Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 4.660
Hari ini : 20.902
Kemarin : 72.414
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.987.533
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Pernikahan Komunitas Proto Melayu Talang Mamak

perkawinan talangmamak
Pengantin Talang Mamak

1. Asal-Usul

Pernikahan tidak saja merupakan cara yang paling bermartabat untuk menjamin keberadaan manusia di atas muka bumi, tetapi juga sebagai pengejawantahan dan pewarisan nilai-nilai yang dianut oleh sebuah komunitas (masyarakat). Dengan kata lain, melalui perkawinan masyarakat menjamin keberlangsungannya, dan sekaligus melestarikan, mewariskan dan membentuk peradabannya. Hal itulah yang dapat kita lihat pada pernikahan komunitas Talang Mamak yang hidup di pedalaman Provinsi Riau dan Provinsi Jambi.

Komunitas Talang Mamak merupakan proto Melayu (Melayu tua). Setelah masuknya Islam, komunitas Talang Mamak menyingkir ke daerah pedalaman. Jika Melayu secara umum identik dengan Islam, maka bagi komunitas Talang Mamak, kemelayuan identik dengan adat-istiadatnya (tradisi). Oleh karenanya, upacara pernikahanya sedikit banyak memiliki kesamaan dengan upacara pernikahan Melayu pada umumnya.

Dalam kaitannya dengan masuknya Islam, ada dua identifikasi berbeda yang berkembang di komunitas Talang Mamak, yaitu: “langkah baru” dan “langkah lama”. “Langkah baru” artinya orang Talang Mamak yang telah memeluk Agama Islam. Sedangkan “langkah lama” artinya orang Talang Mamak yang menganut animisme dan dinamisme. Namun walaupun seseorang telah melakukan “langkah baru,” nilai-nilai kepercayaan lokal tidak serta merta hilang. Hal ini disebabkan Talang Mamak menggunakan kepercayaan-kepercayaan lama tersebut sebagai point of view untuk memahami agama pendatang. Akibatnya, walaupun telah melakukan “langkah baru,” tetapi keyakinan animisme dan dinamisme masih cukup mewarnai kehidupan sehari-hari komunitas itu.

Pernikahan Talang Mamak sebagai bentuk manifestasi nilai-nilai yang dianut tidak saja mengandung nilai-nilai keduniawian (profane) tetapi juga kesakralan (sacred). Oleh karena itu, dalam upacara pernikahan komunitas Talang Mamak baik dalam fase sebelum, saat atau setelah pernikahan, akan tersaji secara apik bagaimana agama pendatang, khususnya Islam, dan budaya lokal berakulturasi. Dengan kata lain, komunitas ini memperlakukan agama dan budaya lokal dalam posisi saling melengkapi.

2. Peralatan dan Bahan-Bahan Upacara

Keberadaan peralatan pendukung upacara menjadi salah satu penentu sah-tidaknya sebuah upacara. Demikian juga dalam upacara perkawinan pada komunitas Talang Mamak. Secara garis besar, peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu:

a. Sebelum Perkawinan

Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan antara lain:

  • Rokok, sirih, dan tuak. Ketiga barang tersebut biasanya menjadi teman para orang tua para gadis yang sudah akil baliq (dewasa) dalam upacara temu jodoh yang difasilitasi oleh masyarakat, yaitu upacara bertandang dan bertandang semak tikar..
  • Peralatan dan bahan-bahan untuk memasak, digunakan pada saat upacara bertandang dan bertandang semak tikar.
  • Kelambu gantung, dibawa oleh seorang pemuda yang sedang melakukan bertandang mengirik.
  • Epuk-sirih (kantong dari kain yang berisi kapur, pinang, gambir, dan tembakau). Selain kelambu, epuk-sirih juga dibawa ketika bertandang mengirik.
  • Keris, digunakan sebagai penanda keseriusan seorang laki-laki untuk menikahi seorang gadis.

b. Saat Perkawinan

Pada saat sedang atau menjelang pernikahan, peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan antara lain:

  • Tikuluk (kain yang digunakan untuk menutup kepala). Kain ini biasanya dipakai para tetua adat ketika malaksanakan upacara adat.
  • Selempang dari tiga helai kain warna-warni. Digunakan untuk menghias pundak pengantin.
  • Payung yang dihiasi pernak–pernik keemasan.
  • Peci (bagi laki-laki) yang dihias seperti mahkota.
  • Ayam jago. Hewan ini merupakan lauk pauk utama pada pesta pernikahan komunitas Talang Mamak. Biasanya, yang dijadikan lauk-pauk adalah ayam jago yang telah kalah ketika diadu pada pagi harinya.
  • Dua blok kain belacu, gelang perak berbentuk seperti bambu, dan uang seringgit.
  • Tiga pucuk lembing atau tombak.
  • Beberapa piring (pinggan), sebilah keris, tempat sirih, dan seekor ayam. Jumlah piring berisi sirih yang diserahkan kepada pihak perempuan adalah: jika pengantin pria merupakan anak pertama (sulung), maka piring yang harus diserahkan berjumlah 24 buah. Jika pengantin anak kedua, maka piringnya berjumlah 18. Jika pengantin pria merupakan anak tengah, maka ia harus memberikan 16 piring. Dan jika si pengantin pria merupakan anak bungsu, maka ia harus memberikan 24 piring, demikian seterusnya.
  • Tempat air mirip gentong. Digunakan ketika acara pemufakatan antara para tetua adat.
  • Nampan besar. Nampan ini biasanya berisi garam, gula, minyak, kelapa, bumbu dapur, dan bahan-bahan untuk memasak lainnya.
  • Sepiring sirih.
perkawinan talangmamak
Perlengkapan upacara pernikahan

3. Tempat Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara perkawinan komunitas Talang Mamak secara garis besar ada dua tempat, yaitu: Rumah orang tua pihak laki-laki dan Rumah Batin (ketua adat) atau penghulu. Rumah orang tua si pemuda biasanya digunakan sebagai tempat pertunangan. Sedangkan rumah Batin, penghulu dan aparat pemerintah digunakan untuk tempat bertandang dan melaksanakan upacara pernikahan.

4. Tata Laksana

a. Tahap Persiapan (Pra Perkawinan)

Secara garis besar, ada dua tahapan perkawinan masyarakat Talang Mamak, yaitu: bertandang dan bertunangan.

1) Bertandang

Bagi komunitas Talang Mamak, bertandang merupakan tahap paling awal dari proses perkawinan. Secara garis besar, bertandang ada dua macam, yaitu: difasilitasi oleh masyarakat dan dilakukan secara individual (perorangan).

  • Difasilitasi oleh masyarakat.

Setiap tahun, komunitas Talang Mamak mempunyai tradisi mempertemukan para pemuda dan pemudi yang telah memasuki usia dewasa dan dianggap telah memenuhi syarat untuk berumah tangga. Acara pencarian jodoh yang difasilitasi oleh masyarakat ini ada dua macam. Pertama, upacara bertandang (bertandang yang diupacarakan). Upacara “perjodohan” ini diadakan di rumah Batin pada malam hari ketika bulan mengambang (bersinar terang). Pada saat itu, para pemuda yang telah akil baliq berkumpul di halaman rumah Batin, sedangakan para pemudinya berkumpul di ruang tengah. Para orang tua dari para gadis tersebut juga ikut berkumpul di rumah Batin.   

Setelah upacara bertandang dianggap siap untuk dimulai, para ibu masuk ke dapur dan memasak nasi beserta lauk-pauknya. Pada saat para ibu menaruh periuk nasi di atas tungku, Sang Batin berdiri di tengah pintu depan dan memberi isyarat agar para gadis turun ke halaman untuk “mencari” jodohnya yang sudah menunggu di halaman. Waktu untuk “mencari” jodoh hanya selama memasak nasi. Ketika nasi telah masak, Sang Batin kembali berdiri di tengah pintu dan memberi isyarat agar para gadis segera kembali ke ruang tengah rumah sang Batin.  

Kemudian, sang Batin memperhatikan siapa-siapa dari gadis-gadis tersebut yang tidak kembali. Gadis yang tidak kembali berarti telah menemukan calon pasangan hidupnya. Selanjutnya, ia memberitahukannya kepada para orang tua si gadis bahwa putrinya telah menemukan calon pasangannya dan sekaligus mendoakan agar mereka berjodoh.

Bagi para gadis yang telah menemukan calon suaminya, biasanya langsung pergi ke suatu tempat dan hidup bersama seperti layaknya suami-isteri. Selama hidup bersama, kedua muda-mudi tersebut membangun rasa saling mengerti dan memahami untuk bekal jika kelak mereka jadi menikah. Tetapi jika pada masa bertandang salah satu pihak, baik pihak laki-laki atau perempuan, merasa tidak cocok, maka mereka dapat meninggalkan pasangannya. Namun, perlu juga diperhatikan bahwa selama belum menikah secara sah, mereka belum boleh (dilarang) melakukan hubungan badan. Jika mereka melanggar, maka sang calon suami harus membayar denda adat, yaitu harus menyembelih seekor kerbau ketika pesta pernikahan.

Kedua, bertandang semak tikar. Selain upacara bertandang, komunitas Talang Mamak juga mempunyai tradisi bertandang semak tikar dalam perjodohan. Hanya saja, jika  upacara bertandang khusus untuk para jejaka dan gadis, maka bertandang semak tikar  juga terbuka untuk para duda dan janda. Pelaksanaan acara ini secara garis besar sama dengan upacara bertandang. Hanya saja, bagi para duda atau janda, mereka biasanya duduk di luar rumah Batin.

Saat periuk nasi diletakkan di atas tungku, maka acara mencari jodoh langsung dimulai. Jika para gadis atau janda telah menemukan calon pasangannya, maka mereka duduk di atas tikar. Dan ketika nasi telah masak, maka Sang Batin memberi aba-aba agar para gadis kembali naik ke rumah dan duduk di ruangan tengah. Sementara para janda dan duda (jika ada) tetap di lapangan sampai larut malam. Bagi yang tidak masuk ke rumah Batin, maka ia telah mendapatkan pasangannya. Sedangkan para janda dan duda yang berada di luar rumah Batin, baik ketika acara belum dimulai sampai selesai dilaksanakan, maka yang bertugas untuk mengawasi proses perjodohannya adalah seorang dukun (kumantang) yang berjalan-jalan mengelilingi arena.

Para peserta bertandang semak tikar yang telah mendapatkan pasangan biasanya baru pulang ke rumahnya pada keesokan harinya dengan membawa “tanda” yang biasa dilakukan dalam acara bertandang. Tanda itu kemudian diserahkan kepada orang tuanya.

perkawinan talangmamak
Di rumah yang cukup sederhana ini, bertandang sebagai langkah awal
untuk membentuk sebuah keluarga baru dilaksanakan. 
  • Dilakukan secara individual (perorangan).

Selain difasilitasi oleh masyarakat, adakalanya para pemuda Talang Mamak mencari jodoh dengan usaha sendiri. Mencari jodoh secara mandiri ada dua cara, yaitu: pertama,  bertandang mengirik (bertandang menuai). Jika seorang pemuda pada penuaian tertarik pada seorang gadis, maka ia akan meminta bantuan kepada salah seorang kerabatnya yang perempuan untuk menyampaikan perasaannya kepada sang gadis dengan mengirimkan benda-benda seperti: cincin, kain, dan lain sebagainya kepada gadis yang ditaksirnya. Jika benda kiriman itu diterima oleh si gadis, maka si gadis tersebut mau menjadi calon isterinya. Kemudian si gadis akan menyerahkan pemberian pemuda itu kepada orang tuanya. Ini sebagai bukti bahwa ia telah ada yang punya.

Setelah itu, dua atau tiga hari kemudian ketika hari menjelang petang, sang pemuda akan datang ke rumah si gadis dengan membawa: sebuah kelambu gantung dan  sebuah epuk-sirih (kantong dari kain yang berisi kapur, pinang, gambir, dan tembakau). Barang-barang tersebut diserahkan kepada orang tua si gadis. Kemudian si pemuda berpamitan pulang dan mengatakan bahwa nanti malam ia akan datang lagi. Setelah si pemuda pulang, orang tua si gadis menaruh kelambu dan epuk sirih yang baru saja diterima dari calon menantunya di ruang tengah.

Ketika waktu beranjak malam (sekitar jam 9 malam), si pemuda datang ke rumah si gadis dengan keris terselip di pinggangnya. Setibanya di rumah si gadis, ia langsung ke ruang tengah dan duduk di hadapan orang tua si gadis yang telah menunggunya. Kemudian, si pemuda mempersilahkan kedua calon mertuanya dan si gadis untuk makan sirih yang tadi dibawanya. Acara makan sirih ini berlangsung sampai larut malam.

Ketika hari sudah mulai larut malam, maka si gadis dan kedua orang tuanya, menuju kelambu masing-masing. Setelah itu, si pemuda mengambil kelambu yang ada di hadapannya dan menggantungkannya di salah satu sudut rumah. Kemudian ia “tidur” di dalamnya. Tidak berapa lama kemudian, si pemuda dengan diam-diam mendatangi kelambu si gadis dan masuk ke dalamnya.

Setelah itu, orang tua si gadis keluar dari kelambunya menuju kelambu yang telah ditinggalkan oleh “calon” menantunya tersebut untuk mengambil keris dan baju yang ada di dalamnya. Keesokan harinya, orang tua si gadis menunjukkan barang-barang tersebut kepada orang tua si pemuda. Setelah itu, kedua orang tua tersebut membicarakan kapan pertunangan mereka akan dilangsungkan.

Kedua, bertandang pondok ladang. Jika seorang pemuda tertarik dengan seorang gadis dan berkeinginan untuk menjadikannya seorang istri, maka pada suatu malam ketika bukan bersinar terang, pemuda tersebut seorang diri akan mendatangi rumah kediaman si gadis. Ketika berada di halaman rumah si gadis, si pemuda melemparkan sekepal tanah ke rumah si gadis. Jika si gadis  mengetahui ada seorang pemuda di halaman rumahnya, maka ia akan segera memberitahukan keberadaan pemuda tersebut kepada orang tuanya.

Kemudian si gadis turun ke halaman rumah dengan membawa epuk sirih di tangannya. Ketika si gadis datang menemui si pemuda, maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu (1) meminta si pemuda masuk ke rumah atau (2) menyuruhnya meneruskan perjalanan. Jika si gadis meminta si pemuda meneruskan perjalannya, itu berarti si gadis menolak maksud si pemuda. Untuk menyatakan penolakannya, si gadis biasanya berkata, ”Bang, dua tiga rumah dari sini, di situ tinggal si dara manis. Teruskanlah Abang bertandang ke sana.” Kemudian sang pemuda membalas ucapan si gadis, “Ya, belum bertemu rupanya buku dan ruas, aku pergi dulu,” sambil melangkah pergi.

Jika si gadis menyuruh si pemuda masuk ke rumahnya, maka itu pertanda bahwa si gadis menerima niat baik si pemuda. Setelah masuk ke rumah, si gadis membuatkan si pemuda sekapur sirih. Pada saat itu juga, biasanya, si pemuda mengajak si gadis untuk pergi ke suatu tempat yang sunyi dan mendirikan “rumah.” Tujuannya adalah untuk menjajaki sampai sejauh mana keseriusan masing-masing. Jika muda-mudi tersebut bersepakat untuk melanjutkan hubungan mereka, maka keesokan harinya si gadis akan pulang ke rumahnya sambil membawa keris atau baju pemberian si pemuda, dan diserahkan kepada orang tuanya. Kemudian orang tua si gadis menyerahkan benda-benda tersebut kepada orang tua si pemuda. Seterusnya sama seperti bertandang mengirik.

Bertandang, dengan demikian, baik yang difasilitasi masyarakat ataupun yang diusahakan sendiri, merupakan tahapan paling awal dalam proses pembentukan keluarga dalam komunitas Talang Mamak. Setelah acara bertandang, tahapan selanjutnya adalah pertunangan.    

2) Bertunangan

Ketika orang tua si gadis menyerahkan barang-barang milik si pemuda kepada orang tua si pemuda, maka pada saat itu juga dibicarakan waktu pertunangannya. Acara pertunangan secara garis besar ditandai oleh dua hal, yaitu: memperlihatkan barang bibitan berupa keris dan baju si pemuda yang diserahkan kepada si gadis ketika acara bertandang, dan penyerahan sebilah keris oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan.

Namun adakalanya, setelah proses bertandang tidak dilanjutkan dengan acara pertunangan, tetapi langsung dilanjutkan dengan acara pernikahan. Jadi setelah si pemuda menyerahkan tanda sebagai bukti keseriusannya kepada si gadis, dan si gadis menyerahkan benda tersebut kepada orang tuanya, dan orang tua si gadis mempertunjukkan pemberian si pemuda kepada orang tua si pemuda, maka pada saat itu lansung dibicarakan kapan pernikahan antara kedua muda-mudi tersebut dilaksanakan.

3) Hantaran

Beberapa hari sebelum acara perkawinan dilangsungkan (sesuai kesepakatan), kedua belah pihak bersama-sama datang berkunjung ke rumah penghulu yang akan bertindak sebagai pejabat nikah. Pihak laki-laki membawa 2 blok kain belacu, gelang perak berbentuk seperti bambu, dan uang seringgit. Sedangkan pihak perempuan membawa 3 pucuk lembing atau tombak.

Setelah sampai di rumah penghulu, kedua keluarga tersebut menyerahkan epuk-sirih kepada penghulu. Kemudian si penghulu menanyakan maksud kedatangan mereka. Pertanyaan si penghulu kemudian dijawab oleh pihak laki-laki dengan berpantun. Setelah itu, barang hantaran dari kedua keluarga tersebut diserahkan kepada penghulu.

b. Prosesi Perkawinan

Perhelatan perkawinan dalam komunitas Talang Mamak biasanya diadakan selama tiga hari. Perhelatan di hari pertama adalah basajak adat, dilanjutkan dengan bebanggah pada malam kedua, dan panggil sorot pada hari terakhir. Adapun prosesi pernikahan selama tiga hari tersebut adalah:

  • Prosesi pernikahan komunitas Talang Mamak dimulai sejak dua malam sebelum acara akad nikah, yaitu dengan penyelenggaraan basajak adat. Acara ini merupakan acara saling tukar nasihat bagi kedua mempelai. Tujuannya agar kedua calon pengantin mempunyai kesiapan batin untuk mempengaruhi kehidupan baru sebagai suami istri.
  • Malam berikutnya diadakan acara bebanggah. Acara ini bertujuan agar upacara pernikahan yang akan dilangsungkan keesokan malamnya mendapatkan persetujuan dari semua sesepuh adat. Persetujuan terhadap rencana pernikahan ditandai dengan kesediaan para sesepuh adat untuk meminum secara bergiliran air dari suatu wadah mirip gentong yang telah dibacakan doa oleh salah satu tetua adat.
  • Keesokan harinya, sekitar pukul 10.00 waktu setempat diadakan acara sabung ayam. Acara sabung ayam ini tergolong unik, karena ayam-ayam jantan yang akan diadu dipasangi bilah pisau pada tajinya. Sebelum dipasang, bilah pisau tersebut diperlihatkan kepada ayamnya sambil berkata, “Inilah senjata yang akan kau pakai nanti, jadi kau jangan jadi ayam pengecut.” Ayam-ayam yang kalah, kemudian dipotong untuk menambah lauk pauk pada pesta pernikahan yang akan dilaksanakan pada malam harinya.
 perkawinan talangmamak
Pemilik ayam sedang memasang bilah pisau
pada taji ayamnya yang akan diadu
  • Ketika sabung ayam dimulai, biasanya orang-orang yang hadir akan memasang taruhan (berjudi). Acara ini (sabung ayam dan bertaruh) merupakan bagian rangkaian upacara pernikahan komunitas Talang Mamak. Jika kedua acara tersebut ditiadakan, maka upacara pernikahan dianggap kurang lengkap. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa sebagai pelengkap upacara pernikahan, menyabung ayam dan berjudi tidak boleh dilakukan setiap hari. Kedua acara tersebut kira-kira berlangsung sampai jam 11 siang.
 perkawinan talangmamak
Ayam yang kalah akan dipotong dan
menjadi lauk-pauk pesta pernikahan
  • Kemudian dilanjutkan dengan acara penyerahan alat-alat yang akan dimasak (lemukut sepatah rebung sepucuk pakis sekalo selemak semanis) kepada istri Kepala Dusun untuk dimasak sebagai hidangan pesta pernikahan pada malam harinya.
  • Setelah acara penyerahan alat dapur, dilanjutkan dengan memandikan kedua calon pengantin dengan air jeruk nipis. Ritual ini biasanya disebut mandi belimau.
  • Setelah semua rangkaian di atas dilaksanakan, maka sekitar pukul 20.00 acara inti pernikahan dilaksanakan.
  • Acara diawali dengan penyerahan piring berisi sirih dan keris oleh pengantin pria kepada pihak pengantin perempuan. Keris yang diserahkan tersebut kemudian akan disimpan oleh waris (keluarga) pihak perempuan. Penyimpanan tersebut mempunyai arti bahwa jika dikemudian hari dalam rumah tangga sang pengantin ada masalah, maka sang waris bertanggung jawab untuk mencarikan jalan keluarnya. Jumlah piring berisi sirih yang diserahkan kepada pihak perempuan disesuaikan dengan aturan yang berlaku dalam masyarakat, yaitu jika pengantin pria merupakan anak pertama (sulung), maka jumlah piring yang harus diserahkan berjumlah 24 buah. Jika si pengantin anak kedua, maka ia harus memberikan 18 piring. Jika pengantin pria merupakan anak tengah, maka ia harus memberikan 16 piring. Dan jika si pengantin pria merupakan anak bungsu,  maka ia harus memberikan 24 piring kepada pihak perempuan, sama seperti anak sulung.
  • Setelah waris perempuan menerima piring berisi sirih dan keris, maka waris perempuan kemudian menyerahkan piring dan keris tersebut kepada Ketua RT dan berunding agar anak mereka segera dinikahkan. Setelah berunding, waris perempuan memberikan uang sebagai upah nikah yang nantinya akan diberikan kepada pegawai yang menikahkan kedua mempelai.
  • Selanjutnya, Ketua RT memberikan piring berisi sirih dan keris kepada Kapala Dusun (kadus). Kadus pun menerima piring dan memakan sirih yang diterimanya. Setelah itu, Ketua RT menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu bahwa ada salah satu warganya yang minta dinikahkan.
 perkawinan talangmamak
Musyawarah antara Ketua RT dan Penghulu

  • Kemudian kadus meminta pegawai adat/imam agar menikahkan kedua mempelai. Selanjutnya kadus memberikan piring berisi sirih dan keris kepada pegawai yang ditunjuk.
  • Setelah kadus menerima piring dan menyatakan kesediaannya untuk menikahkan kedua calon mempelai, waris dari pihak pengantin perempuan menyiapkan sebuah kayu panjang yang telah dibersihkan kulitnya (kayu kubak) sebagai tanda bahwa acara puncak pernikahan akan segera dilangsungkan.
  • Selanjutnya kayu kubak tersebut dilintangkan di tengah-tengah ruangan tepatnya di atas dek rumah.
  • Kedua pengantin kemudian bergabung dengan para tamu yang sudah hadir dengan memakai mahkota di kepalanya. Mahkota pihak laki-laki berupa kopiah hitam yang diberi hiasan manik-manik dan bendana. Sedangkan mahkota pihak perempuan sedikit lebih banyak hiasannya dari pengantin pria.
  • Setelah kedua calon pengantin memasuki ruangan upacara, maka mereka berputar tiga kali di bawah kayu kubak tersebut, dan duduk berhadapan di bawahnya. Kedua pengantin saling bertukar rokok, kemudian keduanya sama-sama memakan sirih.
 perkawinan talangmamak
Kedua pengantin sedang bertukar rokok
  • Selanjutnya kedua mempelai saling menyuapi nasi yang diletakkan di telapak tangan masing-masing sebagai tanda sehidup semati.
 perkawinan talangmamak
Pengantin saling menyuapi menggunakan telapak tangan
  • Selanjutnya, para hadirin, baik tua maupun muda, melakukan acara berbalas pantun.
  • Setelah berpantun, pegawai adat yang bertugas menikahkan kedua mempelai berdiri di bawah ujung kayu kubak dan memberikan nasihat perkawinan.
  • Kemudian pegawai adat tersebut mengeluarkan keris dan menancapkannya pada kayu kubak sambil membaca mantra.
  • Kemudian menempelkan keris di dada kedua mempelai secara bergantian.
  • Selanjutnya pengantin beradu cepat untuk duduk. Dengan duduknya kedua mempelai, maka pernikahan itu dinyatakan sah. Pegawai adat pun menyatakan kedua mempelai telah sah sebagai suami istri.
  • Dilanjutkan dengan acara salam-salaman antara pengantin dengan orang tuanya, para sesepuh adat, dan seluruh hadirin yang hadir dalam acara tersebut.
  • Upacara pernikahan adat Talang Mamak ini diakhiri dengan acara makan bersama, yaitu dengan lauk pauk ayam jago yang pada pagi harinya kalah ketika diadu.

5. Doa-Doa dan Mantera

Dalam proses pengumpulan data

6. Nilai

Prosesi pernikahan komunitas Talang Mamak, merupakan refleksi dari beragam nilai yang diyakini dan bekerja dalam sebuah komunitas. Di dalamnya terkandung nilai-nilai yang merupakan hasil dari proses panjang perjalanan sebuah komunitas (masyarakat) dalam menjaga eksistensi dan membangun peradabannya. Oleh karena itu, pernikahan bagi komunitas Talang Mamak tidak sekedar menjadi urusan kedua pengantin dan keluarganya, tetapi juga komunitasnya. Upacara perkawinan bagi komunitas Talang Mamak tidak hanya acara seremonial belaka, tetapi mengandung beragam nilai yang berkaitan dengan bagaimana berkeluarga dan bermasyarakat. Adapun nilai-nilai tersebut di antaranya adalah: nilai solidaritas, kesetaraan, tanggungjawab, dan keyakinan.

Pertama, nilai solidaritas. Nilai ini dapat dilihat pada kerelaan masyarakat untuk menyumbang lauk-pauk berupa ayam yang kalah diadu pada pesta pernikahan. Acara adu ayam, tidak semata-mata untuk hiburan tetapi juga sebagai media untuk mengumpulkan komunitas Talang Mamak. Kedua, nilai kesetaraan dapat dilihat pada acara bertandang. Ketika acara bertandang, pihak laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama untuk menentukan pasangannya. Bahkan walaupun kedua muda-mudi sudah hidup bersama pada masa bertandang, tetapi ketika salah satu merasa tidak cocok maka ia dapat meninggalkan calon pasangannya tersebut.

Ketiga, nilai tanggung-jawab. Nilai ini  dapat dilihat pada masa bertandang, di mana laki-laki dan perempuan hidup bersama layaknya suami istri. Sebagai seorang “suami,” maka si lelaki harus memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dan sebagai “istri,” si perempuan harus dapat memerankan diri dengan sebaik-baiknya. Masa bertandang merupakan fase awal bagi calon suami-istri tersebut untuk mengetahui tingkat tanggungjawab masing-masing pasangannya. Nilai ini juga dapat dilihat pada kesediaan calon suami-istri tersebut untuk tidak melakukan hubungan badan selama proses bertandang. Jadi selama proses bertandang, masing-masing pasangan tidak saja harus bertanggungjawab bagaimana memerankan fungsinya baik sebagai suami ataupun sebagai istri, tetapi juga bagaimana bertanggungjawab (patuh) untuk tidak mengerjakan pantangan adat. Keempat, nilai keyakinan. Keberadaan ritual pernikahan pada hakekatnya merupakan salah satu media yang digunakan oleh komunitas Talang Mamak untuk mengekspresikan keyakinannya. Keberadaan tokoh adat/imam untuk menikahkan pasangan dan membaca doa atau mantera untuk keselamatan kedua pengantin merupakan bukti bahwa pernikahan tidak sekedar bernuansa profan tetapi juga sakral.

Pernikahan ala komunitas Talang Mamak tersebut menunjukkan bahwa mereka mempunyai nilai-nilai luhur yang senantiasa diwariskan. Dengan nilai-nilai tersebut, walaupun mungkin bagi orang “luar” nilai-nilai tersebut terlihat kurang baik, mereka hidup dan membangun peradabannya. Oleh karena itu, agar tidak salah dalam memahami nilai-nilai yang diyakini oleh sebuah komunitas atau masyarakat, maka seharusnyalah pemahaman tersebut didasarkan kepada bagaimana komunitas lokal memahaminya. Misalnya, dalam proses bertandang yang mengijinkan pihak laki-laki untuk tinggal serumah dengan calon istrinya antara 3 sampai 3 bulan, bisa saja akan muncul anggapan dari pihak luar komunitas itu bahwa hal tersebut merupakan perbuatan yang bertentangan dengan agama, Islam misalnya, tetapi mungkin pendapat tersebut akan berubah jika telah mengetahui bagaimana masyarakat memahaminya. Begitu juga dengan sabung ayam dan berjudi, mungkin bagi orang di luar komunitas Talang Mamak dianggap sebagai perbuatan yang kurang baik, tetapi bagi orang Talang Mamak, kedua acara tersebut merupakan pelengkap upacara, yang tentu saja menjadi penentu benar tidaknya sebuah upacara.

Bagi komunitas Talang Mamak, sabung ayam dan berjudi tidak saja digunakan untuk mendatangakan massa dan menghimpun dana untuk pesta, tetapi juga menjadi semacam pelepasan rasa jenuh dari kehidupan sehari-hari mereka yang penuh keterbatasan, serta mungkin kesepian. Acara sabung ayam dan berjudi merupakan ajang bertemu, bertukar kabar dan melepas rindu antar warga Talang Mamak dari berbagai pelosok. Acara tersebut juga biasanya digunakan untuk menumbuhkan kembali keterikatan antara mereka dan menumbuhkan rasa persatuan dalam sebuah komunitas. Mereka membicarakan masalah adat, hutan, dan lain sebagainya. Melakukan konsolidasi sosial dalam rangka memperkokoh persatuan komunitas, terutama guna membendung infiltrasi luar yang merusak.

(AS/bdy/27/03-08)

Bahan Bacaan:

Hidayah, Z. 1996. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A—K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Prashinta, R., “Mengikuti Prosesi Pernikahan ala Talang Mamak; Lauk dari Ayam Kalah Aduan, Pernikahan Antar Agama Dilakukan Secara Adat,” dalam http://www.warsi.or.id/Highlight/Mata_hati/Matahati_Talangmamak_shinta.htm

“Sistem Perkawinan pada Masyarakat Talang Mamak,” dalam http://aligufron.multiply.com/journal/item/189/

Triana, Neli, “Suku Talang Mamak (1): Bertahan di Tengah Kegamangan,” dalam Kompas, 04 Desember 2006

__________, “Suku Talang Mamak (2); Yang Pudar yang Ditinggalkan,” dalam Kompas, 04 Desember 2006.

Foto-foto: Herry/Dok. KKI Warsi

Dibaca : 11.376 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password