Rabu, 1 Maret 2017   |   Khamis, 2 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 5.581
Hari ini : 35.521
Kemarin : 57.193
Minggu kemarin : 499.799
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.829.600
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Asal Mula Nama Teluk Sengat

a:3:{s:3:

Teluk Sengat adalah sebuah kota yang terletak di Muara Sungai Johor, kira-kira 40 kilometer dari Kota Tinggi, Negeri Johor, Malaysia. Kota ini merupakan kawasan wisata bahari yang sangat menarik. Setiap akhir pekan, para wisatawan berkunjung ke tempat ini untuk menikmati suasana pantai sambil memancing di pelabuhan atau di atas rakit-rakit yang berjejer di sepanjang pelabuhan. Pada malam hari, warung-warung makan berjejeran menghadap ke laut menjual berbagai makanan laut yang masih segar.

Menurut cerita, dahulu kota ini bernama Kampung Johor Lama. Namun karena terjadi peristiwa yang sangat mengerikan, masyarakat mengubah nama kampung itu menjadi Teluk Sengat. Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi di kampung itu, sehingga diberi nama Teluk Sengat? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Asal Mula Nama Teluk Sengat berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Negeri Johor, Malaysia, tersebutlah seorang raja yang arif dan bijaksana. Raja itu mempunyai seorang panglima bernama Buyong, dan dua orang patih bernama Patih Daeng Haji Muda dan Daeng Haji Putih. Kedua patih tersebut merupakan kesatria pemberani dari Bugis, Sulawesi Selatan, Indonesia. Raja itu juga mempunyai beberapa dayang cantik yang selalu setia mengurusi segala keperluannya. Salah seorang di antaranya yang paling cantik, bernama Azizah. Ia sangat disayangi sang Raja, karena selain berwajah cantik, Azizah juga termasuk gadis yang sangat lembut tutur-sapanya.

Secara diam-diam, Panglima Buyong jatuh hati kepada Azizah. Setiap malam Panglima Buyong sangat sulit memejamkan matanya, karena wajah cantik Azizah selalu terbayang-bayang di pelupuk matanya. Hatinya selalu bergejolak ingin mengungkapkan perasaannya kepada Azizah.

Suatu malam di saat suasana istana mulai sepi, Panglima Buyong mengajak Azizah untuk bertemu di taman istana. Di taman yang indah itu, Panglima Buyong mengungkapkan perasaannya kepada Azizah dengan untaian pantun.

“Mahal harganya kain batik
Dipakai selendang ke kuala
Jika bunga boleh dipetik
Dipersunting dijunjung di kepala”

Ungkapan Pantun Panglima Buyong dibalas oleh Azizah dengan pantun pula.

“Teruntum sedang berbunga
Retak buluh sampaian kain
Kalau untung tuan yang punya
Masakan lepas pada yang lain.”

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Perasaan cinta Panglima Buyong diterima oleh Azizah. Keduanya pun berjanji untuk saling setia, tidak akan saling meninggalkan satu sama lain.

Ubur-ubur sampingan dua
Tanam melati bersusun tangkai
Satu kubur kita berdua
Kalau boleh bersusun bangkai

Oleh karena takut hubungan mereka ketahuan dan menyebabkan Raja murka, maka Pangeran Buyong mengajak Azizah untuk meninggalkan istana.

“Dinda! Jika hubungan ini ketahuan Raja, maka hidup kita akan terancam. Bersediakah Dinda Azizah pergi bersamaku untuk mencari kampung yang lebih aman?” tanya Panglima Buyong.

“Jika itu memang jalan yang terbaik demi hubungan kita, Dinda bersedia, Kanda,” jawab Azizah menurut.

“Kalau begitu, besok malam kita tinggalkan istana ini,” kata Panglima Buyong.

Keesokan malamnya, saat suasana istana sepi, Panglima Buyong dan Azizah pergi meninggalkan istana dengan menggunakan perahu. Setelah dua hari dua malam berlayar menyusuri pantai, tibalah mereka di Kampung Johor Lama. Agar tidak ketahuan oleh masyarakat setempat, Panglima Buyong dan Azizah menyamar dengan mengganti nama mereka. Panglima Buyong mengganti namanya menjadi Sahlan, sedangkan Azizah mengganti namanya menjadi Halimah. Di kampung itu, mereka membeli sebuah rumah sederhana dan hidup seperti warga lainnya, yaitu sebagai petani.

Sementara itu di istana, sang Raja sangat murka ketika mengetahui dayang kesayangannya pergi. Ia pun segera memerintahkan dua orang patihnya, Daeng Haji Muda dan Daeng Haji Putih untuk pergi mencari mereka.

“Wahai, patih Daeng Haji Muda dan Daeng Haji Putih. Kalian kutugaskan untuk pergi mencari Azizah yang dibawa lari oleh si penghianat, Panglima Buyong!” titah sang Raja dengan perasaan kesal.

“Tapi... Baginda! Kemanakah kami akan mencarinya?” tanya patih Haji Muda kebingungan.

“Carilah mereka sampai ke pelosok negeri!” seru sang Raja.

“Baik, Baginda! Kami akan segera berangkat,” jawab kedua patih itu serentak seraya berpamitan.

Patih Daeng Haji Muda dan Daeng Haji Putih menyusuri pantai dengan menggunakan perahu. Setiap perkampungan yang dilewati, mereka singgahi untuk mencari Panglima Buyong dan Azizah, namun belum juga menemukan mereka.

Pada suatu hari, sampailah mereka di sebuah perkampungan yang tidak jauh dari pantai. Ketika memasuki perkampungan itu, mereka bertemu dengan seorang petani yang baru pulang dari sawahnya.

“Maaf, Pak! Apa nama kampung ini?” tanya patih Daeng Haji Muda.

“Johor Lama, Tuan!” jawab petani itu.

“Apakah bapak pernah melihat sepasang muda-mudi di kampung ini?” tanya patih Daeng Haji Putih.

“Siapa nama mereka?” Pak Tani balik bertanya.

“Pemuda itu bernama Panglima Buyong, sedangkan yang perempuan bernama Azizah,” jawab patih Daeng Haji Putih.

“Maaf, Tuan! Saya tidak pernah mendengar kedua nama itu. Akan tetapi, beberapa hari yang lalu, ada sepasang muda-mudi menjadi warga kampung ini. Si pemuda bernama Sahlan, dan  si pemudi bernama Halimah,” jelas Pak Tani.

Mendengar keterangan Pak Tani itu, Patih Daeng Haji Putih mulai curiga. “Mmm..., jangan-jangan mereka itu Panglima Buyong dan Azizah,” pikirnya.

“Di mana rumah mereka?” tanya Patih Daeng Haji Putih.

“Di sana, Tuan!” jawab Pak Tani sambil menunjuk ke arah rumah Panglima Buyong yang terletak paling ujung kampung itu.

“Terima kasih atas keterangannya, Pak,” jawab Patih Daeng Haji Putih.

Setelah berpamitan kepada Pak Tani, kedua patih tersebut mendatangi rumah Panglima Buyong. Sesampainya di depan rumah Panglima Buyong, tampak pintu rumahnya tertutup rapat.

“Assalamualaikum!” Patih Daeng Haji Putih memberi salam sambil mengetuk pintu.

“Wa alaikumsalam!” terdengar suara dari dalam rumah menjawab salam yang tidak lain adalah Panglima Buyong.

Alangkah terkejutnya Panglima Buyong ketika membuka pintu. Di depan pintunya berdiri dua laki-laki kekar yang tidak asing lagi baginya.

“Eh, Paman...! Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?” tanya Panglima Buyong panik.

“Hai Panglima, ketahuilah! Kedatangan kami ke sini atas perintah baginda untuk membawa pulang Azizah,” jawab Patih Daeng Haji Muda.

“Tidak, Paman! Jika kalian akan membawa pulang Azizah, langkahi dulu mayatku!” seru Panglima Buyong dengan sikap menantang.

“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan,” jawab Patih Daeng Haji Muda.


Tanpa berpikir panjang, kedua patih pemberani itu langsung menyerang Panglima Buyong. Pertarungan sengit pun terjadi, meskipun tampak tidak seimbang. Panglima Buyong mencoba untuk melakukan perlawanan. Namun baru beberapa jurus, Panglima Buyong sudah mulai terdesak. Ia kewalahan menangkis dan menghindari serangan yang datang silih berganti dari kedua patih itu. Pada saat yang tepat, Patih Daeng Haji Muda menghujamkan kerisnya ke arah Panglima Buyong dan tepat mengenai sisi kanan pinggangnya. Panglima Buyong menjerit kesakitan sambil memegang pinggangnya yang bercucuran darah. Lukanya sangat parah, sehingga tidak mampu lagi melanjutkan pertarungan. Melihat Panglima Buyong sudah tidak berdaya, kedua patih itu kemudian membawa Azizah pulang ke istana. Panglima Buyong tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali menjerit kesakitan.

Setelah kedua patih tersebut pergi, warga kampung baru berdatangan menjenguk Panglima Buyong yang sedang terluka. Mereka berusaha untuk mengobati luka Panglima Buyong, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Setiap ada orang yang bertanya mengenai keadaannya, semua orang akan menjawab “Teruk Sangat”.[1]

Sehari setelah kejadian, seorang pedagang dari Cina mampir di kampung itu.  Kabar tentang luka yang diderita Panglima Buyong pun sampai ke telinganya. Ia pun segera ke rumah Panglima Buyong untuk mengobatinya. Meskipun telah mengeluarkan segala kemampuannya, namun ia tetap tidak mampu menyembuhkan luka Panglima Buyong. Dengan logat Cina-nya dia berkata, luka orang ini “Teluk Sengat”.

Sejak itu, masyarakat di kampung itu selalu menirukan kata-kata pedagang Cina itu. Oleh karena setiap hari diucapkan, sehingga masyarakat setempat memberi nama kampung mereka “Teluk Sengat”.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Nama Teluk Sengat dari Negeri Johor, Malaysia. Cerita rakyat di atas mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat diambil dari cerita di atas adalah sifat bertanggung jawab. Sifat ini tercermin pada perilaku Patih Daeng Haji Muda dan Daeng Haji Putih yang tidak kenal lelah menyusuri kampung-kampung untuk mencari Panglima Buyong dan Azizah hingga akhirnya menemukan mereka. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat ini sangat diutamakan, sebagaimana dikatakan dalam ungkapan dan untaian pantun berikut ini:

Apa tanda Melayu bertuah,
Terhadap tanggung jawab tiada menyalah

Elok kayu karena berbuah
Elok buahnya rasanya sedap
Elok sedap karena bertuah
Elok tuah bertanggung jawab

(SM/sas/60/02-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Desaru”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Desaru, diakses tanggal 25 Januari 2008)
  • Anonim. “Johor”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Johor, diakses tanggal 25 Januari 2008)
  • Anonim. “Telok Sengat”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Telok_Sengat, diakses tanggal 25 Januari 2008).
  • Anonim. “Pantun Berkenalan” (http://culture.melayuonline.com/?a=UHVxL29QTS9VenVwRnRCb20%3D, diakses 16 Februari 2008)
  • Anonim. “Pantun Saling Berjanji”, (http://culture.melayuonline.com/?a=b3VxL29QTS9VenVwRnRCb20%3D, diakses tanggal 16 Februari 2008)
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa

Kredit foto : sekoyenworld.blogspot.com



 

[1] Teruk sangat artinya sangat parah.

Dibaca : 19.955 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password