Senin, 28 Juli 2014   |   Tsulasa', 30 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 1.412
Hari ini : 9.885
Kemarin : 17.575
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.955.376
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rumah Lancang (Rumah Tradisional Kabupaten Kampar, Provinsi Riau)

rumah lancang
Rumah Lancang atau Rumah Lontik
dengan hiasan berbentuk tanduk kerbau pada ujung perabungnya.

1. Asal-Usul

Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas.

Rumah Lancang merupakan Rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kolong rumah sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang kayu, sebagai persiapan menyambut bulan puasa. Selain itu, pembangunan Rumah berbentuk panggung sehingga untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang mempunyai anak tangga berjumlah ganjil, lima, merupakan bentuk ekspresi keyakinan masyarakat.

Dinding luar Rumah Lancang seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok tumpuan dinding luar depan melengkung ke atas, dan, terkadang, disambung dengan ukiran pada sudut-sudut dinding, maka terlihat seperti bentuk perahu. Balok tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak semelengkung balok tumpuan. Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung diberi hiasan yang disebut sulo bayung. Sedangkan sayok lalangan merupakan ornamen pada keempat sudut cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya.

Keberadaan Rumah Lancang, nampaknya, merupakan hasil dari proses akulturasi arsitektur asli masyarakat Kampar dan Minangkabau. Dasar dan dinding Rumah yang berbentuk seperti perahu merupakan ciri khas masyarakat Kampar, sedangkan bentuk atap lentik (Lontik) merupakan ciri khas arsitektur Minangkabau. Proses akulturasi arsitektur terjadi karena daerah Kampar merupakan alur pelayaran, Sungai Mahat,  dari Lima Koto menuju wilayah Tanah Datar di Payakumbuh, Minangkabau. Daerah Lima Koto mencakup Kampung Rumbio, Kampar, Air, Tiris, Bangkinang, Salo, dan Kuok. Oleh karena Kampar merupakan bagian dari alur mobilitas masyarakat, maka proses akulturasi merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Hasil dari proses akulturasi tersebut nampak dari keunikan Rumah Lancang yang sedikit banyak berbeda dengan arsitektur bangunan di daerah Riau Daratan dan Riau Kepulauan.

2. Bahan dan Tenaga

a. Bahan-Bahan

Agar proses pembangunan rumah berjalan lancar dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, maka bahan-bahannya dipilih dan dipersiapkan terlebih dahulu. Jika bahan-bahan yang dibutuhkan belum terkumpul semua, maka pembangunan rumah tidak akan dimulai karena dikhawatirkan mengganggu proses pembangunan. Di sampaing itu, jika pembangunan rumah sampai berhenti karena kekurangan bahan, maka hal tersebut dianggap hal yang sangat memalukan. Oleh karena itu, biasanya, proses pengumpulan bahan berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Adapun bahan-bahan yang diperlukan di antaranya adalah:

  • Kayu Tembesu, digunakan untuk membuat tiang dan ukiran.
  • Kayu Kulim digunakan untuk kusen-kusen.
  • Kayu Resak digunakan untuk bendul dan rasuk.
  • Kayu Punak digunakan untuk papan lantai dan dinding.
  • Alat untuk meramu kayu (parang, beliung, kapak, gergaji, dan lain sebagainya) dan alat pertukangan (ketam, pahat, pepatil, dan lain sebagainya).
  • Tali dari kulit kayu, digunakan untuk menyatukan bagian-bagian yang distel (disusun).
  • Tali arang atau benang arang. Alat ini dibuat dari tali yang diberi cairan yang merupakan campuran dari arang dan minyak makan dan digunakan untuk membuat garis lurus pada saat mengolah kayu. 
  • Ijuk, Rumbia, Nipah, Sikai, dan Bengkang. Bahan-bahan tersebut dipergunakan untuk membuat atap Rumah.
  • Seng. Akhir-akhir ini, penggunaan daun-daunan untuk membuat atap rumah sudah banyak menggunakan seng. 

b. Tenaga

Dalam membuat bangunan rumah, dan juga bangunan-bangunan lainnya, para pekerjanya diklasifikasi menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Tukang Tuo

Tukang Tuo adalah tukang yang keahliannya sudah diakui oleh semua penduduk desa dan telah berumur lanjut. Keahlian Tukang Tuo tidak saja berkaitan dengan arsitektur bangunan tetapi juga mengerti tentang rasi Rumah, jujur, dan berpengalaman. Dengan kata lain, Tukang Tuo tidak hanya bertanggung jawab untuk membuat bangunan yang kokoh sehingga dapat menjadi tempat berlindung secara jasmani tetapi juga dapat memberikan ketenangan dan keamanan secara rohani.    

  • Tukang

Tukang yang mempunyai keahlian dalam soal bangunan, tetapi tidak terlalu menguasai rasi Rumah. Jadi kalau Tukang Tuo bertanggung jawab pada aspek fisik dan psikis bangunan, maka tukang biasanya membantu Tukang Tuo untuk membuat bangunan yang kokoh secara fisik belaka. 

  • Tukang Pak Sondul  

Yang dimaksud Tukang Pak Sondul adalah tukang-tukang yang pekerjaannya membantu tukang untuk mengerjakan pekerjaan kasar.

  • Tenaga Umum

Walaupun tidak bertanggung jawab terhadap keberadaan bangunan, keberadaan tenaga umum sangat dibutuhkan, misalnya untuk menegakkan tiang dan memasang atap. Keberadaan tenaga umum hanya bersifat tentatif (jika diperlukan).    

3. Pemilihan Tempat

Rumah merupakan tempat berlindung baik secara jasmani ataupun rohani. Oleh karena itu, tempat untuk mendirikan Rumah harus dipilih dengan cermat dan teliti. Kesalahan memilih tempat untuk mendirikan bangunan dapat menimbulkan mala-petaka bagi penghuninya. Secara umum, ada dua macam tempat untuk mendirikan bangunan, yaitu tempat yang baik dan tempat yang buruk.

a. Tempat yang dianggap baik di antaranya:

  • Tanah datar dan banyak tanah liatnya.
  • Tanah yang letaknya tidak membelakangi atau melangkahi tanah perumahan orang yang lebih tua.
  • Tanah milik pribadi atau tanah adat yang telah dibagikan.
  • Tanah yang dekat sumber mata air atau sungai.
  • Tanah yang tidak berbatu.

b. Tempat yang dianggap tidak baik:

  • Tanah yang tidak jelas siapa pemiliknya.
  • Tanah kuburan atau bekas kuburan.
  • Tanah yang rata dan berbusuk-busuk.
  • Tanah yang banyak gambut atau pasir saja, karena tanah ini dianggap tidak kuat untuk mendirikan bangunan, dan kalau pun terpaksa harus mendirikan bangunan di sana, bangunan itu tidak akan tahan lama.
  • Tanah yang mengganggu jalan umum. Tanah ini dilarang, karena dianggap tidak tahu adat.
  • Tanah bekas Rumah atau bangunan yang terbakar, atau penghuninya meninggal karena penyakit menular.
  • Tanah bekas orang mati berdarah, baik oleh binatang buas maupun oleh manusia.

4. Tahapan Pembangunan Rumah Rakit

a. Persiapan

1) Musyawarah

Seseorang yang hendak mendirikan rumah harus memusyawarahkan rencana pendiriannya tersebut. Dalam musyawarah pesertanya terdiri dari Ninik Mamak dan orang laki-laki dewasa. Musyawatah tersebut diadakan di rumah sompu dan dipimpin oleh Kepala Suku atau oleh Datuk nan Limo. Dalam forum ini, disampaikan tentang aturan adat untuk mendirikan bangunan dan tanggung jawab masyarakat untuk menaatinya. Selain itu, dalam forum ini juga dibahas antara lain tentang: jenis dan tujuan bangunan didirikan, bahan-bahan yang diperlukan, tempat untuk mendirikan, bagaimana pengadaan bahannya, siapa tukangnya, dan kapan bangunan akan dimulai pendiriannya.

Keputusan musyawarah harus ditaati tidak saja oleh orang yang hendak mendirikan bangunan, tetapi juga oleh semua peserta musyawarah. Kalau ternyata kesepkatan tersebut dilanggar, maka orang yang melanggar akan mendapatkan sangsi adat, misalnya:

  • Dianggap tidak tahu adat.
  • Dianggap tidak menghormati orang tua.
  • Penghuni Rumah akan selalu dalam pergunjingan.

Pelanggar dikenakan sanksi berupa denda dengan memotong seekor kerbau, dibongkar bangunannya atau dikucilkan dari kampung.

2) Mempersiapkan Tempat

Setelah mendapat masukan dari peserta musyawarah, maka secara adat pembangunan rumah dapat segera dimulai. Namun, sebelum pembangunan rumah dimulai, tanah untuk tempat bangunan tersebut terlebih dahulu harus dimatikan, yaitu dengan menyelenggarakan upacara menogakkan Rumah.  

Di samping itu, penentuan tempat pembangunan Rumah harus memperhatikan adat, misalnya:

  • Anak lelaki tertua jika hendak membangun rumah, maka ia harus membangun rumahnya di samping kanan rumah ayahnya, sedangkan adik-adiknya di bagian belakang secara berurutan menurut urutan usianya. Tetapi jika anak tertuanya adalah perempuan, maka ia harus mendirikan rumah di samping kiri rumah ayahnya dan adik-adiknya secara berurutan di belakang rumahnya.
  • Anak perempuan bungsu dari Kepala Adat, tidak boleh membuat rumah sendiri, karena ia harus tinggal di rumah sompu.
  • Jika dalam keluarga itu hanya ada anak lelaki atau perempuan saja, maka yang ditentukan adalah lokasi anaknya yang tertua, sedangkan adik-adiknya dapat membuat rumah di kanan-kiri rumah ayahnya.
  • Jika ketersediaan tanah keluarga tidak cukup, misalnya karena keluarganya banyak, maka dapat mencari tanah lain, namun harus dengan persetujuan ayahnya. Jika ayahnya tidak setuju, maka anak-anaknya tidak dapat mendirikan Rumah dan harus tetap tinggal di rumah ayahnya sampai ayahnya meninggal. Pembangunan rumah di tempat baru juga harus berdasarkan urutan yang tua di depan diikuti oleh adik-adiknya di belakang.
rumah lancang
Untuk membangun Rumah Lancang, anak laki-laki tertua
membangun rumah di sebelah kanan rumah ayahnya
sedangakan anak perempuan pada sisi kirinya.

3) Pengumpulan Bahan

Oleh karena rumah tidak sekedar tempat berlindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga merefleksikan keyakinan dan identitas sosial, maka pengadaan bahan harus dilakukan secara cermat dan teliti dengan tetap berpedoman pada hasil musyawarah yang telah dilakukan.

Untuk mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan, orang yang hendak membangun rumah dapat mencarinya sendiri atau memesan kepada tukang yang telah ditentukan pada saat musyawarah. Namun demikian, pengadaan bahan baik dengan cara memesan atau dengan mencari sendiri harus tetap belandaskan pada adat. Dalam mencari kayu (beramu atau pekayuan), ada hal-hal yang harus dipertimbangkan di antaranya:

  • Meramu kayu sebaiknya dilakukan pada musim malam gelap (ketika bulan tidak nampak).
  • Waktu yang baik untuk pergi meramu adalah di waktu subuh.
  • Kayu yang dipilih adalah kayu tertentu sesuai dengan penggunaannya. Jadi, dalam meramu kayu harus benar-benar selektif, apakah kayu-kayu tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak.

Namun demikian, tidak semua kayu yang jenisnya cocok untuk bahan bangunan dapat digunakan. Adapun kayu yang tidak dapat digunakan, walaupun jenisnya bagus, di antaranya adalah: kayu yang akarnya menjulur ke air; kayu bekas tebangan; kayu yang waktu ditebang tumbangnya tidak lansung jatuh ke tanah; kayu berlobang; dan kayu bekas terbakar.

Setelah bahan-bahan terkumpul, kemudian dipisah-pisahkan sesuai dengan kegunaan masing-masing kayu  dan disimpan di tempat yang kering. Lama penyimpanan sekitar 3 bulan sampai 6 bulan. setelah masa penyimpanan dianggap cukup, kayu-kayu tersebut diolah sesuai dengan kegunaannya (gelegar, rasuk, bendul, dan sebagainya) dan kemudian dikeringkan, baik dengan cara dijemur atau dipanggang menggunakan api.

b. Tahap Pembangunan

Setelah tahap persiapan selesai, maka pembangunan Rumah Lancang dapat segera dilakukan. Secara garis besar, pembangunan Rumah Lancang terdiri dari tiga tahap yaitu:

  • Mendirikan kerangka bangunan dan memasang bagian bawah (lantai) rumah. Pembuatan kerangka rumah diawali dengan menegakkan tiang Tuo dan dilanjutkan dengan tiang-tiang lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan rasuk, gelagar, dan bandul. Kerangka rumah yang belum beratap, berlantai, dan berdinding disebut Rumah Lako. 
  • Memasang bagian tengah dan bagian atas. Pada tahap ini yang dilakukan adalah memasang tutup tiang, alang, kerangka dan atap. Kerangka rumah yang sudah mempunyai atap dan lantai tetapi belum mempunyai dinding, pintu, jendela disebut Rumah Siap. 
  • Memasang hiasan dan penyelesaian akhir. Pada tahap ini, ditandai dengan pemasangan dinding, loteng, pintu, jendela, dan memasang hiasan serta menghaluskan bagian-bagian yang belum sempurna. Pada kondisi ini, ketika rumah sudah selesai dibangun lengkap dengan ragam hiasnya, maka rumah disebut sebagai Rumah Didandani atau Rumah Lengkap. 

(Proses pendirian rumah secara lengkap sedang dalam proses pengumpulan data)

5. Bagian-Bagian Rumah Lancang

Rumah Lancang secara garis besar terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu ruang bawah, ruang tengah dan ruang belakang. Pembagian ruang rumah tersebut merupakan refleksi pemahaman masyarakat Kampar terhadap tata pergaulan dalam kehidupan masyarakat. Ketiga pembagian ruang tersebut terejewantahkan dalam konsep alam nan tigo, yaitu alam berkawan, bersamak, dan semalu.  

  • Alam berkawa, merupakan bagian rumah untuk tempat bergaul (berkawan) sesama warga kampung. Yang termasuk ruangan ini adalah ruang bawah. Ruang bawah terbagi menjadi dua bagian, yaitu ujung bawah dan pangkal rumah. Ujung bawah berfungsi sebagai ruang duduk Ninik Mamak, tempat sembahyang dan undangan (jika mengadakan upacara). Pangkal Rumah merupakan tempat tidur dan ruang duduk Ninik Mamak pemilik rumah (Ninik Mamak nan punyo soko). 
  • Alam bersamak (kaum kerabat dan keluarga) dilambangkan dengan ruang tengah. Ruang ini juga terbagi dua, yaitu  poserek dan ujung tengah. Poserek digunakan sebagai tempat berkumpul orang tua perempuan dan anak-anak, dan terkadang sebagai tempat tidur keluarga wanita dan anak. Ujung tengah sehari-hari dipakai sebagai ruang tidur pemilik rumah dan tempat meletakkan  gerai pelaminan dalam upacara perkawinan.
  • Alam semalu merupakan ruangan untuk kehidupan pribadi dan rumah tangga, dan  tempat menyimpan segala barang-barang rahasia.  Ruangan ini terdiri dari sulo pandan dan pedapuan. Sulo pandan digunakan sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang keperluan sehari-hari dan peralatan dapur. Sedangkan pedapuan berfungsi sebagai dapur, ruang makan keluarga, dan tempat kaum ibu bertamu. Kadang dipakai pula sebagai ruang tidur anak gadis.

6. Ragam Hias

Rumah Lancang pada umumnya diberi aneka ragam hiasan, mulai dari tangga, dinding, pintu sampai puncak atapnya. Ragam hias yang digunakan diantaranya adalah:

1) Flora

Hiasan yang merupakan stilirisasi tumbuh-tumbuhan merupakan hiasan yang paling banyak digunakan. Ukiran berbentuk stilirisasi tumbuh-tumbuhan ada dua macam, yaitu:

  • Akar Paku atau Kaluk Paku. Yang termasuk kelompok ini adalah: Kaluk Mandaki, Kaluk Turun, dan Kaluk Berpilin. Kaluk Mandaki adalah bentuk ukiran yang garis dasar tulang daun dan lengkung daunnya menghadap ke atas. Kaluk Turun adalah bentuk ukiran yang garis dasar tulang daun dan lengkung daunnya menghadap ke bawah. Sedangkan Kaluk Berpilin merupakan jalinan (kombinasi) dari kedua jenis ukiran tersebut.
kaluk pakis pial ayam
kaluk paku
Kaluk Pakis Pial Ayam
Kaluk Paku
  • Bungo Sakaki (bunga setangkai). Adalah ukiran yang menstilir bentuk bunga. 
kuntum setangkai
payung sakaki
Kuntum Setangkai
Payung Sakaki
  • Warna yang paling sering digunakan untuk mewarnai motif flora adalah warna hijau, sebagai lambang kesuburan. Warna lain yang juga digunakan adalah: kuning, putih, merah, biru, hitam, dan keemasan.
naga berjuang
naga menyamar
Naga Berjuang
Naga Menyamar

2) Fauna

Ukiran yang menggunakan bentuk hewan dalam Rumah Lancang sangat sedikit jumlahnya. Di antara yang masih digunakan adalah: itik pulang petang, semut beriring, dan ular-ular. Adapun warna yang digunakan untuk mewarnai ukiran ini adalah warna merah, keemasan, kuning, putih, dan hitam.

3) Alam

Motif alam yang sering digunakan adalah motif tanduk buang dan ukiran larik. Warna yang digunakan untuk mewarnai ukiran tanduk buang adalah putih dan kuning, sedangkan warna untuk ukiran larik disesuaikan dengan warna di sekelilingnya.

4) Kaligrafi atau Kalimah.

Motif kaligrafi atau kalimah merupakan bentuk ukiran yang berasal dari ayat-ayat al-Quran. Warna yang digunakan untuk mewarnai ukiran kaligrafi atau kalimah adalah warna putih, hijau, kuning, dan keemasan.

7) Nilai-Nilai

Dalam arsitektur Rumah Lancang, terkandung banyak nilai budaya bermutu tinggi yang merupakan bentuk pengejawantahan dari keyakinan, kearifan dan adaptasi masyarakat, dan akulturasi budaya masyarakat Kampar, Provinsi Riau. Keberadaan Rumah Lancang, dengan demikian, berkait erat dengan pembentukan watak dan sikap hidup masyarakatnya.

Musyawarah, sebagai proses paling awal dalam rangkaian pembangunan sebuah rumah, mencermikan sikap demokratis dan saling menghargai. Dalam musyawarah, semua orang yang yang hadir mempunyai kesempatan yang sama untuk mengajukan pendapat. Oleh karena itu, walaupun yang memimpin musyawarah adalah Datuk atau para Ninik Mamak, tetapi mereka hanya bersifat mengarahkan saja. Selain itu, hasil musyawarah, sebagai konsekuensinya, harus ditaati atau mengikat semua peserta musyawarah tersebut. Dengan demikian, musyawarah tidak saja merupakan upaya untuk memupuk rasa tanggung jawab setiap individu dalam masyarakat, tetapi juga merupakan ketundukan kepada etika bermasyarakat.

Pemilihan tukang melalui musyawarah, pemilihan tempat dan  dan pengadaan bahan-bahan untuk membuat rumah yang dilakukan secara cermat dan teliti dengan senantiasa berpatokan pada adat masyarakat yang diwariskan secara turun temurun, merupakan bentuk dan manifestasi dari sikap hati-hati. Hal tersebut, merupakan usaha untuk membuat sebuah rumah yang dapat menjadi tempat berlindung secara jasmani, memberikan ketentraman secara rohani, dan suasana harmonis dengan para tetangga dapat terjaga.

Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang taat pada aturan. Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat dalam konsep alam semalu, dan ruang publik, seperti konsep alam berkawan dan alam bersamak, merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan, etika bermasyarakat. Bentuk dasar rumah sehingga disebut Rumah Lancang atau Pencalang mengandung nilai kesejahteraan bagi mereka yang hidup di laut. Bentuk atap lentik (Lontik) pada kedua ujung parabungnya mengandung nilai cita-cita dan religius. Satu ujungnya merupakan cita-cita untuk mencapai kehidupan mulia, tinggi, di dunia, dan satu ujungnya lagi merupakan upaya untuk mendapatkan posisi tinggi di sisi Tuhan.

Nilai religius juga dapat dilihat pada pelaksanaan upacara baik ketika hendak mendirikan rumah, sedang mendirikan, maupun setelah mendirikan Rumah. Nilai ini juga dapat dilihat pada bentuk anak tangga yang terdiri dari lima tingkat. Anak tangga berjumlah lima merupakan simbol dari rukun Islam. Dengan melewati anak tangga (rukun Islam) yang lima, maka mereka akan mencapai kehidupan yang baik, yaitu berkumpul bersama keluarga. (AS/bdy/20/12-07).

Referensi:

  • Arsitektur Tradisional Riau {2}, dalam http://www.properti.net/berita/?q=3491, diakses tanggal 7 November 2007.
  • Atik Sugiarti, dkk, dalam http://arsitek-nusa.brawijaya.ac.id/top.php?modname=artikel&op=detail&id=9
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983/1984, Arsitektur Tradisional Daerah Riau, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
  • Djonie Soegeng, 2003, Arsitektur Melayu Modern: Penggalian Jiwa dan Transformasi Budaya, Pekan Baru, Unri Press.
  • http://www.astudio.id.or.id/artkhus52minangkabau_malaka.htm, diakses tanggal 7 November 2007.
  • Ishak, Hikmat, 2001, Warisan Riau Tanah Melayu Indonesia Yang Legendaris, Perum Percetakan Negara RI
  • Mahyudin Al Mudra, 2004, Rumah Melayu; Memangku Adat Menjemput Zaman, Yogyakarta, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Penerbit AdiCita.
  • Tenas Effendy, dkk. 2004. Corak Ragi; Tenun Melayu Riau. Yogyakarta, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Penerbit AdiCita.
  • Profil Anjungan Riau, dalam http://www.tamanmini.com/anjungan/riau/profil, diakses tanggal 7 November 2007
  • Suwondo, 1984, Arsitektur Tradisional Daerah Riau , Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta
  • ”Anjungan Riau”, dalam http://search.live.com/images/results.aspx?q=www.jakarta-tourism.go.id& FORM=BIRE, Diakses tanggal 24 November 2007.
Dibaca : 15.802 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password