Kamis, 27 Juli 2017   |   Jum'ah, 3 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 5.573
Hari ini : 35.107
Kemarin : 97.993
Minggu kemarin : 728.948
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.910.500
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Padi Berbuah Emas

a:3:{s:3:

Jeram adalah nama sebuah kampung yang berada di wilayah Bandar Kuala Selangor,  Negeri Selangor, Malaysia. Kampung Jeram ini terletak sekitar 19 mil dari Klang atau sekitar 10 mil dari Bandar Kuala Selangor. Penduduk Kampung ini berjumlah sekitar 5.000 jiwa, di antaranya ada yang berprofesi sebagai petani, nelayan, guru, dan lain sebagainya.

Konon, di kampung Jeram ini ada seorang pemuda bernama Kasan yang pekerjaan sehari-harinya menggarap sawah peninggalan orang tuanya. Pada suatu hari, ia mendapati tanaman padinya berbuah emas. Peristiwa apakah yang terjadi sehingga tanaman padi Kasan berbuah emas? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Padi Berbuah Emas berikut!

* * *

Alkisah, di sebuah kampung di Negeri Selangor, Malaysia, hiduplah seorang pemuda bernama Kasan. Ia tinggal sendirian di sebuah gubuk di pinggir kampung. Kedua orang tuanya sudah meninggal akibat tersambar petir saat mereka bekerja di sawah. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Kasan bekerja menggarap sawah warisan orang tuanya. Pada suatu musim tanam padi, tanaman Kasan berbuah dengan baik. Namun, ketika padinya mulai menguning, tiba-tiba diserang oleh gerombolan burung pipit. Sejak itu, setiap hari Kasan harus pergi ke sawahnya untuk menghalau gerombolan pipit tersebut.

Pada suatu pagi, Kasan berangkat ke sawahnya. Setibanya di sawah, ia melihat gerombolan burung pipit sedang asyik memakan padinya. Ia pun segera mengusirnya. Setelah itu, ia mendekati tempat di mana gerombolan burung pipit tadi makan. Kasan sangat terkejut saat melihat sebagian padinya habis dimakan burung pipit. Ia sangat marah dan berniat untuk menangkap mereka.

 “Awas ya, burung pipit! Aku akan menangkap kalian semua,” kata Kasan dalam hati dengan perasaan kesal.

Setelah berkata begitu, Kasan kemudian duduk di pematang sawah sambil menjaga tanaman padinya dari serbuan burung pipit. Setiap kali gerombolan burung pipit datang, ia segera menghalaunya sambil berteriak, “Husss...! Husss...! Husss...!” Gerombolan burung pipit yang mendengar teriakan itu pun langsung terbang menjauh.

Menjelang siang hari, Kasan yang perutnya mulai terasa lapar memutuskan pulang ke gubuknya untuk makan siang dan beristirahat sejenak. Dengan perasaan kesal, ia berjalan sambil memikirkan cara untuk menangkap gerombolan burung pipit tersebut. Saat akan memasuki kampung, ia melihat seorang perempuan tua berjalan terseok-seok sedang membawa barang bawaan yang banyak.

 “Maaf, Nek! Bolehkah saya membantu membawakan barang-barang Nenek?” tanya Kasan menawarkan diri.

“Terima kasih, anak muda,” jawab Nenek itu dengan senang hati.

“Nenek dari mana dan hendak ke mana?” tanya Kasan dengan sikap sopan.

“Nenek dari kampung sebelah. Nenek ingin menemui cucu Nenek yang tinggal di kampung ini,” jawab si Nenek.

“O, iya, anak muda! Siapa namamu?” Nenek itu balik bertanya.

“Kasan, Nek!” jawab Kasan.

“Nenek bangga padamu, Nak. Kamu adalah pemuda yang baik hati,” puji si Nenek.

“Ah, Nenek! Ini sudah kewajiban saya Nek,” jawab Kasan.

“Zaman sekarang ini, jarang pemuda yang baik hati seperti kamu. Banyak di antara mereka yang mementingkan diri sendiri,” kata Nenek itu terus memuji Kasan.

“Terima kasih, Nek!” jawab Kasan sambil tersenyum.

“O, yah, Nak! Nenek melihat muka kamu murung. Sepertinya kamu sedang memendam sesuatu. Apa sebenarnya yang terjadi dengan dirimu, Nak?” tanya si Nenek.

“Iya, Nek! Saya sedang ada masalah serius. Padi saya yang sudah menguning dimakan burung pipit,” jawab Kasan dengan perasaan sedih.

“Rezeki kamu murah, Nak! Padi kamu telah berbuah berkat kerja keras dan keuletanmu. Kamu tidak iri hati dan dengki. Tetapi, kamu mungkin tamak. Kamu tidak mau berbagi rezeki dengan makhluk lain,” jelas Nenek itu kepada Kasan.

“Burung pipit itu juga makhluk Tuhan. Biarkanlah mereka memakan sedikit buah padimu. Tuhan akan memudahkan rezeki orang-orang yang pemurah,” tambah Nenek itu.

Mendengar nasehat itu, Kasan hanya terdiam. “Benar juga kata si Nenek,” kata Kasan dalam hati.

“Terima kasih, Nek! Saya akan berbagi rezeki dengan burung pipit itu,” kata Kasan kepada Nenek itu.

Mendengar perkataan Kasan, Nenek itu pun tersenyum.

“Kamu memang pemuda yang berhati mulia, Nak,” kata Nenek itu.

Tidak terasa, mereka pun sudah sampai di rumah cucu sang Nenek.

“Terima kasih Nak, karena telah membantu Nenek membawakan barang-barang Nenek,” kata Nenek itu kepada Kasan.

“Sama-sama, Nek,” jawab Kasan seraya berpamitan pulang ke gubuknya untuk beristirahat.

Sore harinya, Kasan kembali ke sawahnya. Sesampainya di sawah, ia melihat gerombolan burung pipit sedang memakan padinya. Tapi, ia tetap membiarkan mereka memakan padinya sampai puas. Setelah mereka pergi, tiba-tiba Kasan melihat cahaya berkilau kuning keemasan pada batang padi bekas dimakan burung pipit itu.

”Benda apa yang berkilau itu?” tanya Kasan dalam hati.

Oleh karena penasaran, Kasan pun menghampiri tempat itu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat tanaman padinya berbuah emas. Butiran-butiran emas itu terdapat pada batang padi tempat burung pipit itu makan.

“Amboi, indah sekali emas ini!” ucap Kasan takjub.

“Benar kata Nenek itu, orang dermawan akan diberkahi Tuhan. Saya berjanji tidak akan bersikap tamak lagi,” ucap Kasan berjanji pada dirinya sendiri.

Kasan segera memetik butiran-butiran emas itu, lalu membawanya pulang. Keesokan harinya, ia pergi menjual emas itu kepada seorang saudagar kaya di kampung itu. Uang hasil penjualannya ia gunakan untuk membeli rumah dan sawah. Selebihnya ia gunakan untuk membantu orang-orang miskin yang ada di sekitarnya. Sejak itu, Kasan dikenal sebagai orang kaya yang dermawan, sehingga ia menjadi orang terpandang di kampung itu.

* * *

Demikian cerita Padi Berbuah Emas dari Negeri Selangor, Malaysia. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keutamaan sifat dermawan atau pemurah. Sifat ini tercermin pada sikap Kasan yang bersedia berbagi rezeki dengan burung pipit, sehingga ia pun mendapat berkah yang tidak disangka-saka dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sifat ini termasuk sifat terpuji dan sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Keutamaan sifat ini dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu sebagai berikut:

Dalam ungkapan dikatakan:

adat hidup Melayu terbilang,
tangan pemurah menolong orang

Dalam untaian syair dikatakan:

wahai ananda intan terpilih,
pemurahlah engkau kepada orang
kerugian diri jangan dikenang
kesusahan orang wajib dipandang

Dalam untaian pantun dikatakan:

bila redup si matahari,
pergi ke laut menjala ikan
bila hidup bermurah hati,
budi lembut hidup terpandang

(SM/sas/62/04-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Kuala Kangsar”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kuala_Selangor), diakses tanggal 3 April 2008.
  • Anonim. “Asal-Usul Nama Tempat di Malaysia”, (http://www.jomlayan.com/mybb/asal-usul-nama-tempat-di-malaysia-t-10116-4.html), diakses tanggal 3 April 2008.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa
Dibaca : 24.883 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password