Kamis, 17 Agustus 2017   |   Jum'ah, 24 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 975
Hari ini : 1.477
Kemarin : 34.114
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.004.172
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Roppo Mandar: Alat Bantu Penangkap Ikan Khas Nelayan Mandar


Seorang pemancing sedang menambatkan perahu Sandeqnya
di sebuah roppo Mandar

1. Asal-Usul

Kondisi alam akan mengajarkan manusia bagaimana cara untuk bertahan hidup. Oleh karenanya, setiap masyarakat mempunyai cara unik untuk mempertahankan hidup. Demikian juga dengan masyarakat Mandar. Jika lautan dalam dan ombak besar telah mengilhami masyarakat Mandar untuk membuat alat transportasi Perahu Sandeq, maka laut itu juga telah mengajarkan mereka bagaimana mendapatkan dan memanfaatkan kekayaan (baca: ikan) yang terdapat di dalamnya. Salah satu hasil dari pembelajaran tersebut adalah terciptanya alat bantu penangkap ikan yang khas masyarakat nelayan Mandar, yaitu roppo atau roppong.

Kata roppo atau roppong berasal dari bahasa Mandar yang berarti sampah, baik yang ada di daratan maupun di perairan (Alimudin, 2003: 183). Menurut Caron (1937), roppo adalah potongan-potongan bambu panjang yang ditanam di dasar laut, dan diikatkan daun-daun kelapa di ujungnya, yang berfungsi sebagai tempat persembunyian ikan. Menurut Nijhoff (1919), roppo adalah bedekken (menutupi) yang kemudian diartikan sebagai alat untuk menutupi sebatang pohon agar tidak dapat dipanjat; juga dapat diartikan sebagai menutupi suatu jalan agar tidak dapat dilalui orang (Muthalib, 1977). Menurut Lopa (1982), roppo mempunyai dua arti, yaitu batas wilayah teritorial laut beberapa kerajaan di kawasan pesisir barat Pulau Sulawesi, dan alat pengumpul ikan. Sedangkan menurut Alimudin (www.panyingkul.com), roppo adalah alat bantu penangkapan ikan yang terdiri dari pelampung (bambu atau gabus), alat pemikat (daun kelapa yang dipasang di bawah pelampung), dan pemberat (batu).

Masyarakat nelayan Mandar telah mengenal roppo sejak abad X (Lopa, 1982: 3), dan kemudian tekhnik pembuatan dan pemakaian roppo tersebut menyebar ke berbagai daerah di Nusantara (Liebner, 1996; Lampe 1996), bahkan juga ke mancanegara (Alimuddin, 2003: 181). Terbentuknya roppo berawal dari guguran daun-daun kelapa yang berada di sepanjang pantai barat Pulau Sulawesi, khususnya pantai teluk Mandar. Daun-daun kelapa tersebut terbawa air ke laut dan menjadi tempat ikan “berlindung” dan berkumpul. Dan, menjadi tempat para nelayan untuk mencari ikan (Alimudin, 2003: 181). Hasil membaca nelayan Mandar terhadap tempat yang disukai ikan untuk berkumpul, kemudian menghasilkan pengetahuan lokal (local knowledge) yang berbentuk roppo. Dengan kata lain, tekhnik menangkap ikan menggunakan roppo merupakan pengejawantahan dari pembacaan dan pemahaman nelayan Mandar terhadap fenomena yang terjadi di lautan.


Pemasangan roppo harus mempertimbangkan banyak hal seperti jarak
dengan roppo lainnya dan ke dalamam laut.

Roppo nelayan Mandar, menurut Subani (1972), merupakan roppo dalam. Disebut demikian karena roppo nelayan Mandar hampir semuanya dipasang di laut yang mempunyai kedalaman antara 300 – 2.500 meter. Dalam pemasangan roppo, ada beberapa aturan yang harus ditaati (www.panyingkul.com; Alimuddin, 2005: 129-133), yaitu: pertama, Jarak antarroppo. Jarak diatur sedemikian rupa sehingga ketika dilakukan operasi penangkapan ikan secara bersamaan, maka para pemilik roppo tidak saling menggangu. Kedua, pemasang roppo yang pertama mempunyai hak-hak istimewa dalam menyelesaikan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan penempatan roppo, misalnya: apabila ada dua roppo yang saling kait (berhubungan satu sama lain sehingga tidak dapat dipisahkan), nelayan yang lebih dulu memasang berhak memiliki roppo tersebut.

Ketiga, apabila ada roppo yang berpindah, maka: (1) Hak roppo dimiliki oleh pemasang pertama jika bagian-bagian roppo yang melayang/terapung di laut mendekat kepada roppo yang dipasang lebih awal. (2) Hak roppo dimiliki oleh pemilik roppo tanpa memperhitungkan siapa yang pertama kali memasang jika yang berpindah adalah roppo secara keseluruhan, baik yang terapung maupun yang tenggelam. (3) Hak roppo dimiliki oleh orang yang menemukan apabila ada bagian roppo yang terlepas. Keempat,  Nelayan lain diijinkan untuk memanfaatkan roppo, baik untuk menambatkan perahu maupun untuk menangkap ikan, selama tidak membahayakan roppo dan alat tangkap yang digunakan tidak berskala besar. Namun jika menggunakan alat tangkap besar, maka harus mengajukan izin terlebih dahulu atau memberitahukan ketika selesai melakukan penangkapan ikan dan membagi hasil tangkapan. Kelima, pemilik roppo harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berlayar dalam wilayah ropponya.

Perkembangan zaman dan berubahnya pola pikir nelayan Mandar, ternyata juga berpengaruh terhadap bahan dasar membuat roppo. Jika pada awalnya roppo nelayan Mandar terbuat dari batang-batang bambu, maka saat ini roppo terbuat dari gabus. Perubahan dari roppo bambu menjadi roppo gabus merupakan salah satu pencarian masyarakat nelayan Mandar agar mempunyai roppo yang tahan lama. Jika menggunakan bambu, maka roppo hanya bisa bertahan 3-4 minggu, namun jika terbuat dari gabus akan dapat bertahan dua kali lebih lama, dengan biaya yang relatif lebih murah (Alimuddin, 2005: 79).

Berdasarkan hal tersebut, baik berdasarkan sejarah terciptanya roppo, bahan pembuatnya, maupun beraneka ragam aturan yang timbul terkait keberadaan roppo, menunjukkan  bahwa roppo merupakan salah satu puncak kebudayaan bahari di Nusantara yang tidak saja mengandung bagian dari aktivitas ekonomi, tetapi juga nilai-nilai luhur masyarakat nelayan Mandar, khususnya bagaimana memanfaatkan alam dengan tetap menjaga kelestariannya. 


Nelayan Mandar sedang menuju roppo

2. Bahan-bahan dan Peralatan

a. Bahan-bahan

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat roppo antara lain :

  • Marepeq, yaitu jenis bambu khusus untuk membuat roppo. Bambu ini mempunyai diameter lebih besar dari bambu pada umumnya, namun kulitnya lebih tipis sehingga sangat cocok untuk dijadikan pelampung. Bambu ini merupakan bahan utama pembuatan roppo, yaitu untuk membuat bulo-bulo  (pelampung) yang bentuknya seperti rakit. Untuk membuat roppo keccu (kecil), dibutuhkan marepeq  sebanyak 25 – 30 dengan panjang 10-12 m (Alimuddin, 2003, 189), dan sebanyak 60 – 120  marepeq  utuh/tidak dipotong untuk membuat roppo kayyang (besar) (Alimuddin, 2003, 200). Bulo-bulo berfungsi sebagai tempat untuk mengikat pappairi (pemikat ikan) dan tempat tanda kepemilikan roppo diletakkan. Tanda kepemilikan biasanya menggunakan daun kelapa atau bendera berwarna-warni. 
  • Daun kelapa utuh. Daun kelapa yang dibutuhkan sekitar delapan atau sepuluh lembar. Daun ini digunakan untuk memikat ikan (pappairi) agar berkumpul di bawah atau sekitar bulo-bulo. Selain sebagai pappairi, daun kelapa juga digunakan sebagai penanda kepemilikan. Untuk membuat penanda tersebut, dibutuhkan sekitar 3 lembar daun kelapa utuh. 

Pappairi
  • Paepeq (penjepit). Paepeq biasanya terbuat dari kayu yang digunakan untuk menjepit batang-batang marepeq agar kuat dan rapi. Kayu yang digunakan untuk membuat paepeq biasanya aju ranni (kayu lamtoro) untuk roppo keccu dan kulit (papan) pohon kelapa untuk roppo kayyang. Jumlah paepeq yang dibutuhkan tergantung pada jumlah lapisan roppo, semakin banyak lapisannya, semakin banyak juga paepeqnya.   
  • Uwwe (rotan). Rotan digunakan untuk membuat belayang (tali utama). Belayang mempunyai peranan sangat penting dalam roppo, yaitu untuk menghubungkan bulo-bulo dengan pemberat. Panjang belayang sepenuhnya tergantung kepada kedalaman laut di mana roppo akan ditempatkan. Semakin dalam lautnya, semakin panjang juga belayang yang harus disiapkan. Oleh karena besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membuat belayang dari rotan, maka sejak akhir 80-an nelayan Mandar sudah beralih menggunakan randang lambe yang diproduksi khusus oleh pengrajin tali.

Proses pembuatan belayang
  • Gabus dan drum Pelampung berdiameter 50-60 cm. Bahan ini digunakan untuk membuat pelampung (tomba) yang digunakan untuk mengikatkan belayang agar tetap terapung ketika bulo-bulo dilepas pada saat sedang diadakan penangkapan ikan. Selain itu, tomba ini juga berfungsi sebagai penghubung antara belayang dan bulo-bulo untuk meminimalisir kerusakan bulo-bulo karena sentakan belayang akibat gelombang laut.
  • Tuluq. Jumlah bahan yang dibutuhkan sepenuhnya tergantung pada besar kecilnya roppo yang dibuat. Semakin besar roppo yang dibuat, maka bahan yang dibutuhkan semakian banyak. Demikian juga dengan biaya, semakian besar roppo, biaya yang dibutuhkan juga semakin besar.
  • Batu roppo. Batu-batu ini berfungsi sebagai pemberat (jangkar) agar roppo tidak berpindah tempat. Oleh karena itu, jumlah batu yang dibutuhkan sepenuhnya ditentukan oleh kedalaman dan kuatnya arus air laut. Biasanya berkisar antara 25-41 buah, bahkan bisa mencapai 120 buah untuk roppo kayyang dengan berat berkisar antara 30-50 kg.  

b. Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat roppo di antaranya adalah gergaji, parang, pakkocci, dua balok besar untuk landasan membuat bulo-bulo, palu besi, dan linggis.

3. Tata Laksana

Membuat roppo Mandar merupakan aktivitas yang menggabungkan pengetahuan dan pemahaman terhadap laut, kondisi alam, dan kepercayaan masyarakat Mandar. Oleh karenya, pembuatan roppo Mandar berada dalam ranah profan dan sakral secara bersamaan. Secara garis besar, pembuatan roppo Mandar terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap persiapan, tahap pembuatan, dan tahap pemasangan. (Proses pembuatan roppo sepenuhnya diolah dari buku “Orang Mandar Orang Laut” dan “Laut, Ikan dan Tradisi Kebudayaan Mandar”. Kedua buku tersebut merupakan karya Muhammad Ridwan Alimuddin)

a. Tahap persiapan

Secara garis besar, ada dua hal yang dilakukan pada tahap persiapan, yaitu: pertama, mengadakan musyawarah dengan orang-orang yang mempunyai keinginan bersama untuk membuat roppo. Pada tahap ini, dibicarakan besar-kecilnya roppo dan hendak diletakkan di mana. Besar-kecilnya roppo berpengaruh terhadap penyiapan bahan dan besarnya dana yang dibutuhkan. Sedangkan penentuan lokasi terkait erat dengan keberadaan roppo yang telah dipasang sebelumnya.

Kedua, setelah tercapai kesepakatan tentang besarnya roppo dan lokasi pemasangannya, maka dilanjutkan dengan pengumpulan bahan untuk membuat roppo. Misalnya hendak membuat roppo keccu, maka bahan yang harus dikumpulkan di antaranya: 15-20 batang marepeq  dengan panjang 10-12 meter; 12 batang paepeq dengan panjang 1,5 meter; tali sesuai dengan kedalaman laut; dan batu pemberat yang jumlahnya disesuaikan dengan kedalaman dan kekuatan arus. 

b. Tahap pembuatan

Setelah bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat roppo terkumpul, maka pembuatan roppo dapat segera dimulai. Pembuatan roppo biasanya dilakukan di pinggir laut. Tujuannya adalah agar mudah membawa roppo ke tempat di mana roppo tersebut hendak ditanam. Secara garis besar, proses pembuatan roppo adalah sebagai berikut:

  • Setelah bahan dan peralatan tersedia, sando roppo (dukun roppo) yang biasanya panrita (nelayan tua) memilih dua batang marepeq yang dianggap lebih baik dari marepeq lainnya. Batang marepeq yang dipilih tersebut digunakan sebagai posiq roppo atau paindo. 
  • Kemudian kedua marepeq yang dipilih di letakkan ditempat lapang dan bersih.

Kedua marepeq yang dipilih diletakkan di tempat lapang dan bersih
dengan berbantalkan balok kayu,
dengan posisi pangkal marepeq menghadap ke laut
  • Posisi meletakkan marepeq diatur sedemikian rupa, yaitu bagian pangkal marepeq diletakkan menghadap ke laut, berbantalkan balok kayu. Pada bagian ujung ke dua marepeq tersebut biasanya telah disediakan pedupaan yang terus mengepulkan asap yang mengharumkan lokasi pembuatan.
  • Kemudian sando roppo menandai bagian marepeq yang hendak dilubangi. Biasanya, lubang tersebut berjarak seukuran lengan sando roppo.
  • Pada bagian yang hendak dilubangi tersebut, sando roppo membuat garis tertentu yang menyimbolkan kelamin perempuan dan laki-laki. Selain itu, sando roppo juga membuat garis melingkari marepeq agar lubang sebelahnya sejajar.
  • Setelah itu, sando roppo melumuri kedua lubang tersebut dengan minyak dan mengasapinya dengan dupa sambil membaca mantra atau doa-doa.

Sando roppo berdoa dan meniup dupa untuk
memulai pembuatan lubang
  • Dilanjutkan dengan pembuatan lubang pada kedua marepeq yang telah ditandai. Pemahatan pertama pembuatan lubang dilakukan sambil menahan nafas dan di dalam hati membaca doa. Serpihan pertama pembuatan lubang tersebut disimpan oleh sando roppo.
  • Kemudian kedua marepeq tersebut dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi atau diikatkan pada batang pohon agar tidak terlangkahi, terinjak atau terduduki oleh manusia atau hewan.
  • Dilanjutkan melubangi marepeq-marepeq lainnya yang dilakukan oleh sawi atas arahan sando roppo.

Sando roppo mulai melubangi marepeq
  • Setelah semua marepeq terlubangi, sando roppo dibantu oleh semua awak perahu merangkai marepeq. Perangkaian marepeq harus mengikuti aturan-aturan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Misalnya, mata marepeq yang paling luar harus mengahadap ke luar atau ke atas, dan tidak boleh menghadap ke dalam atau ke bawah. Untuk merangkai marepeq, biasanya menggunakan uwwe (rotan), yaitu dengan memasukkan uwwe tersebut ke dalam lubang-lubang yang telah dibuat.
  • Rangkaian marepeq tersebut kemudian dijepit dengan paepeq. Tujuannya untuk memperkuat rangkaian marepeq tersebut.

Marepeq yang telah dilubangi dirangkai dengan menggunakan
uwwe dan dijepit dengan paepeq
  • Agar ikatan pada paepeq semakin kuat, maka tali pengikatnya ditarik dengan pakkocci.
  • Setelah marepeq selesai dirangkai sehingga terbentuk bulo-bulo, kemudian sando roppo memasang jimat yang biasanya terbuat dari besi yang telah berkarat.

Dengan selesainya perangkaian marepeq, berarti proses pembuatan roppo sudah selesai, dan tinggal memasangnya di tempat yang telah ditentukan pada saat bermusyawarah pada awal pembuatan. Hal ini disebabkan karena bagian-bagian lain dari roppo, seperti pappairi, belayang dan batu roppo, sepenuhnya dikerjakan di laut, yaitu bersamaan dengan pemasangan roppo.  

Perlu juga diketahui, bahwa selain pembuatan bulo-bulo, pekerjaan yang cukup berat adalah pembuatan belayang. Hal ini disebabkan karena belayang yang harus dibuat bisa mencapai ribuan depa dengan bahan dasar rotan. Oleh karenanya, waktu yang dibutuhkan untuk membuat belayang cukup lama, yaitu bisa mencapai satu bulan dengan dikerjakan siang-malam. Namun semenjak ada sekelompok masyarakat yang mengkhususkan diri pada pembuatan tali roppo, maka pembuat roppo tinggal memesan belayang pada pembuat tali.

c. Tahap pemasangan

Pada tahap ini, roppo yang telah dibuat dipasang di tempat yang telah ditentutkan sebelumnya dalam musyawarah. Proses pemasangannya terkait dengan bahan-bahan atau peralatan yang harus dipersiapkan. Misalnya memilih lokasi A yang mempunyai kedalaman sekian, maka pemasang roppo harus mempersiapkan seberapa panjang belayangnya dan seberapa banyak batu roppo yang  dibutuhkan. Secara garis besar, pemasangan roppo adalah sebagai berikut:

  • Roppo yang sudah dipersiapkan dengan segala perlengkapannya, seperti belayang, batu pemberat, mappairi, dan belo dibawa ke tempat pemasangan roppo.
  • Setelah tiba di lokasi sebagaimana ditentukan dalam musyawarah awal, punggawa mencari tempat yang baik dengan berdasarkan pada letak roppo-roppo yang telah ada sebelumnya, baik roppo yang dimiliki sendiri maupun orang lain. Hal ini harus dilakukan secara cermat agar roppo yang dibuat tidak tersangkut dengan roppo yang lain. Selain itu, untuk mengetahui siapa pemilik roppo di lokasi itu yang terlebih dahulu dipasang, sehingga dapat menjadi menjadi bahan pertimbangan jika nantinya ada roppo yang berpindah tempat.  
  • Setelah posisi tempat pemasangan secara spesifik ditentukan, maka batu-batu pemberat kemudian diikat dengan belayang.
  • Kemudian batu-batu dan belayang itu disiram dengan air laut sebanyak tiga kali.  
  • Setelah itu, batu roppo tersebut  diturunkan ke laut. Pada proses penurunan batu-batu tersebut, biasanya ada pembagian tugas, misalnya yang bertugas membuang batu; memeriksa tumpukan batu; dan mengulur belayang. Namun sebelum diturunkan, sando roppo terlebih dahulu berdoa untuk keselamatan roppo dan melakukan komunikasi batin dengan penguasa laut.

Upacara pemasangan roppo
  • Setelah batu pemberat tersebut berada di dasar laut, yang ditandai oleh belayang yang tidak tertarik lagi, maka di atasnya ditambah dengan belayang sekitar 6 rol atau 300 meter. Tujuannya adalah agar belayang tidak tegang sehingga tidak mudah putus. Selain itu, penambahan belayang juga untuk meminimalisir hentakan gelombang atau arus air laut pada roppo.
  • Selanjutnya pemasangan bagian-bagian roppo seperti: tomba, pappairi, dan bello.

Pemasangam bello

Selesainya pemasangan tomba, pappairi, dan bello berarti proses pembuatan roppo telah selesai dan tinggal menunggu waktu panen.


Roppo yang sudah selesai dipasang

4. Pantang-Larang

Pembuatan roppo harus dilakukan secara hati-hati baik dalam ranah sakral maupun profane, sehingga keberadaan roppo benar-benar memberikan kesejahteraan baik secara ekonomi maupun rohani kepada pemiliknya. Kehati-hatian nelayan Mandar dalam membuat roppo dapat dilihat dari adanya pantang-larang (pemali) yang tidak boleh dilakukan dan atau sedapat mungkin harus dihindari. Menurut Alimuddin (2003: 216-217), terdapat tujuh hal yang menjadi pantang larang dalam pembuatan roppo, yaitu:

  • Pada saat menurunkan batu roppo, batu-batu tersebut diupayakan agar tidak mengenai bayangan sando roppo.
  • Tidak boleh menggunakan kayu sisa kayu bakar untuk meratakan bara/abu yang ada di dalam tungku. Penggunaan kayu tersebut  dapat menyebabkan roppo mengalami gangguan, seperti belayangnya putus, hasilnya kurang memuaskan, cepat rusak, dan sebagainya.
  • Bila ada benda tajam yang jatuh, maka operasi penangkapan ditunda terlebih dahulu sampai dilaksanakannya ritual mistis tolak-bala. Kecuali jika roppo tersebut memiliki baraq (jimat).
  • Dilarang membuang air besar atau kecil di roppo.
  • Tidak diperbolehkan langsung menikmati hasil roppo yang baru pertama kali dipasang, sebelum memanjatkan doa kepada Allah SWT dan membaca al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, nabi Ilyas, dan Nabi Khidir.
  • Tidak boleh ribut di atas roppo.
  • Ketika akan tiba di roppo, dilarang keras tidur.

5. Nilai-nilai

Roppo merupakan pengejawantahan dari sistem nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat nelayan Mandar. Dengan kata lain, mengetahui dan memahami roppo berarti mengetahui dan memahami pengetahuan lokal masyarakat nelayan Mandar baik yang bersifat sakral, profan, maupun merupakan konfigurasi keduanya. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat dipetik dari roppo, yaitu: kearifan dalam memanfaatkan alam, keyakinan kepada hal gaib, dan solidaritas sosial.  

Pertama, kearifan dalam membaca dan memanfaatkan alam. Roppo merupakan hasil karya nelayan Mandar dalam membaca beraneka ragam fenomena alam. Pengamatan terhadap sampah-sampah yang terombang-ambing di lautan, yang di bawahnya berkumpul dan berlindung beranekan macam ikan menginspirasi masyarakat untuk membuat hal yang sama. Hasilnya, pada abad ke-10 nelayan Mandar telah mampu membuat sebuah roppo yang khas Mandar. Penggunaan belayang dan batu roppo, serta posisi roppo yang tidak tegak lurus dengan batu roppo merupakan bentuk “penaklukan” nelayan Mandar terhadap arus dan gelombang laut. Dengan cara ini, roppo tidak akan hilang dan tidak mudah rusak. Selain itu, roppo juga mengajarkan kepada nelayan Mandar bagaimana membuat aturan laut, sehingga keberadaan roppo tidak berakibat buruk terhadap relasi sosial masyarakat. 

Kedua, solidaritas sosial. Keberadaan roppo merupakan manifestasi dari solidaritas sosial masyarakat nelayan Mandar. Pengadaan bahan, proses pembuatan, pemasangan, dan pemanfaatan roppo merupakan potret solidaritas masyarakat. Mereka membuat roppo secara bersama-sama, dan memamfaatkannya untuk kepentingan bersama. Bahkan, orang-orang yang tidak terlibat dalam proses pembuatan roppo diberi kesempatan untuk memanfaatkannya.

Ketiga, keyakinan kepada hal-hal gaib. Pembakaran dupa, pembacaan doa-doa, adanya pantang larang, dan beragam aturan dalam pembuatan dan pemasangan roppo merupakan manifestasi keyakian masyarakat nelayan Mandar kepada yang sakral. Dalam konteks ini, dapat diketahui adanya akulturasi yang eksotis antara budaya lokal dan agama yang dianut. Hasilnya sebuah pola keberagamaan yang khas nelayan Mandar. (AS/bdy/32/06-08)

Sumber Foto:

Muhammad Ridwan Alimuddin, 2005, Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman dan http://www.panyingkul.com/rssview.php?id=734

Daftar Bacaan

  • Alimuddin, Muhammad Ridwan, 2005, Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI)
  • __________________________, 2003, Laut, Ikan dan Tradisi Kebudayaan Mandar, (Naskah Revisi).
  • __________________________, “Hikayat Rumpon Nelayan Mandar” dalam http://www.panyingkul.com/rssview.php?id=734,  diakses tangal 15 Juni 2007.
  • __________________________, “Perahu Padewakang Berasal dari Mandar?” dalam http://mandar-online.blogspot.com/2008/02/perahu-padewakang-berasal-dari-mandar.html,  diakses tangal 15 Juni 2007.
  • Lampe, Munsi, dkk., 1996, Sistem Penguasaan Wilayah Perikanan dan Pemanfaatan Sumber Daya Hayati oleh Nelayan Bugis Makassar di Sulawesi Selatan, (Ujungpandang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)   
  • Liebner, Horst H. 1996, Orientasi Kemaritiman dan Pengetahuan Indegen Pelaut-pelaut Tradisional: Pembauatn Perahu dan Pelayaran Suku Mandar, Kajo, dan Bajo Sulawesi Selatan (Ujungpandang: P3Mp, YHS-Unhas, Universits Koln Jerman).
  • Lopa, Baharuddin, 1982, Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan (Bandung, Alumni).
  • Muthalib, Abdul, 1977, Kamus Bahasa Mandar-Indonesia, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).
  • Subani, Walujo, (1972), Alat dan Tjara Penangkapan Ikan di Indonesia, (Jakarta: Lembaga Penelitian Perikanan Laut).
  • _____________, (1986), “Telaah Penggunaan Rumpon dan Payaos dalam Perikanan di Indonesia”, dalam Jurnal Perikanan Laut No. 35 Tahun 1986.
  • Zerner, Charles, 1990, “Marine Tenure in Indonesia‘s Makassar Straits The Mandar Raft Fishery”, Peresented at the First Annual Meeting of the International Association for the Study of Common Property, (North Carolina: Duke University)
Dibaca : 14.522 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password