Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.204
Hari ini : 9.215
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.270.410
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rumah Limas (Rumah Tradisional Palembang)

rumah limas palembang
Rumah Limas dengan Tangga di kedua sisi bagian depan rumah Limas

1. Asal-Usul

Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, mempunyai iklim tropis dengan angin lembab nisbih, kecepatan angin berkisar antara 2,3 km/jam - 4,5 km/jam. Suhu Kota berkisar antara 23,4 - 31,7 derajat celsius. Curah hujan pertahun berkisar antara 2.000 mm - 3.000 mm. Kelembaban udara berkisar antara 75 - 89 % dengan rata - rata penyinaran matahari 45 %. Topografi tanah relatif datar dan rendah. Hanya sebagian kecil wilayah kota yang tanahnya terletak pada tempat yang agak tinggi yaitu pada bagian utara kota. Sebagian besar tanah adalah daerah berawa sehingga pada saat musim hujan daerah tersebut tergenang air. Selain itu, pasang surut di Palembang berkisar antara 3-5 meter. Dengan demikian maka rumah panggung secara fungsional memenuhi syarat mengatasi kondisi rawa dan sungai seperti di Palembang, yang sempat dijuluki Venesia dari Timur karena ratusan anak sungai yang mengelilingi wilayah daratannya.

Kondisi alam Palembang tersebut berpengaruh terhadap bentuk rumah masyarakatnya. Rumah agar dapat berperan secara maksimal untuk tempat berlindung, maka dalam pembangunannya harus memperhatikan kondisi lingkungannya seperti topografi tanah dan iklim. Kecermatan dalam membaca kondisi alam ditunjukkan oleh masyarakat Palembang ketika membangun rumahnya. Salah satu bentuk rumah tinggal di Palembang adalah rumah Limas. Disebut rumah Limas karena atapnya (kap) berbentuk Limas. Rumah jenis ini juga sering disebut dengan rumah Bari. Bari dalam bahasa Palembang berarti lama atau kuno.

Secara garis besar rumah Limas terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Pada bagian depan terdapat dua tangga yang dipasang pada sisi kanan dan kiri dengan anak tangga berjumlah ganjil. Bagian dalam berupa pelataran yang luas. Ruangan ini menjadi pusat kegiatan berkumpul jika ada perhelatan. Ruang tamu sekaligus menjadi “ruang pamer” untuk menunjukkan kemakmuran pemilik rumah. Bagian dinding ruangan dihiasi dengan ukiran bermotif flora yang dicat dengan warna keemasan. Tidak jarang, pemiliknya menggunakan timah dan emas di bagian ukiran dan lampu- lampu gantung sebagai aksesori. Ruang bagian belakang digunakan sebagai dapur. 

Pengetahuan tentang arsitektur rumah Limas ditransmisikan secara turun temurun dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, bentuk dan komposisi dari bangunan tersebut cenderung sama. Namun demikian, kondisi lingkungan yang berubah, kebutuhan manusia yang semakin kompleks, dan, khususnya, perubahan pola pikir manusia pada akhirnya menyebabkan arsitektur rumah Limas banyak mengalami perubahan. Disamping itu, sulitnya bahan baku kayu karena jumlah hutan semakin sedikit menyebabkan harga kayu menjadi sangat mahal dan kebutuhan terhadap ruang yang semakin banyak karena semakin banyaknya jumlah manusia mengharuskan adanya reinterpretasi terhadap arsitektur rumah Limas.

rumah limas palembang
Rumah Limas yang telah mengalami penggabungan dengan arsitektur Belanda.

2. Bahan dan Tenaga

a. Bahan-Bahan

  • Rumah tradisional Limas sebagian besar terbuat dari kayu. Jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan rumah Limas adalah jenis kayu bermutu baik,  misalnya: sebagai bahan tiang digunakan kayu jenis Petanang, Unglen, Besi dan Tembesu; dan untuk lantai dan dinding menggunakan kayu Merawan.
  • Belah Buluh. Belah Buluh adalah bambu yang dibelah dua. Bahan ini digunakan untuk membuat atap rumah.
  • Genteng. Selain Belah Buluh, Genteng juga seringkali digunakan sebagai atap.

b. Tenaga

Membangun rumah bukan pekerjaan mudah, tetapi pekerjaan besar yang membutuhkan tenaga khusus untuk menanganinya. Adapun tenaga untuk membangun rumah adalah sebagai berikut:

  • Tenaga perancang.

Pengetahuan tentang arsitektur rumah Limas, biasanya diwariskan dari generasi tua ke generasi berikutnya. Hanya saja, biasanya, tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk merancang bangunan rumah Limas. Oleh karena itu, biasanya orang yang akan membangun rumah bertanya terlebih dahulu kepada para orang tua bagaimana rancangan rumah yang cocok dan baik untuk mereka.  

  • Tenaga ahli.

Setelah mendapatkan informasi dari tenaga perancang, orang yang hendak membangun rumah langsung menghubungi tenaga ahli. 

  • Tenaga umum.

Walaupun otoritas untuk mendirikan dan menyelesaikan bangunan rumah Limas ada pada tenaga ahli dan anak buahnya; ada bagian-bagian tertentu yang harus melibatkan tenaga umum, misalnya dalam penggalian tanah dan pemasangan atap. Tenaga umum ini biasanya terdiri dari para tetangga dan kaum kerabat.

3. Waktu dan Pemilihan Tempat

Agar rumah dapat memberikan rasa nyaman kepada penghuninya, maka hal lain yang harus dipertimbangkan, selain bahan-bahan dan tenaga pembuatnya, adalah waktu dan tempat pendiriannya.

Masyarakat Palembang menyakini bahwa waktu yang terbaik untuk membangun rumah tempat tinggal adalah hari senin. Hari Senin dianggap sebagai hari yang paling baik karena pada hari tersebut Rasulullah Muhammad dilahirkan. Sedangkan tempat yang paling baik untuk mendirikan rumah adalah berada di sekitar sungai. Tujuannya adalah agar bagian belakang rumah dapat berbatasan langsung dengan sungai. Di samping itu, rumah Limas selalu diusahakan agar menghadap ke arah timur.

4. Tahapan Pembangunan Rumah Limas

a. Persiapan

1) Musyawarah

  1. Suami-istri terlebih dahulu bermusyawarah tentang keinginan mereka membangun rumah.
  2. Apabila antara suami dan istri telah mencapai kata sepakat, mereka mengadakan upacara mendirikan rumah. Untuk mengadakan upacara ini, tuan rumah biasanya menyembelih hewan baik yang berkaki dua seperti ayam ataupun berkaki empat seperti kambing. Upacara ini biasanya diadakan pada malam Jum‘at.
  3. Setelah pelaksanaan upacara siap, mereka mengundang para keluarga dekat dan tetangga sekitar (jiron)   
  4. Setelah semua undangan hadir (atau sudah dianggap cukup), upacara dimulai dengan penyampaian tujuan upacara dan dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa.
  5. Setelah upacara selesai, dilanjutkan musyawarah berkaitan dengan rencana pendirian rumah, diantaranya tentang tempat, waktu pendirian, pengadaan bahan dan penentuan tukangnya. Selain itu, forum musyawarah ini juga berguna untuk mencari solusi jika orang yang hendak mendirikan rumah mengalami kesulitan.
  6. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan bersama.

2) Pengadaan Bahan

  1. Setelah mendapatkan masukan dari para keluarga, walaupun terkadang orang yang punya hajat telah mempersipakan bahan-bahan yang diperlukan sebelum mengadakan musyawarah, mereka mulai mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan, misalnya kayu, dengan cara memesan kepada pedagang kayu ataupun mencari sendiri ke hutan.
  2. Jika bahan rumah harus dipesan kepada pedagang kayu, maka kayu yang hendak dipesan disesuaikan dengan kegunaanya (kebutuhannya). Misalnya untuk cagak atau tiang dipesan sesuai dengan ketinggian rumah yang akan didirikan.
  3. Setelah terkumpul, bahan-bahan tersebut direndam dalam air yang mengalir sekitar tiga sampai enam bulan, bahkan ada yang hampir satu tahun. Khusus bahan-bahan untuk membuat galar, dinding dan rangka jendela dan pintu dikumpulkan dalam tempat yang terlindung, bangsal. Tujuannya adalah agar bahan-bahan tersebut dalam kondisi kering saat digunakan. Setelah itu mempersiapkan atap rumah. Untuk atap digunakan belah buluh, bambu yang dibelah dua.

b. Tahap Pembangunan

Setelah semua bahan terkumpul, maka, sesuai dengan hari yang telah ditentukan, proses pembuatan rumah dapat segera dimulai. Tahap-tahap pembangunan rumah Limas dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: pembangunan bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas.

1) Bagian bawah

  1. Sebelum pembangunan rumah dilangsungkan, terlebih dahulu diadakan upacara pendirian cagak. Upacara ini ditandai dengan penyembelihan hewan berkaki empat, seperti kambing dan sapi.
  2. Setelah mengadakan upacara, dilanjutkan dengan penggalian tanah untuk mendirikan tiang.
  3. Sebelum tiang dipancangkan, tiang tersebut diberi puting, tempat memasukkan tapakan ke dalam tanah. Tiang yang pertama kali dipancangkan adalah tiang tengah, kemudian diikuti dengan tiang-tiang lainnya
  4. Setelah semua tiang didirikan, kemudian mengerjakan siping, memahat tiang atau membuat lobang untuk memasukkan kitau.  
  5. Setelah seping selesai dibuat, kitau diangkat dan dimasukkan ke lobang seping.
  6. Jika kitau sudah terpasang dengan sempurna, maka lubang tanah tempat pendirian cagak ditimbun dengan tanah.
  7. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan belandar  yaitu pemasangan balok kayu yang dipasang melintang di atas kitau dengan jarak antar belandar sekitar 40 cm sampai 60 cm. Celah di antara belandar tersebut, nantinya, dipasang galar.

2) Bagian tengah

Setelah bagian bawah selesai dibuat, maka dilanjutkan dengan pembangunan bagian tengah rumah Limas. Biasanya, ketika pengerjaan bagian bawah rumah Limas dikerjakan, bahan-bahan untuk rumah Limas bagian tengah juga dipersipakan, mulai dari papan untuk lantai, dinding, daun pintu, jendela dan kebutuhan lainnya.

Pengerjaan bagian tengah merupakan pekerjaan inti pembangunan rumah Limas. Pemasangan dinding didahulukan, baru kemudian pemasangan galar, papan untuk dinding, langit-langit dan lantai setelah disugu atau diketam agar permukaannya halus.  Secara sederhana, proses pembangunan rumah Limas bagian tengah adalah sebagai berikut:

  1. Pemasangan sako, yaitu tempat melekatkan dinding. Sako-sako tersebut biasanya dipasang pada sudut-sudut bangunan dan batas undakan (kekijing). Sako yang dipasang pada sisi rumah dihubungkan dengan sento-sento. Pada sento-sento inilah nantinya dinding rumah dipasang.
  2. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan sako di atas undakan (kekijing) bagian dalam. Keberadaan sako tersebut bukan untuk melekatkan dinding, tetapi sebagai bahan penyangga alang atas. Biasanya sako yang ada di dalam rumah dibuat seindah mungkin, diberi hiasan.
  3. Dilanjutkan pemasangan jenang untuk tempat pintu kamar dan dapur, dan juga bisa dimulai pemasangan rangka jendela. Di atas jenang biasanya diberi ram, sebagai ventilasi udara.
  4. Setelah proses persiapan bagian dalam selesai, barulah bagian-bagian penunjang seperti lantai, dinding, pintu, jendela dan lain sebagainya dipasang. Karena sebagian besar kayu yang digunakan baru saja direndam dan kemungkinan besar belum benar-benar kering, kecuali bahan-bahan untuk pintu dan jendela yang sejak awal telah dikeringkan, pemasangan bagian-bagian tersebut tidak langsung secara sempurna, artinya dipasang dengan masih mempertimbangkan jika bagian tersebut ukurannya berubah karena mengalami penyusutan.

3) Bagian atas

Adakalanya pengerjaan bagian atas rumas Limas dikerjakan lebih dulu dari rumah Limas bagian tengah. Hal tersebut dimaksudkan agar bahan-bahan pada bagian tengah, seperti dinding dan lantai, terlindung dari hujan dan panas. Pekerjaan bagian atas rumah Limas terdiri dari pemasangan alang panjang, pengerap atau alang pelintang, kuda-kuda alang sunan atau tunjuk langit, kasau, tumbukan kasau, reng dan pemasangan atap.

Adapun proses pengerjaannya adalah sebagai berikut:

  1. Membuat lubang pada alang panjang untuk memasukkan putting-putting baik yang ada sako ataupun pada jenang.
  2. Setelah itu, dilanjutkan pemasangan pengerap atau alang pelintang di atas alang panjang.
  3. Dilanjutkan dengan pemasangan kuda-kuda.
  4. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan tunjuk langit. Pada tunjuk langit ini biasanya digantungkan beberapa benda seperti: kendi dari tanah liat, setandan pisang emas, beberapa butir kelapa, sebatang tebu, beberapa keping opak-ketan (sejenis lempeng atau kempelang), dan selembar kain panjang sebagai umbul-umbul.
  5. Bagian tengah rangka kap dipasang balok (rambatan tikus) agar kap tersebut lebih kuat.
  6. Dilanjutkan pemasangan kasau di atas rambatan tikus dan alang panjang. Jumlah kasau yang dipasang disesuaikan dengan hitungan: kasaulangkaupenurunbangkai dan kembali lagi pada hitungan kasau. Jumlah paling baik adalah ketika hitungan berhenti pada kata kasau.
  7. Setelah semua kasau terpasang, maka ujung-ujungnya dipotong rata lalu ditutup dengan sekeping papan yang disebut tumbukan kasau.
  8. Kemudian pemasangan reng-reng di atas kasau. Reng-reng tersebut berfungsi sebagai penahan dan tempat memasang atap.
  9. Setelah semua reng-reng terpasang, dimulailah pemasangan atapnya. Atap rumah Limas biasanya menggunakan belah buluh walaupun ada juga yang menggunakan genteng. Namun sebelum memasang atap rumah, terlebih dahulu mengadakan upacara naik atap. 
  10. Setelah atap terpasang, dilanjutkan dengan pemasangan simbar pada ujung pertemuan atap dengan alang sunan dan sisi tegak bentuk Limas.
  11. Setelah bagian atap selesai dikerjakan, proses selanjutnya adalah pembuatan langit-langit ruangan.
  12. Setelah langit-langit ruangan selesai dibuat, maka rumah sudah siap untuk ditempati. Namun sebelum ditempati, terlebih dahulu diadakan upacara Nunggu Rumah. Tujuan upacara ini adalah agar yang menempati rumah tersebut mendapat keselamatan dan kemurahan rezeki.

5. Bagian-Bagian Rumah Limas

Rumah Limas adalah rumah panggung yang lantainya berundak (kekijing) dan atapnya berbentuk Limas. Bagian depan rumah Limas, pada sisi kanan dan kirinya, terdapat dua buah tangga yang jumlah anak tangganya selalu berjumlah ganjil. Di sebelah tangga tersebut, terdapat sebuah tempayan atau gentong berisi air untuk mencuci kaki. Tangga-tangga tersebut langsung menuju pintu masuk rumah. Namun jika di rumah tersebut terdapat jogan, sejenis beranda, maka tangga tidak langsung menuju pintu rumah tetapi langsung ke jogan. Jogan berfungsi sebagai penghubung dengan pintu rumah dan sebagai tempat istirahat pada siang dan malam hari. Di samping itu, jogan dipergunakan untuk menyimpan peralatan, tempat upacara untuk anak-anak, dan sebagai tempat untuk menyaksikan jika di dalam rumah terdapat kegiatan, khususnya acara kesenian. 

rumah limas palembang
Anak tangga rumah Limas selalu dibuat berjumlah ganjil

Untuk sampai ke ruangan tengah, pada rumah Limas terdapat beberapa undakan (kekijing) yang pada sisi kanan dan kirinya terdapat sebuah jendela. Di antara kekijing tersebut terdapat beberapa penyekat seperti dinding yang dapat diangkat. Dinding pada kekijing yang dapat diangkat disebut kiyam. Khusus untuk kiyam yang selalu dibuka, kiyam yang digunakan berukuran kecil. Namun perlu diketahui bahwa, penyekat antara kekijing hanya terdapat pada kekijing pertama dan kekijing kedua saja sedangkan undakan berikutnya tidak. Tinggi lantai antar kekijing sekitar 30 cm sampai 40 cm. Pada hari-hari biasa, kekijing terakhir dipergunakan sebagai tempat tidur dan menyimpan barang-barang. Jika yang punya rumah mempunyai anak gadis yang sudah dewasa, maka kamar tersebut disebut kamar gadis. Jika anak tersebut kemudian menikah, maka kamar itu dijadikan kamar pengantin.

Namun jika ada pelaksanaan upacara, maka kekijing mempunyai fungsi lain. Kekijing pertama dipergunakan oleh kaum kerabat dan para undangan yang muda-muda. Kekijing kedua ditempati oleh para undangan setengah baya. Sedangkan Kekijing ketiga dan keempat ditempati oleh para orang tua dan orang-orang yang dihormati.     

Bagian belakang dari rumah Limas adalah dapur yang lantainya lebih rendah dari lantai rumah sekitar 30 cm sampai 40 cm. Namun ada juga dapur yang dibuat terpisah dari bangunan rumah. Jika dapur merupakan bangunan tersendiri, maka untuk masuk ke dapur harus menggunakan tangga. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat mempersiapkan dan menyimpan bahan-bahan untuk memasak.  Di dapur terdapat tungku dari batu-batu yang diletakkan di atas lantai yang diberi lapisan tanah setebal 15 cm sampai 20 cm, alat-alat memasak, tempat mencuci peralatan yang kotor, dan sebagainya.

rumah limas palembang
Dapur dapat menempel pada bagunan rumah atau
terkadang dibangun terpisah

6. Ragam Hias

Salah satu ciri yang sangat mencolok dari tumah Limas adalah hiasan-hiasannya. Bentuk-bentuk hiasannya dalam rumah Limas ada tiga macam, yaitu hiasan berbentuk flora, hiasan berbentuk fauna, dan hiasan tentang alam. Namun yang paling banyak digunakan adalah hiasan berbentuk flora (tumbuh-tumbuhan).

Ada banyak gambar jenis tumbuhan yang sering dijadikan hiasan, khususnya daun dan kembang. Pemilihan jenis tumbuhan yang akan digambarkan disesuaikan dengan tujuan pembuatannya. Hiasan berbentuk kembang Tanjung, misalnya, digunakan untuk tujuan mengucapkan selamat datang. Karena tujuannya seperti itu, maka hiasan kembang Tanjung biasanya diletakkan di atas pintu. Adapun warna yang paling banyak digunakan untuk hiasan rumah Limas adalah warna merah hati ayam dan warna kuning keemasan. 

7. Nilai-Nilai

Pendirian rumah Limas berbentuk panggung merefleksikan beragam nilai yang hidup dalam masyarakat Palembang, diantaranya nilai budaya, religius dan sosial. Nilai-nilai tersebut merupakan pengejawantahan dari kearifan lokal masyarakat. Kearifan lokal merupakan pengetahuan masyarakat yang didapat dari membaca dan memahami fenomena alam dan sosial di daerah setempat.      

Nilai budaya dalam pendirian rumah Limas dapat dilihat pada arsitekturnya yang berbentuk rumah panggung dan terbuat dari kayu. Bentuk rumah panggung dengan bahan-bahan kayu, nampaknya, sebagai penyikapan terhadap kondisi tanahnya yang berupa rawa-rawa sehingga selalu basah dan suhu udara yang panas. Dengan kondisi tanah yang basah dan lingkungan yang panas maka desain rumah berbentuk panggung merupakan suatu pemecahan yang tepat. Lantai yang tidak berada langsung di atas tanah memungkinkan bangunan tidak akan terendam ketika hujan atau air pasang sedang naik. Suhu lingkungan yang panas juga dapat diminilaisir dengan bentuk rumah yang cukup tinggi. Nilai budaya juga dapat dilihat dari penyiapan bahan untuk membangun rumah. Kayu yang akan digunakan dipilih yang mempunyai kualitas baik dan kemudian direndam dalam air yang mengalir sehingga kayu tersebut akan menjadi kuat.

Pemilihan lokasi di pinggir sungai nampaknya dipilih berdasarkan alasan kebersihan. Jika berdekatan dengan sungai maka sampah-sampah dapat segera dibuang ke sungai. Alasan kebersihan juga dapat dilihat dari peletakan gentong air di sebelah tangga masuk rumah. Arah rumah yang diusahakan mengahadap ke arah timur dengan jumlah ventilasi udara yang cukup banyak berkaitan dengan pertimbangan kesehatan, yaitu agar rumah menerima sinar matahari yang cukup banyak pada pagi hari dan sirkulasi udaranya lancar. Penggunaan gambar tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan warna cerah menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan lingkungan. 

Nilai religius dalam pendirian rumah Limas dapat dilihat dalam pemilihan hari senin sebagai hari untuk memulai pembangunannya. Nilai ini juga dapat dilihat dalam ritual-ritual yang diadakan baik ketika mempersipakan pembangunan, pelaksanaan pembangunan ataupun ketika bangunan telah selesai dan hendak di tempat. Pelaksanaan ritual tersebut sangat berkaitan dengan keyakinan. Nilai religius juga dapat dilihat pada jumlah anak tangga yang selalu dalam hitungan ganjil. Mereka meyakini bahwa jumlah ganjil akan membawa keberkahan bagi yang menempatinya, dan apabila berjumlah genap maka keluarga yang menempati akan mengalami banyak kesulitan.

Nilai sosial dalam rumah Limas dapat dilihat pada keberadaan kekijing atau tingkatan teras rumah. Setiap kijing atau undakan menjadi simbol perbedaan garis keturunan asli masyarakat Palembang. Kijing (undakan) pertama merupakan teras paling rendah, merupakan tempat berkumpulnya golongan Kemas (Kms). Sedangkan kijing kedua, lebih tinggi dari kijing pertama merupakan tempat berkumpulnya para Kiagus (Kgs) dan Massagus (Mgs). Dan kijing ketiga merupakan tempat untuk golongan Raden dan keluarganya. Nuansa sosial dalam rumah Limas juga dapat dilihat dalam perayaan upacara. Tempat para undangan ditentukan oleh status sosial mereka, misalnya golongan pemuda berkumpul di kijing pertama, setengah baya berkumpul di kijing kedua, dan para orag tua serta orang yang dihormati lainnya berkumpul di kijing ketiga, sedangkan para kaum ibu berkumpul dibagian belakang. (AS/bdy/13/10-07).

Referensi :

  • Doty Damayanti, “Nuansa Masa Lalu di Rumah Bari,” dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/27/rumah/1762146.htm, diakses tanggal 20 Oktober 2007
  • Keadaan Geografis,  dalam http://www.palembang.go.id/2007/?mod=7&id=11, diakses tanggal 23 Oktober 2007
  • Moh. Alimansur, dkk.,  Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Selatan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1990 / 1991.
  • Rumah Bari Batang Sembilan, Rumah Kayu Bumi Sriwijaya, dalam http://lubarablog.blogspot.com/2007/03/rumah-bari-batang-sembilan.html, diakses tanggal 20 Oktober 2007
  • Rumah Bari Palambang, dalam http://amarlubay.blogspot.com/2007/03/rumah-bari-palembang.html, diakses tanggal 20 Oktober 2007
  • Rumah Leluhur Palembang, dalam http://www.indomedia.com/sripo/2006/03/26/2603H08.pdf, diakses tanggal 20 Oktober 2007
  • Rumah Limas, dalam http://www.palembang.go.id/2007/?mod=12&id=35, diakses tanggal 20 Oktober 2007
  • Rumah Tradisional dan Perkampungan, dalam http://www.sumsel.go.id/seniBudaya.php?id=235#top, diakses tanggal 20 Oktober 2007
  • Rumah Tradisional Limas, dalam http://www.dipardass.go.id/index.php?page=content&label_mnu=rumah-tradisional-limas, diakses tanggal 20 Oktober 2007
  • Rumah Melayu Tradisional,  dalam http://myschoolnet.ppk.kpm.my/pakatan/ictic/sejarah/rumah_tradisional/rumah.htm, diakses tanggal 20 Oktober 2007.
Dibaca : 39.812 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password