Jumat, 26 Mei 2017   |   Sabtu, 29 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 8.360
Hari ini : 47.299
Kemarin : 127.290
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.469.023
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rumah Lanting (Rumah Terapung di Kalimantan Selatan)

rumah lanting
Rumah Lanting merupakan hasil dari kebudayaan dari masyarakat sungai 

1. Asal-Usul

Rumah Lanting merupakan salah satu jenis rumah tradisional di Kalimantan Selatan, Indonesia. Rumah ini merupakan tipe rumah terapung, berbahan utama kayu dan bagian bawah bangunannya menggunakan pelampung. Keberadaan Rumah Lanting menjadi salah satu bukti penyikapan manusia terhadap kondisi lingkungannya.

Kalimantan Selatan yang merupakan daerah rawa-rawa dan dilewati sungai-sungai besar yang dipengaruhi oleh pasang-surut laut Jawa, memaksa orang-orang yang hidup di daerah tersebut untuk melakukan pembacaan, pembelajaran, dan penyikapan secara bijaksana. Hasilnya, mereka mampu menciptakan seperangkat kearifan lokal, bagaimana hidup secara harmoni bersama alam tanpa harus menaklukkannya. Salah satu bentuknya adalah keberadaan Rumah Lanting tersebut. 

Secara fungsi, Rumah Lanting tidak berbeda dengan rumah yang dipancang di atas tanah. Dalam Rumah Lanting yang terapung-apung di atas air sungai itu hidup sebuah keluarga, membesarkan anak, membuka toko kelontong, warung makan, atau kios bahan bakar. Bahkan, ada juga Rumah Lanting yang dijadikan penginapan atau rumah karaoke.

rumah lanting
Rumah Lanting yang dijadikan
sebagai tempat berusaha

Rumah Lanting juga berfungsi sebagai gerbang untuk berkomunikasi dengan masyarakat luar. Kondisi tanah yang berawa dengan rata-rata ketinggian 0,16 meter di bawah permukaan laut menyebabkan sebagian besar jalan darat di Kalimantan kondisinya sangat buruk. Bahkan sebagain wilayahnya masih belum terjangkau dengan transportasi darat, sehingga penggunaan transportasi sungai menjadi solusinya. Kondisi ini sekaligus membuka peluang usaha di sepanjang aliran sungai. Tidak heran jika kemudian di sungai-sungai di Kalimantan muncul berbagai jenis usaha. Keberadaan Rumah Lanting juga berfungsi untuk mencegah erosi yang diakibatkan oleh pasang surutnya laut. Kelebihan lain dari Rumah Lanting adalah konstruksi yang anti banjir. Ketika rumah-rumah penduduk di sebagian daerah Kalimantan Selatan terendam banjir sampai tiga meter, Rumah Lanting walaupun hanya dengan konstruksi yang sederhana, namun Rumah Lanting seolah-olah tidak terganggu. 

Sampai tahu 1980-an, di pinggir sungai-sungai besar di Kalimantan masih terdapat banyak Rumah Lanting dengan berbagai aktivitas penghuninya, seperti: mandi, memasak, berdagang, dan lain sebagainya. Memang terkesan tak beraturan, tapi bukankah di dalam ketidakteraturan itu juga terdapat keindahan.  Namun saat ini, seiring dengan perubahan pola pikir manusia dan adanya upaya dari pemerintah kabupaten untuk melakukan penataan kota, Rumah Lanting semakin sulit untuk ditemui. Jika kondisi ini tidak disikapi secara bijaksana, bukan hal yang mustahil jika nantinya Rumah Lanting hanya tinggal cerita.  

rumah lanting
Rumah Lanting yang perlahan hilang
dari bumi Kalimantan Selatan

2. Tempat dan Bahan-Bahan

Secara spesifik tempat yang digunakan untuk membangun Rumah Lanting adalah sepanjang aliran sungai yang agak dalam. Rumah Lanting merupakan arsitektur rumah terapung yang sebagian besar bahan-bahannya terbuat dari kayu. Namun walaupun hanya terbuat dari kayu dan berada di atas aliran sungai, Rumah Lanting dapat bertahan hingga puluhan tahun karena menggunakan bahan-bahan pilihan. Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membuat rumah Lanting di antaranya adalah:

  • Kayu. Kayu merupakan bagian bahan utama untuk membuat Rumah Lanting. Kayu digunakan untuk membuat Fondasi, kerangka rumah, lantai, dinding, dan terkadang juga untuk atap. Untuk membuat fondasi, kayu yang dibutuhkan adalah kayu yang tidak mudah lapuk bila direndam dalam air. Biasanya kayu yang digunakan adalah kayu meranti, bangkirai, atau ulin yang masih gelondongan (log) dengan diameter sekitar 50-100 cm dengan panjang minimal lima meter. Untuk membuat kerangka, lantai dan dinding Rumah Lanting biasanya menggunakan kayu ulin, bangkirai, atau meranti. Sedangkan untuk membuat atap, biasanya menggunakan sirap, yaitu kayu yang telah dibelah tipis dengan ketebalan sekitar 3-5 cm. Kayu yang digunakan adalah kayu yang tahan terkena terik matahari misalnya kayu belian.
  • Daun rumbia. Selain menggunakan sirap, untuk membuat atap Rumah Lanting terkadang juga menggunakan daun rumbia. Daun rumbia dipilih selain karena mudah disusun dan tidak mudah ditembus air juga karena ringan sehingga fondasi tidak menahan beban yang berat.
  • Seng. Seiring perkembangan zaman, untuk membuat atap masyarakat menggunakan seng. Selain lebih effektif juga ringan.
  • Tali. Tali digunakan antara lain untuk menyambung bagian-bagian kayu, menempelkan atap, dan untuk mengikat rumah agar tidak terbawa arus air.

4. Tahapan Pembangunan Rumah Lanting

Pendirian Rumah Lanting diawali dengan menentukan tempat di mana Rumah Lanting tersebut akan didirikan. Setelah itu dilanjutkan dengan pencarian dan pengumpulan bahan. Setelah bahan-bahan terkumpul, maka pendirian Rumah dapat segera dimulai.

Aktivitas mendirikan Rumah Lanting diawali dengan membuat fondasi rumah. Kayu-kayu yang hendak digunakan untuk membuat fondasi, dijejerkan ditepi sungai sesuai dengan seberapa besar bangunan rumah yang hendak dibuat. Kemudian di atas bahan fondasi tersebut, disusun susuk dan gelagar. Kemudian di atasnya ditempeli papan-papan yang nantinya akan berfungsi sebagai lantai. Pada tahap ini, kita akan melihat sebuah rakit raksasa.

Setelah bagian fondasi selesai, kemudian rakit raksasa tersebut didorong ke sungai. Setelah sampai pada posisi yang ditentukan, bagian depan dan belakangnya diikatkan dengan tiang pancang yang ada dipinggir sungai. Tujuannya agar rumah tidak terbawa arus. Kemudian di atasnya dibuat kerangka rumah. Setelah itu pemasangan dinding dan atapnya. Setelah pemasangan atap, bararti pembuatan Rumah Lanting sudah selesai dan siap untuk ditempati.

rumah lanting
Pada gambar terlihat Rumah Lanting yang pada kiri kanan lanting biasanya terdapat tali yang ujungnya terikat pada batang kayu atau tunggal ulin. Tali pengikat ini harus dua pada sebelah hulu dan hilir. Selain itu, untuk pergi ke daratan biasanya dibuat titian.

(Proses detail pembuatan Rumah Lanting sedang dalam proses pengumpulan data)

5. Anatomi Rumah Lanting

Rumah Lanting biasanya mengahadap ke daratan dengan konstruksi bubungan  berbentuk atap pelana. Rumah Lanting memiliki dua ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tidur yang masing-masing berukuran sekitar 5 x 3 meter. Ruang tidur merupakan ruang privat yang  hanya boleh dimasuki oleh anggota keluarga. Sedangkan ruang tamu merupakan ruang publik, yaitu tempat melakukan aktivitas sosial, misalnya menerima tamu dan mengadakan upacara-upacara. Ruang tamu juga terkadang digunakan untuk tempat memasak.

Rumah Lanting mempunyai dua lawang (pintu) masing-masing menghadap ke darat dan ke sungai. Pada kedua didindingnya terdapat dua lalungkang (jendela) kecil. Selain itu, di depan lawang terdapat titian (jembatan) yang menghubungkan Rumah Lanting dengan daratan.

Adakalanya untuk tempat memasak, dibuat ruangan lain yang posisinya menempel. Pada bagian belakang rumah, terkadang juga dibuat bangunan untuk tempat buang air.

rumah lanting
Masyarakat  melakukan aktivitas mandi, mencuci,
dan buang hajat dibelakang rumah mereka

6. Nilai-Nilai

Hasil pembacaan masyarakat Kalimantan Selatan secara arif dan bijaksana terhadap kondisi lingkungannya melahirkan kearifan lokal yang terejawantahkan dalam arsitektur Rumah Lanting. Rumah Lanting walaupun bahan-bahan utamanya adalah kayu, tapi bisa bertahan puluhan tahun dan menjadi tempat yang aman bagi masyarakat dari terjangan banjir.

Pesan dari keberadaan Rumah Lanting sangat jelas, yaitu mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca dan bersahabat dengan alam. Jika kita baik pada alam maka alampun akan menjamin kehidupan umat manusia. Tapi jika kita berbuah jahat kepada alam, misalnya dengan merusak alam, maka alampun akan menghancurkan umat manusia. Marilah kita belajar membaca alam sebagaimana telah dilakukan oleh para nenek moyang kita. (AS/bdy/22/12-07).

Referensi:

  • Depdikbud, 1996, Arsitektur Tradisonal Daerah Kalimantan Selatan, Dirjen Kebudayaan, Jakarta
  • http://arsitek-nusa.brawijaya.ac.id/top.php?modname=artikel&op=detail&id=2, diakses tanggal 11 Desember 2007.
  • http://boykomar.multiply.com/journal/item/51/Penjelajahan_Di_Muara_Teweh, diakses tanggal 11 Desember 2007.
  • http://digilib.ampl.or.id/detail/detail.php?row=1&tp=artikel&ktg=banjirluar&kd_link=&kode=379, diakses tanggal 11 Desember 2007.
  • http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/12/tanahair/1367021.htm
  • ”Kayu Ilegal Polisi Lepaskan 35 Rumah Lanting”, dalam http://klipinghutan.blogspot.com/2007/06/kayu-ilegal-polisi-lepaskan-35-rumah.html, diakses tanggal 11 Desember 2007.

  • ”Lanting”, dalam http://percakburok.blogspot.com/2007/01/lanting_10.html

  • ”Lanting, Rumah Anti banjir”, dalam http://digilib.ampl.or.id/detail/detail.php?row=1&tp=artikel&ktg=banjirluar&kd_link=&kode=379, diakses tanggal 11 Desember 2007.
  • Lanting, Rumah Terapung Warisan Peradaban Banjar, dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0411/12/tanahair/1367021.htm
  • ”Perda Menggusur Rumah Apung di Tepian Sungai Barito”, dalam http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/29/nasional/3490213.htm, diakses tanggal 12 Desember 2007.
  • ”Rumah Baanjung Banjar: dari Pantai ke Sungai, dari Bangsawan ke Awam”, dalam http://arsitek-nusa.brawijaya.ac.id/top.php?modname=artikel&op=detail&id=2, diakses tanggal 12 Desember 2007.
  • ”Rumah Tradisional Banjar”, dalam  http://kerajaanbanjar.wordpress.com/category/arsitektur-banjar/, diakses tanggal 11 Desember 2007.
Dibaca : 21.055 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password