Jumat, 23 Juni 2017   |   Sabtu, 28 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 500
Hari ini : 87
Kemarin : 24.957
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.673.900
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Penabalan Sultan Butuni (Sulawesi Tenggara)

1. Asal-Usul

Keberadaan pemimpin merupakan hal yang sangat vital dalam sebuah kelompok masyarakat. Pemimpin tidak hanya mengatur bagaimana agar tercipta kehidupan yang harmonis dalam komunitas yang dipimpinnya, tetapi juga memberi arah ke mana mereka seharusnya melangkah. Oleh karena itu, agar mampu menjalankan kedua fungsi tersebut, seorang pemimpin tidak hanya harus mempunyai kecakapan dalam memimpin tetapi juga harus mempunyai legitimasi baik secara kultural maupun struktural. Hal tersebut, dapat dilihat pada proses penetapan Sultan Butuni, di Sulawesi Selatan, Indonesia.

Pembentukan Kesultanan Butuni didasarkan atas nilai tradisi lokal, ajaran Islam, dan pelapisan sosial masyarakatnya. Di Butuni, terdapat empat golongan masyarakat, yaitu: Kaomu, Walaka, Papara dan Batua. Kaomu adalah golongan yang dianggap keturunan langsung dari Wa Kaa Kaa, raja perempuan pertama di Butuni sebelum masuknya Islam. Golongan Walaka adalah keturunan Wa Kaa Kaa yang sudah bercampur dengan keturunan mubaligh dari Arab: Abdul Wahab dan Sharif Muhammad. Papara adalah rakyat biasa, sedangkan batua adalah orang yang bergantung kepada orang lain baik sebagai budak atau karena berhutang.

Pada masa pemerintahan Sultan La Elangi yang bergelar Dayanu Ikhsanuddin (1578-1615), dibuat ketentuan bahwa yang mempunyai hak untuk menjadi sultan Butuni adalah golongan Kaomu.  Lebih jauh La Elangi melakukan kesepakatan dengan Sapati La Singa dan Kenepulu La Bula untuk menetapkan tiga cabang dari Kaomu. Pendekatan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa Kaomu membentuk cabang Tanailandu, La Singa membentuk cabang keluarga Tapi-Tapi, dan La Bula membentuk cabang keluarga Kumbewaha. Ketiga cabang dari Kaomu inilah yang kemudian dikenal dengan Kamboru-Mboru Talu Palena secara harfiah berarti “Tiga Tiang Penyangga”.

Keberadaan tiga cabang Kaomu tersebut yang kemudian menyebabkan proses penentuan sultan di kesultanan Butun, agak berbeda dengan tradisi yang berkembang di kesultanan-kesulatanan yang lain. Jika biasanya seorang sultan diangkat berdasarkan garis genetik (putra mahkota), maka di kesultanan Butuni seorang sultan ditetapkan melalui proses pemilihan yang dilakukan oleh Bonto Sio Limbona (Menteri Yang Sembilan). Bonto Sio Limbona terdiri dari sembilan menteri yang mewakili sembilan kampung dan berasal dari golongan walaka. Mereka adalah Bonto Baaluwu, Bonto Peropa, Bonto Gundu-Gundu, Bonto Barangkatopa, Bonto Gama, Bonto Siompu, Bonto Wandayilolo, Bonto Melia, dan Boiito Rakiya. Dengan kata lain, putra sultan tidak secara otomatis akan menjadi sultan berikutnya. Tradisi yang agak berbeda ini, dimulai sesudah masa pemerintahan Sultan Murhum, bergelar Qaimuddin I (1538 M).

Adapun kriteria untuk menjadi sultan Butuni adalah: (1) berasal dari golongan Kaomu, (2) laki-laki, dan (3) memiliki sifat-sifat: sidiq (jujur); tabligh (transparan); amanah (terpercaya dan dapat memegang janji); fathanah (lancar dan fasih berbicara); tidak takabur; tidak sombong; sehat jasmani dan rohani; serta mencintai dan dicintai orang banyak. Tampak jelas bahwa untuk menjadi sultan Butuni didasarkan pada sifat-sifat Nabi Muhammad SAW.

Proses pemilihan calon sultan Butun dimulai jauh hari sebelum seorang sultan wafat, berhenti atau diberhentikan oleh Bonto Sio Limbona. Proses ini dimulai dengan pencalonan terhadap mereka yang berasal dari golongan Kaomu. Calon-calon yang diajukan, kemudian dinilai dan dievaluasi, sehingga ketika sultan lama tidak bisa melanjutkan tugasnya baik karena meninggal dunia, berhenti atau diberhentikan, para Sio Limbona telah memiliki referensi siapa calon yang paling kapabel dan sesuai dengan kriteria yang ditentukan.  

Dalam menjalankan pemerintahan, sultan Butun harus berlandaskan pada konsep “kesepakatan” dan “kebersamaan”. Prinsip dari nilai-nilai itu terwujud dalam falsafah kesultanan yang disebut Pbinci-binci kuli. Jika prinsip “kesepakatan” menghasilkan nilai persatuan maka “kebersamaan” menghasilkan nilai “tenggang rasa”. Aplikasi dari prinsip ini dapat dilihat pada pola hubungan yang dibangun baik secara vertikal (antara pemimpin dan rakyat) maupun secara horisontal (sesama rakyat) sebagaimana disebutkan dalam ungkapan:

Pomae-maeka : Saling menghormati
Pame-maasiaka : Saling menyayangi
Popita-piara : Saling menjaga/pelihara
Poangka-angkataka : Saling mengangkat derajat

Dalam konsep politik, Pbinci-binci kuli  dimaknai sebagai: (1) Yinda Yindamo Arataa Somanamo Karo (biarpun harta habis asalkan jiwa raga selamat), (2) Yinda Yindamo Karo Somanamo Lipu (biarpun jiwa raga hancur asal negara selamat). (3). Yinda Yindamo Lipu Somanamo Sara (biarpun negara tiada asal pemerintah ada). Dan (4). Yinda Yindamo Sara Somanamo Agama (biarpun pemerintah tiada asal Agama dipertahankan).

2. Tempat, Waktu, dan Peralatan

a. Tempat

Ada dua tempat yang digunakan untuk penabalan Sultan Butuni, yaitu: Baruga dan Masjid Agung Keraton. Baruga (balai pertemuan Sara) digunakan sebagai tempat untuk mengumumkan nama sultan baru yang terpilih, sedangkan Masjid Agung Keraton digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan upacara penabalan.

masjid keraton sultan buton
Masjid Agung Keraton Kesultanan Butun:
Di tempat ini, upacara penabalan Sultan Butun dilaksanakan.


b. Waktu

Waktu pelaksanaan upacara penabalan sultan biasanya diadakan pada hari Jumat, yaitu setelah pelaksanaan shalat Jum‘at.


c. Peralatan

Adapun peralatan yang dibutuhkan dalam upacara ini adalah:

  • Payung. Payung digunakan pada proses panabalan.
  • Air. Air yang digunakan dalam upacara ini adalah air yang diambil dari desa Tobe-Tobe, sebuah desa yang berjarak 12 kilometer sebelah utara keraton.
  • Batu Wolio (Batu Yigandang). Batu ini diberi hiasan kelambu dan digunakan sebagai tempat pijakan oleh calon sultan ketika dibaiat menjadi sultan.
  • Alat-alat musik (genderang dan gong-gong). Alat ini dibunyikan semalam suntuk sebelum upacara penabalan sultan dilaksanakan.
  • Bedak. Bedak ini dibuat dari campuran 120 macam bahan dan digunakan untuk membedaki calon sultan.
  • Seperangkat pakaian yang terdiri dari: sarung, ikat kepala, dan baju.


3. Tata Laksana

a. Tahap penentuan calon sultan

Proses seleksi terhadap calon penerus sultan Butun dimulai jauh hari sebelum seorang sultan wafat, berhenti, atau diberhentikan. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

  • Proses penetapan dimulai dengan pencalonan terhadap mereka yang berasal dari golongan Kaomu yang disebut Kamboru-Mboru Talu Palena.
  • Setelah para calon sultan diketahui, para Bonto Sio Limbona (Menteri Yang Sembilan) yang mewakili sembilan kampung, mengamati putera-putera dari ketiga Kaomu yang dicalonkan. Pengamatan terhadap calon sultan ini semakin diintensifkan ketika sultan yang lama wafat, berhenti, atau  diberhentikan. Ketika sultan yang lama wafat, maka dalam jangka waktu 120 hari, semua perlengkapan sultan dipindahkan dari yang sultan terdahulu ke rumah Bonto Baaluwu dan Bonto Peropa untuk disimpan. Selain kesembilan Bonto tersebut masih ada dua Bonto yakni Bonto-Ogena Matanaeo (Mantri Besar wilayah timur) dan Bonto Ogena Sukanaeo (Mantri Besar wilayah Barat). Selama sultan baru belum terpilih, pemerintahan dijalankan oleh Sapati.
  • Selama proses transisi ini, Bonto Siolimbona terus memantau secara intensif para calon sultan sampai didapatkan calon sultan yang terbaik, misalnya yang mendekati sifat-sifat Nabi Muhammad SAW.
  • Setelah melalui musyawarah antar para Sio Limbona, calon sultan baru ditetapkan.
  • Nama calon sultan yang terpilih kemudian disampaikan kepada Bonto-Ogena. Kegiatan yang dipimpin oleh Bonto Baaluwu itu disebut “Buataka Katange” artinya mengantarkan “bungkusan rahasia”. Ketika bertemu Bonto-Ogena, Bonto Baaluwu mengantakan: “Yikawfaaka mami yingkitasiy, temanga andimiu oakamiu siy, padamo tapomapeelo yikabumbu taluanguna, yincana kanaindana laki Wolio siy, modangiana siy...” (yang menyebabkan kami datang kepada tuan bersama dengan adik-kakak tuan ini, sudah kami cari di bukit yang tiga [Kamboru-mboru Talu Palena], yang ada sekarang ini ialah ....) Pada akhir kata-kata modanga siy yang dimaksud ini adalah salah satu dari Tanailandu, Tapi-Tapi, atau Kumbewaha. Adakalanya calon sultan yang diajukan oleh Bonto Baaluwu lebih dari satu calon.
  • Kemudian Bonto Ogena menjawab: ”Jou Bonto Baaluwu, siy kurango kitamo, sepodano tabanculepo, takambojayi temanga opumia, pangka, tie yarona pangka” (Tuan Bonto Baaluwu, sekarang saya su­dah dengar namun saudara-saudara kembali dulu, berkonsultasi dengan para pejabat dan mantan pejabat). Para pejabat dan mantan pejabat yang dimaksud berasal dari golongan Kaomu. Kondisi ini disebut “Akokompoakemea Siolimbona” (calon sultan sudah dibuntingi oleh Sio limbona).
  • Kemudian Siolimbona menemui pejabat dan mantan pejabat, dengan mengatakan: “Siy Jou, tumbaakamamiyingkita siy, atumpu kami opumiu itapa ruatapana. Tamagimpi tamalalanda isapulu ruangana. Kamondomami siy, tapesusuaka dala momakate, te dala momainawa mosakalina kainawa” (Sekarang Tuan yang menyebabkan kami datang kepada tuan ini, ditugaskan oleh kakek kalian dari kedua ujungnya. Kami mengalami kesempitan dan kegelapan terhadap calon sultan. Kesepakatan kami datang kepada tuan, memohon petunjuk ke jalan paling terang.
  • Jawaban yang diberikan adalah: “Siy Jou, padamo Durango kita, mbaakanamo siy  kulawani  kitamo. Kalalaki yinda taposala-sala, sopodona yikama-kamata siy somini Laanu ...... Sabutuakanapo yiku yinda kupogaa te Sara” (Sekarang saya sudah dengar, sebab itu saya akan jawab sekarang. Kebangsawanan kita tidak berbeda-beda, namun menurut pengamatan saya sekarang ini hanyalah si .... Bagaimanapun juga saya tidak akan bercerai dengan Sara). Pada tahap ini calon sultan ditetapkan. Tahapan ini disebut paso, artinya “paku”. Jadi sudah “dipaku” atau “ditetapkan”.
  • Tahap selanjutnya adalah fali. Acara ini dilaksanakan pada Kamis malam tepatnya Jum‘at dini hari pukul 00.00, yaitu dengan melaksanakan shalat sunah istikharah. Tujuannya adalah untuk memohon petunjuk dari Allah SWT dalam rangka untuk menetapkan calon sultan yang terbaik.
  • Setelah mendapatkan keyakinan penuh bahwa nama sultan yang terpilih merupakan calon terbaik, Bontona Baluwu membisikkan kepada Bonto ogena dan diteruskan kepada Kapitalao nama sultan yang telah ditetapkan. “Kabolosina Laki Wolio La...” (sambil menyebutkan nama sultan yang dimaksud).
  • Kemudian dilanjutkan dengan mengumumkan nama calon sultan terpilih kepada masyarakat luas. Kegiatan ini disebut sokai. Pengumuman dilakukan di Baruga (balai pertemuan Sara). Adapun yang mengumumkan adalah kedua Kapitalao, yaitu: Kapitalao Mataraeo yang mengumumkan dengan menghadap ke arah Timur dan Kapitalao Sukanaeo menghadap ke arah Barat. Keduanya berdiri dengan menyandang” pedang di dadanya. Kapitalo Matanaeo mengucapkan: ”Tarango, tarango, tarango bari-bari kita siy! Yimondo akana Baluwu Peropa, te Sara bari-baria, kabolosina Laki Wolio siy La ... Yincema-yincema mokowala-walana ngangarandana, moko singku-singkuna fikirina, maimo yitanga-tanga siy bekulae -lae akea hancu siy ... haa ... haa ... haa ... Tangkanapo ...!” (Dengarkan, dengarkan, dengarkan kita semua! Bahwa yang telah disepakati oleh Baluwu Peropa bersama Sara semuanya, calon pengganti Sultan Wolio saat ini si ... (nama disebut). Siapa-siapa yang hatinya masih ragu dan mempunyai pendapat yang berbeda, datanglah di tengah-tengah ini untuk saya potong-potong dengan pedang ini... (sambil bersorak haa...haa...haa... disambut sorak gemuruh hadirin).
  • Selesainya pengumuman ini, secara de facto, sultan Wolio yang baru telah terpilih dan tinggal menunggu peresmiannya. 


b. Tahap Persiapan Upacara

Ketika para Bonto Siolimbona disibukkan oleh pemilihan sultan baru, persiapan-persiapan lain untuk menunjang terselenggaranya upacara penabalan juga dilakukan sejak Kamis sore. Adapun persiapan yang dilakukan adalah:

  • Batu Wolio (Batu Yigandang) dengan hiasan kelambu yang digunakan sebagai tempat Sultan menginjakkan kakinya pada upacara penabalan.
  • Pada malam harinya, genderang dan gong-gong dibunyikan semalam suntuk.
  • Selanjutnya, pada Jum‘at pagi, calon sultan dimandikan dengan air yang diambil dari desa Tobe-Tobe. Ia dimandikan oleh Bonto Patalimbona (Menteri dari Empat Permukiman) yakni Bontona Baluwu, Bontona Peropa, Bontona Gundu-Gundu, dan Bontona Barangkatopa.
  • Setelah itu, calon sultan dibedaki dengan ramuan khusus yang dibuat dari campuran 120 macam bahan. Ketika membedaki calon sultan tersebut, Bontona Baluwu mengatakan kepada calon sultan dengan kata-kata: ”Rango La Ode, teduku mumo, bangule muno, malala mumo, welalo mumo, tanda homo La Ode! Boli upoande-ande akea otana siy tedaga moumbo, te lemangku mokaza. Boli udawu-udawu akea kampurui yibaamu. Barangkalana upoandeandeaakea otana siy tedaga moumba, udawu-udawu akea kampurui yibaamu, maropu masoka, hancuru binasa, oanamu te anana Baluwu Peropa, oyingkoo te Baluwu Peropa” (artinya: Dengarkanlah La Ode, milik mulah kencur, milikmulah bangule, milikmulah serei, milikmulah welalo, saya beri tanda kepadamu La Ode, jangan dipersahabatkan (persekong-kolan) tanah ini dengan tamu-tamu dan para pendatang asing, jangan berikan destar di kepalamu (kehormatan). Sebab jikalau Tuan persekongkolkan negeri ini dengan pendatang asing, memberikan destar di kepala Tuan, maka akan hancur binasa dan cucu Tuan bersama anak cucu Beluwu Peropa, Tuan sendiri bersama Baluwu Peropa).
  • Kemudian calon sultan dipakaikan seperangkat pakaian sarung, ikat kepala, dan baju.

Setelah calon sultan selesai berpakaian sebagaimana yang ditentukan oleh adat, maka prosesi persiapan penabalan sultan sudah selesai dilakukan dan sultan siap untuk ditabalkan.


c. Prosesi Pelaksanaan

Setelah sultan berpakaian sebagaimana yang ditentukan oleh adat kerajaan Butuni (sarung, ikat kepala, dan baju), maka calon sultan sudah siap untuk dilantik menjadi sultan. Adapun prosesi pelaksanaan upacaranya adalah sebagai berikut:

  • Menjelang pelaksanaan shalat Jum‘at, calon sultan dibawa ke Masjid Agung Keraton.
  • Kemudian mereka segera melaksanakan shalat Jumat yang dipimpin Imam Masjid dengan khotbah berjudul “Khalakal Arwah”.
  • Setelah khotbah dibacakan, upacara penabalan sultan langsung dimulai. Upacara ini dalam bahasa Wolio disebut “Bululingiana Pau” (Pemutaran Payung Kesultanan).  Pada upacara penabalan sultan ini biasanya dihadiri oleh seluruh pejabat kesultanan, Sarana Barata, Sarana Kadie dan masyarakat umum, khususnya yang melaksanakan shalat Jumat.
  • Payung kebesaran sultan dipegang oleh seseorang yang memutarkannya di atas kepala calon Sultan sebanyak delapan kali ke sebelah kanan dan sembilan ke sebelah kiri disertai kata-kata pelantikan:” Bake akakomo Maulana, ouluna rahmatimu, bea peohi akamo Walaka te Kaomu”, (kukembangkan payung kepada Tuanku. Awan rahmat Tuhanku untuk melindungi Walaka dan Kaomu).
  • Sultan kemudian dibawa ke Batu Popaua, yang terletak tidak jauh dari masjid untuk pemutaran payung kedua, yang dilakukan oleh Pata Limbona.
  • Pada prosesi ini kaki kiri Sultan dimasukkan ke dalam lubang “Batu Poaua”, sambil menghadap ke barat. Saat itu diputarkanlah payung kebesaran sebanyak delapan putaran. Kemudian Sultan memasukkan kaki kanan ke dalam batu yang sama, sambil menghadap ke timur. Payung diputar lagi sebanyak sembilan kali oleh Bontona Baluwu dengan ucapan “Walu atuntu sio alagi, sapulu akamo yingkoo La Ode” (Delapan lengkap, sembilan berkesinambungan, sepuluh dengan engkau La Ode).
  • Setelah pemutaran kedua payung kebesaran itu selesai, kedua kapitalao berseru: ”Somba! Somba! Somba! Malape anana Kaomu anana Walaka, anana Papara. Yincema-yincema yinda mosobana, maimo yaroako siy beku tumpo-tumpoa, beku lae-lae akea hancu siy“ (Sembah! Sembah! Sembah! Baik anaknya Kaomu, anaknya Walaka, anaknya Papara. Siapa-siapa yang tidak menyembah, majulah ke depan biar saya potong-potong dan saya tebas dengan pedang ini).
  • Kemudian Sultan yang baru tersebut diantar ke Baruga untuk menerima somba dan selamat dari seluruh pejabat kesultanan, Sarana Barata, Sarana Kadie, dan pejabat lainnya.

Selesainya prosesi ini, berarti Kerajaan Butuni telah memiliki raja baru yang sah baik  secara de facto maupun secara de jure.


4. Doa-Doa / Mantera

Secara garis besar, doa-doa dan mantera yang digunakan dalam upacara penabalan sultan ini adalah:

  • Rangkaian doa pada shalat istikharah
  • Rangkaian doa pada shalat Jumat
  • Rangkaian doa pada khutbah Jum‘at yang bertema Khalakal Arwah
  • Ucapan-ucapan dalam bahasa lokal sebagaimana telah disebutkan di atas.


5. Nilai-Nilai

Keberadaan Sultan Butuni secara umum menunjukkan bahwa jabatan sultan tidak saja berkaitan dengan bagaimana seseorang memimpin dan menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin, tetapi juga berkaitan dengan proses dialektis yang terangkum dalam ungkapan “kesepakatan” dan “kebersamaan”. Kata “kesepakatan” menunjuk kepada sebuah proses dialektis, di mana seorang sultan tidak ditetapkan berdasarakan garis biologis-genetis tetapi melalui proses musyawarah yang didahului dengan mengamati dan menganalisa. Dengan cara ini, maka akan didapatkan seorang sultan yang benar-benar kapabel dan dibutuhkan oleh warganya. Sedangkan kata “kebersamaan” menunjukkan bahwa dikarenakan seorang sultan dipilih melalui musyawarah maka keberadaan sultan diharapkan mampu membangun kebersamaan, baik antara sultan dan rakyatnya (vertical) maupun antar rakyatnya sendiri (horisontal).

Oleh karena itu, jika dikaji secara serius, proses pemilihan, penetapan dan penabalan sultan Butuni, akan didapatkan beragam macam nilai, di antaranya adalah: kepemimpinan, musyawarah, dan kesediaan untuk menjaga keputusan.  Kepemimpinan berkaitan dengan individu yang memimpin. Oleh karena seorang individu harus memimpin warganya, maka ia haruslah orang yang terbaik di antara kaumnya. Dalam konteks Kesultanan Butuni, seorang pemimipin harus mempunyai sifat-sifat seperti Nabi Muhammad SAW. Untuk mendapatkan sultan yang mempunyai sifat-sifat tersebut, maka penetapan seorang Sultan diawali dengan proses pencalonan, pengamatan, dan penetapan yang dilakukan melalui musyawarah. Sebagai hasil keputusan musyawarah, maka sultan terpilih dengan sendirinya mempunyai legitimasi politik (modal politik) yang kuat untuk menjalankan pemerintahannya. Legitimasi tersebut akan semakin kuat seiring pelibatan unsur sakral (melalui Shalat Istikharah) dalam penetapannya.

Namun walaupun seorang Sultan mempunyai wewenang besar untuk memimpin, tetapi ia harus senantiasa mempertanggungjawabkan amanah yang diembannya, karena jika seorang sultan menyalahgunakan kekuasaannya, maka para Siolimbona dan orang-orang yang terlibat dalam penetapan sultan tersebut akan segera menurunkannya dan menggantinya dengan sultan yang baru. Apa yang  dilakukan oleh para Siolimbona dan semua  orang terlibat dalam penetapan sultan baru tersebut menunjukkan bahwa mereka sedang menjalankan fungsinya untuk senantiasa menjaga setiap keputusannya. ”Somba! Somba! Somba! Malape anana Kaomu anana Walaka, anana Papara. Yincema-yincema yinda mosobana, maimo yaroako siy beku tumpo-tumpoa, beku lae-lae akea hancu siy“ (sembah! sembah! sembah! Baik anaknya Kaomu, anaknya Walaka, anaknya Papara. Siapa-siapa yang tidak menyembah, majulah ke depan biar saya potong-potong dan saya tebas dengan pedang ini). Dan jika sultan yang dipilih kemudian keluar dari jalurnya, maka mereka pun akan segera menurunkannya. (AS/bdy/24/1-08)

Referensi:

Abubakar, Laode, 1930, “Sejarah Masuknya Islam di Buton dan Perkembangannya”, makalah Seminar Masuknya Islam di Buton, diselenggarakan Fakultas-Tarbiyah IAIN Alauddin Bau-Bau-Buton.

Abdullah, Taufik, 1993, “The Formation of Political Tradition in the Malay World”, dalam Anthony Reid (ed), The Making of an Islamic Political Discourse in Southeast Asia, Monash Paper on Southeast Asia No. 27.

Muchir, L.A., 2003, Sara Pataanguna: Memanusiakan Manusia Menjadi Manusia Khalifatullah di Bumi Kesulthanan Butuni. Tarafu-Butuni.

Tua Makmun, H. L., 1999, “Tata Cara Pengangkatan Sultan Buton”, dalam Wolio Molagi, Majalah Budaya Buton, Kendari: Edisi Perdana, Maret dan Juli/Agustus 1999.

Yunus, Abd. Rahim, 1994, “Kompetisi Kekuasaan Ternate-Gowa: Pengaruhnya Terhadap Pembentukan Sistem Pemerintahan di Kesultanan Buton”, makalah Ujung Pandang (17 November 1994).

Zahari, Mulku A., 1977, Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni (Button) Jilid I, II, III, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.”

Zuhdi, Susanto,  1999, “Labu Rope Labu Wana: Sejarah Butun Abad XVII-XVIII”, Disertasi Program Pascasarjana. Jakarta: Universitas Indonesia.

_____________, ”Perahu yang Berlayar di Antara Karang-Karang Kesultanan Butuni (1491-1960)”, dalam http://article.melayuonline.com/?a=Sm9QL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=, diakses tanggal 14 Januari 2006

Dibaca : 9.256 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password