Pantun Sindir-Menyindir
Dalam berbicara dengan orang lain, kadangkala diperlukan ungkapan sindiran, karena ungkapan secara terang-terangan hanya akan menimbulkan perselisihan. Karena itu pantun dengan sindiran yang bernada jenaka menjadi salah satu strategi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
| | 001. | Tanam padi dalam hutan Sudah ditanam ditunggui Kesal hati ayam jantan Padi terjemur ditunggui |
| 002. | Kerukut kampung serani Ambil tangga buat titian Hati takut jadi berani Melihat janda bagai perawan |
| 003. | Elok-elok menunggang kuda Tebing bertarah tanahnya licin Elok-elok berbini muda Nasi hangus gulainya masin |
| 004. | Pagi hari memasak bubur Takut masam ditambah gula Laki bini tidak bertegur Mulut diam tangan meraba |
| 005. | Anak buntal terkapai-kapai Dibawa pasang hanyut ke laut Awak bebal memandai-mandai Ditanya orang terkentut-kentut |
| 006. | Karena jaring ditahan ungka Banyak siamang tak dapat rezeki Karena bersaing dengan yang tua Banyaklah bujang tak dapat bini |
| 007. | Sejak belatuk pergi kawin Siang malam bayan meradang Sejak beruk jadi pemimpin Halal haram dimakan orang |
| 008. | Jalan-jalan ke Kampung Dalam Singgah-menyinggah di pagar orang Pura-pura mencari ayam Ekor mata ke anak orang |
Dibaca : 132.298 kali.
Berikan komentar anda :