sifat Salimbo dan Ngah. Mereka telah dua kali berbohong kepada ayahnya dengan menyampaikan berita bohong, bahwa Kelingking telah meninggal dunia diterkam harimau di hutan dan dimakan ikan jerung di laut.

Dua sifat yang pertama, yaitu tidak pendendam dan suka menepati janji, patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Melayu, sifat tidak pendendam atau pemaaf amat dimuliakan. Orang-orang tua mengatakan, bahwa sifat ini mencerminkan kesetiakawanan sosial yang tinggi, menggambarkan sifat rendah hati, bertenggang rasa dan berbudi luhur. Dalam ungkapan adat dikatakan, “siapa taat memeluk agama Islam, dendam kesumat ia haramkan,” atau “siapa setiap memegang adat, dendam kesumat ia pantangkan.” Tenas Effendy juga mengungkapkan hal yang sama dalam untaian syair seperti berikut ini:

wahai ananda peganglah amanah,
jalani hidup di jalan Allah
lapangkan dada serta pemurah
hapuslah dendam jauhkan fitnah

Sementara sifat suka berdusta atau berbohong adalah sifat tercela yang harus dihindari. Sifat ini sangat dipantangkan oleh orang Melayu. Bagi mereka, sifat ini menyangkut harkat, martabat dan marwah mereka. Bagi yang melanggarnya, dianggap sebagai penghinaan terhadap mereka. Tenas Effendy dalam bukunya “Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau, banyak mengungkapkan tentang sifat berdusta atau berbohong dalam bentuk ungkapan seperti berikut:

apa tanda orang yang nista,
bercakap bohong berkata dusta

kalau suka bercakap bohong,
alamat badan akan terkurung

kalau suka berkata dusta,
alamat hidup beroleh nista

(SM/sas/30/9-07)

Sumber :

  • Isi Cerita disadur dari Ulul Azmi. 2006. Kelingking Sakti. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
  • Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
  • Effendy, Tennas. 1994. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bappeda Tingkat I Riau.


[1] Sejenis ikan yang ganas.

Dibaca : 17.111 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password