Selasa, 27 Juni 2017   |   Arbia', 2 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 3.557
Hari ini : 20.483
Kemarin : 30.666
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.698.952
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Asal Mula Nama Jementah

a:3:{s:3:

Jementah adalah sebuah bandar[1] yang terletak sekitar 21 km di sebelah barat Bandar Segamat, Johor, Malaysia. Bandar ini merupakan bandar terbesar ketiga di Negeri Johor setelah Bandar Segamat dan Labis. Menurut sejarah, pada tanggal 25 Oktober 1879 M., di Bandar Jementah ini pernah terjadi perang saudara yang dikenal dengan Perang Jementah. Perang ini merupakan perang saudara pertama yang pernah terjadi di Negeri Johor.

Selain peristiwa bersejarah tersebut, di Bandar Jementah ini juga pernah terjadi peristiwa ajaib. Menurut cerita, Bandar Jementah pada awalnya merupakan kawasan hutan yang dipenuhi pepohonan, khususnya pohon dedap[2]. Oleh masyarakat di sekitarnya, kawasan hutan itu kemudian diberi nama Jementah. Apa sebenarnya yang terjadi di kawasan hutan itu, sehingga mereka memberinya nama Jementah? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Asal Mula Nama Jementah berikut!

* * *

Alkisah, di wilayah Bandar Segamat, Johor, Malaysia, terdapat sebuah kawasan yang dipenuhi oleh hutan lebat dan semak belukar. Menurut kepercayaan masyarakat di sekitarnya, kawasan hutan itu menyimpan banyak emas. Akan tetapi, mereka belum mengetahui persis di mana emas-emas itu berada. Ada yang mengatakan, emas-emas itu bertebaran di antara pepohonan. Ada pula yang mengatakan, emas-emas itu berada di dalam tanah. Oleh karena terjadi perbedaan pendapat, mereka pun melakukan musyawarah, dan akhirnya memutuskan untuk membersihkan kawasan hutan itu dengan menebangi pepohonan dan semak belukar.

Dengan membawa bekal makanan dan peralatan secukupnya, mereka pun beramai-ramai ke hutan itu untuk membersihkan hutan untuk mencari emas. Sesampainya di hutan, mereka menebangi pepohonan dan semak belukar dengan menggunakan kapak dan parang. Setelah bekerja seharian, mereka berhasil merobohkan banyak pohon. Mereka sangat gembira, karena tidak lama lagi akan menemukan emas yang mereka idam-idamkan. Menjelang malam, mereka pun beristirahat dan bermalam di kawasan hutan itu.

Keesokan harinya, mereka sangat terkejut ketika melihat pohon-pohon yang telah ditebang dan semak belukar yang sudah dibabat kembali seperti sedia kala, sehingga kawasan itu berubah lagi menjadi hutan lebat.

”Aneh, sungguh tidak masuk akal! Bagaimana mungkin hutan yang telah kita bersihkan ini kembali seperti semula?” para penduduk saling bertanya dengan penuh keheranan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa peristiwa ajaib itu dapat terjadi. ”Tenang saudara-saudara, kita jangan cepat putus asa. Kita harus terus berusaha. Kita semua yang hadir di sini pasti ingin menjadi orang kaya,” kata salah seorang penduduk memberi semangat.

”Benar,” sahut seorang penduduk lainnya. ”Kita tidak boleh putus asa. Kita harus menebang kembali pohon-pohon itu,” sambungnya.

Akhirnya seluruh penduduk yang hadir kembali membersihkan kawasan hutan itu. Dari pagi hingga sore hari, mereka seakan tidak mengenal lelah bersama-sama menebangi pohon-pohon dan semak belukar tersebut. Menjelang malam, mereka pun beristirahat dan tertidur lelap, karena kelelahan setelah seharian bekerja keras.

Keesokan harinya, peristiwa ajaib itu terjadi lagi. Mereka benar-benar bingung dengan peristiwa ajaib yang mereka saksikan. Meski demikian, mereka tidak pernah patah semangat. Mereka terus membersihkan kawasan hutan itu. Walaupun pada keesokan harinya, pepohonan dan semak belukar itu kembali seperti sedia kala.

Peristiwa ajaib itu terus berlangsung selama berhari-hari. Orang-orang yang lewat di kawasan itu pun terheran-heran. Sebagian dari mereka ada yang bertanya, ”Sudah selesaikah kalian menebang pohon?”

”Jemu..., jemu..., jemu...,” jawab penduduk itu menggeleng-gelengkan kepala.

Ada juga yang bertanya, ”Kapan kawasan ini selesai kalian bersihkan?”

Entah..., entah..., entah...,” jawab mereka lagi.

Keadaan ini berlangsung setiap hari. Setiap mereka ditanya mengenai kapan kawasan tersebut dapat dibersihkan, mereka selalu menjawab: ”Jemu, entah, jemu, entah.” Oleh karena kata-kata tersebut diucapkan setiap hari, maka kawasan tersebut diberi nama Jementah, yang diambil dari gabungan kata ”jemu” dan ”entah”.

Beberapa hari kemudian, seorang pawang dari daerah Sumatera yang bernama Pawang Ketot, bersama istrinya lewat di kawasan itu. Saat mendengar peristiwa ajaib itu, Pawang Ketot pun menawarkan jasanya untuk membersihkan hutan itu. Setelah tawarannya diterima, ia bersama istrinya mendirikan sebuah pondok di pinggir hutan itu. Setelah itu, mereka membakar kemenyan dan membaca mantra selama tiga hari tiga malam.

Sejak itu, peristiwa aneh tersebut tidak pernah terjadi lagi, sehingga para penduduk dapat membersihkan kawasan tersebut. Semua penduduk gembira, karena mereka telah berhasil menemukan emas-emas yang bertebaran di sekitar pepohonan. ”Inilah hikmahnya kalau kita tidak cepat putus asa,” kata mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menempati kampung baru itu yang mereka sebut Jementah.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Nama Jementah dari Negeri Johor, Malaysia. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keutamaan sifat tekun dan rajin bekerja. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku para penduduk yang tidak pernah mengenal lelah untuk terus bekerja keras membersihkan kawasan hutan yang mereka percayai banyak menyimpan emas itu. Sifat ini termasuk sifat terpuji dan sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Keutamaan sifat ini dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu berikut ini:

Dalam ungkapan Melayu dikatakan:

apa tanda Melayu jati,
bekerja tekun tiada menyalah

Dalam untaian syair dikatakan:

wahai ananda cahaya mata,
rajin dan tekun dalam bekerja
penat dan letih usah dikira
supaya kelak hidupmu sejahtera

(SM/sas/61/02-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Jementah”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Jementah), diakses tanggal 01 April 2008).
  • Anonim. “Perang Saudara Jementah”, http://ms.wikipedia.org/wiki/Perang_Saudara_Jementah), diakses tanggal 01 April 2008).
  • Anonim. “Kampung”, (http://bukittunggal.net/kampung/index.php?option=com_content&task=view&id=27&Itemid=400, diakses tanggal 01 April 2008.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa
  • Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Safarwan, Zainal Abidin. 1995. Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd. 
Kredit foto : mstar.com.my (foto Bandar Segamat)



[1] Bandar adalah kota niaga yang sangat ramai.

[2] Dedap (erythrina) adalah sejenis pohon berduri dan berbunga merah.

Dibaca : 26.148 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password